Tuhan tidak menjatuhkan bintang,
lalu menyuruhmu berdoa.
Tuhan menyuruhmu berdoa,
lalu menjelmakan tangannya sebagai sekerlip bintang,
lalu bergerak turun menangkap doamu,
lalu menggenggamnya erat-erat,
lalu menjatuhkan ampasnya.
Itu yang kau lihat sebagai bintang jatuh.
Tepian kota yang langitnya masih berbintang,
30.6.13 - 00.44
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 Agustus 2014
Sabtu, 22 Maret 2014
Kosong
Gelisah-gelisah serupa kawan lama
Akrab dan terasa tak pernah ke mana-mana
Kelelahan-kelelahan serupa rumah
Berdiri di ujung jalan yang tak pernah habis ditapaki
Cemas-cemas serupa tembok kamar
Yang terakhir ada ketika tak ada lagi apa-apa
Ketiadaan-ketiadaan serupa malam
Muara pencarian setelah sepanjang hari bersinar
Jakarta,
4/10/13
Dua lewat sekian dini hari
Akrab dan terasa tak pernah ke mana-mana
Kelelahan-kelelahan serupa rumah
Berdiri di ujung jalan yang tak pernah habis ditapaki
Cemas-cemas serupa tembok kamar
Yang terakhir ada ketika tak ada lagi apa-apa
Ketiadaan-ketiadaan serupa malam
Muara pencarian setelah sepanjang hari bersinar
Jakarta,
4/10/13
Dua lewat sekian dini hari
Kamis, 31 Oktober 2013
Apakah Kita
Bagaimana jika melepaskan bukanlah pilihan?
Apakah kita adalah ketidakmungkinan yang paling diinginkan, atau kemungkinan yang paling tidak diinginkan?
Apakah kita adalah ketiadaan yang paling nyata, atau keberadaan yang paling samar?
Apakah kita adalah ketidakmungkinan yang paling diinginkan, atau kemungkinan yang paling tidak diinginkan?
Apakah kita adalah ketiadaan yang paling nyata, atau keberadaan yang paling samar?
Kamis, 12 September 2013
Buku Pembaringan
Aku ingin membeli buku catatan yang lebih tebal
Lalu rak buku yang lebih besar
Agar luka tak perlu keluar kamar,
menggelandang mencari tempat berbaring
Agar luka bisa tertidur lelap di atas kertas putih tak bergaris
Jakarta,
Pukul ketika kota ini tampak cantik
Lalu rak buku yang lebih besar
Agar luka tak perlu keluar kamar,
menggelandang mencari tempat berbaring
Agar luka bisa tertidur lelap di atas kertas putih tak bergaris
Jakarta,
Pukul ketika kota ini tampak cantik
Rabu, 14 Agustus 2013
Trilogi Kehilangan: Bagian Satu
Sebait sajak untukmu:
Telapakmu terus meremas dan tak mau lepas
Padahal aku sudah lebih dulu mati
Di bibir dan matamu
Jakarta, 12 Juli 2013
Telapakmu terus meremas dan tak mau lepas
Padahal aku sudah lebih dulu mati
Di bibir dan matamu
Jakarta, 12 Juli 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Hujan dan Tanah-tanah Basah yang Lain
Sebagian tanah basah oleh hujan
Sebagian lainnya basah oleh kehilangan
Sebagian sisanya basah oleh keduanya
Maka demikianlah
Pemakaman di sore hari yang hujan
Adalah seteduh-teduhnya tempat peristirahatan
Sebagian lainnya basah oleh kehilangan
Sebagian sisanya basah oleh keduanya
Maka demikianlah
Pemakaman di sore hari yang hujan
Adalah seteduh-teduhnya tempat peristirahatan
Kamis, 14 Maret 2013
Menyederhanakan Doa
Tuhan,
aku mau menyederhanakan doaku.
