Kau lelaki yang senantiasa membaca kenangan
Di bola matamu, selaput demi selaput mengelupas
Menguak catatan-catatan tentang cinta yang pernah menetap di sana
Di antara selaput demi selaput bola matamu
Kau lelaki yang tak sadar menjadi penulis kenangan
Di sudut bibirku, ciuman demi ciuman kaukecupkan
Meninggalkan jejak-jejak kata tentang cinta yang bertahan kusuarakan di sana
Di antara ciuman demi ciuman di sudut bibirku
Aku perempuan yang tubuhnya kaupeluk
Mengemis hangat yang kauharap dapat membakar seluruh kenanganmu kelak
Aku perempuan yang menjaga tubuhnya tetap kaupeluk
Menyimpan dingin yang kuharap dapat membekukan seluruh kenangan yang terlanjur kautulis sampai kelak
Jumat, 28 Desember 2012
Senin, 17 Desember 2012
Skenario Kematian
Nanti aku akan mati di tengah nyanyianmu.
Di sebuah ladang ilalang.
Yang pucuk-pucuknya menyuarakan kosong rongga dadamu.
Di sudut taman pohon kamboja.
Yang dahan-dahannya patah menjatuhkan puing-puing hatimu.
Di sepetak tanah basah.
Yang di langitnya beterbangan gagak-gagak hitam serupa masa lalumu.
Tarikan napasmu yang akan menusukku.
Berlumur darah di detik napas itu berhembus.
Nanti kau akan dengan jijik menatapku.
Mencium amis mayatku.
Lalu akan kau lantunkan sebuah lagu kematian.
Dengan nada dan hati yang riang.
Ketika itu aku akan mati semakin dalam.
Malam ini masih riuh mesin di jalanan yang membekapku.
Di antara sesak aku menyusun skenario kematianku.
Paru-paruku semakin mengerut tertindih bayangmu.
Yang memetik nada-nada minor dan mengantarkanku sekarat.
Bintang harapan diselimuti kabut kenangan.
Aku menggigil oleh merdu ucapanmu yang meniupkan beku.
Lorong gelap masih panjang untuk kulalui.
Di ujungnya yang menyilaukan, sosokmu berdiri gagah.
Dalam perjalanan itu doa-doa menggema di pelupuk mataku.
Aku memohonkan satu untaian sapamu.
Sebagai suara terakhir yang akan mengirimkanku kedamaian.
Karena aku tahu, nanti aku akan mati di tengah nyanyianmu.
Di sebuah ladang ilalang.
Yang pucuk-pucuknya menyuarakan kosong rongga dadamu.
Di sudut taman pohon kamboja.
Yang dahan-dahannya patah menjatuhkan puing-puing hatimu.
Di sepetak tanah basah.
Yang di langitnya beterbangan gagak-gagak hitam serupa masa lalumu.
Tarikan napasmu yang akan menusukku.
Berlumur darah di detik napas itu berhembus.
Nanti kau akan dengan jijik menatapku.
Mencium amis mayatku.
Lalu akan kau lantunkan sebuah lagu kematian.
Dengan nada dan hati yang riang.
Ketika itu aku akan mati semakin dalam.
Malam ini masih riuh mesin di jalanan yang membekapku.
Di antara sesak aku menyusun skenario kematianku.
Paru-paruku semakin mengerut tertindih bayangmu.
Yang memetik nada-nada minor dan mengantarkanku sekarat.
Bintang harapan diselimuti kabut kenangan.
Aku menggigil oleh merdu ucapanmu yang meniupkan beku.
Lorong gelap masih panjang untuk kulalui.
Di ujungnya yang menyilaukan, sosokmu berdiri gagah.
Dalam perjalanan itu doa-doa menggema di pelupuk mataku.
Aku memohonkan satu untaian sapamu.
Sebagai suara terakhir yang akan mengirimkanku kedamaian.
Karena aku tahu, nanti aku akan mati di tengah nyanyianmu.
Sabtu, 15 Desember 2012
Merah Yang Memudar Jingga
Aula besar tempat acara dilaksanakan di dalam sana ramai sekali. Manusia-manusia berbalut gaun dan jas rapi begitu cantik dan tampan berkeliaran di sana-sini. Wajah-wajah mereka bahagia. Ada juga beberapa yang yang mengenakan wajah gelisah, menunggu giliran untuk menyampaikan perasaan terpendamnya kepada sesosok manusia istimewa yang sudah bertahun-tahun dipuja.
Malam ini, di sebuah gedung yang aulanya kami sewa di pusat kota, aku dan sekelompok temanku membuat sebuah acara angkatan. Acara semacam prom night kesiangan karena kami bukan lagi rombongan anak SMA yang baru lulus ujian akhir, melainkan sekumpulan mahasiswa tingkat akhir yang sedang terluntang-lantung dikerjai tugas akhir. Acara ini kami buat mengingat satu-persatu teman seperjuangan yang telah memenangkan perangnya dengan sesosok musuh bernama skripsi sudah mulai lulus satu-persatu dan akan segera memulai kehidupannya yang baru. Sekedar menciptakan momen yang dapat diingat, acara ini menjadi penggenap satu acara dengan konsep sama yang pernah kami buat di awal kuliah untuk lebih menyatukan teman-teman seangkatan dari gab kelompok pergaulan masing-masing.
