Kamis, 30 Agustus 2012

hujan, fajar, dan surat untuk mimpi


"It goes to show, i hope that you know that you are what my dreams are made of..."
-Sleeping With Sirens

Kamu tahu tidak? Kamu memang adalah sebentuk mimpi yang paling kompleks yang pernah aku ciptakan. Kamu memang adalah sebingkai mimpi yang aku susun dari potongan-potongan harapan, keinginan dan kebutuhan yang dengan sungguh aku miliki.

.....

Sudah semalaman aku duduk di balik jendela kamarku. Langit malam yang gelap semakin hitam karena hujan gerimis yang turun. Dengan begitu aku semakin merindukanmu. Aku melihat penggalan-penggalan gambar kebersamaan kita di hari terakhir sebelum masing-masing dari kita menanggalkan kaki pergi dari kota yang mesra itu. Aku ingat dengan detil raut wajahmu ketika kamu menyandarkan pipimu mesra di bahuku saat kita berbaring di kasur yang sama. Aku ingat dengan detil ritme nafasmu ketika kamu tertidur pulas di sampingku. Aku ingat dengan detil sorot matamu yang jarang terlihat begitu lembut di hari  dimana kamu dengan baik hati meruntuhkan paling tidak setengah tembok dirimu di hadapanku.

Kamu mungkin tahu, sejak dulu, aku selalu tak mampu mendefinisikanmu. Kamu pasti menjadikannya sebuah bahan lelucon kalau aku bilang aku menyukaimu. Kamu pasti tidak tertarik jika aku bilang aku menyayangimu karena kita toh telah bersahabat sekian lama dan sudah pasti saling menyayangi. Kamu pasti belum punya cukup keberanian untuk mempercayaiku kalau aku bilang aku mencintaimu. Tapi yang paling tidak harus kamu dekap dalam otak dan hatimu dengan baik adalah bahwa aku membutuhkanmu, karena itu hal yang paling benar yang aku yakini.

Aku membutuhkanmu. Dini hari ini hujan deras bergantian dengan gerimis halus tak henti-hentinya mengiringi malam dan aku mengerti aku membutuhkanmu untuk memayungiku. Jika kamu juga tak punya payung, aku membutuhkanmu untuk berbasah-kuyup bersamaku dan menggenggam tanganku erat di bawah langit yang sedang muntah-muntah itu. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang benar yang dapat menyudahi semua keputusan-keputusan kecil yang pernah kubuat dan mengarahkanku ke berbagai kesalahan besar. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang tepat yang terkena panah dewi cinta dan menghapus bekas-bekas panah lainnya yang selama ini hanya meleset dan tidak menancap sempurna. Aku membutuhkanmu untuk menjadi yang sederhana dan mengakhiri perkara-perkara berlebihan yang selama ini kulakoni.

Ada sebuah puisi rekayasa yang aku buat karena teringat akan sebuah puisi lawas yang mungkin juga sering kamu dengar ketika pelajaran Bahasa Indonesia dulu di bangku sekolah. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti puisi yang tak sempat dibacakan awan kepada hujan yang menjadikannya tergenang. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti nada yang tak sempat dinyanyikan malam kepada fajar yang menjadikannya terang. Kamu ingin tahu kenapa puisi itu berbicara tentang hujan dan subuh? Karena bayanganmu di sisiku tampak begitu jelas ketika hujan turun dan pagi menjelang.

.....

Sudah semalaman aku duduk di balik jendela kamarku. Sebentar lagi matahari akan menampakkan diri meski di balik awan tebal yang semakin berat. Aku selalu merasa kita mulai saling menggenggam tangan satu sama lain ketika senja dan mulai saling memeluk tubuh satu sama lain ketika fajar, dan untuk itu aku mencintaimu sepanjang malam.

.....

Awan pecah lagi, sayang. Dan kamu berhamburan ke mana-mana.



Selasa, 07 Agustus 2012

Kereta Lilin



Aku duduk diam menopang dagu di sebuah kursi deret ketiga lajur bagian kanan di dalam gerbong kelima sebuah kereta. Pandanganku menerawang ke luar jendela menyaksikan gambar-gambar yang diputar dengan kecepatan yang terlalu tinggi yang tak benar-benar kuamati. Pikiranku melayang begitu jauh, lebih jauh dari jarak perjalanan yang telah kutempuh dengan kereta ini.

Sudah semalaman aku duduk di dalam gerbong ini. Sesekali aku berdiri dan menuju ke kamar kecil atau ke bagian sambungan antargerbong, menghisap rokok atau sekedar pindah tempat untuk melamun. Kereta ini akan membawaku menuju Yogyakarta. Kota yang sangat sesak dipenuhi memori-memori tentang tahun-tahun terbaik yang pernah kumiliki ketika aku tinggal dan menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi di sana. Kota yang telah mempertemukanku dengan saudara-saudara terbaik yang selalu siap menjadi tembok penopang diriku.

Malam ini, genap tiga tahun setelah aku meninggalkan kota ramah itu dan menetap di Jakarta demi pundi-pundi yang harus aku timbun demi seorang wanita hebat yang akan membangun kerajaan kecil bersamaku yang aku sendiri belum tahu siapa dia. Malam ini ulang tahunku. Tiga tahun lalu, ketika aku baru saja menyelesaikan studi yang telah kutempuh selama empat tahun, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup menjanjikan masa depanku di Jakarta. Tepat saat ulang tahunku juga, aku menumpangi sebuah kereta yang membawaku pergi dari Yogya.

