Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus saling bertanya
Tentang buku yang kaubaca dan kutuliskan
Tentang musik yang kudengar dan kaumainkan
Lalu kita akan terus menjatuhkan cinta
Berulang-ulang kali setiap hari
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar matamu senantiasa adalah tamu,
yang kutunggu hadirnya dalam jangkau penglihatanku
Agar punggungmu senantiasa adalah atap,
yang meneduhkan sorot mataku
Agar tak ada lengan-lengan yang terlalu erat memeluk
Dan membuat kita sulit bernapas
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kepalaku penuh dengan keinginan,
untuk mengajakmu bermain di bawah hujan lebat
Agar kepalaku tak malah sibuk membaca awan,
dan mengira-ngira mendung di dalam kepalamu,
banjir di sudut mata-mataku,
atau terik yang membakar kita sampai jadi abu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar aku sibuk menanam bunga di atas ubun-ubun
Lalu sibuk mengkhayalkan masa depan
Tentang bagaimana mereka mekar,
dan bagaimana kita bersama-sama memetiknya
Bukannya mengkhawatirkan suara masa lalu,
yang terus mengingatkan,
bahwa merasa memiliki adalah jalan terdekat,
untuk menjauhkan dua orang yang saling memiliki
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar bisa terus-menerus bertanya-tanya tentangmu
Tanpa pernah cukup tahu apa-apa
Agar tak pernah lengkap menyatukan potongan-potongan kesempurnaanmu
Karena aku takut pada kesempurnaan
Dan selalu memilih untuk melarikan diri
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus duduk di kayu ayunan kita masing-masing
Bergandengan tangan dan menyanyikan satu lagu yang sama
Karena dua akan selamanya lebih baik dari satu,
maka aku tak ingin kita menyatu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar mengingat aroma napasmu,
membuatku menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam
Lalu tersenyum tanpa pernah mau menjadi alasan,
untukmu menghembuskan napas yang panjang dan berat
Agar mendamba tatapmu,
membuatku takkan pernah mau menjadi alasannya meredup
Aku ingin menjadikanmu asing
Karena aku mencintaimu dengan bahagia yang asing
Tidak serupa luka-luka yang akrab
Maka aku ingin menjadikanmu asing
Senin, 20 Mei 2013
Sabtu, 11 Mei 2013
Delusi Kehilangan
Duniaku wajar. Ada satu matahari di siang hari yang masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesekali matahari itu tak tampak karena tertutup mendung. Ada satu bulan di malam hari yang masih selalu berdampingan di satu bentangan langit yang sama bersama matahari, setiap fajar dan senja. Bulan itu kadang tak tampak karena tertutup mendung. Kadang bintang-bintang terlalu cantik dan membuat perhatian bumi kepada bulan teralih. Di duniaku, gelombang yang pecah di garis pantai masih putih.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Pecahan Ego
Ini tentang kita
Dan ego dirimu
Di depanku adalah kaca
Ada aku di salah satu sisinya
Ada kamu di sisi lainnya
Dari sini, aku menatapmu
Dalam dan khidmat
Dari sana, kau bemain hujan
Tak benar tahu tentang adanya aku
Di depanmu adalah cermin
Ada kamu di salah satu sisinya
Ada kamu pula di sisi lainnya
Dari sini, kau menatap dirimu sendiri
Dalam dan khidmat
Dari sana, aku tak pernah ada
Tak benar berwujud
Hanya saja semuanya akan sama-sama pecah
Di titik takdir akhir kita
Dan ego dirimu
Di depanku adalah kaca
Ada aku di salah satu sisinya
Ada kamu di sisi lainnya
Dari sini, aku menatapmu
Dalam dan khidmat
Dari sana, kau bemain hujan
Tak benar tahu tentang adanya aku
Di depanmu adalah cermin
Ada kamu di salah satu sisinya
Ada kamu pula di sisi lainnya
Dari sini, kau menatap dirimu sendiri
Dalam dan khidmat
Dari sana, aku tak pernah ada
Tak benar berwujud
Hanya saja semuanya akan sama-sama pecah
Di titik takdir akhir kita
Di Dalam Surgaku
Di dalam kepalaku
Senja menorehkan merah di rupa langit
Menabur kemilau emas di telapak cakrawala
Kaki-kaki telanjangku menapak gentar
Bertanya-tanya tentang asamu
Akankah ia luruh dan meredup,
selayak senja di surgaku?