Ruangan semakin pengap. Riuh suara-suara yang meledek setiap orang yang sedang maju ke atas panggung dan menyatakan perasaan terpendamnya selama bertahun-tahun semakin menggema. Ya, ini salah satu konsep yang secara tidak sengaja dilaksanakan dalam acara. Dimulai dari salah satu temanku yang memberanikan diri menyampaikan perasaannya kepada perempuan yang sudah bertahun-tahun dia puja diam-diam, pengakuan-pengakuan lainnya segera mengantri untuk mengaliri ruangan. Ternyata banyak cinta yang tersimpan di antara kami selama ini.
Aku melangkah keluar ruangan sambil tersenyum-senyum melihat perilaku teman-temanku. Aku sempat begitu menyukai salah satu teman baikku, tapi rasanya aku tidak mememuhi persyaratan untuk ikut menghebohkan bagian acara tersebut. Rata-rata orang yang sedang berdiri mengaku di atas panggung sudah menyimpan perasaannya lebih dari dua tahun.
"Mau ke mana, Dil?"
"Ke depan bentar, sumpek."
"Eh, lagi seru gini juga."
"Hahahaha... Iya, ya udah biarin aja mereka."
"Kan siapa tahu tiba-tiba ada yang ngaku ke kamu, Dila."
"Yah, kalo ada suruh teriak yang kenceng biar kedengeran dari luar ya."
"Sial. Hahahaha..."
Aku melangkah meninggalkan Sela yang tadi menyapaku. Gedung ini berada di pinggir salah satu jalan raya utama kota. Aku duduk sendirian di pojok teras depan gedung, menghadap jalan raya. Rok yang kukenakan tak kupedulikan lagi jika harus kotor terkena sesuatu. Aku mengeluarkan rokok dan korek api dari dalam tas pestaku dan membakar sebatang.
Dibandingkan mengingat salah satu teman dekatku yang pernah aku hujani rasa suka, aku justru terjebak dalam rasa sakitku yang bekasnya masih berwujud ruam di seluruh permukaan hatiku. Melepaskan apa yang sudah begitu dimiliki memang bukan hal mudah, toh melepaskan perasaan dari sesuatu yang tak pernah dimiliki saja seringkali sulit untuk dilakukan.
Aku pernah begitu memiliki seseorang, paling tidak begitulah menurutku. Aku rasa, ketika itu kami bahkan terlalu memiliki dan melewati batas. Aku merasa aku punya hak apapun atasnya, dan begitupun sebaliknya. Tak perlu momen-momen bahagia untuk membuat kami terus terikat, keburukan-keburukan yang telah kami ciptakan berdua justru menjadi alasan untuk tak pernah mampu melepaskan diri dari satu sama lain. Bertahun-tahun hal itu terjadi di antara skala-skala waktu yang tak pernah kami pahami dan tak mampu kami taklukkan.
Sekarang dia telah sadar. Dia lebih dulu mengambil keputusan untuk menebalkan pertahanannya dan meninggalkanku. Setelah dari dulu kami tahu bahwa tak akan ada yang membaik, tanpa mampu bergerak meninggalkan, sekarang dia menguatkan kakinya lebih dulu untuk melangkah pergi dan menyelamatkan kami. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Seharusnya aku sedang menjadi gila dan memohon-mohon kepadanya, seperti bagaimana dia dulu pernah lakukan kepadaku, tapi aku juga sadar bahwa aku harus membantu memutuskan lingkaran karma tempat kami bermain selama ini.
Aku tahu aku akan baik-baik saja. Aku hanya sedikit suka untuk duduk lebih bungkuk dari biasanya. Sepertinya ada beban yang setengah mati aku keluarkan dari dalam hatiku dan kutumpu di atas bahuku. Beban itu berwujud sosoknya. Sosok yang sudah terbang dan berbahagia dia langitnya sendiri. Seharusnya karena dia telah terbang, bahuku semakin lega. Mungkin seperti inilah definisi dari baik-baik saja; hati yang masih berbekas ruam dan kepala yang keberatan mengingat.
"Ngapain lo?"
"Eh, Dim. Ga ngapa-ngapain. Sumpek aja di dalam. Mau ngerokok."
"Bagi rokok dong."
Sejurus kemudian aku menyodorkannya sebungkus rokok yang kupunya dan meminjamkannya korek api. Kami lalu duduk berdua di pojok teras depan gedung yang menghadap jalan raya. Dalam diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing yang melayang di antara bintang yang kebetulan begitu terang malam ini. Kami hanya terdiam mengamati asap rokok yang mengaburkan cahaya dari deretan lampu jalan yang jingganya tampak selalu sendu.
Namanya Dimas. Temanku semenjak aku baru masuk perguruan tinggi. Anggap saja dia teman dengan multiperan. Biasanya dia adalah teman tidur siang, lebih tepatnya teman yang kasur di kamar kosnya aku rebut secara membabi buta setiap aku butuh tempat untuk merebahkan kelelahan fisik maupun batinku. Dia teman bercerita tentang segala hal yang pernah eksis di muka bumi atau di dalam pikiran manusia. Dia abangku. Dia pacarku ketika beberapa momen menuntut dan memaksa manusia untuk harus berpasangan, momen malam minggu misalnya. Dia lawan debatku. Sampai-sampai peran teman curhat sudah tidak begitu signifikan lagi. Aku bahkan tak perlu mencurahkan apa-apa dan dia sudah tahu dengan sendirinya. Dia teman yang sempat aku curahi perasaan suka namun aku genangi di dalam hatiku sendiri. Kebersamaan kami sudah membuat perasaan itu tidak menjadi suatu hal luar biasa lagi. Lagipula, aku tak yakin banyaknya peran yang dia lakoni denganku selama ini bersedia ia rangkum hanya menjadi satu peran -- pacarku.
