Aku sampai pada satu keputusan besar di dalam hidupku. Aku akan pulang. Ini adalah keputusan besar yang pilihan iya atau tidaknya telah bertarung di dalam diriku selama sekitar sepuluh tahun belakangan. Ini keputusan yang seakan tidak menyediakan bagiku satu pilihanpun, karena bagiku yang ada hanyalah kosong selama belasan tahun. Bagiku, keputusan ini adalah hasil dari usaha kasat mataku selama belasan tahun untuk menyembuhkan traumaku.
Selembar tiket kereta api sudah ada di tanganku sejak seminggu yang lalu. Hari ini aku akan berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Malang. Aku akan pulang. Melakukan rekonstruksi atas definisi rumah bagiku, karena selama belasan tahun belakangan ini, kota tempat lahirku itu hanyalah sebuah nama yang tertera di buku pengetahuan sosial dan tak ada satupun isi informasi lain yang aku miliki tentangnya. Aku memang sengaja melupakannya. Aku menghapus semua hal tentang kota itu dan menolak ingin tahu tentang apapun yang berhubungan dengannya. Aku telah melakukannya sejak kecil. Aku melakukan aksi represi hebat untuk segala informasi tentang kota yang pernah ditempati oleh rumah dan keluarga kecil bahagiaku. Aku terlalu kecil untuk membedakan kenangan dan informasi, tapi aku telah terlanjur jauh melakukannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini. Sudah lama sekali sejak aku menganggap kota itu tidak ada.
Aku memilih keberangkatan jam 9 malam agar aku bisa tiba kira-kira pukul 4 dini hari. Aku tidak mau mengamati apapun di luar jendela, biar hanya hitam dan aku tak punya pilihan. Aku akan membiarkan diriku fokus lebih dalam pada suara-suara yang sesungguhnya membuatku merasa sedang menyayat nadiku sendiri. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya. Suara-suara yang menganyam potongan-potongan memori paling menyakitkan yang pernah kuketahui.
Ini kali pertama aku akan naik kereta lagi setelah belasan tahun yang lalu. Rangkaian kotak-kotak besi itu mengerikan. Bau karatnya selalu mampu menakutiku dan membuatku terbangun penuh peluh oleh mimpi buruk yang bahkan hanya terjadi karena aku membayangkannya, tanpa benar-benar menaiki atau mendekatinya. Keputusan ini memang terlalu besar. Memberanikan diri menaiki alat transportasi paling mengerikan dan menuju tempat paling menyakitkan sekaligus dalam sebuah keputusan adalah hal yang terlalu besar. Semoga aku mampu menahan bebannya.
"Nggak ada yang ketinggalan kan? Kamu hati-hati, ya."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum menenangkan. Aku diantar oleh Rora, kekasihku, dan kalimat kedua dari mulutnya tadi yang berupa pernyataan, sudah dua puluh sembilan kali ia ucapkan sejak aku memberitahukan rencana keberangkatanku tiga hari yang lalu kepadanya. Mungkin hanya kekhawatiran yang berlebihan akan pikiran-pikiran wanitanya. Kali ini, ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk menanyakan berkali-kali keadaanku dan memberi nasehat ini-itu daripada berdandan.
.....
Ketika itu aku hanya anak lelaki berusia 8 tahun. Aku masih tidak cukup mau mengerti tentang mengapa orang tuaku ingin aku pindah sekolah ke Yogyakarta. Segala sesuatu diatur sedemikian rupa, aku akan tinggal bersama pakdhe dan budhe-ku di sana. Katanya aku hanya akan sebentar di Yogya, meskipun tak ada satu orangpun yang berhasil menyampaikan kepadaku tepatnya berapa lama waktu yang akan aku habiskan di sana dan jauh dari rumah serta orang tuaku. Sampai sekarang aku masih tidak paham apa alasan sesungguhnya mereka ingin aku meninggalkan Malang.
Aku hanya mampu mengingat beberapa hal. Ketika itu budhe-ku datang dari Yogya ke Malang untuk menjemputku. Sudah dua hari dia ada di rumahku sebelum pada suatu pagi aku dibawa ke stasiun dengan banyak sekali tas yang aku tidak tahu kapan dan oleh siapa mereka disiapkan. Kereta pagi itu datang dan aku beserta budhe-ku naik ke salah satu gerbongnya. Ayah dan ibuku hanya sempat sebentar memeluk dan menciumku tanpa ada air mata setetespun atau raut muka sedih sedikitpun yang tampak dari wajah mereka. Semuanya biasa saja. Kasih sayang melimpah dari mereka yang setiap hari aku rasakan, masih sama terasa pada pagi hari itu. Tak ada yang aneh.
Aku melambai-lambaikan tangan dari jendela di dalam gerbong kereta. Lambaian itu dibalas hangat oleh orang tuaku. Aku tersenyum. Budhe duduk di sampingku. Katanya, kereta akan sampai di Yogya jam 4 sore. Aku harus bersabar di dalam kereta. Ia juga bilang bahwa aku akan masuk sekolah yang lebih bagus di sana. Ayah dan ibuku akan segera menyusulku. Aku hanya mengangguk-ngangguk mendengarnya.
Tidak sampai tiga jam jam berlalu di dalam kereta, budhe mulai menangis di sampingku. Aku tidak benar-benar tahu mengapa. Sejak kereta mulai bergerak, aku hanya menatap pemandangan alam di luar jendela sambil terkantuk-kantuk. Aku bahkan bisa tidak sadar kalau budhe sempat beranjak dari duduknya di sampingku. Ia langsung memelukku erat dan dengan histeris yang agak ditahan secara paksa, ia membisikkan padaku sesuatu yang membuat isi kepalaku seperti dikeluarkan dari tempatnya beberapa saat sampai aku tidak mampu melakukan apapun.