Di dalam hatiku
Hujan menggugurkan rinai dari gulung-gulung awan
Menebar percik-percik perak ke muka bumi
Bibir pucatku gigil gemetar
Mengira-ngira tentang matamu
Akankah ia senantiasa menjatuhkan rintiknya,
selayak hujan di atas sini?
Di surgaku yang kerap kau mimpikan
Hingga terjaga dalam geletar
Di dalam surgaku
Aku sering melihatmu bermain badik
Menikam-nikam ingatan
Menyayat-nyayat kenangan
Kaupakaikan sayap di punggung mereka yang telah koyak
Agar mereka terbang
Menyusuri arah hembusan ikhlas
Sementara kau menyongsong senja,
dan menari di bawah kelebat hujan
Agar asamu tak luruh dan meredup,
dan matamu tak menjatuhkan rinainya
Sehingga senyumku merekah
Di dalam surgaku
Senja menorehkan merah di rupa langit
Menabur kemilau emas di telapak cakrawala
Kaki-kaki telanjangku menapak gentar
Bertanya-tanya tentang asamu
Akankah ia luruh dan meredup,
selayak senja di surgaku?
Di dalam hatiku
Hujan menggugurkan rinai dari gulung-gulung awan
Menebar percik-percik perak ke muka bumi
Bibir pucatku gigil gemetar
Mengira-ngira tentang matamu
Akankah ia senantiasa menjatuhkan rintiknya,
selayak hujan di atas sini?
Di surgaku yang kerap kau mimpikan
Hingga terjaga dalam geletar
Di dalam surgaku
Aku sering melihatmu bermain badik
Menikam-nikam ingatan
Menyayat-nyayat kenangan
Kaupakaikan sayap di punggung mereka yang telah koyak
Agar mereka terbang
Menyusuri arah hembusan ikhlas
Sementara kau menyongsong senja,
dan menari di bawah kelebat hujan
Agar asamu tak luruh dan meredup,
dan matamu tak menjatuhkan rinainya
Sehingga senyumku merekah
Di dalam surgaku
Rabu, 03 April 2013
Kenapa Ingin Kembali Ke Masa Kecil?
Berapa banyak anak kecil yang berharap bisa segera tumbuh besar? Sepertinya semuanya. Ingin segera mengenakan sepatu hak tinggi dan lipstik merah menyala seperti ibu serta memakai jas dan dasi dengan rapi seperti ayah. Ketika kecil, hal itu tampak luar biasa. Meskipun kadang saya menyesali keinginan anak-anak, termasuk saya dulu, untuk segera tumbuh besar. Bukan apa-apa, tapi seharusnya dulu saya tahu bahwa berharap untuk segera dewasa akan menjadi doa yang lebih baik daripada sekadar berharap untuk segera besar.
Lalu berapa banyak orang yang telah pantas mengenakan sepatu hak tinggi, lipstik, jas, dan dasi yang berharap bisa kembali menjadi anak-anak? Sepertinya juga semuanya. Ingin kembali pada keadaan ketika semua hal bisa dibuat menjadi menyenangkan. Ingin kembali berlari menuju hujan dan bermain di bawahnya, bukan berlari dari hujan karena takut jas dan sepatunya rusak. Ingin kembali hidup tanpa beban karena segala sesuatu masih di dalam genggaman orang tua, bukan harus menanggung segala hal sendirian. Ingin kembali menangis hanya karena tidak dibelikan mainan, bukan karena sakit hati dan kecewa yang lebih mengakar. Ingin kembali pada pilihan-pilihan sederhana semacam menu makanan, bukan dihadapkan oleh keputusan yang harus diambil dengan berpuluh-puluh pertimbangan mengikutinya. Alasan-alasan yang jujur, dan baik adanya.
Tapi berapa banyak orang yang ingin kembali menjadi anak kecil dengan alasan bahwa ketika kecil, kita tidak merasa lebih tahu dari orang tua kita? Saya rasa tidak banyak. Semakin hari perasaan dan pikiran bahwa kita lebih tahu atau bahkan lebih pintar dari orang tua membuat kita lebih mudah bertindak menentang. Atau kita semakin mudah menaikkan suara ketika berbicara dengan mereka. Atau kita semakin mudah tidak peduli pada ucapan mereka. Kita menjadi semakin mudah menyakiti mereka karena sudah bisa merasa lebih tahu, sesuatu yang tidak mampu dan tidak pernah kita lakukan ketika kecil.