"Udah sih, sedih mulu. Malesin."
"Dih! Tau apa lo?"
"Semuanya."
"Iya deh, iya..."
"Punya beberapa menit buat dengerin gue ga?"
"Kalo sampe 10 menit, ga punya."
"Anggap aja lo itu merah. Kalo lo ngerasa lo udah pudar, gue mau kasi tau lo kalo jingga juga cantik kok. Walopun menurut gue, lo masih tetep merah."
"....."
"Ga sampe dua menit kan?"
"....."
Aku hanya menatap wajahnya dalam-dalam. Dia merangkulku dan aku memeluknya. Setelah itu dia langsung mematikan rokoknya dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Suara-suara dari dalam masih sangat riuh. Aku kembali menerka-nerka langit sendirian. Aku mcasih tak ingin bergumul dengan kerumunan manusia yang sedang uforia.
Tiba-tiba saja Sela berlari ke arahku dari dalam ruangan sambil meneriakkan namaku dengan heboh. Dia langsung menarikku sekuat tenaga tanpa mau tahu dengan keadaanku dan membawaku ke depan panggung. Ramai sekali. Semua orang menyorakiku sambil tertawa-tawa menggodaku. Aku kebingungan. Berisik sekali. Satu-satunya hal yang masih sempat kucerna di dalam otakku adalah aku melihat Dimas ada di atas panggung.....
.....
Aku memang adalah merah yang sempat memudar dan berubah menjadi jingga. Dengan sorot mata dan jari-jarimu yang menggenggam tanganku, kamu tawarkan kepadaku dua pilihan untuk aku yakini; aku masih merah, atau jingga tetap cantik. Entah apa yang waktu itu kupilih. Yang aku tahu sekarang, aku adalah merah.
Minggu, 09 Desember 2012
Sudah Tanggal Sepuluh
Sudut matamu telah mengering.
Hujan yang senantiasa dijatuhkan oleh lukamu,
kau biarkan menggenang di dalam hati.
Memar di tubuhmu tak lagi biru.
Kau telah mengubahnya menjadi kelabu,
dan membenamkannya di dasar kepalamu.
Aku menemukanmu duduk di sudut beranda,
menanti yang entah apa.
Jari-jari yang dulu sering kaupakai untuk melukai dirimu sendiri telah tiada.
Bibir yang dulu senang menyuarakan kekecewaan telah menghilang.
Kau kini lebih memilih untuk memetik gitar dan melagukan ingatan.
Desember yang selalu mendung tak pernah tahu,
tentang awan pekat yang setia memayungimu.
Desember yang selalu basah tak pernah tahu,
tentang sembab kenanganmu.
Desember yang selalu dingin tak pernah tahu,
tentang beku kesepianmu.
Sudah tanggal sepuluh.
Di bulan yang langit malamnya begitu segan menabur cahaya.
Aku menemukanmu duduk di sudut beranda,
masih terus menanti.
Menanti sepetak tanah yang kaugali sebagai kubur segera terisi,
oleh kekasihmu yang tinggal berupa bayangan.
Menanti sayap yang kautanamkan di punggung kekasihmu,
segera berkembang dan membawa yang tersisa darinya terbang.
Sudah tanggal sepuluh.
Di bulan yang tanahnya tak pernah lebih berair,
dibandingkan matamu pada waktu-waktu yang lalu.
Di bulan ke-sekian-belas dari saat terakhir,
semenjak kau mengetahui keadaanmu baik-baik saja.
Kuburan itu belum tergali cukup dalam.
Sayap itu masih tak tampak akan segera tumbuh.
Katamu, kau hanya akan terus memetik gitar dan melagukan ingatan.
Hujan yang senantiasa dijatuhkan oleh lukamu,
kau biarkan menggenang di dalam hati.
Memar di tubuhmu tak lagi biru.
Kau telah mengubahnya menjadi kelabu,
dan membenamkannya di dasar kepalamu.
Aku menemukanmu duduk di sudut beranda,
menanti yang entah apa.
Jari-jari yang dulu sering kaupakai untuk melukai dirimu sendiri telah tiada.
Bibir yang dulu senang menyuarakan kekecewaan telah menghilang.
Kau kini lebih memilih untuk memetik gitar dan melagukan ingatan.
Desember yang selalu mendung tak pernah tahu,
tentang awan pekat yang setia memayungimu.
Desember yang selalu basah tak pernah tahu,
tentang sembab kenanganmu.
Desember yang selalu dingin tak pernah tahu,
tentang beku kesepianmu.
Sudah tanggal sepuluh.
Di bulan yang langit malamnya begitu segan menabur cahaya.
Aku menemukanmu duduk di sudut beranda,
masih terus menanti.
Menanti sepetak tanah yang kaugali sebagai kubur segera terisi,
oleh kekasihmu yang tinggal berupa bayangan.
Menanti sayap yang kautanamkan di punggung kekasihmu,
segera berkembang dan membawa yang tersisa darinya terbang.
Sudah tanggal sepuluh.
Di bulan yang tanahnya tak pernah lebih berair,
dibandingkan matamu pada waktu-waktu yang lalu.