"Orang tuamu meninggal, Nak. Mereka kecelakaan sepulang dari stasiun untuk mengantarmu barusan."
Tangisnya pecah lagi. Aku hanya melotot dan menganga. Aku tidak mampu memikirkan apapun. Aku hanya merasa seakan organ-organ dalamku tercabut keluar dari rongganya tiba-tiba, dan aku hanyalah rangka tanpa isi sama sekali. Aku melanjutkan kegiatanku memperhatikan pemandangan alam di luar jendela, namun yang terlihat di benakku hanya gambar mobil yang tertabrak oleh mobil lainnya, terbalik, lalu banyak darah yang keluar dari tubuh-tubuh yang ada di dalam mobil itu. Aku tetap diam. Air mataku jatuh beberapa tetes, tapi berhenti setelah itu sampai belasan tahun kemudian.
Kami melanjutkan perjalanan ke Yogya. Selama sisa waktu perjalanan itu, hanya nyeri hebat yang terasa di ulu hatiku. Aku merasa sedih sekali, tapi tak ada yang kulakukan, tidak menangis sekalipun. Aku juga tidak bicara sampai beberapa hari. Suara gesekan antara besi-besi yang berkarat, rem kereta dan gerbong-gerbong yang bertubrukan sepantasnya benar-benar menusuk telingaku dan semakin membuat nyeri ulu hatiku. Aku muntah dan semakin jijik melihat keadaan di dalam gerbong. Meskipun sesungguhnya semuanya normal, gerbong ini terlihat sebagai neraka bagiku.
Malam harinya, budhe dan pakdhe-ku kembali menuju Malang. Aku masih diam di atas tempat tidur sejak tiba di rumah mereka di Yogya. Tatapan mataku kosong. Aku tidak mau ikut ke Malang. Aku tidak mau apapun. Aku tidak mau melakukan apapun, aku tidak mau memikirkan apapun. Akhirnya aku ditinggal di rumah mereka bersama seorang pembantu karena aku meronta hebat ketika dipaksa ikut.
Aku tidak mau lagi menginjak Malang dan menemukan bangunan yang sudah tidak bisa lagi kusebut rumah, sembari mengingat tawa dan peluk dari ayah dan ibuku yang tak akan pernah ada lagi di sepanjang perjalanan sudut manapun kota itu. Aku akan menganggap kota itu tidak ada sama sekali dan aku tidak akan pulang. Aku juga tidak akan lagi naik kereta, mencium bau besi berkarat lalu muntah karena membayangkan darah yang mengalir dari dalam mobil yang terbalik membuat ulu hatiku sakit. Aku bertahan melakukannya sampai aku dewasa.
.....
Sudah pukul 11 malam. Sudah sekitar 2 jam aku duduk manis di dalam kereta. Hanya dudukku yang manis, perasaanku pahit bukan main. Kali pertama aku memaksa diri naik kereta setelah pergulatan batin dengan pengalaman traumatis yang telah aku lakukan belasan tahun belakangan ini, ternyata terlalu berat. Bayangan tentang kenangan di kota yang aku tujupun tak terasa manis sama sekali. Rangkaian memori manis telah dibusukkan kehilangan sampai menjelma pahit.
Sejak kepindahanku ke Yogya dan sekaligus sejak kematian ayah dan ibuku, aku tinggal dengan pakdhe dan budhe-ku. Mereka menyekolahkanku dan memenuhi segala kebutuhan hidupku, dibantu dengan tabungan peninggalan orang tuaku sampai sekarang, ketika aku sudah lulus perguruan tinggi dan mulai bekerja. Tapi tak apa, kali ini tekadku bulat. Aku memang mau pulang. Aku hanya tinggal berharap bahwa definisi pulang yang berani aku beri pada perjalananku kali ini tidak salah.
Ruang dalam gerbong cukup dingin. Baru saja Rora menelepon dan mengulangi pernyataan yang sama lagi agar aku berhati-hati. Dia terdengar sangat khawatir, entah apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakannya.
"Semalam aku mimpi buruk." Katanya.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi, aku menangis sejadi-jadinya di kamar karena kamu pergi. Aku hanya ingat itu. Aku menangis sampai air mataku menggenang semata kaki, dan aku terus saja menangis."
"Sudahlah. Kamu hanya terlalu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja."
.....
Waktu menunjukkan pukul dua malam. Sekitar dua jam lagi aku akan sampai. Udara di dalam gerbong kereta semakin dingin. Udara dingin ini menyerang mulai sekitar satu jam yang lalu. Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Jaket itu sudah merupakan lapisan pakaian keempat yang kupakai jika kaos dan baju hangat sebagai dua lapisan paling dalam turut dihitung. Wujud hembusan napasku semakin tampak jelas seperti asap rokok di dalam ruangan yang dingin ini. Aku seperti ada di dalam sekotak lemari es.
Orang-orang di sekitarku di dalam gerbong yang sama tertidur. Semuanya tertidur. Wajah mereka tampak tenang, seolah tak ada mimpi yang mereka lihat dan membuat raut wajah mereka tampak berbeda-beda. Anak-anak kecil lelap di pelukan orang tuanya. Tak ada tangisan atau rewelan sama sekali. Tak ada juga satupun remaja-remaja yang terjaga dan berbagi cerita cinta mereka yang sedang merekah ataupun layu. Seorang pria dengan ransel besar, celana pendek dan sendal gunung yang tampak sering bepergianpun lenyap dalam lelapnya. Ia tidak sedang berkutat dengan pena dan buku catatan untuk menceritakan perjalanannya. Petugas kereta yang biasanya bolak-balik menawarkan pinjaman bantal tidak lewat sama sekali. Tak ada suara di dalam ruangan ini. Ruangan ini begitu sepi. Sunyi. Senyap.
