Bapak, semalam aku bermimpi tentang ombak. Garisnya persis seperti rambut putih di atas kepalamu. Aku telah pandai membaca dalam laut di atas kepalamu. Tapi aku tak cukup pandai menghitung musim, bahwa sekarang telah penghujan. Bahwa badai kerap terjadi dan ombak-ombak itu kerap meninggi.
Ibu, semalam aku bermimpi tentang setapak-setapak di kaki bukit. Liuknya persis seperti kerut di sudut-sudut matamu. Aku telah cukup pandai menghitung batu di sepanjang jalan pulang. Tapi aku tak cukup pandai menerka kabut, bahwa sekarang malam telah turun. Bahwa setapak-setapak itu tak lagi terlihat.
Bapak, semalam aku bermimpi duduk bersamamu, di teras rumah, menghadap pantai. Kau bercerita padaku perihal masa lalumu, perihal kebun cengkeh yang kaupanen dan singkong rebus yang kaulahap setelahnya. Aku bilang itu dongeng. Kau bersikeras itu nyata. Aku bercerita padamu perihal masa kiniku, perihal langit malam yang merah dan bintang yang telah punah. Kau bilang itu dongeng. Aku bersikeras itu nyata.
Ibu, semalam aku bermimpi berbaring bersamamu, di atap rumah, menghadap bulan purnama. Kau bercerita padaku perihal masa lalumu, perihal rambut yang kau pelihara panjang-panjang dan nenek yang rutin menyisirnya. Aku bilang itu dongeng. Kau bersikeras itu nyata. Aku bercerita padamu perihal masa kiniku, perihal isi kepala manusia-manusia yang rutin meledak dan kabut racun yang menyesakinya. Kau bilang itu dongeng. Aku bersikeras itu nyata.
Bapak, aku bermimpi kau berpesan kepadaku. Katamu, jika langit memang sudah kosong, aku bahkan tak perlu merisaukan petir.
Ibu, aku bermimpi kau berpesan kepadaku. Katamu, jika udara memang sudah tak menghidupi, aku bahkan tak perlu mengkhawatirkan tanah dan apa-apa yang terjadi di atasnya.
Tampilkan postingan dengan label Letter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letter. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 April 2015
Selasa, 30 September 2014
Delapan Puluh Tiga Tahun Opa Baik Hati
Pada akhirnya, bekerja bukanlah tentang apa yang kauberikan kepada pekerjaanmu, bukan pula tentang apa yang pekerjaanmu berikan kepadamu, melainkan tentang apa yang kauberikan kepada dirimu sendiri melalui pekerjaanmu.
Pada akhirnya, bekerja bukan tentang dedikasi, bukan pula tentang benefit, tapi tentang idealisme dan nilai yang kauanut sendiri, di dalam dirimu sendiri, dan untuk rasa penuhmu sendiri.
Yogyakarta, 27 September 2014.
Selamat ulang tahun yang ke-83, Opa Jacob. Aku tak habis terkagum-kagum padamu, lalu tak habis bertanya-tanya tentangmu. Terkagum-kagum lagi, lalu bertanya-tanya lagi.
"Apa yang ada di dalam kepala tiga-puluh-sekian-tahun-mu dulu ketika memulai semua ini? Apa alasanmu ketika itu? Apa bayanganmu ke depannya pada saat itu?"
"Apa yang ada di dalam kepala delapan-puluh-sekian-tahun-mu sekarang setelah semuanya sejauh ini?"
Aku bergabung di rumah ini 50 tahun kemudian. Ketika rumah ini sudah besar. Ketika nilai-nilai yang katanya adalah nilai-nilai yang kaupegang kuat-kuat, diagung-agungkan dimana-mana. Karena nilai-nilaimu baik, katanya.
Kau memang orang baik. Sejauh ini kau masih orang baik walaupun manusia memang terbuat dari setumpuk kepentingan. Semoga kepentinganmu memang baik dan akan tetap baik.
Tapi, Opa, tidak semua orang punya nilai yang sama dengan apa yang kaupegang. Lagipula nilai yang baik belum tentu bisa dieksekusi dengan cara yang baik. Banyak anakmu yang (merasa) mengerti, tapi lebih banyak lagi yang tidak mengerti. Bisakah pertanyaanku dijawab? Biar jadi pemahaman bagi kami semua yang (merasa) paham ataupun yang tak paham ini. Atau apalah, biar jadi pemahaman untukku sendiri.
Pada akhirnya, bekerja adalah tentangmu dan dirimu sendiri. Sisihkanlah waktu yang banyak untuk bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang ingin kaucari dan dapatkan dari hidupmu. Setelah kautahu jawabannya, bangunlah keyakinan atas jawabanmu itu. Jika keyakinanmu tak sesuai dengan keadaanmu saat ini, menyerahlah. Carilah cara untuk menyesuaikannya tanpa perlu membangun tendensi negatif (ataupun positif) apapun tentang apa yang ada di luar dirimu.
Panjang umur, Opa Jacob. Semoga nilai-nilai yang kaupelihara di dalam dirimu, dipelihara waktu di dalam diri anak-anakmu ini.
Sabtu, 22 Maret 2014
Bintang Terbang
Bintang tidak jatuh di sini, Sayang
Ia tahu persis tak akan ada yang mau menangkapnya
Bahkan langit malam hilang ingatan
Sampai lupa warna diri sendiri
Ia terus membenturkan kepalanya ke tembok petir
Sampai darah keluar melalui hujan
Lalu ia bercermin di wajah tanah
Yang juga terus menangis sesenggukan
Tapi kau harus mengangkat dagumu, Sayang
Mendongakkan kepala menatap wajah langit
Yang hitam dan muram
Akan kau temukan cahaya bergerak pelan sekali
Bukan jatuh, tapi terbang
Ketika itu kau berkenalan dengan harapan
"Kalau tidak ada bintang jatuh,
tetaplah menatap langit
Akan ada pesawat terbang
Cahayanya bergerak lebih lama,
maka kamu bisa melafalkan
doa yang lebih panjang"
Satu dari sekian keluhan tentang Jakarta
Jakarta, 18/6/13, dini hari
Ia tahu persis tak akan ada yang mau menangkapnya
Bahkan langit malam hilang ingatan
Sampai lupa warna diri sendiri
Ia terus membenturkan kepalanya ke tembok petir
Sampai darah keluar melalui hujan
Lalu ia bercermin di wajah tanah
Yang juga terus menangis sesenggukan
Tapi kau harus mengangkat dagumu, Sayang
Mendongakkan kepala menatap wajah langit
Yang hitam dan muram
Akan kau temukan cahaya bergerak pelan sekali
Bukan jatuh, tapi terbang
Ketika itu kau berkenalan dengan harapan
"Kalau tidak ada bintang jatuh,
tetaplah menatap langit
Akan ada pesawat terbang
Cahayanya bergerak lebih lama,
maka kamu bisa melafalkan
doa yang lebih panjang"
Satu dari sekian keluhan tentang Jakarta
Jakarta, 18/6/13, dini hari
Selasa, 22 Oktober 2013
Malam Ini Aku Mau Menulis Surat...
Malam ini aku mau menulis surat untuk Ibu dan Bapak.
Malam ini aku mau menulis surat untuk dua pasang mata yang sorotnya hanya cukup untuk menyimpan aku dan rindu untukku.
Malam ini aku mau menulis surat maaf, di waktu lain aku akan menulis lagi surat terima kasih, karena surat untuk mereka hanya bisa berisikan dua ucapan itu.
Malam ini aku mau menulis; Ibu, Bapak, maaf. Ketika aku kini selalu tak punya waktu, kalian selamanya hanya punya aku.
Malam ini aku mau menulis surat untuk dua pasang mata yang sorotnya hanya cukup untuk menyimpan aku dan rindu untukku.
Malam ini aku mau menulis surat maaf, di waktu lain aku akan menulis lagi surat terima kasih, karena surat untuk mereka hanya bisa berisikan dua ucapan itu.
