Selasa, 20 Januari 2015

Sesuatu Tentang Malaikat, Kematian atau Keduanya

Ada malaikat kecil yang senang melompat-lompati kepala manusia.
Dari satu kepala ke kepala lainnya.
Sampai semua ubun-ubun tersentuh ujung jari-jari kaki telanjangnya yang mungil.

"Kenapa kau melompati kepala-kepala kami?" Tanyaku.
"Karena kepala kalian rindang, tempat tumbuh subur pikiran-pikiran. Rasanya seperti rumput taman yang basah sehabis hujan." Katanya.
"Kenapa kau tak pakai sepatu?" Tanyaku.
"Karena aku ingin merasakan rumput taman itu sedalam-dalamnya. Karena aku ingin mengenal isi kepala-kepala itu sebaik-baiknya." Katanya.

Malaikat itu manis.
Gadis kecil yang manis.
Ada pita hitam di rambutnya yang hitam.
Ada pita hitam di gaunnya yang hitam.
Ia selalu bernyanyi sembari melompati kepala-kepala.
Ia selalu menenteng kantong-kantong hadiah.
Ada pita hitam di kantongnya yang hitam.

"Kenapa kau selalu membawa kantong-kantong hadiah?" Tanyaku.
"Karena aku harus memberikan sesuatu kepada orang yang aku ajak pergi denganku." Katanya.
"Apa isi kantong hadiah itu?" Tanyaku.
"Bahagia. Hanya saja bahagia di dalam kantong ini tak punya definisi bagi orang yang belum ikut denganku." Katanya.

Malaikat itu punya kantong hadiah yang sangat banyak.
Kantong-kantongnya terayun ketika ia melompat-lompat.
Setiap hari ia berangkat dengan banyak kantong.
Lalu pulang tanpa kantong.
Semuanya habis.
Keesokan harinya, ia berangkat lagi dengan banyak kantong.
Lalu pulang lagi tanpa kantong sama sekali.
Semuanya habis.
Begitu terus setiap hari.

Tapi kau tak akan pernah bisa melihat semua kantong yang ia bawa seharian.
Hanya akan ada beberapa kantong yang terlihat.
Bahkan kadang, tak ada kantong yang terlihat.
Hanya kantong untuk orang-orang yang kau kenal saja yang bisa terlihat olehmu.

"Kau bawa berapa kantong hari ini?" Tanyaku.
"Banyak sekali. Aku tak sempat menghitung. Biar itu jadi tugas mereka yang kehilangan." Katanya.
"Apa ada kantong untukku hari ini?" Tanyaku.
"Tak ada kantong yang dapat kau lihat siang ini, tapi ada 3 kantong yang akan kutunjukkan padamu nanti malam." Katanya.




Jakarta 21/1/15 00.06
Satu catatan turut berduka cita, untuk rentetan kabar kehilangan tiga anggota keluarga sahabat-sahabat, dalam rentang waktu dua jam yang sama.

Kamis, 15 Januari 2015

Tentang Waktu; Duduklah yang Manis di Dalam Gerbong

Kadang hidup bisa kauringkas ke dalam satu perjalanan kereta api.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Tak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja dan kau akan sampai juga di stasiun yang kautuju.

Meskipun di luar jendela, segala sesuatu berlalu darimu. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Gunung-gunung. Tiang-tiang listrik. Orang-orang. Waktu.

Kadang keretamu akan melambat. Kau punya waktu yang lebih lama. Dengan orang-orang. Dengan gunung-gunung. Dengan tiang-tiang listrik.

Kadang ia akan kembali melaju cepat. Kau tak punya waktu yang cukup. Semua berlalu lebih cepat dari yang dapat kausadari. Sampai samar. Sampai bentuknya belum sempat kaukenali. Semuanya. Orang-orang. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Hujan dan terik matahari.

