Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Mencukupkan Diri

Pada akhirnya berpasangan adalah perkara mencukupkan diri.

Kau bisa hidup untuk dirimu sendiri. Percayalah. Kita ini makhluk egosentris. Kita ini diciptakan lebih dulu sebagai individual, barulah setelah melalui berbagai proses belajar, kita mulai menumbuhkan kebutuhan sosial kita sampai matang, lalu menjadi makhluk sosial dan individual secara bersamaan.

Kita tak terlalu perlu berpasangan. Percayalah, kau tak perlu terlibat di dalam ruang penuh pertimbangan, karena harus menghitung segala sesuatunya untuk dua orang. Kau harus menjaga perasaan dua orang, kau dan pasanganmu. Kau harus menghitung kepantasan dengan proporsional, apakah sesuatu itu pantas bagimu dan bagi pasanganmu. Kau harus bertanggungjawab, atas dirimu dan atas pasanganmu.

Kau tak perlu melakukan itu. Kau bisa bebas. Kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu. Cukup memikirkan dirimu sendiri, cukup berbuat apapun untuk dirimu sendiri. Kau akan baik-baik saja. Kau bisa flirting dengan sebanyak-banyaknya lawan jenis dalam sebanyak-banyaknya waktu. Kau bisa bersama dengan siapa saja di waktu kapan saja. Hidupmu akan baik-baik saja.

Kau bisa menatap wajah pasanganmu dalam-dalam, dan bertanya-tanya, “kenapa harus dia?” Kau tahu yang lebih keren pasti banyak di luar sana. Entah arti keren itu yang pintar, yang tampan, yang artsy, apapun –terserah padamu-, ada banyak di luar sana. Tak akan habis. Lalu kau akan menjawab sendiri, “karena semua ini sudah cukup.”

Kau tak akan pernah bisa memenuhi semua yang kau inginkan. Kesempurnaan itu kau karang di dalam kepalamu dan memang tempatnya hanya di dalam kepalamu. Tidak ada di dunia nyata. Tidak ada yang selamanya akan menye-menye, semua akan mengalami kepudaran interaksi. Tidak ada yang akan selama excited pada apapun tentangmu, semua akan mengalami kepudaran ekspresi.

Kau akan bertanya lagi kepada dirimu sendiri, apa yang sesungguhnya kau butuhkan. Kebutuhan-kebutuhan itu saja yang perlu kau penuhi. Saya butuh teman hidup. Maka saya akan mencukupkan diri saya dengan seorang pasangan yang seperti teman saya. Teman, tapi dengan kualitas paling baik di antara teman-teman saya yang lain. Seseorang yang menemani dan mengimbangi saya ketika saya hanya membaca buku atau menulis dalam diam, berteriak-teriak di gunung, pantai, atau konser, menangis-nangis sesenggukan demi hormon bulanan, atau sekadar mendiskusikan film atau manusia yang sekarang sudah jarang tampak seperti manusia seharusnya. Seseorang yang untuk bercerita saja harus selalu berebutan dengan saya -tak mau kalah-, terus mengomentari apa yang saya lakukan, dan pastinya punya dunia dan hidupnya sendiri yang tak perlu terlalu saya acuhkan sampai kelewat batas. Seperti itulah teman. Itulah yang saya butuhkan.

Pada akhirnya kau mencukupkan diri. Kau cukupi kebebasan dalam hidupmu yang tak elak memang sangat menyenangkan. Kau cukupi keinginanmu yang muluk-muluk, lalu fokus kepada kebutuhanmu. Kau cukupi perjalanan-perjalananmu yang selama ini membuatmu berlari kencang sampai kau sesak napas, lalu memilih berjalan kaki pelan-pelan dan damai agar kau tak melewatkan lagi pemandangan di sekelilingmu.

Begitulah konsep berpasangan. Pada akhirnya kau butuh penakar hidup. Agar kau tak terbang terlalu tinggi. Tidak semua burung cocok berada di semua level ketinggian, dan kau perlu sesuatu untuk menahanmu agar tidak kemudian sesak napas kekurangan oksigen di sela-sela awan dan lalu terkapar gagal menyesuaikan diri dengan tekanan udara yang asing.

Perihal Si Keren dan Si Kotor

Saya pernah me-retweet suatu tweet yang jika diartikan kembali kira-kira berbunyi seperti ini:

“Cuma karena punya vagina, kami harus susah-susah was-was berjalan sendirian di malam hari? Thanks society.”

Rasanya saya ingin me-repost tweet ini setiap bulan. Selain karena saking sukanya saya dengan tweet ini, juga karena saya ingin terus membuat reminder bagi semua orang.

Saya sering sekali merasa terganggu dengan kalimat yang berbunyi, “kamu itu cuma dimanfaatin sama dia!” Kalimat ini jika dipakai untuk mengungkapkan konteks selain seks, bisa dipakai oleh perempuan maupun laki-laki. Konteks harta misalnya. Sang tertuduh yang memanfaatkan bisa saja Si Perempuan ataupun Si Laki-laki. Namun konteks ini jika digunakan dalam konteks seks, sebagian besar tertuduh pastilah laki-laki.

Mengapa harus laki-laki yang memanfaatkan perempuan? Memangnya yang merasa enak hanya si laki-laki sehingga hanya mereka yang mendapatkan manfaat? Jika hubungan seks itu memang dilakukan dengan persetujuan kedua pihak, tidak ada paksaan dan sama-sama mau, coba tanyakan ke perempuan-perempuan itu, apakah mereka juga merasa enak atau tidak. Tempeleng saja sekalian jika mereka menjawab tidak.

Lalu mengapa harus laki-laki yang memanfaatkan perempuan? Kenapa tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin justru si perempuan yang sedang memanfaatkan si laki-laki? Jawabannya; konstruk sosial, atau kesadaran kolektif atau apapun orang suka menyebutnya. Konstruk sosial yang sudah terbentuk sejak purba. Bahwa perempuan pasti lebih lemah dari laki-laki. Bahwa di Mesir dulu, laki-lakilah yang menyusun batu sampai jadi Piramida dan perempuan cukup menyiapkan bergalon-galon bir untuk para laki-laki itu. Konstruk nilai yang diamini selama berabad-abad pergantian peradaban manusia. Sampai pada peradaban ini, tidak ada yang akan mempertanyakannya lagi. Pokoknya ya begitu.

Konstruk ini bahkan sebenarnya sudah kurang valid digunakan di masa sekarang. Sudah banyak perempuan yang menjadi kuli, buruh kasar pembangunan. Lagipula tidak ada lagi yang butuh-butuh banget menata batu sampai tinggi untuk punya tempat tinggal. Kami cukup punya uang, lalu beli apartemen. Untuk punya uang kami hanya perlu punya karir sukses. Di titik mana lagi laki-laki dibutuhkan kalau begitu? Tidak punya pasangan selamanya juga hidup mungkin akan baik-baik saja. Kalau butuh kasih sayang, tinggal punya affair di sana-sini tanpa perlu ada attachment berlebihan. Kalau butuh seks, ada di mana-mana.

Saya juga sering sekali merasa terganggu dengan konsep; laki-laki yang pernah ‘mencicipi’ banyak perempuan itu keren, tapi kalau perempuan yang pernah ‘dicicipi’ banyak laki-laki -mengapa harus dalam kata kerja pasif?- itu rendah dan kotor. Kita sama-sama punya organ reproduksi yang hanya saja bentuknya berbeda. Sudah. Selain itu apalagi yang perlu dibedakan? Silakan dibayangkan saja bagaimana laki-laki melakukan hubungan seks dengan banyak perempuan, seperti apa motivasi dan perasaannya di setiap hubungan yang terjadi. Mereka melakukannya mungkin ada yang karena sayang, ada yang karena iseng, ada yang karena khilaf saja. Tidak semuanya berarti dan harus dibaperin. Ya seperti itulah juga kami. Sama saja.

Seks menempati bagian paling dasar dan besar dalam Hirarki Kebutuhan Manusia menurut teori psikologi Maslow. Kebutuhan yang juga ditempatkan di situ adalah kebutuhan kita untuk makan. Begitulah manusia punya insting untuk bertahan hidup; makan dan bereproduksi. Sudah seperti itu kita diciptakan, baik yang perempuan maupun yang laki-laki.

Seks itu sesederhana ‘gue sange ya gue ngewe trus gue seneng ya udah gitu aja’. Itu basic instinct. Tanpa perlu rumit-rumit mencampur adonannya dengan sekian gram nilai-nilai sosial yang berlaku soal mana yang pantas dan mana yang tidak. Soal mana yang lebih pantas dan mana yang kurang pantas.  Soal perempuan tidak pantas begini dan laki-laki bebas begitu.

Kebutuhan ini sudah ditanamkan ke diri kita sejak orok. Bukan hanya orok si laki-laki, tapi juga orok si perempuan. Bukan hanya laki-laki yang boleh terangsang di dunia ini, perempuan juga. Bukan hanya laki-laki yang harus mengontrol perilakunya ketika terangsang, ya perempuan juga. Seharusnya begitu. Jika begitu, tidak harus kami yang was-was berjalan malam-malam sendirian. Tidak juga yang punya penis. Seharusnya kita semua aman dan baik-baik saja. Tidak perlu juga seorang pria bule memungut sembarangan cabe-cabean yang bahkan ‘tidak enak dilihat’ di jalan untuk memproduksi Asian Sex Diary, saking ‘rendah’ dan ‘tak punya arti’ kami. Lalu saya juga tidak perlu bertanya-tanya kenapa bukan terong-terongan saja yang dipungut sembarangan di jalan oleh seorang wanita bule, karena kalaupun iya, jarang untuk dieksploitasi.

Dalam suatu malam, saya pernah terjebak –untuk kesekian kalinya- dalam diskusi meja makan yang membahas perihal-perihal rumit –dan melelahkan karena tak akan ada habisnya- bersama teman-teman saya. Mulai dari Tuhan, agama, dosa, pahala, dan hal-hal yang sangat menarik dibahas, hanya saja obrolan rumit seperti ini memang butuh mood. Dari berbagai referensi yang mendasari pendapat masing-masing, salah satu teman saya bilang begini;

“Gue pernah baca di salah satu kitab, dosa itu berakar dari mencuri. Membunuh itu mencuri hak hidup orang lain. Korupsi itu mencuri harta orang lain. Lalu kalau ngewe, siapa nyolong apa dari siapa, kalau sama-sama mau, sama-sama senang?”