Kereta, Yogya dan ulang tahunku sepertinya sudah menjadi suatu komposisi pas yang harus terus kukonsumsi setiap tahun. Ada satu lagi kehilangan, kepergian atau sekedar perubahan, entah apalah hal itu biasa disebut, yang juga kualami yang berkaitan dengan tiga komposisi di atas. Satu-satunya wanita yang masih menguasai hatiku sejak sekitar sembilan tahun yang lalu resmi meninggalkanku ketika berada di dalam kereta setelah liburannya di Yogya. Dia resmi melepas pelukannya dari tubuhku dan berlabuh ke dalam pelukan lelaki lain tepat saat ulang tahunku.

.....

Pikiranku terus terbang jauh sampai akhirnya tiba pada sebuah masa. Pada sebuah waktu yang terisi akan sebuah kejadian yang terus kuingat dengan detil. Aku sampai pada hidupku enam tahun yang lalu. Ketika itu aku telah memasuki tahun ketiga hubunganku dengan Hesti. Saat itu masih tahun pertama aku menetap di Yogya sebagai mahasiswa, yang berarti aku telah menjalin hubungan dengannya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Bekasi.

Hesti adalah salah satu siswi populer di sekolah yang banyak dikejar oleh laki-laki. Sedangkan aku, seorang siswa biasa dan tidak populer yang terlalu cuek dan tidak peduli pada apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Sampai pada suatu hari sahabatku, Vino yang sekelas dengan Hesti, menangkap Hesti yang sedang heboh menceritakan tentang ketertarikannya padaku di hadapan teman-temannya dan kemudian memberitahukannya padaku. Dari situlah aku mulai mengikis ketidakpedulianku dan mendekati Hesti.

Semuanya baik-baik saja aku rasa, sampai pada waktunya, jarak harus memberi sebuah pemberitahuan akan adanya bahaya dalam cerita indah yang telah kita tulis bersama. Aku memutuskan melanjutkan kuliah di Jogja, sedangkan Hesti di Bandung. Memang benar, pada akhirnya cinta saja tidak cukup. Banyak hal lain yang perlu hadir dalam porsinya yang seimbang dan proporsional agar sebuah hubungan dapat berjalan dengan baik.

"Ada kakak angkatanku di kampus yang deketin aku."
"Siapa?"
"Namanya Rino."
"Terus?"
"Dia suka ngajak aku makan di luar atau jalan-jalan nonton gitu tapi aku ga mau terus."
"Udah sejak kapan?"
"Dua mingguan."
"Hmmm..."
"Paling kalo ketemu di kantin aja biasanya terus makan bareng."
"Iya yaudah. Kamu jadi pergi cari buku?"
"Iya nih, Dino udah jemput."
"Yaudah ati-ati ya."
"Iya, aku sayang kamu."
"Aku juga."

Paling tidak dia jujur. Dia selalu jujur, dan untuk itu aku selalu menghargainya dan semakin mencintainya. Percakapan lewat pesan singkat itu berkahir setelah dia pergi dengan Dino, yang aku kenal sebagai teman laki-laki terdekatnya di antara teman-temannya yang lain yang sering bersamanya. Sering aku merasa khawatir. Aku tahu, kadang rasa yang kuat sekalipun dapat dikalahkan oleh kebersamaan yang intens. Dan untuk itu aku sudah kalah dari Rino maupun Dino.

Teori-teoriku tentang hubungan kutemui benar. Belakangan ini hubunganku merenggang dengan Hesti. Banyak pertengkaran-pertengkaran kecil yang lebih sering berakhir besar menemani kita. Dia memang sudah tidak lagi didekati oleh Rino, tapi selalu saja ada hal tidak penting yang bisa menjadi pemicu perang. Aku mulai lelah. Aku tahu dia juga. Dia menjadi lebih fokus dengan teman-temannya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk break demi memberi waktu bagi diri masing-masing agar dapat memperbaiki diri.

Beberapa minggu setelah keputusan untuk mengistirahatkan hati kita ambil, Hesti menghubungiku.

"Aku mau ke Yogya."
"Kapan?"
"Jumat ini. Rame-rame sama temen-temenku."
"Sampai hari apa di sini?"
"Sampai ulang tahun kamu."
"Iya, nanti kalian kujemput ama kucariin penginapan."
"Makasih ya."

Aku tersenyum di dalam hati. Aku pikir Hesti masih sangat mempedulikanku sampai ingin berlibur ke Yogya dan mengambil kesempatan ketika hari ulang tahunku. Ya, hari minggu ini aku ulang tahun dan Hesti, walaupun dengan teman-temannya, akan datang hari jumat. Sekilas aku merasa penasaran akankah ada Dino di antara gerombolan teman-temannya itu. Entah mengapa, kali ini aku merasa tidak suka.

Aku mendapati pikiran-pikiranku yang menyenangkan itu ternyata salah. Aku hanya sempat bertemu dengan Hesti saat menjemput mereka di stasiun dan mengantarkan mereka ke penginapan. Dia terus bersama teman-temannya dan menolak setiap ajakanku untuk bertemu dengan alasan tidak enak hati jika harus memisahkan diri dari teman-temannya. Aku masih tenang dan mengharapkan dia akan meluangkan waktunya pada hari ulang tahunku. Perasaanku sebelumnya bahwa aku senang Hesti datang ke Yogya semakin salah ketika mereka ternyata memutuskan untuk kembali ke Bandung hari minggu, tepat saat ulang tahunku.