Maka demikianlah alasan saya ingin kembali ke masa kecil. Saya ingin kembali menjadi polos dan tidak tahu apa-apa di hadapan mereka.
Idealisme dan Usianya di Tubuh Kita
Gambar di atas adalah hasil capture tweet salah seorang teman -- kakak angkatan semasa kuliah tepatnya -- pada suatu malam. Secara sederhana tweet itu membuat saya berpikir, berpikir yang dalam, sampai ke dalam hati. Meskipun saya tahu, berpikir seharusnya dengan otak. Dua tweet itu menceritakan banyak sekali hal tentang idealisme. Bagaimana dia, dengan pekerjaan yang dimilikinya saat ini, sesungguhnya melakukan kegiatan -- dan bahkan lebih serius lagi, rutinitas -- yang sudah melenceng jauh dari idealisme yang dimilikinya. Hanya dengan dua tweet itu, ada sebuah kisah panjang yang dituturkan, tentang bagaimana ketika muda dan masih kuliah, dia memiliki begitu banyak mimpi yang pada akhirnya sekarang terenggut begitu saja oleh realita.
Hasil pemikiran mendalam yang saya lakukan setelah membaca dua tweetnya tadi adalah gelisah. Ada beberapa pemikiran yang sudah sempat mondar-mandir di kepala saya namun mungkin secara tidak sadar saya repress, akhirnya terkuak. Sederhananya, saya setuju dengan dia. Saya merasakan hal yang sama, atau lebih tepatnya sedang sangat ketakutan akan merasakan hal yang sama.
Saya sudah sarjana, sudah sejak setahun lalu. Sekarang saya magang di konsultan psikologi yang sehari-hari merekrut calon karyawan -- meskipun lebih tepatnya pekerjaan ini disebut freelance, karena tidak wajib ke kantor setiap hari melainkan menunggu 'proyekan' -- dan memiliki status resmi sebagai pencari kerja. Status ganda, sebagai yang biasa merekrut sekaligus yang direkrut. Surat lamaran, CV, pas foto, fotokopi atau scan ijazah dan transkrip nilai saya sepertinya sudah tersebar di mana-mana. Saya dan teman-teman saya di posisi yang sama terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang langsung menikah, ada kelompok yang sekolah lagi dan ada kelompok pencari kerja. Kelompok pencari kerja pun terbagi atas kelompok kerja-apa-aja-deh-yang-penting-cepetan-kerja dan kelompok belagu-lo-kerja-aja-milih-milih. Dan meskipun berkas lamaran saya sudah tersebar di mana-mana, saya ada di kelompok terakhir yang disebut.
Kembali ke pembahasan di awal, saya pemilih karena mungkin punya idealisme. Walaupun sebenarnya istilah itu terlalu keren untuk dilekat-lekatkan kepada saya. Saya ingin bekerja di industri media. Biasanya ketika wawancara dan ditanyai tentang alasan passion saya itu, saya menjawab dengan "...karena saya suka lingkungan dan budaya kerja media. media itu isinya orang-orang kreatif, dinamis dan inovatif yang selalu berkarya. mereka menciptakan sesuatu, bukan hanya menjalankan tugas yang ada. saya akan bisa mengembangkan diri saya dengan baik di lingkungan seperti itu." Alasan sebenarnya adalah saya merasa pekerjaan media itu begitu mulia. Fungsi dan peran dasar media adalah mencerdaskan masyarakat, dengan menyampaikan berbagai informasi sehingga mereka yang tidak tahu menjadi tahu. Ah, mulia sekali. Meskipun sekarang sudah sangat sulit menemukan media dengan fungsi dan peran pure seperti itu, karena sudah terlalu banyak perkara kepentingan yang mengkontaminasi. Selain media, saya juga begitu ingin bekerja di bidang yang berkaitan dengan literasi. Sebut saja misalnya penerbitan. Dalam wawancara, saya biasa menjawab "...karena saya cukup suka membaca dan menulis." Padahal sesungguhnya karena menurut saya betapa mulianya mereka yang bekerja untuk menghasilkan berbagai buku bacaan agar isi kepala orang-orang semakin kaya.
