Bagaimana jika melepaskan bukanlah pilihan?
Apakah kita adalah ketidakmungkinan yang paling diinginkan, atau kemungkinan yang paling tidak diinginkan?
Apakah kita adalah ketiadaan yang paling nyata, atau keberadaan yang paling samar?
Kamis, 31 Oktober 2013
Kembali
Kutuk-kutuk menguap
Keluh-keluh menetas
Teriakan merekah
Tuduhan berhamburan
Tangismu tak pernah terdengar
Katanya kau lupa
Bahwa kau telah menyisihkan kalimat-kalimat
Dari lembar-lembar buku pertama
Yang Pemberi Napasmu kenalkan padamu
Bibirmu telah banyak mengelak
Dahimu telah gersang
Jauh dari sepotong kain alas
Yang memberinya subur
Kembalilah
Pada lembar-lembar buku napasmu
Pada sepotong kain kehidupanmu
Dan luruhkan kutuk-keluh-tangismu
Keluh-keluh menetas
Teriakan merekah
Tuduhan berhamburan
Tangismu tak pernah terdengar
Katanya kau lupa
Bahwa kau telah menyisihkan kalimat-kalimat
Dari lembar-lembar buku pertama
Yang Pemberi Napasmu kenalkan padamu
Bibirmu telah banyak mengelak
Dahimu telah gersang
Jauh dari sepotong kain alas
Yang memberinya subur
Kembalilah
Pada lembar-lembar buku napasmu
Pada sepotong kain kehidupanmu
Dan luruhkan kutuk-keluh-tangismu
Kamis, 24 Oktober 2013
Perjalanan Terjauh Ke Rumah Pertama
Seorang supir angkutan antarkota. Itulah profesiku. Profesi yang hampir semua anak kecil tak pernah sebutkan ketika ditanya apa cita-citanya ketika dewasa nanti. Aku mengemudikan alat transportasi dengan roda minimal empat dalam berbagai ukuran. Tergantung tugas yang diberikan kepadaku ketika itu. Tergantung bagaimana keinginan dan pengaturan bos di tempatku bekerja, sebuah perusahaan penyedia jasa angkutan segala rute untuk segala jenis angkutan. Untuk keterangan segala rute itu, sesungguhnya aku tak bisa menyebut diriku sebagai seorang supir angkutan antarkota karena aku biasanya melalui rute antarprovinsi, antarpulau, bahkan sampai mendekati garis-garis batas antarnegara.
Aku mengemudikan mobil box standar travel antardaerah. Aku mengendarai bus besar dengan berpuluh penumpang. Aku mengendarai truk yang memuat entah apa aku tak tahu, karena biasanya aku diberitahu ketika apa yang aku angkut bukanlah hal yang berbahaya, dan tidak diberitahu ketika apa yang aku angkut adalah barang ilegal. "Bawa saja sampai ke tempat tujuan dalam keadaan utuh!" Begitu biasanya bentakan mereka. Dari semua itu, aku paling sering mengemudikan bus dengan rute sampai antarpulau.
Entah di mana titik paling jauh yang pernah aku temui selama bekerja menjadi supir seperti ini. Yang aku ketahui, aku telah sering sekali menyaksikan perjalanan yang lebih jauh dari perjalanan manapun yang bisa kuanggap paling jauh. Perjalanan terjauh seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Perjalanan kembali menuju rumah pertama, kembali menuju pelukan Sang Pemilik Hidup.
Kematian sudah bukan merupakan hal luar biasa untuk disaksikan bagi orang sepertiku. Jalan raya yang jahat, jalan setapak yang kejam, lelah yang mengembun di sudut-sudut mata bercampur dengan berbagai pikiran tentang nasib, dan takdir yang tak pernah mampu berkompromi. Belum lagi rindu. Rindu sambutan-sambutan hangat dari tangan-tangan lembut keluarga di rumah yang terlalu sering ditinggalkan, memaksa kami selalu bertindak terburu-buru.
Perjalanan terjauh itu bagi kami adalah tontonan sehari-hari, drama serial berisi ribuan episode yang tak habis diputar setiap hari. Tontonan harian di layar televisi itu pada masa tertentu akan berubah menjadi tontonan layar lebar di bioskop-bioskop atau paling tidak, layar tancap perayaan di perkampungan. Pelakon kisahnya semakin banyak. Ceritanya semakin dramatis. Penontonnya pun semakin ramai.
Masa-masa itu terjadi pada musim mudik raya yang selalu menyertai serangkaian peringatan hari raya. Masa ketika semua orang ingin pulang. Beramai-ramai. Sampai banyak pula di antara mereka yang berpulang ke rumah yang paling jauh. Masih tetap beramai-ramai. Bus terbalik. Mobil terbakar. Motor terhempas jauh. Sekeluarga luka parah; kepala terbentur berurai darah, tangan patah, kaki memar. Seorang ibu terselip kakinya di sela ban dan badan truk. Suaminya meninggal di tempat terlindas kendaraan besar. Anaknya menangis, entah menangisi lukanya yang sakit, atau kehidupannya yang takkan sama lagi. Sopir melarikan diri takut diminta pertanggungjawaban polisi, tapi lebih takut lagi langsung dihakimi warga di tempat. Pecahan kaca bus menembus kulit. Kepala pecah dengan luka sobek besar yang harus dijahit. Semacam itulah keadaan yang sudah lumrah kutonton. Sisanya selain itu, bernasib sama seperti sang ayah yang akhirnya sampai ke rumah segala rumah.
"AWAAAAAAAAAASSS!!!"
Aku sadar dari lamunanku. Teriakan satu penumpang tadi langsung ramai diikuti teriakan penumpang lainnya. Yang tertidur langsung terbangun dan terserang panik, lalu ikut berteriak. Aku membanting setir ke kiri. Sebuah mobil baru saja tiba-tiba muncul di depan bus yang kukemudikan. Ia mencoba menyalip mobil di depannya dan tidak memperhitungkan kemungkinan lewatnya mobil lain di arah sebaliknya, arah di mana busku melaju.
Busku berhenti di luar jalur. Untungnya, di kiri-kanan jalan berjejer hutan-hutan tanpa saluran air di pinggir jalan sekalipun yang akan membuat kendaraanku terperosok masuk. Itupun jika ada, aku akan tetap mensyukurinya dibandingkan keberadaan jurang-jurang yang akan membuat kami tak terselamatkan. Teriakan-teriakan manusia dari dalam bus pun berhenti, digantikan dengan setarik-dua tarik napas panjang yang lalu dihembuskan dengan panjang dan berat pula. Penumpang berhamburan keluar bus. Beberapa di antaranya memaki-maki, sisanya menangis ketakutan. Tapi paling tidak, kami selamat.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan mengirim satu pesan singkat kepada istriku.
