Kamis, 18 Oktober 2012

Tabungan Waktu Semesta




"Lo di mana?"
"Bentar. Lagi di luar."
"Buruan balik! Gue mau ke tempat lo."
"Ke kontrakan Tito aja sekarang. Bentar lagi gue kelar langsung ke sana."
"Buruan!"

Aku segera mengganti celana pendekku dengan jeans biru tua, mengenakan jaket abu-abu super besar milik salah satu teman dekatku yang aku pindahtangankan secara sepihak, menggulung-gulung rambutku dan mengikatnya seadanya, mengambil sepatu, helm dan kunci motor dan segera melaju ke kontrakan Tito yang tidak begitu jauh dari kosanku. Aku segera melaju tanpa polesan lipstik tipis atau bahkan sekedar lipbalm, tanpa sapuan halus eye shadow dan segaris eye liner yang biasanya melengkung tajam di kelopak mata dan dengan kaos putih over-sized oleh-oleh temanku dari Jepang yang biasa kupakai tidur. Mataku merah dan sembab luar biasa. Sisa sapuan eye shadow dan eye liner sebelumnya masih tiga perempat terhapus dari kelopak mataku dan meninggalkan bekas-bekas hitam halus di sekitar mata. Tubuhku lelah. Aku hanya berharap aku masih mampu mempertahankan keseimbangan sepeda motor yang kukendarai sampai di kontarakan Tito.

Rumah sederhana yang berantakan selayaknya karakteristik hunian para lelaki itu kosong. Entah kemana kelima penghuni rumah dalam satu waktu yang sama seperti ini. Aku mengambil kunci yang biasa disisipkan Tito di tumpukan perabot tak terpakai di sekitar pintu depan. Aku langsung menuju ke kamar Tito, mematikan lampu kamarnya, menyalakan laptop dan speaker-nya, memutar sejumlah lagu dalam sebuah playlist dan merebahkan diriku dengan keras di atas kasur. Mungkin lebih sesuai disebut membanting diriku di atas kasur. Aku terlentang menatap langit-langit kamar dan mulai menangis lagi. Aku haus. Tapi kemudian aku lebih memilih untuk menelan air mata yang mengucur mencapai bibirku dibandingkan harus bangkit ke dapur dan mengambil segelas air.

Jarum pendek jam sebentar lagi sejajar angka satu. Hampir setengah jam di sana dan aku hanya dikelilingi oleh gelap, lusinan lagu patah hati dan air mata. Aku lalu mendengar suara pintu depan dibuka. Aku memang tidak menguncinya lagi setelah masuk. Itu Doni.

"Kenapa lo, hah? Ganggu gue kencan aja."
"Ya ya ya..."
"Dih. Ga percaya lo?"
"Iyalah. Lo kan alergi cewe. Udah mulai gatel-gatel belom nih?"
"Hahahahahaha..."

Tawa itu benar-benar tidak kugubris. Aku langsung menuju pada pokok pebicaraan utama yang membuatku begitu membutuhkan sedikit saja bagian punggung Doni untuk menjagaku dari kejatuhan, seperti biasa.

"Bener Reza selingkuh."

Pernyataanku itu tak juga menghentikan tawanya. Ia malah tertawa semakin keras.

"HAHAHAHAHAHAHA..."
"Don!"
"...iya, iya maafin gue. Lagian, dari lo baru memulai hubungan sama dia udah kita bilang apa. Harus gue ulang-ulang lagi? Lo jawab iya juga males gue. Bosen ngomong ke lo."
"Terus gue harus gimana?"
"You tell me."
"Lepas dari dia?"
"Nah, gitu aja repot lo. Gausah kayak orang susah gitu deh."

Demikianlah aku tiba-tiba sudah untuk kesekian kalinya telah berada di dalam rangkulan paling kokoh yang pernah aku miliki untuk melindungiku. Demikianlah aku untuk pertama kalinya melepas sesosok laki-laki yang telah menjabat sebagai kekasihku selama hampir dua tahun, setelah lebih dari setahun hanya bergelut dengan emosi yang meletup dan hati yang patah lalu diperbaiki kemudian patah lagi dan terus-menerus seperti itu. Demikianlah aku membicarakan sakit hatiku yang mungkin sudah mencapai keseratus kali lebih. Demikianlah aku mulai menarik segaris awal sketsa trauma dan dendam yang dapat terkuak kapanpun tanpa aku mampu mengatasi atau lebih baik lagi mencegahnya.

