Selasa, 25 Juni 2013

Adakah Di Sini

Adakah di sini, trotoar yang ramah dan mau diajak bicara?

Biasanya aku mampu menuturkan dongeng-dongeng sepanjang belasan kilometer jalan raya, agar lukaku bisa tertidur pulas.

Biasanya aku berdansa di bawah lampu-lampu jalan yang nyalanya redam, seperti bola mata yang aku sembunyikan dengan memejam kelopaknya.

Di sini aku hanya bisa bernyanyi di dalam hati sepanjang jalan pulang, menuju rumah yang tak pernah sampai, dengan betis-betis yang terbalut lelah dan isi kepala yang diselimuti mendung.

Di lorong-lorong yang tak punya cahaya redam sekalipun, aku tak punya bayangan, kecuali sepi dan rindu.

Rindu bahu-bahu tabah yang senantiasa rela menjadi muara air mataku.

Rindu lengan-lengan hangat yang senantiasa mempertahankan kewarasanku.

Adakah di sini, cangkir-cangkir kopi yang sedia berkelahi dengan kabut menjelang subuh, yang mau diajak berteman?

Sementara mencari trotoar yang bersahabat saja sulit, bagaimana mungkin mencari rumah yang lengan-lengannya lapang?

Senin, 24 Juni 2013

Here I Am


"Here I am." Tiga kata yang mampu menjadikan ingat dan menjadikan lupa, atau keduanya sekaligus.

Katakanlah, here I am. Lalu apa? Bagi saya, hadirnya kalimat itu di pikiran saya akan diikuti dengan pembagian dua zona waktu di dalam kepala. Bagian kepala yang menyimpan memori.

Zona waktu pertama yang hadir akan merupakan lupa. Bagian kepala berisi memori saya akan lebih dulu kehilangan kemampuan akses datanya. Lalu saya akan lupa atau lebih tepatnya menolak untuk mengingat secara tidak sadar berbagai ingatan-ingatan yang ada di dalam brankas memori saya. Setelah itu perasaan yang akan muncul pada zona waktu ini adalah perasaan kosong. Apa yang saya lihat adalah bentangan hitam polos yang panjang dengan ujung sebuah titik cahaya putih di mana saya sedang berdiri di sana dalam keadaan hidup saya yang sekarang. Entah apa, bagaimana, mengapa, kapan, siapa, dan pertanyaan apapun yang berkaitan dengan proses tidak akan mampu saya jawab. Saya hanya akan mampu menyadari bahwa seperti inilah saya sekarang, entah bagaimana sejarahnya. Here I am.

Zona waktu kedua yang hadir akan merupakan ingat. Bagian kepala berisi memori saya selanjutnya akan mengembalikan kemampuannya mengakses data ingatan. Lalu saya akan melihat berbagai macam warna dan bentuk di dalam jutaan gambar-gambar yang secara serentak menghampiri benak saya. Gambar-gambar berisi berbagai momen yang pernah terjadi sampai pada detail-detailnya yang paling sederhana sekalipun. Semuanya akan tampak di mata saya dalam waktu yang sangat singkat, sepersekain detik. Setelah itu saya akan mengalirkan air mata untuk membebaskan diri, merendam gambar-gambar yang diputar di dalam kepala agar menjadi kabur dan berkenan untuk berhenti berputar. Pikiran saya akan mulai menanyakan bagaimana bisa saya pernah mengalami hal-hal tersebut. Ya, sekadar menanyakan, bukan menyesali atau mengutuk sama sekali, karena sudah seharusnya seperti itu agar saya bisa sampai di titik ini. Here I am.

Saya menuliskan ini hanya karena akhir-akhir ini kepala saya sedang sering dipenuhi oleh kalimat judul tulisan ini. Saya mampu terus-menerus merasa tidak menyangka akan berada di titik di mana saya berada sekarang ini, meskipun telah berulang-ulang kali mengalami pemikiran yang sama persis.

Hidup memang penuh kejutan. Meskipun sekadar kejutan yang sederhana. Sesederhana bagaimana isi kepalamu berlari sepanjang jalan ingatan dan membangunkanmu di tempatmu berada sekarang.