Entah apa yang harus aku rasakan dan kupikirkan. Hanya kepasrahan dan kerelaan yang setengah mati aku bentuk yang menyelimuti perasaanku. Dalam perjalanan pulangnya ke Bandung di dalam kereta, Hesti meneleponku.

"Selamat ulang tahun ya."
"Iya, terima kasih."
"Semoga panjang umur dan semakin baik."
"Amin."
"Oh iya, ini Dino mau bicara."

Aku terdiam. Rasanya was-was. Aku menangkap ada hal buruk yang akan terjadi setelah ini.

"Halo."
"Eh iya, halo."
"Dim, ini Dino."
"Iya, No. Gimana?"
"Selamat ulang tahun ya, Dim. Panjang umur sehat selalu."
"Amin. Makasih ya, No."
"Oh iya, gue pengen ngomong jujur sama lo."
"Ngomong jujur? Ada apaan sih?"
"Sebenernya gue deket sama Hesti. Gue tempat dia ngadu semuanya. Masalah dia sama lo, sama cowo lain yang deketin dia, atau masalah sama temennya dan yang lain-lain lah pokoknya."
"Iya, makasih udah ada buat Hesti. Lo kan emang temen deket dia."
"Nah untuk itu gue mau jujur."
"Hm..."
"Kedekatan gue sama Hesti udah mengarah ke hal lain. Gue sayang sama dia bukan cuma sebagai teman dan gue tau dia sayang sama gue..."
"..."
"...dan kita udah jadian."
"....."

Aku hanya diam dan langsung menutup telepon. Belum pernah aku menyaksikan cerita lain yang lebih tragis dengan klimaks cerita sedemikian menyedihkan. Aku tidak bisa memikirkan dan merasakan apa-apa.

.....

Sudah enam tahun sejak satu-satunya wanita yang masih menguasai hatiku sejak sekitar sembilan tahun yang lalu resmi meninggalkanku. Resmi melepas pelukannya dari tubuhku dan berlabuh ke dalam pelukan lelaki lain. Sejak ia meninggalkanku, belum ada perempuan lain yang bisa dengan sempurna duduk di singgasana hatiku. Sisa-sisa tahunku di kampus kuhabiskan dengan menjalin berbagai hubungan singkat dan tidak berkualitas dengan berbagai macam wanita. Setiap saat menjelang ulang tahunku, aku merasa ada kebencian yang menyusupi aliran darahku. Tiga tahun terkahir selama empat tahun aku berkuliah di Yogya, aku begitu membenci hari ulang tahunku.

Kini setelah tiga tahun aku meninggalkan Yogya, aku justru selalu mengambil cuti di hari ulang tahunku. Kalau tidak bisa, aku akan bolos kantor. Hari libur setiap ulang tahunku itu pasti kugunakan untuk menaiki kereta menuju Yogya dan kembali lagi ke Jakarta. Sudah tiga tahun belakangan ini aku sengaja menyeduh kenanganku sendiri di dalam kereta menuju atau dari Yogya, tepat saat hari ulang tahunku. Aku merasa memiliki kebutuhan untuk meneguk kenanganku sendiri sedikit demi sedikit sampai gelas memori itu kosong. Aku suka menyeduh kenanganku itu sampai kental dan pekat.

Tiga tahun belakangan ini aku merayakan ulang tahunku bersama kenangan-kenangan terbaik yang pernah aku miliki, sekaligus bersama kenangan-kenangan paling menyedihkan yang pernah aku alami. Entah kenapa aku sengaja melakukan ritual ini setiap tahun. Aku tahu ini menyikasku, tapi aku juga membutuhkannya untuk menenangkanku dan menghilangkan dahagaku akan sosok Hesti yang telah hilang sekian lama.

Sudah tiga tahun ini aku merayakan ulang tahunku di kereta. Sudah tiga tahun aku menyalakan lilin ulang tahun di dalam kereta. Lilin itu tidak pernah kutiup. Lilin itu berisi kenangan-kenangan yang paling mempengaruhi keseluruhan hidupku. Lilin itu dibuat dari tumpukan momen-momen yang paling berarti di dalam hidupku. Lilin itu kubakar sesaat setelah aku naik di kereta, lalu membiarkannya sampai kereta berhenti di tempat yang kutuju. Lilin itu tidak kutiup, hanya kunikmati aroma api yang membakar kenanganku sampai meleleh habis.

Sayangnya, aku ketergantungan dengan aroma itu.

.....

Senin, 06 Agustus 2012

I have a story you don't want to hear; I love you.

aku tidak kapok, Tuhan.

"Tuhan, aku menyerah.
Di mana 'yang terbaik' yang aku mohonkan
pada-Mu dua tahun belakangan ini?"

Kalimat itu sudah pernah menggantung beratus-ratus kali di kepalaku, di pangkal pikiranku. Beratus-ratus kali juga aku mampu mengelabuinya, pikiranku itu.

Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus-menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, dan bahkan sampai saat ini, saat ketika masa yang kumaksud di atas sepertinya telah menemui akhirnya, aku masih tidak tahu apakah telah yang terbaik yang kudapatkan.


Aku pernah berada pada suatu masa dimana aku terus menerus memohon pada Tuhan untuk memberikan bagiku yang terbaik, sampai aku berkali-kali hampir sampai pada suatu titik dimana aku tidak lagi memiliki minat untuk meminta pertolongan melalui doa karena aku tidak merasakan ada apa-apa yang menjadi lebih baik.