Di bulan ke-sekian-belas dari saat terakhir,
semenjak kau mengetahui keadaanmu baik-baik saja.
Kuburan itu belum tergali cukup dalam.
Sayap itu masih tak tampak akan segera tumbuh.
Katamu, kau hanya akan terus memetik gitar dan melagukan ingatan.
Rabu, 05 Desember 2012
Jangan Ketuk Pintu Itu
Masih ada yang tersisa tentang kita.
Sisa kisah berbentuk sebercak dua bercak noda,
yang telah menua dan berubah cokelat di tembok kamarku.
Noda yang mudanya begitu merah dan segar,
kontras dengan cat putih dinding tempatnya bersarang.
Noda yang terlukis melalui kuas kepalan tanganmu yang menghantam kanvas beton,
ketika kita sedang tak lagi punya cara lain untuk berbicara.
Lalu, luka apa lagi yang masih sanggup kau elak?
Kesakitan mana lagi yang masih berusaha tak kausetujui?
Aku membaringkan kepalaku setiap malam,
tepat di sebelah lembaran ingatan itu.
Ingatan yang dituliskan dengan darah,
di tembok yang tepat bersisian dengan kasurku.
Kau tahu seperti apa rasanya?
Rasanya asin seperti air mata yang jatuh mencuri muara ke tepian bibir.
Rasanya cemas seperti mimpi buruk yang rutin bertamu.
Rasanya kosong seperti mulut yang menganga,
ketika lelap menggerogoti badan yang kelelahan.
Dan kamu,
apapun tarikan yang bumi jelmakan alasan kepadamu untuk melangkah kembali menujuku,
urungkanlah niatmu untuk mengetuk pintu kamarku.
Ingatlah tentang sebercak darah yang masih tertinggal,
di dalam ruangan yang pintunya ingin kau ketuk itu.
Ingatlah tentang ingatan buruk yang terlukis di sana.
Lalu berbaliklah.
Pulanglah ke dunia yang kau pakai untuk melarikan diri dari monster yang keluar dari tubuhku.
Tak ada tempat lagi untuk lukisan luka yang lain di dalam sini.
Sisa kisah berbentuk sebercak dua bercak noda,
yang telah menua dan berubah cokelat di tembok kamarku.
Noda yang mudanya begitu merah dan segar,
kontras dengan cat putih dinding tempatnya bersarang.
Noda yang terlukis melalui kuas kepalan tanganmu yang menghantam kanvas beton,
ketika kita sedang tak lagi punya cara lain untuk berbicara.
Lalu, luka apa lagi yang masih sanggup kau elak?
Kesakitan mana lagi yang masih berusaha tak kausetujui?
Aku membaringkan kepalaku setiap malam,
tepat di sebelah lembaran ingatan itu.
Ingatan yang dituliskan dengan darah,
di tembok yang tepat bersisian dengan kasurku.
Kau tahu seperti apa rasanya?
Rasanya asin seperti air mata yang jatuh mencuri muara ke tepian bibir.
Rasanya cemas seperti mimpi buruk yang rutin bertamu.
Rasanya kosong seperti mulut yang menganga,
ketika lelap menggerogoti badan yang kelelahan.
Dan kamu,
apapun tarikan yang bumi jelmakan alasan kepadamu untuk melangkah kembali menujuku,
urungkanlah niatmu untuk mengetuk pintu kamarku.
Ingatlah tentang sebercak darah yang masih tertinggal,
di dalam ruangan yang pintunya ingin kau ketuk itu.
Ingatlah tentang ingatan buruk yang terlukis di sana.
Lalu berbaliklah.
Pulanglah ke dunia yang kau pakai untuk melarikan diri dari monster yang keluar dari tubuhku.
Tak ada tempat lagi untuk lukisan luka yang lain di dalam sini.
Minggu, 02 Desember 2012
Pengkhianat Takdir
Kita memang adalah pendosa.
Ketika takdir menuliskan cerita perpisahan untuk kita berdua,
kita memaksa diri untuk terus berjalan bersisian.
Ketika Tuhan membisikkan wahyu di telinga kita untuk berhenti mencintai,
kita berkhianat dan terus berpelukan.
Ketika luka mengetuk hati dan membawa kabar kesakitan,
kita mengebalkan ego dan tak mau menyerah.
Dulu aku mencintaimu dan seharusnya aku masih mencintaimu.
Meski demi mempertahankan kewarasanku, aku membencimu.
Aku selalu suka bercerita.
Tentang bagaimana aku begitu mencintaimu.
Aku selalu suka menuliskan ribuan deretan kata.
Tentang bagaimana aku hanya mencintaimu.
Tapi aku memang adalah pendosa.
Di depanmu, hanya pelupuk mata berairku yang bercerita,
atau suara-suara tinggi yang menulis.
Tentang cerita yang masih sama,
bagaimana aku begitu mencintaimu dan bagaimana aku hanya mencintaimu.
Sekarang kau telah tuli karena cerita-ceritaku,
telah buta karena tulisan-tulisanku.
Maka aku setuju untuk diam.
Aku setuju untuk menaati tulisan takdir, bisikan Tuhan dan kabar sang luka.
Aku akan duduk diam di bawah kolong tangga sebuah rumah,
tempatmu menumpuk kenangan yang terpaksa kausimpan.
