Senin, 08 September 2014

Tuhan Menggambarkan Malam dengan Sempurna di Tubuhmu

Malam akan tetap turun.
Kota akan tetap menutup diri dengan kabut tebalnya sendiri.
Mengasingkan matahari.
Menyalakan lampu-lampu di dalam dirinya.
Sebanyak mungkin.
Sesilau mungkin.
Lalu memainkan suara-suara kecemasan keras-keras.
Sampai bising.

Tapi ketika jam dua belas telah lewat,
malam dan kota akan turun.
Ke atas kepalamu.

Mengabur kabut.
Sampai bulan bulat telanjang,
menggantung di ujung-ujung rambut tebalmu.

Mematikan lampu-lampu jalan.
Tinggal kunang-kunang terbang,
dari tiap-tiap jendela yang menyala di ketinggian.
Dan hinggap di alismu.

Mendiamkan suara-suara,
di sepanjang jalanan pukul tiga.
Agar lengang punggungmu.
Agar redam isi kepalaku di sana.
Agar pagi tak perlu datang.



Jakarta,
6/9/14
Dini harimu

Jumat, 05 September 2014

Book Review: The Man Who Mistook His Wife for a Hat


Sesungguhnya ini bukan review. Ini ringkasan suka-suka.

Buku 327 halaman ini berisi tentang dongeng-dongeng dari kisah pasien-pasien penulisnya sendiri, Dr. Oliver Sacks. Mengapa dongeng? Karena kasus-kasus kelainan psikologis klinis atau bisa disebut kelainan neurologi di sini sungguh di luar bayangan. Menakjubkan dan mengerikan dalam satu waktu yang sama. Kasus-kasus yang sepanjang karir Dr. Sacks sebagai neurolog, mampu membuatnya sendiri terus-menerus takjub.

Dr. Sacks menyajikan buku ini dengan baik. Ia menuturkan kasus-kasus pasiennya seperti menuturkan fiksi. Meskipun demikian, buku ini masih tergolong buku yang berat. Selain karena memang adalah buku ilmiah non-fiksi, sekali lagi saya sampaikan, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di dalam buku ini sungguh-sungguh bisa membuat kening berkerut sepanjang membacanya. Kamu akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal-hal semacam ini dan semacam itu bisa terjadi di dalam diri manusia. Beyond imagination, mungkin adalah ungkapan yang tepat.

Di buku ini, Dr. Sacks juga cenderung tidak berniat untuk menjelaskan setiap kasus secara lengkap. Tidak sampai pada penyelesaian kasus yang dilakukannya, atau sebab yang jelas dari beberapa kasus yang hanya sempat diketahuinya, tanpa ditangani olehnya. Ia lebih banyak menekankan pada bagaimana menakjubkannya kasus-kasus tersebut. Ia menekankan pada nilai-nilai pemahaman tertentu yang dapat dipetik dari kasus-kasus ajaib itu.

Dan memang, banyak yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Kamu akan tahu bagaimana seluruh dunia memang hanya ada di dalam kepalamu sendiri. Whole world is just on your mind. Segala sesuatu tergantung bagaimana persepsimu sendiri, tergantung isi kepalamu sendiri. Duniamu ada di dalam kepalamu. Kamu juga akan tahu bagaimana otak manusia adalah ciptaan yang terlalu luar biasa. Beyond everything. Kelecetan kecil di otak, dan seluruh duniamu tidak akan sama dengan dunia yang dipahami orang pada umumnya.

Ada beberapa kasus yang paling membuat saya menganga ketika membacanya.

Pertama, kisah seorang pria yang salah mengira istrinya sebagai topi, kasus yang menjadi judul dari buku ini. Ia mengalami kerusakan di suatu bagian otaknya dan itu merusak kemampuan persepsinya. "Punch line" kasus ini ada pada cerita ketika ia selesai diperiksa, dan diminta memakai kembali sepatunya. Ia hanya menatap kakinya dan terdiam. Baginya, sepatunya telah terpasang. Kakinya adalah sepatunya. Hal luar biasa lainnya dari kasus ini adalah, sebagai musisi, hidupnya dibantu oleh musik yang mengalun sendiri di dalam kepalanya dan sering ia gumamkan setiap saat. Musik itu yang mengarahkannya melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengenakan pakaian. Ketika ada distraksi tiba-tiba seperti bunyi pintu dibanting, musik di dalam kepalanya akan berhenti dan ia akan seketika mematung.