Sedikit demi sedikit ada yang berubah dengan perasaanku. Perasaan-perasaan pahit dan menyakitkan yang kurasakan sejak aku memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang ini, dan menguat sejak aku naik kereta, tidak lagi terasa. Hatiku perlahan-lahan damai. Tidak ada lagi sedikitpun beban yang terasa menumpang di bahuku. Kepalaku ringan dan aku mampu berpikir dengan jernih. Anehnya, dinginnya ruangan ini tidak menggangguku sama sekali. Ada yang terasa hangat di dalam rongga dadaku. Aku merasa bahagia. Aku merasa aku tak salah mendefinisikan perjalanan ini sebagai pulang, meskipun sebelumnya aku sangat tidak yakin rumah masa kecilku di Malang bisa membuatku merasa pulang tanpa adanya pelukan ayah dan ibuku.
Di luar jendela, hitam yang daritadi pekat dan menjadi satu-satunya pemandangan mulai berubah warna menjadi kelabu. Ada cahaya yang perlahan-lahan menyala dan menyibakkan gelap. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Cahaya itu perlahan-lahan semakin terang dan menyilaukan. Kelabu di luar jendela berubah menjadi putih bersih. Tiba-tiba dari sela pintu-pintu pembatas gerbong, ada air yang mulai masuk. Entah dari mana air itu berasal sedangkan di luar tidak hujan. Air itu terus masuk memenuhi gerbong sampai menggenang semata kaki. Aku menyelupkan jariku ke dalamnya dan mencicipinya. Rasanya asin, seperti air mata.
Kereta ini seperti sedang melintas membelah kabut. Kabut yang dingin dan padat sehingga menyerupai awan. Kereta ini seperti sedang terbang di langit tanpa biru, yang ada hanya kabut putih tebal yang menyilaukan. Orang-orang di dalam gerbong masih saja pulas tak terganggu oleh apapun dengan raut-raut wajah damai. Rongga dadaku semakin hangat. Aku merasa sangat bahagia. Aku menyunggingkan senyum lebar dengan perasaan sangat lega. Aku merasa benar-benar pulang.
Laju kereta melambat. Kereta itu akhirnya berhenti di sebuah stasiun yang semua catnya berwarna putih. Banyak orang ramai menunggu di luar, mungkin ingin menjemput kerabatnya. Mereka semua mengenakan baju berwarna putih. Kereta akhirnya benar-benar berhenti. Dari jendela aku melihat ayah dan ibuku sedang menunggu dengan pakaian yang juga putih. Tangan mereka terbentang di antara senyum hangat, menanti memelukku.
Akhirnya aku benar-benar pulang.
Selasa, 02 Juli 2013
Selasa, 25 Juni 2013
Adakah Di Sini
Adakah di sini, trotoar yang ramah dan mau diajak bicara?
Biasanya aku mampu menuturkan dongeng-dongeng sepanjang belasan kilometer jalan raya, agar lukaku bisa tertidur pulas.
Biasanya aku berdansa di bawah lampu-lampu jalan yang nyalanya redam, seperti bola mata yang aku sembunyikan dengan memejam kelopaknya.
Di sini aku hanya bisa bernyanyi di dalam hati sepanjang jalan pulang, menuju rumah yang tak pernah sampai, dengan betis-betis yang terbalut lelah dan isi kepala yang diselimuti mendung.
Di lorong-lorong yang tak punya cahaya redam sekalipun, aku tak punya bayangan, kecuali sepi dan rindu.
Rindu bahu-bahu tabah yang senantiasa rela menjadi muara air mataku.
Rindu lengan-lengan hangat yang senantiasa mempertahankan kewarasanku.
Adakah di sini, cangkir-cangkir kopi yang sedia berkelahi dengan kabut menjelang subuh, yang mau diajak berteman?
Sementara mencari trotoar yang bersahabat saja sulit, bagaimana mungkin mencari rumah yang lengan-lengannya lapang?
Biasanya aku mampu menuturkan dongeng-dongeng sepanjang belasan kilometer jalan raya, agar lukaku bisa tertidur pulas.
Biasanya aku berdansa di bawah lampu-lampu jalan yang nyalanya redam, seperti bola mata yang aku sembunyikan dengan memejam kelopaknya.
Di sini aku hanya bisa bernyanyi di dalam hati sepanjang jalan pulang, menuju rumah yang tak pernah sampai, dengan betis-betis yang terbalut lelah dan isi kepala yang diselimuti mendung.
Di lorong-lorong yang tak punya cahaya redam sekalipun, aku tak punya bayangan, kecuali sepi dan rindu.
Rindu bahu-bahu tabah yang senantiasa rela menjadi muara air mataku.
Rindu lengan-lengan hangat yang senantiasa mempertahankan kewarasanku.
Adakah di sini, cangkir-cangkir kopi yang sedia berkelahi dengan kabut menjelang subuh, yang mau diajak berteman?
Sementara mencari trotoar yang bersahabat saja sulit, bagaimana mungkin mencari rumah yang lengan-lengannya lapang?
Senin, 24 Juni 2013
Here I Am
"Here I am." Tiga kata yang mampu menjadikan ingat dan menjadikan lupa, atau keduanya sekaligus.
Katakanlah, here I am. Lalu apa? Bagi saya, hadirnya kalimat itu di pikiran saya akan diikuti dengan pembagian dua zona waktu di dalam kepala. Bagian kepala yang menyimpan memori.