Malam ini aku mau menulis; Ibu, Bapak, maaf. Ketika aku kini selalu tak punya waktu, kalian selamanya hanya punya aku.
Sabtu, 21 September 2013
Catatan Manusia Patah
Catatan yang harus dicatat karena tercatat sebagai catatan penting
Jakarta
Sekitar pukul satu malam
Sepuluh Mei Dua Ribu Tiga Belas
Satu
Catatan ini penting, sepenting rokok yang harus aku bawa ketika buang air besar seperti sekarang ini
Dua
Buku catatan ini menjadi sama penting dengan rokok untuk dibawa karena aku harus segera membakar dan menghisap isi kepalaku sendiri, lalu membuang abunya ke atas kertas ini sebagai surat
Tiga
Aku harus segera mencatat catatan ini setelah mengendap-endap ke kamarmu untuk meminjam korek api karena korek apiku hilang, sebelum kamu pulang dan mengubah isi kepalaku seperti semula ketika catatan ini belum ada di dalamnya
Empat
Ini sudah rokok kedua di atas kloset sambil memangku buku catatan dan aku harus segera menuliskan pesan yang sesungguhnya ditujukan padamu
Lima
Aku ingin kamu tahu kalau aku sudah menduga semuanya, dan kamu seharusnya sudah tahu kalau aku baik-baik saja selama kamu merasa semua ini baik-baik saja untuk dilakukan
Enam
Kamu tidak bisa menghancurkan sesuatu yang memang sudah hancur, karena pot bunga yang terbelah dua dan pot bunga yang hancur berkeping-keping hanya akan diketahui sebagai pot bunga yang pecah, demikianlah aku; pot bunga itu
Tujuh
Lorong menuju pulang yang gelap tadi sempat menggelapkan harapanku dengan bayangan bahwa apa yang aku ketahui bukanlah kebenaran, tapi begitulah kebenaran yang ada, bahwa harapanku bukan salah satu di antaranya
Delapan
Aku ingin menyampaikan catatan ini langsung kepadamu sesegera aku mencatatnya di kamar mandi seperti ini, tapi kamu belum juga pulang dan mataku ingin segera mengawini kasurku
Sembilan
Ini sudah batang rokok ketiga di atas kloset dan tak ada lagi yang ingin aku buang termasuk pikiranku atau catatan ini sekalipun
Sepuluh
Angkanya sudah genap lagi dan kamu harus paham bahwa aku adalah manusia, meski manusia patah sekalipun, jika saja kamu lupa
Jakarta
Sekitar pukul satu malam
Sepuluh Mei Dua Ribu Tiga Belas
Satu
Catatan ini penting, sepenting rokok yang harus aku bawa ketika buang air besar seperti sekarang ini
Dua
Buku catatan ini menjadi sama penting dengan rokok untuk dibawa karena aku harus segera membakar dan menghisap isi kepalaku sendiri, lalu membuang abunya ke atas kertas ini sebagai surat
Tiga
Aku harus segera mencatat catatan ini setelah mengendap-endap ke kamarmu untuk meminjam korek api karena korek apiku hilang, sebelum kamu pulang dan mengubah isi kepalaku seperti semula ketika catatan ini belum ada di dalamnya
Empat
Ini sudah rokok kedua di atas kloset sambil memangku buku catatan dan aku harus segera menuliskan pesan yang sesungguhnya ditujukan padamu
Lima
Aku ingin kamu tahu kalau aku sudah menduga semuanya, dan kamu seharusnya sudah tahu kalau aku baik-baik saja selama kamu merasa semua ini baik-baik saja untuk dilakukan
Enam
Kamu tidak bisa menghancurkan sesuatu yang memang sudah hancur, karena pot bunga yang terbelah dua dan pot bunga yang hancur berkeping-keping hanya akan diketahui sebagai pot bunga yang pecah, demikianlah aku; pot bunga itu
Tujuh
Lorong menuju pulang yang gelap tadi sempat menggelapkan harapanku dengan bayangan bahwa apa yang aku ketahui bukanlah kebenaran, tapi begitulah kebenaran yang ada, bahwa harapanku bukan salah satu di antaranya
Delapan
Aku ingin menyampaikan catatan ini langsung kepadamu sesegera aku mencatatnya di kamar mandi seperti ini, tapi kamu belum juga pulang dan mataku ingin segera mengawini kasurku
Sembilan
Ini sudah batang rokok ketiga di atas kloset dan tak ada lagi yang ingin aku buang termasuk pikiranku atau catatan ini sekalipun
Sepuluh
Angkanya sudah genap lagi dan kamu harus paham bahwa aku adalah manusia, meski manusia patah sekalipun, jika saja kamu lupa
Rabu, 14 Agustus 2013
Trilogi Kehilangan: Bagian Tiga
Sepucuk surat untukmu:
Sebesar-besarnya harapan untuk bersamamu adalah bisa membicarakannya. Melafalkan perkara-perkara besar yang tak pernah ada di dalam percakapan-percakapan kecil kita. Tapi lilin sudah lebih dulu padam. Balon sudah lebih dulu pecah. Jam sudah lebih dulu berdentang dua belas kali. Dan aku sudah lebih dulu mati di bibir dan matamu.
Jakarta, 14 Agustus 2013
Sebesar-besarnya harapan untuk bersamamu adalah bisa membicarakannya. Melafalkan perkara-perkara besar yang tak pernah ada di dalam percakapan-percakapan kecil kita. Tapi lilin sudah lebih dulu padam. Balon sudah lebih dulu pecah. Jam sudah lebih dulu berdentang dua belas kali. Dan aku sudah lebih dulu mati di bibir dan matamu.
Jakarta, 14 Agustus 2013
Minggu, 28 Juli 2013
Mengisahkan Mimpi
Selamat malam.
Untukmu, kusampaikan selamat yang kedua setelah selamat pembuka tulisan, atas kesempatanmu menerima surat ini.
Surat pertama yang kusampaikan kepada seluruh dunia kecuali kepadamu.
Surat kesekian di antara surat-surat lain yang selama ini hanya diselipkan melalui bawah pintu kamarmu yang terkunci rapat, serupa harapanku untuk bisa terus bersamamu.
Surat pertama yang lahir dari tarian jariku di atas deretan tombol huruf, setelah sekian surat yang lahir dari tarian penaku di atas kertas.
Pena yang sudah kuhancurkan kemarin untuk melampiaskan emosi yang tak cukup habis kulampiaskan dengan cara mengukir tintanya di atas kertas.
Aku ingin membicarakan tentang mimpi.
Mimpimu, mimpiku dan semoga saja, mimpi kita.
Mimpi-mimpi yang senang kita mimpikan bersama-sama sepanjang lelap dan jaga yang kita lakoni.
Mimpi-mimpi yang kemarin baru saja kau pertanyakan umurnya.
Akankah ia dijemput malaikat kematian dalam waktu dekat?
Atau sanggupkah ia menahan lagu pemakaman agar dinyanyikan setelah ia menjadi kenyataan?
Entahlah.
Tapi kau tak perlu cemas.
Kecemasan adalah tamu yang senang mengunjungi orang-orang lemah.
Bukan orang-orang dengan kekuatan super bernama keyakinan seperti dirimu.
Aku ingin membicarakan tentang kisah yang tak pernah selesai.
Atau paling tidak, begitulah menurutmu.
Sekali lagi, kau tak perlu cemas.
Kecemasan adalah tamu yang senang mengunjungi orang-orang yang tak siap menelan kepahitan.
Bukan orang-orang yang telah tamat mengecap segala rasa milik buah peristiwa dari pohon kehidupan seperti dirimu.
Banyak hal-hal baik, banyak hal-hal buruk, namun lebih banyak lagi hal-hal di antaranya.
Banyak hal-hal yang tak pernah dimulai.
Banyak hal-hal yang yang dimulai dan selesai sepantas-pantasnya.
Namun lebih banyak lagi hal-hal yang dimulai dan tak pernah selesai.
Serupa kisah kebersamaan dua manusia yang menyebut namanya masing-masing sebagai Aku dan Kamu.
