Jumat, 13 Juli 2012

Cadung Bibirmu


Kamu pernah tahu kalau kamu tampan?
Kamu boleh menanyakan padaku kalau kamu memang tidak tahu, karena aku yang paling tahu.

Seperti yang aku pernah tuliskan tentang bibirmu yang terus merah dan basah meski tak putus menghisap dan menghembuskan asap rokok, aku juga selalu ingat tatapan matamu yang tajam dan sering tidak ramah.

Meski begitu aku tahu kamu baik. Baik sekali. Aku tahu kamu lebih perhatian dan peka dibandingkan teman-teman kita yang lain. Aku tak punya banyak teman yang bisa kuajak berkomunikasi dan saling memahami tanpa kata, dan kamu termasuk salah satu di antaranya.

Aku suka hidungmu. Memang tidak mancung, tapi proporsional. Paling tidak kokoh dan pas untuk menahan kacamata yang hampir tidak pernah kamu tanggalkan.

Aku suka rambutmu. Aku suka poni-poni tipis yang menutupi dahimu. Kadang poni-poni itu menjadi tidak tipis ketika kamu lama tidak mengunjungi tukang cukur. Hampir setiap sebelum tidur di malam yang biasanya lebih cenderung pagi, aku memupuk keinginan untuk bisa mengusap-usap kepala dan rambutmu setiap saat aku ingin, dan menggaruk-garuk kulit kepalamu dengan halus sampai kamu tertidur di pangkuanku.

Beralih dari wajahmu, aku suka tubuhmu. Iya, aku suka lelaki kurus seperti yang sudah sering kuungkapkan. Aku rasa aku akan betah memelukmu lama-lama. Aku juga merasa aku akan lebih betah dipeluk olehmu, bahkan tersangkut di dalamnya dan tak bisa lepas. Pada banyak waktu aku melihat tubuhku ada di dalam rangkulan lenganmu tepat di saat aku mengamatimu.

Kembali lagi saja ke bibirmu, bagian tubuh yang setidaknya paling suka aku bicarakan. Aku suka sekali saat bagian itu menarik kedua sudutnya dan menyunggingkan senyum. Aku suka pada beberapa waktu ketika bekas aroma rokok keluar melalui nafas dari bibirmu ketika kamu sedang tidak merokok.

Singkatnya, maka demikianlah aku mengagumi dirimu. Tepatnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan dirimu yang memang mudah dikagumi.

Rabu, 11 Juli 2012

Memutar Momen



pernahkan kamu merasa ingin memutar waktu dan kembali pada momen-momen tertentu yang pernah kamu alami dan mengubah sesuatu dari momen itu? seberapa sering kamu mengalaminya? beberapa kali sehari atau beberapa kali seminggu atau beberapa kali sebulan? beruntunglah bagi kalian yang mengalaminya lebih jarang dari opsi-opsi frekuensi di atas, karena saya bisa mencapai level beberapa kali sehari ketika otak saya sedang bekerja dalam taraf kesibukan berpikir yang tergolong sangat sibuk.

pada banyak waktu ketika saya sibuk berpikir kemudian memahami dan merenungi semua hal yang ada di dalam hidup saya, saya ingin kembali memutar waktu dan mengubah satu atau dua hal kecil yang mungkin akan mempengaruhi semuanya. pada titik itu saya ingin memiliki kemampuan seperti Evan dalam The Butterfly Effetcts namun tanpa harus mengalami simptom semacam gangguan jiwa dan juga tanpa harus mengalami kejadian yang terlalu tragis sepertinya. saya hanya ingin mengubah hal-hal kecil yang sesungguhnya ketika tidak diubah pun hidup saya baik-baik saja, tidak seperti Evan. banyak momen dalam hidup saya yang ketika saya lihat ke belakang, saya menemukan beberapa hal yang seharusnya saya lakukan tapi sayangnya tidak saya lakukan. maka benarlah ada kalimat seorang bijak yang mengatakan penyesalan adalah bukan tentang menyesali apa yang kita lakukan, melainkan apa yang tidak kita lakukan.