Tapi kau juga tak akan habis menemui hal baru di depanmu. Meski berlalu lagi. Kau temui lagi. Berlalu lagi. Orang. Orang-orang. Sekelompok orang. Atau banyak sekali orang. Datang satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus. Pergi satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau tak akan kenapa-kenapa. Walaupun pinggangmu pegal. Walaupun kau mengantuk tapi tak bisa tidur. Walaupun bukumu telah habis kaubaca dan perjalanan masih panjang. Meski kau bosan dengan lagu-lagu yang keluar dari headset-mu. Walaupun orang di sebelahmu mengorok terlalu keras. Meski kau ingin buang air tapi kamar kecilnya kotor. Meski banyak kecoak berkeliaran keluar-masuk sambungan-sambungan besi. Walau rokokmu habis dan merokok sudah dilarang dan kau tetap melanggar.

Kau akan baik-baik saja. Meski semua melaju. Meski kau melaju. Meski waktu melaju. Meski semua berubah bentuk. Semua yang kau pahami dengan baik atau yang bahkan tak sempat matamu tangkap.

Kau akan sampai juga di suatu ujung. Keluar dan menghirup udara segar. Melurus-luruskan badan yang pegal. Lega.

Suatu ujung yang tak pernah kau bayangkan seperti apa ia sebagai titik berhenti segala sesuatu yang bergerak dalam hidupmu. Duniamu dan dirimu sendiri. Suatu titik cukup. Dimana segala sesuatu kau cukupkan. Suatu titik dimana waktu tidak lagi relevan. Suatu titik dimana dunia membeku diam.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau akan baik-baik saja.



Jakarta, 15/1/15 23.39

Minggu, 07 Desember 2014

Sudah, Lalu Apa?

Ada waktu-waktu dimana kau bertanya-tanya pada dirimu sendiri, "apa yang sesungguhnya sudah aku capai dan ingin aku capai dalam hidupku?" "Apakah yang sudah aku capai benar-benar aku inginkan?" "Apa lagi yang harus aku capai setelah ini?" "Apa lagi yang aku inginkan?"

Dulu kau sekolah. Lalu kau ingin lulus dan masuk universitas yang paling baik untukmu. Setelah itu semua tercapai, kau ingin segera lulus kuliah dengan baik dan mendapat pekerjaan yang paling baik untukmu. Lalu setelah semua itu juga tercapai, kau kembali pada pertanyaan awal tulisan ini. Setelah bekerja lalu apa? Apa ini benar pekerjaan terbaik untukku? Apakah aku justru ingin melakukan hal lain?

Dulu kau beranjak remaja. Lalu kau ingin tahu bagaimana rasanya punya pacar. Lalu semuanya tercapai. Bukan satu pacar, tapi banyak orang dekat dengan banyak kisahnya masing-masing. Banyak orang yang hanya dengan modal penanya, datang lalu mencorat-coret cerita mereka masing-masing di dalam bukumu. Lalu mereka pergi. Kalau diberi bonus dari Sang Maha Menentukan, beberapa orang mungkin hanya berubah 'bentuk' di dalam hidupmu, tapi tak kemana-mana. Lalu kau ingin menikah, sembari kembali ke pertanyaan awal tulisan ini. Apakah itu yang benar-benar aku inginkan? Apakah itu benar-benar akan menjadi sesuatu yang membuatku bahagia? Mungkin nantinya setelah menikah, kau akan kembali bertanya tentang apa yang harus kaulakukan dengan keinginan yang telah tercapai itu.

Manusia memang tak akan pernah puas. Sudah demikian desain yang dibuat Si Empunya Dunia atas diri kita.

Dari dulu sampai sekarang, kau mengalami banyak sekali hal. Mimpi-mimpi yang dengan tekun kau susun rapi, lalu kau pertanyakan lagi, lalu kau susun lagi, pertanyakan lagi, dan begitu seterusnya. Kau mengalami proses besar yang terbentuk dari komposisi harapan dan keputusasaan yang seringkali tidak proporsional. Beberapa hal membuatmu begitu bahagia. Beberapa lainnya membuatmu jatuh; tidak seperti mati, melainkah lebih seperti tidur, namun rasanya kau tak ingin bangun seharian, tidak juga membuka tirai jendela sama sekali.