Aku ingin membicarakan tentang mimpimu, mimpiku dan kisah kita yang tak pernah selesai.
Waktu akan datang sebagai malaikat maut yang bersayap.
Ia siap menjemput dan membawa terbang mimpimu, mimpiku dan kisah kita yang tak pernah selesai.
Kau mungkin akan melihatnya menjauh darimu dan hilang di angkasa.
Tapi kau tak perlu cemas, ia hanya akan membawanya lebih dekat dengan Tuhan agar lebih cepat dibubuhi amin.
Mimpiku akan tetap menjadi kenyataan, begitu pula mimpimu.
Lalu pada mimpiku yang telah nyata, aku akan menuliskan cerita panjang yang indah tentangmu dan mimpimu yang telah nyata.
Sementara itu, tentang kisah kita yang tak pernah selesai, biarkan saja tak selesai.
Bahkan di dalam cerita yang kutuliskan di antara mimpi-mimpi kita yang telah nyata.
Untukmu, kusampaikan selamat yang kedua setelah selamat pembuka tulisan, atas kesempatanmu menerima surat ini.
Surat pertama yang kusampaikan kepada seluruh dunia kecuali kepadamu.
Surat kesekian di antara surat-surat lain yang selama ini hanya diselipkan melalui bawah pintu kamarmu yang terkunci rapat, serupa harapanku untuk bisa terus bersamamu.
Surat pertama yang lahir dari tarian jariku di atas deretan tombol huruf, setelah sekian surat yang lahir dari tarian penaku di atas kertas.
Pena yang sudah kuhancurkan kemarin untuk melampiaskan emosi yang tak cukup habis kulampiaskan dengan cara mengukir tintanya di atas kertas.
Aku ingin membicarakan tentang mimpi.
Mimpimu, mimpiku dan semoga saja, mimpi kita.
Mimpi-mimpi yang senang kita mimpikan bersama-sama sepanjang lelap dan jaga yang kita lakoni.
Mimpi-mimpi yang kemarin baru saja kau pertanyakan umurnya.
Akankah ia dijemput malaikat kematian dalam waktu dekat?
Atau sanggupkah ia menahan lagu pemakaman agar dinyanyikan setelah ia menjadi kenyataan?
Entahlah.
Tapi kau tak perlu cemas.
Kecemasan adalah tamu yang senang mengunjungi orang-orang lemah.
Bukan orang-orang dengan kekuatan super bernama keyakinan seperti dirimu.
Aku ingin membicarakan tentang kisah yang tak pernah selesai.
Atau paling tidak, begitulah menurutmu.
Sekali lagi, kau tak perlu cemas.
Kecemasan adalah tamu yang senang mengunjungi orang-orang yang tak siap menelan kepahitan.
Bukan orang-orang yang telah tamat mengecap segala rasa milik buah peristiwa dari pohon kehidupan seperti dirimu.
Banyak hal-hal baik, banyak hal-hal buruk, namun lebih banyak lagi hal-hal di antaranya.
Banyak hal-hal yang tak pernah dimulai.
Banyak hal-hal yang yang dimulai dan selesai sepantas-pantasnya.
Namun lebih banyak lagi hal-hal yang dimulai dan tak pernah selesai.
Serupa kisah kebersamaan dua manusia yang menyebut namanya masing-masing sebagai Aku dan Kamu.
Aku ingin membicarakan tentang mimpimu, mimpiku dan kisah kita yang tak pernah selesai.
Waktu akan datang sebagai malaikat maut yang bersayap.
Ia siap menjemput dan membawa terbang mimpimu, mimpiku dan kisah kita yang tak pernah selesai.
Kau mungkin akan melihatnya menjauh darimu dan hilang di angkasa.
Tapi kau tak perlu cemas, ia hanya akan membawanya lebih dekat dengan Tuhan agar lebih cepat dibubuhi amin.
Mimpiku akan tetap menjadi kenyataan, begitu pula mimpimu.
Lalu pada mimpiku yang telah nyata, aku akan menuliskan cerita panjang yang indah tentangmu dan mimpimu yang telah nyata.
Sementara itu, tentang kisah kita yang tak pernah selesai, biarkan saja tak selesai.
Bahkan di dalam cerita yang kutuliskan di antara mimpi-mimpi kita yang telah nyata.
Sabtu, 26 Januari 2013
Di Tiga Per Empat Malam Dengan-Mu
Tuhan, sebenarnya aku tahu Kamu sudah membaca tulisan ini bahkan sebelum jari-jariku menekan tombol-tombol laptop.
Tuhan, apa aku masih boleh menuliskan surat untuk-Mu? Pasti boleh. Tapi apakah aku masih boleh mengirimkan suratku kepada-Mu lewat doa yang tidak rajin aku tunaikan? Aku sudah terlalu sering bertanya, lalu menyesal, lalu mengutuk apa-apa yang Kamu tuliskan di kitab perjalananku. Padahal aku terlalu sering mengoceh ke semua orang tentang bagaimana seharusnya kami, hamba-Mu, tak pantas banyak-banyak mengeluh, hanya untuk meneriaki diriku sendiri. Aku tahu jawabannya masih sama dengan jawaban pertanyaan pertama; pasti boleh.
Begini, Tuhan, aku punya banyak sekali pertanyaan yang diawali dengan kata tanya 'kapan', yang baru saja aku tuliskan di buku catatan yang suka kubawa ke mana-mana itu. Aku rasa aku tidak mau menanyakannya di surat ini. Kamu pasti sudah membaca semua pertanyaanku ketika aku sedang menuliskannya. Aku hanya ingin merangkum pertanyaan-pertanyaan itu ke dalam sebuah doa di surat ini. Semoga Kamu mau membacanya. Aku tahu Kamu pasti membacanya karena Kamu bukan karyawan bagian SDM dari suatu perusahaan yang suka tidak membaca semua surat lamaran yang ditujukan kepadanya.
Tuhan, aku minta sebuah perpisahan. Perpisahan yang sungguh-sungguh. Tolong tuliskan bagian yang kuminta ini di kitab perjalanan milikinya, dia yang Kamu pasti sudah tahu siapa. Jangan sisipkan kedatangan-pertemuan kecil di antaranya. Buatkan aku satu semesta lagi yang berbeda dengan semestanya jika saja bisa. Biarkan aku berhenti berlaku seperti orang yang sering kehilangan kewarasan, lalu menemukannya lagi, lalu kehilangannya lagi. Aku mau terus waras, walaupun aku butuh kembali dulu dari ketidakwarasan ini.
Tuhan, aku tahu ada jauh lebih banyak hal-hal baik yang sudah ada di dalam kitab perjalananku. Semuanya sudah Kamu siapkan. Mungkin hanya masalah warna tinta yang Kamu pakai untuk menulis, yang membuat beberapa hal mengecewakan dan menyakitkan saja yang tampak jelas sementara ini. Tolong bantu aku membaca, agar aku bisa tahu dan menjadi bijaksana. Aku sadar aku masih buta huruf sekarang.
Ya sudah, Tuhan. Sudah hampir tiga per empat malam. Sebentar lagi Kamu akan sibuk menyalakan lampu kehidupan sebagian besar orang di wilayah bagian tempatku tinggal. Semoga surat ini sampai lebih dulu. Aku mau bersyukur dulu, karena seberapa banyakpun air mata yang aku buat meresap di sekujur kasur dan bantal-bantalku, atau jaketku, aku tahu aku masih jauh lebih beruntung dari banyak orang lain.
Selamat beristirahat, Tuhan. Selamat membaca.
Tuhan, apa aku masih boleh menuliskan surat untuk-Mu? Pasti boleh. Tapi apakah aku masih boleh mengirimkan suratku kepada-Mu lewat doa yang tidak rajin aku tunaikan? Aku sudah terlalu sering bertanya, lalu menyesal, lalu mengutuk apa-apa yang Kamu tuliskan di kitab perjalananku. Padahal aku terlalu sering mengoceh ke semua orang tentang bagaimana seharusnya kami, hamba-Mu, tak pantas banyak-banyak mengeluh, hanya untuk meneriaki diriku sendiri. Aku tahu jawabannya masih sama dengan jawaban pertanyaan pertama; pasti boleh.
