Ada malaikat kecil yang senang melompat-lompati kepala manusia.
Dari satu kepala ke kepala lainnya.
Sampai semua ubun-ubun tersentuh ujung jari-jari kaki telanjangnya yang mungil.
"Kenapa kau melompati kepala-kepala kami?" Tanyaku.
"Karena kepala kalian rindang, tempat tumbuh subur pikiran-pikiran. Rasanya seperti rumput taman yang basah sehabis hujan." Katanya.
"Kenapa kau tak pakai sepatu?" Tanyaku.
"Karena aku ingin merasakan rumput taman itu sedalam-dalamnya. Karena aku ingin mengenal isi kepala-kepala itu sebaik-baiknya." Katanya.
Malaikat itu manis.
Gadis kecil yang manis.
Ada pita hitam di rambutnya yang hitam.
Ada pita hitam di gaunnya yang hitam.
Ia selalu bernyanyi sembari melompati kepala-kepala.
Ia selalu menenteng kantong-kantong hadiah.
Ada pita hitam di kantongnya yang hitam.
"Kenapa kau selalu membawa kantong-kantong hadiah?" Tanyaku.
"Karena aku harus memberikan sesuatu kepada orang yang aku ajak pergi denganku." Katanya.
"Apa isi kantong hadiah itu?" Tanyaku.
"Bahagia. Hanya saja bahagia di dalam kantong ini tak punya definisi bagi orang yang belum ikut denganku." Katanya.
Malaikat itu punya kantong hadiah yang sangat banyak.
Kantong-kantongnya terayun ketika ia melompat-lompat.
Setiap hari ia berangkat dengan banyak kantong.
Lalu pulang tanpa kantong.
Semuanya habis.
Keesokan harinya, ia berangkat lagi dengan banyak kantong.
Lalu pulang lagi tanpa kantong sama sekali.
Semuanya habis.
Begitu terus setiap hari.
Tapi kau tak akan pernah bisa melihat semua kantong yang ia bawa seharian.
Hanya akan ada beberapa kantong yang terlihat.
Bahkan kadang, tak ada kantong yang terlihat.
Hanya kantong untuk orang-orang yang kau kenal saja yang bisa terlihat olehmu.
"Kau bawa berapa kantong hari ini?" Tanyaku.
"Banyak sekali. Aku tak sempat menghitung. Biar itu jadi tugas mereka yang kehilangan." Katanya.
"Apa ada kantong untukku hari ini?" Tanyaku.
"Tak ada kantong yang dapat kau lihat siang ini, tapi ada 3 kantong yang akan kutunjukkan padamu nanti malam." Katanya.
Jakarta 21/1/15 00.06
Satu catatan turut berduka cita, untuk rentetan kabar kehilangan tiga anggota keluarga sahabat-sahabat, dalam rentang waktu dua jam yang sama.
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Januari 2015
Kamis, 24 Oktober 2013
Perjalanan Terjauh Ke Rumah Pertama
Seorang supir angkutan antarkota. Itulah profesiku. Profesi yang hampir semua anak kecil tak pernah sebutkan ketika ditanya apa cita-citanya ketika dewasa nanti. Aku mengemudikan alat transportasi dengan roda minimal empat dalam berbagai ukuran. Tergantung tugas yang diberikan kepadaku ketika itu. Tergantung bagaimana keinginan dan pengaturan bos di tempatku bekerja, sebuah perusahaan penyedia jasa angkutan segala rute untuk segala jenis angkutan. Untuk keterangan segala rute itu, sesungguhnya aku tak bisa menyebut diriku sebagai seorang supir angkutan antarkota karena aku biasanya melalui rute antarprovinsi, antarpulau, bahkan sampai mendekati garis-garis batas antarnegara.
Aku mengemudikan mobil box standar travel antardaerah. Aku mengendarai bus besar dengan berpuluh penumpang. Aku mengendarai truk yang memuat entah apa aku tak tahu, karena biasanya aku diberitahu ketika apa yang aku angkut bukanlah hal yang berbahaya, dan tidak diberitahu ketika apa yang aku angkut adalah barang ilegal. "Bawa saja sampai ke tempat tujuan dalam keadaan utuh!" Begitu biasanya bentakan mereka. Dari semua itu, aku paling sering mengemudikan bus dengan rute sampai antarpulau.
Entah di mana titik paling jauh yang pernah aku temui selama bekerja menjadi supir seperti ini. Yang aku ketahui, aku telah sering sekali menyaksikan perjalanan yang lebih jauh dari perjalanan manapun yang bisa kuanggap paling jauh. Perjalanan terjauh seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Perjalanan kembali menuju rumah pertama, kembali menuju pelukan Sang Pemilik Hidup.
Kematian sudah bukan merupakan hal luar biasa untuk disaksikan bagi orang sepertiku. Jalan raya yang jahat, jalan setapak yang kejam, lelah yang mengembun di sudut-sudut mata bercampur dengan berbagai pikiran tentang nasib, dan takdir yang tak pernah mampu berkompromi. Belum lagi rindu. Rindu sambutan-sambutan hangat dari tangan-tangan lembut keluarga di rumah yang terlalu sering ditinggalkan, memaksa kami selalu bertindak terburu-buru.
Perjalanan terjauh itu bagi kami adalah tontonan sehari-hari, drama serial berisi ribuan episode yang tak habis diputar setiap hari. Tontonan harian di layar televisi itu pada masa tertentu akan berubah menjadi tontonan layar lebar di bioskop-bioskop atau paling tidak, layar tancap perayaan di perkampungan. Pelakon kisahnya semakin banyak. Ceritanya semakin dramatis. Penontonnya pun semakin ramai.
Masa-masa itu terjadi pada musim mudik raya yang selalu menyertai serangkaian peringatan hari raya. Masa ketika semua orang ingin pulang. Beramai-ramai. Sampai banyak pula di antara mereka yang berpulang ke rumah yang paling jauh. Masih tetap beramai-ramai. Bus terbalik. Mobil terbakar. Motor terhempas jauh. Sekeluarga luka parah; kepala terbentur berurai darah, tangan patah, kaki memar. Seorang ibu terselip kakinya di sela ban dan badan truk. Suaminya meninggal di tempat terlindas kendaraan besar. Anaknya menangis, entah menangisi lukanya yang sakit, atau kehidupannya yang takkan sama lagi. Sopir melarikan diri takut diminta pertanggungjawaban polisi, tapi lebih takut lagi langsung dihakimi warga di tempat. Pecahan kaca bus menembus kulit. Kepala pecah dengan luka sobek besar yang harus dijahit. Semacam itulah keadaan yang sudah lumrah kutonton. Sisanya selain itu, bernasib sama seperti sang ayah yang akhirnya sampai ke rumah segala rumah.
"AWAAAAAAAAAASSS!!!"
Aku sadar dari lamunanku. Teriakan satu penumpang tadi langsung ramai diikuti teriakan penumpang lainnya. Yang tertidur langsung terbangun dan terserang panik, lalu ikut berteriak. Aku membanting setir ke kiri. Sebuah mobil baru saja tiba-tiba muncul di depan bus yang kukemudikan. Ia mencoba menyalip mobil di depannya dan tidak memperhitungkan kemungkinan lewatnya mobil lain di arah sebaliknya, arah di mana busku melaju.
Busku berhenti di luar jalur. Untungnya, di kiri-kanan jalan berjejer hutan-hutan tanpa saluran air di pinggir jalan sekalipun yang akan membuat kendaraanku terperosok masuk. Itupun jika ada, aku akan tetap mensyukurinya dibandingkan keberadaan jurang-jurang yang akan membuat kami tak terselamatkan. Teriakan-teriakan manusia dari dalam bus pun berhenti, digantikan dengan setarik-dua tarik napas panjang yang lalu dihembuskan dengan panjang dan berat pula. Penumpang berhamburan keluar bus. Beberapa di antaranya memaki-maki, sisanya menangis ketakutan. Tapi paling tidak, kami selamat.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan mengirim satu pesan singkat kepada istriku.
"Ma, tadi papa hampir kecelakaan. Alhamdulillah aman. Dua jam lagi masuk Ungaran."
Pukul dua lebih empat belas menit. Istri dan kedua anakku pasti sudah tertidur pulas. Sementara perjalananku kali ini masih jauh, belum lagi perjalanan pulang kembali ke Jakarta. Rindu-rindu masih harus ditimbun di bawah bantal dan di jok depan setir bersama ketakutan dan kekhawatiran yang selalu mampu menyelipkan diri.
______________________________________
Pagi masih kanak-kanak. Matahari belum siap mengenakan gaun jingganya. Adzan subuh masih beberapa belas menit lagi. Aku duduk di teras depan rumah kecilku sambil menghisap sebatang rokok setelah menikmati hidangan sahur seadanya. Entah mengapa, perasaanku tak enak. Sudah tiga hari terakhir aku tak bisa tidur. Rasanya ada sebongkah kekhawatiran entah tentang apa yang mengusikku.
Pagi ini, aku, istri dan kedua anakku akan melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan pulang ke rumah. Perjalanan raya tahunan dalam serangkaian peringatan hari raya lebaran. Beramai-ramai, seperti ribuan orang lainnya. Keluargaku mendapat potongan setengah harga jalan menggunakan bus yang akan aku kemudikan. Itu sudah batas toleransi serta batas kebaikan hati yang bisa diberikan oleh bosku. Sampai di kampung halaman nanti, akan ada supir lain di kantor cabang daerah rumahku yang menggantikanku menyetir bus yang sama menuju rute lainnya.
Perasaanku masih tidak enak. Perjalanan pulang terasa akan sangat jauh kali ini. Apakah kami akan melakukan perjalanan terjauh kami sekarang? Apakah ini sudah waktunya? Baru dua minggu setelah kejadian terakhir di mana aku hampir mengalami kecelakaan, sementara selama dua minggu itu akupun masih melakukan beberapa perjalanan penuh tontonan drama kematian. Aku masih sangat ketakutan. Ah, sudahlah. Toh tempat hidupku memang adalah di dalam perjalanan, bersama dengan ketakutan dan kekhawatiran. Ini perasaan yang wajar.
Betapapun aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku tetap gagal. Perasaanku sungguh tak enak. Berbagai macam skenario buruk berputar di dalam kepalaku. Bagaimana jika hari ini drama kematian tak lagi kutonton, tapi justru kualami? Namun perjalanan harus tetap dilakukan, meskipun aku sungguh ingin meminta istriku agar kami tak usah pulang ke kampung lebaran kali ini. Ia tak akan menerima keinginanku. Keluarga besar sudah menanti kepulangan kami yang aku tak yakin akan dalam wujud yang diinginkan.
______________________________________
Sekitar empat jam setelah keberangkatan. Kepalaku terbentur hebat. Setelah itu, teriakan yang beberapa detik lalu sungguh memekakkan telinga lenyap seketika. Semuanya sunyi. Sepi. Dan aku tak tahu apa-apa lagi.
______________________________________
Aku terbangun di ruangan dengan bau menyengat yang khas. Aku di rumah sakit. Perban membungkus hampir semua bagian tubuhku. Perih. Sepertinya berbagai macam luka bersatu di tubuh yang sama, bertindih-tindihan. Luka bakar, luka sobek, memar, dan apapun itu. Bermacam-macam selang melilit-lilit tubuhku. Aku semakin tak mampu menggerakkan bagian tubuh manapun kecuali kelopak mataku.
Di sampingku terduduk kakak iparku. Kakak laki-laki dari istriku. Ia kaget melihatku sadarkan diri. Respon pertamanya justru langsung memeluk tubuhku dan membuatnya semakin perih, sambil menangis sejadi-jadinya. Di antara tangis dan gumamannya yang tak jelas itu, sayup-sayup aku mendengar ucapannya yang membuat isi dadaku seakan berurai keluar. Katanya, istri dan anak-anakku tewas dalam kecelakaan bus yang aku kemudikan dua minggu lalu. Selama itu juga aku sudah terkapar tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Cuma tiga orang yang selamat dari puluhan orang yang ada di dalam bus itu, termasuk aku. Bus masuk ke jurang. Terbakar. Entahlah. Aku tak mampu lagi mendengar kalimat yang ia ucapkan di antara tangisnya.
Istri dan anak-anakku memang sampai di rumah, namun dalam keadaan yang tak pernah diinginkan oleh keluarga besar kami yang sudah menunggu. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku meminta untuk segera keluar dari rumah sakit dan diantar ke pemakaman istri dan anak-anakku, tapi tubuhku sendiri masih tak sanggup kugerakkan.
Hidup memang adalah perjalanan. Orang sepertiku sering dianggap melakukan perjalanan untuk hidup. Namun bagiku, awalnya aku hidup di dalam perjalanan. Lambat laun aku menjadi penonton setia drama perjalanan terjauh orang-orang. Kini, aku justru telah menjadi pengantar orang-orang melakukan perjalanan terjauhnya.
Aku masih menangis sejadi-jadinya. Segagal-gagalnya orang yang melakukan perjalanan adalah yang tak sampai di tempat tujuannya dan tak menemukan makna apapun dari kegagalannya. Namun bagiku, tak ada yang lebih gagal dari seorang pengantar kematian yang bahkan tak bisa mengantar keluarganya sendiri pulang menuju rumah paling jauh; liang sempit di tanah yang basah.
______________________________________
Sirine berbunyi kencang dari atas kepalaku dengan suaranya yang memekakkan, menyanyikan nada-nada yang selalu minor dan membawa duka atau paling tidak kekhawatiran. Di belakangku, air mata, keringat dan ketakutan beberapa orang mengiringi pejam seorang lainnya yang terbaring tak berdaya di depan mereka. Selalu seperti itu. Tak ada yang mampu memastikan apakah setiap perjalanan yang ada akan mengantar pada rumah sakit terdekat atau rumah berpulang terjauh, pada keselamatan dan kelegaan atau pada kehilangan dan kesedihan. Ketika sirine dinyalakan, satu perjalanan dilakukan, sejuta harapan diterbangkan, dan satu kehilangan akan meruntuhkan dan mendiamkan segalanya.
Kini aku benar-benar menjadi pengantar perjalanan orang menuju rumah terjauh mereka. Setelah beberapa saat sepi yang teramat sangat kukecap, kini duniaku ramai sekali. Di atas kepala sirine berbunyi, di belakang orang-orang ribut menangis. Begitu setiap waktu. Dan aku hanya akan mengemudi dengan senyum tersungging di belakang setir. Di dalam sebuah mobil ambulans, perjalanan menjadi benar-benar tak dapat ditebak akhirnya.
Hidup memang adalah perjalanan. Bagiku sekarang, aku masih melakukan perjalanan untuk hidup, menjemput manusia-manusia kritis di sana-sini agar aku bisa mendapat makan. Aku juga masih hidup di dalam perjalanan, menghabiskan sebagian besar waktu di dalam kotak putih bising yang sering sekali membangunkan trauma. Akupun masih menjadi penonton drama kematian, lakon orang-orang yang melakukan perjalanan terjauh ke rumah pertama, bahkan kini lebih sering kutonton, hampir setiap hari. Aku masih seorang supir, namun telah lebih pantas diberi gelar pengantar kematian dibandingkan dulu.
"Jika aku tak bisa mengantar keluargaku dalam perjalanan terjauhnya, aku akan menghabiskan hidupku mengantar semua orang lain." Gumamku.
"Hah? Kenapa, Pak?" Salah seorang keluarga korban kecelakaan yang duduk di sampingku menyahut mendengar gumamanku.
"Ah, tidak apa-apa." Lalu aku tersenyum lagi.
Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menangis di belakang, di samping anaknya yang terkapar bermandikan darah, tiba-tiba berteriak semakin kencang, meraung-raung tak terkendali. Anaknya berhenti bernapas. Mobil yang kukemudikan belum sampai di rumah sakit.
Satu lagi perjalanan terjauh yang kuantar. Aku tersenyum.
Selasa, 10 September 2013
Gadis Kecil Yang Tak Ingin Dewasa
Sore yang basah. Aku melarikan telapak-telapak kaki mungilku menuju rumah. Matahari tampak sudah sangat lelah dan ia berkata kepadaku bahwa ia akan segera pulang. Pengeras-pengeras suara di masjid-masjid membisikkanku suara yang rata-rata orang tak mampu dengar, bahwa aku harus segera pulang. Umurku baru saja menginjak 5 tahun dan matahari serta toa masjid begitu merepotkanku. Aku tak suka pulang. Aku baru saja bermain hujan dengan teman-temanku di dekat rumah dan aku tak mau berhenti meskipun hujan sudah berhenti setengah jam yang lalu.
Aku mendobrak pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Baju terusan biru muda yang dibelikan salah seorang tanteku sebagai oleh-oleh perjalanannya dari Hongkong beberapa bulan lalu berubah cokelat karena habis bermain lumpur. Lantai rumah kubuat licin oleh bekas kaki telanjangku yang lembab. Aku sudah bersiap dimarahi. Kutunggu suara mama terdengar dan meninggi. Aku memasang raut paling polos untuk menutupi kenakalanku karena telah membuatnya repot harus membersihkan kekacauan yang kubuat dan mengkhawatirkanku sepanjang sore.
Aku masih menanti suara mama untuk menyerangku dan juga pelukannya yang biasanya akan segera menyusul suara tingginya. Pelukan itu yang aku tunggu. Tak apa jika aku harus kena marah lebih dulu. Namun yang aku dengar lain. Aku memang mendengar suara mama, tapi bukan suara marah dengan nada yang meninggi, melainkan suara tangisan hebat.
Aku memasuki kamar mama, membuka pintunya pelan-pelan dan menemukannya sedang menutupi wajahnya sebisa mungkin dengan bantal di sofa pojok kamar dekat jendela. Aku merasa sedih. Aku tidak suka melihat perempuan menangis meskipun sebagai anak perempuan aku suka sekali merengek untuk hal-hal kecil. Tapi aku menangis hanya untuk mencari perhatian. Aku hanya anak kecil. Aku menangis karena aku melihat darah bercucuran dari permukaan lututku, bukan dari hatiku.