Akhirnya saya sempat diterima di salah satu perusahaan media baru di Jakarta sebagai reporter news dan saya menolak penandatanganan kontrak. Alasan bodoh saya waktu itu hanyalah perasaan sia-sia sebagai sarjana psikologi dengan prestasi kelulusan yang baik, jika harus banting setir bidang ilmu ketika bekerja. Begitulah sikap'belagu' saya, atau paling tidak, seperti itulah yang biasa orang di sekitar saya katakan. Kadang saya khilaf dan memasukkan lamaran ke mana saja, meskipun ketika diproses, saya akan memilih-milih lagi sehingga seringkali tidak hadir tes. Saya selalu berpikir, kenapa saya harus melamar di perusahaan otomotif sementara setiap hari saya mengeluh tentang asap knalpot dan jumlah kendaraan yang terus memadat? Kenapa saya harus melamar di perusahaan tambang sementara setiap hari saya mengeluh tentang udara yang panas, pohon yang tinggal sedikit dan polusi udara?
Kadang saya justru berpikir, kenapa tidak masuk LSM saja, entah yang bergerak di bidang lingkungan, sosial, pendidikan, atau apapun itu, selama saya bisa lebih banyak memberi manfaat kepada orang lain daripada menghasilkan mudharat? Atau kenapa tidak jadi pengajar saja yang bahkan punya gelar pahlawan? Atau kenapa tidak sekalian masuk wilayah pemerintahan dan menorehkan sedikit jasa tak terlihat demi negara tercinta ini, selama tidak justru terbawa arus kebobrokan? Untuk pilihan terakhir itu, saya mendapat dukungan penuh dari ayah saya. Latar belakang orang tua saya memang pemerintahan. Dan entah kenapa, selain terus menyarankan saya untuk sekolah lagi, dari semua sektor pemerintahan yang ada, ayah saya bersemangat sekali ketika merekomendasikan BPK kepada saya. Mungkin idealisme beliau jauh lebih tinggi lagi, ingin anaknya berkontribusi membela kebenaran di tengah ladang kesalahan yang sudah sangat membudaya; korupsi.
Pada akhirnya, beberapa orang menyerahkan mimpi dan idealismenya sebagai tumbal kepada realitas tuntutan kehidupan. Tidak perlu muluk disebut idealisme, keinginan saya sederhana saja. Saya mau memberi lebih banyak manfaat daripada mudharat kepada orang banyak. Meskipun kadang, apa yang pada hakekatnya memberi manfaat pun sudah banyak berubah memberi kerugian, dan sistem yang ada sudah terlalu mengakar untuk diubah kembali.
Saya pernah bercerita kepada salah satu rekan di kantor, tentang salah seorang teman yang begitu mencintai musik dan puisi, dan punya kegigihan yang begitu tinggi untuk terus berkarya. Lalu dia hanya tersenyum tulus. Katanya, "pertahankanlah idealismemu sekuat mungkin sebelum terlambat dan tua dimakan realita."
Jadi, seberapa lama kamu bisa menjaga idealisme agar tetap hidup di dalam dirimu? Semoga selamanya.