.....


"PING!!!"
"PING!!!"
"PING!!!"
"Kita mau ke pantai. Siap-siap sekarang. Ini kita udah mau keluar, ke kosan lo nih, jemput lo."
"PING!!!"
"PING!!!"
"PING!!!"

Aku terbangun dengan mata yang teramat sangat berat karena serangan PING!!! BBM barusan. Sebelum tidur tadi aku menangis sejadi-jadinya dan sekarang bagian sekitar mataku tarasa menggemuk tiga kali lipat dari ukuran biasanya. Sebelum tidur yang tidak sampai dua jam itu aku bertemu Reza dan memulai peperangan besar. Aku sebut memulai karena memang tidak ada yang selesai dibereskan bahkan setelah dia beranjak pulang dan aku beranjak kembali ke persembunyianku di balik selimut. Beberapa bercak warna kebiruan tampak di tangan dan kakiku. Itu adalah memar yang mungkin merupakan hasil dari bagaimana aku dengan tanpa sadar mencelakai diriku sendiri selama peperangan itu berlangsung. Terkadang itulah yang terjadi ketika luka-luka yang masih basah di dalam hati mulai bersuara dan menguasai kewarasan yang kumiliki.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat. Aku segera mengganti baju seadanya dan memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas. Bom PING!!! kembali muncul di layar smartphone-ku, tandanya mereka sudah di depan kosku. Aku berlari menuruni tangga, keluar pintu depan, masuk mobil dan langsung mengambil tempat di samping Doni serta menyandarkan kepalaku lunglai di bahunya. Sepanjang perjalanan ke luar kota untuk mengejar matahari terbit yang lebih terang dan diiringi bisikan ombak itu aku tak banyak berbicara meski teman-temanku tak hentinya bercanda dan membuat kegaduhan. Aku masih sangat lelah. Mataku masih sangat perih. Kepala beratku tak lagi kupindahkan dari bahu Doni. Aku hanya sesekali menyunggingkan senyum menanggapi candaan-candaan mereka tentang hal apa saja. Tak banyak yang kuperhatikan selama di perjalanan kecuali pohon-pohon rindang yang mendominasi pinggiran jalan yang kita lewati dan mata Doni yang sesekali tertangkap sedang memandangi wajahku dalam dan heran serta mungkin sedikit kecewa.

Angin kencang khas tepian pantai langsung menerpa wajah kita sesampainya di sana. Seluruh penumpang mobil langsung berhamburan ke luar mobil kegirangan dan segera berjalan menuju tepi pantai. Doni masih berjalan di sisiku sambil membawa alas duduk yang akan digerai di dekat garis pantai.

"Lo abis ketemu Reza kan?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya menunduk semakin rendah menghindari tatapan mata Doni yang entah sedang tajam atau teduh, aku sedang tak mau tahu. Sayangnya, Doni langsung merangkulku.

"...iya."
"Ya udahlah. Gue cuma harap lo bisa berhenti nyiksa diri lo sendiri"
"Gue ga tau. Gue ngerasa marah dan benci banget sama dia. Gue ngerasa harus negeledakin semua itu."
"Lo tau gue juga pernah begitu marah sama orang."
"Gue ngerasa pengen nyiksa dia sampe gue puas."

Air mataku menggantung lagi. Setengah mati ia berusaha mempertahankan diri agar tidak jatuh mengalir. Mataku sudah terlalu lelah malam ini.

"Gue ga suruh lo ilang dari dia. Gue cuma minta lo ga perlu nyiksa diri lo dengan emosi-emosi itu lagi."
"..."
"Semuanya ada di dalam diri lo. Di dalam. Handle that! Lo ga ketemu dia pun kalo diri lo belom ngeberesin isinya sendiri, lo akan selamanya gagal."
"Lo tau gue nyoba."