Aku minta hanya kesedihan yang datang kepadaku,
apa saja asal bukan kebencian.
Aku tahu tak ada yang lebih melelahkan dari membenci,
tidak merasa sedih sekalipun.
Aku juga merasa,
mungkin aku tak cukup pantas untuk berdoa meminta hanya hal baik.
Maka demikianlah aku menyederhanakannya.
aku mau menyederhanakan doaku.
Aku minta hanya kesedihan yang datang kepadaku,
apa saja asal bukan kebencian.
Aku tahu tak ada yang lebih melelahkan dari membenci,
tidak merasa sedih sekalipun.
Aku juga merasa,
mungkin aku tak cukup pantas untuk berdoa meminta hanya hal baik.
Maka demikianlah aku menyederhanakannya.
Minggu, 10 Maret 2013
Sepi Tak Punya Definisi
Sepi tak punya definisi
Ia adalah beranda berdinding warna cerah
Lili dan tulip menempatinya
Beranda rumah yang sesungguhnya menyimpan keranda
Ketika satu pintunya mampu kaubuka
Sepi tak punya definisi
Ia adalah langit mendung yang berkawan awan pekat
Kilat ramai bersahutan di dalamnya
Awan pekat yang sesungguhnya memayungi gadis kecil
Tersenyum lebar sembari menari di antara genangan
Ia adalah beranda berdinding warna cerah
Lili dan tulip menempatinya
Beranda rumah yang sesungguhnya menyimpan keranda
Ketika satu pintunya mampu kaubuka
Sepi tak punya definisi
Ia adalah langit mendung yang berkawan awan pekat
Kilat ramai bersahutan di dalamnya
Awan pekat yang sesungguhnya memayungi gadis kecil
Tersenyum lebar sembari menari di antara genangan
Rabu, 27 Februari 2013
Senjang
Kesenjanganmu tidak selamanya terjadi ketika apa yang kautuju tidak sesuai dengan apa yang kautemui.
Kesenjanganmu dapat berupa jarak waktu antara wajah yang kaudongakkan ke langit hingga dagumu terangkat angkuh, dan wajah yang kauhadapkan ke tanah hingga dahimu tunduk tersentuh.
Kesenjanganmu dapat berupa jarak waktu antara wajah yang kaudongakkan ke langit hingga dagumu terangkat angkuh, dan wajah yang kauhadapkan ke tanah hingga dahimu tunduk tersentuh.
Kamis, 14 Februari 2013
Kepala Besar
Ada perihal-perihal besar yang hanya bisa dikendalikan oleh Yang Maha Besar.
Seberapa besarpun kamu yakin atas besarnya usaha-usaha yang telah kamu upayakan, kamu akan kalah oleh kebesaran-Nya.
Karena kamu takkan pernah lebih besar dari apa yang menciptakan kebesaranmu.
Kepala besarmu bukan apa-apa di dalam tangan besar-Nya.
Seberapa besarpun kamu yakin atas besarnya usaha-usaha yang telah kamu upayakan, kamu akan kalah oleh kebesaran-Nya.
Karena kamu takkan pernah lebih besar dari apa yang menciptakan kebesaranmu.
Kepala besarmu bukan apa-apa di dalam tangan besar-Nya.
Rabu, 23 Januari 2013
Pelarian-pelarian
Hidup adalah tentang mencari pelarian
Berpindah-pindah dari satu pelarian
Ke pelarian lainnya
Lalu di manakah letak tempat pertama?
Asal muasal segala
Sebelum pelarian pertama dimulai
Mereka yang berbahagia
Adalah mereka yang selalu kuat berlari
Yang selalu mampu menemukan
Pelarian yang baik
Lalu jika letak tempat pertamaku adalah dadamu
Mungkin aku takkan pernah
Menjadi satu yang berbahagia
Jumat, 26 Oktober 2012
Nafas dan Aroma Tengkukmu
Nafasku bergantung pada keberadaanmu.