Sabtu, 23 Maret 2013
Seharusnya Kita
Seharusnya kita berpulang ke pelukan satu sama lain
Bukan kepada gelisah dan percakapan-percakapan yang tak menyelamatkan
Di dalam kepala-kepala egois kita,
kita lebih memilih memeluk buih-buih bir dari botol masing-masing
Seharusnya kita bercerita dari satu bibir ke bibir yang lain
Bukan kepada asap rokok yang membentuk wajah-wajah masa lalu
Di dasar hati kita yang perlahan jatuh,
kita lebih memilih berbicara pada tetes-tetes hujan
Jari-jari kita semakin keriput oleh lembab,
semakin gemetar oleh dingin
Lidah kita semakin pahit oleh tegukan bir,
semakin kelu oleh rasa yang tak terungkap
Tapi kita masih bersikeras tak menyerah
Memilih meneteskan air mata di antara tetesan air,
bekas kebekuan sebotol bir di lantai yang dingin,
Daripada menyuarakan perasaan dan berpasrah pada tubuh satu sama lain
Hanya suara lenguhan yang sudi kita nyanyikan
Melalui kata-kata yang semakin rumit teruntai mesra
Seharusnya kita bercinta dengan sajak yang diam-diam kita tulis
Bukan dengan suara-suara keramaian yang dengan sedikit sengaja kita redam,
agar hanya sunyi yang kita kecap
Di antara rasa-rasa yang semakin bergejolak disendawakan di udara,
kita masih memilih memeluk buih-buih bir dan berbicara pada tetes-tetes hujan
Bukan kepada gelisah dan percakapan-percakapan yang tak menyelamatkan
Di dalam kepala-kepala egois kita,
kita lebih memilih memeluk buih-buih bir dari botol masing-masing
Seharusnya kita bercerita dari satu bibir ke bibir yang lain
Bukan kepada asap rokok yang membentuk wajah-wajah masa lalu
Di dasar hati kita yang perlahan jatuh,
kita lebih memilih berbicara pada tetes-tetes hujan
Jari-jari kita semakin keriput oleh lembab,
semakin gemetar oleh dingin
Lidah kita semakin pahit oleh tegukan bir,
semakin kelu oleh rasa yang tak terungkap
Tapi kita masih bersikeras tak menyerah
Memilih meneteskan air mata di antara tetesan air,
bekas kebekuan sebotol bir di lantai yang dingin,
Daripada menyuarakan perasaan dan berpasrah pada tubuh satu sama lain
Hanya suara lenguhan yang sudi kita nyanyikan
Melalui kata-kata yang semakin rumit teruntai mesra
Seharusnya kita bercinta dengan sajak yang diam-diam kita tulis
Bukan dengan suara-suara keramaian yang dengan sedikit sengaja kita redam,
agar hanya sunyi yang kita kecap
Di antara rasa-rasa yang semakin bergejolak disendawakan di udara,
kita masih memilih memeluk buih-buih bir dan berbicara pada tetes-tetes hujan
Kamis, 14 Maret 2013
Menyederhanakan Doa
Tuhan,
aku mau menyederhanakan doaku.
Aku minta hanya kesedihan yang datang kepadaku,
apa saja asal bukan kebencian.
Aku tahu tak ada yang lebih melelahkan dari membenci,
tidak merasa sedih sekalipun.
Aku juga merasa,
mungkin aku tak cukup pantas untuk berdoa meminta hanya hal baik.
Maka demikianlah aku menyederhanakannya.
aku mau menyederhanakan doaku.
Aku minta hanya kesedihan yang datang kepadaku,
apa saja asal bukan kebencian.
Aku tahu tak ada yang lebih melelahkan dari membenci,
tidak merasa sedih sekalipun.
Aku juga merasa,
mungkin aku tak cukup pantas untuk berdoa meminta hanya hal baik.
Maka demikianlah aku menyederhanakannya.
Minggu, 10 Maret 2013
Sepi Tak Punya Definisi
Sepi tak punya definisi
Ia adalah beranda berdinding warna cerah
Lili dan tulip menempatinya
Beranda rumah yang sesungguhnya menyimpan keranda
Ketika satu pintunya mampu kaubuka
Sepi tak punya definisi
Ia adalah langit mendung yang berkawan awan pekat
Kilat ramai bersahutan di dalamnya
Awan pekat yang sesungguhnya memayungi gadis kecil
Tersenyum lebar sembari menari di antara genangan
Ia adalah beranda berdinding warna cerah
Lili dan tulip menempatinya
Beranda rumah yang sesungguhnya menyimpan keranda
Ketika satu pintunya mampu kaubuka
Sepi tak punya definisi
Ia adalah langit mendung yang berkawan awan pekat
Kilat ramai bersahutan di dalamnya
Awan pekat yang sesungguhnya memayungi gadis kecil
Tersenyum lebar sembari menari di antara genangan
Jumat, 08 Maret 2013
Narasi Sebuah Pertemuan
Aku akan menceritakan satu narasi tentang sebuah pertemuan.
Saat itu, malam hari di suatu rabu yang malas. Aku duduk di sebuah cafe yang cukup ramai, di bagian tengah kota yang sudah mulai sepi. Jam tangan kulitku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit.