Hamparan semesta maha agung sudah terpapar di hadapanku. Di pantai, aku rasa langit malam selalu lebih pekat. Bintang-bintang semakin kontras bersinar. Jumlahnya seakan menjadi ribuan kali lipat lebih banyak bertaburan di atas sana. Aku rasa jumlah bintang selalu berbanding lurus dengan tingkat jatuh cinta yang dirasakan orang yang melihatnya. Gulungan ombak yang menyapu bibir garis batas pantai pun tidak mau kalah mempertunjukkan keindahannya. Nyanyian ombak terbang mengisi setiap partikel di udara.

Aku terus menatap ke atas, memandang langit yang aku sendiri tak pernah temukan seindah ini. Bintang yang berserakan seperti pasir di tepian pantai yang direfleksikan ke atas kepala seakan turun menjadi hujan kristal jika lama dipandang. Mungkin itu hanya karena aku tak pernah sejatuhcinta ini. Ya, kepada Doni. Satu-satunya orang yang aku harap bisa selamanya menyelamatkanku dari apapun yang menjahatiku, bahkan jika itu adalah diriku sendiri.

Aku menatapnya yang sedang ikut bernyanyi dengan teman-teman lainnya di sampingku. Cukup lama, sampai akhirnya dia menatapku balik. Tak ada kata yang terucap karena memang seharusnya tidak ada. Namun dalam tatapan itu kita selalu mampu bebicara. Aku percaya dia membaca tulisan di mataku bahwa aku mencintainya. Dia lalu meneggenggam tanganku.

"Mungkin aku memang sebaiknya menunggu sampai lukamu kering terlebih dahulu."

Itulah yang kubaca ada di matanya.

.....


Sudah hampir tiga kali aku dan Doni berputar-putar keliling kota sekedar untuk memutuskan di mana kita akan makan malam. Tak banyak yang terjadi di atas motor itu selain tawa, tawa dan lagi-lagi tawa. Sebuah angkringan di dekat stasiun kereta akhirnya membuat kita berlabuh untuk mengisi perut. Tak banyak pengunjung di sana ketika kita masuk.

"Gue seneng."
"Gue juga."
"Maksud gue, udah berapa lama lo ga bermasalah sama Reza lagi? Ga pernah ngomongin dia lagi."
"Hahahaha... Lo seneng ga gue rusuhin lagi dengan muka sembab busuk gue tengah malem?"
"Ya, semacam itu. Tapi selain daripada itu.....ya pokoknya gue seneng."

Aku hanya tersenyum. Ada yang aneh dari sorot mata yang kita tukar sepersekian detik tadi di ujung percakapan. Ada pesan yang tidak menyenangkan bagiku dan baginya.

"Eh, emang lo udah berapa lama ga ketemu Reza?"
"Eh...hmmm..."

Aku terdiam sekali lagi. Aku baru saja menguras emosiku lagi habis-habisan tadi malam. Doni juga terdiam lama. Tak ada yang mampu kita ucapkan lagi bagi satu sama lain. Dan kembali, sorot mata kita selalu mampu berkomunikasi dengan lebih baik.

"Beberapa luka tidak pernah sembuh, hanya saja berhenti dibicarakan," batinku.
"Kalau begitu aku mungkin harus memperpanjang kontrakku untuk menunggu," balasnya.

.....

So don't go away, say what you say, say that you'll stay forever and a day in the time of my life, 'cause I need more time, 'cause I need more time just to make things right...
(Don't Go Away - Oasis)

Semoga tabungan waktu semesta cukup untuk itu dan kita tidak direnggut keadaan sebelum luka-luka yang ada sempat kering.

.....

