Aku mengenal seorang gadis.
Dia tinggal di sisi jalan setapak
yang dari selokannya,
cacing-cacing raksasa buruk rupa
akan segera muncul dan mengamuk.
Dulu tubuhnya taman.
Matanya kembang
yang kelopaknya terbuka setiap fajar,
sorotnya mekar di siang hari
dan kedipnya semerbak matang mewangi
menjelang senja.
Dulu ia bersahabat dengan hujan.
Kaki telanjangnya senang menari
dengan rumput-rumput basah.
Kini mereka asam dan tajam,
senang menusuk-nusuk ubun-ubun kepala.
Kini ia hanya bisa menyelupkan
telapak kaki telanjangnya
ke dalam genangan kenangan
di tengah jalan setapak yang gelap
dan tidak bersahabat.
Dulu tubuhnya taman.
Lalu ia pindah.
Kini matanya layu.
Jakarta, 1 5 13
Rabu, 04 Juni 2014
Senin, 02 Juni 2014
Tiga Matahari Tenggelam di Punggungmu
Matahari kecil berlari-lari.
Di kaki-kaki gunung.
Di ujung garis bentang savana.
Di balik terbang burung-burung.
Sampai lelah bermain-main.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Matahari tua duduk-duduk.
Di gerbong-gerbong kereta.
Di sepanjang bentang rel sepulau penuh.
Di balik kaca-kaca retak.
Sampai bosan menjadi bijak.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Maka matahari ketiga terbit di dalam kepalaku.
Bernyanyi-nyanyi.
Di sudut bibirmu.
Di balik matamu.
Di rangkul lenganmu.
Sampai puas tersenyum.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Baluran, 29 5 14
Pukul ketika matahari hampir habis ditelan ujung bumi
Di kaki-kaki gunung.
Di ujung garis bentang savana.
Di balik terbang burung-burung.
Sampai lelah bermain-main.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Matahari tua duduk-duduk.
Di gerbong-gerbong kereta.
Di sepanjang bentang rel sepulau penuh.
Di balik kaca-kaca retak.
Sampai bosan menjadi bijak.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Maka matahari ketiga terbit di dalam kepalaku.
Bernyanyi-nyanyi.
Di sudut bibirmu.
Di balik matamu.
Di rangkul lenganmu.
Sampai puas tersenyum.
Lalu pulang.
Ke lengkung punggungmu.
Baluran, 29 5 14
Pukul ketika matahari hampir habis ditelan ujung bumi
Warna yang Tak Dapat Dijelaskan
Ada warna yang tak dapat dijelaskan.
Warna yang seperti jingga.
Atau mungkin nila.
Atau mungkin marun.
Atau mungkin kemuning.
Warna yang penjelasannya tak terpantul cermin.
Tak juga terekam mata.
Tak juga terbias cahaya.
Tak juga terbaca kata.
Warna seperti yang terlukis di langit fajar atau senja.
Dari balik gunung.
Dari sela mega-mega.
Dari kota yang rumah.
Warna seperti yang menetap di dalam kepalamu.
Yang masih redam dalam lelap matamu.
Warna seperti yang hidup di dalam hatiku.
Yang selamanya telah rebah di bibirku.
Warna yang tak dapat dijelaskan.
Yang hanya saja kautahu ia ada.
KA Progo Jkt-Yk
27 5 14
Pukul ketika matahari menyerahkan mimpinya kepada pagi
Warna yang seperti jingga.
Atau mungkin nila.
Atau mungkin marun.
Atau mungkin kemuning.
Warna yang penjelasannya tak terpantul cermin.
Tak juga terekam mata.
Tak juga terbias cahaya.
Tak juga terbaca kata.
Warna seperti yang terlukis di langit fajar atau senja.
Dari balik gunung.
Dari sela mega-mega.
Dari kota yang rumah.
Warna seperti yang menetap di dalam kepalamu.
Yang masih redam dalam lelap matamu.
Warna seperti yang hidup di dalam hatiku.
Yang selamanya telah rebah di bibirku.
Warna yang tak dapat dijelaskan.
Yang hanya saja kautahu ia ada.