Kedua, kisah seseorang yang mengalami sakit dan berefek ke kerusakan di bagian otak yang bertanggungjawab atas kondisi visualnya. Sejak saat itu, ia menjadi buta. Namun bukan hanya itu, ia juga kehilangan persepsi melihatnya. Jadi, ia kehilangan semua memori visualnya dan menjadi seakan tidak pernah tahu seperti apa yang dinamakan orang dengan melihat. Melihat itu apa? Seperti apa? Bagaimana caranya? Apa rasanya? Maka ia menjadi orang buta yang merasa baik-baik saja dengan kebutaannya, atau kata Dr. Sacks, kebutaan atas kebutaan.

Ketiga, persoalan indera keenam. Setiap manusia memiliki indera keenam yang adalah indera untuk merasakan tubuh kita sendiri. Dengan begitu, tanpa harus melihat tangan kita, kita tahu tangan kita ada di situ, ada di tempatnya, dan mau kita apakan. Begitu juga anggota tubuh kita yang lain. Propriosepsi namanya. Sayangnya, salah satu pasien Dr. Sacks mengalami kerusakan propriosepsinya. Ia kemudian merasa bahwa ia tidak punya tubuh. Untuk bergerak, ia harus menggunakan kelima inderanya yang lain, seperti mata. Ia harus melihat tangannya, baru mengetahui di mana tangannya berada, lalu menggerakkannya, sambil terus dilihat. Ketika ia melepaskan pandangannya, tangannya langsung menghilang dan tidak ada lagi bagi dirinya.

Betapa di luar pemikiran, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di bukunya ini. Dr. Sacks mengkategorisasikan bukunya dengan baik. Ia membahas defisit atau pengurangan fungsi dan kasus-kasus yang diakibatkannya, lalu juga membahas mengenai persoalan-persoalan kelebihan fungsi. Dari sini kamu akan belajar bahwa ketika kamu merasa terlalu sehat, mungkin di saat itulah kamu sesungguhnya sakit.

Dr. Sacks juga mengkategorisasikan satu bab khusus yang membahas "orang-orang sederhana", atau orang-orang yang mengalami gangguan perkembangan. Orang-orang dengan tingkat intelegensi yang jauh di bawah rata-rata, dianggap bodoh, tidak mampu belajar apapun, dan tidak akan mampu bertahan hidup. Karena untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana saja sulit bagi mereka. Namun orang-orang ini punya kelebihan tertentu yang bisa membuat orang lain tak habis pikir. Seperti kasus Si Kembar yang mengalami keterbelakangan mental namun adalah ahli matematika. Mereka hanya memroses hal-hal dengan cara yang tidak sama dengan orang umumnya lakukan. Itu saja.

Seperti itulah Dr. Sacks memaksa kita untuk mengambil makna tersembunyi dari kisah-kisah yang diceritakannya. Ia membuat kita belajar bahwa orang-orang dengan kekurangan di dalam dirinya, sebenarnya sama saja dengan kita. Hanya saja mereka memliki cara yang berbeda dalam memroses dunia dan isinya. Mereka bahkan mungkin lebih dari kita. Atau mereka justru lebih beruntung daripada kita. Seperti pasien-pasien penderita agnosia yang tidak bisa memahami kata-kata, namun sangat peka memahami bahasa non-verbal. Mereka tak bisa dibohongi. Bahkan ketika menonton pidato presiden di televisi, kita mungkin masih bisa terpesona. Tidak dengan mereka.

Sama halnya ketika Dr. Sacks menuturkan cerita penutup bukunya tentang seorang anak penderita autis namun memiliki kemampuan seni rupa yang luar biasa dalam hal menggambar. Seorang anak dengan dunianya sendiri di luar dunia orang-orang lain. Seorang anak yang diistilahkan olehnya, punya pulau sendiri di luar daratan induk. Suatu kutipan dari bukunya kira-kira seperti ini;

"Ini membawa kita ke pertanyaan terakhir: apa ada 'tempat' di dunia bagi orang yang seperti sebuah pulau, yang tidak bisa dibaurkan, dijadikan bagian dari daratan induk? Bisakah 'daratan induk' mengakomodasi, memberi ruang, bagi yang aneh? Apa ada 'tempat' baginya di dunia yang akan menerapkan otonomi bagi mereka, tapi membiarkan mereka tetap utuh?"