Begini, Tuhan, aku punya banyak sekali pertanyaan yang diawali dengan kata tanya 'kapan', yang baru saja aku tuliskan di buku catatan yang suka kubawa ke mana-mana itu. Aku rasa aku tidak mau menanyakannya di surat ini. Kamu pasti sudah membaca semua pertanyaanku ketika aku sedang menuliskannya. Aku hanya ingin merangkum pertanyaan-pertanyaan itu ke dalam sebuah doa di surat ini. Semoga Kamu mau membacanya. Aku tahu Kamu pasti membacanya karena Kamu bukan karyawan bagian SDM dari suatu perusahaan yang suka tidak membaca semua surat lamaran yang ditujukan kepadanya.
Tuhan, aku minta sebuah perpisahan. Perpisahan yang sungguh-sungguh. Tolong tuliskan bagian yang kuminta ini di kitab perjalanan milikinya, dia yang Kamu pasti sudah tahu siapa. Jangan sisipkan kedatangan-pertemuan kecil di antaranya. Buatkan aku satu semesta lagi yang berbeda dengan semestanya jika saja bisa. Biarkan aku berhenti berlaku seperti orang yang sering kehilangan kewarasan, lalu menemukannya lagi, lalu kehilangannya lagi. Aku mau terus waras, walaupun aku butuh kembali dulu dari ketidakwarasan ini.
Tuhan, aku tahu ada jauh lebih banyak hal-hal baik yang sudah ada di dalam kitab perjalananku. Semuanya sudah Kamu siapkan. Mungkin hanya masalah warna tinta yang Kamu pakai untuk menulis, yang membuat beberapa hal mengecewakan dan menyakitkan saja yang tampak jelas sementara ini. Tolong bantu aku membaca, agar aku bisa tahu dan menjadi bijaksana. Aku sadar aku masih buta huruf sekarang.
Ya sudah, Tuhan. Sudah hampir tiga per empat malam. Sebentar lagi Kamu akan sibuk menyalakan lampu kehidupan sebagian besar orang di wilayah bagian tempatku tinggal. Semoga surat ini sampai lebih dulu. Aku mau bersyukur dulu, karena seberapa banyakpun air mata yang aku buat meresap di sekujur kasur dan bantal-bantalku, atau jaketku, aku tahu aku masih jauh lebih beruntung dari banyak orang lain.
Selamat beristirahat, Tuhan. Selamat membaca.
Minggu, 06 Januari 2013
Satu Surat Lagi Yang Tak Pernah Disampaikan
I'm glad to have you back.
Aku menulis surat ini di dalam kepalaku selagi kamu mengelap jari-jarimu yang habis kaucelupkan ke dalam kopi-cokelat panas di celana jeans-ku. Sambil tertawa karena sukses mengerjaiku yang kesal dan sibuk menjauhkan kaki dari jangkauan tanganmu.
Beberapa bulan tanpa kehadiranmu dalam proporsi yang pas seperti yang biasanya aku miliki, bukanlah bulan-bulan yang berat. Keadaanku baik-baik saja tanpa bantal di kamarmu yang selalu menampung air mata dan ingusku, dan tanpa lengan-lengan panjangmu yang selalu kuanggap rumah untukku pulang. Tetapi ketika semua itu kembali malam ini, aku tak pernah merasa selega dan sesenang ini.
Aku selalu mampu berkomunikasi dengan matamu, dan aku senang malam ini dapat kembali berbicara kepadanya. Aku bisa menemukan kehangatan yang selalu mampu menjadi tempat duduk yang nyaman berlama-lama aku tempati di tatapanmu. Tak peduli tatapan-tatapan itu tersembunyi di balik lensa kacamatamu, atau pudar di antara kantukmu. Aku tahu malam ini mereka kembali kepadaku, dan aku tak pernah merasa selega dan sesenang ini.
Selamanya kita akan berakhir bersama. Paling tidak sepeti itulah yang kuharapkan. Kita akan selamanya menjadi keluarga beranggotakan manusia-manusia yang tak pernah berbagi satu darah dan gen yang sama. Meskipun di matamu, ada sorot yang selalu mampu meledakkan kembang api, lalu menaburkan percikannya ke dalam hatiku. Setelah itu, aku akan menulis satu surat cinta lagi yang tak akan pernah kusampaikan kepadamu, seperti surat ini.
Di atas segalanya, aku senang bisa memilikimu kembali setelah konflik bodoh yang hanya bisa meninggikan tembok egomu dan menenggelamkanku dalam diam. Aku tak tahu rasanya bisa sebahagia ini untuk bisa kembali kepada bantal dan pelukanmu, rumah tempatku pulang dan membaringkan seluruh keletihanku.
Aku menuliskan surat ini di dalam kepalaku pada detik dimana aku menemukanmu tertawa di atas pecahnya tawaku untuk satu hal yang sama.
Aku menulis surat ini di dalam kepalaku selagi kamu mengelap jari-jarimu yang habis kaucelupkan ke dalam kopi-cokelat panas di celana jeans-ku. Sambil tertawa karena sukses mengerjaiku yang kesal dan sibuk menjauhkan kaki dari jangkauan tanganmu.
Beberapa bulan tanpa kehadiranmu dalam proporsi yang pas seperti yang biasanya aku miliki, bukanlah bulan-bulan yang berat. Keadaanku baik-baik saja tanpa bantal di kamarmu yang selalu menampung air mata dan ingusku, dan tanpa lengan-lengan panjangmu yang selalu kuanggap rumah untukku pulang. Tetapi ketika semua itu kembali malam ini, aku tak pernah merasa selega dan sesenang ini.
Aku selalu mampu berkomunikasi dengan matamu, dan aku senang malam ini dapat kembali berbicara kepadanya. Aku bisa menemukan kehangatan yang selalu mampu menjadi tempat duduk yang nyaman berlama-lama aku tempati di tatapanmu. Tak peduli tatapan-tatapan itu tersembunyi di balik lensa kacamatamu, atau pudar di antara kantukmu. Aku tahu malam ini mereka kembali kepadaku, dan aku tak pernah merasa selega dan sesenang ini.
Selamanya kita akan berakhir bersama. Paling tidak sepeti itulah yang kuharapkan. Kita akan selamanya menjadi keluarga beranggotakan manusia-manusia yang tak pernah berbagi satu darah dan gen yang sama. Meskipun di matamu, ada sorot yang selalu mampu meledakkan kembang api, lalu menaburkan percikannya ke dalam hatiku. Setelah itu, aku akan menulis satu surat cinta lagi yang tak akan pernah kusampaikan kepadamu, seperti surat ini.
Di atas segalanya, aku senang bisa memilikimu kembali setelah konflik bodoh yang hanya bisa meninggikan tembok egomu dan menenggelamkanku dalam diam. Aku tak tahu rasanya bisa sebahagia ini untuk bisa kembali kepada bantal dan pelukanmu, rumah tempatku pulang dan membaringkan seluruh keletihanku.
Aku menuliskan surat ini di dalam kepalaku pada detik dimana aku menemukanmu tertawa di atas pecahnya tawaku untuk satu hal yang sama.
Senin, 26 November 2012
Sketsa Di Atas Surat Cinta
Lain kali, beritahu aku jika kamu ingin menyisipkan sebilah pisau di dalam genggaman tanganku. Jangan lakukan diam-diam, agar aku tahu aku tak merobek jiwamu ketika aku membelai wajahmu atau menusuk hatimu ketika aku memeluk tubuhmu.
.....
Dulu, aku suka terlalu sibuk menggoreskan penaku di atas kertas. Menuliskan beratus-ratus surat cinta untukmu. Surat-surat itu tak pernah kusampaikan kepadamu, tetapi selalu kamu rampas dari tanganku sebelum aku menyelesaikannya. Kamu lalu menyimpannya di bawah tumpukan komik-komikmu tanpa pernah kamu baca.