"Ma, tadi papa hampir kecelakaan. Alhamdulillah aman. Dua jam lagi masuk Ungaran."
Pukul dua lebih empat belas menit. Istri dan kedua anakku pasti sudah tertidur pulas. Sementara perjalananku kali ini masih jauh, belum lagi perjalanan pulang kembali ke Jakarta. Rindu-rindu masih harus ditimbun di bawah bantal dan di jok depan setir bersama ketakutan dan kekhawatiran yang selalu mampu menyelipkan diri.
______________________________________
Pagi masih kanak-kanak. Matahari belum siap mengenakan gaun jingganya. Adzan subuh masih beberapa belas menit lagi. Aku duduk di teras depan rumah kecilku sambil menghisap sebatang rokok setelah menikmati hidangan sahur seadanya. Entah mengapa, perasaanku tak enak. Sudah tiga hari terakhir aku tak bisa tidur. Rasanya ada sebongkah kekhawatiran entah tentang apa yang mengusikku.
Pagi ini, aku, istri dan kedua anakku akan melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan pulang ke rumah. Perjalanan raya tahunan dalam serangkaian peringatan hari raya lebaran. Beramai-ramai, seperti ribuan orang lainnya. Keluargaku mendapat potongan setengah harga jalan menggunakan bus yang akan aku kemudikan. Itu sudah batas toleransi serta batas kebaikan hati yang bisa diberikan oleh bosku. Sampai di kampung halaman nanti, akan ada supir lain di kantor cabang daerah rumahku yang menggantikanku menyetir bus yang sama menuju rute lainnya.
Perasaanku masih tidak enak. Perjalanan pulang terasa akan sangat jauh kali ini. Apakah kami akan melakukan perjalanan terjauh kami sekarang? Apakah ini sudah waktunya? Baru dua minggu setelah kejadian terakhir di mana aku hampir mengalami kecelakaan, sementara selama dua minggu itu akupun masih melakukan beberapa perjalanan penuh tontonan drama kematian. Aku masih sangat ketakutan. Ah, sudahlah. Toh tempat hidupku memang adalah di dalam perjalanan, bersama dengan ketakutan dan kekhawatiran. Ini perasaan yang wajar.
Betapapun aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku tetap gagal. Perasaanku sungguh tak enak. Berbagai macam skenario buruk berputar di dalam kepalaku. Bagaimana jika hari ini drama kematian tak lagi kutonton, tapi justru kualami? Namun perjalanan harus tetap dilakukan, meskipun aku sungguh ingin meminta istriku agar kami tak usah pulang ke kampung lebaran kali ini. Ia tak akan menerima keinginanku. Keluarga besar sudah menanti kepulangan kami yang aku tak yakin akan dalam wujud yang diinginkan.
______________________________________
Sekitar empat jam setelah keberangkatan. Kepalaku terbentur hebat. Setelah itu, teriakan yang beberapa detik lalu sungguh memekakkan telinga lenyap seketika. Semuanya sunyi. Sepi. Dan aku tak tahu apa-apa lagi.
______________________________________
Aku terbangun di ruangan dengan bau menyengat yang khas. Aku di rumah sakit. Perban membungkus hampir semua bagian tubuhku. Perih. Sepertinya berbagai macam luka bersatu di tubuh yang sama, bertindih-tindihan. Luka bakar, luka sobek, memar, dan apapun itu. Bermacam-macam selang melilit-lilit tubuhku. Aku semakin tak mampu menggerakkan bagian tubuh manapun kecuali kelopak mataku.
Di sampingku terduduk kakak iparku. Kakak laki-laki dari istriku. Ia kaget melihatku sadarkan diri. Respon pertamanya justru langsung memeluk tubuhku dan membuatnya semakin perih, sambil menangis sejadi-jadinya. Di antara tangis dan gumamannya yang tak jelas itu, sayup-sayup aku mendengar ucapannya yang membuat isi dadaku seakan berurai keluar. Katanya, istri dan anak-anakku tewas dalam kecelakaan bus yang aku kemudikan dua minggu lalu. Selama itu juga aku sudah terkapar tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Cuma tiga orang yang selamat dari puluhan orang yang ada di dalam bus itu, termasuk aku. Bus masuk ke jurang. Terbakar. Entahlah. Aku tak mampu lagi mendengar kalimat yang ia ucapkan di antara tangisnya.
Istri dan anak-anakku memang sampai di rumah, namun dalam keadaan yang tak pernah diinginkan oleh keluarga besar kami yang sudah menunggu. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku meminta untuk segera keluar dari rumah sakit dan diantar ke pemakaman istri dan anak-anakku, tapi tubuhku sendiri masih tak sanggup kugerakkan.
Hidup memang adalah perjalanan. Orang sepertiku sering dianggap melakukan perjalanan untuk hidup. Namun bagiku, awalnya aku hidup di dalam perjalanan. Lambat laun aku menjadi penonton setia drama perjalanan terjauh orang-orang. Kini, aku justru telah menjadi pengantar orang-orang melakukan perjalanan terjauhnya.
Aku masih menangis sejadi-jadinya. Segagal-gagalnya orang yang melakukan perjalanan adalah yang tak sampai di tempat tujuannya dan tak menemukan makna apapun dari kegagalannya. Namun bagiku, tak ada yang lebih gagal dari seorang pengantar kematian yang bahkan tak bisa mengantar keluarganya sendiri pulang menuju rumah paling jauh; liang sempit di tanah yang basah.
______________________________________
Sirine berbunyi kencang dari atas kepalaku dengan suaranya yang memekakkan, menyanyikan nada-nada yang selalu minor dan membawa duka atau paling tidak kekhawatiran. Di belakangku, air mata, keringat dan ketakutan beberapa orang mengiringi pejam seorang lainnya yang terbaring tak berdaya di depan mereka. Selalu seperti itu. Tak ada yang mampu memastikan apakah setiap perjalanan yang ada akan mengantar pada rumah sakit terdekat atau rumah berpulang terjauh, pada keselamatan dan kelegaan atau pada kehilangan dan kesedihan. Ketika sirine dinyalakan, satu perjalanan dilakukan, sejuta harapan diterbangkan, dan satu kehilangan akan meruntuhkan dan mendiamkan segalanya.