Zona waktu pertama yang hadir akan merupakan lupa. Bagian kepala berisi memori saya akan lebih dulu kehilangan kemampuan akses datanya. Lalu saya akan lupa atau lebih tepatnya menolak untuk mengingat secara tidak sadar berbagai ingatan-ingatan yang ada di dalam brankas memori saya. Setelah itu perasaan yang akan muncul pada zona waktu ini adalah perasaan kosong. Apa yang saya lihat adalah bentangan hitam polos yang panjang dengan ujung sebuah titik cahaya putih di mana saya sedang berdiri di sana dalam keadaan hidup saya yang sekarang. Entah apa, bagaimana, mengapa, kapan, siapa, dan pertanyaan apapun yang berkaitan dengan proses tidak akan mampu saya jawab. Saya hanya akan mampu menyadari bahwa seperti inilah saya sekarang, entah bagaimana sejarahnya. Here I am.
Zona waktu kedua yang hadir akan merupakan ingat. Bagian kepala berisi memori saya selanjutnya akan mengembalikan kemampuannya mengakses data ingatan. Lalu saya akan melihat berbagai macam warna dan bentuk di dalam jutaan gambar-gambar yang secara serentak menghampiri benak saya. Gambar-gambar berisi berbagai momen yang pernah terjadi sampai pada detail-detailnya yang paling sederhana sekalipun. Semuanya akan tampak di mata saya dalam waktu yang sangat singkat, sepersekain detik. Setelah itu saya akan mengalirkan air mata untuk membebaskan diri, merendam gambar-gambar yang diputar di dalam kepala agar menjadi kabur dan berkenan untuk berhenti berputar. Pikiran saya akan mulai menanyakan bagaimana bisa saya pernah mengalami hal-hal tersebut. Ya, sekadar menanyakan, bukan menyesali atau mengutuk sama sekali, karena sudah seharusnya seperti itu agar saya bisa sampai di titik ini. Here I am.
Saya menuliskan ini hanya karena akhir-akhir ini kepala saya sedang sering dipenuhi oleh kalimat judul tulisan ini. Saya mampu terus-menerus merasa tidak menyangka akan berada di titik di mana saya berada sekarang ini, meskipun telah berulang-ulang kali mengalami pemikiran yang sama persis.
Hidup memang penuh kejutan. Meskipun sekadar kejutan yang sederhana. Sesederhana bagaimana isi kepalamu berlari sepanjang jalan ingatan dan membangunkanmu di tempatmu berada sekarang.
Kamis, 13 Juni 2013
Lengan Kata di Punggung Diam
Isi kepalamu rimba raya paling senyap,
yang tak mengenal kata-kata
Lolong serigala maupun decit gagak,
terbungkus rapi daun-daun,
yang lambat laun kering dan gugur
Terbawa arus sungai,
yang tak bermuara di bibirmu sama sekali
Punggungmu gigir paling curam,
yang tak membiarkan satu liuk lenganpun selamat
Tidak liuk lingkar paling melata,
serupa lenganku sekalipun
Maka aku jatuh di liang paling diam,
bersama lenganku yang adalah kata-kata,
yang tak bersayap,
dan tak mampu terbang kembali ke bibir jurang
Isi kepalamu rimba raya paling senyap,
yang tak mengenal kata-kata
Lenganku kata-kata yang terjatuh,
di liang jurang paling diam
Tertinggal di suatu ruang
milik bibir-bibir paling diam
dengan kepala-hati paling ramai
Jakarta, 8 Juni 2013 - 19.05
yang tak mengenal kata-kata
Lolong serigala maupun decit gagak,
terbungkus rapi daun-daun,
yang lambat laun kering dan gugur
Terbawa arus sungai,
yang tak bermuara di bibirmu sama sekali
Punggungmu gigir paling curam,
yang tak membiarkan satu liuk lenganpun selamat
Tidak liuk lingkar paling melata,
serupa lenganku sekalipun
Maka aku jatuh di liang paling diam,
bersama lenganku yang adalah kata-kata,
yang tak bersayap,
dan tak mampu terbang kembali ke bibir jurang
Isi kepalamu rimba raya paling senyap,
yang tak mengenal kata-kata
Lenganku kata-kata yang terjatuh,
di liang jurang paling diam
Tertinggal di suatu ruang
milik bibir-bibir paling diam
dengan kepala-hati paling ramai
Jakarta, 8 Juni 2013 - 19.05
Selasa, 11 Juni 2013
Cerita Tentang Sebuah Kota yang Langit Malamnya Jingga
Aku akan menceritakan padamu tentang sebuah kota. Kota itu seukuran sekotak jendela yang besar dari sebuah kamar yang letaknya cukup tinggi. Kota itu seukuran dua buah bola mata yang senang memerhatikannya sepanjang malam.
Kota itu terbentuk dari balok-balok kayu yang berdiri tegak menggapai langit dan sungai-sungai kecil yang menyusur sepanjang jalan-jalan besar sampai setapak-setapak kecil yang kumuh dan gelap. Di dalam balok-balok kayu itu, manusia-manusia tinggal. Seperti rayap, mereka bisa memakan dan menghancurkan balok kayu tempat tinggalnya. Sementara sungai-sungai di kota itu serupa selokan yang ada di kota-kota lain. Hanya saja sungai-sungai itu sungguh dalam. Warnanya hitam. Persis harapan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Dalam dan hitam. Di dasar sungai-sungai itu tertidur lelap banyak sekali binatang yang buruk rupa dan keji. Untungnya, mereka semua tertidur dan tertutup pekat harapan-harapan hitam manusianya.