KA Progo Jkt-Yk
27 5 14
Pukul ketika matahari menyerahkan mimpinya kepada pagi
Selasa, 20 Mei 2014
Sepasang Mata Kabut
Sepasang milikku bernama kenangan
Kerap mencari-cari ikhlas
Dengan menatap sepasang milikmu
yang berwarna ingatan
Dan acap mencari-cari lupa
Sepasang milikku adalah pelaut
Dengan perahu harapan,
mengarungi laut air matamu
Bermimpi menemui sosokku
Di sepasang milikmu
Namun sepasang milikku kehilangan arah
Lalu hilang di dalam kabut sepasang milikmu
Bersama sosokku yang bukan tertutup kabut,
melainkan memang tak pernah ada
Kini sepasang milikku hanyut
Ke danau air matanya sendiri
Dan bercermin di permukaan
Masih mencari-cari sosoknya
Tapi masih tetap tak menemukan apapun
Karena matanya mulai tertutup kabut miliknya sendiri
Jakarta,
19 6 13
00.00
Kerap mencari-cari ikhlas
Dengan menatap sepasang milikmu
yang berwarna ingatan
Dan acap mencari-cari lupa
Sepasang milikku adalah pelaut
Dengan perahu harapan,
mengarungi laut air matamu
Bermimpi menemui sosokku
Di sepasang milikmu
Namun sepasang milikku kehilangan arah
Lalu hilang di dalam kabut sepasang milikmu
Bersama sosokku yang bukan tertutup kabut,
melainkan memang tak pernah ada
Kini sepasang milikku hanyut
Ke danau air matanya sendiri
Dan bercermin di permukaan
Masih mencari-cari sosoknya
Tapi masih tetap tak menemukan apapun
Karena matanya mulai tertutup kabut miliknya sendiri
Jakarta,
19 6 13
00.00
Jumat, 28 Maret 2014
Pantai di Dalam Kepalaku dan Gunung di Dalam Kepalamu
Kita akan hilang.
Bersama-sama.
Kita akan naik di atas atap rumahku,
atau rumahmu.
Berbaring masing-masing.
Bersisian.
Aku dengan pantai di dalam kepalaku.
Kau dengan gunung di dalam kepalamu.
Kita akan bersama-sama mendongengkan hikayat tentang bintang,
untuk satu sama lain.
Sembari bernyanyi.
Sembari menari.
Sembari berpelukan.
Lalu langit akan menurunkan tangannya untuk mengambil kita.
Dalam wujud pohon kacang polong raksasa,
yang tak ada orang dapat melihatnya selain kita.
Dan kita akan mulai memanjatinya.
Sampai tiba di angkasa luas di atas sana.
Tempat di mana tebar bintang bukan lagi sekadar hikayat.
Lalu tangan langit hilang.
Menyusut.
Dan kita tak pernah bisa kembali,
dari tersesat pada kebahagiaan.
Jakarta,
30 12 13
Bersama-sama.
Kita akan naik di atas atap rumahku,
atau rumahmu.
Berbaring masing-masing.
Bersisian.
Aku dengan pantai di dalam kepalaku.
Kau dengan gunung di dalam kepalamu.
Kita akan bersama-sama mendongengkan hikayat tentang bintang,
untuk satu sama lain.
Sembari bernyanyi.
Sembari menari.
Sembari berpelukan.
Lalu langit akan menurunkan tangannya untuk mengambil kita.
Dalam wujud pohon kacang polong raksasa,
yang tak ada orang dapat melihatnya selain kita.
Dan kita akan mulai memanjatinya.
Sampai tiba di angkasa luas di atas sana.
Tempat di mana tebar bintang bukan lagi sekadar hikayat.
Lalu tangan langit hilang.
Menyusut.
Dan kita tak pernah bisa kembali,
dari tersesat pada kebahagiaan.