Kini aku benar-benar menjadi pengantar perjalanan orang menuju rumah terjauh mereka. Setelah beberapa saat sepi yang teramat sangat kukecap, kini duniaku ramai sekali. Di atas kepala sirine berbunyi, di belakang orang-orang ribut menangis. Begitu setiap waktu. Dan aku hanya akan mengemudi dengan senyum tersungging di belakang setir. Di dalam sebuah mobil ambulans, perjalanan menjadi benar-benar tak dapat ditebak akhirnya.
Hidup memang adalah perjalanan. Bagiku sekarang, aku masih melakukan perjalanan untuk hidup, menjemput manusia-manusia kritis di sana-sini agar aku bisa mendapat makan. Aku juga masih hidup di dalam perjalanan, menghabiskan sebagian besar waktu di dalam kotak putih bising yang sering sekali membangunkan trauma. Akupun masih menjadi penonton drama kematian, lakon orang-orang yang melakukan perjalanan terjauh ke rumah pertama, bahkan kini lebih sering kutonton, hampir setiap hari. Aku masih seorang supir, namun telah lebih pantas diberi gelar pengantar kematian dibandingkan dulu.
"Jika aku tak bisa mengantar keluargaku dalam perjalanan terjauhnya, aku akan menghabiskan hidupku mengantar semua orang lain." Gumamku.
"Hah? Kenapa, Pak?" Salah seorang keluarga korban kecelakaan yang duduk di sampingku menyahut mendengar gumamanku.
"Ah, tidak apa-apa." Lalu aku tersenyum lagi.
Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menangis di belakang, di samping anaknya yang terkapar bermandikan darah, tiba-tiba berteriak semakin kencang, meraung-raung tak terkendali. Anaknya berhenti bernapas. Mobil yang kukemudikan belum sampai di rumah sakit.
Satu lagi perjalanan terjauh yang kuantar. Aku tersenyum.
Selasa, 22 Oktober 2013
Malam Ini Aku Mau Menulis Surat...
Malam ini aku mau menulis surat untuk Ibu dan Bapak.
Malam ini aku mau menulis surat untuk dua pasang mata yang sorotnya hanya cukup untuk menyimpan aku dan rindu untukku.
Malam ini aku mau menulis surat maaf, di waktu lain aku akan menulis lagi surat terima kasih, karena surat untuk mereka hanya bisa berisikan dua ucapan itu.
Malam ini aku mau menulis; Ibu, Bapak, maaf. Ketika aku kini selalu tak punya waktu, kalian selamanya hanya punya aku.
Malam ini aku mau menulis surat untuk dua pasang mata yang sorotnya hanya cukup untuk menyimpan aku dan rindu untukku.
Malam ini aku mau menulis surat maaf, di waktu lain aku akan menulis lagi surat terima kasih, karena surat untuk mereka hanya bisa berisikan dua ucapan itu.
Malam ini aku mau menulis; Ibu, Bapak, maaf. Ketika aku kini selalu tak punya waktu, kalian selamanya hanya punya aku.
Kamis, 26 September 2013
Lantai Dansa dan Tembok-tembok Kamar
Kau pesta
Aku lamunan
Kau lantai dansa
Aku tembok-tembok kamar
Kau suara-suara
Aku keheningan
Kau tak pernah tidur
Aku tak pernah bangun
Kau cita-cita
Aku mimpi
Kau ternyata
Aku andai
Kau hentakan kaki berirama
Aku tubuh di bawah selimut
Kau percakapan-percakapan
Aku diam
Sampai akhirnya hatimu sungguh lengang
Dan kepalaku sungguh riuh
Maka aku mulai berbicara padamu
Lalu kau mulai memelukku
Di bawah satu atap kelelahan yang sama
Dan kita tak ingin lagi keluar rumah
Jakarta, 29/8/13
11.57 PM
Aku lamunan
Kau lantai dansa
Aku tembok-tembok kamar
Kau suara-suara
Aku keheningan
Kau tak pernah tidur
Aku tak pernah bangun
Kau cita-cita
Aku mimpi
Kau ternyata
Aku andai
Kau hentakan kaki berirama
Aku tubuh di bawah selimut
Kau percakapan-percakapan
Aku diam
Sampai akhirnya hatimu sungguh lengang
Dan kepalaku sungguh riuh
Maka aku mulai berbicara padamu
Lalu kau mulai memelukku
Di bawah satu atap kelelahan yang sama
Dan kita tak ingin lagi keluar rumah
Jakarta, 29/8/13
11.57 PM
Sabtu, 21 September 2013
Catatan Manusia Patah
Catatan yang harus dicatat karena tercatat sebagai catatan penting
Jakarta
Sekitar pukul satu malam
Sepuluh Mei Dua Ribu Tiga Belas
Satu
Catatan ini penting, sepenting rokok yang harus aku bawa ketika buang air besar seperti sekarang ini
Dua
Buku catatan ini menjadi sama penting dengan rokok untuk dibawa karena aku harus segera membakar dan menghisap isi kepalaku sendiri, lalu membuang abunya ke atas kertas ini sebagai surat
Tiga
Aku harus segera mencatat catatan ini setelah mengendap-endap ke kamarmu untuk meminjam korek api karena korek apiku hilang, sebelum kamu pulang dan mengubah isi kepalaku seperti semula ketika catatan ini belum ada di dalamnya
Empat
Ini sudah rokok kedua di atas kloset sambil memangku buku catatan dan aku harus segera menuliskan pesan yang sesungguhnya ditujukan padamu
Lima
Aku ingin kamu tahu kalau aku sudah menduga semuanya, dan kamu seharusnya sudah tahu kalau aku baik-baik saja selama kamu merasa semua ini baik-baik saja untuk dilakukan
Enam
Kamu tidak bisa menghancurkan sesuatu yang memang sudah hancur, karena pot bunga yang terbelah dua dan pot bunga yang hancur berkeping-keping hanya akan diketahui sebagai pot bunga yang pecah, demikianlah aku; pot bunga itu
Tujuh
Lorong menuju pulang yang gelap tadi sempat menggelapkan harapanku dengan bayangan bahwa apa yang aku ketahui bukanlah kebenaran, tapi begitulah kebenaran yang ada, bahwa harapanku bukan salah satu di antaranya
Delapan
Aku ingin menyampaikan catatan ini langsung kepadamu sesegera aku mencatatnya di kamar mandi seperti ini, tapi kamu belum juga pulang dan mataku ingin segera mengawini kasurku
Sembilan
Ini sudah batang rokok ketiga di atas kloset dan tak ada lagi yang ingin aku buang termasuk pikiranku atau catatan ini sekalipun
Sepuluh
Angkanya sudah genap lagi dan kamu harus paham bahwa aku adalah manusia, meski manusia patah sekalipun, jika saja kamu lupa
Jakarta
Sekitar pukul satu malam