Iya. Kita memang sama saja. Si Perempuan tidak berdosa atau mencuri apapun dari siapapun. Si Laki-laki juga tidak. Saya bukan feminis radikal KW super yang mau menuntut persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki sampai pada taraf perempuan harus boleh jadi imam masjid raya dan laki-laki harus boleh mendapat cuti sampai tiga bulan seperti jika perempuan sedang cuti melahirkan. Saya hanya membahas ini dalam konteks seks; merekonstruksi nilai yang menghasilkan pandangan tentang siapa bisa menjadi orang yang keren dan siapa bisa menjadi orang yang kotor.

Seharusnya tidak ada yang kotor. Seharusnya tidak ada juga yang keren. Biasa saja. Seks hanya urusan insting dasar manusia dan otoritas atas tubuh masing-masing.

Rabu, 13 Mei 2015

Recent Favorite: Soko



She's just.. She's just an impulsively assertive cute little baby. No, she's not little and she's not a baby. She's just a super-sweet weirdo.

______________________________

Bukan. Bukan saya baru menemukan dia. Saya pernah mendengar musiknya. Hanya saja, saya baru menaruh perhatian lebih pada perempuan bernama asli Stephanie Sokolinski ini. Dia..

..Aneh.

Dimulai dari playlist teman baik saya (teman yang baik sekali malah), saya kembali berkutat mendengarkan album-album Soko beberapa waktu belakangan ini. Terutama album EP pertamanya, Not Sokute (2007).

Album yang aneh karena dibuat oleh seorang perempuan yang memang aneh. Ini album yang paling sederhana dan jujur bila dibandingkan dengan album-album Soko berikutnya. Dia terlalu jujur dengan dirinya sendiri memang. Dia tidak perlu peduli bagaimana caranya jujur kepada orang lain, tapi dia menguasai cara terbaik untuk jujur kepada dirinya sendiri, jujur terhadap emosi dan pikiran yang berlangsung di dalam dirinya.

Seperti membaca catatan harian pribadi seorang gadis polos, dia hanya mengalirkan semua emosi dan pikirannya apa adanya. Dia bisa jatuh cinta dengan apa adanya, lalu mengungkapkannya juga dengan apa adanya, tanpa banyak mengolah apa yang dialaminya ketika akan disajikan dalam musik. Tanpa banyak intervensi, dia bisa menulis lirik yang sangat sederhana.

And you kiss me more and more
And I kiss you too
And I kiss you too!


- Take My Heart

Dia memang tampak berantakan. Kau bisa melihatnya dari penampilan dan perilakunya. Dia semacam seorang asertif yang pandai mengungkapkan dirinya, namun seringkali impulsif dan tidak dapat mengontrol apa yang dilakukannya. Tapi bagi saya dia hanya terlalu jujur.

Its raining outside, I'm crying inside
Its raining outside, I'm crying inside


Its raining outside, I'm crying out loud
Its raining outside, I'm crying out loud


Come on don´t be mad I told you I need you
Come on don´t be sad I, I´m still in love with you 


- It's Raining Outside

Sederhana. Sederhana dan manis. Dia bisa menjadi gadis yang lemah dan ketakutan karena merasa kalah. Tidak hanya jujur terhadap perasaan yang menyenangkan, dia juga jujur dengan kecemasan yang dirasakannya.

Because you're very cute tonight
And I feel shy and sad and I look at you
And I think I love you
But you don't want me
And that is very clear


- The Dandy Cowboys

Sungguh seperti mempresentasikan isi kepalanya kepada dunia sama persis seperti apa adanya. Ya, seperti membaca catatan harian pribadi seorang gadis polos.

Hanya saja dia bukan gadis yang polos. She's a piece of shit. She's a rebel. Pergi dari rumah di usia 16 tahun, meninggalkan sekolah formal dan masuk ke sekolah acting namun hanya bertahan sekitar satu tahun karena bosan. Lalu masuk lagi ke sekolah formal lain dan meninggalkannya lagi. Tidak suka mengenakan bra, tidak tahu berapa ukuran payudaranya karena tidak pernah membeli bra. Terbuka sebagai biseksual, namun pada interview terakhirnya di salah satu channel Youtube, she stated that she's much more likely to be with the girls. Boys have too much drama and girls are easier, she said. Girls are as easy as 'I like you,' 'I like you too,' 'cool,' 'let's be together."

Lalu dia bisa begitu marah dengan rumit, tapi mampu menguraikan alasan kemarahannya secara mendasar. Dia mampu mengungkapkan hal-hal sederhana yang mendasari sebuah perasaan. Alasan-alasan yang sering luput karena perasaan yang dirasakan sudah terlalu rumit. Dia bisa membenci pacar baru mantannya dan ingin membunuhnya, hanya dengan alasan karena dia menyesali, jika saja wanita itu tidak pernah ada dan mereka masih bersama, mereka sudah bisa punya Tom dan Susan. Lalu dia menyanyikan lagunya nyaris seperti hanya bercerita. Some sort of a cute form of anger.

I would have met your friends
We would have had a drink or two
They would have liked me
'Cause sometimes I'm funny


I would have met your dad
I would have met your mom
She would have said
Please can you make some beautiful babies?

So we would have had a boy called Tom
And a girl called Susan born in Japan


- I'll Kill Her

Bukan hanya soal lirik, musiknya pun sederhana. Lagunya penuh nada-nada sederhana dengan aransemen setiap instrumen yang juga sederhana. Sederhana.. dan jujur.

Di album-album berikutnya Soko masih tetap jujur, hanya saja proses berpikir dan proses mengungkapkan pikirannya ke dalam karya sudah semakin kompleks. Batas imajinasinya antara semakin kabur atau justru semakin tajam, sehingga tidak begitu sederhana lagi. Dia sudah mencapai imajinasi tentang hubungan interaksinya dengan alien, dan pikiran-pikiran kompleks lainnya.

Untuk itu, album Not Sokute masih menjadi kesayangan. Keanehan yang manis dan kejujuran yang kasar milik Soko masih sangat kental di album ini. A super-sweet weirdo. A human being who's just acting like a human being.

I hate myself today
I don't know what's happening to me
I hate my face today
I think I look so shitty
I have some spot everywhere
And I'm not even shaved
My hair are greasy
I look disgusting
My eyes are glued
And my lips are shaped
My legs are prickling
And plus I'm stinking today

 
How can I date someone
With a face like that
I know you're gonna dump me again
And i am gonna cry

'Cause you want a perfect girl
And I'm not what you expect
You want a perfect girl
And I look shitty today

 
Maybe I should put some make up
And find some crazy outfits
But I am very tired today
And I don't care if I'm not pretty

I should be like these girls
Skinny and great all the time
And I'm still wearing my slippers
And eat all the candy's at home
I should sleep more
And stop going out every day
I should focus more
And stop complaining today


- Shitty Day

______________________________





Senin, 04 Mei 2015

You Tell People What Your Ego Wants to Hear

Sudah sering saya pikirkan, mempelajari manusia memang sangat menyenangkan. Menghadapinya saja yang tidak.

_________________________


Kita adalah makhluk pembohong. Kita mulai berbohong bahkan ketika usia kita baru berkisar 2 tahun. Ini valid dan berdasar pada penelitian resmi yang tak sengaja saya tonton di suatu stasiun TV yang gemar menayangkan program dokumenter. We survive and we're good at it, that's why we lie. That's natural, that's instinct and that's okay. Jangan terburu-buru merasa buruk.

Jika tidak sedang berbohong, kita pandai memanipulasi percakapan. Kita hampir tidak pernah menyampaikan fakta dengan sempurna ketika berbicara sehari-hari dengan orang lain. Apapun yang keluar dari mulut kita, secara keseluruhan kemasannya, pasti mengandung tendensi untuk melakukan pembenaran atas diri kita sendiri. Mungkin ada fakta di dalamnya, tapi sekali lagi, keseluruhan kemasan percakapan yang kita sampaikan kepada orang lain pasti bertujuan untuk memberitahu bahwa kita benar. Tidak peduli apakah pihak lain salah, yang penting kita benar. Tidak peduli juga siapa lawan bicara kita dan apakah dia berkaitan dengan apa yang kita sampaikan, yang penting dunia di luar diri kita tahu kita benar.

Tak perlu merasa buruk. Semua orang melakukannya dan hampir selalu melakukannya. Secara sadar, maupun lebih sering secara tidak sadar.

Lucu ketika kau berada di antara dua teman yang sedang terlibat konflik. Apapun yang disampaikan oleh pihak satu pasti akan bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh pihak lainnya. Lebih lucu lagi ketika kau sebenarnya tidak peduli dengan konflik yang ada di antara mereka. Tanpa ada judgement sama sekali, kau akhirnya hanya mendengarkan apapun dari manapun. Segala sesuatu terdengar benar. Tak ada yang salah sama sekali. Hanya saja kau menjadi sadar, begitulah manusia, sepeti itulah pola perilakunya. Apa yang terjadi akan semakin lucu ketika kau sering mengalaminya.

Manusia memang lucu. Kau pun lucu karena kau juga pasti melakukan hal yang sama, sadar atau tidak.

Dalam keseharian kita, kita hampir hanya berkomunikasi dengan dua pola. Pertama, you tell people what they want to hear. Ini karena kita mempertahankan kedudukan sosial kita agar tetap 'aman' di tengah-tengah orang lain. Itu sebabnya kita menyenangkan orang lain. Ini terjadi pada waktu-waktu seperti ketika temanmu patah hati lalu datang kepadamu dan meminta saran. Meski kau memberi saran paling menyakitkan untuknya, secara tidak sadar kau sudah menghitung sedemikian rupa bahwa apa yang kau sarankan itu akan menyenangkannya. Atau paling tidak, membuat ia semakin senang berteman denganmu.

Kedua, you tell people what your ego wants to hear. Sederhana; melakukan pembenaran terhadap diri sendiri. Kita membungkus sedemikian rupa kebohongan maupun kebenaran, namun dengan kemasan yang sebisa mungkin akan menyelamatkan diri kita dari kesalahan.

Kita memang adalah makhluk yang aneh. Semakin dipikirkan semakin ajaib. Take the positives and everything is fun anyhow.