Rabu, 17 Oktober 2012

Surat No. 17

Selamat malam.
Bersama sapa ini aku sampaikan pucuk kesekian dari surat-surat yang tak pernah aku kirimkan kepadamu.
Bersama malam ini aku berharap dapat mengingatkanmu tentang bintang-bintang paling terang yang pernah kita tonton bersama di teater tepian pantai.
Bagaimana keadaanmu?
Sudah seharusnya lebih baik dari keadaanku karena kamu biasanya selalu mampu menyelamatkanku dari monster-monster persoalan yang menggerogoti keadaan baikku hanya dengan satu kalimat singkat.
Semalam aku memimpikanmu. Lagi.
Di dalam mimpi itu, kamu akhirnya menyisipkan sepenggal pesan untukku setelah diam yang kita lakoni sekian lama.
Pesan itu singkat. Sesingkat waktu yang kita miliki untuk menyanyikan lagu harapan tentang rasa yang kita endap.
Pesan itu singkat. Sesingkat usaha kita mempersiapkan hati masing-masing untuk menyambut hati satu sama lain sebelum akhirnya perkara lain datang lebih cepat dan mengambil kebersamaan kita bahkan sebelum kita sempat menyicipinya.
Pesan itu singkat. Sesingkat suratku kali ini.
Pesan itu adalah jawaban yang aku dan kamu sama-sama tak menginginkannya; "Berhentilah mencintaiku."
Maka demikianlah aku berusaha berhenti mencintaimu dan berjuang agar tidak akhirnya malah memulai untuk sangat mencintaimu.

Selasa, 09 Oktober 2012

ketika aku dan kamu tak lagi kita

Suatu saat nanti, ketika hidup tak lagi adalah tentang apa dan bagaimana kau melontarkan lelucon, waktu tak lagi sepenuhnya berada di dalam remasan tanganmu, tidur tak lagi serumit mimpi yang kaususun dan siapkan untuk ditemui, idealisme tak lagi utuh termakan realita, malam tak lagi lapang untuk kaunikmati sampai fajar menjelang, tawa tak lagi bisa kaupilih untuk disuarakan sesuka hati, bintang tak lagi tumpah ruah dan jatuh sebagai hujan, serta kebersamaan sekedar menjadi bahan untuk bertahan hidup...

...Kau akan terus merindukanku sebagai tubuh yang pernah mendampingimu melewati suatu masa indah dengan hidup yang penuh lelucon, waktu yang sepenuhnya kita taklukan dengan ujung-ujung jari, tidur yang selalu panjang dan nyenyak setelah lelah memilah mimpi yang ingin kita temui, idealisme yang kita bentuk setinggi langit, malam yang setiap hari secara terjaga kita nikmati, tawa yang mampu terlepas terbang ke atmosfir setiap saat, bintang yang kita kejar sampai ke tepian suara ombak, serta kebersamaan yang kita telan demi kebutuhan batin.

.....


Karena aku juga melakukan hal yang sama. Merindukanmu beserta meja kayu biasa pada suatu malam biasa dengan cangkir-cangkir bekas kopi yang biasa, asbak yang hampir muntah seperti biasa, dan rokok-rokok yang tak sengaja menjadi tidak biasa.

Merindukan.....kita.



Sabtu, 06 Oktober 2012

Adalah Waktu

Adalah waktu yang akan mengganti arah. Berputar ke arah sebaliknya setelah bosan berdetak ke arah yang terus-menerus sama. Berputar ke belakang dan melaju secara terbalik; kanan ke kiri.

Adalah waktu yang akan mengganti arah. Menyuguhkan keadaan dan perkara lainnya yang tetap sama. Menyuguhkan refleksi sekumpulan keadaan yang sama persis dalam dua dimensi masa yang berbeda; masa lalu dan masa kini.

Adalah waktu yang akan mengganti arah. Dengan poros yang masih sama dan tak bergeser sedikitpun. Dengan melewati urutan angka yang masih sama persis beserta pelaku utama yang tak berubah; kamu dan aku.

.....

Jika aku adalah 9, kamu adalah 3 dan cerita tentang kita adalah sebingkai jam dinding, berjanjilah padaku untuk tak bertukar tempat. Kemudian berjanjilah padaku untuk mematahkan jarum jam jika ia mulai berganti arah untuk melewati kita secara terbalik atas nama pembalasan; karma.



Kamis, 27 September 2012

yang kamu lewatkan


kamu suka menunggu pagi bukan?

kamu suka menyaksikan sendiri dengan mata kepalamu matahari dari timur merangkak naik ke singgasana langit.
kamu suka merasakan sendiri dengan pori-pori tubuhmu udara menghangat sehingga kau bisa melepaskan selimutmu.
kamu suka mendengar sendiri dengan daun telingamu jam alarm mulai bersahutan dan toa masjid mengajak bersujud.

mengapa malam ini kamu tertidur?

kamu melewatkan bagaimana cahaya menyilaukan di mataku yang menyorotkan cinta terbit.
kamu melewatkan bagaimana hembusan nafasku yang rindu membelai sekujur permukaan kulitmu.
kamu melewatkan suara lirih yang kubisikkan padamu tentang rasa yang meronta keluar.