Jakarta,
30 12 13
Sabtu, 22 Maret 2014
Bintang Terbang
Bintang tidak jatuh di sini, Sayang
Ia tahu persis tak akan ada yang mau menangkapnya
Bahkan langit malam hilang ingatan
Sampai lupa warna diri sendiri
Ia terus membenturkan kepalanya ke tembok petir
Sampai darah keluar melalui hujan
Lalu ia bercermin di wajah tanah
Yang juga terus menangis sesenggukan
Tapi kau harus mengangkat dagumu, Sayang
Mendongakkan kepala menatap wajah langit
Yang hitam dan muram
Akan kau temukan cahaya bergerak pelan sekali
Bukan jatuh, tapi terbang
Ketika itu kau berkenalan dengan harapan
"Kalau tidak ada bintang jatuh,
tetaplah menatap langit
Akan ada pesawat terbang
Cahayanya bergerak lebih lama,
maka kamu bisa melafalkan
doa yang lebih panjang"
Satu dari sekian keluhan tentang Jakarta
Jakarta, 18/6/13, dini hari
Ia tahu persis tak akan ada yang mau menangkapnya
Bahkan langit malam hilang ingatan
Sampai lupa warna diri sendiri
Ia terus membenturkan kepalanya ke tembok petir
Sampai darah keluar melalui hujan
Lalu ia bercermin di wajah tanah
Yang juga terus menangis sesenggukan
Tapi kau harus mengangkat dagumu, Sayang
Mendongakkan kepala menatap wajah langit
Yang hitam dan muram
Akan kau temukan cahaya bergerak pelan sekali
Bukan jatuh, tapi terbang
Ketika itu kau berkenalan dengan harapan
"Kalau tidak ada bintang jatuh,
tetaplah menatap langit
Akan ada pesawat terbang
Cahayanya bergerak lebih lama,
maka kamu bisa melafalkan
doa yang lebih panjang"
Satu dari sekian keluhan tentang Jakarta
Jakarta, 18/6/13, dini hari
Kosong
Gelisah-gelisah serupa kawan lama
Akrab dan terasa tak pernah ke mana-mana
Kelelahan-kelelahan serupa rumah
Berdiri di ujung jalan yang tak pernah habis ditapaki
Cemas-cemas serupa tembok kamar
Yang terakhir ada ketika tak ada lagi apa-apa
Ketiadaan-ketiadaan serupa malam
Muara pencarian setelah sepanjang hari bersinar
Jakarta,
4/10/13
Dua lewat sekian dini hari
Akrab dan terasa tak pernah ke mana-mana
Kelelahan-kelelahan serupa rumah
Berdiri di ujung jalan yang tak pernah habis ditapaki
Cemas-cemas serupa tembok kamar
Yang terakhir ada ketika tak ada lagi apa-apa
Ketiadaan-ketiadaan serupa malam
Muara pencarian setelah sepanjang hari bersinar
Jakarta,
4/10/13
Dua lewat sekian dini hari
Lagi
Malam lagi
Dengan kesepian-kesepian yang sungguh setia berkawan agar perasaannya tak sendirian
Dengan luka-luka yang bersikeras enggan sembuh dan enggan tampak sekaligus
Pulang lagi
Melewati lorong-lorong gelap yang meski riuh, tapi tak sudi berjabat tangan
Melewati suara-suara teriakan dari sudut entah, sudut tergelap di dalam diri
Kesakitan lagi
Ada dosa-dosa yang berkenan dilepaskan ke langit tempat hukuman dijatuhkan
Ada kesalahan-kesalahan yang perlu tumbal untuk dapat dibenarkan
Kematian lagi
Kabar-kabar dari pengantar jasad yang juga hidup menunggu jasadnya diantar
Kabar-kabar yang merayakan dirinya dengan suara-suara rendah kesedihan
Jakarta,
15/5/13
Dengan kesepian-kesepian yang sungguh setia berkawan agar perasaannya tak sendirian
Dengan luka-luka yang bersikeras enggan sembuh dan enggan tampak sekaligus
Pulang lagi
Melewati lorong-lorong gelap yang meski riuh, tapi tak sudi berjabat tangan
Melewati suara-suara teriakan dari sudut entah, sudut tergelap di dalam diri
Kesakitan lagi
Ada dosa-dosa yang berkenan dilepaskan ke langit tempat hukuman dijatuhkan
Ada kesalahan-kesalahan yang perlu tumbal untuk dapat dibenarkan
Kematian lagi
Kabar-kabar dari pengantar jasad yang juga hidup menunggu jasadnya diantar
Kabar-kabar yang merayakan dirinya dengan suara-suara rendah kesedihan
Jakarta,
15/5/13
Jumat, 17 Januari 2014
Yang Mengisahkan Padamu
Ini bukan perjalanan untuk pulang.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan meniti milyaran potongan besi berkarat yang mengisahkan padamu bahwa menuju apa yang kaukira bahagia adalah tidak sederhana, dan tidak lebih sederhana melarikan diri dari apa yang kaukira kesedihan.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menonton gelap dari baris-baris jendela gerbong yang hampir retak dimakan usia, yang mengisahkan padamu bahwa selalu ada satu-dua titik cahaya yang tampak dan cukup mampu menyilaukan, meski terus-menerus berlalu meninggalkanmu atau ditinggalkan olehmu, dan kau tak pernah berhasil membedakannya.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan mengiringi lelap jiwa-jiwa yang lelahnya lebih kosong dari apa yang tubuhmu rasakan, yang mengisahkan padamu bahwa menemukan sesungguhnya tempat berbaring tak pernah mudah, namun kau takkan mati tertidur di kursi kereta hanya karena rumah tak kunjung sampai.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menyambut bentangan jingga di atas hijau yang mengisahkan padamu bahwa pagi akan selalu datang menjemput malam, suka atau tidak suka, serupa orang-orang yang suka atau tidak suka diciptakan dan ditempatkan di dalam hidupmu untuk menjemput sepi, meski serupa satu-dua titik cahaya dalam gelap di luar jendela, mereka akan berlalu.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menemukan setapak demi setapak kejutan yang menuntunmu pada puncak di mana kau mencoba mengeja semesta, yang mengisahkan padamu bahwa hidup tidak terbuat dari jalan raya beraspal dengan deretan lampu jalan yang menenangkan dan sementara.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menyusuri tepian pantai, melantunkan debur ombak dan merayakan cahaya bintang-bintang yang berenang di atas kepala, yang mengisahkan padamu bahwa setiap langkah yang kauambil akan mendekapmu kembali ke titik nol, karena seperti bentang laut dan bentang langit, awal dan akhir hanyalah perkara letak titik di dalam lingkaran.
