Senin, 02 Juni 2014

Warna yang Tak Dapat Dijelaskan

Ada warna yang tak dapat dijelaskan.

Warna yang seperti jingga.
Atau mungkin nila.
Atau mungkin marun.
Atau mungkin kemuning.

Warna yang penjelasannya tak terpantul cermin.
Tak juga terekam mata.
Tak juga terbias cahaya.
Tak juga terbaca kata.

Warna seperti yang terlukis di langit fajar atau senja.
Dari balik gunung.
Dari sela mega-mega.
Dari kota yang rumah.

Warna seperti yang menetap di dalam kepalamu.
Yang masih redam dalam lelap matamu.

Warna seperti yang hidup di dalam hatiku.
Yang selamanya telah rebah di bibirku.

Warna yang tak dapat dijelaskan.
Yang hanya saja kautahu ia ada.





KA Progo Jkt-Yk
27 5 14
Pukul ketika matahari menyerahkan mimpinya kepada pagi

Selasa, 20 Mei 2014

Sepasang Mata Kabut

Sepasang milikku bernama kenangan
Kerap mencari-cari ikhlas
Dengan menatap sepasang milikmu
yang berwarna ingatan
Dan acap mencari-cari lupa

Sepasang milikku adalah pelaut
Dengan perahu harapan,
mengarungi laut air matamu
Bermimpi menemui sosokku
Di sepasang milikmu

Namun sepasang milikku kehilangan arah
Lalu hilang di dalam kabut sepasang milikmu
Bersama sosokku yang bukan tertutup kabut,
melainkan memang tak pernah ada

Kini sepasang milikku hanyut
Ke danau air matanya sendiri
Dan bercermin di permukaan
Masih mencari-cari sosoknya

Tapi masih tetap tak menemukan apapun
Karena matanya mulai tertutup kabut miliknya sendiri



Jakarta,
19 6 13
00.00

Jumat, 28 Maret 2014

Pantai di Dalam Kepalaku dan Gunung di Dalam Kepalamu

Kita akan hilang.
Bersama-sama.

Kita akan naik di atas atap rumahku,
atau rumahmu.
Berbaring masing-masing.
Bersisian.

Aku dengan pantai di dalam kepalaku.
Kau dengan gunung di dalam kepalamu.

Kita akan bersama-sama mendongengkan hikayat tentang bintang,
untuk satu sama lain.
Sembari bernyanyi.
Sembari menari.
Sembari berpelukan.

Lalu langit akan menurunkan tangannya untuk mengambil kita.
Dalam wujud pohon kacang polong raksasa,
yang tak ada orang dapat melihatnya selain kita.
Dan kita akan mulai memanjatinya.

Sampai tiba di angkasa luas di atas sana.
Tempat di mana tebar bintang bukan lagi sekadar hikayat.

Lalu tangan langit hilang.
Menyusut.
Dan kita tak pernah bisa kembali,
dari tersesat pada kebahagiaan.



Jakarta,
30 12 13

Sabtu, 22 Maret 2014

Bintang Terbang

Bintang tidak jatuh di sini, Sayang
Ia tahu persis tak akan ada yang mau menangkapnya

Bahkan langit malam hilang ingatan

Sampai lupa warna diri sendiri
Ia terus membenturkan kepalanya ke tembok petir
Sampai darah keluar melalui hujan
Lalu ia bercermin di wajah tanah
Yang juga terus menangis sesenggukan

Tapi kau harus mengangkat dagumu, Sayang
Mendongakkan kepala menatap wajah langit
Yang hitam dan muram
Akan kau temukan cahaya bergerak pelan sekali
Bukan jatuh, tapi terbang
Ketika itu kau berkenalan dengan harapan

"Kalau tidak ada bintang jatuh,
tetaplah menatap langit
Akan ada pesawat terbang
Cahayanya bergerak lebih lama,
maka kamu bisa melafalkan
doa yang lebih panjang"



Satu dari sekian keluhan tentang Jakarta
Jakarta, 18/6/13, dini hari

Kosong

Gelisah-gelisah serupa kawan lama
Akrab dan terasa tak pernah ke mana-mana

Kelelahan-kelelahan serupa rumah
Berdiri di ujung jalan yang tak pernah habis ditapaki

Cemas-cemas serupa tembok kamar
Yang terakhir ada ketika tak ada lagi apa-apa

Ketiadaan-ketiadaan serupa malam
Muara pencarian setelah sepanjang hari bersinar



Jakarta,
4/10/13
Dua lewat sekian dini hari

Lagi

Malam lagi
Dengan kesepian-kesepian yang sungguh setia berkawan agar perasaannya tak sendirian
Dengan luka-luka yang bersikeras enggan sembuh dan enggan tampak sekaligus

Pulang lagi
Melewati lorong-lorong gelap yang meski riuh, tapi tak sudi berjabat tangan
Melewati suara-suara teriakan dari sudut entah, sudut tergelap di dalam diri

Kesakitan lagi
Ada dosa-dosa yang berkenan dilepaskan ke langit tempat hukuman dijatuhkan
Ada kesalahan-kesalahan yang perlu tumbal untuk dapat dibenarkan

Kematian lagi
Kabar-kabar dari pengantar jasad yang juga hidup menunggu jasadnya diantar
Kabar-kabar yang merayakan dirinya dengan suara-suara rendah kesedihan