Kamis, 13 Juni 2013

Lengan Kata di Punggung Diam

Isi kepalamu rimba raya paling senyap,
yang tak mengenal kata-kata
Lolong serigala maupun decit gagak,
terbungkus rapi daun-daun,
yang lambat laun kering dan gugur
Terbawa arus sungai,
yang tak bermuara di bibirmu sama sekali

Punggungmu gigir paling curam,
yang tak membiarkan satu liuk lenganpun selamat
Tidak liuk lingkar paling melata,
serupa lenganku sekalipun
Maka aku jatuh di liang paling diam,
bersama lenganku yang adalah kata-kata,
yang tak bersayap,
dan tak mampu terbang kembali ke bibir jurang

Isi kepalamu rimba raya paling senyap,
yang tak mengenal kata-kata
Lenganku kata-kata yang terjatuh,
di liang jurang paling diam



Tertinggal di suatu ruang
milik bibir-bibir paling diam
dengan kepala-hati paling ramai

Jakarta, 8 Juni 2013 - 19.05

Selasa, 11 Juni 2013

Cerita Tentang Sebuah Kota yang Langit Malamnya Jingga



Aku akan menceritakan padamu tentang sebuah kota. Kota itu seukuran sekotak jendela yang besar dari sebuah kamar yang letaknya cukup tinggi. Kota itu seukuran dua buah bola mata yang senang memerhatikannya sepanjang malam.

Kota itu terbentuk dari balok-balok kayu yang berdiri tegak menggapai langit dan sungai-sungai kecil yang menyusur sepanjang jalan-jalan besar sampai setapak-setapak kecil yang kumuh dan gelap. Di dalam balok-balok kayu itu, manusia-manusia tinggal. Seperti rayap, mereka bisa memakan dan menghancurkan balok kayu tempat tinggalnya. Sementara sungai-sungai di kota itu serupa selokan yang ada di kota-kota lain. Hanya saja sungai-sungai itu sungguh dalam. Warnanya hitam. Persis harapan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Dalam dan hitam. Di dasar sungai-sungai itu tertidur lelap banyak sekali binatang yang buruk rupa dan keji. Untungnya, mereka semua tertidur dan tertutup pekat harapan-harapan hitam manusianya.

Kota itu persegi panjang, namun ada lapisan kabut berbentuk bola yang menyelimutinya. Mungkin sama dengan bola udara raksasa yang menyelimuti Atlantis sampai kota itu tetap hidup di dalam samudera. Semacam gelembung sabun raksasa, dan kota itu ada di dalamnya. Lapisan kabut itu membuat langit malam kota tidak berwarna hitam seperti sungai-sungainya, melainkan jingga. Seakan sore hari terjadi lama sekali dalam sehari. Langit malam itu jingga, seakan terbuat dari amarah-amarah manusia penghuninya yang senantiasa kehilangan kesabaran terhadap apapun dan kapanpun dalam kesehariannya. Manusia-manusia yang tak kenal keramahan dan tak mudah diluluhkan hatinya dengan seulas senyum. Langit itu jingga ketika malam, ketika pertahanan diri manusia-manusianya terhadap kegilaan mulai luruh dan beristirahat. Maka ketika itu kewarasan mulai memejam dan amarah meledak dalam diam, lalu menguap ke angkasa.

Langit malam jingga kota itu adalah ibu yang baik untuk melahirkan petir yang menyilaukan. Petir-petir itu serupa teriakan-teriakan manusianya yang tertahan dan terbungkam oleh waktu yang semakin lama semakin kuat meredam suara-suara hati yang seharusnya disampaikan. Ketika petir sudah mulai bermunculan, guntur yang menggema dan menggetarkan kaca-kaca jendela akan segera menyusul hadir. Getarannya serupa jantung yang berdetak terlalu cepat karena kaki-kaki dari tubuh tempat jantung itu bertengger selalu tergesa-gesa melangkah. Seakan ada monster yang mengejarnya dari ramai jalan utama sampai sepi pojok gang yang paling tersembunyi.

Biasanya, hujan akan segera jatuh setelah itu. Warnanya merah dan kental. Mungkin karena memang berasal dari langit berwarna jingga yang menggumpal dan menjadi pekat. Atau mungkin karena berasal dari jiwa-jiwa manusianya yang tertoreh banyak luka. Lukanya sungguh dalam namun tak dapat dilihat. Tak ada darah yang tampak. Mungkin itulah sebabnya hujan di kota itu berwarna merah kental. Itu adalah darah dari luka-luka yang tak tampak dan keluar mengucur melalui langit.