Aku hanya mampu menghela udara berisi senyawa aroma yang keluar dari hidungmu, bibirmu dan tengkukmu.
Maka demi bertahan hidup, aku akan sekedar mendatangimu untuk menciumi bantal yang kautiduri setiap malam.
Atau aku akan mati selagi merindukanmu.
Selasa, 09 Oktober 2012
ketika aku dan kamu tak lagi kita
Suatu saat nanti, ketika hidup tak lagi adalah tentang apa dan bagaimana kau melontarkan lelucon, waktu tak lagi sepenuhnya berada di dalam remasan tanganmu, tidur tak lagi serumit mimpi yang kaususun dan siapkan untuk ditemui, idealisme tak lagi utuh termakan realita, malam tak lagi lapang untuk kaunikmati sampai fajar menjelang, tawa tak lagi bisa kaupilih untuk disuarakan sesuka hati, bintang tak lagi tumpah ruah dan jatuh sebagai hujan, serta kebersamaan sekedar menjadi bahan untuk bertahan hidup...
...Kau akan terus merindukanku sebagai tubuh yang pernah mendampingimu melewati suatu masa indah dengan hidup yang penuh lelucon, waktu yang sepenuhnya kita taklukan dengan ujung-ujung jari, tidur yang selalu panjang dan nyenyak setelah lelah memilah mimpi yang ingin kita temui, idealisme yang kita bentuk setinggi langit, malam yang setiap hari secara terjaga kita nikmati, tawa yang mampu terlepas terbang ke atmosfir setiap saat, bintang yang kita kejar sampai ke tepian suara ombak, serta kebersamaan yang kita telan demi kebutuhan batin.
.....
Karena aku juga melakukan hal yang sama. Merindukanmu beserta meja kayu biasa pada suatu malam biasa dengan cangkir-cangkir bekas kopi yang biasa, asbak yang hampir muntah seperti biasa, dan rokok-rokok yang tak sengaja menjadi tidak biasa.
Merindukan.....kita.
...Kau akan terus merindukanku sebagai tubuh yang pernah mendampingimu melewati suatu masa indah dengan hidup yang penuh lelucon, waktu yang sepenuhnya kita taklukan dengan ujung-ujung jari, tidur yang selalu panjang dan nyenyak setelah lelah memilah mimpi yang ingin kita temui, idealisme yang kita bentuk setinggi langit, malam yang setiap hari secara terjaga kita nikmati, tawa yang mampu terlepas terbang ke atmosfir setiap saat, bintang yang kita kejar sampai ke tepian suara ombak, serta kebersamaan yang kita telan demi kebutuhan batin.
.....
Merindukan.....kita.
Selasa, 25 September 2012
Maukah Kamu?
Adakah tempat lain yang bisa kita huni selain di dalam hatiku, pikiranmu dan tulisan ini?
Maukah kamu berusaha menemukan tempat itu demi mimpiku, perasaanmu atau kita?
Maukah kamu berusaha menemukan tempat itu demi mimpiku, perasaanmu atau kita?
Kamis, 06 September 2012
sajak-sajak dari malam yang berair
ketika tubuhku sudah sebagian mati terinjak botol kaca yang hampir pecah, akankah kau memungut sebagian yang masih berdetak agar tak sampai berdarah tersayat belingnya?
_____________
cuka yang sedang kumakan ini tak cukup asam untuk menuang perih bagi luka yang sudah lama terbengkalai, jika saja kau masih mampu membiarkanku mengecap manis dari aroma bahumu yang mendekapku.
_____________
bukankah kamu tak pernah membiarkanku mabuk? jangan biarkan aku terlalu banyak meneguk pahit lagu-lagu patah hati yang kau nyanyikan karena isi perutku sedang tak bisa kumuntahkan.