Sepuluh Mei Dua Ribu Tiga Belas
Satu
Catatan ini penting, sepenting rokok yang harus aku bawa ketika buang air besar seperti sekarang ini
Dua
Buku catatan ini menjadi sama penting dengan rokok untuk dibawa karena aku harus segera membakar dan menghisap isi kepalaku sendiri, lalu membuang abunya ke atas kertas ini sebagai surat
Tiga
Aku harus segera mencatat catatan ini setelah mengendap-endap ke kamarmu untuk meminjam korek api karena korek apiku hilang, sebelum kamu pulang dan mengubah isi kepalaku seperti semula ketika catatan ini belum ada di dalamnya
Empat
Ini sudah rokok kedua di atas kloset sambil memangku buku catatan dan aku harus segera menuliskan pesan yang sesungguhnya ditujukan padamu
Lima
Aku ingin kamu tahu kalau aku sudah menduga semuanya, dan kamu seharusnya sudah tahu kalau aku baik-baik saja selama kamu merasa semua ini baik-baik saja untuk dilakukan
Enam
Kamu tidak bisa menghancurkan sesuatu yang memang sudah hancur, karena pot bunga yang terbelah dua dan pot bunga yang hancur berkeping-keping hanya akan diketahui sebagai pot bunga yang pecah, demikianlah aku; pot bunga itu
Tujuh
Lorong menuju pulang yang gelap tadi sempat menggelapkan harapanku dengan bayangan bahwa apa yang aku ketahui bukanlah kebenaran, tapi begitulah kebenaran yang ada, bahwa harapanku bukan salah satu di antaranya
Delapan
Aku ingin menyampaikan catatan ini langsung kepadamu sesegera aku mencatatnya di kamar mandi seperti ini, tapi kamu belum juga pulang dan mataku ingin segera mengawini kasurku
Sembilan
Ini sudah batang rokok ketiga di atas kloset dan tak ada lagi yang ingin aku buang termasuk pikiranku atau catatan ini sekalipun
Sepuluh
Angkanya sudah genap lagi dan kamu harus paham bahwa aku adalah manusia, meski manusia patah sekalipun, jika saja kamu lupa
Senin, 16 September 2013
Rumah Rindu
Aku merindukanmu.
Bukan karena rumah yang katanya ada di ujung jalan, dipisahkan bentangan rel kereta yang terlalu panjang untukmu menantiku, untukku menghampirimu, atau untuk kita menukarkan makna diam lewat tatap.
Aku merindukanmu.
Bukan karena rumah yang akan meneduhkan kepala-kepala mungil masa depan kerap kali kaubicarakan, kuiyakan, atau kita dambakan terletak di kota yang sama kita cintai seperti cinta yang sama kita coba tuai.
Aku merindukanmu.
Bukan karena rumah yang kasurnya sempat kita tiduri telah merekam habis ingatan yang kita bangun dari batu bata aroma tengkukmu, pasir belaiku, atau semen bibir kita yang mengeras mati tak mau berganti.
Aku merindukanmu.
Karena rumah yang senantiasa kutuliskan telah bermukim di lenganmu, dan memaksa tubuhku bermukim di dalamnya, dan membangunkan kita untuk kembali bermukim pada rindu, dan nantinya; ketiadaan.
Bukan karena rumah yang katanya ada di ujung jalan, dipisahkan bentangan rel kereta yang terlalu panjang untukmu menantiku, untukku menghampirimu, atau untuk kita menukarkan makna diam lewat tatap.
Aku merindukanmu.
Bukan karena rumah yang akan meneduhkan kepala-kepala mungil masa depan kerap kali kaubicarakan, kuiyakan, atau kita dambakan terletak di kota yang sama kita cintai seperti cinta yang sama kita coba tuai.
Aku merindukanmu.
Bukan karena rumah yang kasurnya sempat kita tiduri telah merekam habis ingatan yang kita bangun dari batu bata aroma tengkukmu, pasir belaiku, atau semen bibir kita yang mengeras mati tak mau berganti.
Aku merindukanmu.
Karena rumah yang senantiasa kutuliskan telah bermukim di lenganmu, dan memaksa tubuhku bermukim di dalamnya, dan membangunkan kita untuk kembali bermukim pada rindu, dan nantinya; ketiadaan.
Kamis, 12 September 2013
Buku Pembaringan
Aku ingin membeli buku catatan yang lebih tebal
Lalu rak buku yang lebih besar
Agar luka tak perlu keluar kamar,
menggelandang mencari tempat berbaring
Agar luka bisa tertidur lelap di atas kertas putih tak bergaris
Jakarta,
Pukul ketika kota ini tampak cantik
Lalu rak buku yang lebih besar
Agar luka tak perlu keluar kamar,
menggelandang mencari tempat berbaring
Agar luka bisa tertidur lelap di atas kertas putih tak bergaris
Jakarta,
Pukul ketika kota ini tampak cantik
Selasa, 10 September 2013
Gadis Kecil Yang Tak Ingin Dewasa
Sore yang basah. Aku melarikan telapak-telapak kaki mungilku menuju rumah. Matahari tampak sudah sangat lelah dan ia berkata kepadaku bahwa ia akan segera pulang. Pengeras-pengeras suara di masjid-masjid membisikkanku suara yang rata-rata orang tak mampu dengar, bahwa aku harus segera pulang. Umurku baru saja menginjak 5 tahun dan matahari serta toa masjid begitu merepotkanku. Aku tak suka pulang. Aku baru saja bermain hujan dengan teman-temanku di dekat rumah dan aku tak mau berhenti meskipun hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu.
Aku mendobrak pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Baju terusan biru muda yang dibelikan salah seorang tanteku sebagai oleh-oleh perjalanannya dari Hongkong beberapa bulan lalu berubah cokelat karena habis bermain lumpur. Lantai rumah kubuat licin oleh bekas kaki telanjangku yang lembab. Aku sudah bersiap dimarahi. Kutunggu suara mama terdengar dan meninggi. Aku memasang raut paling polos untuk menutupi kenakalanku karena telah membuatnya repot harus membersihkan kekacauan yang kubuat dan mengkhawatirkanku sepanjang sore.
Aku masih menanti suara mama untuk menyerangku dan juga pelukannya yang biasanya akan segera menyusul suara tingginya. Pelukan itu yang aku tunggu. Tak apa jika aku harus kena marah lebih dulu. Namun yang aku dengar lain. Aku memang mendengar suara mama, tapi bukan suara marah dengan nada yang meninggi, melainkan suara tangisan hebat.