Kota itu persegi panjang, namun ada lapisan kabut berbentuk bola yang menyelimutinya. Mungkin sama dengan bola udara raksasa yang menyelimuti Atlantis sampai kota itu tetap hidup di dalam samudera. Semacam gelembung sabun raksasa, dan kota itu ada di dalamnya. Lapisan kabut itu membuat langit malam kota tidak berwarna hitam seperti sungai-sungainya, melainkan jingga. Seakan sore hari terjadi lama sekali dalam sehari. Langit malam itu jingga, seakan terbuat dari amarah-amarah manusia penghuninya yang senantiasa kehilangan kesabaran terhadap apapun dan kapanpun dalam kesehariannya. Manusia-manusia yang tak kenal keramahan dan tak mudah diluluhkan hatinya dengan seulas senyum. Langit itu jingga ketika malam, ketika pertahanan diri manusia-manusianya terhadap kegilaan mulai luruh dan beristirahat. Maka ketika itu kewarasan mulai memejam dan amarah meledak dalam diam, lalu menguap ke angkasa.
Langit malam jingga kota itu adalah ibu yang baik untuk melahirkan petir yang menyilaukan. Petir-petir itu serupa teriakan-teriakan manusianya yang tertahan dan terbungkam oleh waktu yang semakin lama semakin kuat meredam suara-suara hati yang seharusnya disampaikan. Ketika petir sudah mulai bermunculan, guntur yang menggema dan menggetarkan kaca-kaca jendela akan segera menyusul hadir. Getarannya serupa jantung yang berdetak terlalu cepat karena kaki-kaki dari tubuh tempat jantung itu bertengger selalu tergesa-gesa melangkah. Seakan ada monster yang mengejarnya dari ramai jalan utama sampai sepi pojok gang yang paling tersembunyi.
Biasanya, hujan akan segera jatuh setelah itu. Warnanya merah dan kental. Mungkin karena memang berasal dari langit berwarna jingga yang menggumpal dan menjadi pekat. Atau mungkin karena berasal dari jiwa-jiwa manusianya yang tertoreh banyak luka. Lukanya sungguh dalam namun tak dapat dilihat. Tak ada darah yang tampak. Mungkin itulah sebabnya hujan di kota itu berwarna merah kental. Itu adalah darah dari luka-luka yang tak tampak dan keluar mengucur melalui langit.
Tapi kota itu masih indah. Ketika hari sudah menjelang subuh, langit akan mulai berubah warna. Dari jingga menjadi ungu muda, halus dan tenteram. Petir, guntur dan hujan berhenti. Kewarasan bangun. Begitu juga manusia-manusianya. Lalu hari berjalan lagi. Manusia-manusia bekerja sepanjang siang, mengumpulkan bahan hujan badai untuk malam harinya. Begitu seterusnya. Hembusan napas merekalah yang menyumbang jingga untuk langit malamnya.
Jumat, 07 Juni 2013
Pemilih
Beberapa isi kepala adalah pemilih
Mereka lebih suka mengantri
Di antara ribuan kendaraan yang tak bergerak
Pada pukul ketika orang-orang bersepatu pantofel begitu merindu kasur
Atau pelukan yang menunggu seharian
Beberapa isi hati adalah pemilih
Mereka lebih suka berpeluh
Oleh udara kota yang enggan bertiup
Yang panasnya membebani langit dan mampu menumpahkan bah
Sampai air mata menggenang semata kaki
Beberapa tubuh adalah pemilih
Mereka lebih suka melarikan diri
Dari genang-remas masa lalu yang pincang dan buruk rupa
Namun kuat berlari mengikuti dan membayangi
Meski peluk jalan dan udaranya hangat dan menyenangkan
Mereka lebih suka mengantri
Di antara ribuan kendaraan yang tak bergerak
Pada pukul ketika orang-orang bersepatu pantofel begitu merindu kasur
Atau pelukan yang menunggu seharian
Beberapa isi hati adalah pemilih
Mereka lebih suka berpeluh
Oleh udara kota yang enggan bertiup
Yang panasnya membebani langit dan mampu menumpahkan bah
Sampai air mata menggenang semata kaki
Beberapa tubuh adalah pemilih
Mereka lebih suka melarikan diri
Dari genang-remas masa lalu yang pincang dan buruk rupa
Namun kuat berlari mengikuti dan membayangi
Meski peluk jalan dan udaranya hangat dan menyenangkan
Senin, 20 Mei 2013
Aku Ingin Menjadikanmu Asing
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus saling bertanya
Tentang buku yang kaubaca dan kutuliskan
Tentang musik yang kudengar dan kaumainkan
Lalu kita akan terus menjatuhkan cinta
Berulang-ulang kali setiap hari
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar matamu senantiasa adalah tamu,
yang kutunggu hadirnya dalam jangkau penglihatanku
Agar punggungmu senantiasa adalah atap,
yang meneduhkan sorot mataku
Agar tak ada lengan-lengan yang terlalu erat memeluk
Dan membuat kita sulit bernapas
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kepalaku penuh dengan keinginan,
untuk mengajakmu bermain di bawah hujan lebat
Agar kepalaku tak malah sibuk membaca awan,
dan mengira-ngira mendung di dalam kepalamu,
banjir di sudut mata-mataku,
atau terik yang membakar kita sampai jadi abu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar aku sibuk menanam bunga di atas ubun-ubun
Lalu sibuk mengkhayalkan masa depan
Tentang bagaimana mereka mekar,
dan bagaimana kita bersama-sama memetiknya
Bukannya mengkhawatirkan suara masa lalu,
yang terus mengingatkan,
bahwa merasa memiliki adalah jalan terdekat,
untuk menjauhkan dua orang yang saling memiliki
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar bisa terus-menerus bertanya-tanya tentangmu
Tanpa pernah cukup tahu apa-apa
Agar tak pernah lengkap menyatukan potongan-potongan kesempurnaanmu
Karena aku takut pada kesempurnaan
Dan selalu memilih untuk melarikan diri