Dan saya hampir meneteskan air mata membaca kutipan tulisan itu. Ya, apakah ada? Bukan hanya kita yang baik-baik saja, yang ingin hidup di dunia ini, sehidup-hidupnya, dengan cara yang kita anggap paling hidup. Merekapun demikian.

Kamu tak harus membaca bukunya. Memang berat. Saya menghabiskan hampir sebulan untuk menyelesaikan buku ini. Baca saja catatan ini dan pahami sesuatu.

Kamis, 04 September 2014

Book Review: The Tiny Book of Tiny Stories Vol. 2

  
Buku yang mahal. Dalam pengertiannya secara harfiah maupun tidak.

Saya menemukan buku ini pertama kali di timeline path saya, ketika teman saya memosting gambar-gambar isi buku ini. Buku yang baik pasti ada di tangan orang yang baik. Pada suatu waktu, dia meminjamkannya kepada saya tanpa saya minta dan tanpa pernah saya cari tahu sama sekali kepadanya.

Saya tanya, dimana dia membelinya. Jawabnya, di Periplus. Oke. Pantas saya tidak pernah melihatnya. Selain karena saya lebih senang membaca karya sastra Indonesia, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari buku di toko buku pojokan Taman Ismail Marzuki, atau di kantor saya sendiri ketika Kompas Gramedia Publishing sedang ada hajatan dan mengobral buku besar-besaran.

Saya tanya lagi, berapa harganya. Oke. Jawabannya membuat saya maklum mengapa saya tidak pernah (mau) tahu tentang keberadaan buku ini. Ini adalah buku kedua, dimana ada buku pertama dan buku ketiga selain buku ini. Jika saya yang memilikinya, saya akan gemas untuk memiliki ketiganya. Maka saya semakin tidak mau tahu.

Buku ini memang mahal. Demikian juga setelah saya mulai membuka cover-nya yang tebal. Menarik. Potongan-potongan pikiran dan perasaan dikumpulkan dari berbagai ilustrator dan penulis, dan kemudian ditebar oleh Joseph Gordon-Levitt di setiap lembar demi lembar buku ini. Potongan-potongan kecil. Pendek-pendek. Tapi akan memanjang di dalam kepalamu.

Saya akan bercerita tentang beberapa halaman yang paling mengesankan saya dari semua halaman yang memang mengesankan di buku ini.

Ini bagian dengan tulisan paling bagus bagi saya. Perputaran kata-kata yang cerdas untuk pemaknaan yang dalam. Kiri dan kanan sama halnya dengan salah dan benar, kadang tak benar-benar kiri atau kanan, dan tak benar-benar salah atau benar. Juga tak harus dan tak pasti terus berpasangan.


Ini bagian dengan ilustrasi paling keren bagi saya. Ilustrasi yang mampu menggambarkan segala-galanya sedalam-dalamnya tentang potongan tulisan di sampingnya. Kecemasan memang tumbuh menjadi bunga liar dari dalam kepalamu sendiri. Demikianlah jatuh cinta dan patah hati seringkali berakhir di kursi salon. Buang sial, katanya.


Ini bagian yang paling manis bagi saya. Semanis melihat dua orang berandal yang sedang jatuh cinta dan seketika bertingkah seperti anak kecil di taman bermain. Semanis melihat dua orang dengan isi kepala yang selamanya kacau balau sedang jatuh cinta, lalu tiba-tiba isi kepalanya redam. Semanis... seperti inilah jatuh cinta. Tak buruk tapi tak selamanya baik. Terima saja paketnya.


Dan ini bagian yang paling berhasil memorak-morandakan isi kepala dan dada saya. Seperti melihat cermin, dan tidak menemukan apa-apa di dalam sana. Tidak ada dirimu. Lalu kau rindu pulang, siapa tahu bisa menemukan potongan-potongan dirimu di sana, di bawah tempat tidur, di belakang lemari, di dekat pot tanaman kesayangan mama. Tapi waktu telah berlari meninggalkanmu sebelum kamu sempat mengenalinya.