Tapi kota itu masih indah. Ketika hari sudah menjelang subuh, langit akan mulai berubah warna. Dari jingga menjadi ungu muda, halus dan tenteram. Petir, guntur dan hujan berhenti. Kewarasan bangun. Begitu juga manusia-manusianya. Lalu hari berjalan lagi. Manusia-manusia bekerja sepanjang siang, mengumpulkan bahan hujan badai untuk malam harinya. Begitu seterusnya. Hembusan napas merekalah yang menyumbang jingga untuk langit malamnya.

Jumat, 07 Juni 2013

Pemilih

Beberapa isi kepala adalah pemilih
Mereka lebih suka mengantri
Di antara ribuan kendaraan yang tak bergerak
Pada pukul ketika orang-orang bersepatu pantofel begitu merindu kasur
Atau pelukan yang menunggu seharian

Beberapa isi hati adalah pemilih
Mereka lebih suka berpeluh
Oleh udara kota yang enggan bertiup
Yang panasnya membebani langit dan mampu menumpahkan bah
Sampai air mata menggenang semata kaki

Beberapa tubuh adalah pemilih
Mereka lebih suka melarikan diri
Dari genang-remas masa lalu yang pincang dan buruk rupa
Namun kuat berlari mengikuti dan membayangi
Meski peluk jalan dan udaranya hangat dan menyenangkan

Senin, 20 Mei 2013

Aku Ingin Menjadikanmu Asing

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus saling bertanya
Tentang buku yang kaubaca dan kutuliskan
Tentang musik yang kudengar dan kaumainkan
Lalu kita akan terus menjatuhkan cinta
Berulang-ulang kali setiap hari

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar matamu senantiasa adalah tamu,
yang kutunggu hadirnya dalam jangkau penglihatanku
Agar punggungmu senantiasa adalah atap,
yang meneduhkan sorot mataku
Agar tak ada lengan-lengan yang terlalu erat memeluk
Dan membuat kita sulit bernapas

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kepalaku penuh dengan keinginan,
untuk mengajakmu bermain di bawah hujan lebat
Agar kepalaku tak malah sibuk membaca awan,
dan mengira-ngira mendung di dalam kepalamu,
banjir di sudut mata-mataku,
atau terik yang membakar kita sampai jadi abu

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar aku sibuk menanam bunga di atas ubun-ubun
Lalu sibuk mengkhayalkan masa depan
Tentang bagaimana mereka mekar,
dan bagaimana kita bersama-sama memetiknya
Bukannya mengkhawatirkan suara masa lalu,
yang terus mengingatkan,
bahwa merasa memiliki adalah jalan terdekat,
untuk menjauhkan dua orang yang saling memiliki

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar bisa terus-menerus bertanya-tanya tentangmu
Tanpa pernah cukup tahu apa-apa
Agar tak pernah lengkap menyatukan potongan-potongan kesempurnaanmu
Karena aku takut pada kesempurnaan
Dan selalu memilih untuk melarikan diri

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus duduk di kayu ayunan kita masing-masing
Bergandengan tangan dan menyanyikan satu lagu yang sama
Karena dua akan selamanya lebih baik dari satu,
maka aku tak ingin kita menyatu

Aku ingin menjadikanmu asing
Agar mengingat aroma napasmu,
membuatku menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam
Lalu tersenyum tanpa pernah mau menjadi alasan,
untukmu menghembuskan napas yang panjang dan berat
Agar mendamba tatapmu, 
membuatku takkan pernah mau menjadi alasannya meredup

Aku ingin menjadikanmu asing
Karena aku mencintaimu dengan bahagia yang asing
Tidak serupa luka-luka yang akrab

Maka aku ingin menjadikanmu asing

Sabtu, 11 Mei 2013

Delusi Kehilangan

Duniaku wajar. Ada satu matahari di siang hari yang masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesekali matahari itu tak tampak karena tertutup mendung. Ada satu bulan di malam hari yang masih selalu berdampingan di satu bentangan langit yang sama bersama matahari, setiap fajar dan senja. Bulan itu kadang tak tampak karena tertutup mendung. Kadang bintang-bintang terlalu cantik dan membuat perhatian bumi kepada bulan teralih. Di duniaku, gelombang yang pecah di garis pantai masih putih.

Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.

Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.

"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."

Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.

"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."

Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.

"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."

Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.

"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."

Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.

____________________________________________


Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.

Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.

Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.

Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.

Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.

Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.

Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.

Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.

____________________________________________


Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.

Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.

"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."

Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.

Aku lalu meminum obatku.