Berjam-jam sudah aku mematikan waktu dengan melumat obrolan-obrolan ringan bersama teman-temanku. Di hadapan piring-piring bekas pisang bakar dan nasi goreng, kami telah menandaskan terlalu banyak tawa. Menit-menit terakhir perjamuan itu akhirnya tenggelam dalam diam pada bibir-bibir kami. Tinggal gelas berisi tak sampai setengah sisa cokelat panas yang menemaniku menatapmu lekat.
Melalui sebuah jendela yang terpajang tepat di depanku, aku memperhatikanmu sibuk bermain dengan asap-asap yang kauhirup dan kauhembuskan. Jendela itu tinggi dan besar. Daun-daunnya dicat putih dan dibuka selebar-lebarnya. Entah kapan kamu dan teman-temanmu masuk dan duduk di sana. Aku hanya sadar sudah duduk di sana, di ruang sebelah dari tempatku duduk, dengan segenggam perekat di wajahmu yang menahan mataku agar tak lepas menatap.
Aku tak sadarkan diri. Mataku lekat menatap sepasang mata sayu yang sorotnya sungguh tajam. Mataku lekat menatap sebuah hidung mancung yang garis tulangnya sungguh tegas. Mataku lekat menatap bibir basah yang ronanya sungguh merah. Kamu larut di antara ramainya tawa dan asap, dan bagiku, seluruh isi dunia mulai menghilang perlahan-lahan dan meninggalkanmu di dalam tatapanku.
Sampai akhirnya pintu paling depan dari cafe itu menyambut kedatangan sesosok perempuan cantik. Dia berjalan dengan begitu anggun menuju mejamu yang sedari tadi kursinya hanya diisi beberapa pria. Dia menghampirimu dan duduk di kursi sebelahmu. Dia langsung merentangkan lengannya yang tak dibalut apapun dan merangkulmu, mendekatkan wajanya ke jawahmu dan menatapmu mesra. Kalian lalu dibawa pergi sepotong-dua potong obrolan kecil yang intim. Tak sampai semenit berlalu dan kamu mengecup bibirnya sepenuh cinta di tengah keramaian suara-suara yang bersama kepulan asap-asap padat mengisi lapisan udara.
Tatapanku lepas. Aku menutup kelopak mataku beberapa detik dan menunduk beberapa menit. Isi dunia mulai kembali satu per satu ke tampat di mana mereka seharusnya berada. Aku mulai sadarkan diri. Aku tersadar di antara ajakan pulang teman-temanku yang sudah ingin menyerah pada kasur mereka masing-masing. Kami keluar cafe, melewati meja tempatmu duduk tanpa aku menengok sedikitpun.
Aku meninggalkan cafe itu dengan perjalanan pulang yang penuh gerimis. Waktu menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh empat menit ketika aku membuka pintu kamarku. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan mumulai lamunanku yang lain. Banyak lamunan yang aku punya di dalam kepalaku setiap harinya. Saat ini, entah yang mana yang kupilih untuk kulamunkan. Aku tidak sadar.
Satu-satunya yang membuatku tersadar setelah sekitar satu jam membiarkan pikiranku beterbangan di langit-langit kamar adalah ketukan di pintu kamarku. Aku masih terjaga. Langkahku bangkit dari tempat tidur agak berat. Aku membuka pintu kamarku dan kamu sudah ada di hadapanku. Kamu mengambil dua langkah maju mendekatiku dan langsung memeluk tubuhku lalu mencium bibirku tanpa merasa asing sama sekali. Pintu kamarku lalu kaututup dan kamu masih memelukku yang hanya terdiam.
Aku lupa kamu punya janji bertemu dengan pacarmu tadi malam di cafe itu. Aku lupa mengabarimu ketika aku diajak bertemu teman-temanku di cafe itu. Aku juga lupa malam ini kamu berjanji akan pulang ke rumahku dan menemaniku. Pikiranku tercecer, berhamburan tak teratur di atas lantai kamar dan aku masih belum mampu mengendalikannya.
Aku tak butuh kamu meninggalkan pacarmu dan menjadikanku yang sah. Aku rasa aku hanya butuh mengingat hal-hal kecil lebih baik.
Saat itu, malam hari di suatu rabu yang malas. Aku duduk di sebuah cafe yang cukup ramai, di bagian tengah kota yang sudah mulai sepi. Jam tangan kulitku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit.