setelah satu atau dua kehancuran yang saya alami baru-baru ini tentang cinta, saya kini pulang dan menghabiskan banyak waktu di pelukan teman-teman yang membuat saya menyesali betapa minimnya waktu yang telah saya habiskan bersama mereka. mengingat seberapa berartinya keberadaan mereka sebagai saudara yang senantiasa menyelamatkan saya dari hal-hal yang akan melumat saya sampai habis, saya merasa mereka pantas mendapatkan kalkulasi waktu terbanyak untuk dihabiskan bersama dibandingkan dengan orang-orang lain. tapi seperti itulah, saya hanya sesosok tubuh yang sedang menapak pada tanah masa kini dan yang saya permasalahkan barusan adalah tanah masa lalu yang sudah ditinggalkan.

cerita di atas hanya satu dari sekian banyak (sekali) hal-hal yang saya ingin ubah. saya selalu berandai-andai, tentang masa depan maupun masa lalu. andai saya bisa suatu saat nanti memeluk gebetan saya dengan lengan yang penuh aliran rasa sayang. andai saya dulu tidak mengambil kuliah psikologi. masih banyak lagi pengandaian lainnya yang terkumpul acak-acakan di dalam kardus-kardus bekas di dalam gudang pikiran. pengandaian itu lebih banyak masuk ke dalam folder berlabel masa lalu memang. pengandaian itu tidak hanya tentang saya, tapi juga orang lain. andai saya bisa masuk dalam kehidupan A dengan lebih dalam dan intens sejak dulu agar dia tidak menghabiskan seluruh daya hatinya hanya dengan B sehingga berdampak pada keadaan A sampai sekarang. andai saya tidak hanya sibuk dengan hal A, serta bisa melakukan hal B, C, D, dan lainnya. andai saya bisa berlaku selayaknya A dan tidak memiliki pribadi seperti B dan mengalami hal C bukannya D.

kata menyesal mungkin bukan pilihan yang tepat. hal-hal ini hanyalah pemikiran sederhana yang hadir pada banyak waktu namun tidak banyak berarti. hal-hal ini hanya sebuah konsep dengan kuantifikasi yang tinggi dan kualifikasi yang rendah. hal-hal ini hanyalah pemikiran-pemikiran yang tidak melibatkan aspek emosional seperti perasaan. jadi ini bukan menyesal. semua akan kembali pada konsep yang berbunyi 'semua orang sudah memiliki porsinya masing-masing dalam segala hal' dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan serta konsep 'live your life' dan tidak ada yang perlu dipedulikan.

life happens. like a balloon, once it broke, it'll never be fixed.

Jumat, 06 Juli 2012

Lelaki Pukul Dua Malam

Pukul dua malam.

Dia memulai pertumpahan rasa dengan rangkulan hangat yang tak terduga.
Dia menajamkan tatapannya yang berucap tentang begitu banyak arti.
Dia mengeratkan dekapan tubuhnya dan menyandarkan cinta tak kasat mata.
Dia membuat lautan cinta menguap ke udara dan terus dihirup dalam-dalam.
Dia mengusir dingin dengan hembusan nafas yang dekat dan menderu.

.....

Setiap pukul dua malam.

Dia mengalirkan rasa yang semakin tak sanggup dibendung.
Dia merobohkan tanggul hati yang sudah tebal dibangun sakit hati yang lalu.
Dia melantunkan nada-nada cinta sampai tebal mengepul di udara.
Dia memenuhi ruang kamar yang kosong dengan bayang kehadirannya.
Dia menciptakan imaji pelukan yang erat mendekap dalam gelap.

.....

Lelaki pukul dua malam.

Membuat rasa yang tercipta seakan memerankan tokoh kekasih gelap yang duduk dalam jarak di kursi taman ketika siang, namun mendekat dan mengendap masuk jendela ketika pukul dua malam.
Membuat rasa yang mulai mengalir tak terkendali terasa hadir dengan begitu nyata dan selalu membabi buta ketika pukul dua malam.

Lelaki pukul dua malam.

Sosoknya bukanlah kekasih gelap, hanya saja rasa yang diramunya sampai sempurna selalu matang dan tumpah ruah dari tungku hati setiap pukul dua malam.