Secara keseluruhan, buku ini menarik. Menggemaskan. Sangat menggemaskan malah. Jika harus diuraikan satu demi satu tentang tulisan, ilustrasi dan lainnya, masing-masing bagian itu hanya bisa saya beri apresiasi bagus. Tapi ketika mereka disatukan, hasilnya luar biasa dan 'mahal'. Buku sederhana 123 halaman yang dapat kauselesaikan dalam waktu paling lambat 15 menit, tapi mampu membangun rumahnya di dalam kepalamu dan tinggal selamanya di sana.

Senin, 01 September 2014

Kekasih-kekasih Pinggiran Jalan

Kekasih-kekasih pinggiran jalan
Akan sedia menemanimu berbicara
Di trotoar-trotoar sepi pukul larut
Menghabiskan berteguk-teguk kopi
Lalu bir
Lalu kopi lagi
Sampai merkuri-merkuri padam

Kekasih-kekasih pinggiran jalan
Tak akan membawamu pulang
Beristirahat di bawah selimut mimpi
Yang ketika menjadi nyata adalah peluk
Dan senyum
Dan peluk lagi
Sampai merkuri-merkuri menyala





Jakarta, 19 9 13
Dalam perjalanan panjangmu,
dari yang kaukira rumah menuju apa yang kauharap rumah,
merekalah yang ada di pinggiran-pinggiran jalannya.
Dan selamanya hanya di sana.

Selasa, 26 Agustus 2014

Gagak-gagak di Rambut Putihmu

: Mas Vik

Bulan terduduk dan matahari berlari ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, deru mesin-mesin menelan jalanan bulat-bulat.
Orang-orang memakan asap dan meminum kecemasan untuk sarapan.
Sementara tanah dan udara masih sama-sama kelabu.
Dan tak ada yang beterbangan di langit.
Kecuali gagak-gagak yang hinggap manis di rambut putihmu.

Bulan terlelap dan matahari terjaga ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, kokok ayam-ayam menelan setapak bulat-bulat.
Orang-orang memakan raung ternak dan meminum harapan untuk sarapan.
Sementara tanah dan udara berwarna-warni.
Namun tak ada yang beterbangan di langit.
Kecuali gagak-gagak yang hinggap manis di rambut putihmu.

Bulan mati dan matahari merayakannya ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, nyanyi gagak-gagak menelan hidup bulat-bulat.
Tak ada asap, tak ada raung ternak, tak ada kecemasan, tak ada harapan.
Sementara tanah dan udara telah membaur tanpa punya definisi warna.
Dan gagak-gagak di rambut putihmu mulai beranjak beterbangan.
Lalu hinggap di sudut-sudut mata orang-orang selainmu.



Jakarta,
27/08/14
Gagak-gagak senang bermain dengan orang-orang baik

Senin, 18 Agustus 2014

Tuhan, Doa dan Bintang Jatuh

Tuhan tidak menjatuhkan bintang,
lalu menyuruhmu berdoa.

Tuhan menyuruhmu berdoa,
lalu menjelmakan tangannya sebagai sekerlip bintang,
lalu bergerak turun menangkap doamu,
lalu menggenggamnya erat-erat,
lalu menjatuhkan ampasnya.

Itu yang kau lihat sebagai bintang jatuh.





Tepian kota yang langitnya masih berbintang,
30.6.13 - 00.44



Rabu, 13 Agustus 2014

Try Doing Things for Your Own Sake

"Kalo maen kabar-kabarin lah. Biar gue nonton."
"Ah, nggak lah. Blues udah nggak 'in' lagi di Indonesia. Lagian band gue nggak layak tonton."
"Yaelah. Mau maen tinggal maen. Kayak program TV aja lo, harus sesuaiin selera pasar."


-----

Itu adalah kutipan percakapan saya dengan teman saya di suatu media sosial. Percapakan pendek yang kemudian memanjang di dalam kepala saya.

-----

Cobalah lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri. Memang untuk dirimu. Dirimu sendiri. Dirimu.

Cobalah.

Saya tidak meminta kamu (dan saya sendiri) untuk melakukannya. Saya hanya meminta mencobanya.

Cobalah.