Well, wait... what? What's positive and what's negative anyway?

_________________________


I'm funny. You're funny. We're funny.
We're human.
Human is funny.

Jumat, 10 April 2015

Apa yang Ada di Dalam Kepala Mereka?

Berkutat dengan isi kepala sendiri, mencoba menguraikan apa yang terjadi di dalam isi kepala orang lain, memang pada banyak waktu adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan.

Apa yang ada di dalam kepala Aram Saroyan ketika membuat puisi berjudul A Poster-Poem? Puisi satu huruf yang kini lebih banyak, atau lebih nyaman dikenal sebagai jenis visual poetry. Jenis puisi yang ada sejumlah populasi di dunia ini mengguggatnya dan menganggapnya bukanlah puisi. Mengapa harus bentuk huruf 'm' yang ditambah satu kaki lagi? Apa makna di baliknya? Mengapa makna itu direpresentasikan dengan bentuk huruf 'm' yang ditambah satu kaki lagi? Apa yang sedang terjadi di dalam diri Aram ketika terpikirkan membuat karya itu?




Apa juga yang ada di pikiran The White Stripes ketika membuat the shortest concert in history? Alasannya mungkin bisa sesederhana karena di dunia ini ada puisi terpendek, maka tidak masalah ada konser tersingkat. Tapi mungkin juga tidak sesederhana itu. Lalu mengapa? Bagaimana mereka punya ide membuat konser di Newfoundland menjadi seperti itu? Apa makna permainan drum dan gitar yang hanya berisi satu nada itu? Mengapa itu mereka pilih untuk menjadi penanda berakhirnya tur mereka ketika itu?




Lalu apa yang yang ada di dalam kepala John Denver ketika membuat komposisi musik berjudul The Ballad of Richard Nixon? Komposisi sepuluh detik yang hanya berisi keheningan. Benar-benar hanya berisi keheningan. Seperti Aram Saroyan, John Denver pasti punya sejumlah populasi di dunia ini yang menggugatnya dan karyanya. Tapi kembali lagi, apa yang ada di pikirannya ketika menciptakan komposisi yang judulnya mencantumkan nama salah satu Presiden USA itu? Mengapa harus Richard Nixon? Mengapa harus direpresentasikan dengan keheningan? Mengapa harus hening dan mengapa ia anggap keheningan adalah suatu komposisi? Meski demikian karya ini menjadi valid jika Denver menjadikan pemikiran Mozart sebagai referensi.


Wolfgang Amadeus Mozart


Manusia dan segala sesuatu yang terjadi di dalam dirinya memang menarik. Isi kepalanya menarik. Proses berpikirnya menarik. Tapi kau tak akan khatam mempelajari dan mencari tahu tentangnya; apa yang terjadi dan apa yang mampu dihasilkan.



(Reference: What is The Shortest Poem?)

Kamis, 02 April 2015

Here Comes The Sun And It's Alright




Here comes the sun.
And it's alright.



"Kenapa naik gunung?"

Biar kau bisa istirahat. Dari apa yang lebih melelahkan dibandingkan bersusah payah berjalan jauh menanjak dan menurun dalam napas yang tersengal-sengal; apa yang adalah keseharianmu yang tampaknya baik-baik saja, dalam langkah yang baik-baik saja dari kau bangun sampai kau tidur lagi, dalam napas yang kaupikir baik-baik saja padahal telah meracunimu sampai sekarat.

Biar kau tahu bahwa kau kecil. Bahwa apa yang besar di hadapan matamu bahkan masih jauh lebih kecil dari apa yang menciptakan kalian. Bahwa kau tak punya kuasa apa-apa di dalam genggaman apa yang menguasai hidup dan matimu. Bahwa kau harus tahu bagaimana caranya merendahkan dagumu jika cara meninggikan dirimu saja kau tahu.

Biar kau belajar. Membaca matahari; ia akan datang juga, meski sepanjang sore mendung, sepanjang malam hujan dan sepanjang pagi berkabut. Ia akan datang juga, menghangatkanmu tepat pada titik dimana kau tak tahu lagi bagaimana menyiasati kedinginan. Dan semua akan baik-baik saja.

Dan begitulah hidup.

Kamis, 15 Januari 2015

Tentang Waktu; Duduklah yang Manis di Dalam Gerbong

Kadang hidup bisa kauringkas ke dalam satu perjalanan kereta api.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Tak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja dan kau akan sampai juga di stasiun yang kautuju.

Meskipun di luar jendela, segala sesuatu berlalu darimu. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Gunung-gunung. Tiang-tiang listrik. Orang-orang. Waktu.

Kadang keretamu akan melambat. Kau punya waktu yang lebih lama. Dengan orang-orang. Dengan gunung-gunung. Dengan tiang-tiang listrik.

Kadang ia akan kembali melaju cepat. Kau tak punya waktu yang cukup. Semua berlalu lebih cepat dari yang dapat kausadari. Sampai samar. Sampai bentuknya belum sempat kaukenali. Semuanya. Orang-orang. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Hujan dan terik matahari.

Tapi kau juga tak akan habis menemui hal baru di depanmu. Meski berlalu lagi. Kau temui lagi. Berlalu lagi. Orang. Orang-orang. Sekelompok orang. Atau banyak sekali orang. Datang satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus. Pergi satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau tak akan kenapa-kenapa. Walaupun pinggangmu pegal. Walaupun kau mengantuk tapi tak bisa tidur. Walaupun bukumu telah habis kaubaca dan perjalanan masih panjang. Meski kau bosan dengan lagu-lagu yang keluar dari headset-mu. Walaupun orang di sebelahmu mengorok terlalu keras. Meski kau ingin buang air tapi kamar kecilnya kotor. Meski banyak kecoak berkeliaran keluar-masuk sambungan-sambungan besi. Walau rokokmu habis dan merokok sudah dilarang dan kau tetap melanggar.

Kau akan baik-baik saja. Meski semua melaju. Meski kau melaju. Meski waktu melaju. Meski semua berubah bentuk. Semua yang kau pahami dengan baik atau yang bahkan tak sempat matamu tangkap.

Kau akan sampai juga di suatu ujung. Keluar dan menghirup udara segar. Melurus-luruskan badan yang pegal. Lega.

Suatu ujung yang tak pernah kau bayangkan seperti apa ia sebagai titik berhenti segala sesuatu yang bergerak dalam hidupmu. Duniamu dan dirimu sendiri. Suatu titik cukup. Dimana segala sesuatu kau cukupkan. Suatu titik dimana waktu tidak lagi relevan. Suatu titik dimana dunia membeku diam.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau akan baik-baik saja.



Jakarta, 15/1/15 23.39

Minggu, 07 Desember 2014

Sudah, Lalu Apa?

Ada waktu-waktu dimana kau bertanya-tanya pada dirimu sendiri, "apa yang sesungguhnya sudah aku capai dan ingin aku capai dalam hidupku?" "Apakah yang sudah aku capai benar-benar aku inginkan?" "Apa lagi yang harus aku capai setelah ini?" "Apa lagi yang aku inginkan?"

Dulu kau sekolah. Lalu kau ingin lulus dan masuk universitas yang paling baik untukmu. Setelah itu semua tercapai, kau ingin segera lulus kuliah dengan baik dan mendapat pekerjaan yang paling baik untukmu. Lalu setelah semua itu juga tercapai, kau kembali pada pertanyaan awal tulisan ini. Setelah bekerja lalu apa? Apa ini benar pekerjaan terbaik untukku? Apakah aku justru ingin melakukan hal lain?

Dulu kau beranjak remaja. Lalu kau ingin tahu bagaimana rasanya punya pacar. Lalu semuanya tercapai. Bukan satu pacar, tapi banyak orang dekat dengan banyak kisahnya masing-masing. Banyak orang yang hanya dengan modal penanya, datang lalu mencorat-coret cerita mereka masing-masing di dalam bukumu. Lalu mereka pergi. Kalau diberi bonus dari Sang Maha Menentukan, beberapa orang mungkin hanya berubah 'bentuk' di dalam hidupmu, tapi tak kemana-mana. Lalu kau ingin menikah, sembari kembali ke pertanyaan awal tulisan ini. Apakah itu yang benar-benar aku inginkan? Apakah itu benar-benar akan menjadi sesuatu yang membuatku bahagia? Mungkin nantinya setelah menikah, kau akan kembali bertanya tentang apa yang harus kaulakukan dengan keinginan yang telah tercapai itu.

Manusia memang tak akan pernah puas. Sudah demikian desain yang dibuat Si Empunya Dunia atas diri kita.

Dari dulu sampai sekarang, kau mengalami banyak sekali hal. Mimpi-mimpi yang dengan tekun kau susun rapi, lalu kau pertanyakan lagi, lalu kau susun lagi, pertanyakan lagi, dan begitu seterusnya. Kau mengalami proses besar yang terbentuk dari komposisi harapan dan keputusasaan yang seringkali tidak proporsional. Beberapa hal membuatmu begitu bahagia. Beberapa lainnya membuatmu jatuh; tidak seperti mati, melainkah lebih seperti tidur, namun rasanya kau tak ingin bangun seharian, tidak juga membuka tirai jendela sama sekali.

Semakin hari, semakin rajin kau mempertanyakan perihal-perihal. Semakin kau tahu tentang banyak hal, semakin kau tak paham dengan lebih banyak hal lagi. Tentang keinginan-keinginan ketika mereka tercapai; apakah benar ini apa yang aku inginkan? Lalu keinginan-keinginan yang tak juga tergapai; apakah aku sungguh menginginkan hal ini?

Rumput tetangga seringkali lebih hijau. Hanya beberapa orang beruntung yang diberi anugerah untuk pandai merasa cukup dan menganggap rumput di halamannya yang paling hijau. Beberapa lainnya diberi anugerah untuk tidak mengenal warna, tidak ada yang hijau dan yang lebih hijau, tidak ada yang hijau ataupun yang berwarna selain hijau. Beberapa sisanya diberi anugerah kegigihan besar untuk menjadikan rumputnya yang paling hijau.

Di luar mereka adalah orang-orang kebanyakan, yang akan selamanya mempertanyakan banyak hal; seluruh hal baik dan hal buruk.

Pertanyaan-pertanyaan meriuhkan isi kepalamu. Lalu kau pertanyakan lagi keriuhan di dalam kepalamu.