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus duduk di kayu ayunan kita masing-masing
Bergandengan tangan dan menyanyikan satu lagu yang sama
Karena dua akan selamanya lebih baik dari satu,
maka aku tak ingin kita menyatu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar mengingat aroma napasmu,
membuatku menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam
Lalu tersenyum tanpa pernah mau menjadi alasan,
untukmu menghembuskan napas yang panjang dan berat
Agar mendamba tatapmu,
membuatku takkan pernah mau menjadi alasannya meredup
Aku ingin menjadikanmu asing
Karena aku mencintaimu dengan bahagia yang asing
Tidak serupa luka-luka yang akrab
Maka aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus saling bertanya
Tentang buku yang kaubaca dan kutuliskan
Tentang musik yang kudengar dan kaumainkan
Lalu kita akan terus menjatuhkan cinta
Berulang-ulang kali setiap hari
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar matamu senantiasa adalah tamu,
yang kutunggu hadirnya dalam jangkau penglihatanku
Agar punggungmu senantiasa adalah atap,
yang meneduhkan sorot mataku
Agar tak ada lengan-lengan yang terlalu erat memeluk
Dan membuat kita sulit bernapas
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kepalaku penuh dengan keinginan,
untuk mengajakmu bermain di bawah hujan lebat
Agar kepalaku tak malah sibuk membaca awan,
dan mengira-ngira mendung di dalam kepalamu,
banjir di sudut mata-mataku,
atau terik yang membakar kita sampai jadi abu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar aku sibuk menanam bunga di atas ubun-ubun
Lalu sibuk mengkhayalkan masa depan
Tentang bagaimana mereka mekar,
dan bagaimana kita bersama-sama memetiknya
Bukannya mengkhawatirkan suara masa lalu,
yang terus mengingatkan,
bahwa merasa memiliki adalah jalan terdekat,
untuk menjauhkan dua orang yang saling memiliki
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar bisa terus-menerus bertanya-tanya tentangmu
Tanpa pernah cukup tahu apa-apa
Agar tak pernah lengkap menyatukan potongan-potongan kesempurnaanmu
Karena aku takut pada kesempurnaan
Dan selalu memilih untuk melarikan diri
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar kita bisa terus duduk di kayu ayunan kita masing-masing
Bergandengan tangan dan menyanyikan satu lagu yang sama
Karena dua akan selamanya lebih baik dari satu,
maka aku tak ingin kita menyatu
Aku ingin menjadikanmu asing
Agar mengingat aroma napasmu,
membuatku menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam
Lalu tersenyum tanpa pernah mau menjadi alasan,
untukmu menghembuskan napas yang panjang dan berat
Agar mendamba tatapmu,
membuatku takkan pernah mau menjadi alasannya meredup
Aku ingin menjadikanmu asing
Karena aku mencintaimu dengan bahagia yang asing
Tidak serupa luka-luka yang akrab
Maka aku ingin menjadikanmu asing
Sabtu, 11 Mei 2013
Delusi Kehilangan
Duniaku wajar. Ada satu matahari di siang hari yang masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesekali matahari itu tak tampak karena tertutup mendung. Ada satu bulan di malam hari yang masih selalu berdampingan di satu bentangan langit yang sama bersama matahari, setiap fajar dan senja. Bulan itu kadang tak tampak karena tertutup mendung. Kadang bintang-bintang terlalu cantik dan membuat perhatian bumi kepada bulan teralih. Di duniaku, gelombang yang pecah di garis pantai masih putih.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Duniaku homogen. Ia hanya punya satu musim, yaitu musim gugur. Angin sepoi-sepoi berhembus sepanjang tahun. Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tanah dan kursi-kursi taman dipenuhi warna merah bata dan cokelat dari daun-daun yang menyerah bergelantungan di dahan pohon-pohon.
Duniaku sederhana. Isinya tidak ramai, hanya beirsi beberapa orang yang memang adalah segalanya bagiku. Hanya merekalah yang mengisi penglihatanku di segala penjuru kehidupan yang aku miliki. Mereka sering membisikkan hal-hal ajaib yang selalu mampu menuntunku melakukan apa yang aku tidak tahu harus aku lakukan. Suara-suara lembut mereka mengisi seluruh atmosfer dan menjadi energi bagiku untuk melangkah dalam hal apapun itu.
"Tutuplah matamu dan tersenyumlah, karena aku mencintaimu."
Itu kalimat yang sering dibisikkan oleh Lila, salah satu orang yang ada di dalam duniaku. Dia kekasihku. Dialah yang hampir selalu menemaniku. Rambutnya panjang hampir mencapai pinggang. Hitam dan ikal bagian bawahnya. Matanya besar dan bulu matanya lentik sejak ia lahir. Telapak tangannya lembut, namun genggamannya jauh lebih lembut. Di atas semua itu, pelukannya-lah yang paling lembut.
"Teruslah berjalan, Nak. Ibu dan Tissa menunggumu pulang."
Itu suara ibuku yang sering ia perdengarkan di telingaku. Ibu dan adikku, Tissa, adalah dua orang lain yang mengisi duniaku. Dua orang yang mencintaku dengan segala kehidupannya. Dua orang yang lebih aku cintai daripada kehidupanku sendiri. Mereka adalah rumah paling mewah yang akan kujadikan tujuan selamanya, dan jangan tanyakan tentang ayahku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya.
"Melompatlah dalam kebahagiaan. Kami ada di atas sana bersama mimpi-mimpimu dan kami siap menangkapmu."