Selasa, 03 Juli 2012

hujan bintang

pada awalnya aku tiba di sebuah pantai.
melangkah mendekati batas garis ombak.
terduduk memeluk lutut dan menatap lurus ke depan, bergantian ke atas.

ada lautan berombak besar-besar yang pecah dengan lebar terbentang di depan mata.
kemudian berubah menjadi selembar potongan roti raksasa yang sedang diolesi selai oleh Tuhan.
pelan-pelan meratakan gulungan selai ombak di atas selembar pasir dengan pisau angin.
ada langit hitam pekat penuh bintang di atas kepala.
kemudian kilauan titik-titik langit malam itu bergerak turun dan berubah menjadi garis-garis vertikal.
jatuh satu-satu membasahi wajah seperti hujan kristal.

ada lautan berombak besar-besar yang pecah dengan lebar terbentang di depan mata.
ombaknya lalu menjadi selimut yang tergulung naik.
menghangatkan bayi pasir pantai yang kedinginan.
ada langit hitam pekat penuh bintang di atas kepala.
lama-kelamaan titiknya bergerak ke kanan, kiri, depan, dan belakang tapi tidak jatuh ke bawah.
menjadi jutaan kecebong neon di air langit yang biru tua.

ada lautan berombak besar-besar yang pecah dengan lebar terbentang di depan mata.
terlihat seperti bumi yang sedang mengoleskan krim malam berwarna putih.
meratakannya ke seluruh permukaan wajah pantai tipis-tipis.
ada langit hitam pekat penuh bintang di atas kepala.
langit malam tak punya krim untuk merawat diri.
wajah langit hitam dan ditaburi banyak jerawat yang bersinar dari kejauhan.

.....

pada awalnya aku tiba di sebuah pantai.
melangkah mendekati batas garis ombak.
terduduk memeluk lutut dan menatap lurus ke depan, bergantian ke atas.

pada akhirnya laut dan bintang membentuk suatu gas kimia berbahaya yang asin dan berkilau.
gas itu tanpa sadar tertelan mulutku yang sedang menguap.
lalu memadat di pangkal tenggorokan sampai-sampai aku sulit menelan ludah.
reseptor saraf yang menerima sinyal keracunan mengirimkan muatan positif-negatif listrik ke hati.
lalu aku tersenyum namun berusaha keras menahan dan tidak ketahuan.

.....

"ada sesuatu yang baiknya terurai di antara kita yang sedang berdiri basah kuyup di tengah hujan bintang yang terasa seasin air laut."


Kukup Beach, Gudung Kidul, Yogyakarta

Selasa, 12 Juni 2012

Di Antaranya

Selasa, 5 Juni 2012.
Sekitar 15.30.

"Jadinya nanti malem aja ya."
"Kenapa?"
"Aku masih nemenin Tio ke perusahaan tempat dia magang kemaren."
"Ngapain sih? Lama banget."
"Hahahahaha... Aku sayang kamu."
"Iya. Mau jam berapa nanti dijemput?"
"Jam 7 aja ya."
"Oke."

Aku menjauhkan lagi handphone-ku dengan sedikit melemparnya ke pojokan tempat tidur setelah sebuah BBM yang baru saja mengagetkanku itu. Aku kembali menggeliat di atas kasur, membenarkan posisi tidur sampai paling nyaman dan berniat melanjutkan tidur. Tak apalah, masih sore dan janji bertemuku dengan Eny ditunda sampai nanti malam. Lagipula aku belum tidur semalaman dan malah langsung melanjutkan aktivitas dengan kuliah jam 7 sampai jam setengah 10 tadi. Rasanya agak sedikit lapar, tapi akan kutahan. Perasaan ngantukku sudah membabi buta.

Eny adalah adik angkatanku di kampus. Belum lama aku mengenalnya. Tidak begitu cantik, tapi sangat menarik dan sudah punya pacar. Siapa yang peduli, aku memang pecinta wanita. Aku punya setumpuk aspek yang bisa kuapresiasi dari makhluk yang bernama wanita, tidak hanya satu atau dua aspek. itu sebabnya aku mudah menyukai wanita. Kemampuan kognitif yang lebih dalam hal mengapresiasi wanita itu untungnya didukung oleh keterampilanku yang juga tergolong lebih dalam hal mendekati dan mengambil hati mereka. Hasil dari semua itu, aku menciptakan sebuah alasan bagus untuk dikutuk-kutuk oleh para wanita atas banyanya kisah yang aku lewati dan hobiku menggantung semuanya.