Aku sering sekali melihat mama menangis sejak aku lahir. Lima tahun yang lalu, ketika aku mendapat giliran untuk pindah tempat tinggal ke dunia di luar tubuh mama setelah jauh sebelumnya bersusah payah mengambil keputusan untuk bersedia ditempatkan di perutnya oleh Tuhan dan keluar dari surga, aku pikir hanya aku yang akan sering menangis. Ternyata aku salah. Mama adalah sainganku. Entah karena apa saja dia menangis. Dulu aku sering mendengar teriakan-teriakan penuh makian ketika tidur di dalam perut mama. Mungkin itu papa, aku tak tahu. Aku tak pernah tahu sebab aku tak pernah melihat wajahnya sama sekali.
Tadi aku melihat Om Kumis, begitu aku biasa memanggilnya, keluar dari rumah ketika aku sedang bermain hujan. Ia mengendarai mobilnya buru-buru. Ia sering datang meskipun tak setiap hari, dan sering ketika malam hari. Mungkin tadi ia mau buru-buru menjemput istrinya dari salon. Selain Om Kumis, aku punya banyak om lain yang sering mengunjungi mama pada waktu-waktu yang tidak jauh berbeda polanya dengan Om Kumis. Aku punya panggilan khusus masing-masing untuk mereka. Ada Om Kelingking yang suka mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku ketika berjalan bersama, ada Om Pak Raden yang suka mendongengiku, ada Om Lalala yang suka menyanyikanku lagu sebelum tidur, dan banyak lagi. Aku menceritakan tentang mereka semua kepada Baba, bonekaku yang baik hati dan mau menyimpan rahasia dari cerita-ceritaku. Sesering mereka mengunjungi mama, sesering itulah aku melihat mama menangis.
Aku marangkak naik ke atas sofa tempat mama duduk dengan gaunku yang masih basah dan penuh lumpur. Aku memeluknya. Aku tahu itu akan mengahangatkannya, meskipun secara teori aku justru membuatnya dingin. Ketika memeluknya, aku ingat teman di dekat rumahku. Mereka memang tak pernah memelukku, tapi aku merasa hangat ketika bermain bersama mereka. Meskipun bermain hujan sekalipun, aku tetap hangat. Mungkin karena mereka tak menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka. Mereka hanya anak kecil, sama seperti aku. Mereka tak mengenal kesedihan. Tidak seperti orang dewasa.
Aku tak mau dewasa. Aku pernah bercerita kepada Baba bahwa aku ingin cepat mati. Secepatnya selama aku masih kecil. Aku tak mau merasakan bagaimana menjadi dewasa. Aku mau mati ketika aku hanya punya luka di lutut, sebelum aku mengenal luka di dalam hati.
____________________________________________
Matahari terik sekali siang ini. Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu tapi aku tak ingin pulang. Di sini tempat dimana ada banyak anak kecil, maka di sini hangat. Teman-temanku sudah pulang semua tapi aku masih ingin bermain ayunan di bawah beringin belakang sekolah. Tempat itu pasti sejuk sekali di tengah hari seperti ini.
Aku berjalan sambil sesekali melompat-lompat ke belakang sekolah. Ternyata ada orang di bawah pohon. Aku mengenalinya sebagai Ibu Ria. Namanya memang bukan Ria, tapi ia selalu ceria di depan muridnya, maka sejak hari pertama aku bertemu dengannya, aku memanggilnya Ibu Ria. Awalnya ia sering menanyakan alasanku, namun aku biasanya hanya tertawa dan berlari darinya. Lalu ia hanya akan ikut tertawa dan lama kelamaan tak lagi mempermasalahkannya.
Ibu Ria memang selalu tampak ceria. Tapi ia sering sekali menangis dan hanya aku yang tahu. Aku memang satu-satunya anak yang suka tinggal di sekolah lebih lama setelah jam pulang sekolah. Rumahku dekat sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk harus pulang cepat. Aku bahkan biasa berjalan kaki sendiri karena sekolah hanya dua lorong dari rumahku di dalam satu kompleks perumahan yang sama. Oleh sebab itu, hanya aku yang tahu Ibu Ria sering sekali menangis. Ia hanya menangis setelah jam pulang sekolah. Aku tidak pernah mau tahu kenapa, karena aku memang tahu orang dewasa menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka masing-masing. Tapi minggu lalu aku tak sengaja mendengar bahwa tunangan Ibu Ria meninggal beberapa bulan yang lalu dalam kecelakaan lalu-lintas. Maka pemaklumanku terhadap orang dewasa yang suka menangis semakin kuat. Aku semakin tidak bertanya-tanya.
Aku berjalan mendekati Ibu Ria. Biasanya jika mendengar dia menangis, aku hanya memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini aku ingin memeluknya. Aku tahu hal itu akan menghangatkannya meskipun siang ini memang sudah sangat terik. Ia melihat kedatanganku dan menyambut tubuhku dengan tangan terbuka dan tangis yang semakin pecah. Di dalam pelukannya, aku menuliskan janji di dalam diriku sendiri bahwa aku akan mati selagi masih kecil, lalu perjanjian itu kutandatangani. Aku semakin yakin dengan keinginanku. Aku akan pulang ke surga, tempatku tinggal sebelum aku mengiyakan tawaran Tuhan untuk turun dan menempati isi perut mama. Di sana menyenangkan sekali.
____________________________________________
Sore ini aku mau bermain. Aku memilih melangkahkan telapak-telapak mungilku ke arah tempat pemakaman dekat rumah. Sama dengan sekolah, pemakaman masih di dalam satu kompleks. Mama tidak akan khawatir, tempatnya dekat dan di sana aku akan menemui kakek. Lagipula mama pasti sedang sibuk. Dia selalu sibuk. Kalau tidak menangis, pasti ia sibuk melukai dirinya sendiri untuk menangis lagi nantinya, dan terus-menerus berputar seperti itu.
Aku senang menemui kakek. Ia bisa diajak bercerita banyak. Ia teman bercerita yang baik bagiku selain Baba. Aku memetik bunga dan daun-daun di sepanjang perjalananku untuk ditaburi di atas makamnya. Setelah mengucapkan salam dan menaburkan potongan-potongan tumbuhan yang kupotong sendiri dengan kuku-kuku yang sering malas kupotong itu, aku duduk di dekat gundukan tanah yang menindihnya tidur di dalam sana. Aku mulai bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar tentang tangisan, orang-orang yang menangis, dan apa-apa yang membuat mereka menangis. Aku sadar, aku jarang bercerita tentang bahagia.
Tiba-tiba aku ingat tentang satu-satunya cerita bahagia yang aku miliki. Cerita itu tentang kakek dan nenek. Maka aku menceritakannya lagi kepada kakek, siapa tahu dia lupa, karena dia memang sudah tua dan meninggal dalam keadaan pikun akut. Meskipun begitu, nenek adalah hal yang paling jarang ia lupakan di antara setumpuk kebingungan-kebingungan yang ia alami setiap hari karena kepikunannya. Kakek tidak hanya selalu mampu mengingat nenek, tapi juga mengingat perasaan yang dirasakannya kepada nenek dengan sangat detail. Sosok nenek yang muncul di kepala dan bibirnya di antara sekian banyak hal yang selalu ia lupakan mampu membuatnya tersenyum. Ketika ia tersenyum, bukan hanya keriputnya yang tampak tertarik dan giginya yang tampak ompong, tapi nenek juga ikut tampak di dalam matanya.
Nenek sudah meninggal lebih dulu sebelum kakek. Kakek sempat sangat bersedih, tapi tidak lama. Mungkin setelah itu dia lupa, karena dia memang sudah pikun. Lalu ia akan teringat lagi, dan tersenyum lagi, lalu lupa lagi. Begitu seterusnya. Ia pernah bercerita kepadaku di suatu sore yang mendung bahwa ia akan segera menyusul nenek. Matanya bersinar begitu bahagia ketika mengatakannya.
Aku tak punya cerita bahagia lain selain cerita kakek dan nenek. Maka aku pikir, menyusul kakek mungkin adalah suatu keputusan yang sangat baik dan membahagiakan. Lagipula, aku akan sangat senang bisa bertemu dengan kakek, sama dengan kakek dulu sangat senang jika bisa menyusul nenek.
_______________________________________________
Pagi ini aku mau bermain di rumah sakit. Kali ini aku tidak sendirian karena rumah sakit terletak jauh dari rumah. Aku pergi bersama mama. Aku tidak menggenggam tangannya, melainkan hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Sesungguhnya aku tak sabar. Aku suka berjalan sambil sesekali berlari dan melompat-lompat. Hal itu menyenangkan. Tapi mama berjalan sangat lambat dan aku hanya bisa mengikuti dari belakang. Langkahnya lunglai, sorot matanya redup dan lelah. Atau mungkin malah sedih.
Aku sampai di rumah sakit dan memasuki salah satu kamar rawat inap. Aku mulai melompat-lompat dan berlari-larian. Aku bermain dengan apa saja yang bisa aku mainkan di dalam kamar itu. Kamar itu ramai, ada beberapa keluargaku yang datang, tapi mereka semua tidak ada yang mempermasalahkanku.
Akhirnya aku kelelahan. Aku duduk di sofa dekat tempat tidur pasien. Aku hanya terdiam menatap diriku sendiri di atas kasur di depanku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tahu lagi harus bermain dengan apa. Orang-orang di dalam ruangan itu tak ada yang melihatku. Mereka sibuk mendengarkan suster yang datang melaporkan keadaanku. Katanya aku sudah tidak sadarkan diri di tengah koma selama 4 hari. Katanya lagi, aku mengidap penyakit hati. Ada luka di dalam hatiku. Luka itu bahkan mengakibatkan pendarahan di dalam hati. Penyakit yang aneh, kupikir.
Kemarin sebelum suster yang ini datang, dokter sempat mengatakan bahwa penyebab luka di dalam hatiku adalah cacing parasit yang memakan organ dalam tubuh. Itu penemuan baru di dunia kesehatan. Diam-diam aku merasa bangga. Aku merasa seperti ilmuan atau astronot atau orang-orang lain yang dekat dengan kata penemuan. Hal itu aku dengar dari Ibu Ria di sekolah dan dari dongeng-dongeng yang diceritakan Om Pak Raden. Aku membanyangkan diriku menjadi kayu lapuk di gudang halaman belakang rumah. Lalu cacing itu adalah rayap-rayap yang akan menghabiskanku.
Aku masih menatap tubuhku sendiri terbaring di depanku. Orang-orang di dalam kamar tak ada yang bisa melihatku. Aku masih lelah dan malas untuk bergerak. Pelan-pelan aku tersenyum. Aku berhasil. Aku akan mati ketika aku hanya mengenal luka di lutut. Aku akan segera menemui kakek dan berbahagia melihatnya sedang berbahagia dengan nenek.
Lama-kelamaan mataku tertutup. Aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Di depanku, tubuhku menghentikan detak jantungnya. Mungkin karena hatiku sudah habis dimakan cacing dan ia mulai menuju jantungku. Suara datar dan panjang dari monitor yang di layarnya menampilkan sebuah garis lurus terdengar memekakkan telinga. Tangis mama pecah, tangis paling menyedihkan yang pernah aku dengar dalam kebosananku mendengar tangisnya. Tapi aku semakin terlelap sembari tersenyum.
Aku mendobrak pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Baju terusan biru muda yang dibelikan salah seorang tanteku sebagai oleh-oleh perjalanannya dari Hongkong beberapa bulan lalu berubah cokelat karena habis bermain lumpur. Lantai rumah kubuat licin oleh bekas kaki telanjangku yang lembab. Aku sudah bersiap dimarahi. Kutunggu suara mama terdengar dan meninggi. Aku memasang raut paling polos untuk menutupi kenakalanku karena telah membuatnya repot harus membersihkan kekacauan yang kubuat dan mengkhawatirkanku sepanjang sore.
Aku masih menanti suara mama untuk menyerangku dan juga pelukannya yang biasanya akan segera menyusul suara tingginya. Pelukan itu yang aku tunggu. Tak apa jika aku harus kena marah lebih dulu. Namun yang aku dengar lain. Aku memang mendengar suara mama, tapi bukan suara marah dengan nada yang meninggi, melainkan suara tangisan hebat.
Aku memasuki kamar mama, membuka pintunya pelan-pelan dan menemukannya sedang menutupi wajahnya sebisa mungkin dengan bantal di sofa pojok kamar dekat jendela. Aku merasa sedih. Aku tidak suka melihat perempuan menangis meskipun sebagai anak perempuan aku suka sekali merengek untuk hal-hal kecil. Tapi aku menangis hanya untuk mencari perhatian. Aku hanya anak kecil. Aku menangis karena aku melihat darah bercucuran dari permukaan lututku, bukan dari hatiku.
Aku sering sekali melihat mama menangis sejak aku lahir. Lima tahun yang lalu, ketika aku mendapat giliran untuk pindah tempat tinggal ke dunia di luar tubuh mama setelah jauh sebelumnya bersusah payah mengambil keputusan untuk bersedia ditempatkan di perutnya oleh Tuhan dan keluar dari surga, aku pikir hanya aku yang akan sering menangis. Ternyata aku salah. Mama adalah sainganku. Entah karena apa saja dia menangis. Dulu aku sering mendengar teriakan-teriakan penuh makian ketika tidur di dalam perut mama. Mungkin itu papa, aku tak tahu. Aku tak pernah tahu sebab aku tak pernah melihat wajahnya sama sekali.
Tadi aku melihat Om Kumis, begitu aku biasa memanggilnya, keluar dari rumah ketika aku sedang bermain hujan. Ia mengendarai mobilnya buru-buru. Ia sering datang meskipun tak setiap hari, dan sering ketika malam hari. Mungkin tadi ia mau buru-buru menjemput istrinya dari salon. Selain Om Kumis, aku punya banyak om lain yang sering mengunjungi mama pada waktu-waktu yang tidak jauh berbeda polanya dengan Om Kumis. Aku punya panggilan khusus masing-masing untuk mereka. Ada Om Kelingking yang suka mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku ketika berjalan bersama, ada Om Pak Raden yang suka mendongengiku, ada Om Lalala yang suka menyanyikanku lagu sebelum tidur, dan banyak lagi. Aku menceritakan tentang mereka semua kepada Baba, bonekaku yang baik hati dan mau menyimpan rahasia dari cerita-ceritaku. Sesering mereka mengunjungi mama, sesering itulah aku melihat mama menangis.
Aku marangkak naik ke atas sofa tempat mama duduk dengan gaunku yang masih basah dan penuh lumpur. Aku memeluknya. Aku tahu itu akan mengahangatkannya, meskipun secara teori aku justru membuatnya dingin. Ketika memeluknya, aku ingat teman di dekat rumahku. Mereka memang tak pernah memelukku, tapi aku merasa hangat ketika bermain bersama mereka. Meskipun bermain hujan sekalipun, aku tetap hangat. Mungkin karena mereka tak menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka. Mereka hanya anak kecil, sama seperti aku. Mereka tak mengenal kesedihan. Tidak seperti orang dewasa.
Aku tak mau dewasa. Aku pernah bercerita kepada Baba bahwa aku ingin cepat mati. Secepatnya selama aku masih kecil. Aku tak mau merasakan bagaimana menjadi dewasa. Aku mau mati ketika aku hanya punya luka di lutut, sebelum aku mengenal luka di dalam hati.
____________________________________________
Matahari terik sekali siang ini. Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu tapi aku tak ingin pulang. Di sini tempat dimana ada banyak anak kecil, maka di sini hangat. Teman-temanku sudah pulang semua tapi aku masih ingin bermain ayunan di bawah beringin belakang sekolah. Tempat itu pasti sejuk sekali di tengah hari seperti ini.
Aku berjalan sambil sesekali melompat-lompat ke belakang sekolah. Ternyata ada orang di bawah pohon. Aku mengenalinya sebagai Ibu Ria. Namanya memang bukan Ria, tapi ia selalu ceria di depan muridnya, maka sejak hari pertama aku bertemu dengannya, aku memanggilnya Ibu Ria. Awalnya ia sering menanyakan alasanku, namun aku biasanya hanya tertawa dan berlari darinya. Lalu ia hanya akan ikut tertawa dan lama kelamaan tak lagi mempermasalahkannya.
Ibu Ria memang selalu tampak ceria. Tapi ia sering sekali menangis dan hanya aku yang tahu. Aku memang satu-satunya anak yang suka tinggal di sekolah lebih lama setelah jam pulang sekolah. Rumahku dekat sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk harus pulang cepat. Aku bahkan biasa berjalan kaki sendiri karena sekolah hanya dua lorong dari rumahku di dalam satu kompleks perumahan yang sama. Oleh sebab itu, hanya aku yang tahu Ibu Ria sering sekali menangis. Ia hanya menangis setelah jam pulang sekolah. Aku tidak pernah mau tahu kenapa, karena aku memang tahu orang dewasa menyimpan mendung di dalam kepala dan hati mereka masing-masing. Tapi minggu lalu aku tak sengaja mendengar bahwa tunangan Ibu Ria meninggal beberapa bulan yang lalu dalam kecelakaan lalu-lintas. Maka pemaklumanku terhadap orang dewasa yang suka menangis semakin kuat. Aku semakin tidak bertanya-tanya.
Aku berjalan mendekati Ibu Ria. Biasanya jika mendengar dia menangis, aku hanya memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini aku ingin memeluknya. Aku tahu hal itu akan menghangatkannya meskipun siang ini memang sudah sangat terik. Ia melihat kedatanganku dan menyambut tubuhku dengan tangan terbuka dan tangis yang semakin pecah. Di dalam pelukannya, aku menuliskan janji di dalam diriku sendiri bahwa aku akan mati selagi masih kecil, lalu perjanjian itu kutandatangani. Aku semakin yakin dengan keinginanku. Aku akan pulang ke surga, tempatku tinggal sebelum aku mengiyakan tawaran Tuhan untuk turun dan menempati isi perut mama. Di sana menyenangkan sekali.