Aku memasuki kamar mama, membuka pintunya pelan-pelan dan menemukannya sedang menutupi wajahnya sebisa mungkin dengan bantal di sofa pojok kamar dekat jendela. Aku merasa sedih. Aku tidak suka melihat perempuan menangis meskipun sebagai anak perempuan aku suka sekali merengek untuk hal-hal kecil. Tapi aku menangis hanya untuk mencari perhatian. Aku hanya anak kecil. Aku menangis karena aku melihat darah bercucuran dari permukaan lututku, bukan dari hatiku.
Aku sering sekali melihat mama menangis sejak aku lahir. Lima tahun yang lalu, ketika aku mendapat giliran untuk pindah tempat tinggal ke dunia di luar tubuh mama setelah jauh sebelumnya bersusah payah mengambil keputusan untuk bersedia ditempatkan di perutnya oleh Tuhan dan keluar dari surga, aku pikir hanya aku yang akan sering menangis. Ternyata aku salah. Mama adalah sainganku. Entah karena apa saja dia menangis. Dulu aku sering mendengar teriakan-teriakan penuh makian ketika tidur di dalam perut mama. Mungkin itu papa, aku tak tahu. Aku tak pernah tahu sebab aku tak pernah melihat wajahnya sama sekali.
Tadi aku melihat Om Kumis, begitu aku biasa memanggilnya, keluar dari rumah ketika aku sedang bermain hujan. Ia mengendarai mobilnya buru-buru. Ia sering datang meskipun tak setiap hari, dan sering ketika malam hari. Mungkin tadi ia mau buru-buru menjemput istrinya dari salon. Selain Om Kumis, aku punya banyak om lain yang sering mengunjungi mama pada waktu-waktu yang tidak jauh berbeda polanya dengan Om Kumis. Aku punya panggilan khusus masing-masing untuk mereka. Ada Om Kelingking yang suka mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku ketika berjalan bersama, ada Om Pak Raden yang suka mendongengiku, ada Om Lalala yang suka menyanyikanku lagu sebelum tidur, dan banyak lagi. Aku menceritakan tentang mereka semua kepada Baba, bonekaku yang baik hati dan mau menyimpan rahasia dari cerita-ceritaku. Sesering mereka mengunjungi mama, sesering itulah aku melihat mama menangis.
Aku marangkak naik ke atas sofa tempat mama duduk dengan gaunku yang masih basah dan penuh lumpur. Aku memeluknya. Aku tahu itu akan mengahangatkannya, meskipun secara teori aku justru membuatnya dingin. Ketika memeluknya, aku ingat teman di dekat rumahku. Mereka memang tak pernah memelukku, tapi aku merasa hangat ketika bermain bersama mereka. Meskipun bermain hujan sekalipun, aku tetap hangat. Mungkin karena mereka tak menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka. Mereka hanya anak kecil, sama seperti aku. Mereka tak mengenal kesedihan. Tidak seperti orang dewasa.
Aku tak mau dewasa. Aku pernah bercerita kepada Baba bahwa aku ingin cepat mati. Secepatnya selama aku masih kecil. Aku tak mau merasakan bagaimana menjadi dewasa. Aku mau mati ketika aku hanya punya luka di lutut, sebelum aku mengenal luka di dalam hati.
____________________________________________
Matahari terik sekali siang ini. Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu tapi aku tak ingin pulang. Di sini tempat dimana ada banyak anak kecil, maka di sini hangat. Teman-temanku sudah pulang semua tapi aku masih ingin bermain ayunan di bawah beringin belakang sekolah. Tempat itu pasti sejuk sekali di tengah hari seperti ini.
Aku berjalan sambil sesekali melompat-lompat ke belakang sekolah. Ternyata ada orang di bawah pohon. Aku mengenalinya sebagai Ibu Ria. Namanya memang bukan Ria, tapi ia selalu ceria di depan muridnya, maka sejak hari pertama aku bertemu dengannya, aku memanggilnya Ibu Ria. Awalnya ia sering menanyakan alasanku, namun aku biasanya hanya tertawa dan berlari darinya. Lalu ia hanya akan ikut tertawa dan lama kelamaan tak lagi mempermasalahkannya.
Ibu Ria memang selalu tampak ceria. Tapi ia sering sekali menangis dan hanya aku yang tahu. Aku memang satu-satunya anak yang suka tinggal di sekolah lebih lama setelah jam pulang sekolah. Rumahku dekat sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk harus pulang cepat. Aku bahkan biasa berjalan kaki sendiri karena sekolah hanya dua lorong dari rumahku di dalam satu kompleks perumahan yang sama. Oleh sebab itu, hanya aku yang tahu Ibu Ria sering sekali menangis. Ia hanya menangis setelah jam pulang sekolah. Aku tidak pernah mau tahu kenapa, karena aku memang tahu orang dewasa menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka masing-masing. Tapi minggu lalu aku tak sengaja mendengar bahwa tunangan Ibu Ria meninggal beberapa bulan yang lalu dalam kecelakaan lalu-lintas. Maka pemaklumanku terhadap orang dewasa yang suka menangis semakin kuat. Aku semakin tidak bertanya-tanya.
Aku berjalan mendekati Ibu Ria. Biasanya jika mendengar dia menangis, aku hanya memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini aku ingin memeluknya. Aku tahu hal itu akan menghangatkannya meskipun siang ini memang sudah sangat terik. Ia melihat kedatanganku dan menyambut tubuhku dengan tangan terbuka dan tangis yang semakin pecah. Di dalam pelukannya, aku menuliskan janji di dalam diriku sendiri bahwa aku akan mati selagi masih kecil, lalu perjanjian itu kutandatangani. Aku semakin yakin dengan keinginanku. Aku akan pulang ke surga, tempatku tinggal sebelum aku mengiyakan tawaran Tuhan untuk turun dan menempati isi perut mama. Di sana menyenangkan sekali.
____________________________________________
Sore ini aku mau bermain. Aku memilih melangkahkan telapak-telapak mungilku ke arah tempat pemakaman dekat rumah. Sama dengan sekolah, pemakaman masih di dalam satu kompleks. Mama tidak akan khawatir, tempatnya dekat dan di sana aku akan menemui kakek. Lagipula mama pasti sedang sibuk. Dia selalu sibuk. Kalau tidak menangis, pasti ia sibuk melukai dirinya sendiri untuk menangis lagi nantinya, dan terus-menerus berputar seperti itu.