Tapi aku tidak kapok. Sekali lagi Tuhan, aku mohonkan yang terbaik untuk-Mu berikan kepadaku. Aku mohon.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Tentang Telah Habis Waktu


here i am waiting
i'll have to leave soon
why am i holding on
we knew this day would come
we knew it all along
how did it come so fast
this is our last night but it's late
and i'm trying not to sleep
cause i know when i wake
i will have to slip away

Tak banyak hal besar yang kusadari telah terjadi sampai satu hal kecil menunjukkan diri dan menyampaikan pesan bahwa hal-hal besar itu tak akan lagi terjadi setelah ini. Aku tersadar dari lamunanku dan kemudian menatap kursi kosong di depanku. Lama. Aku melihat sekilas tubuh kurus tinggimu yang menggunakan sweater hitam dengan hoodie yang selalu mampu membuatku setengah mati menahan histeris atas ketertarikanku padamu sedang duduk di hadapanku. Sekilas di antara bayanganmu itu aku mendengar tawa-tawa ringan sampai lepas yang kamu tampakkan setiap kita sedang sibuk berbagai cerita.

Aku melihatmu sedang makan dengan lahap dan sesekali mencuri kesempatan mengambil makananku lalu kemudian tertawa-tawa puas melihat aku yang marah-marah. Aku melihatmu duduk di hadapanku menemaniku makan malam ini. Aku membakar sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Sesekali aku melihat jari-jarimu yang juga sedang mengapit sebatang rokok bertemu dengan jari-jariku ketika kita membuang abu rokok pada satu asbak pada saat bersamaan. Aku rindu bagaimana kita berbagi rokok lalu kembali bercerita sampai matahari ataupun bulan tak mampu lagi kita bedakan.

.....

"Lusa aku pulang."
"Iya. Kapan balik ke sini lagi?"
"Belum pasti. Mungkin ga balik lagi kalau papa mama suruh tinggal."
"Oh. Salam ya nanti buat papa sama mama."

Memang benar tak ada yang abadi. Aku telah meyakini bahwa semua kebersamaan akan ada batasnya. Aku paham bahwa segala sesutau akan berubah, bahkan diriku sendiri. Sejak awal kebersamaan ini kujalani, aku sudah memulai perhitungan mundurku. Perhitungan mundur yang beberapa bulan belakangan semakin nyaring menyuarakan detik-detik berkurangnya waktuku dan dia. Aku lalu bersikeras memanfaatkan waktu yang kumiliki untuk bersama dengannya. Sengaja memanfaatkan waktu sejak detik pertama aku tahu aku punya kesempatan untuk melakukan segala hal baik yang mampu aku lakukan untuknya.

Aku hanya tak paham bahwa semuanya harus menjadi seberat ini. Aku merasa telah menyiapkan diri dengan semua peralatan secanggih mungkin untuk membentuk tameng bagi hatiku. Aku merasa telah memahami di luar kepala skenario yang akan terjadi. Aku hanya tak paham mengapa aku masih harus merasa keberatan menjalani skenario itu. Aku merasa telah memaksimalkan waktu yang aku miliki untuk memeluknya dan berada di dalam pelukannya. Aku hanya tak paham mengapa pelukan-pelukan itu masih saja tak cukup.


here i am staring
at your perfection
in my arms so beautiful
the sky is getting back
the stars are burning out
somebody slow it down
this is way too hard cause i know
when the sun comes up i will leave
this is my last glance
that will soon be memory

.....

Sepanjang hari itu langit begitu ramah dan bersahaja. Sama seperti kota ini. Kota yang akan membuat siapapun tergoda untuk tidak mau lagi melepaskan diri darinya. Kota yang pada akhirnya hanya bisa membuatnya tak bisa melepaskan sebatas memori, karena ia pada akhirnya harus tetap pergi.

"Mau kemana lagi kita?"
"Terserah."
"Kamu maunya kemana?"
"Terserah. Asal ga usah pulang."
"Kan kamu besok pagi..."
"Besok pagi langsung berangkat belum tidur juga ga apa-apa."

Potongan-potongan senyumnya terus-menerus kumainkan di kepalaku. Kemudian aku menonton adegan ketika ia merangkul bahuku sepanjang jalan selama seharian kita menghabiskan sisa-sisa menit yang tertinggal. Hari itu ia memakai sendal jepit seperti biasanya. Mengenakan celana pendek, kaos oblong dan jaket hitam yang selalu mampu membuatku ingat bahwa aku begitu mencintainya. Adegan-adengan itu begitu tampak seperti sebuah film. Film yang aku tahu pasti akan ada akhirnya. Lalu beberapa nada musik yang melantunpun menjadi alarm berakhirnya film itu.


and when the daylight comes
i'll have to go
but tonight i'm gonna hold you so close
cause in the daylight
we'll be on our own
but tonight i need to hold you so close

.....

Pada akhirnya aku terjebak di dalam sebuah kamar gelap dengan ribuan memori tentangmu mengelilingiku dan menciptakan sesak di antara rasa kehilangan dan kesepian diiringi puluhan lagu yang senang kamu dengarkan. Dan aku tetap tahu bahwa semuanya akan berubah, begitu pula dengan diriku sendiri. Lalu semua akan baik-baik saja.

.....

Story Soundtrack : Daylight - Maroon 5


Minggu, 29 Juli 2012

Dua-dua


"Kamu mau jadi pacarku?"
"Iya, mau."