____________________________________________
Sore ini aku mau bermain. Aku memilih melangkahkan telapak-telapak mungilku ke arah tempat pemakaman dekat rumah. Sama dengan sekolah, pemakaman masih di dalam satu kompleks. Mama tidak akan khawatir, tempatnya dekat dan di sana aku akan menemui kakek. Lagipula mama pasti sedang sibuk. Dia selalu sibuk. Kalau tidak menangis, pasti ia sibuk melukai dirinya sendiri untuk menangis lagi nantinya, dan terus-menerus berputar seperti itu.
Aku senang menemui kakek. Ia bisa diajak bercerita banyak. Ia teman bercerita yang baik bagiku selain Baba. Aku memetik bunga dan daun-daun di sepanjang perjalananku untuk ditaburi di atas makamnya. Setelah mengucapkan salam dan menaburkan potongan-potongan tumbuhan yang kupotong sendiri dengan kuku-kuku yang sering malas kupotong itu, aku duduk di dekat gundukan tanah yang menindihnya tidur di dalam sana. Aku mulai bercerita tentang banyak hal. Sebagian besar tentang tangisan, orang-orang yang menangis, dan apa-apa yang membuat mereka menangis. Aku sadar, aku jarang bercerita tentang bahagia.
Tiba-tiba aku ingat tentang satu-satunya cerita bahagia yang aku miliki. Cerita itu tentang kakek dan nenek. Maka aku menceritakannya lagi kepada kakek, siapa tahu dia lupa, karena dia memang sudah tua dan meninggal dalam keadaan pikun akut. Meskipun begitu, nenek adalah hal yang paling jarang ia lupakan di antara setumpuk kebingungan-kebingungan yang ia alami setiap hari karena kepikunannya. Kakek tidak hanya selalu mampu mengingat nenek, tapi juga mengingat perasaan yang dirasakannya kepada nenek dengan sangat detail. Sosok nenek yang muncul di kepala dan bibirnya di antara sekian banyak hal yang selalu ia lupakan mampu membuatnya tersenyum. Ketika ia tersenyum, bukan hanya keriputnya yang tampak tertarik dan giginya yang tampak ompong, tapi nenek juga ikut tampak di dalam matanya.
Nenek sudah meninggal lebih dulu sebelum kakek. Kakek sempat sangat bersedih, tapi tidak lama. Mungkin setelah itu dia lupa, karena dia memang sudah pikun. Lalu ia akan teringat lagi, dan tersenyum lagi, lalu lupa lagi. Begitu seterusnya. Ia pernah bercerita kepadaku di suatu sore yang mendung bahwa ia akan segera menyusul nenek. Matanya bersinar begitu bahagia ketika mengatakannya.
Aku tak punya cerita bahagia lain selain cerita kakek dan nenek. Maka aku pikir, menyusul kakek mungkin adalah suatu keputusan yang sangat baik dan membahagiakan. Lagipula, aku akan sangat senang bisa bertemu dengan kakek, sama dengan kakek dulu sangat senang jika bisa menyusul nenek.
_______________________________________________
Pagi ini aku mau bermain di rumah sakit. Kali ini aku tidak sendirian karena rumah sakit terletak jauh dari rumah. Aku pergi bersama mama. Aku tidak menggenggam tangannya, melainkan hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Sesungguhnya aku tak sabar. Aku suka berjalan sambil sesekali berlari dan melompat-lompat. Hal itu menyenangkan. Tapi mama berjalan sangat lambat dan aku hanya bisa mengikuti dari belakang. Langkahnya lunglai, sorot matanya redup dan lelah. Atau mungkin malah sedih.
Aku sampai di rumah sakit dan memasuki salah satu kamar rawat inap. Aku mulai melompat-lompat dan berlari-larian. Aku bermain dengan apa saja yang bisa aku mainkan di dalam kamar itu. Kamar itu ramai, ada beberapa keluargaku yang datang, tapi mereka semua tidak ada yang mempermasalahkanku.
Akhirnya aku kelelahan. Aku duduk di sofa dekat tempat tidur pasien. Aku hanya terdiam menatap diriku sendiri di atas kasur di depanku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak tahu lagi harus bermain dengan apa. Orang-orang di dalam ruangan itu tak ada yang melihatku. Mereka sibuk mendengarkan suster yang datang melaporkan keadaanku. Katanya aku sudah tidak sadarkan diri di tengah koma selama 4 hari. Katanya lagi, aku mengidap penyakit hati. Ada luka di dalam hatiku. Luka itu bahkan mengakibatkan pendarahan di dalam hati. Penyakit yang aneh, kupikir.
Kemarin sebelum suster yang ini datang, dokter sempat mengatakan bahwa penyebab luka di dalam hatiku adalah cacing parasit yang memakan organ dalam tubuh. Itu penemuan baru di dunia kesehatan. Diam-diam aku merasa bangga. Aku merasa seperti ilmuan atau astronot atau orang-orang lain yang dekat dengan kata penemuan. Hal itu aku dengar dari Ibu Ria di sekolah dan dari dongeng-dongeng yang diceritakan Om Pak Raden. Aku membanyangkan diriku menjadi kayu lapuk di gudang halaman belakang rumah. Lalu cacing itu adalah rayap-rayap yang akan menghabiskanku.
Aku masih menatap tubuhku sendiri terbaring di depanku. Orang-orang di dalam kamar tak ada yang bisa melihatku. Aku masih lelah dan malas untuk bergerak. Pelan-pelan aku tersenyum. Aku berhasil. Aku akan mati ketika aku hanya mengenal luka di lutut. Aku akan segera menemui kakek dan berbahagia melihatnya sedang berbahagia dengan nenek.
Lama-kelamaan mataku tertutup. Aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Di depanku, tubuhku menghentikan detak jantungnya. Mungkin karena hatiku sudah habis dimakan cacing dan ia mulai menuju jantungku. Suara datar dan panjang dari monitor yang di layarnya menampilkan sebuah garis lurus terdengar memekakkan telinga. Tangis mama pecah, tangis paling menyedihkan yang pernah aku dengar dalam kebosananku mendengar tangisnya. Tapi aku semakin terlelap sembari tersenyum.
Selasa, 02 Juli 2013
Rel Kabut Dan Gerbong Air Mata
Aku sampai pada satu keputusan besar di dalam hidupku. Aku akan pulang. Ini adalah keputusan besar yang pilihan iya atau tidaknya telah bertarung di dalam diriku selama sekitar sepuluh tahun belakangan. Ini keputusan yang seakan tidak menyediakan bagiku satu pilihanpun, karena bagiku yang ada hanyalah kosong selama belasan tahun. Bagiku, keputusan ini adalah hasil dari usaha kasat mataku selama belasan tahun untuk menyembuhkan traumaku.
Selembar tiket kereta api sudah ada di tanganku sejak seminggu yang lalu. Hari ini aku akan berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Malang. Aku akan pulang. Melakukan rekonstruksi atas definisi rumah bagiku, karena selama belasan tahun belakangan ini, kota tempat lahirku itu hanyalah sebuah nama yang tertera di buku pengetahuan sosial dan tak ada satupun isi informasi lain yang aku miliki tentangnya. Aku memang sengaja melupakannya. Aku menghapus semua hal tentang kota itu dan menolak ingin tahu tentang apapun yang berhubungan dengannya. Aku telah melakukannya sejak kecil. Aku melakukan aksi represi hebat untuk segala informasi tentang kota yang pernah ditempati oleh rumah dan keluarga kecil bahagiaku. Aku terlalu kecil untuk membedakan kenangan dan informasi, tapi aku telah terlanjur jauh melakukannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini. Sudah lama sekali sejak aku menganggap kota itu tidak ada.
Aku memilih keberangkatan jam 9 malam agar aku bisa tiba kira-kira pukul 4 dini hari. Aku tidak mau mengamati apapun di luar jendela, biar hanya hitam dan aku tak punya pilihan. Aku akan membiarkan diriku fokus lebih dalam pada suara-suara yang sesungguhnya membuatku merasa sedang menyayat nadiku sendiri. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya. Suara-suara yang menganyam potongan-potongan memori paling menyakitkan yang pernah kuketahui.
Ini kali pertama aku akan naik kereta lagi setelah belasan tahun yang lalu. Rangkaian kotak-kotak besi itu mengerikan. Bau karatnya selalu mampu menakutiku dan membuatku terbangun penuh peluh oleh mimpi buruk yang bahkan hanya terjadi karena aku membayangkannya, tanpa benar-benar menaiki atau mendekatinya. Keputusan ini memang terlalu besar. Memberanikan diri menaiki alat transportasi paling mengerikan dan menuju tempat paling menyakitkan sekaligus dalam sebuah keputusan adalah hal yang terlalu besar. Semoga aku mampu menahan bebannya.
"Nggak ada yang ketinggalan kan? Kamu hati-hati, ya."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan. Aku diantar oleh Rora, kekasihku, dan kalimat kedua dari mulutnya tadi yang berupa pernyataan, sudah dua puluh sembilan kali ia ucapkan sejak aku memberitahukan rencana keberangkatanku tiga hari yang lalu kepadanya. Mungkin hanya kekhawatiran yang berlebihan akan pikiran-pikiran wanitanya. Kali ini, ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk menanyakan berkali-kali keadaanku dan memberi nasehat ini-itu daripada berdandan.
.....
Ketika itu aku hanya anak lelaki berusia 8 tahun. Aku masih tidak cukup mau mengerti tentang mengapa orang tuaku ingin aku pindah sekolah ke Yogyakarta. Segala sesuatu diatur sedemikian rupa, aku akan tinggal bersama pakdhe dan budhe-ku di sana. Katanya aku hanya akan sebentar di Yogya, meskipun tak ada satu orangpun yang berhasil menyampaikan kepadaku tepatnya berapa lama waktu yang akan aku habiskan di sana dan jauh dari rumah serta orang tuaku. Sampai sekarang aku masih tidak paham apa alasan sesungguhnya mereka ingin aku meninggalkan Malang.
Aku hanya mampu mengingat beberapa hal. Ketika itu budhe-ku datang dari Yogya ke Malang untuk menjemputku. Sudah dua hari dia ada di rumahku sebelum pada suatu pagi aku dibawa ke stasiun dengan banyak sekali tas yang aku tidak tahu kapan dan oleh siapa mereka disiapkan. Kereta pagi itu datang dan aku beserta budhe-ku naik ke salah satu gerbongnya. Ayah dan ibuku hanya sempat sebentar memeluk dan menciumku tanpa ada air mata setetespun atau raut muka sedih sedikitpun yang tampak dari wajah mereka. Semuanya biasa saja. Kasih sayang melimpah dari mereka yang setiap hari aku rasakan, masih sama terasa pada pagi hari itu. Tak ada yang aneh.
Aku melambai-lambaikan tangan dari jendela di dalam gerbong kereta. Lambaian itu dibalas hangat oleh orang tuaku. Aku tersenyum. Budhe duduk di sampingku. Katanya, kereta akan sampai di Yogya jam 4 sore. Aku harus bersabar di dalam kereta. Ia juga bilang bahwa aku akan masuk sekolah yang lebih bagus di sana. Ayah dan ibuku akan segera menyusulku. Aku hanya mengangguk-ngangguk mendengarnya.
Tidak sampai tiga jam jam berlalu di dalam kereta, budhe mulai menangis di sampingku. Aku tidak benar-benar tahu mengapa. Sejak kereta mulai bergerak, aku hanya menatap pemandangan alam di luar jendela sambil terkantuk-kantuk. Aku bahkan bisa tidak sadar kalau budhe sempat beranjak dari duduknya di sampingku. Ia langsung memelukku erat dan dengan histeris yang agak ditahan secara paksa, ia membisikkan padaku sesuatu yang membuat isi kepalaku seperti dikeluarkan dari tempatnya beberapa saat sampai aku tidak mampu melakukan apapun.
"Orang tuamu meninggal, Nak. Mereka kecelakaan sepulang dari stasiun untuk mengantarmu barusan."
Tangisnya pecah lagi. Aku hanya melotot dan menganga. Aku tidak mampu memikirkan apapun. Aku hanya merasa seakan organ-organ dalamku tercabut keluar dari rongganya tiba-tiba, dan aku hanyalah rangka tanpa isi sama sekali. Aku melanjutkan kegiatanku memperhatikan pemandangan alam di luar jendela, namun yang terlihat di benakku hanya gambar mobil yang tertabrak oleh mobil lainnya, terbalik, lalu banyak darah yang keluar dari tubuh-tubuh yang ada di dalam mobil itu. Aku tetap diam. Air mataku jatuh beberapa tetes, tapi berhenti setelah itu sampai belasan tahun kemudian.
Kami melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selama sisa waktu perjalanan itu, hanya nyeri hebat yang terasa di ulu hatiku. Aku merasa sedih sekali, tapi tak ada yang kulakukan, tidak menangis sekalipun. Aku juga tidak bicara sampai beberapa hari. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya benar-benar menusuk telingaku dan semakin membuat nyeri ulu hatiku. Aku muntah dan semakin jijik melihat keadaan di dalam gerbong. Meskipun sesungguhnya semuanya normal, gerbong ini terlihat sebagai neraka bagiku.
Malam harinya, budhe dan pakdhe-ku kembali menuju Malang. Aku masih diam di atas tempat tidur sejak tiba di rumah mereka di Yogya. Tatapan mataku kosong. Aku tidak mau ikut ke Malang. Aku tidak mau apapun. Aku tidak mau melakukan apapun, aku tidak mau memikirkan apapun. Akhirnya aku ditinggal di rumah mereka bersama seorang pembantu karena aku meronta hebat ketika dipaksa ikut.
Aku tidak mau lagi menginjak Malang dan menemukan bangunan yang sudah tidak bisa lagi kusebut rumah, sembari mengingat tawa dan peluk dari ayah dan ibuku yang tak akan pernah ada lagi di sepanjang perjalanan sudut manapun kota itu. Aku akan menganggap kota itu tidak ada sama sekali dan aku tidak akan pulang. Aku juga tidak akan lagi naik kereta, mencium bau besi berkarat lalu muntah karena membayangkan darah yang mengalir dari dalam mobil yang terbalik membuat ulu hatiku sakit. Aku bertahan melakukannya sampai aku dewasa.
.....
Sudah pukul 11 malam. Sudah sekitar 2 jam aku duduk manis di dalam kereta. Hanya dudukku yang manis, perasaanku pahit bukan main. Kali pertama aku memaksa diri naik kereta setelah pergulatan batin dengan pengalaman traumatis yang telah aku lakukan belasan tahun belakangan ini, ternyata terlalu berat. Bayangan tentang kenangan di kota yang aku tujupun tak terasa manis sama sekali. Rangkaian memori manis telah dibusukkan kehilangan sampai menjelma pahit.
Sejak kepindahanku ke Yogya dan sekaligus sejak kematian ayah dan ibuku, aku tinggal dengan pakdhe dan budhe-ku. Mereka menyekolahkanku dan memenuhi segala kebutuhan hidupku, dibantu dengan tabungan peninggalan orang tuaku sampai sekarang, ketika aku sudah lulus perguruan tinggi dan mulai bekerja. Tapi tak apa, kali ini tekadku bulat. Aku memang mau pulang. Aku hanya tinggal berharap bahwa definisi pulang yang berani aku beri pada perjalananku kali ini tidak salah.
Ruang dalam gerbong cukup dingin. Baru saja Rora menelepon dan mengulangi pernyataan yang sama lagi agar aku berhati-hati. Dia terdengar sangat khawatir, entah apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakannya.
"Semalam aku mimpi buruk." Katanya.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi, aku menangis sejadi-jadinya di kamar karena kamu pergi. Aku hanya ingat itu. Aku menangis sampai air mataku menggenang semata kaki, dan aku terus saja menangis."
"Sudahlah. Kamu hanya terlalu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."
.....
Waktu menunjukkan pukul dua malam. Sekitar dua jam lagi aku akan sampai. Udara di dalam gerbong kereta semakin dingin. Udara dingin ini menyerang mulai sekitar satu jam yang lalu. Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Jaket itu sudah merupakan lapisan pakaian keempat yang kupakai jika kaos dan baju hangat sebagai dua lapisan paling dalam turut dihitung. Wujud hembusan napasku semakin tampak jelas seperti asap rokok di dalam ruangan yang dingin ini. Aku seperti ada di dalam sekotak lemari es.
Orang-orang di sekitarku di dalam gerbong yang sama tertidur. Semuanya tertidur. Wajah mereka tampak tenang, seolah tak ada mimpi yang mereka lihat dan membuat raut wajah mereka tampak berbeda-beda. Anak-anak kecil lelap di pelukan orang tuanya. Tak ada tangisan atau rewelan sama sekali. Tak ada juga satupun remaja-remaja yang terjaga dan berbagi cerita cinta mereka yang sedang merekah ataupun layu. Seorang pria dengan ransel besar, celana pendek dan sendal gunung yang tampak sering bepergianpun lenyap dalam lelapnya. Ia tidak sedang berkutat dengan pena dan buku catatan untuk menceritakan perjalanannya. Petugas kereta yang biasanya bolak-balik menawarkan pinjaman bantal tidak lewat sama sekali. Tak ada suara di dalam ruangan ini. Ruangan ini begitu sepi. Sunyi. Senyap.
Sedikit demi sedikit ada yang berubah dengan perasaanku. Perasaan-perasaan pahit dan menyakitkan yang kurasakan sejak aku memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang ini, dan menguat sejak aku naik kereta, tidak lagi terasa. Hatiku perlahan-lahan damai. Tidak ada lagi sedikitpun beban yang terasa menumpang di bahuku. Kepalaku ringan dan aku mampu berpikir dengan jernih. Anehnya, dinginnya ruangan ini tidak menggangguku sama sekali. Ada yang terasa hangat di dalam rongga dadaku. Aku merasa bahagia. Aku merasa aku tak salah mendefinisikan perjalanan ini sebagai pulang, meskipun sebelumnya aku sangat tidak yakin rumah masa kecilku di Malang bisa membuatku merasa pulang tanpa adanya pelukan ayah dan ibuku.