Jakarta,
15/5/13

Jumat, 17 Januari 2014

Yang Mengisahkan Padamu

Ini bukan perjalanan untuk pulang.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan meniti milyaran potongan besi berkarat yang mengisahkan padamu bahwa menuju apa yang kaukira bahagia adalah tidak sederhana, dan tidak lebih sederhana melarikan diri dari apa yang kaukira kesedihan.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan menonton gelap dari baris-baris jendela gerbong yang hampir retak dimakan usia, yang mengisahkan padamu bahwa selalu ada satu-dua titik cahaya yang tampak dan cukup mampu menyilaukan, meski terus-menerus berlalu meninggalkanmu atau ditinggalkan olehmu, dan kau tak pernah berhasil membedakannya.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan mengiringi lelap jiwa-jiwa yang lelahnya lebih kosong dari apa yang tubuhmu rasakan, yang mengisahkan padamu bahwa menemukan sesungguhnya tempat berbaring tak pernah mudah, namun kau takkan mati tertidur di kursi kereta hanya karena rumah tak kunjung sampai.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan menyambut bentangan jingga di atas hijau yang mengisahkan padamu bahwa pagi akan selalu datang menjemput malam, suka atau tidak suka, serupa orang-orang yang suka atau tidak suka diciptakan dan ditempatkan di dalam hidupmu untuk menjemput sepi, meski serupa satu-dua titik cahaya dalam gelap di luar jendela, mereka akan berlalu.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan menemukan setapak demi setapak kejutan yang menuntunmu pada puncak di mana kau mencoba mengeja semesta, yang mengisahkan padamu bahwa hidup tidak terbuat dari jalan raya beraspal dengan deretan lampu jalan yang menenangkan dan sementara.

Ini perjalanan untuk bernapas.

Perjalanan menyusuri tepian pantai, melantunkan debur ombak dan merayakan cahaya bintang-bintang yang berenang di atas kepala, yang mengisahkan padamu bahwa setiap langkah yang kauambil akan mendekapmu kembali ke titik nol, karena seperti bentang laut dan bentang langit, awal dan akhir hanyalah perkara letak titik di dalam lingkaran.



Suatu dini hari yang sesak di dalam kepala
Dari yang ternyata bukan rumah, ke yang memang bukan rumah
Gaya Baru Malam, Yogyakarta - Jakarta
24 November 2013

Selasa, 07 Januari 2014

Kau dan Galaksi di Dalam Kepalamu

Aku jatuh cinta pada melihatmu,
dan memperhatikan galaksi di dalam kepalamu sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhmu sendiri,
dan rimba raya di puncak malammu sendiri,
dan luar angkasa dalam sorot tatapmu sendiri.

Maka aku dan galaksi di dalam kepalaku sendiri,
dan gelembung dunia yang meliputi tubuhku sendiri,
dan rimba raya di puncak malamku sendiri,
begitu ingin bermuara kepadamu,
dan merangkai rasi kita sendiri.

Kamis, 02 Januari 2014

Matahari Terbenam Di Punggungmu Lalu Kembang Api Pecah Di Dadaku

Bintang telah lalai bersinar di langitku sejak malam. Atau sejak aku tak lagi mengenal waktu. Aku lupa. Hanya menorehkan hitam membentang serupa ingatan buruk. Maka aku telah mulai melukiskan sendiri angkasa luas di dalam kepalaku. Lalu menambahkan padanya titik-titik putih yang tak punya cukup nyala dan tak punya cukup nyata.

Hujan telah turun di dalam kepalaku sejak pagi. Atau sejak aku tak lagi mengenal waktu. Aku lupa. Hanya menyisakan genang-genang keruh serupa yang kerap bersarang tertahan di sudut-sudut mata. Maka aku telah mulai menyulam sendiri awan di sepanjang batas pandangku. Lalu mendung dapat terjadi selamanya asal tak ada yang menetes darinya.

Matahari telah hilang dari batas pandangku sejak sore. Atau sejak aku tak lagi mengenal waktu. Aku lupa. Hanya meninggalkan ruang maha luas yang hampa serupa yang terletak di dalam dada. Maka aku telah mulai mewarnai sendiri senja di langitku. Lalu selaksa jingga dapat hadir mengenyangkan cakrawala yang akan melumatnya sampai habis dan gelap.

Tapi bintang baru saja kembali bersinar di ujung bibirmu. Hujan baru saja reda di dalam matamu. Dan matahari baru saja terbenam di lengkung punggungmu. Maka ada kembang api yang pecah di rongga dadaku; bercahaya, hangat dan tiba-tiba.




Jakarta Dini Hari, 1 Januari 2014

Angka yang Hilang dan Tubuh yang Tak Kunjung Pulang

Selaksa bahagia redam
Di relung awan pekat dan bulan temaram
Jejak telapak takdir melekat
Pada dada yang yang sesak dan pikiran yang sesat

Sumbu-sumbu mulai menyala
Meledakkan petasan memori di dalam kepala
Warna-warni pecah
Melupakan bentangan malam gundah

Jarum jam senantiasa bergeming
Mencemooh sepi yang setia mengiring
Riuh doa perlahan merayap
Di sela harapan yang kian senyap

Angka-angka tegas berganti
Mengacuhkan rasa yang ingin kembali
Dan kosong yang butuh terengkuh
Atau ego yang bosan mengeluh

Serpihan cahaya hilang
Dan aku masih dalam perjalanan yang tak kunjung pulang



Malang Dini Hari, 1 Januari 2013