Pecahan Ego

Ini tentang kita
Dan ego dirimu

Di depanku adalah kaca
Ada aku di salah satu sisinya
Ada kamu di sisi lainnya
Dari sini, aku menatapmu
Dalam dan khidmat
Dari sana, kau bemain hujan
Tak benar tahu tentang adanya aku

Di depanmu adalah cermin
Ada kamu di salah satu sisinya
Ada kamu pula di sisi lainnya
Dari sini, kau menatap dirimu sendiri
Dalam dan khidmat
Dari sana, aku tak pernah ada
Tak benar berwujud

Hanya saja semuanya akan sama-sama pecah
Di titik takdir akhir kita

Di Dalam Surgaku

Di dalam kepalaku
Senja menorehkan merah di rupa langit
Menabur kemilau emas di telapak cakrawala
Kaki-kaki telanjangku menapak gentar
Bertanya-tanya tentang asamu
Akankah ia luruh dan meredup,
selayak senja di surgaku?

Di dalam hatiku
Hujan menggugurkan rinai dari gulung-gulung awan
Menebar percik-percik perak ke muka bumi
Bibir pucatku gigil gemetar
Mengira-ngira tentang matamu
Akankah ia senantiasa menjatuhkan rintiknya,
selayak hujan di atas sini?
Di surgaku yang kerap kau mimpikan
Hingga terjaga dalam geletar

Di dalam surgaku
Aku sering melihatmu bermain badik
Menikam-nikam ingatan
Menyayat-nyayat kenangan
Kaupakaikan sayap di punggung mereka yang telah koyak
Agar mereka terbang
Menyusuri arah hembusan ikhlas
Sementara kau menyongsong senja,
dan menari di bawah kelebat hujan
Agar asamu tak luruh dan meredup,
dan matamu tak menjatuhkan rinainya
Sehingga senyumku merekah

Di dalam surgaku

Rabu, 03 April 2013

Kenapa Ingin Kembali Ke Masa Kecil?


Berapa banyak anak kecil yang berharap bisa segera tumbuh besar? Sepertinya semuanya. Ingin segera mengenakan sepatu hak tinggi dan lipstik merah menyala seperti ibu serta memakai jas dan dasi dengan rapi seperti ayah. Ketika kecil, hal itu tampak luar biasa. Meskipun kadang saya menyesali keinginan anak-anak, termasuk saya dulu, untuk segera tumbuh besar. Bukan apa-apa, tapi seharusnya dulu saya tahu bahwa berharap untuk segera dewasa akan menjadi doa yang lebih baik daripada sekadar berharap untuk segera besar.

Lalu berapa banyak orang yang telah pantas mengenakan sepatu hak tinggi, lipstik, jas, dan dasi yang berharap bisa kembali menjadi anak-anak? Sepertinya juga semuanya. Ingin kembali pada keadaan ketika semua hal bisa dibuat menjadi menyenangkan. Ingin kembali berlari menuju hujan dan bermain di bawahnya, bukan berlari dari hujan karena takut jas dan sepatunya rusak. Ingin kembali hidup tanpa beban karena segala sesuatu masih di dalam genggaman orang tua, bukan harus menanggung segala hal sendirian. Ingin kembali menangis hanya karena tidak dibelikan mainan, bukan karena sakit hati dan kecewa yang lebih mengakar. Ingin kembali pada pilihan-pilihan sederhana semacam menu makanan, bukan dihadapkan oleh keputusan yang harus diambil dengan berpuluh-puluh pertimbangan mengikutinya. Alasan-alasan yang jujur, dan baik adanya.

Tapi berapa banyak orang yang ingin kembali menjadi anak kecil dengan alasan bahwa ketika kecil, kita tidak merasa lebih tahu dari orang tua kita? Saya rasa tidak banyak. Semakin hari perasaan dan pikiran bahwa kita lebih tahu atau bahkan lebih pintar dari orang tua membuat kita lebih mudah bertindak menentang. Atau kita semakin mudah menaikkan suara ketika berbicara dengan mereka. Atau kita semakin mudah tidak peduli pada ucapan mereka. Kita menjadi semakin mudah menyakiti mereka karena sudah bisa merasa lebih tahu, sesuatu yang tidak mampu dan tidak pernah kita lakukan ketika kecil.

Maka demikianlah alasan saya ingin kembali ke masa kecil. Saya ingin kembali menjadi polos dan tidak tahu apa-apa di hadapan mereka.