Di luar jendela, hitam yang daritadi pekat dan menjadi satu-satunya pemandangan mulai berubah warna menjadi kelabu. Ada cahaya yang perlahan-lahan menyala dan menyibakkan gelap. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Cahaya itu perlahan-lahan semakin terang dan menyilaukan. Kelabu di luar jendela berubah menjadi putih bersih. Tiba-tiba dari sela pintu-pintu pembatas gerbong, ada air yang mulai masuk. Entah dari mana air itu berasal sedangkan di luar tidak hujan. Air itu terus masuk memenuhi gerbong sampai menggenang semata kaki. Aku menyelupkan jariku ke dalamnya dan mencicipinya. Rasanya asin, seperti air mata.
Kereta ini seperti sedang melintas membelah kabut. Kabut yang dingin dan padat sehingga menyerupai awan. Kereta ini seperti sedang terbang di langit tanpa biru, yang ada hanya kabut putih tebal yang menyilaukan. Orang-orang di dalam gerbong masih saja pulas tak terganggu oleh apapun dengan raut-raut wajah damai. Rongga dadaku semakin hangat. Aku merasa sangat bahagia. Aku menyunggingkan senyum lebar dengan perasaan sangat lega. Aku merasa benar-benar pulang.
Laju kereta melambat. Kereta itu akhirnya berhenti di sebuah stasiun yang semua catnya berwarna putih. Banyak orang ramai menunggu di luar, mungkin ingin menjemput kerabatnya. Mereka semua mengenakan baju berwarna putih. Kereta akhirnya benar-benar berhenti. Dari jendela aku melihat ayah dan ibuku sedang menunggu dengan pakaian yang juga putih. Tangan mereka terbentang di antara senyum hangat, menanti memelukku.
Akhirnya aku benar-benar pulang.
Selembar tiket kereta api sudah ada di tanganku sejak seminggu yang lalu. Hari ini aku akan berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Malang. Aku akan pulang. Melakukan rekonstruksi atas definisi rumah bagiku, karena selama belasan tahun belakangan ini, kota tempat lahirku itu hanyalah sebuah nama yang tertera di buku pengetahuan sosial dan tak ada satupun isi informasi lain yang aku miliki tentangnya. Aku memang sengaja melupakannya. Aku menghapus semua hal tentang kota itu dan menolak ingin tahu tentang apapun yang berhubungan dengannya. Aku telah melakukannya sejak kecil. Aku melakukan aksi represi hebat untuk segala informasi tentang kota yang pernah ditempati oleh rumah dan keluarga kecil bahagiaku. Aku terlalu kecil untuk membedakan kenangan dan informasi, tapi aku telah terlanjur jauh melakukannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini. Sudah lama sekali sejak aku menganggap kota itu tidak ada.
Aku memilih keberangkatan jam 9 malam agar aku bisa tiba kira-kira pukul 4 dini hari. Aku tidak mau mengamati apapun di luar jendela, biar hanya hitam dan aku tak punya pilihan. Aku akan membiarkan diriku fokus lebih dalam pada suara-suara yang sesungguhnya membuatku merasa sedang menyayat nadiku sendiri. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya. Suara-suara yang menganyam potongan-potongan memori paling menyakitkan yang pernah kuketahui.
Ini kali pertama aku akan naik kereta lagi setelah belasan tahun yang lalu. Rangkaian kotak-kotak besi itu mengerikan. Bau karatnya selalu mampu menakutiku dan membuatku terbangun penuh peluh oleh mimpi buruk yang bahkan hanya terjadi karena aku membayangkannya, tanpa benar-benar menaiki atau mendekatinya. Keputusan ini memang terlalu besar. Memberanikan diri menaiki alat transportasi paling mengerikan dan menuju tempat paling menyakitkan sekaligus dalam sebuah keputusan adalah hal yang terlalu besar. Semoga aku mampu menahan bebannya.
"Nggak ada yang ketinggalan kan? Kamu hati-hati, ya."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan. Aku diantar oleh Rora, kekasihku, dan kalimat kedua dari mulutnya tadi yang berupa pernyataan, sudah dua puluh sembilan kali ia ucapkan sejak aku memberitahukan rencana keberangkatanku tiga hari yang lalu kepadanya. Mungkin hanya kekhawatiran yang berlebihan akan pikiran-pikiran wanitanya. Kali ini, ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk menanyakan berkali-kali keadaanku dan memberi nasehat ini-itu daripada berdandan.
.....
Ketika itu aku hanya anak lelaki berusia 8 tahun. Aku masih tidak cukup mau mengerti tentang mengapa orang tuaku ingin aku pindah sekolah ke Yogyakarta. Segala sesuatu diatur sedemikian rupa, aku akan tinggal bersama pakdhe dan budhe-ku di sana. Katanya aku hanya akan sebentar di Yogya, meskipun tak ada satu orangpun yang berhasil menyampaikan kepadaku tepatnya berapa lama waktu yang akan aku habiskan di sana dan jauh dari rumah serta orang tuaku. Sampai sekarang aku masih tidak paham apa alasan sesungguhnya mereka ingin aku meninggalkan Malang.
Aku hanya mampu mengingat beberapa hal. Ketika itu budhe-ku datang dari Yogya ke Malang untuk menjemputku. Sudah dua hari dia ada di rumahku sebelum pada suatu pagi aku dibawa ke stasiun dengan banyak sekali tas yang aku tidak tahu kapan dan oleh siapa mereka disiapkan. Kereta pagi itu datang dan aku beserta budhe-ku naik ke salah satu gerbongnya. Ayah dan ibuku hanya sempat sebentar memeluk dan menciumku tanpa ada air mata setetespun atau raut muka sedih sedikitpun yang tampak dari wajah mereka. Semuanya biasa saja. Kasih sayang melimpah dari mereka yang setiap hari aku rasakan, masih sama terasa pada pagi hari itu. Tak ada yang aneh.
Aku melambai-lambaikan tangan dari jendela di dalam gerbong kereta. Lambaian itu dibalas hangat oleh orang tuaku. Aku tersenyum. Budhe duduk di sampingku. Katanya, kereta akan sampai di Yogya jam 4 sore. Aku harus bersabar di dalam kereta. Ia juga bilang bahwa aku akan masuk sekolah yang lebih bagus di sana. Ayah dan ibuku akan segera menyusulku. Aku hanya mengangguk-ngangguk mendengarnya.
Tidak sampai tiga jam jam berlalu di dalam kereta, budhe mulai menangis di sampingku. Aku tidak benar-benar tahu mengapa. Sejak kereta mulai bergerak, aku hanya menatap pemandangan alam di luar jendela sambil terkantuk-kantuk. Aku bahkan bisa tidak sadar kalau budhe sempat beranjak dari duduknya di sampingku. Ia langsung memelukku erat dan dengan histeris yang agak ditahan secara paksa, ia membisikkan padaku sesuatu yang membuat isi kepalaku seperti dikeluarkan dari tempatnya beberapa saat sampai aku tidak mampu melakukan apapun.
"Orang tuamu meninggal, Nak. Mereka kecelakaan sepulang dari stasiun untuk mengantarmu barusan."
Tangisnya pecah lagi. Aku hanya melotot dan menganga. Aku tidak mampu memikirkan apapun. Aku hanya merasa seakan organ-organ dalamku tercabut keluar dari rongganya tiba-tiba, dan aku hanyalah rangka tanpa isi sama sekali. Aku melanjutkan kegiatanku memperhatikan pemandangan alam di luar jendela, namun yang terlihat di benakku hanya gambar mobil yang tertabrak oleh mobil lainnya, terbalik, lalu banyak darah yang keluar dari tubuh-tubuh yang ada di dalam mobil itu. Aku tetap diam. Air mataku jatuh beberapa tetes, tapi berhenti setelah itu sampai belasan tahun kemudian.
Kami melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selama sisa waktu perjalanan itu, hanya nyeri hebat yang terasa di ulu hatiku. Aku merasa sedih sekali, tapi tak ada yang kulakukan, tidak menangis sekalipun. Aku juga tidak bicara sampai beberapa hari. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya benar-benar menusuk telingaku dan semakin membuat nyeri ulu hatiku. Aku muntah dan semakin jijik melihat keadaan di dalam gerbong. Meskipun sesungguhnya semuanya normal, gerbong ini terlihat sebagai neraka bagiku.
Malam harinya, budhe dan pakdhe-ku kembali menuju Malang. Aku masih diam di atas tempat tidur sejak tiba di rumah mereka di Yogya. Tatapan mataku kosong. Aku tidak mau ikut ke Malang. Aku tidak mau apapun. Aku tidak mau melakukan apapun, aku tidak mau memikirkan apapun. Akhirnya aku ditinggal di rumah mereka bersama seorang pembantu karena aku meronta hebat ketika dipaksa ikut.
Aku tidak mau lagi menginjak Malang dan menemukan bangunan yang sudah tidak bisa lagi kusebut rumah, sembari mengingat tawa dan peluk dari ayah dan ibuku yang tak akan pernah ada lagi di sepanjang perjalanan sudut manapun kota itu. Aku akan menganggap kota itu tidak ada sama sekali dan aku tidak akan pulang. Aku juga tidak akan lagi naik kereta, mencium bau besi berkarat lalu muntah karena membayangkan darah yang mengalir dari dalam mobil yang terbalik membuat ulu hatiku sakit. Aku bertahan melakukannya sampai aku dewasa.
.....
Sudah pukul 11 malam. Sudah sekitar 2 jam aku duduk manis di dalam kereta. Hanya dudukku yang manis, perasaanku pahit bukan main. Kali pertama aku memaksa diri naik kereta setelah pergulatan batin dengan pengalaman traumatis yang telah aku lakukan belasan tahun belakangan ini, ternyata terlalu berat. Bayangan tentang kenangan di kota yang aku tujupun tak terasa manis sama sekali. Rangkaian memori manis telah dibusukkan kehilangan sampai menjelma pahit.
Sejak kepindahanku ke Yogya dan sekaligus sejak kematian ayah dan ibuku, aku tinggal dengan pakdhe dan budhe-ku. Mereka menyekolahkanku dan memenuhi segala kebutuhan hidupku, dibantu dengan tabungan peninggalan orang tuaku sampai sekarang, ketika aku sudah lulus perguruan tinggi dan mulai bekerja. Tapi tak apa, kali ini tekadku bulat. Aku memang mau pulang. Aku hanya tinggal berharap bahwa definisi pulang yang berani aku beri pada perjalananku kali ini tidak salah.
Ruang dalam gerbong cukup dingin. Baru saja Rora menelepon dan mengulangi pernyataan yang sama lagi agar aku berhati-hati. Dia terdengar sangat khawatir, entah apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakannya.
"Semalam aku mimpi buruk." Katanya.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi, aku menangis sejadi-jadinya di kamar karena kamu pergi. Aku hanya ingat itu. Aku menangis sampai air mataku menggenang semata kaki, dan aku terus saja menangis."
"Sudahlah. Kamu hanya terlalu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."
.....
Waktu menunjukkan pukul dua malam. Sekitar dua jam lagi aku akan sampai. Udara di dalam gerbong kereta semakin dingin. Udara dingin ini menyerang mulai sekitar satu jam yang lalu. Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Jaket itu sudah merupakan lapisan pakaian keempat yang kupakai jika kaos dan baju hangat sebagai dua lapisan paling dalam turut dihitung. Wujud hembusan napasku semakin tampak jelas seperti asap rokok di dalam ruangan yang dingin ini. Aku seperti ada di dalam sekotak lemari es.
Orang-orang di sekitarku di dalam gerbong yang sama tertidur. Semuanya tertidur. Wajah mereka tampak tenang, seolah tak ada mimpi yang mereka lihat dan membuat raut wajah mereka tampak berbeda-beda. Anak-anak kecil lelap di pelukan orang tuanya. Tak ada tangisan atau rewelan sama sekali. Tak ada juga satupun remaja-remaja yang terjaga dan berbagi cerita cinta mereka yang sedang merekah ataupun layu. Seorang pria dengan ransel besar, celana pendek dan sendal gunung yang tampak sering bepergianpun lenyap dalam lelapnya. Ia tidak sedang berkutat dengan pena dan buku catatan untuk menceritakan perjalanannya. Petugas kereta yang biasanya bolak-balik menawarkan pinjaman bantal tidak lewat sama sekali. Tak ada suara di dalam ruangan ini. Ruangan ini begitu sepi. Sunyi. Senyap.
Sedikit demi sedikit ada yang berubah dengan perasaanku. Perasaan-perasaan pahit dan menyakitkan yang kurasakan sejak aku memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang ini, dan menguat sejak aku naik kereta, tidak lagi terasa. Hatiku perlahan-lahan damai. Tidak ada lagi sedikitpun beban yang terasa menumpang di bahuku. Kepalaku ringan dan aku mampu berpikir dengan jernih. Anehnya, dinginnya ruangan ini tidak menggangguku sama sekali. Ada yang terasa hangat di dalam rongga dadaku. Aku merasa bahagia. Aku merasa aku tak salah mendefinisikan perjalanan ini sebagai pulang, meskipun sebelumnya aku sangat tidak yakin rumah masa kecilku di Malang bisa membuatku merasa pulang tanpa adanya pelukan ayah dan ibuku.
Di luar jendela, hitam yang daritadi pekat dan menjadi satu-satunya pemandangan mulai berubah warna menjadi kelabu. Ada cahaya yang perlahan-lahan menyala dan menyibakkan gelap. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Cahaya itu perlahan-lahan semakin terang dan menyilaukan. Kelabu di luar jendela berubah menjadi putih bersih. Tiba-tiba dari sela pintu-pintu pembatas gerbong, ada air yang mulai masuk. Entah dari mana air itu berasal sedangkan di luar tidak hujan. Air itu terus masuk memenuhi gerbong sampai menggenang semata kaki. Aku menyelupkan jariku ke dalamnya dan mencicipinya. Rasanya asin, seperti air mata.
Kereta ini seperti sedang melintas membelah kabut. Kabut yang dingin dan padat sehingga menyerupai awan. Kereta ini seperti sedang terbang di langit tanpa biru, yang ada hanya kabut putih tebal yang menyilaukan. Orang-orang di dalam gerbong masih saja pulas tak terganggu oleh apapun dengan raut-raut wajah damai. Rongga dadaku semakin hangat. Aku merasa sangat bahagia. Aku menyunggingkan senyum lebar dengan perasaan sangat lega. Aku merasa benar-benar pulang.
Laju kereta melambat. Kereta itu akhirnya berhenti di sebuah stasiun yang semua catnya berwarna putih. Banyak orang ramai menunggu di luar, mungkin ingin menjemput kerabatnya. Mereka semua mengenakan baju berwarna putih. Kereta akhirnya benar-benar berhenti. Dari jendela aku melihat ayah dan ibuku sedang menunggu dengan pakaian yang juga putih. Tangan mereka terbentang di antara senyum hangat, menanti memelukku.
Akhirnya aku benar-benar pulang.
Selasa, 11 Juni 2013
Cerita Tentang Sebuah Kota yang Langit Malamnya Jingga
Aku akan menceritakan padamu tentang sebuah kota. Kota itu seukuran sekotak jendela yang besar dari sebuah kamar yang letaknya cukup tinggi. Kota itu seukuran dua buah bola mata yang senang memerhatikannya sepanjang malam.
Kota itu terbentuk dari balok-balok kayu yang berdiri tegak menggapai langit dan sungai-sungai kecil yang menyusur sepanjang jalan-jalan besar sampai setapak-setapak kecil yang kumuh dan gelap. Di dalam balok-balok kayu itu, manusia-manusia tinggal. Seperti rayap, mereka bisa memakan dan menghancurkan balok kayu tempat tinggalnya. Sementara sungai-sungai di kota itu serupa selokan yang ada di kota-kota lain. Hanya saja sungai-sungai itu sungguh dalam. Warnanya hitam. Persis harapan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Dalam dan hitam. Di dasar sungai-sungai itu tertidur lelap banyak sekali binatang yang buruk rupa dan keji. Untungnya, mereka semua tertidur dan tertutup pekat harapan-harapan hitam manusianya.
Kota itu persegi panjang, namun ada lapisan kabut berbentuk bola yang menyelimutinya. Mungkin sama dengan bola udara raksasa yang menyelimuti Atlantis sampai kota itu tetap hidup di dalam samudera. Semacam gelembung sabun raksasa, dan kota itu ada di dalamnya. Lapisan kabut itu membuat langit malam kota tidak berwarna hitam seperti sungai-sungainya, melainkan jingga. Seakan sore hari terjadi lama sekali dalam sehari. Langit malam itu jingga, seakan terbuat dari amarah-amarah manusia penghuninya yang senantiasa kehilangan kesabaran terhadap apapun dan kapanpun dalam kesehariannya. Manusia-manusia yang tak kenal keramahan dan tak mudah diluluhkan hatinya dengan seulas senyum. Langit itu jingga ketika malam, ketika pertahanan diri manusia-manusianya terhadap kegilaan mulai luruh dan beristirahat. Maka ketika itu kewarasan mulai memejam dan amarah meledak dalam diam, lalu menguap ke angkasa.
Langit malam jingga kota itu adalah ibu yang baik untuk melahirkan petir yang menyilaukan. Petir-petir itu serupa teriakan-teriakan manusianya yang tertahan dan terbungkam oleh waktu yang semakin lama semakin kuat meredam suara-suara hati yang seharusnya disampaikan. Ketika petir sudah mulai bermunculan, guntur yang menggema dan menggetarkan kaca-kaca jendela akan segera menyusul hadir. Getarannya serupa jantung yang berdetak terlalu cepat karena kaki-kaki dari tubuh tempat jantung itu bertengger selalu tergesa-gesa melangkah. Seakan ada monster yang mengejarnya dari ramai jalan utama sampai sepi pojok gang yang paling tersembunyi.
Biasanya, hujan akan segera jatuh setelah itu. Warnanya merah dan kental. Mungkin karena memang berasal dari langit berwarna jingga yang menggumpal dan menjadi pekat. Atau mungkin karena berasal dari jiwa-jiwa manusianya yang tertoreh banyak luka. Lukanya sungguh dalam namun tak dapat dilihat. Tak ada darah yang tampak. Mungkin itulah sebabnya hujan di kota itu berwarna merah kental. Itu adalah darah dari luka-luka yang tak tampak dan keluar mengucur melalui langit.