.....

kamu akan membiarkanku terjaga seraya terpaku memandangimu yang sedang tenggelam dalam gelombang theta otakmu.
lalu ketika kamu terbangun, aku telah beranjak menjauh dan membiarkanmu sendirian menunggu pagi berikutnya yang mendung dan senyap.
pagi berikutnya tanpa ada matahari yang merangkak naik, udara yang menghangat dan suara-suara riuh pengingat waktu.

Selasa, 25 September 2012

Maukah Kamu?

Adakah tempat lain yang bisa kita huni selain di dalam hatiku, pikiranmu dan tulisan ini?

Maukah kamu berusaha menemukan tempat itu demi mimpiku, perasaanmu atau kita?

Rabu, 19 September 2012

Dua Bingkai Kaca

Kau bersusah-payah menumpu energi besar di tempurung lututmu,
menjaga telapak kakimu agar tak melangkah ke arahku.

Kau bersusah-payah menampung panas suhu tubuh di sudut sikumu,
menghalangi jari-jarimu agar tak menggapai genggaman tanganku dengan hangat.

Kau bersusah-payah menebalkan dinding jantungmu,
melindungi detakmu yang menguat tanpa terkendali agar tak terasa oleh dadaku.

Kau bersusah-payah menciptakan asap tebal dengan rokokmu,
menghadang aroma tubuhku agar tak terhirup hidungmu dan terekam sempurna di kepalamu.

Kau bersusah-payah membasahi segenap lekuk bibirmu,
menyibukkannya agar tak sempat menyunggingkan senyum yang akan membius sadarku.

"Kau selalu menggantung di sudut mataku, tapi kau takkan mampu masuk dan menyelam ke dalamnya." Katamu.

"Kau mengatasnamai sebentuk tatap di dalam mataku, tapi kau takkan mampu mendapatinya." Sambungmu.

Kau bersusah-payah mempertahankan selaksa binar di balik kacamatamu,
membentengi sorotnya agar tak tertangkap olehku sebagai cinta.


Selasa, 11 September 2012

Menyeduh Dua Cangkir Kopi




Dulu, aku hanya butuh dua cangkir kopi diseduh untuk menemani kita menjemput pagi.

.....


Pada malam yang semakin larut, kita menyerahkan diri untuk bersandar di sebuah sofa panjang di ruang tengah rumahku. Ruang tengah mungil di dalam sebuah rumah yang juga mungil, namun dengan sofa besar dan panjang yang selalu mampu membuat kita tenggelam ke dalam kenyamanan. Di depan sofa abu-abu itu, ada sebuah karpet yang sering kamu duduki agar lebih dekat dengan asbak rokok. Di depannya lagi ada sebuah televisi yang lebih sering menonton kita berbagi cerita sampai matahari pagi menjelang mengusir makhluk-makhluk halus penghuni rumah yang mungkin saja ikut mengintip.

Kamu keluar dari dapur, membawa secangkir kopi hitam yang tampaknya malam ini lebih kental dari biasanya. Kesepuluh jarimu membentuk formasi lingkaran sempurna mengelilingi cangkir, menyalurkan kehangatan dari seduhan kopi menuju tubuhmu yang mungkin sedang membeku. Kamu terus meniup-niup permukaan cangkir, memudahkan proses penguapan aroma yang sengaja ingin kamu hirup dalam-dalam wanginya. Kamu lalu bersandar lega di atas sofa, di sampingku yang sudah lebih dulu menyeduh kopi dan duduk memberikan pandangan kosong pada televisi di depanku, lalu meletakkan cangkir kopimu di dekat asbak di atas karpet.