Oddie langsung memeluk tubuhku tanpa pikir panjang setelah aku menerima tawarannya untuk menjadikanku pacar. Lagipula untuk apa pikir panjang, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Artinya suasana di depan kosku pasti sudah sepi sehingga kita tak perlu malu, dan juga berarti aku harus menelepon penjaga kos dengan sedikit melancarkan serangan rayuan genit agar ia mau membukakan pintu kos supaya aku bisa masuk.

Malam ini langit agak mendung. Tidak banyak bintang bertaburan. Hanya ada bulan sabit yang menggendut dan hampir mencapai setengah purnama yang sedikit kabur tertutup awan. Malam ini, terhitung sudah sekitar tiga bulan setelah aku mulai dekat dengan Oddie dan akhirnya resmi menjadi kekasihnya. Malam ini, terhitung sudah sekitar tiga bulan setelah Oddie mulai membuatku jatuh cinta terus-menerus setiap hari oleh segala hal yang dilakukannya padaku. Malam ini, terhitung sudah sekitar tiga bulan setelah aku mulai membiarkan hatiku terjun indah ke dalam genggaman Oddie, bukan genggaman orang lain, karena memang bukan hanya dia satu-satunya laki-laki yang mendekatiku dalam tiga bulan terakhir ini.

.....

Hari ini mendung seperti biasanya cuaca sebulan belakangan. Sudah hampir pukul dua siang, aku kelaparan, dan malah terjebak di pos satpam parkiran kampus ketika akan pulang. Aku sedang mengacak-ngacak saku celanaku dari kiri sampai kanan, depan sampai belakang, mencari-cari di mana STNK yang harus kutunjukkan ke petugas parkir ketika Milla yang mengendarai motornya mendekat dan memasuki lajur keluar pos parkiran kampus di sebelahku.

"Kelar kuliah apa, Mil? Mau langsung pulang?"
"Kognitif, Gi. Iya nih. Paling cari makan dulu terus pulang."
"Makan bareng aja yuk."
"Eh... Hmmm...."
"Iya ya? Yuk!"
"Eh, iya yuk."

Sekilas saat keluar dari parkiran, aku melihat Oddie yang sedang menatap tajam dan tidak terima padaku dari kejauhan di depan hall, yang kemudian diiringi oleh tepukan-tepukan halus di bahunya oleh Arya, teman dekatnya, seperti sedang membujuk dan menguatkannya. Aku melaju motorku dengan kecepatan rendah menyusuri boulevard kampus, diikuti Milla dari belakang dan berhenti di sebuah rumah makan di daerah depan kampus.

"Kita makan bakso aja ga apa-apa kan? Adem gini pasti enak."
"Iya bener, Gi."
"Eh, kamu udah jadian sama Oddie ya?"
"Eng... Eh... Hmm, iya, Gi."
"Kapan jadiannya?"
"Hmmm... Hampir seminggu yang lalu."

Aku tersenyum. Sudah sekitar tiga bulan yang lalu aku mendekati Milla. Sebulan terakhir memang hubungan kita justru merenggang. Milla semakin menjauh dan terlihat lebih sering menghabiskan waktu bersama Oddie. Aku bisa menerima semuanya dengan baik. Lagipula Oddie sendiri adalah salah satu teman dekatku. Teman dekat yang pada akhirnya mengecewakanku, bukan karena merebut gebetanku, melainkan karena belakangan aku tahu dia sering menjelek-jelekkanku di depan Milla demi untuk mendapatkan hatinya dan mengalahkanku.

Aku tersenyum sekali lagi membayangkan sosok Oddie. Aku tidak pernah berpikir bahwa ini adalah persaingan.

.....

Oddie mengunjungiku di kosku sore ini. Aku menyambut kedatangannya dengan girang. Bukannya menunjukkan kegembiraan yang sama, ia justru tampak murung dan cenderung marah. Aku membiarkannya duduk, lalu duduk di sampingnya. Awalnya kita hanya terdiam. Entah apa yang kurasakan. Mungkin kecewa karena dia tidak menunjukkan kebahagiaan yang sama sepertiku saat kita bertemu sore ini. Mungkin sedih karena dia hanya diam dan aku tak tahu harus berbuat apa. Mungkin juga takut dia tidak suka aku makan siang bersama Irgi tadi siang dimana aku tidak menganggap hal itu adalah sesuatu yang besar.

"Kamu kenapa?"
"Kamu ga usah pergi-pergi sama Irgi."
"Aku sudah tahu pasti soal itu. Aku cuma makan siang. Dengan seorang teman."
"Terserah. Asal tidak dengan Irgi."
"Ya..."

Aku harus melalui suatu sore yang tidak mengenakkan. Sore yang membuatku tidak nyaman ketika hubunganku dengan Oddie bahkan belum genap satu minggu. Irgi memang salah satu laki-laki lain yang aku maksud juga mendekatiku selain Oddie selama tiga bulan belakangan ini. Memang bukan hanya mereka berdua, tapi mereka berdualah yang memiliki kualitas dan kuantitas paling besar dalam konteks hubungannya denganku.

Semuanya berawal dari sebuah angkringan yang menjadi tempatku dan teman-temanku sering mengisi perut dengan sajian-sajiannya yang sederhana dan murah namun mengenyangkan dan enak. Tempat itu juga menjadi tempat di mana Oddie yang notabene merupakan teman dekat Irgi, serta teman-teman mereka yang lainnya, juga sering menghabiskan malam, mengobrol dengan diselingi bergelas-gelas kopi. Bapak penjual makanan di angkringan itulah yang pada akhirnya menjadi tokoh kunci yang berperan sebagai pengirim salam dan penyebar nomor handphone anak-anak kuliah pelanggan setianya yang sedang saling bertukar modus.