Meskipun sulit. Meskipun menurut saya sendiri, kemungkinan berhasilnya sangat tipis.

Cobalah.

Cobalah lakukan sesuatu demi dirimu sendiri. Tidak demi orang lain. Tidak demi hal lain.

Cobalah menulis karena itu melegakanmu. Bukan agar orang lain dapat membaca apa yang kautulis. Cobalah bernyanyi karena itu memuaskan rongga dadamu. Bukan agar orang lain tahu seberapa baik kamu bernyanyi. Cobalah berpakaian karena kamu merasa baik ketika mengenakannya. Bukan agar enak dilihat oleh orang lain dengan preferensi minat mereka yang berbeda-beda. Tidakkah itu akan melelahkan? Menyesuaikan diri dengan apa yang orang lain anggap baik, dimana setiap orang akan berbeda-beda pegangannya tentang apa yang dianggap baik. Atau agar sama dengan standar rata-rata orang, agar bisa diterima? Melelahkan.

Cobalah berdiri di depan cermin setiap pagi, dan temukan apa yang kauinginkan dari bayangan yang ada di depanmu itu, lalu wujudkanlah. Bukan menemukan apa yang orang lain inginkan, lalu kauwujudkan. Cobalah bekerja karena kamu merasa apa yang kamu kerjakan adalah benar untuk dirimu sendiri. Bukan untuk bosmu, bukan untuk penilaian tahunanmu, bukan untuk kenaikan gaji atau bonusmu, bukan untuk nama baikmu. Cobalah berjalan-jalan dan berpetualang, demi perasaan luar biasa yang akan kamu rasakan di dalam dirimu sendiri dari pengalaman-pengalaman yang kamu alami selama perjalanan. Bukan agar orang lain tahu kemana saja kamu pernah pergi dan apa saja yang pernah kamu alami. Bagikan pengalaman itu untuk orang lain, tapi demi dirimu sendiri. Demi kelegaan di dalam kepalamu sendiri karena telah membagi kisah untuk orang lain, yang mungkin dapat menjadi suatu pelajaran bagi mereka. Itu terserah mereka, bukan urusanmu lagi. Cobalah bermain musik karena kamu senang melakukannya. Bukan karena apa yang kamu mainkan disenangi oleh orang lain.

Kemudian cobalah mencintai orang lain untuk dirimu sendiri. Karena kamu mencintainya. Karena kamu memang mencintainya dan semuanya adalah tentangmu dan perasaanmu. Bukan karena kamu akan bersamanya. Bukan karena dia juga akan mencintaimu. Bukan karena nilai atau pola apapun yang umumnya dianut oleh semua orang. Biarkan semuanya hanya tentang dirimu. Demi dirimu sendiri. Jangan biarkan rasa memiliki merusak apa-apa yang masih polos, dengan warna-warnanya yang teramat beragam dan pekat.

Cobalah.

Saya yakin semua percobaan ini akan gagal. Karena manusia tidak diciptakan dengan konstruk seperti yang ada di dalam tulisan ini. Ada skema-skema kolektif yang menancap kuat di dalam diri kita, yang akan mengontrol segala apa yang kita lakukan (termasuk perilaku berpikir dan merasa), baik yang dikendalikan oleh kesadaran maupun ketidaksadaran kita. Ada pola-pola yang sepertinya sudah ada sejak kita masih primitif, dan pola-pola itu tidak membiarkan apa yang saya sampaikan di sini untuk dapat diaplikasikan. Dirimu adalah hasil interaksi semua elemen yang ada di dunia sekitarmu, yang berkaitan denganmu. Itu sebabnya dunia tentang dirimu sendiri adalah keniscayaan.

Tapi cobalah.

Mungkin kamu akan bisa lebih berbahagia, berada di bawah apa yang seharusnya bagi dirimu sendiri, bukan di bawah apa yang seharusnya bagi orang atau hal lain.

-----

Jakarta, 13/8/14

Minggu, 13 Juli 2014

Carnival Life


Round 'n round
Carousel
Has got you under it's spell
Moving so fast...but
Going nowhere


Up 'n down
Ferris wheel
Tell me how does it feel
To be so high...
Looking down here


Is it lonely?
Lonely
Lonely


Did the clown
Make you smile
He was only your fool for a while
Now he's gone back home
And left you wandering there


Is it lonely?
Lonely
Lonely 

Carnival Town - Norah Jones



 Saya kembali berkutat mendengarkan lagu ini terus-menerus beberapa minggu belakangan, setelah pada suatu malam teman saya memainkan gitar dan menyanyikannya.