Aku senang menemui kakek. Ia bisa diajak bercerita banyak. Ia teman bercerita yang baik bagiku selain Baba. Aku memetik bunga dan daun-daun di sepanjang perjalananku untuk ditaburi di atas makamnya. Setelah mengucapkan salam dan menaburkan potongan-potongan tumbuhan yang kupotong sendiri dengan kuku-kuku yang sering malas kupotong itu, aku duduk di dekat gundukan tanah yang menindihnya tidur di dalam sana. Aku mulai bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar tentang tangisan, orang-orang yang menangis, dan apa-apa yang membuat mereka menangis. Aku sadar, aku jarang bercerita tentang bahagia.
Tiba-tiba aku ingat tentang satu-satunya cerita bahagia yang aku miliki. Cerita itu tentang kakek dan nenek. Maka aku menceritakannya lagi kepada kakek, siapa tahu dia lupa, karena dia memang sudah tua dan meninggal dalam keadaan pikun akut. Meskipun begitu, nenek adalah hal yang paling jarang ia lupakan di antara setumpuk kebingungan-kebingungan yang ia alami setiap hari karena kepikunannya. Kakek tidak hanya selalu mampu mengingat nenek, tapi juga mengingat perasaan yang dirasakannya kepada nenek dengan sangat detail. Sosok nenek yang muncul di kepala dan bibirnya di antara sekian banyak hal yang selalu ia lupakan mampu membuatnya tersenyum. Ketika ia tersenyum, bukan hanya keriputnya yang tampak tertarik dan giginya yang tampak ompong, tapi nenek juga ikut tampak di dalam matanya.
Nenek sudah meninggal lebih dulu sebelum kakek. Kakek sempat sangat bersedih, tapi tidak lama. Mungkin setelah itu dia lupa, karena dia memang sudah pikun. Lalu ia akan teringat lagi, dan tersenyum lagi, lalu lupa lagi. Begitu seterusnya. Ia pernah bercerita kepadaku di suatu sore yang mendung bahwa ia akan segera menyusul nenek. Matanya bersinar begitu bahagia ketika mengatakannya.
Aku tak punya cerita bahagia lain selain cerita kakek dan nenek. Maka aku pikir, menyusul kakek mungkin adalah suatu keputusan yang sangat baik dan membahagiakan. Lagipula, aku akan sangat senang bisa bertemu dengan kakek, sama dengan kakek dulu sangat senang jika bisa menyusul nenek.
_______________________________________________
Pagi ini aku mau bermain di rumah sakit. Kali ini aku tidak sendirian karena rumah sakit terletak jauh dari rumah. Aku pergi bersama mama. Aku tidak menggenggam tangannya, melainkan hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Sesungguhnya aku tak sabar. Aku suka berjalan sambil sesekali berlari dan melompat-lompat. Hal itu menyenangkan. Tapi mama berjalan sangat lambat dan aku hanya bisa mengikuti dari belakang. Langkahnya lunglai, sorot matanya redup dan lelah. Atau mungkin malah sedih.
Aku sampai di rumah sakit dan memasuki salah satu kamar rawat inap. Aku mulai melompat-lompat dan berlari-larian. Aku bermain dengan apa saja yang bisa aku mainkan di dalam kamar itu. Kamar itu ramai, ada beberapa keluargaku yang datang, tapi mereka semua tidak ada yang mempermasalahkanku.
Akhirnya aku kelelahan. Aku duduk di sofa dekat tempat tidur pasien. Aku hanya terdiam menatap diriku sendiri di atas kasur di depanku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tahu lagi harus bermain dengan apa. Orang-orang di dalam ruangan itu tak ada yang melihatku. Mereka sibuk mendengarkan suster yang datang melaporkan keadaanku. Katanya aku sudah tidak sadarkan diri di tengah koma selama 4 hari. Katanya lagi, aku mengidap penyakit hati. Ada luka di dalam hatiku. Luka itu bahkan mengakibatkan pendarahan di dalam hati. Penyakit yang aneh, kupikir.
Kemarin sebelum suster yang ini datang, dokter sempat mengatakan bahwa penyebab luka di dalam hatiku adalah cacing parasit yang memakan organ dalam tubuh. Itu penemuan baru di dunia kesehatan. Diam-diam aku merasa bangga. Aku merasa seperti ilmuan atau astronot atau orang-orang lain yang dekat dengan kata penemuan. Hal itu aku dengar dari Ibu Ria di sekolah dan dari dongeng-dongeng yang diceritakan Om Pak Raden. Aku membanyangkan diriku menjadi kayu lapuk di gudang halaman belakang rumah. Lalu cacing itu adalah rayap-rayap yang akan menghabiskanku.
Aku masih menatap tubuhku sendiri terbaring di depanku. Orang-orang di dalam kamar tak ada yang bisa melihatku. Aku masih lelah dan malas untuk bergerak. Pelan-pelan aku tersenyum. Aku berhasil. Aku akan mati ketika aku hanya mengenal luka di lutut. Aku akan segera menemui kakek dan berbahagia melihatnya sedang berbahagia dengan nenek.
Lama-kelamaan mataku tertutup. Aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Di depanku, tubuhku menghentikan detak jantungnya. Mungkin karena hatiku sudah habis dimakan cacing dan ia mulai menuju jantungku. Suara datar dan panjang dari monitor yang di layarnya menampilkan sebuah garis lurus terdengar memekakkan telinga. Tangis mama pecah, tangis paling menyedihkan yang pernah aku dengar dalam kebosananku mendengar tangisnya. Tapi aku semakin terlelap sembari tersenyum.
Aku mendobrak pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Baju terusan biru muda yang dibelikan salah seorang tanteku sebagai oleh-oleh perjalanannya dari Hongkong beberapa bulan lalu berubah cokelat karena habis bermain lumpur. Lantai rumah kubuat licin oleh bekas kaki telanjangku yang lembab. Aku sudah bersiap dimarahi. Kutunggu suara mama terdengar dan meninggi. Aku memasang raut paling polos untuk menutupi kenakalanku karena telah membuatnya repot harus membersihkan kekacauan yang kubuat dan mengkhawatirkanku sepanjang sore.
Aku masih menanti suara mama untuk menyerangku dan juga pelukannya yang biasanya akan segera menyusul suara tingginya. Pelukan itu yang aku tunggu. Tak apa jika aku harus kena marah lebih dulu. Namun yang aku dengar lain. Aku memang mendengar suara mama, tapi bukan suara marah dengan nada yang meninggi, melainkan suara tangisan hebat.
Aku memasuki kamar mama, membuka pintunya pelan-pelan dan menemukannya sedang menutupi wajahnya sebisa mungkin dengan bantal di sofa pojok kamar dekat jendela. Aku merasa sedih. Aku tidak suka melihat perempuan menangis meskipun sebagai anak perempuan aku suka sekali merengek untuk hal-hal kecil. Tapi aku menangis hanya untuk mencari perhatian. Aku hanya anak kecil. Aku menangis karena aku melihat darah bercucuran dari permukaan lututku, bukan dari hatiku.