Suatu dini hari yang sesak di dalam kepala
Dari yang ternyata bukan rumah, ke yang memang bukan rumah
Gaya Baru Malam, Yogyakarta - Jakarta
24 November 2013
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan meniti milyaran potongan besi berkarat yang mengisahkan padamu bahwa menuju apa yang kaukira bahagia adalah tidak sederhana, dan tidak lebih sederhana melarikan diri dari apa yang kaukira kesedihan.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menonton gelap dari baris-baris jendela gerbong yang hampir retak dimakan usia, yang mengisahkan padamu bahwa selalu ada satu-dua titik cahaya yang tampak dan cukup mampu menyilaukan, meski terus-menerus berlalu meninggalkanmu atau ditinggalkan olehmu, dan kau tak pernah berhasil membedakannya.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan mengiringi lelap jiwa-jiwa yang lelahnya lebih kosong dari apa yang tubuhmu rasakan, yang mengisahkan padamu bahwa menemukan sesungguhnya tempat berbaring tak pernah mudah, namun kau takkan mati tertidur di kursi kereta hanya karena rumah tak kunjung sampai.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menyambut bentangan jingga di atas hijau yang mengisahkan padamu bahwa pagi akan selalu datang menjemput malam, suka atau tidak suka, serupa orang-orang yang suka atau tidak suka diciptakan dan ditempatkan di dalam hidupmu untuk menjemput sepi, meski serupa satu-dua titik cahaya dalam gelap di luar jendela, mereka akan berlalu.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menemukan setapak demi setapak kejutan yang menuntunmu pada puncak di mana kau mencoba mengeja semesta, yang mengisahkan padamu bahwa hidup tidak terbuat dari jalan raya beraspal dengan deretan lampu jalan yang menenangkan dan sementara.
Ini perjalanan untuk bernapas.
Perjalanan menyusuri tepian pantai, melantunkan debur ombak dan merayakan cahaya bintang-bintang yang berenang di atas kepala, yang mengisahkan padamu bahwa setiap langkah yang kauambil akan mendekapmu kembali ke titik nol, karena seperti bentang laut dan bentang langit, awal dan akhir hanyalah perkara letak titik di dalam lingkaran.
Suatu dini hari yang sesak di dalam kepala
Dari yang ternyata bukan rumah, ke yang memang bukan rumah
Gaya Baru Malam, Yogyakarta - Jakarta
24 November 2013
Selasa, 07 Januari 2014
Kau dan Galaksi di Dalam Kepalamu
Aku jatuh cinta pada melihatmu,
dan memperhatikan galaksi di dalam kepalamu sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhmu sendiri,
dan rimba raya di puncak malammu sendiri,
dan luar angkasa dalam sorot tatapmu sendiri.
Maka aku dan galaksi di dalam kepalaku sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhku sendiri,
dan rimba raya di puncak malamku sendiri,
begitu ingin bermuara kepadamu,
dan merangkai rasi kita sendiri.
dan memperhatikan galaksi di dalam kepalamu sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhmu sendiri,
dan rimba raya di puncak malammu sendiri,
dan luar angkasa dalam sorot tatapmu sendiri.
Maka aku dan galaksi di dalam kepalaku sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhku sendiri,
dan rimba raya di puncak malamku sendiri,
begitu ingin bermuara kepadamu,
dan merangkai rasi kita sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)