Tak habis-habis.






Jakarta, 7/12/14

Selasa, 30 September 2014

Rumah yang Samar dan Persinggahan yang Nyata; Jogja, Jakarta dan Torehan Ingatan Tentangnya

Yogyakarta, 26 September 2014.

Untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki lagi di Jogja, setelah awal 2013 lalu meninggalkan kota ini sebagai domisili. Kota ini punya tangan yang selamanya akan selalu mampu melambai padamu, mengajak kembali, dan jika kau tetap mengacuhkannya, tangannya akan menguat sampai mampu menggenggam dan menarikmu kembali.

Ada yang mistis memang di kota ini.


Banyak hal telah berubah. Kota semakin ramai. Kemacetan mulai akrab terjadi. Orang-orang telah datang dan telah juga pergi. Ada yang terasa asing di dada. Kota ini bukan lagi milikmu dan tidak lagi memilikimu. Kau lalu sadar, kota ini bukan rumahmu, meski terus-menerus memanggilmu pulang. Kota ini lagi dan lagi hanyalah persinggahan yang lain. Kau tak lagi punya teman di sini. Mereka telah pergi. Setiap sudut kota yang dulu selalu menampung orang yang bisa kauajak bicara, sudah tak ada lagi. Satu-dua orang masih ada, tapi sudah tak sama lagi.

Mungkin bukan orang yang berubah, mungkin keadaan yang berubah. Atau mungkin bukan mereka yang telah pergi, tapi justu kau yang telah pergi. Kau yang telah tak ada. Bukan ragamu, tapi kau dalam bentuk yang lebih samar.

Kota ini tetap mempesona. Jingga lampu jalan di sini selalu terasa berbeda dari jingga lampu jalan di manapun. Ada roh yang ikut keluar dari sinar-sinarnya. Orang-orang di kota ini juga seperti mengeluarkan sesuatu dari pori-pori kulitnya, menguap di udara dan menyatu membentuk suatu senyawa yang melapisi atmosfer. Membuatmu sentimentil karena menghirupnya. Lalu semua kenangan mulai sibuk lalu-lalang di dalam dadamu, dan beragam perasaan mulai mengaduk-aduk isi kepalamu. Aneh memang, tapi benar ada waktu-waktu dimana ingatan justru muncul di dalam dada dan perasaan hadir di dalam kepala.

Lalu kau akan jatuh cinta. Sama seperti yang sudah-sudah terjadi setiap kau ada di kota ini.

Seperti saya, ada baiknya kau pergi melamun sendirian. Berjalan di sepanjang Malioboro. Mencari-cari topi pancing batik titipan teman yang tak pernah ada. Merasa heran karena baru kali ini kau mencari sesuatu di Malioboro, di Mirota Batik, lalu tak menemukannya. Pilihlah satu becak setelah itu. Cari bapak tukang becak yang tak terlalu ramah, tapi tak juga terlalu cuek. Bertanyalah dimana bisa kautemukan topi itu. Dia akan memberikan jawaban yang tak memuaskanmu. Lalu naiklah becaknya, minta dia mengantarmu pulang. Lalu lanjutkan lamunanmu.

Di perjalanan, merokoklah secukupnya kau mampu menenangkan dirimu. Kau akan melihat banyak hal di dalam dirimu sendiri; melihat kau yang dulu tinggal di kota ini, dan bagaimana berbedanya ia dengan dirimu yang sekarang. Kau akan melihat bahwa telah panjang jalan yang kaulalui. Kau akan takjub menyadari apa saja yang sudah kaualami. Tapi perjalanan memang seharusnya panjang dan diisi oleh banyak hal yang pada akhirnya membentukmu sampai di titik ini.

Segala hal berubah. Keadaan berubah. Dan kau adalah bagian dari keadaan itu. Kau berubah.

Semua orang akan pergi. Jika bukan mereka, kaulah yang pergi. Kau bagian dari orang-orang.


Lalu kau rindu Jakarta. Karena kota bajingan itu sesungguhnya juga telah membuatmu kecanduan. Karena serutin apapun kau memaki dan mengeluhkannya, kau menyayanginya.

Ini kali kedua saya merasakan adanya keinginan besar untuk segera pulang ke Jakarta. Kali pertama, ketika sedang mudik ke Ambon. Sampai saya selesai menuliskan tulisan ini, saya juga masih tak habis pikir kenapa saya bisa merindukan Jakarta. Tapi paling tidak, saya punya beberapa alasan yang telah dengan susah payah saya gali dari dalam diri saya sendiri.

Jakarta memang keras. Segala hal di dalamnya memang jahat; dari udara sampai orang-orangnya. Kemudian tanpa sadar, sembari terus memaki dan mengeluh, kota itu telah membentukmu menjadi sekeras dia, tanpa perlu meminta permisi. Kau menjadi semakin kuat. Tubuhmu, mentalmu, hatimu, pikiranmu. Kau menjadi semakin santai menghadapi masalah-masalah. Kau menjadi semakin pintar, semakin cerdas, karena kota ini mengajarkan banyak sekali hal padamu. Lagi-lagi, tanpa permisi. Kau belajar dari apa yang kau alami, apa-apa yang lebih banyak tidak enak, lalu dari apa-apa yang orang lain alami, apa-apa yang memang tidak enak.

Kau jadi mengagumi banyak orang di sana. Karena mereka hebat. Karena mereka kuat. Karena mereka telah dibentuk kota yang keras dan jahat itu. Mereka luar biasa.

Kemudian kau akan menjadi pandai bersyukur. Hal-hal kecil mulai kausyukuri. Satu saja titik bintang di langit. Bulan penuh yang kabur. Penjual makanan di pinggir jalan yang tersenyum padamu. Kendaraan yang memberimu jalan untuk menyeberang. Tukang jamu yang mengingat namamu. Waktu bersama teman-temanmu, meski hanya merokok di kantin atau depan gerbang kantor, meski hanya bermain musik sepanjang malam, meski hanya menumpang tidur karena pulang terlalu malam dan harus bekerja kembali pagi-pagi.

Lalu kau akan sangat bersyukur ketika di tengah rimba yang keras dan jahat itu, kau punya orang-orang tertentu yang mampu memaklumimu dengan jujur. Tak perlu selalu ada. Tak perlu selalu berbaik-baik padamu. Hanya saja mereka selalu mampu mengimbangi kekacauan maupun ketenangan isi kepalamu.

Seharusnya kita memang pandai bersyukur.

Jumat, 05 September 2014

Book Review: The Man Who Mistook His Wife for a Hat


Sesungguhnya ini bukan review. Ini ringkasan suka-suka.

Buku 327 halaman ini berisi tentang dongeng-dongeng dari kisah pasien-pasien penulisnya sendiri, Dr. Oliver Sacks. Mengapa dongeng? Karena kasus-kasus kelainan psikologis klinis atau bisa disebut kelainan neurologi di sini sungguh di luar bayangan. Menakjubkan dan mengerikan dalam satu waktu yang sama. Kasus-kasus yang sepanjang karir Dr. Sacks sebagai neurolog, mampu membuatnya sendiri terus-menerus takjub.

Dr. Sacks menyajikan buku ini dengan baik. Ia menuturkan kasus-kasus pasiennya seperti menuturkan fiksi. Meskipun demikian, buku ini masih tergolong buku yang berat. Selain karena memang adalah buku ilmiah non-fiksi, sekali lagi saya sampaikan, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di dalam buku ini sungguh-sungguh bisa membuat kening berkerut sepanjang membacanya. Kamu akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal-hal semacam ini dan semacam itu bisa terjadi di dalam diri manusia. Beyond imagination, mungkin adalah ungkapan yang tepat.

Di buku ini, Dr. Sacks juga cenderung tidak berniat untuk menjelaskan setiap kasus secara lengkap. Tidak sampai pada penyelesaian kasus yang dilakukannya, atau sebab yang jelas dari beberapa kasus yang hanya sempat diketahuinya, tanpa ditangani olehnya. Ia lebih banyak menekankan pada bagaimana menakjubkannya kasus-kasus tersebut. Ia menekankan pada nilai-nilai pemahaman tertentu yang dapat dipetik dari kasus-kasus ajaib itu.

Dan memang, banyak yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Kamu akan tahu bagaimana seluruh dunia memang hanya ada di dalam kepalamu sendiri. Whole world is just on your mind. Segala sesuatu tergantung bagaimana persepsimu sendiri, tergantung isi kepalamu sendiri. Duniamu ada di dalam kepalamu. Kamu juga akan tahu bagaimana otak manusia adalah ciptaan yang terlalu luar biasa. Beyond everything. Kelecetan kecil di otak, dan seluruh duniamu tidak akan sama dengan dunia yang dipahami orang pada umumnya.

Ada beberapa kasus yang paling membuat saya menganga ketika membacanya.

Pertama, kisah seorang pria yang salah mengira istrinya sebagai topi, kasus yang menjadi judul dari buku ini. Ia mengalami kerusakan di suatu bagian otaknya dan itu merusak kemampuan persepsinya. "Punch line" kasus ini ada pada cerita ketika ia selesai diperiksa, dan diminta memakai kembali sepatunya. Ia hanya menatap kakinya dan terdiam. Baginya, sepatunya telah terpasang. Kakinya adalah sepatunya. Hal luar biasa lainnya dari kasus ini adalah, sebagai musisi, hidupnya dibantu oleh musik yang mengalun sendiri di dalam kepalanya dan sering ia gumamkan setiap saat. Musik itu yang mengarahkannya melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengenakan pakaian. Ketika ada distraksi tiba-tiba seperti bunyi pintu dibanting, musik di dalam kepalanya akan berhenti dan ia akan seketika mematung.

Kedua, kisah seseorang yang mengalami sakit dan berefek ke kerusakan di bagian otak yang bertanggungjawab atas kondisi visualnya. Sejak saat itu, ia menjadi buta. Namun bukan hanya itu, ia juga kehilangan persepsi melihatnya. Jadi, ia kehilangan semua memori visualnya dan menjadi seakan tidak pernah tahu seperti apa yang dinamakan orang dengan melihat. Melihat itu apa? Seperti apa? Bagaimana caranya? Apa rasanya? Maka ia menjadi orang buta yang merasa baik-baik saja dengan kebutaannya, atau kata Dr. Sacks, kebutaan atas kebutaan.