.....


Rabu, 6 Juni 2012
Sekitar 14.00.

"Temenin aku, mau?"
"Kemana?"
"Ke tempat sodaraku. Terus jenguk sepupuku ke rumah sakit."
"Sekarang?"
"Iya, mau?"
"Iya. Aku mandi dulu ya. Baru bangun."
"Iya, nanti aku ke kosmu dulu."
"Oh, ga kujemput?"
"Ga usah, aku ke kamu aja ga apa-apa."
"Ya udah oke, aku tunggu."

Aku meletakkan handphone, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Aku bergegas secepat mungkin meskipun mandiku akan tetap lama dan tidak banyak berubah durasinya di saat aku terburu-buru seperti ini. Memang aneh, tapi begitulah adanya. Sebagai laki-laki, mandiku lama dan selalu menjadi bahan gunjingan salah seorang temanku yang berjenis kelamin perempuan yang selalu mengaku bahwa waktu terbaik untuk tidur adalah saat menungguku mandi. Di samping itu aku sesungguhnya tak tahu mengapa aku bergegas seperti ini. Mungkin karena aku jatuh cinta, sampai-sampai pertemuan dengan Rinda menjadi stimulus yang baik untuk membangkitkanku dari kemalasan yang sudah menjadi rutinitas.

Sesungguhnya aku kembali bingung jika mengakui aku jatuh cinta. Bukannya aku memang selalu jatuh cinta? Lalu mengapa aku punya reaksi yang agak sedikit berbeda dan mungkin berlebihan untuk ini? Mungkin karena aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada satu orang yang sama. Ya, Rinda memang bukan orang baru. Selain karena dia memang teman seangkatanku yang notabene sudah kukenal sepanjang tahun-tahun aku menempuh pendidikan di kampus, aku juga sudah lama dekat dengannya. Hitungan tahun. Tak ada yang jelas di antara kita, hanya permainan-permainan rasa kecil-kecilan yang kita tahan untuk menjadi semakin dalam. Itu sebabnya tak pernah ada kejelasan di antara kita. Mungkin juga karena keadaan, di saat salah satu pihak sedang punya pacar sehingga semuanya tetap bertahan di ladang gantung.

.....


Selasa, 5 Juni 2012.
Sekitar 20.15.

Aku dan Eny sudah duduk di sebuah rumah makan bernuansa pedesaan dengan kolam-kolam pemancingan ikan dan obor serta lilin di sekelilingnya yang memberi nuansa cahaya dominan orange. Tak ada pembahasan penting yang kami lemparkan satu sama lain selama makan malam itu. Hanya cerita-cerita sederhana tentang aktivitas sehari-hari dan lelucon-lelucon aneh. Pada beberapa waktu aku menatap dalam-dalam matanya yang sedang bersinar di tengah tawa. Sekedar mencari-cari adakah alasan yang mungkin bisa kutemukan dan kuubah menjadi keyakinan untuk melabuhkan diri padanya. Ternyata masih kosong. Seperti yang kulihat di mata milik wanita-wanita lainnya yang bersamaku dulu dan bahkan sekarang ini.

"Aku serius sayang sama kamu."

Aku hanya tersenyum.

"Terima kasih."

Aku kembali tersenyum padanya.

"Aku mau ninggalin Tio buat kamu."
"Ga usah gegabah begitu. Kita jalani aja dulu."

Eny menunduk dengan perasaan yang aku tahu pasti sedikit kecewa. Aku lalu mengusap-ngusap tangannya.

"Aku juga sayang kok sama kamu."

.....


Rabu, 6 Juni 2012.
Sekitar 19.15.