Semakin hari, semakin rajin kau mempertanyakan perihal-perihal. Semakin kau tahu tentang banyak hal, semakin kau tak paham dengan lebih banyak hal lagi. Tentang keinginan-keinginan ketika mereka tercapai; apakah benar ini apa yang aku inginkan? Lalu keinginan-keinginan yang tak juga tergapai; apakah aku sungguh menginginkan hal ini?

Rumput tetangga seringkali lebih hijau. Hanya beberapa orang beruntung yang diberi anugerah untuk pandai merasa cukup dan menganggap rumput di halamannya yang paling hijau. Beberapa lainnya diberi anugerah untuk tidak mengenal warna, tidak ada yang hijau dan yang lebih hijau, tidak ada yang hijau ataupun yang berwarna selain hijau. Beberapa sisanya diberi anugerah kegigihan besar untuk menjadikan rumputnya yang paling hijau.

Di luar mereka adalah orang-orang kebanyakan, yang akan selamanya mempertanyakan banyak hal; seluruh hal baik dan hal buruk.

Pertanyaan-pertanyaan meriuhkan isi kepalamu. Lalu kau pertanyakan lagi keriuhan di dalam kepalamu.

Tak habis-habis.






Jakarta, 7/12/14

Selasa, 11 November 2014

Satu Malam yang Tuhan dan Rumah

Aku akan pulang.
Pada mata bulat sempurnamu,
yang telah juga kumiliki sejak sejarahku dimulai.
Akan kutanggalkan bajuku,
yang berbau asap Kota Kabut Racun.
Agar kecemasanmu ikut tertanggalkan.
Agar kau tahu,
mataku masih sama sempurna bulatnya dengan matamu.

Aku akan pulang.
Pada ombak-ombak di rambutmu,
yang telah juga kumiliki sejak semestaku terbentuk.
Akan kubasuh seluruh tubuhku,
yang berkerak keburukan bagimu.
Agar ketakutanmu turut luruh.
Agar kau tahu,
laut yang tumbuh di atas kepalaku masih seluas milikmu.

Aku akan pulang.
Tidak ke rumahmu,
atau apa yang semakin jauh dari apa yang kuanggap rumahku.
Aku hanya akan pulang,
ke kasar telapak tanganmu yang menyimpan doa,
dan pecah telapak kakimu yang menyimpan surga.

Lalu aku akan pergi lagi.
Mencari rumah milikku sendiri,
yang tak akan pernah kutemukan.

Lalu aku akan hilang lagi.
Dengan baju bau knalpot dan tembakau.
Dengan tubuh berkerak dosa dan gila.
Dengan Tuhan yang kubawa-bawa di dalam kepalaku.
Dengan Tuhan yang tertawa-tawa di dalam dadaku.



Jakarta
21-10-14
00.02

Hari di Selasar Senja

Hari berlari-lari
Saban hari
Mengejar matahari

Hari melompat-lompat
Dari satu atap rumah ke atap rumah lain
Yang ujungnya tajam-tajam
Sampai kaki-kakinya berdarah-darah

Hari duduk-duduk
Di selasar rumah senja
Meringis-ringis karena kakinya sakit
Menangis-nangis karena matahari telah jauh,
menghilang berlari darinya

Hari ketakutan
Rumah senja lebih menakutkan
Dari monster yang sudah ia besarkan di dalam dirinya

Hari ingin pulang
Tapi tak tahu ke bawah atap rumah yang mana
Mungkin yang menoreh luka paling lebar,
di telapak kakinya

Hari diam
Merindukan ibu yang lebih besar dan telah lebih jauh,
dari matahari ketika pintu rumah senja tertutup malam

Hari menghitung-hitung bintang
Dan atap-atap rumah yang akan dilompatinya besok
Lalu bersiap berlari-lari lagi

Selasa, 30 September 2014

Delapan Puluh Tiga Tahun Opa Baik Hati

Pada akhirnya, bekerja bukanlah tentang apa yang kauberikan kepada pekerjaanmu, bukan pula tentang apa yang pekerjaanmu berikan kepadamu, melainkan tentang apa yang kauberikan kepada dirimu sendiri melalui pekerjaanmu.