Senin, 26 November 2012
Sketsa Di Atas Surat Cinta
Lain kali, beritahu aku jika kamu ingin menyisipkan sebilah pisau di dalam genggaman tanganku. Jangan lakukan diam-diam, agar aku tahu aku tak merobek jiwamu ketika aku membelai wajahmu atau menusuk hatimu ketika aku memeluk tubuhmu.
.....
Dulu, aku suka terlalu sibuk menggoreskan penaku di atas kertas. Menuliskan beratus-ratus surat cinta untukmu. Surat-surat itu tak pernah kusampaikan kepadamu, tetapi selalu kamu rampas dari tanganku sebelum aku menyelesaikannya. Kamu lalu menyimpannya di bawah tumpukan komik-komikmu tanpa pernah kamu baca.
Dulu, kamu suka terlalu sibuk menggariskan pensilmu di atas kertas. Menggambarkan beratus-ratus sketsa abstrak tentang cinta yang kamu punya untukku. Sketsa-sketsa itu tak pernah kamu artikan di hadapanku, tetapi selalu aku kumpulkan dan tempelkan di seluruh sisi dan bidang tembok kamarku sampai penuh. Aku tak pernah ingin tahu tentang apa semua sketsa itu.
Paling tidak, dulu kita selalu memainkan alat tulis kita secara berdampingan. Paling tidak, kita selalu mengoyak kertas-kertas yang kita miliki bersama-sama. Surat-surat cintaku selalu hampir jadi di sebelahmu. Sketsa-sketsamu selalu menjadi tak berarti di sisiku.
Biasanya aku yang lebih dulu mengambil kertas, berbaring di atas kasur dan mulai menulis. Tidak lama kemudian kamu akan datang dengan kertasmu, berbaring di sampingku, merenggut kertas suratku, lalu mulai menggambar. Ketika itu aku akan menyandarkan kepalaku di bahumu sambil terus memperhatikanmu menggambar. Kita terus bersama menikmati emas yang bertebaran di atas langit senja atau kristal yang jatuh dari awan pekat lewat jendela kamarmu, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya kita tuangkan ke dalam kertas kita masing-masing.
Pada suatu saat yang aku tidak tahu pasti kapan, kamu menyisipkan sebilah pisau di dalam genggaman tanganku tanpa aku ketahui. Pisau itu memberikanku otoritas untuk dapat melukaimu kapanpun aku sempat, meskipun aku tak mau. Pada suatu saat yang aku tidak tahu pasti kapan, aku yang biasanya hanya berbaring di sampingmu dan menyandarkan kepalaku di bahumu, memutuskan untuk memelukmu, melingkarkan tangan yang terselip pisau itu ke tubuhmu.
Sekarang, dibandingkan menggariskan pensilmu di atas kertas dan menggambar ratusan sketsa abstrak, kamu lebih sibuk menutup pintu kamarmu. Sekarang, dibandingkan menggoreskan penaku di atas kertas dan menulis ratusan surat cinta, aku lebih sibuk mengetuk pintu kamarmu berharap kamu mau membuka sedikit celah.
Sekarang, ketika kita telah saling memahami isi coretan kertas kita satu sama lain, tak ada lagi ruangan yang terbuka untuk kita menyaksikan emas dan kristal yang bertaburan di angkasa bersama-sama.
Minggu, 25 November 2012
Rabu, 21 November 2012
Tulisan Selamat Tinggal
Surat ini akan kusampaikan kepadamu ketika aku sudah dapat memastikan bahwa waktu yang ada untuk kita berdua semakin menyempit. Surat ini akan sampai di tanganmu ketika waktu yang aku perkirakan tersebut telah benar-benar habis dan ruang yang ada di antara kita telah melebar jauh dari sebelumnya serta mengubah seluruh isi dunia yang selama ini kita tempati bersama.
.....
Aku mencintaimu. Sungguh.
Aku mencintaimu bukan atas nama peran sahabat yang sudah sekian tahun kita lakoni. Aku mencintaimu bukan atas nama perasaan yang aku miliki kepadamu lebih dari batas perasaan yang dua sahabat biasanya berbagi. Aku mencintaimu sekedar atas nama kebersamaan yang sudah bersama-sama kita lewati selama ini.
Sampai pada menit-menit terakhir waktu yang kita habiskan bersama sebelum semuanya berubah, aku masih begitu mencintaimu. Ketika menatap wajahmu, aku masih menahan nafas seperti layaknya orang yang sedang jatuh cinta menahan histeris ketika melihat pujaan hatinya. Ketika aku menatap tubuhmu, aku masih berhalusinasi dan melihat tubuhku bersanding di sampingmu, menggenggam tanganmu mesra atau dirangkul olehmu penuh kasih sayang.
Aku minta maaf. Sungguh.
Aku minta maaf atas kelancanganku menciptakan perasaan yang melebihi kadar yang seharusnya aku miliki terhadapmu. Aku minta maaf jika usahaku untuk menahan ego impulsifku dalam hal mencintaimu tidak begitu maksimal. Aku minta maaf jika aku telah membuatmu merasa tidak nyaman dan kebingungan untuk mencari cara mempertahankan kebersamaan kita seperti sebelum ada perasaan berlebihan ini.
Sampai pada menit-menit terakhir waktu yang kita habiskan bersama sebelum semuanya berubah, aku masih begitu merasa bersalah dan ingin memohonkan maaf langsung kepadamu. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah yang menyelamatkanku dari setan-setan yang ada di dalam diriku. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah teman hidup yang aku butuhkan selama ini. Aku masih terus berandai-andai jika saja kamulah keputusan benar bagiku setelah sekian keputusan-keputusan salah yang telah aku ambil.