Aku sering sekali melihat mama menangis sejak aku lahir. Lima tahun yang lalu, ketika aku mendapat giliran untuk pindah tempat tinggal ke dunia di luar tubuh mama setelah jauh sebelumnya bersusah payah mengambil keputusan untuk bersedia ditempatkan di perutnya oleh Tuhan dan keluar dari surga, aku pikir hanya aku yang akan sering menangis. Ternyata aku salah. Mama adalah sainganku. Entah karena apa saja dia menangis. Dulu aku sering mendengar teriakan-teriakan penuh makian ketika tidur di dalam perut mama. Mungkin itu papa, aku tak tahu. Aku tak pernah tahu sebab aku tak pernah melihat wajahnya sama sekali.
Tadi aku melihat Om Kumis, begitu aku biasa memanggilnya, keluar dari rumah ketika aku sedang bermain hujan. Ia mengendarai mobilnya buru-buru. Ia sering datang meskipun tak setiap hari, dan sering ketika malam hari. Mungkin tadi ia mau buru-buru menjemput istrinya dari salon. Selain Om Kumis, aku punya banyak om lain yang sering mengunjungi mama pada waktu-waktu yang tidak jauh berbeda polanya dengan Om Kumis. Aku punya panggilan khusus masing-masing untuk mereka. Ada Om Kelingking yang suka mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku ketika berjalan bersama, ada Om Pak Raden yang suka mendongengiku, ada Om Lalala yang suka menyanyikanku lagu sebelum tidur, dan banyak lagi. Aku menceritakan tentang mereka semua kepada Baba, bonekaku yang baik hati dan mau menyimpan rahasia dari cerita-ceritaku. Sesering mereka mengunjungi mama, sesering itulah aku melihat mama menangis.
Aku marangkak naik ke atas sofa tempat mama duduk dengan gaunku yang masih basah dan penuh lumpur. Aku memeluknya. Aku tahu itu akan mengahangatkannya, meskipun secara teori aku justru membuatnya dingin. Ketika memeluknya, aku ingat teman di dekat rumahku. Mereka memang tak pernah memelukku, tapi aku merasa hangat ketika bermain bersama mereka. Meskipun bermain hujan sekalipun, aku tetap hangat. Mungkin karena mereka tak menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka. Mereka hanya anak kecil, sama seperti aku. Mereka tak mengenal kesedihan. Tidak seperti orang dewasa.
Aku tak mau dewasa. Aku pernah bercerita kepada Baba bahwa aku ingin cepat mati. Secepatnya selama aku masih kecil. Aku tak mau merasakan bagaimana menjadi dewasa. Aku mau mati ketika aku hanya punya luka di lutut, sebelum aku mengenal luka di dalam hati.
____________________________________________
Matahari terik sekali siang ini. Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu tapi aku tak ingin pulang. Di sini tempat dimana ada banyak anak kecil, maka di sini hangat. Teman-temanku sudah pulang semua tapi aku masih ingin bermain ayunan di bawah beringin belakang sekolah. Tempat itu pasti sejuk sekali di tengah hari seperti ini.
Aku berjalan sambil sesekali melompat-lompat ke belakang sekolah. Ternyata ada orang di bawah pohon. Aku mengenalinya sebagai Ibu Ria. Namanya memang bukan Ria, tapi ia selalu ceria di depan muridnya, maka sejak hari pertama aku bertemu dengannya, aku memanggilnya Ibu Ria. Awalnya ia sering menanyakan alasanku, namun aku biasanya hanya tertawa dan berlari darinya. Lalu ia hanya akan ikut tertawa dan lama kelamaan tak lagi mempermasalahkannya.
Ibu Ria memang selalu tampak ceria. Tapi ia sering sekali menangis dan hanya aku yang tahu. Aku memang satu-satunya anak yang suka tinggal di sekolah lebih lama setelah jam pulang sekolah. Rumahku dekat sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk harus pulang cepat. Aku bahkan biasa berjalan kaki sendiri karena sekolah hanya dua lorong dari rumahku di dalam satu kompleks perumahan yang sama. Oleh sebab itu, hanya aku yang tahu Ibu Ria sering sekali menangis. Ia hanya menangis setelah jam pulang sekolah. Aku tidak pernah mau tahu kenapa, karena aku memang tahu orang dewasa menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka masing-masing. Tapi minggu lalu aku tak sengaja mendengar bahwa tunangan Ibu Ria meninggal beberapa bulan yang lalu dalam kecelakaan lalu-lintas. Maka pemaklumanku terhadap orang dewasa yang suka menangis semakin kuat. Aku semakin tidak bertanya-tanya.
Aku berjalan mendekati Ibu Ria. Biasanya jika mendengar dia menangis, aku hanya memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini aku ingin memeluknya. Aku tahu hal itu akan menghangatkannya meskipun siang ini memang sudah sangat terik. Ia melihat kedatanganku dan menyambut tubuhku dengan tangan terbuka dan tangis yang semakin pecah. Di dalam pelukannya, aku menuliskan janji di dalam diriku sendiri bahwa aku akan mati selagi masih kecil, lalu perjanjian itu kutandatangani. Aku semakin yakin dengan keinginanku. Aku akan pulang ke surga, tempatku tinggal sebelum aku mengiyakan tawaran Tuhan untuk turun dan menempati isi perut mama. Di sana menyenangkan sekali.
____________________________________________
Sore ini aku mau bermain. Aku memilih melangkahkan telapak-telapak mungilku ke arah tempat pemakaman dekat rumah. Sama dengan sekolah, pemakaman masih di dalam satu kompleks. Mama tidak akan khawatir, tempatnya dekat dan di sana aku akan menemui kakek. Lagipula mama pasti sedang sibuk. Dia selalu sibuk. Kalau tidak menangis, pasti ia sibuk melukai dirinya sendiri untuk menangis lagi nantinya, dan terus-menerus berputar seperti itu.
Aku senang menemui kakek. Ia bisa diajak bercerita banyak. Ia teman bercerita yang baik bagiku selain Baba. Aku memetik bunga dan daun-daun di sepanjang perjalananku untuk ditaburi di atas makamnya. Setelah mengucapkan salam dan menaburkan potongan-potongan tumbuhan yang kupotong sendiri dengan kuku-kuku yang sering malas kupotong itu, aku duduk di dekat gundukan tanah yang menindihnya tidur di dalam sana. Aku mulai bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar tentang tangisan, orang-orang yang menangis, dan apa-apa yang membuat mereka menangis. Aku sadar, aku jarang bercerita tentang bahagia.