Dari sanalah mulanya aku mulai dekat dengan Oddie maupun dengan Irgi. Dan seperti inilah keadaan yang terjadi sekarang. Memang benar tidak mengenakkan.

.....

Aku sedang memandang layar komputerku dengan khidmat, berkutat dengan game yang sedang seru kumainkan, ketika aku mendengar ada yang datang ke kos. Suara Oddie terdengar, lalu diiringi oleh suara wanita yang aku tahu adalah Milla. Tidak lama kemudian setelah menyapa anak kos lain yang ditemui oleh mereka, pintu kamarku diketuk. Tanpa menunggu aku menyahut dan membukakan pintu, pintu kamarku dibuka perlahan oleh Oddie.

"Gi, udah makan belom? Mau nitip ga?"
"Oh, udah kok, Die. Tadi sama Tomi ama Oki."
"Ya udah kalo gitu. Aku keluar bentar ya. Mau ambil harddisk di tempat Hans. Kamu tunggu di sini aja ya, Sayang. Santai aja sama anak-anak ini."
"Iya, Yang."

Oddie segera berlalu meninggalkanku dan Milla setelah percakapan singkat denganku yang ia buat seakan polos dan damai, meskipun aku tahu keadaannya sebenarnya tidak sepolos dan sedamai basa-basinya tadi. Milla memilih tetap di kamarku karena hanya aku yang paling ia kenal di antara teman-temanku dan Oddie yang lain di kos ini. Aku berpura-pura tetap fokus pada permainanku meskipun sesungguhnya aku tidak tega melihat Milla kebingungan harus berbuat apa. Dia hanya diam menyebarkan pandangannya keliling kamar, memperhatikan sudut-sudut kecil kamar, dan sesekali memainkan handphone yang aku tahu hanya merupakan pelarian.

"Kalian dari mana, Mil?"
"Abis dari bawah beli charger-an handphone."
"Oh..."
"Hmm..."
"Kamu kenapa milih Oddie?"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma ingin tahu."
"Kamu tidak terima?"
"Aku tidak bilang begitu. Apa aku tampak seperti itu?"
"Lalu kenapa kamu harus menanyakan hal seperti itu? Apa mungkin kamu berpikir aku orang tidak tahu diri yang seenaknya mengecewakanmu?"
"Omonganmu semakin jauh."
"Lalu apa?"
"Aku tidak kecewa denganmu. Aku kecewa dengan Oddie."
"Sekarang kamu menyalahkan Oddie?"
"Dengar, aku mendekatimu lebih dulu. Dan dia terus menjatuhkanku di hadapanmu. Iya kan?"
"Dia tidak menjatuhkanmu. Dia hanya terus-menerus mengungkit kenyataan tentang dirimu yang memang buruk."
"Apa?"
"Bahwa kamu punya pacar dan masih saja mendekatiku. Apa yang ada di dalam pikiranmu sampai masih bisa berniat mendekatiku padahal kamu punya pacar?"
"Karena aku memang suka padamu."
"Kamu memang laki-laki kurang ajar!"
"Iya, aku memang kurang ajar. Sekarang aku akan mengungkapkan kekurangajaran yang lain padamu."
"Apa?"
"Oddie juga sesungguhnya punya pacar sebelum mendekatimu dan masih ia pertahankan sampai sekarang!"
"..."




Kamis, 26 Juli 2012

kesakitan kesakitan



Tak ada patah hati yang tak sembuh. Hanya saja ada beberapa patah hati yang berusaha disembuhkan dengan sengaja menciptakan kesakitan-kesakitan lainnya.

.....

Di tengah perjalanan tahun ketiga hubungan percintaanku dengan seorang laki-laki yang aku rasa akan selamanya menguasai sebagian besar hatiku, aku menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Ya, di tahun ketiga hubungan yang sudah entah seperti apa bentuknya. Tahun ketiga hubungan yang sudah terisi berbagai kejadian yang entah baik, entah buruk. Tahun ketiga hubungan yang telah membuat aku, dan sesungguhnya kita berdua, memforsir segenap daya hati untuk menjalaninya. Dan ya, dia masih menguasai sebagian besar tempat di dalam hatiku.

Aku telah lelah. Aku tahu dia pun sama. Kita akhirnya sampai pada titik di mana kita enggan memperbaiki kerusakan yang ada, bahkan dengan berkelahi sekalipun, dan memilih menciptakan ruang hampa. Ruang hampa yang dipenuhi diam di antara kita berdua namun masih riuh dengan perasaan sayang yang meronta-ronta karena dibungkam keadaan. Kita menciptakan ruang hampa tanpa mengakhiri hubungan, sekedar karena tak tahu lagi apa yang sebaiknya di lakukan. Dan aku memilih melakukan hubungan terlarang dengan orang lain.

"Kamu tahu ini salah?" Aku membuka percakapan.
"Ini sudah terlanjur terjadi. Lagipula aku benar mencintaimu." Katanya.

Aku terdiam lama sembari duduk di sampingnya. Aku tahu hubungan ini salah karena aku masih berstatus pacar orang. Di samping itu, ada sesuatu yang lebih buruk dari masalah statusku, yaitu ketika hatiku sendiri memang masih dipenuhi sosok orang lain. Pada beberapa waktu aku merasa aku memang menyayanginya, namun pada waktu lainnya aku paham bahwa aku hanya mencari pelarian atas kehancuranku pada dirinya. Aku tahu pelarian ini akan menyakitiku dan dia sekaligus. Aku bahkan tahu cepat atau lambat dia akan pergi dariku dengan luka, meninggalkanku dengan luka atas kepergiannya, serta luka sebelumnya yang memang hanya sementara aku alihkan kepadanya.