.....
Surat ini akan kamu pahami ketika aku telah sungguh-sungguh menyerah untuk mendapatkan hatimu. Setelah aku tak sanggup menghancurkan tembok egomu, setelah aku tak sanggup mengalahkan persahabatan dan bahkan kekeluargaan kita yang adalah segalanya untuk dipertahankan, dan setelah aku tak sanggup lagi melawan ruang dan waktu yang berubah berdasarkan arahan takdir.
.....
Ditulis: 28 September 2012
Senin, 19 November 2012
Sedikit Tentang Saya Dan Ngayogjazz 2012
Sebagai seorang penduduk Jogja yang gagal, di postingan kali ini saya akan menceritakan pengalaman pertama saya pergi ke event Ngayogjazz 2012 pada tanggal 18 November yang lalu. Kenapa gagal? Karena sudah empat tahun saya bertahan hidup dengan menghirup atmosfir udara Jogja tapi baru tahun ini ke Ngayogjazz, sementara tahun ini sudah kali kedelapan acara ini digelar.
Ngyogjazz adalah sebuah event tahunan dengan konsep konser musik jazz yang dipadukan dengan ekplorasi budaya Jogja. Daripada saya menjelaskan dengan bahasa formal selayaknya menulis untuk artikel surat kabar, sebaiknya saya mengetik yang santai-santai saja. Lagipula saya tidak punya informasi yang memang valid dunia akhirat tentang konsepnya kalau harus menulis formal. Intinya, Ngayogjazz 2012 ini diadakan di Desa Brayut, Sleman, Yogyakarta. Jadi acaranya di perkampungan gitu. Ada enam panggung yang jadi spot utama tampilnya pengisi-pengisi acara. Setiap panggung itu ada di halaman rumah penduduk kampung setempat. Panggung-panggung itu pisah-pisah tempatnya, alias tidak berdekatan atau bersampingan.
Selain dimanfaatkan untuk spot panggung, halaman-halaman rumah warga juga dijadikan spot macam-macam stand, mulai dari stand para sponsor sampai warung-warung makan dadakan yang disediakan oleh warga setempat. Setting tempat Ngayogjazz ini luar biasa. Pengunjung dipaksa untuk jalan-jalan keliling kampung dan tidak diam di satu tempat saja. Bintang tamu utama yang merupakan musisi-musisi jazz Indonesia dengan nama yang sudah besar juga disebar di berbagai panggung. Jadi tidak ada pilihan lain, silakan wisata keliling kampung kalau mau nonton puas.
Kedatangan saya ke Ngayogjazz 2012 awalnya hanya karena mau menonton Jay & The Gatrawardaya, jadi ketika tiba saya langsung menuju panggung Pacul. Awal mengenal kelompok musik jazz asal Jogja ini setelah mengikuti kelas Akademi Berbagi Yogyakarta dengan tema Musik Puisi yang pembicara alias gurunya adalah Mas Jay yang notabene adalah pemain saxophone serta komponis, dan Mbak Tey sang alumni Sastra Inggris UNY yang bisa dibilang adalah sastrawati. Sebagai informasi tambahan, mereka ini pasangan kekasih. Biasanya ketika kita membaca sebuah sajak singkat atau melihat seseorang yang piawai bermain alat musik saja sudah bikin tergila-gila, mereka berdua bahkan berkolaborasi dalam berkarya, yang satu menulis puisi dan yang satu meng-compose musik untuk puisi yang sudah ada itu. Bagaimana saya tidak jatuh cinta dengan mereka sepulangnya dari kelas itu?
Setelah melihat Jay & The Gatrawardaya, konsep Ngayogjazz yang memaksa pengunjungnya untuk wisata keliling kampung tetap berhasil mempengaruhi saya. Meskipun hujan turun deras sepanjang sore sampai malam sebelum Barry Likumahua Project tampil, saya tetap jalan-jalan keliling venue acara. Dengan persiapan yang antara matang dan tidak matang, saya berkeliling dengan menggunakan jas hujan hijau yang sudah saya persiapkan dari rumah dan sepatu yang basah kuyup terendam lumpur di sana-sini karena seharusnya saya memakai atau paling tidak membawa sendal jepit. Tidak sia-sia, penampilan semua pengisi acara di semua panggung keren-keren. Namanya juga musisi jazz, skill-nya suka over-qualified semua. Sebagai orang yang suka mengaku pecinta musik, saya puas.
Salah satu hal yang membuat saya super-excited, Brayut malam itu dipenuhi oleh manusia-manusia yang mengenakan jas hujan warna-warni berhamburan di sana-sini. Saya ingat salah seorang teman saya yang begitu ingin membuat festival jas hujan. Katanya, menarik sekali melihat banyak orang mengenakan jas hujan warna-warni sedang bermain di bawah hujan, dan Brayut malam itu hampir mendekati keinginannya hanya karena masih ada sekelompok orang yang memakai payung. Malam itu pesta jas hujan!