"Tadi Rara sms aku."
"Bilang apa?"
"Minta maaf panjang lebar terus ngajak ketemu."
"Terus gimana ketemuannya?"
"Aku ga ketemu dia. Aku bilang ada bimbingan di rumah pak Doni."
"Oooh."
"..."
"Gimana perasaan kamu?"
"Hahahahahaha..."
"Kenapa ketawa?"
"Kamu selalu tahu pertanyaan-pertanyaan tepat yang membuat orang bisa bercerita dengan lepas. Paling ga ya... Aku."
"Hahahahaha... Ya, lalu bagaimana perasaanmu?"
"Marah. Rasa keselnya muncul lagi. Tapi ya mau bagaimana? Aku bahkan udah ga punya hak buat marah-marah dan menuntut pertanggung jawaban dia atas sakit hatiku kan?"
"Ya sudah. Lupain aja lagi. Seperti biasa."
"Memang begitu."

Aroma kopi panas dari dua buah cangkir hitam polos yang baru saja diseduh dan bahkan belum sempat diminum lebih dari dua teguk sudah mampu membuat kita yang menghirupnya merajut sehelai cerita pertama. Malam akan menjadi panjang, lagi dan lagi. Waktu akan menyerah dari pelariannya, beristirahat mengambil napas sambil berjalan pelan dan membiarkan dua orang sahabat berbagi cerita lebih lama dari yang seharusnya. Akan ada banyak cerita yang meluap malam ini, lagi dan lagi. Gudang kata dalam diri masing-masing kita akan membukakan pintunya dan melepas isinya menuju telinga sampai ruangan gudang itu kosong.

Kamu selalu datang ke rumahku, setiap saat kamu butuh atau aku butuh. Entah apa wujud kebutuhan itu. Kebutuhan akan teman untuk menyediakan kebersamaankah, kebutuhan akan bahu yang bersedia disandarkankah, kebutuhan akan telinga yang mampu menampung kisah-kisah membosankan dan menyakitkan dengan tetap membekap egois mulutkah, atau sekedar kebutuhan akan dua cangkir kopi panas yang kita seduh sendiri-sendiri untuk menemani masing-masing jiwa yang kedinginan sampai matahari lahir esok hari? Kita hanya tahu bahwa seperti inilah kita menggapai cita akan kenyamanan dan kedamaian.

Seperti inilah kita selalu mampu membunuh waktu. Menikamnya dalam-dalam agar tak lagi menghalangi kebersamaan yang begitu kita nikmati. Seperti inilah kita selalu mampu menerbangkan kisah. Menyelipkan sayap di punggung setiap cerita agar mereka berputar di langit-langit ruang tengah ini, mengisi setiap jeda udara yang kita hirup. Kita adalah perenung-perenung yang banyak bicara. Kita selalu diam dan merenungi setiap jengkal kejadian yang kita alami dan bahkan mendramatisirnya. Lalu kita akan berbicara begitu banyak ketika dunia hanya diisi dua manusia yang sibuk menghirup aroma kopi di sebuah sofa abu-abu.

Kamu suka berbicara tentang ibumu yang kesepian setelah ayah yang sedari kecil kamu jadikan panutan pergi seenaknya meninggalkanmu demi sesosok wanita yang lebih semok dari ibumu. Kamu suka berbicara tentang dendam yang tak pernah mampu kamu bakar habis dan hanya berakhir terselip di sela ruang hati karena kejatuhanmu yang pernah disebabkan oleh seorang kekasih yang begitu kamu cintai. Kamu suka berbicara tentang cita-citamu yang selalu menghadirkan kerusuhan antara apa yang senang kamu lakukan dan apa yang kata orang harus kamu lakukan. Aku suka berbicara tentang keluargaku yang tak habis-habisnya berpindah tempat tinggal dan bagaimana aku mendambakan sebuah kampung untukku pulang. Aku suka berbicara tentang lelaki yang tak habis kutumpahi dayaku sampai hampir kosong dan lalu menyerah, namun selalu kembali untuk meminta luka padanya. Aku suka berbicara tentang mimpi-mimpiku yang selalu menjadi kenyataan dalam bentuk yang tidak sempurna.

"Sudah subuh."
"Aku mau ngeluarin sampah ke depan rumah biar diangkut tukang sampah."
"Iya..."