Ketiga, persoalan indera keenam. Setiap manusia memiliki indera keenam yang adalah indera untuk merasakan tubuh kita sendiri. Dengan begitu, tanpa harus melihat tangan kita, kita tahu tangan kita ada di situ, ada di tempatnya, dan mau kita apakan. Begitu juga anggota tubuh kita yang lain. Propriosepsi namanya. Sayangnya, salah satu pasien Dr. Sacks mengalami kerusakan propriosepsinya. Ia kemudian merasa bahwa ia tidak punya tubuh. Untuk bergerak, ia harus menggunakan kelima inderanya yang lain, seperti mata. Ia harus melihat tangannya, baru mengetahui di mana tangannya berada, lalu menggerakkannya, sambil terus dilihat. Ketika ia melepaskan pandangannya, tangannya langsung menghilang dan tidak ada lagi bagi dirinya.

Betapa di luar pemikiran, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di bukunya ini. Dr. Sacks mengkategorisasikan bukunya dengan baik. Ia membahas defisit atau pengurangan fungsi dan kasus-kasus yang diakibatkannya, lalu juga membahas mengenai persoalan-persoalan kelebihan fungsi. Dari sini kamu akan belajar bahwa ketika kamu merasa terlalu sehat, mungkin di saat itulah kamu sesungguhnya sakit.

Dr. Sacks juga mengkategorisasikan satu bab khusus yang membahas "orang-orang sederhana", atau orang-orang yang mengalami gangguan perkembangan. Orang-orang dengan tingkat intelegensi yang jauh di bawah rata-rata, dianggap bodoh, tidak mampu belajar apapun, dan tidak akan mampu bertahan hidup. Karena untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana saja sulit bagi mereka. Namun orang-orang ini punya kelebihan tertentu yang bisa membuat orang lain tak habis pikir. Seperti kasus Si Kembar yang mengalami keterbelakangan mental namun adalah ahli matematika. Mereka hanya memroses hal-hal dengan cara yang tidak sama dengan orang umumnya lakukan. Itu saja.

Seperti itulah Dr. Sacks memaksa kita untuk mengambil makna tersembunyi dari kisah-kisah yang diceritakannya. Ia membuat kita belajar bahwa orang-orang dengan kekurangan di dalam dirinya, sebenarnya sama saja dengan kita. Hanya saja mereka memliki cara yang berbeda dalam memroses dunia dan isinya. Mereka bahkan mungkin lebih dari kita. Atau mereka justru lebih beruntung daripada kita. Seperti pasien-pasien penderita agnosia yang tidak bisa memahami kata-kata, namun sangat peka memahami bahasa non-verbal. Mereka tak bisa dibohongi. Bahkan ketika menonton pidato presiden di televisi, kita mungkin masih bisa terpesona. Tidak dengan mereka.

Sama halnya ketika Dr. Sacks menuturkan cerita penutup bukunya tentang seorang anak penderita autis namun memiliki kemampuan seni rupa yang luar biasa dalam hal menggambar. Seorang anak dengan dunianya sendiri di luar dunia orang-orang lain. Seorang anak yang diistilahkan olehnya, punya pulau sendiri di luar daratan induk. Suatu kutipan dari bukunya kira-kira seperti ini;

"Ini membawa kita ke pertanyaan terakhir: apa ada 'tempat' di dunia bagi orang yang seperti sebuah pulau, yang tidak bisa dibaurkan, dijadikan bagian dari daratan induk? Bisakah 'daratan induk' mengakomodasi, memberi ruang, bagi yang aneh? Apa ada 'tempat' baginya di dunia yang akan menerapkan otonomi bagi mereka, tapi membiarkan mereka tetap utuh?"

Dan saya hampir meneteskan air mata membaca kutipan tulisan itu. Ya, apakah ada? Bukan hanya kita yang baik-baik saja, yang ingin hidup di dunia ini, sehidup-hidupnya, dengan cara yang kita anggap paling hidup. Merekapun demikian.

Kamu tak harus membaca bukunya. Memang berat. Saya menghabiskan hampir sebulan untuk menyelesaikan buku ini. Baca saja catatan ini dan pahami sesuatu.

Kamis, 04 September 2014

Book Review: The Tiny Book of Tiny Stories Vol. 2

  
Buku yang mahal. Dalam pengertiannya secara harfiah maupun tidak.

Saya menemukan buku ini pertama kali di timeline path saya, ketika teman saya memosting gambar-gambar isi buku ini. Buku yang baik pasti ada di tangan orang yang baik. Pada suatu waktu, dia meminjamkannya kepada saya tanpa saya minta dan tanpa pernah saya cari tahu sama sekali kepadanya.

Saya tanya, dimana dia membelinya. Jawabnya, di Periplus. Oke. Pantas saya tidak pernah melihatnya. Selain karena saya lebih senang membaca karya sastra Indonesia, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari buku di toko buku pojokan Taman Ismail Marzuki, atau di kantor saya sendiri ketika Kompas Gramedia Publishing sedang ada hajatan dan mengobral buku besar-besaran.

Saya tanya lagi, berapa harganya. Oke. Jawabannya membuat saya maklum mengapa saya tidak pernah (mau) tahu tentang keberadaan buku ini. Ini adalah buku kedua, dimana ada buku pertama dan buku ketiga selain buku ini. Jika saya yang memilikinya, saya akan gemas untuk memiliki ketiganya. Maka saya semakin tidak mau tahu.

Buku ini memang mahal. Demikian juga setelah saya mulai membuka cover-nya yang tebal. Menarik. Potongan-potongan pikiran dan perasaan dikumpulkan dari berbagai ilustrator dan penulis, dan kemudian ditebar oleh Joseph Gordon-Levitt di setiap lembar demi lembar buku ini. Potongan-potongan kecil. Pendek-pendek. Tapi akan memanjang di dalam kepalamu.

Saya akan bercerita tentang beberapa halaman yang paling mengesankan saya dari semua halaman yang memang mengesankan di buku ini.

Ini bagian dengan tulisan paling bagus bagi saya. Perputaran kata-kata yang cerdas untuk pemaknaan yang dalam. Kiri dan kanan sama halnya dengan salah dan benar, kadang tak benar-benar kiri atau kanan, dan tak benar-benar salah atau benar. Juga tak harus dan tak pasti terus berpasangan.


Ini bagian dengan ilustrasi paling keren bagi saya. Ilustrasi yang mampu menggambarkan segala-galanya sedalam-dalamnya tentang potongan tulisan di sampingnya. Kecemasan memang tumbuh menjadi bunga liar dari dalam kepalamu sendiri. Demikianlah jatuh cinta dan patah hati seringkali berakhir di kursi salon. Buang sial, katanya.


Ini bagian yang paling manis bagi saya. Semanis melihat dua orang berandal yang sedang jatuh cinta dan seketika bertingkah seperti anak kecil di taman bermain. Semanis melihat dua orang dengan isi kepala yang selamanya kacau balau sedang jatuh cinta, lalu tiba-tiba isi kepalanya redam. Semanis... seperti inilah jatuh cinta. Tak buruk tapi tak selamanya baik. Terima saja paketnya.


Dan ini bagian yang paling berhasil memorak-morandakan isi kepala dan dada saya. Seperti melihat cermin, dan tidak menemukan apa-apa di dalam sana. Tidak ada dirimu. Lalu kau rindu pulang, siapa tahu bisa menemukan potongan-potongan dirimu di sana, di bawah tempat tidur, di belakang lemari, di dekat pot tanaman kesayangan mama. Tapi waktu telah berlari meninggalkanmu sebelum kamu sempat mengenalinya.


Secara keseluruhan, buku ini menarik. Menggemaskan. Sangat menggemaskan malah. Jika harus diuraikan satu demi satu tentang tulisan, ilustrasi dan lainnya, masing-masing bagian itu hanya bisa saya beri apresiasi bagus. Tapi ketika mereka disatukan, hasilnya luar biasa dan 'mahal'. Buku sederhana 123 halaman yang dapat kauselesaikan dalam waktu paling lambat 15 menit, tapi mampu membangun rumahnya di dalam kepalamu dan tinggal selamanya di sana.

Rabu, 13 Agustus 2014

Try Doing Things for Your Own Sake

"Kalo maen kabar-kabarin lah. Biar gue nonton."
"Ah, nggak lah. Blues udah nggak 'in' lagi di Indonesia. Lagian band gue nggak layak tonton."
"Yaelah. Mau maen tinggal maen. Kayak program TV aja lo, harus sesuaiin selera pasar."


-----

Itu adalah kutipan percakapan saya dengan teman saya di suatu media sosial. Percapakan pendek yang kemudian memanjang di dalam kepala saya.

-----

Cobalah lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri. Memang untuk dirimu. Dirimu sendiri. Dirimu.

Cobalah.

Saya tidak meminta kamu (dan saya sendiri) untuk melakukannya. Saya hanya meminta mencobanya.

Cobalah.

Meskipun sulit. Meskipun menurut saya sendiri, kemungkinan berhasilnya sangat tipis.

Cobalah.

Cobalah lakukan sesuatu demi dirimu sendiri. Tidak demi orang lain. Tidak demi hal lain.

Cobalah menulis karena itu melegakanmu. Bukan agar orang lain dapat membaca apa yang kautulis. Cobalah bernyanyi karena itu memuaskan rongga dadamu. Bukan agar orang lain tahu seberapa baik kamu bernyanyi. Cobalah berpakaian karena kamu merasa baik ketika mengenakannya. Bukan agar enak dilihat oleh orang lain dengan preferensi minat mereka yang berbeda-beda. Tidakkah itu akan melelahkan? Menyesuaikan diri dengan apa yang orang lain anggap baik, dimana setiap orang akan berbeda-beda pegangannya tentang apa yang dianggap baik. Atau agar sama dengan standar rata-rata orang, agar bisa diterima? Melelahkan.