Hal lainnya yang membuat saya super-excited, saya sebagai orang yang sering mengaku suka hujan, alih-alih merasa repot dengan hujan yang mengguyur selama acara berlangsung justru merasa termanjakan. Saya suka sekali melihat tetes-tetes hujan yang jatuh di bawah lampu, entah lampu apapun, meskipun saya seringnya melihat tetes hujan yang jatuh di bawah lampu jalan. Malam itu Ngayogjazz sudah membuat saya senang semalaman karena melihat hujan di bawah lampu itu semalaman sampai puas. Venue acara di Brayut juga dilengkapi dengan lampu-lampu kecil, (semacam) obor-obor dan lentera-lentera yang menghiasi jalan-jalan setapak dari satu spot ke spot lain. Sebagai pecinta cahaya-cahaya minimalis di tengah kegelapan, saya bangga ada di sana.
Akhirnya, keadaan saya yang kehujanan sejak sore, belum makan sejak pagi dan kaki yang sudah tidak berwujud di dalam sepatu yang basah kuyup terbayar oleh penampilan Barry Likumahua Project yang luar biasa menyenangkan sekitar pukul 10 malam. Setelah dibuat bergoyang mulai dari sekedar kepala, kaki sampai seluruh badan, saya juga dibuat semakin yakin pada pernyataan yang berbunyi "Orang Ambon itu yang namanya musik dan gombal udah ngalir di dalam darah dari sononya." Pernyataan itu awalnya sering saya baca dari tweet Kak Theo @perempuansore, yang kemudian didukung oleh statement senada yang diucapkan Glenn, Elo dan Edo Kondologit ketika mereka menjadi bintang tamu Just Alvin episode Beta Datang Dari Timur.
Selama BLP tampil, hanya dengan melihat Barry bermain bass, saya paham orang Ambon itu mungkin memang dilahirkan untuk bermusik atau minimal memiliki kepekaan di atas rata-rata terhadap rangkaian nada-nada. Malam itu, Om Benny Likumahua yang tidak lain tidak bukan adalah ayah dari Barry sendiri juga turut tampil dan memamerkan komposisi darah yang mengalir di dalam dirinya dan telah ia tumpahkan pada anaknya itu. Hanya dengan kalimat-kalimat pengantar basa-basi dari Barry ketika tampil jugalah saya paham orang Ambon itu memang sudah flamboyan sejak dalam tatapan! Kebetulan saya juga orang Ambon, semoga saja saya tidak digeneralisakan ke dalam ciri-ciri tersebut, karena saya akan bingung harus bangga atau tidak enak hati dilabeli tukang gombal.
At all, bagi diri saya sendiri, apalagi kurangnya Ngayogjazz 2012 di Brayut malam itu kalau semua yang saya suka bisa saya nikmati sampai puas di sana? Belum lagi CD Membuatku Cinta dari Jay & The Gatrawardaya bisa saya dapatkan gratis sehingga saya tidak jadi mengopi-ngopi secara ilegal. Itu sudah bonus luar biasa mengingat saya bahkan ikut nongkrong untuk berteduh di rumah tempat equipment dan transit artis termasuk Barry dan kawan-kawan serta ikut mencomot cemilan untuk artis.
Karena kebetulan ini bukan artikel untuk koran atau majalah, sampai di sini saja curhatan saya. Saya mau mengecek sepatu yang sudah saya jemur seharian dulu.
Ngyogjazz adalah sebuah event tahunan dengan konsep konser musik jazz yang dipadukan dengan ekplorasi budaya Jogja. Daripada saya menjelaskan dengan bahasa formal selayaknya menulis untuk artikel surat kabar, sebaiknya saya mengetik yang santai-santai saja. Lagipula saya tidak punya informasi yang memang valid dunia akhirat tentang konsepnya kalau harus menulis formal. Intinya, Ngayogjazz 2012 ini diadakan di Desa Brayut, Sleman, Yogyakarta. Jadi acaranya di perkampungan gitu. Ada enam panggung yang jadi spot utama tampilnya pengisi-pengisi acara. Setiap panggung itu ada di halaman rumah penduduk kampung setempat. Panggung-panggung itu pisah-pisah tempatnya, alias tidak berdekatan atau bersampingan.
Selain dimanfaatkan untuk spot panggung, halaman-halaman rumah warga juga dijadikan spot macam-macam stand, mulai dari stand para sponsor sampai warung-warung makan dadakan yang disediakan oleh warga setempat. Setting tempat Ngayogjazz ini luar biasa. Pengunjung dipaksa untuk jalan-jalan keliling kampung dan tidak diam di satu tempat saja. Bintang tamu utama yang merupakan musisi-musisi jazz Indonesia dengan nama yang sudah besar juga disebar di berbagai panggung. Jadi tidak ada pilihan lain, silakan wisata keliling kampung kalau mau nonton puas.
Kedatangan saya ke Ngayogjazz 2012 awalnya hanya karena mau menonton Jay & The Gatrawardaya, jadi ketika tiba saya langsung menuju panggung Pacul. Awal mengenal kelompok musik jazz asal Jogja ini setelah mengikuti kelas Akademi Berbagi Yogyakarta dengan tema Musik Puisi yang pembicara alias gurunya adalah Mas Jay yang notabene adalah pemain saxophone serta komponis, dan Mbak Tey sang alumni Sastra Inggris UNY yang bisa dibilang adalah sastrawati. Sebagai informasi tambahan, mereka ini pasangan kekasih. Biasanya ketika kita membaca sebuah sajak singkat atau melihat seseorang yang piawai bermain alat musik saja sudah bikin tergila-gila, mereka berdua bahkan berkolaborasi dalam berkarya, yang satu menulis puisi dan yang satu meng-compose musik untuk puisi yang sudah ada itu. Bagaimana saya tidak jatuh cinta dengan mereka sepulangnya dari kelas itu?