Dulu, kamu suka terlalu sibuk menggariskan pensilmu di atas kertas. Menggambarkan beratus-ratus sketsa abstrak tentang cinta yang kamu punya untukku. Sketsa-sketsa itu tak pernah kamu artikan di hadapanku, tetapi selalu aku kumpulkan dan tempelkan di seluruh sisi dan bidang tembok kamarku sampai penuh. Aku tak pernah ingin tahu tentang apa semua sketsa itu.
Paling tidak, dulu kita selalu memainkan alat tulis kita secara berdampingan. Paling tidak, kita selalu mengoyak kertas-kertas yang kita miliki bersama-sama. Surat-surat cintaku selalu hampir jadi di sebelahmu. Sketsa-sketsamu selalu menjadi tak berarti di sisiku.
Biasanya aku yang lebih dulu mengambil kertas, berbaring di atas kasur dan mulai menulis. Tidak lama kemudian kamu akan datang dengan kertasmu, berbaring di sampingku, merenggut kertas suratku, lalu mulai menggambar. Ketika itu aku akan menyandarkan kepalaku di bahumu sambil terus memperhatikanmu menggambar. Kita terus bersama menikmati emas yang bertebaran di atas langit senja atau kristal yang jatuh dari awan pekat lewat jendela kamarmu, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya kita tuangkan ke dalam kertas kita masing-masing.
Pada suatu saat yang aku tidak tahu pasti kapan, kamu menyisipkan sebilah pisau di dalam genggaman tanganku tanpa aku ketahui. Pisau itu memberikanku otoritas untuk dapat melukaimu kapanpun aku sempat, meskipun aku tak mau. Pada suatu saat yang aku tidak tahu pasti kapan, aku yang biasanya hanya berbaring di sampingmu dan menyandarkan kepalaku di bahumu, memutuskan untuk memelukmu, melingkarkan tangan yang terselip pisau itu ke tubuhmu.
Sekarang, dibandingkan menggariskan pensilmu di atas kertas dan menggambar ratusan sketsa abstrak, kamu lebih sibuk menutup pintu kamarmu. Sekarang, dibandingkan menggoreskan penaku di atas kertas dan menulis ratusan surat cinta, aku lebih sibuk mengetuk pintu kamarmu berharap kamu mau membuka sedikit celah.
Sekarang, ketika kita telah saling memahami isi coretan kertas kita satu sama lain, tak ada lagi ruangan yang terbuka untuk kita menyaksikan emas dan kristal yang bertaburan di angkasa bersama-sama.
Rabu, 21 November 2012
Tulisan Selamat Tinggal
Surat ini akan kusampaikan kepadamu ketika aku sudah dapat memastikan bahwa waktu yang ada untuk kita berdua semakin menyempit. Surat ini akan sampai di tanganmu ketika waktu yang aku perkirakan tersebut telah benar-benar habis dan ruang yang ada di antara kita telah melebar jauh dari sebelumnya serta mengubah seluruh isi dunia yang selama ini kita tempati bersama.
.....
Aku mencintaimu. Sungguh.
Aku mencintaimu bukan atas nama peran sahabat yang sudah sekian tahun kita lakoni. Aku mencintaimu bukan atas nama perasaan yang aku miliki kepadamu lebih dari batas perasaan yang dua sahabat biasanya berbagi. Aku mencintaimu sekedar atas nama kebersamaan yang sudah bersama-sama kita lewati selama ini.
Sampai pada menit-menit terakhir waktu yang kita habiskan bersama sebelum semuanya berubah, aku masih begitu mencintaimu. Ketika menatap wajahmu, aku masih menahan nafas seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta menahan histeris ketika melihat pujaan hatinya. Ketika aku menatap tubuhmu, aku masih berhalusinasi dan melihat tubuhku bersanding di sampingmu, menggenggam tanganmu mesra atau dirangkul olehmu penuh kasih sayang.
Aku minta maaf. Sungguh.
Aku minta maaf atas kelancanganku menciptakan perasaan yang melebihi kadar yang seharusnya aku miliki terhadapmu. Aku minta maaf jika usahaku untuk menahan ego impulsifku dalam hal mencintaimu tidak begitu maksimal. Aku minta maaf jika aku telah membuatmu merasa tidak nyaman dan kebingungan untuk mencari cara mempertahankan kebersamaan kita seperti sebelum ada perasaan berlebihan ini.
Sampai pada menit-menit terakhir waktu yang kita habiskan bersama sebelum semuanya berubah, aku masih begitu merasa bersalah dan ingin memohonkan maaf langsung kepadamu. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah yang menyelamatkanku dari setan-setan yang ada di dalam diriku. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah teman hidup yang aku butuhkan selama ini. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah keputusan benar bagiku setelah sekian keputusan-keputusan salah yang telah aku ambil.
.....
Surat ini akan kamu pahami ketika aku telah sungguh-sungguh menyerah untuk mendapatkan hatimu. Setelah aku tak sanggup menghancurkan tembok egomu, setelah aku tak sanggup mengalahkan persahabatan dan bahkan kekeluargaan kita yang adalah segalanya untuk dipertahankan, dan setelah aku tak sanggup lagi melawan ruang dan waktu yang berubah berdasarkan arahan takdir.
.....
Ditulis: 28 September 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
Surat No. 17
Selamat malam.
Bersama sapa ini aku sampaikan pucuk kesekian dari surat-surat yang tak pernah aku kirimkan kepadamu.
Bersama malam ini aku berharap dapat mengingatkanmu tentang bintang-bintang paling terang yang pernah kita tonton bersama di teater tepian pantai.
Bagaimana keadaanmu?
Sudah seharusnya lebih baik dari keadaanku karena kamu biasanya selalu mampu menyelamatkanku dari monster-monster persoalan yang menggerogoti keadaan baikku hanya dengan satu kalimat singkat.
Semalam aku memimpikanmu. Lagi.
Di dalam mimpi itu, kamu akhirnya menyisipkan sepenggal pesan untukku setelah diam yang kita lakoni sekian lama.
Pesan itu singkat. Sesingkat waktu yang kita miliki untuk menyanyikan lagu harapan tentang rasa yang kita endap.
Pesan itu singkat. Sesingkat usaha kita mempersiapkan hati masing-masing untuk menyambut hati satu sama lain sebelum akhirnya perkara lain datang lebih cepat dan mengambil kebersamaan kita bahkan sebelum kita sempat menyicipinya.
Pesan itu singkat. Sesingkat suratku kali ini.
Pesan itu adalah jawaban yang aku dan kamu sama-sama tak menginginkannya; "Berhentilah mencintaiku."
Maka demikianlah aku berusaha berhenti mencintaimu dan berjuang agar tidak akhirnya malah memulai untuk sangat mencintaimu.
Bersama sapa ini aku sampaikan pucuk kesekian dari surat-surat yang tak pernah aku kirimkan kepadamu.
Bersama malam ini aku berharap dapat mengingatkanmu tentang bintang-bintang paling terang yang pernah kita tonton bersama di teater tepian pantai.
Bagaimana keadaanmu?
Sudah seharusnya lebih baik dari keadaanku karena kamu biasanya selalu mampu menyelamatkanku dari monster-monster persoalan yang menggerogoti keadaan baikku hanya dengan satu kalimat singkat.
Semalam aku memimpikanmu. Lagi.
Di dalam mimpi itu, kamu akhirnya menyisipkan sepenggal pesan untukku setelah diam yang kita lakoni sekian lama.
Pesan itu singkat. Sesingkat waktu yang kita miliki untuk menyanyikan lagu harapan tentang rasa yang kita endap.
Pesan itu singkat. Sesingkat usaha kita mempersiapkan hati masing-masing untuk menyambut hati satu sama lain sebelum akhirnya perkara lain datang lebih cepat dan mengambil kebersamaan kita bahkan sebelum kita sempat menyicipinya.
Pesan itu singkat. Sesingkat suratku kali ini.
Pesan itu adalah jawaban yang aku dan kamu sama-sama tak menginginkannya; "Berhentilah mencintaiku."