Pada akhirnya, bekerja bukan tentang dedikasi, bukan pula tentang benefit, tapi tentang idealisme dan nilai yang kauanut sendiri, di dalam dirimu sendiri, dan untuk rasa penuhmu sendiri.

Yogyakarta, 27 September 2014.

Selamat ulang tahun yang ke-83, Opa Jacob. Aku tak habis terkagum-kagum padamu, lalu tak habis bertanya-tanya tentangmu. Terkagum-kagum lagi, lalu bertanya-tanya lagi.

"Apa yang ada di dalam kepala tiga-puluh-sekian-tahun-mu dulu ketika memulai semua ini? Apa alasanmu ketika itu? Apa bayanganmu ke depannya pada saat itu?"

"Apa yang ada di dalam kepala delapan-puluh-sekian-tahun-mu sekarang setelah semuanya sejauh ini?"

Aku bergabung di rumah ini 50 tahun kemudian. Ketika rumah ini sudah besar. Ketika nilai-nilai yang katanya adalah nilai-nilai yang kaupegang kuat-kuat, diagung-agungkan dimana-mana. Karena nilai-nilaimu baik, katanya.

Kau memang orang baik. Sejauh ini kau masih orang baik walaupun manusia memang terbuat dari setumpuk kepentingan. Semoga kepentinganmu memang baik dan akan tetap baik.

Tapi, Opa, tidak semua orang punya nilai yang sama dengan apa yang kaupegang. Lagipula nilai yang baik belum tentu bisa dieksekusi dengan cara yang baik. Banyak anakmu yang (merasa) mengerti, tapi lebih banyak lagi yang tidak mengerti. Bisakah pertanyaanku dijawab? Biar jadi pemahaman bagi kami semua yang (merasa) paham ataupun yang tak paham ini. Atau apalah, biar jadi pemahaman untukku sendiri.

Pada akhirnya, bekerja adalah tentangmu dan dirimu sendiri. Sisihkanlah waktu yang banyak untuk bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang ingin kaucari dan dapatkan dari hidupmu. Setelah kautahu jawabannya, bangunlah keyakinan atas jawabanmu itu. Jika keyakinanmu tak sesuai dengan keadaanmu saat ini, menyerahlah. Carilah cara untuk menyesuaikannya tanpa perlu membangun tendensi negatif (ataupun positif) apapun tentang apa yang ada di luar dirimu.

Panjang umur, Opa Jacob. Semoga nilai-nilai yang kaupelihara di dalam dirimu, dipelihara waktu di dalam diri anak-anakmu ini.



Rumah yang Samar dan Persinggahan yang Nyata; Jogja, Jakarta dan Torehan Ingatan Tentangnya

Yogyakarta, 26 September 2014.

Untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki lagi di Jogja, setelah awal 2013 lalu meninggalkan kota ini sebagai domisili. Kota ini punya tangan yang selamanya akan selalu mampu melambai padamu, mengajak kembali, dan jika kau tetap mengacuhkannya, tangannya akan menguat sampai mampu menggenggam dan menarikmu kembali.

Ada yang mistis memang di kota ini.


Banyak hal telah berubah. Kota semakin ramai. Kemacetan mulai akrab terjadi. Orang-orang telah datang dan telah juga pergi. Ada yang terasa asing di dada. Kota ini bukan lagi milikmu dan tidak lagi memilikimu. Kau lalu sadar, kota ini bukan rumahmu, meski terus-menerus memanggilmu pulang. Kota ini lagi dan lagi hanyalah persinggahan yang lain. Kau tak lagi punya teman di sini. Mereka telah pergi. Setiap sudut kota yang dulu selalu menampung orang yang bisa kauajak bicara, sudah tak ada lagi. Satu-dua orang masih ada, tapi sudah tak sama lagi.