Tapi kota itu masih indah. Ketika hari sudah menjelang subuh, langit akan mulai berubah warna. Dari jingga menjadi ungu muda, halus dan tenteram. Petir, guntur dan hujan berhenti. Kewarasan bangun. Begitu juga manusia-manusianya. Lalu hari berjalan lagi. Manusia-manusia bekerja sepanjang siang, mengumpulkan bahan hujan badai untuk malam harinya. Begitu seterusnya. Hembusan napas merekalah yang menyumbang jingga untuk langit malamnya.
Sabtu, 11 Mei 2013
Delusi Kehilangan
Duniaku wajar. Ada satu matahari di siang hari yang masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesekali matahari itu tak tampak karena tertutup mendung. Ada satu bulan di malam hari yang masih selalu berdampingan di satu bentangan langit yang sama bersama matahari, setiap fajar dan senja. Bulan itu kadang tak tampak karena tertutup mendung. Kadang bintang-bintang terlalu cantik dan membuat perhatian bumi kepada bulan teralih. Di duniaku, gelombang yang pecah di garis pantai masih putih.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Jumat, 08 Maret 2013
Narasi Sebuah Pertemuan
Aku akan menceritakan satu narasi tentang sebuah pertemuan.
Saat itu, malam hari di suatu rabu yang malas. Aku duduk di sebuah cafe yang cukup ramai, di bagian tengah kota yang sudah mulai sepi. Jam tangan kulitku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit.
Berjam-jam sudah aku mematikan waktu dengan melumat obrolan-obrolan ringan bersama teman-temanku. Di hadapan piring-piring bekas pisang bakar dan nasi goreng, kami telah menandaskan terlalu banyak tawa. Menit-menit terakhir perjamuan itu akhirnya tenggelam dalam diam pada bibir-bibir kami. Tinggal gelas berisi tak sampai setengah sisa cokelat panas yang menemaniku menatapmu lekat.
Melalui sebuah jendela yang terpajang tepat di depanku, aku memperhatikanmu sibuk bermain dengan asap-asap yang kauhirup dan kauhembuskan. Jendela itu tinggi dan besar. Daun-daunnya dicat putih dan dibuka selebar-lebarnya. Entah kapan kamu dan teman-temanmu masuk dan duduk di sana. Aku hanya sadar sudah duduk di sana, di ruang sebelah dari tempatku duduk, dengan segenggam perekat di wajahmu yang menahan mataku agar tak lepas menatap.
Aku tak sadarkan diri. Mataku lekat menatap sepasang mata sayu yang sorotnya sungguh tajam. Mataku lekat menatap sebuah hidung mancung yang garis tulangnya sungguh tegas. Mataku lekat menatap bibir basah yang ronanya sungguh merah. Kamu larut di antara ramainya tawa dan asap, dan bagiku, seluruh isi dunia mulai menghilang perlahan-lahan dan meninggalkanmu di dalam tatapanku.
Sampai akhirnya pintu paling depan dari cafe itu menyambut kedatangan sesosok perempuan cantik. Dia berjalan dengan begitu anggun menuju mejamu yang sedari tadi kursinya hanya diisi beberapa pria. Dia menghampirimu dan duduk di kursi sebelahmu. Dia langsung merentangkan lengannya yang tak dibalut apapun dan merangkulmu, mendekatkan wajanya ke jawahmu dan menatapmu mesra. Kalian lalu dibawa pergi sepotong-dua potong obrolan kecil yang intim. Tak sampai semenit berlalu dan kamu mengecup bibirnya sepenuh cinta di tengah keramaian suara-suara yang bersama kepulan asap-asap padat mengisi lapisan udara.
Tatapanku lepas. Aku menutup kelopak mataku beberapa detik dan menunduk beberapa menit. Isi dunia mulai kembali satu per satu ke tampat di mana mereka seharusnya berada. Aku mulai sadarkan diri. Aku tersadar di antara ajakan pulang teman-temanku yang sudah ingin menyerah pada kasur mereka masing-masing. Kami keluar cafe, melewati meja tempatmu duduk tanpa aku menengok sedikitpun.
Aku meninggalkan cafe itu dengan perjalanan pulang yang penuh gerimis. Waktu menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh empat menit ketika aku membuka pintu kamarku. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan mumulai lamunanku yang lain. Banyak lamunan yang aku punya di dalam kepalaku setiap harinya. Saat ini, entah yang mana yang kupilih untuk kulamunkan. Aku tidak sadar.
Satu-satunya yang membuatku tersadar setelah sekitar satu jam membiarkan pikiranku beterbangan di langit-langit kamar adalah ketukan di pintu kamarku. Aku masih terjaga. Langkahku bangkit dari tempat tidur agak berat. Aku membuka pintu kamarku dan kamu sudah ada di hadapanku. Kamu mengambil dua langkah maju mendekatiku dan langsung memeluk tubuhku lalu mencium bibirku tanpa merasa asing sama sekali. Pintu kamarku lalu kaututup dan kamu masih memelukku yang hanya terdiam.
Aku lupa kamu punya janji bertemu dengan pacarmu tadi malam di cafe itu. Aku lupa mengabarimu ketika aku diajak bertemu teman-temanku di cafe itu. Aku juga lupa malam ini kamu berjanji akan pulang ke rumahku dan menemaniku. Pikiranku tercecer, berhamburan tak teratur di atas lantai kamar dan aku masih belum mampu mengendalikannya.
Aku tak butuh kamu meninggalkan pacarmu dan menjadikanku yang sah. Aku rasa aku hanya butuh mengingat hal-hal kecil lebih baik.
Saat itu, malam hari di suatu rabu yang malas. Aku duduk di sebuah cafe yang cukup ramai, di bagian tengah kota yang sudah mulai sepi. Jam tangan kulitku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit.
Berjam-jam sudah aku mematikan waktu dengan melumat obrolan-obrolan ringan bersama teman-temanku. Di hadapan piring-piring bekas pisang bakar dan nasi goreng, kami telah menandaskan terlalu banyak tawa. Menit-menit terakhir perjamuan itu akhirnya tenggelam dalam diam pada bibir-bibir kami. Tinggal gelas berisi tak sampai setengah sisa cokelat panas yang menemaniku menatapmu lekat.
Melalui sebuah jendela yang terpajang tepat di depanku, aku memperhatikanmu sibuk bermain dengan asap-asap yang kauhirup dan kauhembuskan. Jendela itu tinggi dan besar. Daun-daunnya dicat putih dan dibuka selebar-lebarnya. Entah kapan kamu dan teman-temanmu masuk dan duduk di sana. Aku hanya sadar sudah duduk di sana, di ruang sebelah dari tempatku duduk, dengan segenggam perekat di wajahmu yang menahan mataku agar tak lepas menatap.
Aku tak sadarkan diri. Mataku lekat menatap sepasang mata sayu yang sorotnya sungguh tajam. Mataku lekat menatap sebuah hidung mancung yang garis tulangnya sungguh tegas. Mataku lekat menatap bibir basah yang ronanya sungguh merah. Kamu larut di antara ramainya tawa dan asap, dan bagiku, seluruh isi dunia mulai menghilang perlahan-lahan dan meninggalkanmu di dalam tatapanku.
Sampai akhirnya pintu paling depan dari cafe itu menyambut kedatangan sesosok perempuan cantik. Dia berjalan dengan begitu anggun menuju mejamu yang sedari tadi kursinya hanya diisi beberapa pria. Dia menghampirimu dan duduk di kursi sebelahmu. Dia langsung merentangkan lengannya yang tak dibalut apapun dan merangkulmu, mendekatkan wajanya ke jawahmu dan menatapmu mesra. Kalian lalu dibawa pergi sepotong-dua potong obrolan kecil yang intim. Tak sampai semenit berlalu dan kamu mengecup bibirnya sepenuh cinta di tengah keramaian suara-suara yang bersama kepulan asap-asap padat mengisi lapisan udara.
Tatapanku lepas. Aku menutup kelopak mataku beberapa detik dan menunduk beberapa menit. Isi dunia mulai kembali satu per satu ke tampat di mana mereka seharusnya berada. Aku mulai sadarkan diri. Aku tersadar di antara ajakan pulang teman-temanku yang sudah ingin menyerah pada kasur mereka masing-masing. Kami keluar cafe, melewati meja tempatmu duduk tanpa aku menengok sedikitpun.
Aku meninggalkan cafe itu dengan perjalanan pulang yang penuh gerimis. Waktu menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh empat menit ketika aku membuka pintu kamarku. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan mumulai lamunanku yang lain. Banyak lamunan yang aku punya di dalam kepalaku setiap harinya. Saat ini, entah yang mana yang kupilih untuk kulamunkan. Aku tidak sadar.
Satu-satunya yang membuatku tersadar setelah sekitar satu jam membiarkan pikiranku beterbangan di langit-langit kamar adalah ketukan di pintu kamarku. Aku masih terjaga. Langkahku bangkit dari tempat tidur agak berat. Aku membuka pintu kamarku dan kamu sudah ada di hadapanku. Kamu mengambil dua langkah maju mendekatiku dan langsung memeluk tubuhku lalu mencium bibirku tanpa merasa asing sama sekali. Pintu kamarku lalu kaututup dan kamu masih memelukku yang hanya terdiam.
Aku lupa kamu punya janji bertemu dengan pacarmu tadi malam di cafe itu. Aku lupa mengabarimu ketika aku diajak bertemu teman-temanku di cafe itu. Aku juga lupa malam ini kamu berjanji akan pulang ke rumahku dan menemaniku. Pikiranku tercecer, berhamburan tak teratur di atas lantai kamar dan aku masih belum mampu mengendalikannya.
Aku tak butuh kamu meninggalkan pacarmu dan menjadikanku yang sah. Aku rasa aku hanya butuh mengingat hal-hal kecil lebih baik.
Kamis, 28 Februari 2013
Tidak Ke Luar Tempat Tidur
"Permisi, di sini ada orangnya?" Seorang perempuan sekitar umur 27 tahun, cantik, kulit sawo matang, rambut hitam ikal hampir sepinggang dijepit setengah acak-acakan, dengan tinggi sekitar 160 cm mengampiri mejaku.
Waktu itu pukul 5 lewat 14 menit sore hari. Di luar langit masih mendung, meninggalkan tetesan-tetesan gerimis yang tersisa dari hujan deras sepanjang siang tadi. Aku masih bergumul dengan laptopku, entah apa yang kulakukan, menunggu hujan benar-benar reda mungkin. Baru saja aku meeting dengan orang dari event organizer yang akan mengatur pelaksanaan pameran lukisan tunggalku.
Aku datang lebih dulu di cafe ini, menunggu sendiri, bertemu kolega, lalu ditinggal pulang dan akhirnya sendiri lagi. Cafe ini memang tempat di mana aku biasanya menghabiskan waktu melamunku selain di studio lukisku sendiri. Kegiatan itu aku lakukan lagi hari ini, sampai wanita di depanku datang dan menginterupsi lamunanku. Ia mengenakan kemeja satin berwarna cokelat dan rok span hitam selutut. Ia juga mengenakan sepatu hak rendah berwarna cokelat serta tas kulit berwarna krem. Sepertinya wanita kantoran.
"Oh, ga ada kok." Aku menjawab pertanyaannya dengan maksud mempersilakannya menggunakan kursi di depanku. Wanita itu ternyata tidak menghampiri untuk meminjam kursi di depanku yang kosong. Ia justru duduk di depanku, satu meja denganku.
"Maaf ya. Nggak ada meja yang kosong lagi. Boleh kan aku duduk di sini?" Katanya.
"Oh iya, nggak apa-apa." Balasku. Kemeja cokelatnya sedikit basah. Mungkin ia baru pulang dari kantor dan kehujanan. Wanita ini sangat menarik, tapi seperti biasa, aku tidak tertarik untuk banyak bicara.
"Eh, aku Armen." Dia langsung menjulurkan tangannya ke hadapanku.
"Oh, iya. Aku Tian." Aku menjabat tangannya sekilas.
"Maaf banget loh mengganggu. Aku nungguin temenku mau jemput. Baru balik kantor nih. Tuh di depan." Jelasnya sambil menunjuk satu gedung yang tampak dari jendela cafe.
"Iya, ga ganggu kok. Oh, penerbitan itu ya? Editor?" Jawabku dengan rentetan pertanyaan.
"Iya, kok bisa tau?"
"Kira-kira aja."
Langit yang mendung tak berubah terang. Malam justru menjelang. Gerimis-gerimis di luar sudah sepenuhnya reda dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Wanita di hadapanku ini akhirnya diam dan tiba-tiba sibuk dengan dunianya sendiri. Bagaimanapun juga, aku akhirnya lega. Aku seniman yang lebih nyaman menyendiri dan sering merasa terancam berada di dalam suatu interaksi sosial, terutama dengan orang asing. Ia memainkan handphone-nya beberapa lama lalu beralih merogoh tasnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku dan mulai membuka-buka halaman, mencari bagian yang telah ia beri tanda untuk melanjutkan membaca.
Di sampul depan buku itu tertulis 'DEAR THEO' dengan ukuran huruf yang besar dan mudah dibaca. Sesuatu yang sangat familiar bagiku, buku Autobiografi dari Vincent Van Gogh. Sebagai pekerja seni, aku memang tidak suka membaca buku. Aku lebih percaya dengan internalisasi kebatinan, bahwa kita hanya butuh hati untuk menghasilkan karya. Hal itu lebih utama dibandingkan menempa keterampilan teknis lewat membaca buku. Namun, sebagai pelukis hasil didikan Fine Arts Major, University of Pennsylvania, aku sudah pasti tahu buku itu. Wanita ini menjadi semakin menarik di mataku.
"Dear Theo?" Tanyaku pada wanita itu.
"Iya. Kamu tahu?"
"Bahkan paham semuanya."
"Suka seni rupa?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu karena kamu itu editor. Suka seni rupa? Atau justru karena suka sejarah?"
"Hahahaha... Memang suka seni rupa."
"Kok bisa?"
"Nggak tahu. Suka aja. Kakekku dulu suka melukis. Dulu dia sering sekali menyebut-nyebut Van Gogh entah menceritakan apa, aku masih sangat kecil. Kamu..."
"Aku memang pelukis." Aku memotong kalimatnya.
"Serius? Aku mau liat lukisan-lukisanmu!"
"Bulan depan aku ada pameran tunggal. Tapi kamu bisa ke studio sekarang juga kalau kamu mau."
_____________________________________________________
Akhirnya langit terang juga setelah seharian kemarin hampir tak sempat membagi kehangatan sama sekali. Fajar sudah pergi beberapa jam yang lalu. Ini hari sabtu dan tak ada yang perlu diburu di pagi yang tenang ini.
Sekilas mataku menangkap angka yang tampak di jam dinding kamarku. Pukul 10 pagi. Kamarku berantakan seperti biasanya. Hanya saja ada beberapa potong lebih banyak pakaian yang berhamburan di lantai. Pakaian yang bukan milikku. Televisi menyala sepanjang malam. Beberapa botol bir berserakan di dekat tempat tidur. Aku tidak terbangun sendirian. Di sampingku ada tubuh seorang wanita yang masih telanjang. Sama telanjangnya dengan tubuhku. Ya, itu Armen.
Sesederhana itu. Aku menemukannya memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap karya seni rupa. Penampilannya yang memang sudah menarik semakin luar biasa di mataku karena kesamaan yang kita miliki. Atau mungkin aku hanya terkesan dengan pujian-pujiannya terhadapku. Semua orang punya kebutuhan untuk disanjung, bukan?
Sesederhana itu. Aku menawarinya berkunjung ke studio yang memang ada di rumahku sendiri dan tanpa berpikir panjang ia langsung membatalkan rencana dengan temannya yang akan menjemput di cafe tadi malam. Dengan campur tangan beberapa botol bir dan obrolan-obrolan yang sungguh menarik, aku terbagun di pagi ini dalam keadaan seperti ini.
"Selamat pagi." Armen terbangun dan menyapaku.
"Pagi. Kopi?" Aku tersenyum padanya. Tanpa menunggu jawabannya aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Aku tahu, ini tak mungkin hanya sampai di sini.
_____________________________________________________
"Lima belas menit lagi baru sampai. Lama nungguin Fella." Aku menerima pesan singkat dari Armen.
"Oke. Hati-hati." Aku membalas pesannya.
Malam ini acara pameran tunggalku. Sudah hampir satu jam yang lalu acaranya dimulai dan aku telah menyampaikan pidato singkatku di hadapan para pengunjung. Akhirnya aku sampai pada pencapaian ini. Sebagai pelukis yang belum punya nama besar dan masih lebih suka sibuk berkarya atas alasan kecintaan terhadap seni, ajang pamer dan komersil ini cukup berhasil.
Beberapa lukisanku telah ditawar oleh pengunjung. Beberapa lainnya bahkan sudah deal harga. Dari kejauhan aku melihat Armen melangkah memasuki ruang pameran. Ia bersama Fella, teman kantornya. Ia tidak menghampiriku, melainkan langsung berkeliling mengamati karya-karyaku di sepanjang dinding ruangan. Karya-karya lukisan yang sebagian besarnya justru telah ia lihat di rumahku. Ia sibuk bercerita dengan Fella dan menyapa orang-orang yang mungkin dia kenal atau yang mengajak berdiskusi tentang lukisanku. Sampai saat acara akan ditutup, Armen dan Fella baru datang menghampiriku untuk sekedar basa-basi memberi selamat atas pameran tunggalku.
"Selamat, Bro!" Nino, salah satu teman yang sudah sering membantuku selama ini datang menghampiri, menjabat tanganku erat dan memberiku selamat.
"Yoi. Thanks ya, No." Aku langsung menatap matanya seakan menyampaikan terima kasihku lebih dalam dan langsung memeluknya. Ada beberapa hal yang memang tidak mudah dijelaskan tentang keakrabanku dengan Nino.