Cobalah berdiri di depan cermin setiap pagi, dan temukan apa yang kauinginkan dari bayangan yang ada di depanmu itu, lalu wujudkanlah. Bukan menemukan apa yang orang lain inginkan, lalu kauwujudkan. Cobalah bekerja karena kamu merasa apa yang kamu kerjakan adalah benar untuk dirimu sendiri. Bukan untuk bosmu, bukan untuk penilaian tahunanmu, bukan untuk kenaikan gaji atau bonusmu, bukan untuk nama baikmu. Cobalah berjalan-jalan dan berpetualang, demi perasaan luar biasa yang akan kamu rasakan di dalam dirimu sendiri dari pengalaman-pengalaman yang kamu alami selama perjalanan. Bukan agar orang lain tahu kemana saja kamu pernah pergi dan apa saja yang pernah kamu alami. Bagikan pengalaman itu untuk orang lain, tapi demi dirimu sendiri. Demi kelegaan di dalam kepalamu sendiri karena telah membagi kisah untuk orang lain, yang mungkin dapat menjadi suatu pelajaran bagi mereka. Itu terserah mereka, bukan urusanmu lagi. Cobalah bermain musik karena kamu senang melakukannya. Bukan karena apa yang kamu mainkan disenangi oleh orang lain.

Kemudian cobalah mencintai orang lain untuk dirimu sendiri. Karena kamu mencintainya. Karena kamu memang mencintainya dan semuanya adalah tentangmu dan perasaanmu. Bukan karena kamu akan bersamanya. Bukan karena dia juga akan mencintaimu. Bukan karena nilai atau pola apapun yang umumnya dianut oleh semua orang. Biarkan semuanya hanya tentang dirimu. Demi dirimu sendiri. Jangan biarkan rasa memiliki merusak apa-apa yang masih polos, dengan warna-warnanya yang teramat beragam dan pekat.

Cobalah.

Saya yakin semua percobaan ini akan gagal. Karena manusia tidak diciptakan dengan konstruk seperti yang ada di dalam tulisan ini. Ada skema-skema kolektif yang menancap kuat di dalam diri kita, yang akan mengontrol segala apa yang kita lakukan (termasuk perilaku berpikir dan merasa), baik yang dikendalikan oleh kesadaran maupun ketidaksadaran kita. Ada pola-pola yang sepertinya sudah ada sejak kita masih primitif, dan pola-pola itu tidak membiarkan apa yang saya sampaikan di sini untuk dapat diaplikasikan. Dirimu adalah hasil interaksi semua elemen yang ada di dunia sekitarmu, yang berkaitan denganmu. Itu sebabnya dunia tentang dirimu sendiri adalah keniscayaan.

Tapi cobalah.

Mungkin kamu akan bisa lebih berbahagia, berada di bawah apa yang seharusnya bagi dirimu sendiri, bukan di bawah apa yang seharusnya bagi orang atau hal lain.

-----

Jakarta, 13/8/14

Minggu, 13 Juli 2014

Carnival Life


Round 'n round
Carousel
Has got you under it's spell
Moving so fast...but
Going nowhere


Up 'n down
Ferris wheel
Tell me how does it feel
To be so high...
Looking down here


Is it lonely?
Lonely
Lonely


Did the clown
Make you smile
He was only your fool for a while
Now he's gone back home
And left you wandering there


Is it lonely?
Lonely
Lonely 

Carnival Town - Norah Jones



 Saya kembali berkutat mendengarkan lagu ini terus-menerus beberapa minggu belakangan, setelah pada suatu malam teman saya memainkan gitar dan menyanyikannya.



Hidup memang seperti komidi putar; membawamu bergerak begitu cepat, meski kadang tak ke mana-mana.
Hidup memang seperti bianglala; mengantarmu sampai di titik yang tinggi, lalu kembali ke titik yang rendah, dan begitu seterusnya.
Hidup memang seperti badut; mengelilingimu, menghibur sesaat, lalu pergi, meninggalkanmu bertanya-tanya sendirian.

Hidup memang adalah kumpulan wahana yang pada waktunya akan tutup juga;
dan semua hanya tentang kesunyian yang dirayakan dengan begitu meriah.


 

Juli yang Terlalu Riuh


Sembilan Juli Dua Ribu Empat Belas.

Hari ini riuh sekali.

Jerman menghabisi Brazil.
Israel menghabisi Palestina.
Jokowi menghabisi Prabowo.

Sebagai warga negara Indonesia dan bukan Jerman atau Brazil atau Israel atau Palestina, poin ketiga masih menjadi poin yang paling riuh bagi saya.

Saya terbangun di siang hari tanpa ada keinginan untuk menggunakan hak suara saya sama sekali, bahkan jauh sebelum hari ini. Di luar kamar, televisi sudah ramai berkoar-koar tentang perhitungan cepat suara. Maka sisa siang saya dihabiskan dengan menonton berita ini dan itu dengan penuh kecemasan. Menonton berita sudah seperti menonton pertandingan bola atau menonton konser hari ini.

Singkat kata, dua mengalahkan satu. Saya tidak mendukung siapa-siapa. Itu sebabnya hak suara saya disimpan untuk saya sendiri. Bagi saya, apa saja asal bukan kandidat nomor urut satu. Tapi saya juga belum cukup simpatik dengan kandidat nomor urut dua. Di dalam kepala saya, ini dunia yang penuh dengan kongkalikong. Bagaimana jika Si Dua sama saja dengan Si Satu? Bagaimana jika mereka sebenarnya hanya punya satu kepentingan yang sama? Bagaimana jika ini semua hanya eksekusi dari rencana A dan B dan C dan D dan seterusnya milik Si satu ataupun Si Dua yang sebenarnya sama-sama merugikan?

Tapi sekali lagi, bagi saya, apa saja asal bukan Si Satu. Saya tidak perlu menjalani kehidupan berat tahun '98 di Jakarta untuk menolak kekerasan. Toh ketika itu saya baru duduk di bangku kelas tiga SD dan di tahun berikutnya, saya disibukkan dengan kerusuhan Ambon di tanah kampung halaman saya sendiri. Saya tahu apa itu kekerasan. Saya tahu rasanya hidup sulit di tengah pembantaian-pembantaian yang mengatasnamakan agama. Saya juga bisa memahami hal yang sama, yang dilakukan atas nama kekuasaan. Saya hanya tidak mau lagi ada kekerasan di mana-mana, dan saya tidak perlu menjelaskan di sini mengapa atas dasar itu saya begitu takut dengan Si Satu.

Kecemasan saya tidak mereda ketika sampel suara sudah masuk 100% di berbagai media dan sebagian besar dari media-media itu menyatakan Si Dua yang menang. Sebagian kecil media masih ada yang menyatakan Si Satu yang menang. Tanda-tanda kecurangan muncul di mana-mana. Mulai dari kelengkapan sampel suara yang terlalu cepat, jumlah persentase suara yang rancu, kabar tentang hasil perhitungan yang memenangkan pihak satu sudah tersebar bahkan sebelum pemilihan berlangsung, fakta soal lembaga survei yang memenangkan pihak satu adalah milik pihak koalisinya, laporan kesalahan-kesalahan pendataan form C1 di TPS-TPS, typo sajian data angka pemilih yang melenyapkan ribuan suara, isu tentang kekacauan pemilihan di luar negeri yang sengaja diciptakan, dan masih banyak lagi. Tak habis-habis. Tak heran, mengingat Si Satu pernah menyatakan bahwa tidak ada opsi untuk tidak menang bagi dia. Segala hal bisa dihalalkan.

Ini menjadi suatu komedi yang mencemaskan ketika kedua pihak lalu mengklaim menang. Orang lalu bertanya-tanya, "Jadi siapa yang menang?" "Kok malah sekarang presidennya ada dua?" Entah siapa yang mengalami kerusakan otak di sini, mungkin saya sendiri. Dengan semua kejadian yang ada, seharusnya kita dapat menilai sendiri keadaan yang sebenarnya terjadi. Tidak perlu lagi bertanya siapa yang menang. Saya rasa, Si Satu akan tetap (di)menang(kan) tanggal 22 nanti. Selisih suara hanya 5%, dan itu bahkan hanya sebesar persentase margin error. Segala sesuatu bisa diatur dalam rentang waktu seminggu lebih sejak pemilihan sampai pengumuman keputusan KPU.

Drama pilpres kali ini semakin seru ketika Si Satu ngambek kepada para awak media di rumahnya sesaat setelah hasil-hasil quick count bermunculan. Bagi saya, beliau memang tidak seharusnya memunculkan respon seperti itu. Sebagai 'Calon Bapak Sejuta Umat', seharusnya beliau lebih tenang dan tahu bagaimana seharusnya bersikap. Tapi yang paling disesalkan adalah respon beliau ini di-blow up secara berlebihan dan dramatis oleh pihak-pihak yang entah siapa, sampai justru merugikan pihak-pihak media tertentu. Konfirmasi langsung dari salah seorang reporter yang juga 'diambekin' di rumahnya, beliau santai dan baik-baik saja sampai selesai wawancara. Blow up ini hanya sengaja diciptakan untuk semakin memojokkan beliau, semakin mengekspliotasi kekurangan beliau dan semakin mendukung laporan-laporan kecurangan yang telah timses beliau lakukan. Semuanya saling menjatuhkan. Satu menjatuhkan dua, dua menjatuhkan satu, disadari atau tidak, disengaja atau tidak.

Perihal jatuh-menjatuhkan ini akhirnya merugikan, karena membuat media-media yang independen dan tidak memihak pun mulai dipeta-petakan mendukung salah satu pihak. Seribu satu alasan dicari-cari untuk membuktikan pemihakan yang dituduhkan itu. Beberapa media tersebut sampai meningkatkan penjagaan di kantor masing-masing, mungkin untuk mencegah suatu ambekan yang lebih besar. Media mengancam kekuasaan, kekuasaan mengancam media. Tak habis-habis.

Namun komedi mencemaskan yang semakin seru muncul lagi ketika pada suatu hari di masa tunggu pilpres ini, Si Dua melakukan kunjungan ke media-media, terutama media-media yang tidak memihak dan independen tersebut. Bagaimana mempertahankan ketidakberpihakan kalau beliau malah berkunjung dan menciptakan citra keberpihakan yang semakin kuat. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, kunjungan itu ditolak saja.

Ini masa yang terlalu riuh. Yang baik dijadikan tidak baik, yang tidak baik dijadikan semakin tidak baik. Setelah ini masih ada masa tunggu yang panjang dan mencekam menjelang pengumuman resmi. Setelah itu, pasti masih akan ada keriuhan lain yang terjadi, siapapun yang diputuskan menang. Lalu setelah itu, masih ada lima tahun yang panjang untuk bertahan menikmati kepemimpinan siapapun itu.