Mungkin bukan orang yang berubah, mungkin keadaan yang berubah. Atau mungkin bukan mereka yang telah pergi, tapi justu kau yang telah pergi. Kau yang telah tak ada. Bukan ragamu, tapi kau dalam bentuk yang lebih samar.

Kota ini tetap mempesona. Jingga lampu jalan di sini selalu terasa berbeda dari jingga lampu jalan di manapun. Ada roh yang ikut keluar dari sinar-sinarnya. Orang-orang di kota ini juga seperti mengeluarkan sesuatu dari pori-pori kulitnya, menguap di udara dan menyatu membentuk suatu senyawa yang melapisi atmosfer. Membuatmu sentimentil karena menghirupnya. Lalu semua kenangan mulai sibuk lalu-lalang di dalam dadamu, dan beragam perasaan mulai mengaduk-aduk isi kepalamu. Aneh memang, tapi benar ada waktu-waktu dimana ingatan justru muncul di dalam dada dan perasaan hadir di dalam kepala.

Lalu kau akan jatuh cinta. Sama seperti yang sudah-sudah terjadi setiap kau ada di kota ini.

Seperti saya, ada baiknya kau pergi melamun sendirian. Berjalan di sepanjang Malioboro. Mencari-cari topi pancing batik titipan teman yang tak pernah ada. Merasa heran karena baru kali ini kau mencari sesuatu di Malioboro, di Mirota Batik, lalu tak menemukannya. Pilihlah satu becak setelah itu. Cari bapak tukang becak yang tak terlalu ramah, tapi tak juga terlalu cuek. Bertanyalah dimana bisa kautemukan topi itu. Dia akan memberikan jawaban yang tak memuaskanmu. Lalu naiklah becaknya, minta dia mengantarmu pulang. Lalu lanjutkan lamunanmu.

Di perjalanan, merokoklah secukupnya kau mampu menenangkan dirimu. Kau akan melihat banyak hal di dalam dirimu sendiri; melihat kau yang dulu tinggal di kota ini, dan bagaimana berbedanya ia dengan dirimu yang sekarang. Kau akan melihat bahwa telah panjang jalan yang kaulalui. Kau akan takjub menyadari apa saja yang sudah kaualami. Tapi perjalanan memang seharusnya panjang dan diisi oleh banyak hal yang pada akhirnya membentukmu sampai di titik ini.

Segala hal berubah. Keadaan berubah. Dan kau adalah bagian dari keadaan itu. Kau berubah.

Semua orang akan pergi. Jika bukan mereka, kaulah yang pergi. Kau bagian dari orang-orang.


Lalu kau rindu Jakarta. Karena kota bajingan itu sesungguhnya juga telah membuatmu kecanduan. Karena serutin apapun kau memaki dan mengeluhkannya, kau menyayanginya.

Ini kali kedua saya merasakan adanya keinginan besar untuk segera pulang ke Jakarta. Kali pertama, ketika sedang mudik ke Ambon. Sampai saya selesai menuliskan tulisan ini, saya juga masih tak habis pikir kenapa saya bisa merindukan Jakarta. Tapi paling tidak, saya punya beberapa alasan yang telah dengan susah payah saya gali dari dalam diri saya sendiri.

Jakarta memang keras. Segala hal di dalamnya memang jahat; dari udara sampai orang-orangnya. Kemudian tanpa sadar, sembari terus memaki dan mengeluh, kota itu telah membentukmu menjadi sekeras dia, tanpa perlu meminta permisi. Kau menjadi semakin kuat. Tubuhmu, mentalmu, hatimu, pikiranmu. Kau menjadi semakin santai menghadapi masalah-masalah. Kau menjadi semakin pintar, semakin cerdas, karena kota ini mengajarkan banyak sekali hal padamu. Lagi-lagi, tanpa permisi. Kau belajar dari apa yang kau alami, apa-apa yang lebih banyak tidak enak, lalu dari apa-apa yang orang lain alami, apa-apa yang memang tidak enak.