Maka demikianlah aku berusaha berhenti mencintaimu dan berjuang agar tidak akhirnya malah memulai untuk sangat mencintaimu.
Kamis, 27 September 2012
yang kamu lewatkan
kamu suka menunggu pagi bukan?
kamu suka menyaksikan sendiri dengan mata kepalamu matahari dari timur merangkak naik ke singgasana langit.
kamu suka merasakan sendiri dengan pori-pori tubuhmu udara menghangat sehingga kau bisa melepaskan selimutmu.
kamu suka mendengar sendiri dengan daun telingamu jam alarm mulai bersahutan dan toa masjid mengajak bersujud.
mengapa malam ini kamu tertidur?
kamu melewatkan bagaimana cahaya menyilaukan di mataku yang menyorotkan cinta terbit.
kamu melewatkan bagaimana hembusan nafasku yang rindu membelai sekujur permukaan kulitmu.
kamu melewatkan suara lirih yang kubisikkan padamu tentang rasa yang meronta keluar.
.....
kamu akan membiarkanku terjaga seraya terpaku memandangimu yang sedang tenggelam dalam gelombang theta otakmu.
lalu ketika kamu terbangun, aku telah beranjak menjauh dan membiarkanmu sendirian menunggu pagi berikutnya yang mendung dan senyap.
pagi berikutnya tanpa ada matahari yang merangkak naik, udara yang menghangat dan suara-suara riuh pengingat waktu.
Senin, 03 September 2012
Catatan (Telapak) Kaki
Rumah ini terlalu besar untuk kita bertiga. Aku kesepian. Entah apa yang kalian berdua rasakan ketika bahkan rumah ini hanya dihuni kalian berdua tanpa diriku. Entah bagaimana sepi yang menyeruak bagi kalian berdua jika bertiga saja aku merasa begitu senyap. Banyak ruang kosong yang pasti sering terlewat bagi kalian untuk sekedar menginjakkan kaki di dalamnya. Di lantai atas cuma ada aku. Jika bukan untuk mencuci dan menjemur pakaian, merawat tanaman di teras atas, menyalakan lampu setiap magrib, dan sesekali duduk mencari angin malam yang damai di beranda atas rumah, kapan lagi kalian ke lantai atas? Kamarku bahkan terlalu besar untukku sendiri. Kita bertiga muat tidur di sini setiap malam tanpa harus merasa sesak sedikitpun.
Dunia kecil milik kita bertiga ini terlalu pribadi untuk dibagi dengan orang-orang baru atau ditinggalkan oleh salah satu di antara kita karena sebuah tuntutan perubahan yang entah apa. Dunia ini ekslusif untuk kita. Dengan siapa lagi aku bermain sejak kecil sampai sekarang jika tidak dengan kalian berdua? Dengan siapa lagi aku bercanda dan tertawa jika tidak bersama kalian? Aku tak punya saudara atau sepupu seusia yang sering bersamaku dan berada di antara kita. Dunia ini hanya milik kita bertiga, diisi dengan segala sesuatu apapun tanpa terlewat yang kita lakukan bertiga. Aku tak akan pernah terbiasa, dan bahkan tak pernah terpikirkan, jika ada orang lain yang memasuki dunia kita, juga tidak jika ada salah satu di antara kita yang berubah berpindah tempat meninggalkan dunia ajaib ciptaan kita.
Tanggung jawab ini terlalu berat untuk kuemban sendiri. Aku tak pernah benar-benar tahu bahwa ada kekurangan menjadi seorang anak tunggal. Setahuku dengan menjadi anak tunggal, aku tinggal bersenang-senang karena semua keinginan yang hampir selalu terpenuhi tanpa syarat bisa kunikmati sendiri tanpa perlu bersaing dengan siapapun. Setahuku, dengan menjadi anak tunggal aku tinggal menjadi ratu yang semua kepentingannya sudah dibereskan oleh kalian berdua. Pada akhirnya aku sampai pada waktu dimana aku sudah harus bergantian mengerjakan tugas dengan kalian. Sekarang sudah harus aku yang memperhatikan kalian. Aku mulai keberatan ketika menyadari bahwa akulah satu-satunya yang kalian miliki dan satu-satunya yang menggenggam kesempatan untuk membahagiakan kalian.
Usiaku ini terlalu muda untuk mengkhawatirkan semuanya seperti ini. Aku tak pernah bermasalah dengan usiaku yang selalu terlalu muda di dalam lingkungan-lingkungan yang aku hadapi. Aku bahkan selalu berprestasi di sekolah meskipun aku yang paling muda. Aku masih terus berhasil sampai aku mengenakan toga yang dengan bangga kalian berdua pajang foto-fotonya di seluruh sudut rumah karena aku mengenakannya tepat waktu, bergelar dengan pujian dan sebagai lulusan termuda. Sekarang aku kebingungan. Apa aku harus menyamai orang lain seusiaku yang masih banyak bersantai dan diurusi oleh kalian? Atau aku sudah harus bertanggung jawab atas diriku sendiri dan bahkan atas kalian berdua? Aku tak pernah tahu untuk menjadi karbitan harus serumit ini.
Doa ini terlalu singkat untuk dapat mengungkapkan seluruh pengharapanku atas kalian. Aku ingin terus menjadi ratu kecil dan mungil yang polos di dalam dunia ajaib milik kita bertiga. Aku ingin berjalan kemanapun dengan selalu memboyong kalian di sisiku. Aku ingin menjadi yang mampu mengaminkan segala keinginan kalian terhadapku tanpa mengurangi sedikitpun impianku. Tapi aku hanya bisa memanjatkan harapan agar kalian selalu sehat dan bahagia, dan semoga bahagia itu juga berasal dari diriku. Aku bukan saja mencintai kalian lebih dari yang kalian tahu. Aku juga ingin melakukan yang terbaik untuk kalian lebih dari yang kalian kira.
Kamis, 30 Agustus 2012
hujan, fajar, dan surat untuk mimpi
"It goes to show, i hope that you know that you are what my dreams are made of..."
-Sleeping With Sirens
Kamu tahu tidak? Kamu memang adalah sebentuk mimpi yang paling kompleks yang pernah aku ciptakan. Kamu memang adalah sebingkai mimpi yang aku susun dari potongan-potongan harapan, keinginan dan kebutuhan yang dengan sungguh aku miliki.
.....
Sudah semalaman aku duduk di balik jendela kamarku. Langit malam yang gelap semakin hitam karena hujan gerimis yang turun. Dengan begitu aku semakin merindukanmu. Aku melihat penggalan-penggalan gambar kebersamaan kita di hari terakhir sebelum masing-masing dari kita menanggalkan kaki pergi dari kota yang mesra itu. Aku ingat dengan detil raut wajahmu ketika kamu menyandarkan pipimu mesra di bahuku saat kita berbaring di kasur yang sama. Aku ingat dengan detil ritme nafasmu ketika kamu tertidur pulas di sampingku. Aku ingat dengan detil sorot matamu yang jarang terlihat begitu lembut di hari dimana kamu dengan baik hati meruntuhkan paling tidak setengah tembok dirimu di hadapanku.
Kamu mungkin tahu, sejak dulu, aku selalu tak mampu mendefinisikanmu. Kamu pasti menjadikannya sebuah bahan lelucon kalau aku bilang aku menyukaimu. Kamu pasti tidak tertarik jika aku bilang aku menyayangimu karena kita toh telah bersahabat sekian lama dan sudah pasti saling menyayangi. Kamu pasti belum punya cukup keberanian untuk mempercayaiku kalau aku bilang aku mencintaimu. Tapi yang paling tidak harus kamu dekap dalam otak dan hatimu dengan baik adalah bahwa aku membutuhkanmu, karena itu hal yang paling benar yang aku yakini.