And I'm still dreaming of one world where everybody's only need is just to sing along the whole life.



Jakarta, 12 Juli 2014

Selasa, 24 Desember 2013

Kotak Kosong

Catatan ini ditulis di dalam kepala, dari dalam sebuah kotak besar, panjang, beroda banyak, berisi tangan-tangan kaku, tubuh-tubuh lelah, kaki-kaki pegal, dan mata-mata kosong.

Gambaran orang-orang di dalam kotak ini mampu menjelaskan definisi keanehan. Dunia memang aneh. Hidup memang aneh. Semakin kini semakin aneh.

Di dalam kotak ini, semua orang berkumpul. Pada beberapa waktu, beberapa di antaranya tidak sempurna. Kata orang, cacat. Sesekali, mereka akan diberikan tempat duduk, sementara yang lain berkorban berdiri. Sesekali saja. Itu jika mereka termasuk golongan 'orang biasa'. Jika tidak, penampilan lusuh dan kotor mereka tidak akan sempat diindera oleh orang lain. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tersentuh kulitnya ketika mereka berdesakan lewat. Tidak ada yang mendengar ketika mereka mengeluarkan suara. Jikapun ada, orang justru akan menampilkan tatapan mengusir. Melalui tatapan jijik. Sisanya yang sempat akan menampilkan tatapan iba. Tatapan sedih. Tatapan yang justru lebih bisa membuat mereka putus asa dibandingkan tatapan lainnya yang sudah terlalu biasa mereka santap.

Di dalam kotak ini, jarak terdekat terpaksa diabaikan. Dekat yang seharusnya didamba manusia sebagai makhluk sosial. Dekat yang maknanya telah kabur ditelan kemajuan zaman. Di antara tubuh-tubuh yang sama sekali tak berjarak dan bahkan berdesak-desakan serta wajah-wajah yang berhadap-hadapan tidak lebih dari dua jengkal, orang-orang bisa mengabaikan semuanya. Bisa mengabaikan keberadaan orang lain yang tak berjarak darinya itu. Dekat yang seharusnya melahirkan interaksi dapat diubah menjadi biasa saja. Tidak ada yang peduli. Manusia semakin hebat membangun dunianya sendiri.

Di dalam kotak ini, segala sesuatu diklasifikasikan. Bukan dikategorikan. Karena segalanya punya kelasnya masing-masing, siapa yang lebih penting dari siapa. Dari klasifikasi itu lahir aturan-aturan. Siapa saja yang harus didahulukan. Siapa yang harus diberi jalan. Siapa yang harus diutamakan mendapat tempat duduk. Siapa yang harus tetap berdiri. Siapa yang harus terpisah dari siapa. Demi keamanan dan keselamatan, katanya. Sayangnya, aturan tak pernah lahir sebagai satu-satunya. Ia pasti terlahir kembar dengan para pembangkang. Kepekaan yang ingin dihadirkan melalui aturan itu membuat beberapa orang sadar untuk mematuhi, dan beberapa sisanya justru sadar bahwa isi yang dilarang di dalam kalimat larangan itu mampu ia lakukan. Maka orang cacat biasa akan diutamakan dan orang cacat yang kumal akan sengaja dibiarkan menderita. Kalau bisa lebih menderita dari orang biasa lainnya yang tidak cacat sekalipun. Maka laki-laki akan tetap mencuri kesempatan untuk melecehkan perempuan. Maka para renta akan tetap dibiarkan berdiri, diabaikan oleh yang tidak renta dengan pura-pura tidur di kursi yang sudah dimenangkan lebih dulu.

Di dalam kotak ini, segala sesuatu menjadi aneh. Kewajaran dijungkir-balikkan. Ketidakwajaran dimaklumi. Orang-orang tidur dalam keadaan berdiri dan terhempas-hempas kecil. Dalam keadaan yang bahkan tidak nyaman dialami saat tidak tidur. Orang-orang yang lelah dan bukannya beristirahat, melainkan justru melarikan diri. Entah dari apa. Mungkin dari diri mereka sendiri.

Di dalam kotak ini, penuh dapat dengan mudah menjelma kosong. Semakin penuh kotak, semakin kosong mata-mata orang di dalamnya. Mata-mata yang pandangannya lebih jauh dari jarak dunia. Karena pandangan-pandangan itu mampu menembus lapisan dunia lain. Dunia yang mereka bangun sendiri, lalu mereka lingkupkan ke sekeliling tubuh mereka sendiri. Mata-mata itu gelap. Tak punya sorot. Meskipun yang mereka pandang adalah tebaran lampu-lampu yang sungguh meriah dari kota yang sungguh ramai dan tak pernah redup. Namun ramai cahaya dari kota itu tak cukup mampu menembus mata mereka dan membantunya ikut bersinar.

Sekian. Halte tujuan sudah tinggal beberapa meter.



Jakarta, 21/12/13
Transjakarta Blok M - Harmoni




Jumat, 13 Desember 2013

Catatan Kepergian Lainnya

Di sinilah saya. Bermain dengan pena dan kertas. Bermain dengan jari dan tuts keyboard laptop. Di sinilah saya, ketika tidak berhasil melisankan isi kepala saya. Bukan isi hati. Lama-kelamaan saya malas membicarakan hati.

Setelah melewati suatu siang yang biasa saja, sore mulai turun dan saya seharusnya menangis sore itu juga. Bukan ketika menuliskan catatan ini, yang juga seharusnya disampaikan sore itu juga.

Di sinilah saya. Akan menceritakan tentang seorang lelaki yang telah datang, dan sayangnya, juga telah pergi.

.....

Tidak mudah bagi saya bekerja dengan tugas yang sederhana; digugat. Ya, pekerjaan saya adalah digugat. Ditempatkan di divisi yang merupakan organ yang bertugas mengayomi seluruh sel lainnya, segala sesuatu yang terjadi di dalam tubuh ini--baik dan buruk--adalah tanggung jawab saya. Apapun yang ada di sistem ini adalah hasil kontribusi pekerjaan saya. Saya bertanggungjawab atas keadaan tubuh ini, meskipun bukan atas aktivitas yang dihasilkan tubuh ini.

Dalam suatu tubuh bayi, pekerjaan saya semakin berat. Tubuh ini masih muda. Kakinya belum kuat berlari kencang. Mulutnya belum mampu berbicara dengan jelas. Matanya masih terlalu peka pada cahaya. Masih banyak yang harus diusahakan agar bayi ini tumbuh dengan sempurna, atau minimal, baik-baik saja.

Di antara lautan gugatan dan usaha membuat tubuh bayi ini tumbuh sehat, saya butuh banyak bimbingan dan penguatan. Saya butuh pimpinan yang baik; atasan yang tegas, teman yang mengerti dan ayah yang membimbing. Beruntungnya, saya punya. Atau sempat punya.

Saya punya satu sosok yang dapat saya andalkan ketika sosok lain dengan espektasi sama hanya bisa membuat saya semakin ingin menyerah ketika keadaan sedang sulit. Saya punya atasan yang tegas sampai sering dianggap tidak menyenangkan oleh orang lain yang memutuskan sebisa mungkin tidak harus berurusan dengannya. Saya punya teman yang bisa mengerti keadaan saya dan menerima saya, lalu pandai memberi jalan keluar sampai saya bisa merasa baik-baik saja ketika sesungguhnya tidak. Saya punya ayah yang mau membimbing agar saya pintar, bukan hanya memerintahkan saya harus pintar.

Saya pernah punya lelaki itu. Lalu setelah melalui suatu siang yang biasa saja, sore mulai turun dan lelaki itu pergi. Dipindahtugaskan oleh kuasa yang lebih besar. Tanpa pengganti, atau dengan satu-satunya calon pengganti yang paling tidak pernah saya harapkan. Satu-satunya orang yang paling saya hindari berurusan dengannya.

Lelaki itu pergi. Atasan yang telah begitu percaya pada saya untuk menanggung tugas ini, setelah sekian penolakan orang lain hanya dengan alasan saya terlalu muda. Teman yang selalu mampu tertawa memaklumi ketika saya melakukan hal aneh, yang sesungguhnya membuat saya sendiri takut jika itu adalah kesalahan. Ayah yang kuat mengayomi setelah sering menuduh saya lari dari rumah, karena saya yang anak satu-satunya namun terus pergi jauh dan enggan pulang, karena saya yang seharusnya manja justru begitu berani dan tak bisa diatur.

Saya kehilangan. Atau mungkin bukan. Mungkin saya hanya ketakutan. Takut hilang arah sebagai seekor anak bebek di dalam rombongan yang ditinggal induknya. Saya takut tidak ada lagi penguat, dan yang tertinggal hanya penekan yang tak pernah bisa membuat sesuatu jadi lebih baik. Saya takut tidak bisa diselamatkan lagi setiap saya akan menyerah.

Namun, atas nama terima kasih besar yang saya punya untuknya, kepercayaan dan kesempatan yang telah ia berikan akan saya jadikan penguat saya. Kepercayaan dan kesempatan bagi saya untuk bisa berada di dalam tubuh yang saya damba-dambakan, di dalam tubuh dengan setiap sel-jaringan-organ-sistem organ yang menyenangkan ini.

Sekali lagi, terima kasih. Semoga kita semua akan baik-baik saja.



Jakarta,
13/12/13
Done at 23.52 WIB

Minggu, 08 Desember 2013

Gerbong Merenung: Sedikit Catatan Dalam Salah Satu Perjalanan Mencari Pulang

Pandai-pandailah bersyukur. Pandai-pandailah bersyukur. Pandai-pandailah bersyukur.

Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada kemampuan sosial saya yang baik. Bukan karena saya supel, melainkan bisa jadi hanya karena saya adalah orang yang suka sok asik.

Setelah menemukan banyak orang dengan banyak cerita, sebagai anak yang tidak pernah berkekurangan sesuatu apapun, saya semakin bisa memahami kalau akan selalu ada orang lain di luar sana yang hidupnya lebih sulit dari saya. Dalam hal apapun itu.