Setelah melihat Jay & The Gatrawardaya, konsep Ngayogjazz yang memaksa pengunjungnya untuk wisata keliling kampung tetap berhasil mempengaruhi saya. Meskipun hujan turun deras sepanjang sore sampai malam sebelum Barry Likumahua Project tampil, saya tetap jalan-jalan keliling venue acara. Dengan persiapan yang antara matang dan tidak matang, saya berkeliling dengan menggunakan jas hujan hijau yang sudah saya persiapkan dari rumah dan sepatu yang basah kuyup terendam lumpur di sana-sini karena seharusnya saya memakai atau paling tidak membawa sendal jepit. Tidak sia-sia, penampilan semua pengisi acara di semua panggung keren-keren. Namanya juga musisi jazz, skill-nya suka over-qualified semua. Sebagai orang yang suka mengaku pecinta musik, saya puas.
Salah satu hal yang membuat saya super-excited, Brayut malam itu dipenuhi oleh manusia-manusia yang mengenakan jas hujan warna-warni berhamburan di sana-sini. Saya ingat salah seorang teman saya yang begitu ingin membuat festival jas hujan. Katanya, menarik sekali melihat banyak orang mengenakan jas hujan warna-warni sedang bermain di bawah hujan, dan Brayut malam itu hampir mendekati keinginannya hanya karena masih ada sekelompok orang yang memakai payung. Malam itu pesta jas hujan!
Hal lainnya yang membuat saya super-excited, saya sebagai orang yang sering mengaku suka hujan, alih-alih merasa repot dengan hujan yang mengguyur selama acara berlangsung justru merasa termanjakan. Saya suka sekali melihat tetes-tetes hujan yang jatuh di bawah lampu, entah lampu apapun, meskipun saya seringnya melihat tetes hujan yang jatuh di bawah lampu jalan. Malam itu Ngayogjazz sudah membuat saya senang semalaman karena melihat hujan di bawah lampu itu semalaman sampai puas. Venue acara di Brayut juga dilengkapi dengan lampu-lampu kecil, (semacam) obor-obor dan lentera-lentera yang menghiasi jalan-jalan setapak dari satu spot ke spot lain. Sebagai pecinta cahaya-cahaya minimalis di tengah kegelapan, saya bangga ada di sana.
Akhirnya, keadaan saya yang kehujanan sejak sore, belum makan sejak pagi dan kaki yang sudah tidak berwujud di dalam sepatu yang basah kuyup terbayar oleh penampilan Barry Likumahua Project yang luar biasa menyenangkan sekitar pukul 10 malam. Setelah dibuat bergoyang mulai dari sekedar kepala, kaki sampai seluruh badan, saya juga dibuat semakin yakin pada pernyataan yang berbunyi "Orang Ambon itu yang namanya musik dan gombal udah ngalir di dalam darah dari sononya." Pernyataan itu awalnya sering saya baca dari tweet Kak Theo @perempuansore, yang kemudian didukung oleh statement senada yang diucapkan Glenn, Elo dan Edo Kondologit ketika mereka menjadi bintang tamu Just Alvin episode Beta Datang Dari Timur.
Selama BLP tampil, hanya dengan melihat Barry bermain bass, saya paham orang Ambon itu mungkin memang dilahirkan untuk bermusik atau minimal memiliki kepekaan di atas rata-rata terhadap rangkaian nada-nada. Malam itu, Om Benny Likumahua yang tidak lain tidak bukan adalah ayah dari Barry sendiri juga turut tampil dan memamerkan komposisi darah yang mengalir di dalam dirinya dan telah ia tumpahkan pada anaknya itu. Hanya dengan kalimat-kalimat pengantar basa-basi dari Barry ketika tampil jugalah saya paham orang Ambon itu memang sudah flamboyan sejak dalam tatapan! Kebetulan saya juga orang Ambon, semoga saja saya tidak digeneralisakan ke dalam ciri-ciri tersebut, karena saya akan bingung harus bangga atau tidak enak hati dilabeli tukang gombal.
At all, bagi diri saya sendiri, apalagi kurangnya Ngayogjazz 2012 di Brayut malam itu kalau semua yang saya suka bisa saya nikmati sampai puas di sana? Belum lagi CD Membuatku Cinta dari Jay & The Gatrawardaya bisa saya dapatkan gratis sehingga saya tidak jadi mengopi-ngopi secara ilegal. Itu sudah bonus luar biasa mengingat saya bahkan ikut nongkrong untuk berteduh di rumah tempat equipment dan transit artis termasuk Barry dan kawan-kawan serta ikut mencomot cemilan untuk artis.
Karena kebetulan ini bukan artikel untuk koran atau majalah, sampai di sini saja curhatan saya. Saya mau mengecek sepatu yang sudah saya jemur seharian dulu.
![]() |
| Di Depan Peta Lokasi dan Jadwal Tampil Pengisi Acara Ngayogjazz 2012 |
![]() |
| Di Antara Banner-banner Ngayogjazz 2012 |
![]() |
| Salah Satu Sudut Jalan Desa Brayut |
![]() |
| Pesta Mantel dan Payung |
![]() |
| Hampir Menyerupai Festival Jas Hujan |
![]() |
| Flamboyan Sejak Dalam Tatapan |
Langganan:
Postingan (Atom)