Aku memeluknya. Dan di dalam pelukan itu, aku menerima pesan dari seorang laki-laki yang aku tahu masih berkeliaran kesana-kemari di dalam ruang hatiku meski aku berada di dalam pelukan orang lain.

"Aku minta maaf. Ayo kita perbaiki sekali lagi."

Aku menangis di dalam pelukannya tanpa ia pernah paham apa dan siapa yang sesungguhnya aku tangisi.

.....

Aku rasa benar jika orang sering mengatakan bahwa apa yang sudah rusak tidak akan sempurna lagi meskipun telah diperbaiki sedemikian rupa. Hubunganku berakhir. Berakhir dengan keadaan hatiku yang masih sama terkoyak, namun juga masih sama dipenuhi oleh sosoknya. Bukan cuma hubungan yang telah kujalani sekitar tiga tahun itu yang berakhir, namun juga hubungan terlarangku yang hanya menjadi tempat pelarian. Ya, dia akhirnya meninggalkanku dan mungkin mencari hati lain yang lebih kosong dan lapang untuknya menempatkan diri. Bukan di hatiku yang sudah penuh sesak dengan sosok satu orang yang sama selama beberapa tahun belakangan.

Aku menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Seseorang yang telah menyediakan dada bidangnya untuk aku sandari dan basahi dengan air mata saat aku melewati jalan kehancuran yang sesungguhnya dari hubunganku sebelumnya. Aku menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Seseorang yang sesungguhnya adalah kekasih teman dekatku. Maka dengan demikian, aku sedang menjalankan misi penghancuran dua hati lain selain hatiku saat ini.

"Aku boleh menginap lagi malam ini?" Tanyaku.
"Tentu saja, aku dan semua milikku ada untukmu." Jawabnya.

Aku tahu pelarian kali ini akan kembali berakhir. Berakhir dengan meninggalkan reruntuhan hatiku, hatinya dan hati pacarnya. Aku akan hancur lagi setelah melarikan diri dari kehancuran sebelumnya. Aku bahkan akan merusak kehidupan dua orang lagi cepat atau lambat. Dan ya, aku hanya bisa bersandar pada dirinya sampai sekitar tiga bulan sampai ia akhirnya memilih kembali ke pacarnya setelah pacarnya sakit hati karena tahu hubungan rahasia yang kita jalani.

.....

Sudah lima bulan setelah terakhir aku menjalin hubungan dengan laki-laki. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan teman-temanku sekarang. Aku rasa aku memang butuh kesendirian agar tak lagi-lagi merusak keadaan. Entah keadaanku atau keadaan orang lain. Meskipun dalam kesendirian itu aku harus menderita seorang diri karena tak ada tembok sandaran yang bisa aku jadikan pelarian dari sakit hatiku. Beberapa kali secara impulsif aku hampir kembali menjerumuskan diri pada kisah-kisah yang sudah terlihat akan kacau bahkan sebelum dimulai. Tapi tidak, aku memang harus sendiri.

Sesungguhnya aku mulai mencintai orang lain. Seorang sahabat dekat yang lebih dari itu telah aku anggap saudaraku sendiri. Satu dari beberapa orang-orang terbaik dalam hidupku yang telah selama ini menemani dan mengiringi hidupku.

"Ayo temenin beli titipan-titipan mama sebelum mudik lebaran." Aku menerima pesan singkatnya.
"Sekarang? Mandi dulu bentar." Balasku.
"Buruan! Aku jemput nih."

Aku bergegas berbenah diri dengan senyum tersungging lebar. Tapi tidak kali ini, pikirku. Aku takkan melakukan apa-apa. Aku takkan menggerakkan tanganku untuk menyentuh satu hal lagi yang mungkin akan aku hancurkan seperti biasanya. Jika aku harus mencintainya, aku hanya akan mencintainya. Tak ada lagi mengejar, meraih dan kemudian mungkin merusak pada akhirnya. Jika kesakitanku harus sekali lagi aku sembuhkan dengan menciptakan kesakitan-kesakitan lainnya, tidak dengan dirinya. Tidak dengan orang yang pada sebagian besar waktu telah menyelamatkanku dan menjadi rumah tempatku pulang dari hal-hal yang menyeramkan di luar sana.

Mungkin aku hanya akan menanti. Menanti diselamatkan olehnya sekali lagi. Menanti diselamatkan dalam skala besar untuk tak lagi menjerumuskan diri ke dalam jurang-jurang curam, selamanya. Menanti diselamatkan untuk menanggalkan ketidakwarasanku dan menjadi manusia normal. Menanti diselamatkan oleh satu kecupan lembutnya di dahiku dan usapan lembut tangannya pada rambutku ketika ia memelukku.

.....

Jumat, 20 Juli 2012

sempurna, lalu apa?


Lalu apa setelah kamu sempurna?

Kembali pada pernyataan bahwa tidak ada sesuatupun yang sempurna di dunia ini. Pernyataan itu kemudian bisa direvisi menjadi kesempurnaan sekalipun belum tentu dapat menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.