Sudah seharian aku menemani Rinda. Dari mengunjungi rumah keluarganya untuk mengurus hal-hal yang aku sendiri pun tak paham dalam rangka persiapan sebuah acara keluarga besarnya, sampai menuju rumah sakit untuk menjengkuk sepupunya yang sedang dirawat. Aku dan Rinda akhirnya berakhir di sebuah kursi yang agak jauh dari kamar sepupunya di rumah sakit. Kami hanya duduk dan terdiam, mungkin kelelahan. Keluarga Rinda ramai sekali di sana, itu sebabnya kami duduk agak menjauh. Sesungguhnya aku merasa sedikit bosan, tapi tak apa lah.

"Kamu mau aku kayak gimana?"
"Gimana apanya?"
"Kita ga usah lagi membicarakan perasaan menahun yang kita simpan dan kita berdua sudah sama-sama tahu."
"Lalu?"
"Aku bicara tentang keadaan. Kamu mau kita bagaimana?"

Aku tersenyum dan menatap matanya dalam-dalam. Aku pikir kali ini akan berbeda dan aku akan mendapatkan keyakinan yang aku cari-cari. Ternyata masih saja kosong yang kutemukan. Aku lalu memeluknya. Selebihnya hanya diam yang tertinggal.

.....


Kamis, 7 Juni 2012.
Sekitar 11.00.

Baru sekitar 20 menit setelah aku terbangun. Aku lalu duduk di depan komputerku dan bermain game. Seperti inilah pekerjaan mahasiswa tingkat akhir. Tiba-tiba aku mendengar rentetan suara penanda BBM masuk dan menggangguku. Di layar tertulis nama Gina. Di samping itu aku lihat ada DM twitter dengan nama yang Silla yang terpampang.

Dan hariku dimulai lagi seperti biasanya.

.....



Sabtu, 09 Juni 2012

Sebuah Jawaban




Pukul 9.14 malam saat aku tiba di tempat dimana aku telah membuat janji dengan seorang teman dekatku, sahabatku. Tempat makan itu cukup ramai. Aku langsung menempati sebuah meja di pojok ruangan dan memesan secangkir teh tarik hangat. Beberapa saat aku hanya memainkan blackberry-ku, men-scroll timeline tanpa mem-post tweet apapun. Seorang pelayan menghampiriku dan membawakan pesananku. Beberapa saat kemudian aku hanya melamun memperhatikan seisi cafe sambil menanti orang yang memang kutunggu datang.

.....


Malam ini ada live music. Biasanya memang ada live music pada hari sabtu malam di tempat ini, namun entah kenapa di malam kamis seperti ini ada. Ada yang menarik perhatianku pada kelompok musik itu. Mereka punya seorang violis berambut gimbal. Lelaki itu tampan, senyumnya manis dan terlihat bersih serta tak seacak-acakan rambutnya. Permainan biolanya luar biasa. Namun yang paling menarik perhatianku adalah dia luar biasa sebagai seorang musisi berpenampilan eksentrik yang memainkan alat musik dengan image lembut seperti biola. Aku masih terus melamun dan bermain dengan pikiranku. Aku pikir, suatu saat nanti anakku harus jago musik serta jago bermain musik, dan aku akan menjadi seorang ibu pecinta musik yang paling bahagia di dunia.

Setelah beberapa saat basi-basi intermezo antar lagu oleh sang vokalis, kelompok musik itu membawakan Falling In Love At A Coffee Shop milik Landon Pigg. Aku yang masih melamun semakin terpaku pada pikiranku sendiri saat mendengar potongan lirik "yes there's a chance that I've fallen quite hard over you..." Aku tak harus mendengarkan Landon Pigg meyakinkanku dengan lagunya untuk paham bahwa aku memang jatuh cinta cukup hebat pada laki-laki yang sedang kutunggu kedatangannya ini. Aku mudah jatuh cinta. Aku tak suka bermanja-manja dengan trauma akan sakit yang pernah aku alami. Sebagai psikolog yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun memahami hebatnya kekuatan pikiran, aku paham betul bahwa seluruh dunia ada di dalam kepala kita sendiri dan kita bisa dengan mudah mengontrolnya. Termasuk jatuh cinta, bisa diatur dengan mudah di dalam otak. Aku mampu berjalan dengan kaki yang masih pincang karena kisah cintaku sebelumnya ke arah sebuah cinta baru yang aku harap bisa memberiku harapan. Sampai pada akhirnya aku paham bahwa pikiran bisa mengontrol apapun, tapi belum tentu menogontrol kedalamannya. Aku bisa jatuh cinta, namun aku membutuhkan cinta yang cukup sakti untuk menyembuhkan kaki pincangku, dan aku tak mampu mengontrol itu.