Aku membutuhkanmu. Dini hari ini hujan deras bergantian dengan gerimis halus tak henti-hentinya mengiringi malam dan aku mengerti aku membutuhkanmu untuk memayungiku. Jika kamu juga tak punya payung, aku membutuhkanmu untuk berbasah-kuyup bersamaku dan menggenggam tanganku erat di bawah langit yang sedang muntah-muntah itu. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang benar yang dapat menyudahi semua keputusan-keputusan kecil yang pernah kubuat dan mengarahkanku ke berbagai kesalahan besar. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang tepat yang terkena panah dewi cinta dan menghapus bekas-bekas panah lainnya yang selama ini hanya meleset dan tidak menancap sempurna. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang sederhana dan mengakhiri perkara-perkara berlebihan yang selama ini kulakoni.
Ada sebuah puisi rekayasa yang aku buat karena teringat akan sebuah puisi lawas yang mungkin juga sering kamu dengar ketika pelajaran Bahasa Indonesia dulu di bangku sekolah. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti puisi yang tak sempat dibacakan awan kepada hujan yang menjadikannya tergenang. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti nada yang tak sempat dinyanyikan malam kepada fajar yang menjadikannya terang. Kamu ingin tahu kenapa puisi itu berbicara tentang hujan dan subuh? Karena bayanganmu di sisiku tampak begitu jelas ketika hujan turun dan pagi menjelang.
.....
Sudah semalaman aku duduk di balik jendela kamarku. Sebentar lagi matahari akan menampakkan diri meski di balik awan tebal yang semakin berat. Aku selalu merasa kita mulai saling menggenggam tangan satu sama lain ketika senja dan mulai saling memeluk tubuh satu sama lain ketika fajar, dan untuk itu aku mencintaimu sepanjang malam.
.....
Awan pecah lagi, sayang. Dan kamu berhamburan ke mana-mana.
Sabtu, 14 Juli 2012
Perasaan yang Sungsang
mencintaimu membuatku terbalik. sebut saja sungsang. posisi tepat seperti yang suka aku peragakan ketika aku sakit kepala atau terlalu bosan berguling-guling di atas kasur. kamu pasti tahu. posisi dimana kepala sampai badanku terbentang mendatar horisontal, dan sampai batas pantat ke ujung kaki kunaikkan ke dinding membentuk sudut siku-siku tubuhku. lihat saja cover buku Djenar Maesa Ayu dengan judul 1 Perempuan 14 Laki-laki kalau ingin paham.
mencintaimu seperti melakukan aksi tidur sungsang. setengah normal dan setengah abnormal, serta membuatku merasa terbolak-balik. meskipun pada waktunya posisi itu merupakan pelarian yang nyaman. pada beberapa waktu aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan, pada beberapa waktu lainnya aku merasa melakukan apa yang tak biasanya aku lakukan, dan pada beberapa waktu sisanya lagi aku merasa melakukan apa yang tidak sebaiknya aku lakukan. meskipun pada waktunya mencintaimu tetap menyenangkan.
aku perempuan yang tidak bisa membiarkan hatinya menganggur, tidak bisa sepertimu yang bisa menelantarkan hatimu sampai karatan. aku perempuan yang akan mengejar apa yang dia inginkan, tidak sepertimu yang bisa tenang dan santai menghadapi apapun dan tidak suka pada apa-apa yang berlebihan. aku perempuan yang terlalu terbuka, tidak sepertimu yang punya tembok tinggi penangkal serangan rasa dari luar maupun dari dalam dirimu sendiri. sejujurnya aku tak tahu bagaimana caranya mencintaimu dengan baik.
kemudian aku merasa seperti sedang dalam posisi sungsang. kadang sakit kepalaku bahkan sembuh karena seluruh darah dialirkan ke otak, namun lama-kelamaan kakiku keram kehabisan darah dan menjadi tidak betah. aku tak tahu posisi ini baik atau tidak. aku tidak tahu mencintaimu adalah hal baik atau tidak.
Jumat, 13 Juli 2012
Cadung Bibirmu
Kamu pernah tahu kalau kamu tampan?
Kamu boleh menanyakan padaku kalau kamu memang tidak tahu, karena aku yang paling tahu.
Seperti yang aku pernah tuliskan tentang bibirmu yang terus merah dan basah meski tak putus menghisap dan menghembuskan asap rokok, aku juga selalu ingat tatapan matamu yang tajam dan sering tidak ramah.
Meski begitu aku tahu kamu baik. Baik sekali. Aku tahu kamu lebih perhatian dan peka dibandingkan teman-teman kita yang lain. Aku tak punya banyak teman yang bisa kuajak berkomunikasi dan saling memahami tanpa kata, dan kamu termasuk salah satu di antaranya.
Aku suka hidungmu. Memang tidak mancung, tapi proporsional. Paling tidak kokoh dan pas untuk menahan kacamata yang hampir tidak pernah kamu tanggalkan.
Aku suka rambutmu. Aku suka poni-poni tipis yang menutupi dahimu. Kadang poni-poni itu menjadi tidak tipis ketika kamu lama tidak mengunjungi tukang cukur. Hampir setiap sebelum tidur di malam yang biasanya lebih cenderung pagi, aku memupuk keinginan untuk bisa mengusap-usap kepala dan rambutmu setiap saat aku ingin, dan menggaruk-garuk kulit kepalamu dengan halus sampai kamu tertidur di pangkuanku.
Beralih dari wajahmu, aku suka tubuhmu. Iya, aku suka lelaki kurus seperti yang sudah sering kuungkapkan. Aku rasa aku akan betah memelukmu lama-lama. Aku juga merasa aku akan lebih betah dipeluk olehmu, bahkan tersangkut di dalamnya dan tak bisa lepas. Pada banyak waktu aku melihat tubuhku ada di dalam rangkulan lenganmu tepat di saat aku mengamatimu.
Kembali lagi saja ke bibirmu, bagian tubuh yang setidaknya paling suka aku bicarakan. Aku suka sekali saat bagian itu menarik kedua sudutnya dan menyunggingkan senyum. Aku suka pada beberapa waktu ketika bekas aroma rokok keluar melalui nafas dari bibirmu ketika kamu sedang tidak merokok.
Singkatnya, maka demikianlah aku mengagumi dirimu. Tepatnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan dirimu yang memang mudah dikagumi.
Rabu, 18 April 2012
di balik dinding

Di balik dingin dan sepi belasan kilometer jalanan dini hari yang kulewati, bersembunyi dirimu. Bersembunyi tubuh kurus tinggi berbalut sweater hitam tebal, celana pendek, dan sendal jepit. Di balik itu, kita bercerita tentang tawa, tentang teman, tentang lelucon-lelucon negatif, dan tentang hal standar yang bahkan tidak unik untuk diceritakan tentang harimu dan hariku. Bercerita tentang galon air minum yang belum sempat dipasang di dispenser. Lalu aku begitu ingin memelukmu.
Di balik jalan lurus panjang yang lembab di pusat kota sehabis hujan sesorean, bersembunyi dirimu. Bersembunyi tatap mata yang bahkan tidak begitu tajam dan dalam, namun terus didamba untuk membalas tatap kagum yang kuberikan. Di balik itu, kita bercerita tentang tugas akhir dan tetek bengeknya yang menjemukan dan tak kunjung terselesaikan. Bercerita tentang keraguan menghubungi dosen pembimbing dan buletin jurnal yang lupa dibeli. Lalu aku begitu ingin melingkarkan lenganku pada lenganmu.
Di balik deretan lampu-lampu jingga jalan raya yang tampak bergerak-gerak seperti kunang-kunang, bersembunyi dirimu. Bersembunyi wangi tubuh yang semakin melekat mesra di dalam isi kepalaku. Di balik itu, kita bercerita tentang sepak bola, tentang liga entah apalah, tentang tim-tim dan pemain-pemain hebat, dan taruhan-taruhan bodoh. Bercerita tentang keseruan permaianan scrabble sepanjang malam dan jam berapa bisa tidur. Lalu aku begitu ingin merebahkan kepalaku ke bahu atau bahkan dadamu.