Hidup memang seperti komidi putar; membawamu bergerak begitu cepat, meski kadang tak ke mana-mana.
Hidup memang seperti bianglala; mengantarmu sampai di titik yang tinggi, lalu kembali ke titik yang rendah, dan begitu seterusnya.
Hidup memang seperti badut; mengelilingimu, menghibur sesaat, lalu pergi, meninggalkanmu bertanya-tanya sendirian.

Hidup memang adalah kumpulan wahana yang pada waktunya akan tutup juga;
dan semua hanya tentang kesunyian yang dirayakan dengan begitu meriah.


 

Juli yang Terlalu Riuh


Sembilan Juli Dua Ribu Empat Belas.

Hari ini riuh sekali.

Jerman menghabisi Brazil.
Israel menghabisi Palestina.
Jokowi menghabisi Prabowo.

Sebagai warga negara Indonesia dan bukan Jerman atau Brazil atau Israel atau Palestina, poin ketiga masih menjadi poin yang paling riuh bagi saya.

Saya terbangun di siang hari tanpa ada keinginan untuk menggunakan hak suara saya sama sekali, bahkan jauh sebelum hari ini. Di luar kamar, televisi sudah ramai berkoar-koar tentang perhitungan cepat suara. Maka sisa siang saya dihabiskan dengan menonton berita ini dan itu dengan penuh kecemasan. Menonton berita sudah seperti menonton pertandingan bola atau menonton konser hari ini.

Singkat kata, dua mengalahkan satu. Saya tidak mendukung siapa-siapa. Itu sebabnya hak suara saya disimpan untuk saya sendiri. Bagi saya, apa saja asal bukan kandidat nomor urut satu. Tapi saya juga belum cukup simpatik dengan kandidat nomor urut dua. Di dalam kepala saya, ini dunia yang penuh dengan kongkalikong. Bagaimana jika Si Dua sama saja dengan Si Satu? Bagaimana jika mereka sebenarnya hanya punya satu kepentingan yang sama? Bagaimana jika ini semua hanya eksekusi dari rencana A dan B dan C dan D dan seterusnya milik Si satu ataupun Si Dua yang sebenarnya sama-sama merugikan?

Tapi sekali lagi, bagi saya, apa saja asal bukan Si Satu. Saya tidak perlu menjalani kehidupan berat tahun '98 di Jakarta untuk menolak kekerasan. Toh ketika itu saya baru duduk di bangku kelas tiga SD dan di tahun berikutnya, saya disibukkan dengan kerusuhan Ambon di tanah kampung halaman saya sendiri. Saya tahu apa itu kekerasan. Saya tahu rasanya hidup sulit di tengah pembantaian-pembantaian yang mengatasnamakan agama. Saya juga bisa memahami hal yang sama, yang dilakukan atas nama kekuasaan. Saya hanya tidak mau lagi ada kekerasan di mana-mana, dan saya tidak perlu menjelaskan di sini mengapa atas dasar itu saya begitu takut dengan Si Satu.

Kecemasan saya tidak mereda ketika sampel suara sudah masuk 100% di berbagai media dan sebagian besar dari media-media itu menyatakan Si Dua yang menang. Sebagian kecil media masih ada yang menyatakan Si Satu yang menang. Tanda-tanda kecurangan muncul di mana-mana. Mulai dari kelengkapan sampel suara yang terlalu cepat, jumlah persentase suara yang rancu, kabar tentang hasil perhitungan yang memenangkan pihak satu sudah tersebar bahkan sebelum pemilihan berlangsung, fakta soal lembaga survei yang memenangkan pihak satu adalah milik pihak koalisinya, laporan kesalahan-kesalahan pendataan form C1 di TPS-TPS, typo sajian data angka pemilih yang melenyapkan ribuan suara, isu tentang kekacauan pemilihan di luar negeri yang sengaja diciptakan, dan masih banyak lagi. Tak habis-habis. Tak heran, mengingat Si Satu pernah menyatakan bahwa tidak ada opsi untuk tidak menang bagi dia. Segala hal bisa dihalalkan.