Kau jadi mengagumi banyak orang di sana. Karena mereka hebat. Karena mereka kuat. Karena mereka telah dibentuk kota yang keras dan jahat itu. Mereka luar biasa.

Kemudian kau akan menjadi pandai bersyukur. Hal-hal kecil mulai kausyukuri. Satu saja titik bintang di langit. Bulan penuh yang kabur. Penjual makanan di pinggir jalan yang tersenyum padamu. Kendaraan yang memberimu jalan untuk menyeberang. Tukang jamu yang mengingat namamu. Waktu bersama teman-temanmu, meski hanya merokok di kantin atau depan gerbang kantor, meski hanya bermain musik sepanjang malam, meski hanya menumpang tidur karena pulang terlalu malam dan harus bekerja kembali pagi-pagi.

Lalu kau akan sangat bersyukur ketika di tengah rimba yang keras dan jahat itu, kau punya orang-orang tertentu yang mampu memaklumimu dengan jujur. Tak perlu selalu ada. Tak perlu selalu berbaik-baik padamu. Hanya saja mereka selalu mampu mengimbangi kekacauan maupun ketenangan isi kepalamu.

Seharusnya kita memang pandai bersyukur.

Jumat, 19 September 2014

Semesta di Dalam Tubuhku

Aku mau satu saja ruang hampa.
Demi terendap perihal-perihal.
Demi teredam perkara-perkara.
Demi terbaca semesta di dalam tubuhku sendiri.

Tapi ruang ini masih saja ramai.
Meski dua jarum jam telah habis bersetubuh,
di pukul dua belas.
Meski waktu telah mati,
ditikam isi kepala yang tak habis bertanya-tanya.
Meski lampu kota telah semua menjelma kunang-kunang.
Meski kunang-kunang telah semua dimatikan,
oleh remang lampu kamar.

Tapi ruang ini tak mau mengedap.
Maka biar saja kecemasan menelan habis jalan-jalan raya.
Sampai tak ada lagi jalan kemana-mana.
Maka biar saja aku berlari,
di atas tubuh kecemasan itu sendiri.
Dari satu kecemasan,
ke kecemasan lainnya.
Dengan isi kepalaku yang tak mau berhenti bertanya-tanya.
Tentang waktu,
tentang lampu,
tentang kunang-kunang,
tentang jalan-jalan raya,
tentang dimana ada ruang hampa.

Tentang semesta di dalam tubuhku sendiri.



Jakarta,
19.9.14
00.50

Senin, 08 September 2014

Tuhan Menggambarkan Malam dengan Sempurna di Tubuhmu

Malam akan tetap turun.
Kota akan tetap menutup diri dengan kabut tebalnya sendiri.
Mengasingkan matahari.
Menyalakan lampu-lampu di dalam dirinya.
Sebanyak mungkin.
Sesilau mungkin.
Lalu memainkan suara-suara kecemasan keras-keras.
Sampai bising.

Tapi ketika jam dua belas telah lewat,
malam dan kota akan turun.
Ke atas kepalamu.

Mengabur kabut.
Sampai bulan bulat telanjang,
menggantung di ujung-ujung rambut tebalmu.

Mematikan lampu-lampu jalan.
Tinggal kunang-kunang terbang,
dari tiap-tiap jendela yang menyala di ketinggian.
Dan hinggap di alismu.

Mendiamkan suara-suara,
di sepanjang jalanan pukul tiga.
Agar lengang punggungmu.
Agar redam isi kepalaku di sana.
Agar pagi tak perlu datang.



Jakarta,
6/9/14
Dini harimu

Jumat, 05 September 2014

Book Review: The Man Who Mistook His Wife for a Hat


Sesungguhnya ini bukan review. Ini ringkasan suka-suka.