Itu suara bisikan teman-temanku. Jumlah mereka tak banyak. Kami seringkali berenam. Aku tak perlu menjelaskan nama mereka satu demi satu, karena arti keberadaan mereka lebih dari sekadar nama yang mampu selalu diingat sepanjang hayat. Mereka saudara-saudara tempatku berpulang selama bertahun-tahun terakhir. Mereka pelarian ternyaman dari semua kerumitan hidup yang aku alami. Hampir semua waktuku aku habiskan bersama mereka, bahkan ketika aku sedang bersama Lila.
"Kak, tertawalah. Kami senang bersamamu."
Itu kalimat yang keluar dari bibir-bibir mungil sekelompok anak kecil yang tak mau berhenti bermain. Mereka ada sembilan orang. Semuanya berumur tak lebih dari lima tahun. Mereka tak lelah memamerkan deretan gigi mereka yang belum lengkap dan tak lelah memperebutkan bagian tubuhku untuk dipeluk. Setiap saat aku mendapati kebahagiaan ditodongkan kepadaku oleh mereka.
____________________________________________
Sore ini aku duduk di pinggir jalan raya. Matahari hampir menyerah pada garis cakrawala. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Rasanya sore ini sepi sekali. Tak ada siapapun terlihat olehku. Tidak satupun dari penghuni duniaku. Kendaraan dengan berbagai jumlah roda lalu-lalang di depanku. Ribut sekali suara mesin kendaraan, tapi tak ada satupun bisikan merdu orang-orang terbaikku terdengar di telingaku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Semuanya seakan kosong. Asap knalpot kendaraan-kendaraan itu menyesakkan. Kepalaku terasa agak berat, dan sepertinya sore ini bukan musim gugur. Ini bukan duniaku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berkabut. Ada sekelebat bayangan tentang berbagai macam hal yang bercampur aduk tidak karuan di dalam pikiranku. Aku seperti sedang menonton sebuah film. Rekaman potongan-potongan gambar itu diputar dengan kecepatan tinggi dan membuatku pusing. Namun aku masih bisa melihat dengan baik semua isi gambar yang diputar.
Di film dalam pikiranku itu, aku melihat diriku. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang telah memasuki tahun keempat kuliah. Aku sedang menyelesaikan tugas akhirku. Aku memilih mengisi waktu luang kuliahku dengan mengajar di sebuah PAUD sebagai tenaga bantu. Anak didik yang aku tangani ada sembilan orang dan umur mereka tak lebih dari lima tahun. Aku sangat bahagia menjalaninya.
Di gambar lain dalam film itu, aku melihat Lila, kekasihku. Dia sedang duduk bersamaku, saling menggenggam tangan. Aku juga melihat kelima teman dekatku yang semuanya laki-laki. Kami sedang berkumpul dan berbagi canda seperti bagaimana kami biasa membunuh waktu. Lalu tiba-tiba gambar itu berubah menjadi sebuah kecelakaan hebat. Aku dan kelima temanku beserta Lila sedang di dalam perjalanan liburan. Kami mengendarai mobil ke luar kota. Ketika malam mulai melarut dan jalanan semakin sepi, mobil kami yang melaju entah pada kecepatan berapa itu tiba-tiba kehilangan kendali. Dewa, salah satu temanku yang memegang kemudi tak sadarkan diri. Mobil kami masuk ke sebuah jurang dan mengalami hantaman keras serta terguling hebat. Semua orang di dalam mobil itu meninggal di tempat, kecuali aku.
Di dalam film itu, aku melihat diriku begitu tertekan. Orang-orang terdekatku hilang dari sisiku dalam satu malam yang sama, untuk selamanya. Aku sempat mengurung diri selama sebulan dan tak mau melakukan apapun. Keseharianku hanya diisi dengan mengajar, karena bertemu anak-anak kecil itulah satu-satunya caraku berbahagia dan mengobati diri. Meskipun begitu, ternyata aku tak pernah bisa benar-benar sembuh. Rasanya tak akan ada yang mampu membuatku lebih tertekan lagi.
Ternyata aku salah. Ada yang mampu membuatku lebih tertekan. Di film itu, aku melihat gambar yang lebih menyakitkan. Dalam waktu satu bulan setelah kecelakaan maut yang aku alami, aku mendapat kabar dari kampung halamanku. Bukan kabar dari ibu dan adikku, melainkan kabar tentang ibu dan adikku. Kabar buruk. Aku diberitahu bahwa ibu dan adikku meninggal. Aku segera pulang dengan berderai-derai air mata sepanjang perjalanan. Sampai di rumah aku malah menemukan kabar yang lebih buruk. Kata tetanggaku, semalam rumahmu dibobol maling keji. Ia memperkosa ibuku lalu membunuhnya beserta adikku yang sedang menangis meraung-raung di sampingnya. Mataku sepertinya akan segera mengeluarkan darah. Hati dan pikiranku dipenuhi dendam dan makian. Aku tak mampu mengontrol diriku. Aku mengamuk sejadi-jadinya.
Gambar film selanjutnya yang kulihat adalah diriku sendiri dalam keadaan yang paling menyedihkan. Aku tak mau melakukan apapun sampai mungkin sekitar dua tahun. Kemarahan, kesedihan dan kehilangan terlalu pekat menyelimuti diriku. Aku hanya diam di rumah sendirian dan sebatang kara. Aku sering kehilangan kesadaran karena terlalu banyak melamun dan memaksa berpasrah diri menerima segalanya. Aku tidak sempat lagi memikirkan kuliahku atau apapun tentang diriku. Aku jarang keluar rumah, menyalakan lampu ketika malam, atau bahkan mandi dan makan sekalipun. Aku tidak peduli lagi.
Tiba-tiba suara klakson mobil yang lewat di depanku menyadarkanku dari lamunan-lamunan tentang masa laluku. Film yang berputar cepat di kepalaku itu berhenti. Akhirnya aku melihat Lila datang menujuku dari kejauhan. Ia tersenyum. Namun tubuhku telah diseret paksa beberapa petugas yang membawaku entah ke mana.