Saya pernah menemui sepasang suami istri di lorong gelap yang selalu saya lewati ketika pulang ke kos, mendorong gerobak jualannya bersama-sama, sambil bercerita dan tertawa. Lalu kenapa kita harus banyak mengeluh dan menuntut waktu bahkan masih dalam status pacaran, ketika hidup yang harus kita jalani dengan pasangan kita justru serba baik-baik saja?

Saya punya teman yang batal menikah ketika semua persiapannya telah sembilan puluh persen selesai, karena pasangannya menjalin hubungan lain dengan teman baiknya. Lalu kenapa kita yang mengalami patah hati lebih dini, ketika belum ada persiapan jauh-jauh menuju pelaminan dilakukan, harus sedemikian putus asa?

Saya juga punya teman yang untuk membiayai kuliahnya harus mengamen ke sana-ke mari, karena ibunya sendiri yang bahkan memintanya untuk berhenti kuliah karena tidak punya cukup uang. Lalu kenapa kita yang bisa kuliah dalam keadaan tenang dan tak perlu mengurusi urusan pembiayaan uang kuliah harus terus-menerus menuntut kepada orang tua kita karena selalu merasa berkekurangan?

Saya punya satu teman lagi yang orang tuanya berpisah dan kemudian menikah lagi dan lagi sampai dia punya begitu banyak saudara. Lalu kenapa kita yang masih selalu bisa berfoto bersama ayah dan ibu kita dengan senyum penuh di depan kamera harus selalu mampu mencari alasan untuk mengeluh?

Beberapa minggu yang lalu saya baru saja melakukan perjalanan pulang ke Jogja. Saya selalu menyebut perjalanan menuju kota itu dengan 'pulang', karena kota itu memang sudah terlalu nyaman untuk tidak dijadikan rumah. Setelah peristiwa membeli tiket kereta api secara impulsif dan spontan di Indomaret dekat kos, saya mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat. Kereta yang saya pilih adalah kereta ekonomi malam jurusan Pasar Senen - Lempuyangan. Ya, ini bukan kereta ekonomi AC yang sudah lebih nyaman dibandingkan kereta bisnis. Ini kereta ekonomi kasta terendah. Hanya satu kasta di atas kereta barang.

Dengan biaya pulang-pergi seratus ribu, dimana sekali perjalanan hanya memakan biaya lima puluh ribu, saya merasa menang banyak. Di Jakarta, ongkos taksi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain saja sudah bisa menyamai total biaya perjalanan saya yang sudah bisa sampai di Jogja.

Perjalanan menuju Jogja terasa baik-baik dan biasa-biasa saja, kecuali ketika subuh mulai menjelang dan yang ada di depan mata saya adalah bentangan hijau persawahan dan bentangan jingga langit ketika matahari terbit. Saya merasa pulih. Pulih dari kesakitan yang disebabkan oleh riuhnya Jakarta. Perjalanan kereta malam saya menuju Jogja ditemani oleh dua teman yang saya temui secara kebetulan setelah bolak-balik berpindah gerbong, bertukar-tukar tempat duduk dengan orang-orang yang seenaknya menempati tempat di dalam gerbong. Saya pikir, "selamat datang di kereta ekonomi. Selamat menikmati perilaku penumpangnya." Kereta menuju Jogja itu sepi. Dari Jakarta sampai Jogja, kursi yang seharusnya ditempati lima orang hanya ditempati kami bertiga. Gerbong usang terasa seperti rumah. Tidak ada masalah.

Renungan-renungan panjang mulai dilakukan justru ketika berada di dalam kereta malam dari Jogja kembali ke Jakarta. Segala sesuatu tidak baik-baik saja.

Mulai dari kereta yang dijadwalkan berangkat pukul lima sore dari Jogja terlambat sekitar setengah jam. Selama hidup saya, saya belum pernah mengalami kereta terlambat, suatu hal yang bisa saya banggakan dari sistem yang ada di negara saya ini. Seringnya, saya yang hampir ketinggalan kereta, saking tepat waktunya jadwal kereta api, tidak seperti pesawat terbang. Namun kali ini berberda.

Di dalam kereta, saya tidak menemukan siapa-siapa yang saya kenali di gerbong yang sama. Saya langsung menuju tempat duduk yang tertera di tiket dan menjadi orang kelima yang datang. Artinya, kereta penuh. Tempat duduk untuk lima orang telah terisi empat orang yang semuanya laki-laki sebelum saya datang. Saya tidak peduli. Dengan kemampuan sosial (atau sok asik) saya yang di atas rata-rata, saya bisa langsung menyapa penumpang lainnya dan malah ditawari bertukar tempat di kursi dekat jendela. Senang luar biasa saya menerima tawaran itu.

Malam semakin larut. Mata-mata mulai mengantuk. Satu demi satu penumpang menggelar koran atau alas apapun itu di lantai kereta untuk tidur. Masing-masing mencuri celah sebisa mungkin untuk tidur nyaman. Lorong sisa untuk jalan di dalam gerbong pun penuh sesak. Orang-orang yang harus ke WC harus melompat-lompati tubuh-tubuh yang tidur di lantai, bahkan sampai harus memanjat-manjat kursi penumpang sepanjang lorong agar tidak menginjak yang sedang tidur.

Di antara deretan huruf yang berputar di dalam kepala saya dari buku yang saya baca, yang beruntung, telah menyelamatkan saya, saya membaca stiker peraturan yang menjelaskan larangan untuk menempati lorong-lorong jalan di dalam gerbong, termasuk untuk tidur, agar tidak mengganggu. Stiker itu sudah terkelupas sebagian, membuatnya tidak dianggap. Benar saja, siapa yang mau menaati peraturan yang sudah tinggal terbaca sebagian? Peraturan yang seluruh informasinya dapat ditangkap saja belum tentu ditaati, apalagi yang sisa sebagian? Rasanya seperti yang memberi peraturan saja tidak niat menyampaikannya.

Belum lagi tempelan pengumuman dilarang merokok. Saya hanya tertawa-tawa melihatnya, meskipun itu sudah kesekian kalinya saya membaca peraturan itu. Saya merasa lucu karena teringat salah satu teman saya yang pernah memprotes peraturan tersebut. Katanya, "sudah salah melarang saya merokok, salah pula penulisan kalimat larangan itu secara Bahasa Indonesia." Sekali lagi, siapa yang mau mematuhi peraturan yang penulisannya saja salah? Dan sekali lagi, seolah yang memberi peraturan saja tidak sungguh-sungguh. Pada akhirnya, seperti orang-orang yang tidur di lantai gerbong, peraturan dilarang merokokpun hanya menghasilkan para pencuri kesempatan yang merokok di sambungan-sambungan antargerbong.

Semua itu tidak begitu menjadi masalah bagi saya. Satu hal yang sungguh-sungguh membuat saya kagum adalah banyaknya kecoak di dalam gerbong. Dari setiap sambungan besi, berpuluh-puluh kecoak keluar masuk. Untungnya, mereka tidak mendekati manusia. Tapi tetap saja, melihat ribuan kecoak merayap di dinding-dinding gerbong, keluar-masuk dari celah-celah sambungan besi, dan mengelilingi orang-orang yang tidur, bukan suatu hal yang indah. Saya pikir, masalah kecoak bisa tinggal ditangani dengan pengasapan seluruh gerbong kereta. Tidak perlu waktu lama. Tidak perlu biaya yang terlalu besar. Penumpang bisa lebih nyaman. Perusahaan bisa memperindah nama baik. Tapi kemudian saya pikir, siapa yang peduli? Inilah yang kamu dapatkan dari berapa rupiah yang kamu bayar. Mungkin itu juga yang ada di pikiran Sang Pembuat Peraturan, Sang Perawat Kelayakan Gerbong, dan Sang-sang Lainnya Empunya Hajat.

Ketidaknyamanan saya mulai membuat saya banyak berpikir. Sambil saling bertatapan mesra dan pasrah dengan berekor-ekor kecoak yang sungguh lincah merayap berputar-putar ke sana-ke mari, saya kembali memikirkan konsep bersyukur yang saya ungkit di awal tadi.

Saya duduk di sini karena saya mau. Bukan karena saya tidak punya pilihan. Saya bisa saja memilih alat transportasi lain yang lebih baik dan notabene lebih mahal. Saya duduk di sini hanya karena saya ingin melakukannya. Ingin mengalami pengalaman-pengalaman apapun itu. Saya memang seperti itu. Teman-teman saya sering bilang kalau saya suka nekat dan seperti tidak pernah kehabisan energi. Bagi saya biasa saja. Toh, saya bukan orang yang setiap minggu mendaki puncak-puncak gunung yang berbeda-beda. Ini hanya jalan-jalan biasa. Sendirian bukan hal yang luar biasa juga bagi saya. Memilih kereta ekonomi yang sungguh apa adanya ini juga hanya karena saya adalah orang yang ingin mengalami segala hal mumpung masih hidup. Apapun itu.

Saya duduk di sini tidak seperti orang lain yang mungkin tidak punya pilihan. Manusia-manusia lelah yang mencari rumah dengan cara pulang ataupun pergi. Manusia-manusia yang mencuri celah yang sesungguhnya tak layak untuk tidur, demi menemukan tempat berbaring yang paling baik. Orang-orang yang mungkin tidak pernah bermasalah dengan kecoak, karena biasanya justru bermasalah dengan bukan hanya kecoak.

Belum lagi melihat petugas-petugas stasiun kereta api setiap kami singgah. Di dalam pikiran saya, apa yang ada di dalam pikiran mereka menjalani perkerjaan tersebut? Mereka juga orang-orang yang bekerja dua puluh empat jam seperti orang-orang di tempat saya bekerja; media televisi. Tapi tempat saya bekerja begitu menyenangkan. Sementara mereka? Tidak banyak yang bisa mereka lakukan di antara bangku-bangku tunggu yang kosong dengan bentangan rel yang tak punya ujung di depan mata sambil menanti rangkaian kotak-kotak besi yang telah berkarat menghampiri. Lalu kenapa kita masih bisa terus mengeluh?

Saya sampai di kos ketika toa-toa masjid sudah ramai mengajak orang beribadah. Kereta terlambat tiba satu setengah jam. Saya hanya punya waktu istirahat tiga jam sebelum harus memulai Senin. Tapi saya merasa baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikeluhkan.

Bentang renungan

Setengah-setengah

Dilarang merokok di dalam kereta..........akan diturunkan di stasiun terdekat

Perjalanan mencari pulang