Berjam-jam sudah aku mematikan waktu dengan melumat obrolan-obrolan ringan bersama teman-temanku. Di hadapan piring-piring bekas pisang bakar dan nasi goreng, kami telah menandaskan terlalu banyak tawa. Menit-menit terakhir perjamuan itu akhirnya tenggelam dalam diam pada bibir-bibir kami. Tinggal gelas berisi tak sampai setengah sisa cokelat panas yang menemaniku menatapmu lekat.
Melalui sebuah jendela yang terpajang tepat di depanku, aku memperhatikanmu sibuk bermain dengan asap-asap yang kauhirup dan kauhembuskan. Jendela itu tinggi dan besar. Daun-daunnya dicat putih dan dibuka selebar-lebarnya. Entah kapan kamu dan teman-temanmu masuk dan duduk di sana. Aku hanya sadar sudah duduk di sana, di ruang sebelah dari tempatku duduk, dengan segenggam perekat di wajahmu yang menahan mataku agar tak lepas menatap.
Aku tak sadarkan diri. Mataku lekat menatap sepasang mata sayu yang sorotnya sungguh tajam. Mataku lekat menatap sebuah hidung mancung yang garis tulangnya sungguh tegas. Mataku lekat menatap bibir basah yang ronanya sungguh merah. Kamu larut di antara ramainya tawa dan asap, dan bagiku, seluruh isi dunia mulai menghilang perlahan-lahan dan meninggalkanmu di dalam tatapanku.
Sampai akhirnya pintu paling depan dari cafe itu menyambut kedatangan sesosok perempuan cantik. Dia berjalan dengan begitu anggun menuju mejamu yang sedari tadi kursinya hanya diisi beberapa pria. Dia menghampirimu dan duduk di kursi sebelahmu. Dia langsung merentangkan lengannya yang tak dibalut apapun dan merangkulmu, mendekatkan wajanya ke jawahmu dan menatapmu mesra. Kalian lalu dibawa pergi sepotong-dua potong obrolan kecil yang intim. Tak sampai semenit berlalu dan kamu mengecup bibirnya sepenuh cinta di tengah keramaian suara-suara yang bersama kepulan asap-asap padat mengisi lapisan udara.
Tatapanku lepas. Aku menutup kelopak mataku beberapa detik dan menunduk beberapa menit. Isi dunia mulai kembali satu per satu ke tampat di mana mereka seharusnya berada. Aku mulai sadarkan diri. Aku tersadar di antara ajakan pulang teman-temanku yang sudah ingin menyerah pada kasur mereka masing-masing. Kami keluar cafe, melewati meja tempatmu duduk tanpa aku menengok sedikitpun.
Aku meninggalkan cafe itu dengan perjalanan pulang yang penuh gerimis. Waktu menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh empat menit ketika aku membuka pintu kamarku. Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan mumulai lamunanku yang lain. Banyak lamunan yang aku punya di dalam kepalaku setiap harinya. Saat ini, entah yang mana yang kupilih untuk kulamunkan. Aku tidak sadar.
Satu-satunya yang membuatku tersadar setelah sekitar satu jam membiarkan pikiranku beterbangan di langit-langit kamar adalah ketukan di pintu kamarku. Aku masih terjaga. Langkahku bangkit dari tempat tidur agak berat. Aku membuka pintu kamarku dan kamu sudah ada di hadapanku. Kamu mengambil dua langkah maju mendekatiku dan langsung memeluk tubuhku lalu mencium bibirku tanpa merasa asing sama sekali. Pintu kamarku lalu kaututup dan kamu masih memelukku yang hanya terdiam.
Aku lupa kamu punya janji bertemu dengan pacarmu tadi malam di cafe itu. Aku lupa mengabarimu ketika aku diajak bertemu teman-temanku di cafe itu. Aku juga lupa malam ini kamu berjanji akan pulang ke rumahku dan menemaniku. Pikiranku tercecer, berhamburan tak teratur di atas lantai kamar dan aku masih belum mampu mengendalikannya.
Aku tak butuh kamu meninggalkan pacarmu dan menjadikanku yang sah. Aku rasa aku hanya butuh mengingat hal-hal kecil lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)