____________________________________________
Musim gugur lagi. Bangku-bangku taman dipenuhi daun-daun merah bata atau cokelat yang tak lagi bertahan di dahannya. Aku melihat semua penghuni duniaku ada di sekitarku. Di salah satu sudut halaman, sembilan anak didikku sedang sibuk bermain dan tertawa. Mereka tak pernah berhenti bermain. Di bangku taman di sudut lain halaman, Ibuku dan Tissa sedang mengobrol. Sekali-kali ibu merangkul Tissa dan ia tersenyum bahagia. Di pondokan di sudut halaman yang lain lagi, lima temanku sedang saling berbagi canda dan tawa. Bercengkrama khas sekumpulan laki-laki.
Aku menemukan diriku duduk di atas kursi roda. Padahal tidak ada yang salah dengan kakiku atau anggota tubuh manapun dari diriku. Aku mengenakan pakaian berwarna biru muda polos, sama baju dan celananya. Aku mengenakan sandal seperti sandal hotel. Di belakangku ada Lila. Dia yang mendorong kursi rodaku mengelilingi halaman sore ini. Sesekali dia berhenti, lalu kami tertawa-tawa melihat tingkah orang-orang lain, ibuku, adikku, anak-anak didikku, dan teman-temanku. Ketika dia menghentikan kursi rodaku, dia selalu memelukku dari belakang.
"Mas, ayo diminum dulu obatnya. Sudah waktunya minum obat."
Seorang perempuan lain berseragam terusan selutut warna putih menghampiriku. Seketika duniaku yang musimnya selalu gugur hilang. Orang-orang terbaik penghuni duniaku lenyap dari pandanganku. Aku masih duduk di atas kursi roda dengan pakaian biru muda baju dan celananya. Hari masih sore. Di sekelilingku, aku melihat banyak orang dengan bermacam-macam perilaku yang aneh dan lucu.
Aku lalu meminum obatku.
Pecahan Ego
Ini tentang kita
Dan ego dirimu
Di depanku adalah kaca
Ada aku di salah satu sisinya
Ada kamu di sisi lainnya
Dari sini, aku menatapmu
Dalam dan khidmat
Dari sana, kau bemain hujan
Tak benar tahu tentang adanya aku
Di depanmu adalah cermin
Ada kamu di salah satu sisinya
Ada kamu pula di sisi lainnya
Dari sini, kau menatap dirimu sendiri
Dalam dan khidmat
Dari sana, aku tak pernah ada
Tak benar berwujud
Hanya saja semuanya akan sama-sama pecah
Di titik takdir akhir kita
Dan ego dirimu
Di depanku adalah kaca
Ada aku di salah satu sisinya
Ada kamu di sisi lainnya
Dari sini, aku menatapmu
Dalam dan khidmat
Dari sana, kau bemain hujan
Tak benar tahu tentang adanya aku
Di depanmu adalah cermin
Ada kamu di salah satu sisinya
Ada kamu pula di sisi lainnya
Dari sini, kau menatap dirimu sendiri
Dalam dan khidmat
Dari sana, aku tak pernah ada
Tak benar berwujud
Hanya saja semuanya akan sama-sama pecah
Di titik takdir akhir kita
Di Dalam Surgaku
Di dalam kepalaku
Senja menorehkan merah di rupa langit
Menabur kemilau emas di telapak cakrawala
Kaki-kaki telanjangku menapak gentar
Bertanya-tanya tentang asamu
Akankah ia luruh dan meredup,
selayak senja di surgaku?
Di dalam hatiku
Hujan menggugurkan rinai dari gulung-gulung awan
Menebar percik-percik perak ke muka bumi
Bibir pucatku gigil gemetar
Mengira-ngira tentang matamu
Akankah ia senantiasa menjatuhkan rintiknya,
selayak hujan di atas sini?
Di surgaku yang kerap kau mimpikan
Hingga terjaga dalam geletar
Di dalam surgaku
Aku sering melihatmu bermain badik
Menikam-nikam ingatan
Menyayat-nyayat kenangan
Kaupakaikan sayap di punggung mereka yang telah koyak
Agar mereka terbang
Menyusuri arah hembusan ikhlas
Sementara kau menyongsong senja,
dan menari di bawah kelebat hujan
Agar asamu tak luruh dan meredup,
dan matamu tak menjatuhkan rinainya
Sehingga senyumku merekah
Di dalam surgaku
Senja menorehkan merah di rupa langit
Menabur kemilau emas di telapak cakrawala
Kaki-kaki telanjangku menapak gentar
Bertanya-tanya tentang asamu
Akankah ia luruh dan meredup,
selayak senja di surgaku?
Di dalam hatiku
Hujan menggugurkan rinai dari gulung-gulung awan
Menebar percik-percik perak ke muka bumi
Bibir pucatku gigil gemetar
Mengira-ngira tentang matamu
Akankah ia senantiasa menjatuhkan rintiknya,
selayak hujan di atas sini?
Di surgaku yang kerap kau mimpikan
Hingga terjaga dalam geletar
Di dalam surgaku
Aku sering melihatmu bermain badik
Menikam-nikam ingatan
Menyayat-nyayat kenangan
Kaupakaikan sayap di punggung mereka yang telah koyak
Agar mereka terbang
Menyusuri arah hembusan ikhlas
Sementara kau menyongsong senja,
dan menari di bawah kelebat hujan
Agar asamu tak luruh dan meredup,
dan matamu tak menjatuhkan rinainya
Sehingga senyumku merekah
Di dalam surgaku
Langganan:
Postingan (Atom)