Buku 327 halaman ini berisi tentang dongeng-dongeng dari kisah pasien-pasien penulisnya sendiri, Dr. Oliver Sacks. Mengapa dongeng? Karena kasus-kasus kelainan psikologis klinis atau bisa disebut kelainan neurologi di sini sungguh di luar bayangan. Menakjubkan dan mengerikan dalam satu waktu yang sama. Kasus-kasus yang sepanjang karir Dr. Sacks sebagai neurolog, mampu membuatnya sendiri terus-menerus takjub.

Dr. Sacks menyajikan buku ini dengan baik. Ia menuturkan kasus-kasus pasiennya seperti menuturkan fiksi. Meskipun demikian, buku ini masih tergolong buku yang berat. Selain karena memang adalah buku ilmiah non-fiksi, sekali lagi saya sampaikan, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di dalam buku ini sungguh-sungguh bisa membuat kening berkerut sepanjang membacanya. Kamu akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal-hal semacam ini dan semacam itu bisa terjadi di dalam diri manusia. Beyond imagination, mungkin adalah ungkapan yang tepat.

Di buku ini, Dr. Sacks juga cenderung tidak berniat untuk menjelaskan setiap kasus secara lengkap. Tidak sampai pada penyelesaian kasus yang dilakukannya, atau sebab yang jelas dari beberapa kasus yang hanya sempat diketahuinya, tanpa ditangani olehnya. Ia lebih banyak menekankan pada bagaimana menakjubkannya kasus-kasus tersebut. Ia menekankan pada nilai-nilai pemahaman tertentu yang dapat dipetik dari kasus-kasus ajaib itu.

Dan memang, banyak yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Kamu akan tahu bagaimana seluruh dunia memang hanya ada di dalam kepalamu sendiri. Whole world is just on your mind. Segala sesuatu tergantung bagaimana persepsimu sendiri, tergantung isi kepalamu sendiri. Duniamu ada di dalam kepalamu. Kamu juga akan tahu bagaimana otak manusia adalah ciptaan yang terlalu luar biasa. Beyond everything. Kelecetan kecil di otak, dan seluruh duniamu tidak akan sama dengan dunia yang dipahami orang pada umumnya.

Ada beberapa kasus yang paling membuat saya menganga ketika membacanya.

Pertama, kisah seorang pria yang salah mengira istrinya sebagai topi, kasus yang menjadi judul dari buku ini. Ia mengalami kerusakan di suatu bagian otaknya dan itu merusak kemampuan persepsinya. "Punch line" kasus ini ada pada cerita ketika ia selesai diperiksa, dan diminta memakai kembali sepatunya. Ia hanya menatap kakinya dan terdiam. Baginya, sepatunya telah terpasang. Kakinya adalah sepatunya. Hal luar biasa lainnya dari kasus ini adalah, sebagai musisi, hidupnya dibantu oleh musik yang mengalun sendiri di dalam kepalanya dan sering ia gumamkan setiap saat. Musik itu yang mengarahkannya melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengenakan pakaian. Ketika ada distraksi tiba-tiba seperti bunyi pintu dibanting, musik di dalam kepalanya akan berhenti dan ia akan seketika mematung.

Kedua, kisah seseorang yang mengalami sakit dan berefek ke kerusakan di bagian otak yang bertanggungjawab atas kondisi visualnya. Sejak saat itu, ia menjadi buta. Namun bukan hanya itu, ia juga kehilangan persepsi melihatnya. Jadi, ia kehilangan semua memori visualnya dan menjadi seakan tidak pernah tahu seperti apa yang dinamakan orang dengan melihat. Melihat itu apa? Seperti apa? Bagaimana caranya? Apa rasanya? Maka ia menjadi orang buta yang merasa baik-baik saja dengan kebutaannya, atau kata Dr. Sacks, kebutaan atas kebutaan.