Acara yang cukup megah bagiku itu selesai. Aku masih berbincang dengan beberapa teman yang sudah membantuku untuk menyelenggarakan acara ini. Handphone di sakuku bergetar.
"Otw dari tempat Fella ke rumah." Pesan singkat dari Armen. Aku lalu berpamitan dan keluar menuju parkiran.
Aku mengemudikan mobilku menuju rumah dengan mata yang sudah sangat lelah. Tapi aku tahu, pasti ada seseorang yang sudah menantiku di sana. Hal itu entah mengapa membuatku senang dan bersemangat.
Akhirnya aku sampai di rumah setelah melalui jalanan Jakarta yang masih cukup padat di jam 11 malam seperti ini. Pintu rumah tidak terkunci, atau lebih tepatnya telah dibuka oleh orang lain. Orang itu tidak lain adalah Armen. Dia sudah berbaring di atas tempat tidurku sambil fokus menonton televisi. Ini memang bukan lagi kali pertama atau kedua. Aku bahkan sudah mampu membangun perasaan terbiasa dan tergantung pada kebersamaanku dengannya, meskipun hal ini juga tidak kami lakukan setiap hari.
Seperti inilah kami membangun kebersamaan. Berlaku seperti dua orang yang tidak begitu saling mengenal di luar sana tapi selalu beradu peluh di dalam sini. Tidak ada yang lebih. Kami juga tidak mengikat diri dengan apapun, walau dengan perhatian rutin atau kata-kata mesra sekalipun. Seperti inilah kebersamaan kami yang baru berlangsung sekitar sebulan ini. Anggap saja kami adalah dua manusia yang dalam dua kehidupan berbeda yang tak pernah sempat menyatu. Dua manusia dengan urusan masing-masing yang tak perlu saling mengusik. Karena memang tak ada sesuatu apapun tentang kami yang tertulis di luar sana. Sementara di sini, hanya di atas tempat tidur ini, kami tertulis sebagai sebuah penyatuan.
_____________________________________________________
Aku duduk di cafe tempat pertama kali aku bertemu dengan Armen. Semalam dia menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Katanya ada sesuatu yang harus ia bicarakan. Hari ini sudah 4 bulan lebih sejak kami pertama bertemu di tempat yang sama.
Secangkir kopi hitam tersaji di hadapanku. Aku belum meneguknya sama sekali dan hanya menghirup aromanya yang menguap. Mood-ku kurang baik sore ini. Mungkin karena di luar hujan lagi. Mungkin karena jalanan Jakarta yang bagiku terlalu macet sore ini. Mungkin karena 14 menit sejak aku duduk menunggu kedatangan Armen terasa seperti seharian untukku yang terlalu khawatir tentang apa yang akan ia bicarakan.
Dari pintu masuk cafe terlihat seorang wanita masuk dengan baju yang sedikit basah. Wanita itu langsung berjalan menuju ke arah mejaku, menarik kursi di depanku dan duduk dengan raut muka yang tegang. Ia lalu memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi hitam. Dia Armen.
Sampai kopi hitam yang dipesan Armen datang dan kurasa sudah mulai mendingin sekarang ini, kami masih saling terdiam.
"Ada apa?" Aku memulai percakapan.
"Entahlah."
"Ada yang salah menurut perasaanmu?"
"Sepertinya begitu."
"Beritahu aku."
"....."
Armen terdiam lagi. Ia menyeruput kopi dari cangkirnya, menopang dagu, lalu menatap ke luar jendela cafe. Ia membalikkan wajahnya setelah beberapa menit dan menyeruput kopinya sekali lagi kemudian menatapku. Tepat di mataku.
"Aku mencintaimu." Kalimat yang selama ini kami hindari akhirnya terucap mulus dari bibir Armen.
"....." Aku terdiam. Aku masih menatapnya tajam, hanya saja tak mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang aku khawatirkan benar terjadi.
"Katakan sesuatu." Katanya mendesak.
"Kamu mau aku bilang apa?"
"Kamu tahu apa yang sebenarnya aku mau."
"Aku nggak bisa."
"Kenapa? Kamu nggak negrasain hal yang sama?"
"Nggak gitu..."
"Terus?"
"Aku gay. Aku biseks."
Armen terdiam. Raut mukanya yang sudah begitu tegang sejak memasuki cafe terlihat jauh semakin tegang. Aku tahu dia kaget tanpa harus melihat warna kulit wajahnya yang semakin memutih. Matanya masih lurus menatap mataku tanpa berkedip. Bukan tatapan yang mengintimidasi, justru menurutku itu adalah tatapan paling pasrah yang ia punya. Di dalam tatapan itu ada kebingungan dan ketidaktahuan besar tentang apa yang harus ia lakukan.
"Kamu tahu kenapa kita seperti orang yang tidak saling mengenal di dunia luar?" Lanjutku.
"....." Armen tak menjawab apa-apa.
"Bukan karena aku hanya memanfaatkanmu atau tidak mencintaimu..."
"....."
"...Aku hanya mencintaimu di atas tempat tidur. Aku hanya mencintai semua orang yang pernah bersamaku di atas tempat tidur."
"....."
"Tak ada perasaan yang bisa dibawa keluar dari tempat tidur untuk orang-orang sepertiku."
"....."
Armen masih terdiam. Perlahan ia melepaskan tatapannya dari mataku dan memejamkan matanya beberapa saat. Ia lalu menunduk dan menyeruput kopinya sekali lagi setelah menghembuskan napas panjang. Tarikan napas paling pasrah yang pernah kudengar darinya.
Di luar masih hujan dan wanita di depanku itu masih tak mengatakan apapun.
Waktu itu pukul 5 lewat 14 menit sore hari. Di luar langit masih mendung, meninggalkan tetesan-tetesan gerimis yang tersisa dari hujan deras sepanjang siang tadi. Aku masih bergumul dengan laptopku, entah apa yang kulakukan, menunggu hujan benar-benar reda mungkin. Baru saja aku meeting dengan orang dari event organizer yang akan mengatur pelaksanaan pameran lukisan tunggalku.
Aku datang lebih dulu di cafe ini, menunggu sendiri, bertemu kolega, lalu ditinggal pulang dan akhirnya sendiri lagi. Cafe ini memang tempat di mana aku biasanya menghabiskan waktu melamunku selain di studio lukisku sendiri. Kegiatan itu aku lakukan lagi hari ini, sampai wanita di depanku datang dan menginterupsi lamunanku. Ia mengenakan kemeja satin berwarna cokelat dan rok span hitam selutut. Ia juga mengenakan sepatu hak rendah berwarna cokelat serta tas kulit berwarna krem. Sepertinya wanita kantoran.
"Oh, ga ada kok." Aku menjawab pertanyaannya dengan maksud mempersilakannya menggunakan kursi di depanku. Wanita itu ternyata tidak menghampiri untuk meminjam kursi di depanku yang kosong. Ia justru duduk di depanku, satu meja denganku.
"Maaf ya. Nggak ada meja yang kosong lagi. Boleh kan aku duduk di sini?" Katanya.
"Oh iya, nggak apa-apa." Balasku. Kemeja cokelatnya sedikit basah. Mungkin ia baru pulang dari kantor dan kehujanan. Wanita ini sangat menarik, tapi seperti biasa, aku tidak tertarik untuk banyak bicara.
"Eh, aku Armen." Dia langsung menjulurkan tangannya ke hadapanku.
"Oh, iya. Aku Tian." Aku menjabat tangannya sekilas.
"Maaf banget loh mengganggu. Aku nungguin temenku mau jemput. Baru balik kantor nih. Tuh di depan." Jelasnya sambil menunjuk satu gedung yang tampak dari jendela cafe.
"Iya, ga ganggu kok. Oh, penerbitan itu ya? Editor?" Jawabku dengan rentetan pertanyaan.
"Iya, kok bisa tau?"
"Kira-kira aja."
Langit yang mendung tak berubah terang. Malam justru menjelang. Gerimis-gerimis di luar sudah sepenuhnya reda dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Wanita di hadapanku ini akhirnya diam dan tiba-tiba sibuk dengan dunianya sendiri. Bagaimanapun juga, aku akhirnya lega. Aku seniman yang lebih nyaman menyendiri dan sering merasa terancam berada di dalam suatu interaksi sosial, terutama dengan orang asing. Ia memainkan handphone-nya beberapa lama lalu beralih merogoh tasnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku dan mulai membuka-buka halaman, mencari bagian yang telah ia beri tanda untuk melanjutkan membaca.
Di sampul depan buku itu tertulis 'DEAR THEO' dengan ukuran huruf yang besar dan mudah dibaca. Sesuatu yang sangat familiar bagiku, buku Autobiografi dari Vincent Van Gogh. Sebagai pekerja seni, aku memang tidak suka membaca buku. Aku lebih percaya dengan internalisasi kebatinan, bahwa kita hanya butuh hati untuk menghasilkan karya. Hal itu lebih utama dibandingkan menempa keterampilan teknis lewat membaca buku. Namun, sebagai pelukis hasil didikan Fine Arts Major, University of Pennsylvania, aku sudah pasti tahu buku itu. Wanita ini menjadi semakin menarik di mataku.
"Dear Theo?" Tanyaku pada wanita itu.
"Iya. Kamu tahu?"
"Bahkan paham semuanya."
"Suka seni rupa?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu karena kamu itu editor. Suka seni rupa? Atau justru karena suka sejarah?"
"Hahahaha... Memang suka seni rupa."
"Kok bisa?"
"Nggak tahu. Suka aja. Kakekku dulu suka melukis. Dulu dia sering sekali menyebut-nyebut Van Gogh entah menceritakan apa, aku masih sangat kecil. Kamu..."
"Aku memang pelukis." Aku memotong kalimatnya.
"Serius? Aku mau liat lukisan-lukisanmu!"
"Bulan depan aku ada pameran tunggal. Tapi kamu bisa ke studio sekarang juga kalau kamu mau."
_____________________________________________________
Akhirnya langit terang juga setelah seharian kemarin hampir tak sempat membagi kehangatan sama sekali. Fajar sudah pergi beberapa jam yang lalu. Ini hari sabtu dan tak ada yang perlu diburu di pagi yang tenang ini.
Sekilas mataku menangkap angka yang tampak di jam dinding kamarku. Pukul 10 pagi. Kamarku berantakan seperti biasanya. Hanya saja ada beberapa potong lebih banyak pakaian yang berhamburan di lantai. Pakaian yang bukan milikku. Televisi menyala sepanjang malam. Beberapa botol bir berserakan di dekat tempat tidur. Aku tidak terbangun sendirian. Di sampingku ada tubuh seorang wanita yang masih telanjang. Sama telanjangnya dengan tubuhku. Ya, itu Armen.
Sesederhana itu. Aku menemukannya memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap karya seni rupa. Penampilannya yang memang sudah menarik semakin luar biasa di mataku karena kesamaan yang kita miliki. Atau mungkin aku hanya terkesan dengan pujian-pujiannya terhadapku. Semua orang punya kebutuhan untuk disanjung, bukan?
Sesederhana itu. Aku menawarinya berkunjung ke studio yang memang ada di rumahku sendiri dan tanpa berpikir panjang ia langsung membatalkan rencana dengan temannya yang akan menjemput di cafe tadi malam. Dengan campur tangan beberapa botol bir dan obrolan-obrolan yang sungguh menarik, aku terbagun di pagi ini dalam keadaan seperti ini.
"Selamat pagi." Armen terbangun dan menyapaku.
"Pagi. Kopi?" Aku tersenyum padanya. Tanpa menunggu jawabannya aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Aku tahu, ini tak mungkin hanya sampai di sini.
_____________________________________________________
"Lima belas menit lagi baru sampai. Lama nungguin Fella." Aku menerima pesan singkat dari Armen.
"Oke. Hati-hati." Aku membalas pesannya.
Malam ini acara pameran tunggalku. Sudah hampir satu jam yang lalu acaranya dimulai dan aku telah menyampaikan pidato singkatku di hadapan para pengunjung. Akhirnya aku sampai pada pencapaian ini. Sebagai pelukis yang belum punya nama besar dan masih lebih suka sibuk berkarya atas alasan kecintaan terhadap seni, ajang pamer dan komersil ini cukup berhasil.
Beberapa lukisanku telah ditawar oleh pengunjung. Beberapa lainnya bahkan sudah deal harga. Dari kejauhan aku melihat Armen melangkah memasuki ruang pameran. Ia bersama Fella, teman kantornya. Ia tidak menghampiriku, melainkan langsung berkeliling mengamati karya-karyaku di sepanjang dinding ruangan. Karya-karya lukisan yang sebagian besarnya justru telah ia lihat di rumahku. Ia sibuk bercerita dengan Fella dan menyapa orang-orang yang mungkin dia kenal atau yang mengajak berdiskusi tentang lukisanku. Sampai saat acara akan ditutup, Armen dan Fella baru datang menghampiriku untuk sekedar basa-basi memberi selamat atas pameran tunggalku.
"Selamat, Bro!" Nino, salah satu teman yang sudah sering membantuku selama ini datang menghampiri, menjabat tanganku erat dan memberiku selamat.
"Yoi. Thanks ya, No." Aku langsung menatap matanya seakan menyampaikan terima kasihku lebih dalam dan langsung memeluknya. Ada beberapa hal yang memang tidak mudah dijelaskan tentang keakrabanku dengan Nino.
Acara yang cukup megah bagiku itu selesai. Aku masih berbincang dengan beberapa teman yang sudah membantuku untuk menyelenggarakan acara ini. Handphone di sakuku bergetar.
"Otw dari tempat Fella ke rumah." Pesan singkat dari Armen. Aku lalu berpamitan dan keluar menuju parkiran.
Aku mengemudikan mobilku menuju rumah dengan mata yang sudah sangat lelah. Tapi aku tahu, pasti ada seseorang yang sudah menantiku di sana. Hal itu entah mengapa membuatku senang dan bersemangat.
Akhirnya aku sampai di rumah setelah melalui jalanan Jakarta yang masih cukup padat di jam 11 malam seperti ini. Pintu rumah tidak terkunci, atau lebih tepatnya telah dibuka oleh orang lain. Orang itu tidak lain adalah Armen. Dia sudah berbaring di atas tempat tidurku sambil fokus menonton televisi. Ini memang bukan lagi kali pertama atau kedua. Aku bahkan sudah mampu membangun perasaan terbiasa dan tergantung pada kebersamaanku dengannya, meskipun hal ini juga tidak kami lakukan setiap hari.
Seperti inilah kami membangun kebersamaan. Berlaku seperti dua orang yang tidak begitu saling mengenal di luar sana tapi selalu beradu peluh di dalam sini. Tidak ada yang lebih. Kami juga tidak mengikat diri dengan apapun, walau dengan perhatian rutin atau kata-kata mesra sekalipun. Seperti inilah kebersamaan kami yang baru berlangsung sekitar sebulan ini. Anggap saja kami adalah dua manusia yang dalam dua kehidupan berbeda yang tak pernah sempat menyatu. Dua manusia dengan urusan masing-masing yang tak perlu saling mengusik. Karena memang tak ada sesuatu apapun tentang kami yang tertulis di luar sana. Sementara di sini, hanya di atas tempat tidur ini, kami tertulis sebagai sebuah penyatuan.
_____________________________________________________
Aku duduk di cafe tempat pertama kali aku bertemu dengan Armen. Semalam dia menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Katanya ada sesuatu yang harus ia bicarakan. Hari ini sudah 4 bulan lebih sejak kami pertama bertemu di tempat yang sama.
Secangkir kopi hitam tersaji di hadapanku. Aku belum meneguknya sama sekali dan hanya menghirup aromanya yang menguap. Mood-ku kurang baik sore ini. Mungkin karena di luar hujan lagi. Mungkin karena jalanan Jakarta yang bagiku terlalu macet sore ini. Mungkin karena 14 menit sejak aku duduk menunggu kedatangan Armen terasa seperti seharian untukku yang terlalu khawatir tentang apa yang akan ia bicarakan.
Dari pintu masuk cafe terlihat seorang wanita masuk dengan baju yang sedikit basah. Wanita itu langsung berjalan menuju ke arah mejaku, menarik kursi di depanku dan duduk dengan raut muka yang tegang. Ia lalu memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi hitam. Dia Armen.
Sampai kopi hitam yang dipesan Armen datang dan kurasa sudah mulai mendingin sekarang ini, kami masih saling terdiam.
"Ada apa?" Aku memulai percakapan.
"Entahlah."
"Ada yang salah menurut perasaanmu?"
"Sepertinya begitu."
"Beritahu aku."
"....."
Armen terdiam lagi. Ia menyeruput kopi dari cangkirnya, menopang dagu, lalu menatap ke luar jendela cafe. Ia membalikkan wajahnya setelah beberapa menit dan menyeruput kopinya sekali lagi kemudian menatapku. Tepat di mataku.
"Aku mencintaimu." Kalimat yang selama ini kami hindari akhirnya terucap mulus dari bibir Armen.
"....." Aku terdiam. Aku masih menatapnya tajam, hanya saja tak mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang aku khawatirkan benar terjadi.
"Katakan sesuatu." Katanya mendesak.
"Kamu mau aku bilang apa?"
"Kamu tahu apa yang sebenarnya aku mau."
"Aku nggak bisa."
"Kenapa? Kamu nggak negrasain hal yang sama?"
"Nggak gitu..."
"Terus?"
"Aku gay. Aku biseks."
Armen terdiam. Raut mukanya yang sudah begitu tegang sejak memasuki cafe terlihat jauh semakin tegang. Aku tahu dia kaget tanpa harus melihat warna kulit wajahnya yang semakin memutih. Matanya masih lurus menatap mataku tanpa berkedip. Bukan tatapan yang mengintimidasi, justru menurutku itu adalah tatapan paling pasrah yang ia punya. Di dalam tatapan itu ada kebingungan dan ketidaktahuan besar tentang apa yang harus ia lakukan.
"Kamu tahu kenapa kita seperti orang yang tidak saling mengenal di dunia luar?" Lanjutku.
"....." Armen tak menjawab apa-apa.