Di balik botol-botol bir dan berpuluh-puluh puntung rokok yang kita habiskan di pinggir jalan, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sesosok lelaki tak acuh dan tampak terlalu mencintai diri dan hidupnya serta seluruh kenyamanan yang ia miliki. Di balik itu, kita bercerita tentang musik, tentang playlist yang selalu kita ributkan, tentang band-band metal, tentang musisi-musisi hebat, dan mulai bernyanyi bersama. Bercerita tentang wanita-wanita personil girlband korea yang cantik dan seksi. Lalu aku begitu ingin mengisi sela-sela jariku dengan jarimu.
Di balik perjalanan bodoh di atas motor tanpa tujuan jelas dengan beberapa pekerja malam yang terus lalu lalang, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sebuah bibir yang selalu basah dan merah meski tak habis-habisnya dilewati tarikan dan hembusan asap nikotin. Di balik itu, kita bercerita tentang keluarga, masa kecil, kisah semasa sekolah, dan sedikit menyinggung masa depan yang terpaksa cepat dihentikan karena kebingungan yang sama mulai menggerogoti diri kita. Bercerita tentang nasi-ayam-sayur enak dengan harga hanya lima ribu lima ratus rupiah. Lalu aku begitu ingin menciummu.
.....
Di balik matahari yang awalnya menemani dari jauh di dalam hitam pekat langit malam lalu mulai menampakkan diri malu-malu diselimuti tirai jingga dari timur sampai akhirnya berdiri tegak dengan silaunya di atas kepala, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sesosok lelaki yang tertidur pulas dan tak peduli tentang aku dan berbatang-batang rokok yang kuhabiskan untuk menunggu. Di balik itu, kita tak pernah bercerita tentang hidup dalam filosofi dan pemahaman yang rumit atau tentang diri yang mencapai bagian dasar gunung es kepribadian kita. Tak pernah bercerita tentang cinta, hati, dan perasaan. Lalu aku begitu ingin menghancurkan dinding tamengmu yang selalu membuatku memiliki tak cukup otoritas untuk mendefinisikan dirimu.
.....
Besok aku akan kembali. Menemuimu. Di balik sisi bagian luar dinding tamengmu. Seperti biasa.
Sabtu, 21 Januari 2012
di pelukan itu kita pulang...

aku rasa kita telah berjalan terlalu jauh. melewati ribuan jalan tol, jalan raya sampai gang-gang tikus. kita telah menggunakan berbagai cara untuk berpindah tempat untuk akhirnya tiba di titik ini. lalu pada suatu saat kita mengalami sebuah kecelakaan hebat yang membuat kita berdua sama-sama mengalami amnesia. kita lupa dari mana kita berasal sehingga tidak mungkin bisa kembali. aku rasa kita juga mengalami geger otak sampai kita bisa kehilangan kewarasan sejauh ini.
aku rasa kita sudah mengalami berbagai proses sampai menjadi seperti ini. tidak lagi dekat, tapi menjadi satu. tak ada lagi spasi sama sekali. kita sudah menarik dan menghembuskan udara yang sama untuk bernapas. kita membuat paru-paru kita sesak satu sama lain untuk mengkonsumsi satu porsi udara untuk dua jiwa. kita membuat kaki kita kelelahan untuk menopang berat dua jiwa dalam setiap langkah. kita membuat kepala kita meledak karena terisi pikiran dari dua otak tentang satu sama lain dalam satu ruang penat yang sama.
aku rasa kita telah menciptakan dua ekor keledai yang terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. bahkan aku rasa kita adalah hewan lain yang lebih hina dari keledai karena kita terjatuh pada lubang yang sama berkali-kali, bahkan setelah kita mampu menghitung dan menghafal berapa langkah lagi lubang itu berada dari tempat kita berdiri. aku rasa kita selalu sengaja menjatuhkan diri, hanya saja aku tahu pasti bahwa kita tidak menikmati hal ini.
aku rasa kita tahu seberapa tinggi tingkat ketergantungan kita pada substansi kebersamaan kita satu sama lain. aku rasa kita sadar bagaimana toleransi hati kita yang terus meningkat dan mengakibatkan kita terus meningkatkan dosis sampai kita ada di tingkat ketergantungan setinggi ini. kita tahu adiksi ini telah menciptakan dua sosok monster raksasa, tapi kita tahu bagaimana beratnya dipaksa berhenti mengkonsumsi. kita tahu berusaha menjauh adalah usaha yang membutuhkan energi besar yang selalu sia-sia.
aku rasa aku sudah terlalu banyak berdoa agar diberi petunjuk jalan mana yang harus kulewati jika tujuan akhirnya adalah aku harus bersamamu maupun tidak bersamamu. sampai akhirnya yang kutemukan hanya jalan yang aku tak pernah tau ke mana tujuannya. aku rasa kamu juga sudah terlalu banyak meyakini bahwa semua akan baik-baik saja. sampai akhirnya yang kamu alami tidak banyak yang baik-baik saja bahkan sangat sedikit karena hasil dari semuanya adalah kacau balau.
sekarang, satu-satunya yang aku pahami adalah kita harus pulang ke rumah masing-masing. untuk itu aku sadar bahwa di atas segala hal yang telah terjadi,
"...rumah adalah dimana pelukan kita melebur menjadi satu dan merangkul tubuh kita satu sama lain. maka pulanglah, aku tahu kita lelah."
Rabu, 14 Desember 2011
Lebih Buta

Dulu aku melihatmu dalam buta.
Meraba-raba dalam hitam. Aku tak punya mata, tapi kata mereka aku punya hati. Walaupun menurutku yang aku punya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa kamulah yang kuinginkan. Keyakinan yang semakin pekat pada ruang yang semakin gelap. Aku tak mampu melihat apapun. Aku hanya tahu bagaimana diriku, tanpa mau tahu bagaimana dirimu. Aku tahu aku mendambakanmu, tanpa mau tahu seperti apa dirimu.
Aku menyentuh matamu dan aku tahu mata itu indah. Tidak peduli ke arah mana mata itu melihat. Aku menyentuh dadamu dan merasakan detak jantungmu. Tanpa tahu apa yang disenandungkan ritme degupannya.Aku tak perlu melihat mana yang baik dan mana yang tidak. Aku tahu semua hitam.
Dengan begitu aku tergila-gila.
Lama-lama aku lelah meraba-raba.
Aku berjalan perlahan ke arah kontak lampu. Berusaha menyalakannya.
Mencari sedikit cahaya yang aku pikir akan membantuku. Mencari cerah yang aku pikir akan berwarna. Mencari binar yang aku pikir akan menerangi.Aku merangkak dari jatuh dalam langkahku menuju sesorot sinar. Merangkak dari jatuh untuk tujuan yang sesungguhnya tak aku inginkan. Aku tak benar ingin menyalakan lampu. Aku hanya lelah meraba-raba. Kenapa tidak duduk diam saja di dalam gelap? Sampai akhirnya aku meraih kontak lampu. Banjir cahaya menerobos masuk ke mata besarku.
Aku pikir aku akan bergerak lebih mudah dalam terang. Aku pikir aku tak akan lagi kelelahan meraba-raba. Ternyata silau menyakitkan.
Lalu aku menjadi gila.
Sekarang aku sekarat untuk menjadi gila.
Cahaya disekitarku terlalu banyak. Mereka membunuhku. Mereka bergerombolan maju bersamaan ke arahku dengan pisau terasah di genggaman masing-masing.
Aku melihat terlalu banyak. Tahu terlalu jauh. Mengerti terlalu dalam. Aku juga menilai terlalu banyak. Berharap terlalu jauh. Dan akhirnya kecewa terlalu dalam.Tentang sosokmu. Aku meneteskan banyak darah. Pisau-pisau mereka tak mau berhenti menyayat. Ternyata terang lebih melelahkan. Aku berusaha meredupkan dan perlahan mematikan lampu lagi. Aku ingin kembali lebih membutakan diri. Aku ingin kembali memelukmu pada hamparan hitam. Aku mau kembali merasakanmu tanpa harus melihatmu.
Seperti itulah aku ingin tergila-gila lagi.
..........
aku ingin kembali buta. membutakan diri. lebih buta lagi...
Langganan:
Postingan (Atom)