Kamu mungkin adalah sesosok diri yang sempurna. Tapi apakah hidupmu sempurna? Kamu mungkin cantik, berpenampilan menarik, cerdas, berwawasan luas, berbakat, memiliki lingkungan sosial yang luas, mudah berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain, dan memiliki kepribadian menarik. Tapi apakah hidupmu sesempurna itu? Apa kamu mampu mendapatkan apa-apa yang sesungguhnya kamu inginkan dan butuhkan? Apa kamu mampu menangani apa-apa yang terjadi di dalam hidupmu sebaik mungkin sehingga tak ada yang bisa mengganggu kewarasanmu atau sampai membuatmu menyesal? Kamu mungkin memiliki sesosok diri yang sempurna. Tapi apakah kamu mampu menciptakan hidup yang juga sempurna bagi dirimu sendiri?

Aku rasa tidak.

Kamis, 19 Juli 2012

Endapan



pada suatu titik dia akhirnya merasa dia selalu mampu merusak apapun yang ia sentuh.

.....

dia tak paham bahwa tidak semua orang pernah mengalami pengalaman-pengalaman sebanyak dan setragis yang pernah ia alami. ia kuat, namun dengan begitu ia tak paham bahwa tidak semua orang sekuat dirinya. ia pikir segala sesuatu bisa dengan mudah menjadi baik-baik saja sesaat setelah segalanya tidak baik-baik saja. padahal pada kenyataannya, jangankan sesaat setelah segalanya tidak baik-baik saja, bertahun-tahun setelah itupun belum tentu.

dia bisa dengan mudah menyapu serpihan-serpihan kotoran yang berhamburan di lantai hatinya, biasanya kumpulan serpihan hati miliknya dan milik orang lain, mengumpulkannya di pojokoan dengan menggali sedikit permukaan lantainya sehingga terkesan terkubur. setelah itu ia akan kembali bersemangat menyentuh hati-hati baru yang cepat atau lambat akan mengalami ritual 'pembersihan dan penguburan' yang sama. ketika yang berhamburan dan yang dibersihkan itu termasuk serpihan hati miliknya, ia bisa dengan mudah membentuk miliknya yang baru.

tumpukan kotoran di pojokan hati itu hanya dibuat tampak terkubur. sesungguhnya kotoran itu mampu kembali muncul dengan mudah dan bertebaran di mana-mana bahkan ketika sekedar ditiup angin. lama-kelamaan hatinya menjadi keruh. meskipun begitu ia bisa mendiamkannya sampai mengendap di dasar lagi. entah apa yang akan terjadi jika timbunan kotoran itu terus dikoleksi olehnya. entah akan seberapa keruh hatinya di kemudian hari.

tidak banyak dari kotoran yang dibersihkan itu pada akhirnya bisa terurai di dasar tanah hati dan menghilang. butuh kerjasama dan kerja keras dari kedua pihak yang serpihan hatinya sama-sama mengotori. butuh kerjasama dan kerja keras oleh dirinya sendiri dan orang lain. sedangkan kenyataannya, pada sebagian besar waktu, hanya ia yang mampu menyelesaikan tugasnya, tidak orang lain. itu sebabnya kotorannya tetap tertinggal.

.....

pada suatu titik ia begitu takut untuk menyentuh hati-hati lainnya karena hatinya sendiri sudah terlalu keruh. butuh waktu yang cukup lama agar kotoran-kotoran itu kembali mengendap di dasar sehingga hatinya jernih. atau butuh kerjasama mereka untuk menguraikan kotoran itu sampai hilang. namun tetap saja, tak semua orang bisa seperti dirinya.

Sabtu, 14 Juli 2012

Perasaan yang Sungsang


mencintaimu membuatku terbalik. sebut saja sungsang. posisi tepat seperti yang suka aku peragakan ketika aku sakit kepala atau terlalu bosan berguling-guling di atas kasur. kamu pasti tahu. posisi dimana kepala sampai badanku terbentang mendatar horisontal, dan sampai batas pantat ke ujung kaki kunaikkan ke dinding membentuk sudut siku-siku tubuhku. lihat saja cover buku Djenar Maesa Ayu dengan judul 1 Perempuan 14 Laki-laki kalau ingin paham.

mencintaimu seperti melakukan aksi tidur sungsang. setengah normal dan setengah abnormal, serta membuatku merasa terbolak-balik. meskipun pada waktunya posisi itu merupakan pelarian yang nyaman. pada beberapa waktu aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan, pada beberapa waktu lainnya aku merasa melakukan apa yang tak biasanya aku lakukan, dan pada beberapa waktu sisanya lagi aku merasa melakukan apa yang tidak sebaiknya aku lakukan. meskipun pada waktunya mencintaimu tetap menyenangkan.

aku perempuan yang tidak bisa membiarkan hatinya menganggur, tidak bisa sepertimu yang bisa menelantarkan hatimu sampai karatan. aku perempuan yang akan mengejar apa yang dia inginkan, tidak sepertimu yang bisa tenang dan santai menghadapi apapun dan tidak suka pada apa-apa yang berlebihan. aku perempuan yang terlalu terbuka, tidak sepertimu yang punya tembok tinggi penangkal serangan rasa dari luar maupun dari dalam dirimu sendiri. sejujurnya aku tak tahu bagaimana caranya mencintaimu dengan baik.

kemudian aku merasa seperti sedang dalam posisi sungsang. kadang sakit kepalaku bahkan sembuh karena seluruh darah dialirkan ke otak, namun lama-kelamaan kakiku keram kehabisan darah dan menjadi tidak betah. aku tak tahu posisi ini baik atau tidak. aku tidak tahu mencintaimu adalah hal baik atau tidak.