Aku lalu kembali ke ruang tengah setelah membuang sampah dan menemukanmu tertidur di atas karpet dengan gitar yang masih berada di dalam pelukanmu.

.....

Sekarang adalah malam kesekian kita berlari menuju pagi bersama beratus-ratus cerita, berpuluh-puluh batang rokok dan dua gelas kopi yang mengantar. Aku rasa ini sudah malam ke-sekian-ratus kita menjalankan ritual ini. Di dalam ratusan malam yang lenyap ditelan pagi itulah, kita diam-diam menanam benih harapan yang pada akhirnya tumbuh membesar dan memaksa untuk dipetik buahnya. Aku bahkan tak sadar kapan aku mulai senang memperhatikan relief garis yang terbentuk dari bagian depan tengkorakmu, setiap aku mengamati dari samping lekuk wajahmu yang terbaring tenang di atas sofa, karpet atau kasurku.

Di sorot matamu, aku dapati kedalaman perasaanku tenggelam dan tak mampu menyelamatkan diri. Di helai rambutmu, aku dapati lembut belaian mimpi yang kubentuk dengan sempurna menyusurinya. Di lapang bahumu, aku dapati aroma terbaik yang dikeluarkan tubuh manusia mengunciku sampai tak bergerak. Di kedua lenganku, kamu dapati pelukan paling tulus yang selalu berhasil meredam panas di kepalamu. Di basah bibirku, kamu dapati kata-kata yang paling ingin telingamu nikahi. Di sudut senyumanku, kamu dapati tembok empuk untukmu meminta sandaran bagi jiwa lelahmu.

"Besok papa sama mama sampai. Mau ikut jemput?"
"Ga ah. Igo di mana?"
"Ada, dia ikut jemput juga."
"Oh. Lamarannya lusa kan?"
"Iya..."
"Akhirnya kamu behenti jadi pacar tukang nangisnya Igo."
"Ya, mungkin malah jadi istri tukang nangis gara-gara Igo."
"Percaya saja dia memang sudah berubah."

Kamu langsung menarikku masuk ke dalam pelukanmu sambil tersenyum yang kutahu kamu paksakan. Kamu lalu mengusap kepalaku dan mengalirkan hantaran listrik paling kuat yang pernah aku rasakan. Rasanya usapan itu menyetrum langsung di hatiku. Rasanya setruman itu menjalarkan panas di sekujur tubuhku. Rasanya panas itu mendidih di mataku. Rasanya melalui didihan itu kita berbicara.

Air mata tak sanggup lagi aku halangi kejatuhannya. Aku menumpahkan seisi kelenjar di sekitar mata dan kelopak mataku seperti hujan pertama setelah musim kemarau. Aku membasahi dadamu dengan hujan yang pecah setelah sekian lama seakan digantung mendung yang tebal dan angin yang kencang namun tak kunjung turun. Kamu mempererat dekapanmu. Telingaku di dadamu membuatku mendengar langsung detak jantungmu yang mengiramakan kata yang selama ini tak pernah sempat kamu ucapkan. Telingamu di kepalaku membuatmu mendengar langsung serangkaian huruf yang tak pernah mampu kususun rapi dan kukeluarkan dari brankas otakku. Irama jantungmu bersama lirik dari kata di kepalaku ternyata menyanyikan sebuah lagu cinta.

Aku tak pernah paham apa kelemahan dari aroma kopi yang bahkan sebelum diteguk sudah mampu membuat kita menyulam kain panjang cerita tentang apapun. Aku tak pernah mengerti apa kekurangan hangat larutan kaffein yang selalu mampu mencairkan beku yang masing-masing kita miliki. Aku tak pernah mengetahui sudut bagian mana dari gudang kata kita yang  meninggalkan beberapa isinya tersangkut tak keluar meski pintu telah dibuka lebar. Aku tak pernah menyangka kita mampu memendam asa besar yang baru saja mampu kita baca lewat sebentuk komunikasi tak kasat mata.

Dan semuanya telah terlanjur terjadi terlalu jauh untuk kita ubah agar sesuai dengan asa yang kita rajut diam-diam.

.....