_____________
kamu tahu telingaku tak sanggup. aku terhimpit berat suaramu yang meneriakkan sajak-sajak kehilangan dengan nada-nada minor yang kau hembuskan lirih di tengkuk leherku.
_____________
mataku tak lagi mampu berair. sudah terlalu banyak air yang kutelan malam ini. ada asa kecil agar kau mampu menyeka asa besarku terhadapmu atau jika saja air mata itu akhirnya menyerah jatuh.
_____________
aku butuh tatapan matamu sekarang juga tertembak langsung ke dalam mataku tajam dan dalam, sehingga menarikku dari tatapanku yang akan segera menyandingkan sorotnya di mata orang lain.
_____________
jangan biarkan lengan itu merenggutku yang sedang tak sadarkan diri. aku masih berlari ke arahmu, berharap punggungmu mengisi segenap sadarku bersama sisa tubuhmu yang lain.
_____________
masih bayangmu yang membara, bertransformasi ke dalam asap-asap pekat menjadi dirimu yang sempurna. jangan biarkan terbakar habis menjadi abu yang berserakan di tepi rindu.
_____________
_____________
cuka yang sedang kumakan ini tak cukup asam untuk menuang perih bagi luka yang sudah lama terbengkalai, jika saja kau masih mampu membiarkanku mengecap manis dari aroma bahumu yang mendekapku.
_____________
bukankah kamu tak pernah membiarkanku mabuk? jangan biarkan aku terlalu banyak meneguk pahit lagu-lagu patah hati yang kau nyanyikan karena isi perutku sedang tak bisa kumuntahkan.
_____________
kamu tahu telingaku tak sanggup. aku terhimpit berat suaramu yang meneriakkan sajak-sajak kehilangan dengan nada-nada minor yang kau hembuskan lirih di tengkuk leherku.
_____________
mataku tak lagi mampu berair. sudah terlalu banyak air yang kutelan malam ini. ada asa kecil agar kau mampu menyeka asa besarku terhadapmu atau jika saja air mata itu akhirnya menyerah jatuh.
_____________
aku butuh tatapan matamu sekarang juga tertembak langsung ke dalam mataku tajam dan dalam, sehingga menarikku dari tatapanku yang akan segera menyandingkan sorotnya di mata orang lain.
_____________
jangan biarkan lengan itu merenggutku yang sedang tak sadarkan diri. aku masih berlari ke arahmu, berharap punggungmu mengisi segenap sadarku bersama sisa tubuhmu yang lain.
_____________
masih bayangmu yang membara, bertransformasi ke dalam asap-asap pekat menjadi dirimu yang sempurna. jangan biarkan terbakar habis menjadi abu yang berserakan di tepi rindu.
_____________
Minggu, 02 September 2012
Maaf dan Doa
Ada sepantasnya maaf yang tak kuasa tersampaikan, dituliskan di sepucuk kertas yang terlipat dan tersimpan rapi di ruangan terbawah lemari hati.
Namun ada setulusnya doa yang dihembuskan lirih oleh nafas, ditiupkan ke dalam sebuah botol usang dan dihanyutkan ke lautan angkasa.
Maaf telah meremukkan yang kokoh demi menggenggam yang rapuh, doa terbaik atas segala yang terbaik selalu ada untukmu.
Namun ada setulusnya doa yang dihembuskan lirih oleh nafas, ditiupkan ke dalam sebuah botol usang dan dihanyutkan ke lautan angkasa.
Maaf telah meremukkan yang kokoh demi menggenggam yang rapuh, doa terbaik atas segala yang terbaik selalu ada untukmu.
Senin, 06 Agustus 2012
aku tidak kapok, Tuhan.
"Tuhan, aku menyerah.
Di mana 'yang terbaik' yang aku mohonkan
pada-Mu dua tahun belakangan ini?"
Kalimat itu sudah pernah menggantung beratus-ratus kali di kepalaku, di pangkal pikiranku. Beratus-ratus kali juga aku mampu mengelabuinya, pikiranku itu.
Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus-menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, dan bahkan sampai saat ini, saat ketika masa yang kumaksud di atas sepertinya telah menemui akhirnya, aku masih tidak tahu apakah telah yang terbaik yang kudapatkan.
Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, sampai aku berkali-kali hampir sampai pada suatu titik dimana aku tidak lagi memiliki minat untuk meminta pertolongan melalui doa karena aku tidak merasakan ada apa-apa yang menjadi lebih baik.
Tapi aku tidak kapok. Sekali lagi Tuhan, aku mohonkan yang terbaik untuk-Mu berikan kepadaku. Aku mohon.
Di mana 'yang terbaik' yang aku mohonkan
pada-Mu dua tahun belakangan ini?"
Kalimat itu sudah pernah menggantung beratus-ratus kali di kepalaku, di pangkal pikiranku. Beratus-ratus kali juga aku mampu mengelabuinya, pikiranku itu.
Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus-menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, dan bahkan sampai saat ini, saat ketika masa yang kumaksud di atas sepertinya telah menemui akhirnya, aku masih tidak tahu apakah telah yang terbaik yang kudapatkan.
Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, sampai aku berkali-kali hampir sampai pada suatu titik dimana aku tidak lagi memiliki minat untuk meminta pertolongan melalui doa karena aku tidak merasakan ada apa-apa yang menjadi lebih baik.
Tapi aku tidak kapok. Sekali lagi Tuhan, aku mohonkan yang terbaik untuk-Mu berikan kepadaku. Aku mohon.
Minggu, 13 Mei 2012
Aku Ada
Kamu tak harus melihat pelangi untuk tahu hujan baru saja turun. Kamu hanya perlu mencium bau rumput basah dan merasakan genangan air yang tersisa di atas permukaan tanah.
Kamu tak harus menonton senja untuk tahu matahari akan tenggelam. Kamu hanya perlu melihat cahaya langit yang meredup dan berubah hitam dan merasakan angin semilir sore yang suhunya merendah.
Kamu tak perlu memahami musik untuk tahu ada rangkaian nada yang indah mengalun di sekitarmu. Kamu hanya perlu memejamkan mata dan mendengarkan lagu itu penuh-penuh.
Maka aku tak perlu merangkai kata sedemikian rupa agar kamu dapat memahami isi hatiku. Aku hanya perlu diam, menatapmu, dan mungkin menunggu.
..........
Aku ada.
Meski tak pernah mampu menampakkan diri.
Bahasa keberadaan itu sudah cukup untuk menyatukan kita dalam satu semesta yang sama. Semesta yang hanya kita yang mampu memahaminya. Kita tak kuasa berbuat apa-apa. Kecuali menunggu. Menunggu entah kemana angin ini menerbangkan kita. Semoga selalu ada waktu. Semoga kamu takkan berubah.
Selasa, 20 Maret 2012
Jembatan Ego
Aku tak perlu kehilanganmu untuk menyadari seberapa berharganya kamu. Aku hanya perlu melihatmu berubah.
Aku tak perlu pernah memilikimu untuk menyadari seberapa berharganya kamu. Aku hanya perlu pernah membunuh waktu bersamamu.
Kamu telah lama berharga bagiku. Hanya saja aku menyimpan semuanya di alam bawah sadarku. Aku sendiri yang membiarkan diriku untuk tidak membawamu ke atas garis kesadaran dan menjelmamu dalam realita.
Kamu telah lama berharga bagiku. Hanya saja aku tak pernah merumuskannya secara lumrah. Aku tak pernah membiarkan rasa itu menyebrangi jembatan egoku agar aku bisa menyadarinya.
......
Selamat menempuh hidup baru, Teman. Sekarang kamu berhasil menyebrangi alam bawah sadar ke alam sadarku. Dan aku menyesal.
Langganan:
Postingan (Atom)