"Bukan karena aku hanya memanfaatkanmu atau tidak mencintaimu..."
"....."
"...Aku hanya mencintaimu di atas tempat tidur. Aku hanya mencintai semua orang yang pernah bersamaku di atas tempat tidur."
"....."
"Tak ada perasaan yang bisa dibawa keluar dari tempat tidur untuk orang-orang sepertiku."
"....."
Armen masih terdiam. Perlahan ia melepaskan tatapannya dari mataku dan memejamkan matanya beberapa saat. Ia lalu menunduk dan menyeruput kopinya sekali lagi setelah menghembuskan napas panjang. Tarikan napas paling pasrah yang pernah kudengar darinya.
Di luar masih hujan dan wanita di depanku itu masih tak mengatakan apapun.
Minggu, 20 Januari 2013
Menjemput Rumah Impian
Jari-jarinya masih gemetar. Bukan karena sudah terlalu renta, hanya saja hari masih terlalu dini dan matahari belum siap hadir untuk menghangatkan. Kuduk-kuduk pada kulitnya yang mulai keriput berdiri menahan hawa dingin. Kulitnya legam. Rambutnya sudah memasuki periode perubahan warna, sehelai demi sehelai. Badannya kurus berbungkus kaos putih lusuh yang telah berubah menjadi cokelat. Kakinya hanya beralaskan sendal jepit yang tak tahu benar berpasangan atau tidak.
Namanya Wandi. Nama panjangnya Suwandi tanpa ada nama tengah atau belakang, atau ia hanya tidak tahu. Sekarang jam empat subuh dan sehari-harinya ia selalu terbit sebelum matahari. Ketika warna langit masih hitam, dengan atau tanpa bulan, ia akan berpamitan kepada istrinya dan melangkahkan kaki ke luar rumah. Tujuan yang selalu ia tuju sepagi itu adalah stasiun kereta. Stasiun kereta besar di kota tempatnya tinggal beberapa belas tahun terakhir, sebuah kota di bagian tengah pulau Jawa. Di sana, sebelum salah satu pusat keramaian kota itu dipenuhi manusia yang entah akan bepergian, datang, atau sekadar mengantar orang lain, ia akan bergegas mengambil sapu dan membersihkan stasiun.
"Pak Wandi, monggo kulo aturi ngunjuk kopi rumiyin, Pak." Sapa seorang ibu yang membuka warung kopi seadanya di sekitar stasiun, menawarkan segelas kopi untuknya.
"Oh, njeh pun mbotensah repot-repot. Taksih kathah ingkang perlu dipunsresiki niki." Tolaknya dengan halus karena tugas membersihkan stasiun masih banyak yang perlu dikerjakan.
"Mboten nopo-nopo. Kulo damelke kopi rumiyen sakderengipun kulo beres-beres kondur." Ibu pemilik warung kopi itu masih memaksa membuatkan kopi sebelum berberes pulang. Ia biasa membuka warung dari magrib sampai subuh dan akan pulang pada jam sisanya. Mungkin mengerjakan pekerjaan lain demi sesuap nasi.
"Oh, njeh pun menawi ngaten. Maturnuwun njih." Ia akhirnya mengiyakan tawaran segelas kopi.
Segelas kopi itu sesungguhnya tak akan menyelamatkannya. Tidak juga cukup sanggup mengurangi rasa kantuknya karena tak cukup tidur. Bukan karena terlalu banyak kesibukan yang harus dijalaninya sampai larut malam, hanya saja pikirannya sering sulit diajak tenang dan berhenti mengkhawatirkan kehidupannya. Lagipula, siapa yang mampu tidur nyenyak setiap malam jika pekerjaannya adalah tukang bersih-bersih stasiun kereta dengan istri seorang penjual gorengan keliling beranak satu yang masih balita dan bahkan belum terbayangkan bagaimana sosoknya mengenakan seragam sekolah.
Satu hal yang membuat pikirannya semakin enggan diajak beristirahat dua hari belakangan ini adalah anaknya yang sedang sakit. Demam tinggi yang tak mau turun apalagi meninggalkan tubuh anaknya telah membuyarkan seluruh konsentrasinya terhadap segala hal. Ia tak punya cukup uang untuk membawanya ke dokter, mengingat upahnya pekerjaannya tidak seperti jabatan cleaning service perusahaan besar yang formal dan berseragam. Ia bukan pegawai stasiun yang resmi statusnya dan resmi standar gajinya. Istrinya pun tak bisa berkeliling menjual dagangannya dua hari ini karena harus menjaga anak mereka yang sedang sakit.
Hari ini ia keluar rumah menuju tempat kerja, meninggalkan anak dan istrinya yang belum tidur semalaman karena anaknya terus memuntahkan apapun makanan yang masuk ke perutnya. Ia harus segera membawanya ke dokter. Besok. Ia yakin akan membawa anaknya ke dokter dan mendapat pengobatan yang pantas besok. Upahnya dan hasil dagangan istrinya memang belum cukup. Tapi malam ini malam tahun baru. Ia akan menjual terompet untuk menambah penghasilannya. Ia sudah menyiapkan segalanya dan ia yakin akan mendapat banyak penghasilan tambahan malam ini.
"Badhe tindak proyek, Pak Wan?" Seorang satpam ramah yang menanyakan apakah ia akan menuju proyek tempatnya menjadi buruh kasar, membuyarkan lamunannya.
"Njih niki, Pak." Ia menjawab dengan bersemangat, karena meskipun ia harus menuju tempat proyek dan menambah penghasilan dengan menjadi buruh kasar, kesuksesan penjualan terompet malam ini telah membayang-bayanginya.
"Nderekne ngatos atos njih, Pak."
"Matur suwun. Kulo mlampah rumiyin njih."
____________________________________________________
Dia duduk dengan daster lusuhnya di samping tempat tidur, menatap anaknya yang akhirnya bisa tidur setelah semalaman demam tinggi dan muntah-muntah. Ia mengusap kepala anaknya dengan sepenuh rasa iba, entah kepada anaknya yang sakit, kepada dirinya yang tidak mampu membawa anaknya ke dokter, atau pada nasib kehidupannya. Ia tak merasakan kantuk sama sekali meskipun rasanya sudah berbulan-bulan ia tak cukup tidur. Beberapa bahan makanan yang seharusnya digoreng dan dijualnya keliling kampung telah membusuk, tapi ia tak punya cukup ruang di dalam kepala untuk memikirkannya.
Ia ingin berjualan selagi anaknya tertidur, tapi ia takut akan terjadi sesuatu pada anaknya ketika ia pergi. Maka ia memilih menunggui anaknya. Tak apa, nanti malam adalah malam tahun baru dan suaminya akan pergi menjual terompet semenjak pulang dari pekerjaan buruhnya di proyek. Ia yakin suaminya akan mendapat banyak rejeki malam ini dan anaknya akan segera dapat diselamatkan dokter yang berkompeten besok.
"Bu..." Suara anaknya menyadarkannya dari lamunannya.
"Iya, Nak?"
"Haus..."
"Iya, Ibu jupukne wedhang sekedap." Ia mengiyakan permintaan anaknya dan mengambil air minum ke dapur.
Kaki telanjangnya yang kasar melangkah ke dapur rumah yang tak cukup layak ditinggali itu untuk mengambil segelas air. Anaknya baru tidur selama sejam dan sekarang terbangun lagi. Sungguh, ia tak pernah merasa segelisah ini. Anak satu-satunya itu belum genap lima tahun dan sudah harus menderita melawan penyakit yang entah apa. Ia perempuan, ia seorang ibu, dan hal itu sungguh menyiksa batinnya.
Ada sebuah rumah sederhana berlantai dua dan berisi perabotan lengkap yang dimilikinya. Rumah itu berdiri tegak di dalam impiannya dan impian itu sering menguntitnya ke mana-mana. Rumah itu tidak besar, hanya saja nyaman dan hangat. Warnanya cokelat bercampur krem bercampur apapun yang dikehendaki arsitek dan penata ruang yang di dalam impian itu mampu ia sewa jasanya. Halamannya cukup luas dan rindang, penuh dengan tanaman-tanaman yang rajin ia rawat setiap hari. Ia tak mampu membayangkan detail lain di dalam rumah itu selain tawa-tawa miliknya, suaminya dan anaknya terbang mengisi seantero udara di dalam rumah.
Nama perempuan yang telah menjadi ibu seorang anak itu Wulan. Mungkin ketika ia dilahirkan, orang tuanya menginginkan ia seperti bulan. Pada akhirnya ia seringkali bersinar penuh, kadang separuh, kadang tidak ada, dan kadang tertutup mendung. Imipannya masih menguntit langkah-langkahnya kembali dari dapur sambil membawa segelas air putih, sampai ia tiba di hadapan anaknya dan melihat keadaan anaknya. Kakinya lalu kembali menginjak realita yang pada sebagian besar waktu berusaha keras ia tahan untuk dikutuk.
____________________________________________________
Sejak pukul tiga sore ia sudah duduk di depan deretan atau lebih tepatnya disebut tumpukan terompet dagangannya. Jam kerjanya sebagai buruh kasar yang seharusnya berkisar dari jam delapan pagi sampai empat sore mendapat potongan hari ini. Ia diperbolehkan pulang jam dua siang tadi. Mungkin mereka yang punya jabatan lebih tinggi darinya juga ingin menikmati momen libur pergantian tahun lebih lama. Sekarang, matahari sudah kelelahan dan berpulang ke dalam hitam langit malam melalui jingga cakrawala yang sempat dilukisnya sebelum hilang. Jumlah terompet yang telah terjual olehnya masih dapat dihitung dengan jari-jari tangannya.
"Pak, terompetnya dua ya." Seorang pembeli menghampiri penjual terompet beberapa meter di sampingnya.
"Oh iya, Mbak."
"Berapa, Pak?"
"Dua puluh ribu."
"Ini, Pak. Terima kasih."
"Sama-sama, Mbak."
Lingkungan di sekitar balai kota tempat ia berjualan terompet itu ramai sekali. Mungkin karena akan dilaksanakan pesta kembang api di sini. Padahal akan ada pesta kembang api di mana-mana malam ini. Ini malam pergantian tahun. Atau mungkin karena ada beberapa panggung pertunjukkan musik di sini. Entahlah. Keramaian di sekitar balai kota tak juga bisa memberi keramaian penghasilan untuk dirinya. Ia tak tahu kenapa, tapi penjualan terompetnya tak cukup laku sebagaimana penjual-penjual lain di sampingnya.
Beberapa menit lagi langit akan dipenuhi pecahan cahaya kecil-kecil. Baru saja seorang pembeli meninggalkan tempatnya berjualan terompet dan pikirannya langsung berkelana jauh. Awalnya ke rumah, ke mata anaknya yang sedang sayu kesakitan dan senyum istrinya yang luruh oleh peluh. Setelah itu pikirannya sampai pada rumah impiannya.
Rumah itu sederhana, berlantai dua dan berisi perabotan lengkap. Rumah itu berdiri tegak di dalam impiannya dan impian itu sering menguntitnya ke mana-mana. Rumah itu tidak besar, hanya saja nyaman dan hangat. Warnanya cokelat bercampur krem bercampur apapun yang dikehendaki arsitek dan penata ruang yang di dalam impian itu mampu ia sewa jasanya. Halamannya cukup luas dan rindang, penuh dengan tanaman-tanaman yang rajin dirawat istrinya setiap hari. Ia tak mampu membayangkan detail lain di dalam rumah itu selain tawa-tawa miliknya, istrinya dan anaknya terbang mengisi seantero udara di dalam rumah.
Riuh suara mulai meledak. Suara terompet-terompet mulai bersahutan di antara lautan manusia. Tembakan-tembakan kembang api mulai terlontar ke langit. Gaduh di atas kepala, dan di sela kaki-kaki yang berdiri. Teriakan-teriakan yang terdengar seperti kebahagiaan terdengar dari mana-mana. Ucapan-ucapan selamat dari bibir ke bibir dilantunkan ramai sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan kalender sudah mengganti angka satuannya.
Kali ini ia tidak duduk di depan tumpukan terompet dagangannya yang masih menggunung. Ia lebih pantas dianggap terduduk tak berdaya. Langit semakin warna-warni, pikirannya semakin abu-abu dan hatinya semakin hitam. Ia menatap kosong ke langit tahun baru dan salah satu impian kelam yang bertolakbelakang dengan impian tentang rumah bahagianya mulai berkabut di dalam kepalanya.
Seiring dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyimpan kutukan-kutukan senyap tentang nasibnya, pikirannya sering menuliskan skenario bunuh diri untuknya. Kadang ia merasa kakinya harus melangkah ke arah rel kereta ketika bekerja membersihkan stasiun. Dengan demikian ia akan terlindas sempurna di antara gesekan besi-besi berkarat dan berpindah ke dunia yang ia harap lebih baik menuliskan nasibnya. Jika tidak, ia akan berharap tertimbun runtuhan suatu bahan bangunan yang berat. Dengan demikian dia akan terjepit di sela tanah dan material yang menimpanya diselingi darah yang mengalir deras di antaranya. Setelah itu ia mungkin akan membangun rumah impiannya di atas awan.
Jeritan terdengar dari arah jalan raya di sekitar balai kota, di dekat tempatnya berjualan. Sebuah motor melaju dengan cepat dan ugal-ugalan hampir menabrak seorang gadis. Ia lalu menyusun satu skenario lagi. Bagaimana jika ia menyeberang jalan di malam meriah yang dirayakan seluruh dunia ini, lalu ditabrak seorang pengendara motor yang sedang terlalu uforia. Kemudian ia akan terhempas bermeter-meter, kehilangan nafas dan terbang ke rumah impiannya di atas awan yang mungkin saja sudah selesai dibangun oleh Sang Pemberi Nasib Kehidupan.
____________________________________________________
Panas tubuh Bintang, anak satu-satunya itu semakin tinggi. Saat ini, tak ada yang lebih ramai dari pecahan kembang api di langit pergantian tahun dan kegelisahan di dalam hatinya. Baru saja anaknya muntah darah beberapa kali. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Ia tak bisa menanti suaminya pulang. Kepanikan menyerang seluruh otot tubuhnya. Tanpa pikir panjang, ia menggendong anaknya dan segera berlari ke rumah sakit terdekat. Masih dengan daster lusuhnya, masih dengan telapak kaki kasar yang katanya menyimpan surga.
Rumah sakit yang ditujunya sudah ada di depan mata. Beberapa langkah lagi dan ia akan menyelamatkan anaknya. Entah bagaimana ia akan membayar biaya rumah sakit, tak sempat terlintas di dalam kepalanya. Ia berlari menyeberang jalan dan entah dari mana datangnya, sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi tak mampu menghentikan laju kendaraannya atau paling tidak mengelak darinya yang menggendong anaknya di tengah jalan. Lampu motornya menyilaukan mata dan tak memberi kesempatan baginya untuk melakukan apapun. Secepat kecepatan cahaya itu pula ia melihat sinar yang sangat terang. Lalu ia sudah berada di atas awan, di depan rumah impiannya, dan masih menggendong anaknya.
______________________________________________________
Sebuah tembakan kembang api ke udara mengagetkannya. Ada yang tiba-tiba meledak di dalam perasaannya. Ledakan itu tak berwarna-warni seperti langit malam ini. Skenario-skenario kematian yang ia susun untuk dirinya agar bisa lari dari nasib buruk kehidupannya dan langsung menemui Sang Pemberi Nasib Kehidupan buyar seketika. Tiba-tiba semuanya kosong meskipun riuh suara perayaan masih ada di sekelilingnya. Pikirannya kosong. Hatinya kosong.
Dengan dilatarbelakangi hitam langit, pecahan-pecahan kecil api warna-warni berhamburan. Tak ada yang lain selain itu di atas sana. Bulan dan bintang tak tampak karena ditutupi mendung. Mungkin mereka berada di lapisan langit yang lebih tinggi, sedang melihatnya dari ketinggian surga.
______________________________________________________
Sabtu, 15 Desember 2012
Merah Yang Memudar Jingga
Aula besar tempat acara dilaksanakan di dalam sana ramai sekali. Manusia-manusia berbalut gaun dan jas rapi begitu cantik dan tampan berkeliaran di sana-sini. Wajah-wajah mereka bahagia. Ada juga beberapa yang yang mengenakan wajah gelisah, menunggu giliran untuk menyampaikan perasaan terpendamnya kepada sesosok manusia istimewa yang sudah bertahun-tahun dipuja.
Malam ini, di sebuah gedung yang aulanya kami sewa di pusat kota, aku dan sekelompok temanku membuat sebuah acara angkatan. Acara semacam prom night kesiangan karena kami bukan lagi rombongan anak SMA yang baru lulus ujian akhir, melainkan sekumpulan mahasiswa tingkat akhir yang sedang terluntang-lantung dikerjai tugas akhir. Acara ini kami buat mengingat satu-persatu teman seperjuangan yang telah memenangkan perangnya dengan sesosok musuh bernama skripsi sudah mulai lulus satu-persatu dan akan segera memulai kehidupannya yang baru. Sekedar menciptakan momen yang dapat diingat, acara ini menjadi penggenap satu acara dengan konsep sama yang pernah kami buat di awal kuliah untuk lebih menyatukan teman-teman seangkatan dari gab kelompok pergaulan masing-masing.
Ruangan semakin pengap. Riuh suara-suara yang meledek setiap orang yang sedang maju ke atas panggung dan menyatakan perasaan terpendamnya selama bertahun-tahun semakin menggema. Ya, ini salah satu konsep yang secara tidak sengaja dilaksanakan dalam acara. Dimulai dari salah satu temanku yang memberanikan diri menyampaikan perasaannya kepada perempuan yang sudah bertahun-tahun dia puja diam-diam, pengakuan-pengakuan lainnya segera mengantri untuk mengaliri ruangan. Ternyata banyak cinta yang tersimpan di antara kami selama ini.
Aku melangkah keluar ruangan sambil tersenyum-senyum melihat perilaku teman-temanku. Aku sempat begitu menyukai salah satu teman baikku, tapi rasanya aku tidak mememuhi persyaratan untuk ikut menghebohkan bagian acara tersebut. Rata-rata orang yang sedang berdiri mengaku di atas panggung sudah menyimpan perasaannya lebih dari dua tahun.