Ini menjadi suatu komedi yang mencemaskan ketika kedua pihak lalu mengklaim menang. Orang lalu bertanya-tanya, "Jadi siapa yang menang?" "Kok malah sekarang presidennya ada dua?" Entah siapa yang mengalami kerusakan otak di sini, mungkin saya sendiri. Dengan semua kejadian yang ada, seharusnya kita dapat menilai sendiri keadaan yang sebenarnya terjadi. Tidak perlu lagi bertanya siapa yang menang. Saya rasa, Si Satu akan tetap (di)menang(kan) tanggal 22 nanti. Selisih suara hanya 5%, dan itu bahkan hanya sebesar persentase margin error. Segala sesuatu bisa diatur dalam rentang waktu seminggu lebih sejak pemilihan sampai pengumuman keputusan KPU.

Drama pilpres kali ini semakin seru ketika Si Satu ngambek kepada para awak media di rumahnya sesaat setelah hasil-hasil quick count bermunculan. Bagi saya, beliau memang tidak seharusnya memunculkan respon seperti itu. Sebagai 'Calon Bapak Sejuta Umat', seharusnya beliau lebih tenang dan tahu bagaimana seharusnya bersikap. Tapi yang paling disesalkan adalah respon beliau ini di-blow up secara berlebihan dan dramatis oleh pihak-pihak yang entah siapa, sampai justru merugikan pihak-pihak media tertentu. Konfirmasi langsung dari salah seorang reporter yang juga 'diambekin' di rumahnya, beliau santai dan baik-baik saja sampai selesai wawancara. Blow up ini hanya sengaja diciptakan untuk semakin memojokkan beliau, semakin mengekspliotasi kekurangan beliau dan semakin mendukung laporan-laporan kecurangan yang telah timses beliau lakukan. Semuanya saling menjatuhkan. Satu menjatuhkan dua, dua menjatuhkan satu, disadari atau tidak, disengaja atau tidak.

Perihal jatuh-menjatuhkan ini akhirnya merugikan, karena membuat media-media yang independen dan tidak memihak pun mulai dipeta-petakan mendukung salah satu pihak. Seribu satu alasan dicari-cari untuk membuktikan pemihakan yang dituduhkan itu. Beberapa media tersebut sampai meningkatkan penjagaan di kantor masing-masing, mungkin untuk mencegah suatu ambekan yang lebih besar. Media mengancam kekuasaan, kekuasaan mengancam media. Tak habis-habis.

Namun komedi mencemaskan yang semakin seru muncul lagi ketika pada suatu hari di masa tunggu pilpres ini, Si Dua melakukan kunjungan ke media-media, terutama media-media yang tidak memihak dan independen tersebut. Bagaimana mempertahankan ketidakberpihakan kalau beliau malah berkunjung dan menciptakan citra keberpihakan yang semakin kuat. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, kunjungan itu ditolak saja.

Ini masa yang terlalu riuh. Yang baik dijadikan tidak baik, yang tidak baik dijadikan semakin tidak baik. Setelah ini masih ada masa tunggu yang panjang dan mencekam menjelang pengumuman resmi. Setelah itu, pasti masih akan ada keriuhan lain yang terjadi, siapapun yang diputuskan menang. Lalu setelah itu, masih ada lima tahun yang panjang untuk bertahan menikmati kepemimpinan siapapun itu.

And I'm still dreaming of one world where everybody's only need is just to sing along the whole life.



Jakarta, 12 Juli 2014

Senin, 23 Juni 2014

Tak Habis

Setelah kau lelah berjalan
Kau akan duduk dan berbincang
Dengan tepian jalan raya
Dengan remang cahaya lampunya
Lalu kau akan kembali lelah
Kau akan berpulang dan berbicara
Dengan tembok kamar
Dengan coretan ingatan di sisi-sisinya
Lalu kau akan kembali lelah
Kau akan terbenam di balik selimut
Bercerita dengan Tuhan dalam lelapmu
Meminta agar kau tak lagi diberi mimpi
Lalu kau akan kembali lelah
Kau akan terjaga dan mulai berjalan
Sampai kau kembali lelah
Dan tulisan ini tak akan selesai