Ketiga, persoalan indera keenam. Setiap manusia memiliki indera keenam yang adalah indera untuk merasakan tubuh kita sendiri. Dengan begitu, tanpa harus melihat tangan kita, kita tahu tangan kita ada di situ, ada di tempatnya, dan mau kita apakan. Begitu juga anggota tubuh kita yang lain. Propriosepsi namanya. Sayangnya, salah satu pasien Dr. Sacks mengalami kerusakan propriosepsinya. Ia kemudian merasa bahwa ia tidak punya tubuh. Untuk bergerak, ia harus menggunakan kelima inderanya yang lain, seperti mata. Ia harus melihat tangannya, baru mengetahui di mana tangannya berada, lalu menggerakkannya, sambil terus dilihat. Ketika ia melepaskan pandangannya, tangannya langsung menghilang dan tidak ada lagi bagi dirinya.

Betapa di luar pemikiran, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di bukunya ini. Dr. Sacks mengkategorisasikan bukunya dengan baik. Ia membahas defisit atau pengurangan fungsi dan kasus-kasus yang diakibatkannya, lalu juga membahas mengenai persoalan-persoalan kelebihan fungsi. Dari sini kamu akan belajar bahwa ketika kamu merasa terlalu sehat, mungkin di saat itulah kamu sesungguhnya sakit.

Dr. Sacks juga mengkategorisasikan satu bab khusus yang membahas "orang-orang sederhana", atau orang-orang yang mengalami gangguan perkembangan. Orang-orang dengan tingkat intelegensi yang jauh di bawah rata-rata, dianggap bodoh, tidak mampu belajar apapun, dan tidak akan mampu bertahan hidup. Karena untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana saja sulit bagi mereka. Namun orang-orang ini punya kelebihan tertentu yang bisa membuat orang lain tak habis pikir. Seperti kasus Si Kembar yang mengalami keterbelakangan mental namun adalah ahli matematika. Mereka hanya memroses hal-hal dengan cara yang tidak sama dengan orang umumnya lakukan. Itu saja.

Seperti itulah Dr. Sacks memaksa kita untuk mengambil makna tersembunyi dari kisah-kisah yang diceritakannya. Ia membuat kita belajar bahwa orang-orang dengan kekurangan di dalam dirinya, sebenarnya sama saja dengan kita. Hanya saja mereka memliki cara yang berbeda dalam memroses dunia dan isinya. Mereka bahkan mungkin lebih dari kita. Atau mereka justru lebih beruntung daripada kita. Seperti pasien-pasien penderita agnosia yang tidak bisa memahami kata-kata, namun sangat peka memahami bahasa non-verbal. Mereka tak bisa dibohongi. Bahkan ketika menonton pidato presiden di televisi, kita mungkin masih bisa terpesona. Tidak dengan mereka.

Sama halnya ketika Dr. Sacks menuturkan cerita penutup bukunya tentang seorang anak penderita autis namun memiliki kemampuan seni rupa yang luar biasa dalam hal menggambar. Seorang anak dengan dunianya sendiri di luar dunia orang-orang lain. Seorang anak yang diistilahkan olehnya, punya pulau sendiri di luar daratan induk. Suatu kutipan dari bukunya kira-kira seperti ini;

"Ini membawa kita ke pertanyaan terakhir: apa ada 'tempat' di dunia bagi orang yang seperti sebuah pulau, yang tidak bisa dibaurkan, dijadikan bagian dari daratan induk? Bisakah 'daratan induk' mengakomodasi, memberi ruang, bagi yang aneh? Apa ada 'tempat' baginya di dunia yang akan menerapkan otonomi bagi mereka, tapi membiarkan mereka tetap utuh?"

Dan saya hampir meneteskan air mata membaca kutipan tulisan itu. Ya, apakah ada? Bukan hanya kita yang baik-baik saja, yang ingin hidup di dunia ini, sehidup-hidupnya, dengan cara yang kita anggap paling hidup. Merekapun demikian.

Kamu tak harus membaca bukunya. Memang berat. Saya menghabiskan hampir sebulan untuk menyelesaikan buku ini. Baca saja catatan ini dan pahami sesuatu.