Tiba-tiba aku ingat tentang satu-satunya cerita bahagia yang aku miliki. Cerita itu tentang kakek dan nenek. Maka aku menceritakannya lagi kepada kakek, siapa tahu dia lupa, karena dia memang sudah tua dan meninggal dalam keadaan pikun akut. Meskipun begitu, nenek adalah hal yang paling jarang ia lupakan di antara setumpuk kebingungan-kebingungan yang ia alami setiap hari karena kepikunannya. Kakek tidak hanya selalu mampu mengingat nenek, tapi juga mengingat perasaan yang dirasakannya kepada nenek dengan sangat detail. Sosok nenek yang muncul di kepala dan bibirnya di antara sekian banyak hal yang selalu ia lupakan mampu membuatnya tersenyum. Ketika ia tersenyum, bukan hanya keriputnya yang tampak tertarik dan giginya yang tampak ompong, tapi nenek juga ikut tampak di dalam matanya.
Nenek sudah meninggal lebih dulu sebelum kakek. Kakek sempat sangat bersedih, tapi tidak lama. Mungkin setelah itu dia lupa, karena dia memang sudah pikun. Lalu ia akan teringat lagi, dan tersenyum lagi, lalu lupa lagi. Begitu seterusnya. Ia pernah bercerita kepadaku di suatu sore yang mendung bahwa ia akan segera menyusul nenek. Matanya bersinar begitu bahagia ketika mengatakannya.
Aku tak punya cerita bahagia lain selain cerita kakek dan nenek. Maka aku pikir, menyusul kakek mungkin adalah suatu keputusan yang sangat baik dan membahagiakan. Lagipula, aku akan sangat senang bisa bertemu dengan kakek, sama dengan kakek dulu sangat senang jika bisa menyusul nenek.
_______________________________________________
Pagi ini aku mau bermain di rumah sakit. Kali ini aku tidak sendirian karena rumah sakit terletak jauh dari rumah. Aku pergi bersama mama. Aku tidak menggenggam tangannya, melainkan hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Sesungguhnya aku tak sabar. Aku suka berjalan sambil sesekali berlari dan melompat-lompat. Hal itu menyenangkan. Tapi mama berjalan sangat lambat dan aku hanya bisa mengikuti dari belakang. Langkahnya lunglai, sorot matanya redup dan lelah. Atau mungkin malah sedih.
Aku sampai di rumah sakit dan memasuki salah satu kamar rawat inap. Aku mulai melompat-lompat dan berlari-larian. Aku bermain dengan apa saja yang bisa aku mainkan di dalam kamar itu. Kamar itu ramai, ada beberapa keluargaku yang datang, tapi mereka semua tidak ada yang mempermasalahkanku.
Akhirnya aku kelelahan. Aku duduk di sofa dekat tempat tidur pasien. Aku hanya terdiam menatap diriku sendiri di atas kasur di depanku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tahu lagi harus bermain dengan apa. Orang-orang di dalam ruangan itu tak ada yang melihatku. Mereka sibuk mendengarkan suster yang datang melaporkan keadaanku. Katanya aku sudah tidak sadarkan diri di tengah koma selama 4 hari. Katanya lagi, aku mengidap penyakit hati. Ada luka di dalam hatiku. Luka itu bahkan mengakibatkan pendarahan di dalam hati. Penyakit yang aneh, kupikir.
Kemarin sebelum suster yang ini datang, dokter sempat mengatakan bahwa penyebab luka di dalam hatiku adalah cacing parasit yang memakan organ dalam tubuh. Itu penemuan baru di dunia kesehatan. Diam-diam aku merasa bangga. Aku merasa seperti ilmuan atau astronot atau orang-orang lain yang dekat dengan kata penemuan. Hal itu aku dengar dari Ibu Ria di sekolah dan dari dongeng-dongeng yang diceritakan Om Pak Raden. Aku membanyangkan diriku menjadi kayu lapuk di gudang halaman belakang rumah. Lalu cacing itu adalah rayap-rayap yang akan menghabiskanku.
Aku masih menatap tubuhku sendiri terbaring di depanku. Orang-orang di dalam kamar tak ada yang bisa melihatku. Aku masih lelah dan malas untuk bergerak. Pelan-pelan aku tersenyum. Aku berhasil. Aku akan mati ketika aku hanya mengenal luka di lutut. Aku akan segera menemui kakek dan berbahagia melihatnya sedang berbahagia dengan nenek.
Lama-kelamaan mataku tertutup. Aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Di depanku, tubuhku menghentikan detak jantungnya. Mungkin karena hatiku sudah habis dimakan cacing dan ia mulai menuju jantungku. Suara datar dan panjang dari monitor yang di layarnya menampilkan sebuah garis lurus terdengar memekakkan telinga. Tangis mama pecah, tangis paling menyedihkan yang pernah aku dengar dalam kebosananku mendengar tangisnya. Tapi aku semakin terlelap sembari tersenyum.
Senin, 09 September 2013
Aku Telah Habis
Aku telah habis mengeja liuk tengkukmu
Membaca abjad demi abjad aroma tubuhmu
Mencatat alkohol dan sisa asap rupa-rupa rokok dari sudut bibirmu
Membukukan ingatan-ingatan yang dapat kuberi judul; kita
Aku telah habis di dalam pelukanmu
Dan jika pelukan itu adalah rumah yang selama ini kudamba untuk berpulang,
j a n g a n p e r n a h b a n g u n k a n a k u
Karena mimpi hanya akan berupa bentangan luas langit malam penuh bintang,
yang semakin kutatap akan semakin menyerupai kecebong bercahaya berenang di dalam kolam
Atau hujan kristal berjatuhan ke bumi
Karena tak ada lagi mimpi indah dan mimpi buruk
Dan kenyataan
Membaca abjad demi abjad aroma tubuhmu
Mencatat alkohol dan sisa asap rupa-rupa rokok dari sudut bibirmu
Membukukan ingatan-ingatan yang dapat kuberi judul; kita
Aku telah habis di dalam pelukanmu
Dan jika pelukan itu adalah rumah yang selama ini kudamba untuk berpulang,
j a n g a n p e r n a h b a n g u n k a n a k u
Karena mimpi hanya akan berupa bentangan luas langit malam penuh bintang,
yang semakin kutatap akan semakin menyerupai kecebong bercahaya berenang di dalam kolam
Atau hujan kristal berjatuhan ke bumi
Karena tak ada lagi mimpi indah dan mimpi buruk
Dan kenyataan
Langganan:
Postingan (Atom)