Aku duduk di bangku pojok sebuah cafe, memesan secangkir kopi, sendirian menunggu Igo menjemputku. Sore sudah hampir kehilangan cahayanya dan diculik malam. Rintik hujan masih deras di luar sana. Lampu-lampu kendaraan yang mulai dinyalakan di jalan raya membiaskan warna-warni buram di setiap titik-titik air yang menempel terpercik di kaca jendela cafe. Aku meneguk kopi di dalam cangkirku. Hanya sebuah cangkir kopi yang habis terseduh terletak di atas meja. Tidak cukup hangat menjalari lapisan kaca cangkir, juga tidak cukup wangi untuk melayangkan cerita ke seluruh penjuru ruangan. Aku bahkan tak lagi punya cukup kekuatan untuk menyeduh secangkir kopi untukku sendiri.

.....


Sekarang, aku juga butuh kamu lebih dari dua cangkir kopi yang diseduh. Ternyata, dan terlambat.

Kamis, 06 September 2012

sajak-sajak dari malam yang berair

ketika tubuhku sudah sebagian mati terinjak botol kaca yang hampir pecah, akankah kau memungut sebagian yang masih berdetak agar tak sampai berdarah tersayat belingnya?
_____________

cuka yang sedang kumakan ini tak cukup asam untuk menuang perih bagi luka yang sudah lama terbengkalai, jika saja kau masih mampu membiarkanku mengecap manis dari aroma bahumu yang mendekapku.
_____________

bukankah kamu tak pernah membiarkanku mabuk? jangan biarkan aku terlalu banyak meneguk pahit lagu-lagu patah hati yang kau nyanyikan karena isi perutku sedang tak bisa kumuntahkan.
_____________

kamu tahu telingaku tak sanggup. aku terhimpit berat suaramu yang meneriakkan sajak-sajak kehilangan dengan nada-nada minor yang kau hembuskan lirih di tengkuk leherku.
_____________

mataku tak lagi mampu berair. sudah terlalu banyak air yang kutelan malam ini. ada asa kecil agar kau mampu menyeka asa besarku terhadapmu atau jika saja air mata itu akhirnya menyerah jatuh.
_____________

aku butuh tatapan matamu sekarang juga tertembak langsung ke dalam mataku tajam dan dalam, sehingga menarikku dari tatapanku yang akan segera menyandingkan sorotnya di mata orang lain.
_____________

jangan biarkan lengan itu merenggutku yang sedang tak sadarkan diri. aku masih berlari ke arahmu, berharap punggungmu mengisi segenap sadarku bersama sisa tubuhmu yang lain.
_____________

masih bayangmu yang membara, bertransformasi ke dalam asap-asap pekat menjadi dirimu yang sempurna. jangan biarkan terbakar habis menjadi abu yang berserakan di tepi rindu.
_____________

Selasa, 04 September 2012

Rintik Hitam


Sayang,
Dini hari telah menghisap habis sinar merah yang menyala dari dalam diriku.
Di antara bintang dan bulan, aku terhimpit sebagai hitam yang membentang di angkasa.
Bahkan jingga pagi yang menghangat sekarang mampu membakarku sampai hampir menjadi abu.
Tanganku tak lagi cukup panjang untuk menggapaimu.
Kakiku sudah keram untuk berjalan menghampirimu.
Tubuhku terlalu lelah untuk memelukmu.
Andai ada selimut yang bisa kau rapatkan ke tubuhku karena aku telah dilumat malam.
Aku telah dicerna gelap karena asaku padamu yang menajam sepanjang malam.

Sayang,
Awan kelabu yang semakin pekat telah menghapus warna-warni dalam auraku.
Di antara rintik yang menerjang, aku tergeletak di tanah yang basah bermandikan lumpur.
Bahkan air yang tergenang tipis di permukaan bumi sekarang mampu menenggelamkanku.
Ada serpihan hati berserakan yang harus lebih dulu kubersihkan sendirian.
Ada bekas-bekas sayatan pisau yang harus lebih dulu kuobati sendirian.
Ada coretan-coretan yang harus lebih dulu kuwarnai polos sendirian.
Andai ada payung yang bisa kau sediakan sebagai atap untukku atau sekedar pelukan bagi kuyup tubuhku.
Karena dingin ini telah merasuk masuk bersama mimpiku membelai rambutmu.