"Mau ke mana, Dil?"
"Ke depan bentar, sumpek."
"Eh, lagi seru gini juga."
"Hahahaha... Iya, ya udah biarin aja mereka."
"Kan siapa tahu tiba-tiba ada yang ngaku ke kamu, Dila."
"Yah, kalo ada suruh teriak yang kenceng biar kedengeran dari luar ya."
"Sial. Hahahaha..."
Aku melangkah meninggalkan Sela yang tadi menyapaku. Gedung ini berada di pinggir salah satu jalan raya utama kota. Aku duduk sendirian di pojok teras depan gedung, menghadap jalan raya. Rok yang kukenakan tak kupedulikan lagi jika harus kotor terkena sesuatu. Aku mengeluarkan rokok dan korek api dari dalam tas pestaku dan membakar sebatang.
Dibandingkan mengingat salah satu teman dekatku yang pernah aku hujani rasa suka, aku justru terjebak dalam rasa sakitku yang bekasnya masih berwujud ruam di seluruh permukaan hatiku. Melepaskan apa yang sudah begitu dimiliki memang bukan hal mudah, toh melepaskan perasaan dari sesuatu yang tak pernah dimiliki saja seringkali sulit untuk dilakukan.
Aku pernah begitu memiliki seseorang, paling tidak begitulah menurutku. Aku rasa, ketika itu kami bahkan terlalu memiliki dan melewati batas. Aku merasa aku punya hak apapun atasnya, dan begitupun sebaliknya. Tak perlu momen-momen bahagia untuk membuat kami terus terikat, keburukan-keburukan yang telah kami ciptakan berdua justru menjadi alasan untuk tak pernah mampu melepaskan diri dari satu sama lain. Bertahun-tahun hal itu terjadi di antara skala-skala waktu yang tak pernah kami pahami dan tak mampu kami taklukkan.
Sekarang dia telah sadar. Dia lebih dulu mengambil keputusan untuk menebalkan pertahanannya dan meninggalkanku. Setelah dari dulu kami tahu bahwa tak akan ada yang membaik, tanpa mampu bergerak meninggalkan, sekarang dia menguatkan kakinya lebih dulu untuk melangkah pergi dan menyelamatkan kami. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Seharusnya aku sedang menjadi gila dan memohon-mohon kepadanya, seperti bagaimana dia dulu pernah lakukan kepadaku, tapi aku juga sadar bahwa aku harus membantu memutuskan lingkaran karma tempat kami bermain selama ini.
Aku tahu aku akan baik-baik saja. Aku hanya sedikit suka untuk duduk lebih bungkuk dari biasanya. Sepertinya ada beban yang setengah mati aku keluarkan dari dalam hatiku dan kutumpu di atas bahuku. Beban itu berwujud sosoknya. Sosok yang sudah terbang dan berbahagia dia langitnya sendiri. Seharusnya karena dia telah terbang, bahuku semakin lega. Mungkin seperti inilah definisi dari baik-baik saja; hati yang masih berbekas ruam dan kepala yang keberatan mengingat.
"Ngapain lo?"
"Eh, Dim. Ga ngapa-ngapain. Sumpek aja di dalam. Mau ngerokok."
"Bagi rokok dong."
Sejurus kemudian aku menyodorkannya sebungkus rokok yang kupunya dan meminjamkannya korek api. Kami lalu duduk berdua di pojok teras depan gedung yang menghadap jalan raya. Dalam diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing yang melayang di antara bintang yang kebetulan begitu terang malam ini. Kami hanya terdiam mengamati asap rokok yang mengaburkan cahaya dari deretan lampu jalan yang jingganya tampak selalu sendu.
Namanya Dimas. Temanku semenjak aku baru masuk perguruan tinggi. Anggap saja dia teman dengan multiperan. Biasanya dia adalah teman tidur siang, lebih tepatnya teman yang kasur di kamar kosnya aku rebut secara membabi buta setiap aku butuh tempat untuk merebahkan kelelahan fisik maupun batinku. Dia teman bercerita tentang segala hal yang pernah eksis di muka bumi atau di dalam pikiran manusia. Dia abangku. Dia pacarku ketika beberapa momen menuntut dan memaksa manusia untuk harus berpasangan, momen malam minggu misalnya. Dia lawan debatku. Sampai-sampai peran teman curhat sudah tidak begitu signifikan lagi. Aku bahkan tak perlu mencurahkan apa-apa dan dia sudah tahu dengan sendirinya. Dia teman yang sempat aku curahi perasaan suka namun aku genangi di dalam hatiku sendiri. Kebersamaan kami sudah membuat perasaan itu tidak menjadi suatu hal luar biasa lagi. Lagipula, aku tak yakin banyaknya peran yang dia lakoni denganku selama ini bersedia ia rangkum hanya menjadi satu peran -- pacarku.
"Udah sih, sedih mulu. Malesin."
"Dih! Tau apa lo?"
"Semuanya."
"Iya deh, iya..."
"Punya beberapa menit buat dengerin gue ga?"
"Kalo sampe 10 menit, ga punya."
"Anggap aja lo itu merah. Kalo lo ngerasa lo udah pudar, gue mau kasi tau lo kalo jingga juga cantik kok. Walopun menurut gue, lo masih tetep merah."
"....."
"Ga sampe dua menit kan?"
"....."
Aku hanya menatap wajahnya dalam-dalam. Dia merangkulku dan aku memeluknya. Setelah itu dia langsung mematikan rokoknya dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Suara-suara dari dalam masih sangat riuh. Aku kembali menerka-nerka langit sendirian. Aku mcasih tak ingin bergumul dengan kerumunan manusia yang sedang uforia.
Tiba-tiba saja Sela berlari ke arahku dari dalam ruangan sambil meneriakkan namaku dengan heboh. Dia langsung menarikku sekuat tenaga tanpa mau tahu dengan keadaanku dan membawaku ke depan panggung. Ramai sekali. Semua orang menyorakiku sambil tertawa-tawa menggodaku. Aku kebingungan. Berisik sekali. Satu-satunya hal yang masih sempat kucerna di dalam otakku adalah aku melihat Dimas ada di atas panggung.....
.....
Aku memang adalah merah yang sempat memudar dan berubah menjadi jingga. Dengan sorot mata dan jari-jarimu yang menggenggam tanganku, kamu tawarkan kepadaku dua pilihan untuk aku yakini; aku masih merah, atau jingga tetap cantik. Entah apa yang waktu itu kupilih. Yang aku tahu sekarang, aku adalah merah.
Jumat, 02 November 2012
Cerita-cerita Yang Dikisahkan Di Dalam Kepala
Pukul 18.30. Aku sudah duduk manis di depan monitor komputer operator internet cafe tempat aku bekerja sekitar setahun belakangan. Shift kerjaku hari ini baru akan dimulai setengah jam lagi. Tapi tak apa, toh aku juga tidak sedang memiliki kegiatan lain yang harus membuatku datang terlambat atau terlalu kelelahan dan datang tepat waktu. Seharian ini aku hanya berkeliaran di atas kasurku, kecuali pada jam makan siang tadi ketika aku diminta Imam untuk mengantarnya ke rumah sepupunya. Seperti itulah aku menghabiskan waktuku hampir setahun ini sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tidak memiliki kapasitas motivasi di atas rata-rata untuk bisa menyelesaikan tugas akhirnya tepat waktu, meskipun aku memiliki kapasitas kognitif di atas rata-rata. Untuk itu juga aku mengisi waktu bekerja disini demi sedikit menyelamatkan hidupku yang monoton. Sudahlah. Lupakan saja hidupku yang monoton dan tak punya esensi untuk diceritakan. Ini sudah pukul tujuh lebih 15 menit dan ada seorang wanita cantik yang membuka pintu warnet. Aku sering melihat dia datang ke sini. Dia wanita yang selalu menyanyikan semua lagu yang aku putar ketika sedang merajai playlist sebagai operator. Tapi ada yang berbeda dari wanita ini. Kali ini ia sudah mengkonsumsi waktuku lebih dari 5 menit untuk tenggelam ke dalam ketidaksadaran karena terlalu serius mengamatinya.
"Selamat malam. Silakan nomornya."
*****
Pukul 19.00. Aku kelelahan setelah pulang dari kantor tempat aku magang. Meskipun demikian, dibandingkan istirahat, aku memilih keluar lagi dan menyegarkan pikiranku. Aku mau ke warnet dekat kosku. Kebetulan wifi di kos sedang terganggu. Mungkin aku akan mengambil beberapa film dari koleksi lengkap warnet itu untuk kutonton malam ini, toh besok hari sabtu dan aku tidak berangkat ke kantor. Atau mungkin aku akan menulis sesuatu untuk blogku. Atau aku bisa mencari lowongan pekerjaan selain memeriksa hasil lowongan lain yang telah kulamar. Atau aku hanya akan melihat-lihat video di youtube. Apapun itu, aku mau keluar dan menghirup udara malam kota paling nyaman yang pernah kutempati, udara malam yang beberapa waktu lalu ketika hidupku masih hanya tentang bersenang-senang, selalu aku nikmati setiap hari sampai pagi menjelang. Setelah itu aku akan mencari makan malam. Mungkin sendiri atau mengajak siapa, entahlah. Aku sampai di warnet tepat pukul tujuh lewat 15 menit. Aku langsung menuju meja operator untuk mengambil nomor bilik. Penjaga warnet yang meyambutku tampan. Aku sering melihatnya, dia operator yang selalu memainkan lagu-lagu kesukaanku. Memang kebetulan, tapi baru kali ini dia mencuri kesadaranku dan membuatku memperhatikannya lebih dari biasanya.
"Oh iya. Makasih, Mas."
_________________________________________________________________
Pukul 20.05. Hari ini aku menjalani hariku dengan sedikit berbeda. Sedikit saja. Sepanjang siang setelah bimbingan skripsi yang tidak memberiakanku pencerahan dan jalan keluar kecuali membuatku semakin bingung, aku menemani Riska mencari buku. Riska itu pacarku. Sudah hampir empat tahun aku mengahbiskan hidupku menyandang status sebagai kekasihnya. Sudah empat tahun juga aku mengisahkan berbagai rasa dari satu kisah yang sama, mulai dari manisnya tahun pertama, pahitnya tahun kedua, pahit yang dipaksakan menjadi manis tahun ketiga, sampai pada tahun keempat dimana aku rasa aku tidak merasakan apa-apa lagi. Dan tentang 'kencan' kita tadi, aku merasa tidak lebih dari melaksanakan tugas dan peran yang seharusnya aku lakukan atas status yang aku sandang. Riska itu sesosok wanita manis yang biasa saja, tergolong kalem, dan membosankan. Tapi entah mengapa aku bisa bertahan selama ini bersamanya dengan berbagai krisis yang sudah membuatku muak sampai mati rasa. Mungkin aku terlalu pemalas untuk memanfaatkan wajah tampan, pembawaan menarik dan kecerdasan yang aku punya. Lima menit lagi setengah sembilan malam dan pintu warnet terbuka oleh dua orang pelanggan. Wanita cantik yang waktu itu bersama seorang lelaki yang aku rasa pacarnya. Sepertinya ada sedikit kecewa mengetuk-ngetuk hatiku dari dalam.
"Silakan. Maaf, tinggal yang smoking."
*****
Pukul 19.25. Aku makan malam bersama Tedi setelah hari yang panjang dan melelahkan di kantor. Seharian aku bekerja, yang lebih tepatnya belajar, dan seharian juga aku tak tahu apa yang Tedi lakukan selain kuliah jam setengah 10 pagi sampai jam setengah empat sore dengan waktu istirahat siang jam 12 sampai jam satu. Aku memang jarang mencari tahu tentang kegiatannya jika memang bukan dia sendiri yang menceritakan. Aku lebih memilih tidak peduli daripada menuruti atau bahkan memaksakan keingintahuanku yang mungkin saja akan membuat ia lama kelamaan lelah mengahadapinya. Aku memilih diam daripada meributkan ketakutanku jika ia mengkhianatiku lalu membuatnya muak dan pada akhirnya sama saja meninggalkanku. Tedi itu pacarku. Kekasih yang sudah sekitar dua tahun menemaniku, meski entahlah, aku rasa ada yang salah dengan hubungan kita. Hubungan yang pada awalnya sama dengan sepasang-sepasang orang lainnya, sama-sama berada dalam tahap kebahagiaan diolok cinta, namun kemudian berubah mengikuti sebuah pepatah yang berkata bahwa satu-satunya hal yang pasti dan tetap adalah perubahan. Pukul setengah sembilan kurang lima menit kita sampai di warnet setelah makan malam karena Tedi ingin mengunduh sesuatu dari email-nya. Mataku lalu menemukan penjaga warnet tampan itu lagi. Kali ini matanya menatapku lama dan tajam. Ada rasa penasaran bercampur kesal tersorot dari sana.
"Iya, Mas. Ga apa-apa."
_________________________________________________________________
Pukul 23.10. Aku masih di depan layar monitor PC di warnet yang hampir setiap malam aku datangi, dan lebih tepatnya tunggui. Sudah beberapa bulan terakhir aku bertahan dengan shift malam. Sesungguhnya aku memang menikmatinya dan belum ingin bertukar shift demi membantu diriku sendiri menangani insomniaku. Malam ini udara agak lain dari biasanya. Sepertinya suhu turun beberapa derajat pertanda hujan deras akan segera turun. Tak apalah, kota ini sudah terlalu panas akhir-akhir ini dan masih lama waktu sebelum shift-ku habis jam 3 pagi, jadi tak masalah. Satu-satunya masalah adalah aku baru saja putus dengan Riska kemarin malam. Sesungguhnya aku bahkan tak benar-benar yakin itu adalah masalah untukku karena rasanya tak ada yang berubah, mulai dari keadaan fisik, mental atau bahkan hatiku. Tepat jam setengah 12 hujan turun dengan deras. Bersamaan dengan itu wanita cantik pelangganku tiba membuka pintu warnet. Tubuhnya sedikit basah. Tapi matanya sembab luar biasa. Ia langsung mengambil nomor dan pergi ke biliknya tanpa aku sempat mengatakan apapun.
"....."
*****
Pukul 22.30. Sudah hampir setengah jam aku berkutat dengan perkelahianku dengan Tedi. Dia terbukti selingkuh. Entah apa yang aku ributkan dengannya sampai seluruh air mataku harus terbuang. Sejak lama aku hanya punya dua pilihan, dia mengkhianatiku karena aku tak begitu memperhatikannya atau dia meninggalkanku karena aku teralu mengganggunya dengan perhatianku yang meresahkan. Langit di luar mendung. Tak ada bintang satupun di atas sana. Dan bersama dengan pertengkaran hebat ini, aku semakin merindukan hujan. Aku sadar aku tak perlu menyianyiakan tenagaku sebanyak ini. Ada sesuatu yang harus aku pelajari untuk dilepaskan. Sesuatu yang aku sudah tidak punya kontrol lagi atasnya. Jam setengah 12 setelah beberapa ratus menit yang begitu melelahkan untukku, aku akhirnya pergi meninggalkannya. Aku tak tahu harus ke mana. Di jalan, hujan turun dan aku akhirnya berlabuh di warnet langganan dekat kosku. Ada lelaki tampan penjaga warnet itu lagi. AKu bahkan tak menatapnya, tidak dengan tampilan wajahku yang sedang seperti ini.
"....."
_________________________________________________________________
Pukul 3.00. Aku bersiap untuk pulang. Sejak tadi aku memikirkan apa yang terjadi pada wanita itu. Aku memikirkannya lebih dari aku memikirkan statusku yang baru saja jomblo. Bersamaan dengan aku mengenakan jaketku, wanita itu keluar untuk membayar bill-nya. Dia menatapku sekilas dan tersenyum padaku. Kita lalu keluar pintu warnet itu bersama-sama menuju tempat parkir. Hujan baru saja reda.
*****
Pukul 3.00. Aku sudah cukup tenang. Aku lelah. Mungkin selain pelarian sementara di warnet ini, aku butuh tidur. Tidak, aku tidak apa-apa, aku sudah tenang dan tidak peduli lagi. Aku keluar membayar bill ketika lelaki penjaga warnet itu juga sedang bersiap pulang. Aku tersenyum padanya. Kita lalu keluar pintu warnet itu bersama-sama menuju tempat parkir. Hujan baru saja reda.
*****
"Kamu ga apa-apa pulang jam segini?"
"Hahahahaha... Udah biasa. Lagian kosku deket."
"Di mana?"
"Ini ke utara dikit, terus masuk belok kanan di gapura merah samping warung nasi uduk itu."
"Oooh..."
"Kamu abis shift jam segini?"
"Iya, abisnya jam tiga."
"Kamu udah lama di sini?"
"Lumayan, setahunan. Maklum, mahasiswa mandeg TA."
"Cepetan lulus, masih banyak kemandegan yang menanti di depan."
"Hahahaha... Iya sih, bertahan sama kegalauan level ini lama-lama cuma nunda banyak kegalauan lainnya di masa depan yang bakal tetep terjadi."
"Nah, itu ngerti. Emang kuliah di mana? Angkatan berapa?"
"UGM. Arsitek 2008. Kamu?"
"Psikologi 2008, UGM juga. Tapi udah lulus, udah dibikin bingung sama kesulitan-kesulitan hidup lanjutan."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Eh abis ujan nih, kamu ga bawa jaket apa?"
"Ga. Udah, ga apa-apa. Deket ini kok. Tadi buru-buru."
"Yakin ga kenapa-kenapa?"
"Iya, ga."
"Bukan dinginnya, kamunya."
"Hahahahaha... Dipaksain aja biar ga kenapa-kenapa."
"Yaudah, hati-hati ya. Eh, aku Nino."
"Aku Tisa."
"Sampai ketemu lagi."
"Iya, makasih ya."
*****
Ada sesuatu yang baru saja aku mulai di dini hari ini.
_________________________________________________________________
Langganan:
Postingan (Atom)