Sepersekian detik aku keluar dari pikiranku sendiri dan menjamah dunia nyata, aku mendengar kelompok musik itu memainkan So Right milik Music For Sale. Semua lagu yang mereka bawakan diaransemen dengan sentuhan biola dan sang violis masih saja menawan. Aku lalu membuang pandanganku ke sekeliling ruangan cafe. Ada sepasang kekasih yang duduk dua meja dari mejaku. Seingatku, selama aku menunggu 15 menit lebih, mereka tak berbicara sama sekali. Aku akhirnya memutuskan untuk memperhatikan mereka sebelum kembali melamun. Mereka memang hanya diam dalam kegiatan masing-masing yang aku rasa hanya merupakan pengalihan yang mereka ciptakan sendiri. Entah memainkan handphone, entah memainkan garpu di atas makanannya, entah hanya sekedar menarik napas panjang yang sunyi di antara bibir-bibir yang manyun.

Lama memperhatikan mereka, aku lalu menarik napas panjang dan tertawa sedikit. Semacam merenungi lagu So Right yang sedang mengalun, aku ingat betul kalau dulu aku punya keyakinan bahwa selama itu cinta, itu adalah benar. Bagiku tak ada perasaan cinta yang salah apapun bentuk dan rupa cerita serta keadannya. Aku bisa paham dan memaklumi bagaimana rasanya memiliki rasa cinta yang lebih besar pada orang lain selain pasangan yang saat itu sedang disanding. Atau bagaimana rasanya menjadi wanita ketiga yang akan kumaki-maki dengan sepenuh kesungguhan hati jika hal yang sama terjadi padaku sebagai orang yang dikhianati. Atau bagaimana rasanya terus memaksa bertahan pada rasa yang sudah jelas-jelas sengaja dilumpuhkan oleh pihak lainnya. Bagiku tak ada yang salah dengan semuanya. Sampai akhirnya aku paham bahwa aku tak akan melakukan adegan akrobatik seumur hidupku, karena pemain akrobat hebat pun pasti melemah dan hanya ingin beristirahat. Dan dengan menuanya usiaku, aku tahu tempat peristirahatan itu tak bisa dibangun hanya dengan cinta. Banyak bahan material yang harus digunakan dan itu tidak mudah didapatkan dalam proporsi yang pas.

Aku tersadar lagi dari permainan pikiranku sambil masih manatap ke arah pasangan tak akur tadi yang ternyata telah menyudahi acara dinner senyap mereka dan beranjak pergi. Mungkin acara itu akan mereka lanjutkan di tempat lain, pikirku. Aku melirik ke arah violis manis itu, satu-satunya hal menarik yang mengisi waktuku menunggu tamuku yang tak kunjung tiba. Dia mempersiapkan diri untuk memainkan lagu berikutnya. Sesekali ia tertawa oleh candaan teman band-nya yang lain. Manis. Memang bukan apa-apa, tapi lumayan menjadi hiburan yang menyenangkan bagiku. Di pojok dari sisi lainnya ruangan itu, aku menangkap sosok seorang laki-laku jangkung berkacamata. Ia sendirian. Ia mengenakan kaos putih entah bergambar apa dengan print tinta gambar warna hitam, jaket hitam, skinny jeans biru tua, dan sepatu keds. Setelah kuperhatikan, ia tidak jauh berbeda denganku. Lebih banyak melamun. Sesekali ia mencoret-coretkan spidolnya pada sepotong kertas di atas mejanya. Lalu raut mukanya terus menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras. Lalu dia menunduk dan melamun lagi dengan tatapan mata kosong. Ia tampak seperti seorang penulis yang sedang banjir ide, seorang yang terbiasa mengungkapkan segala sesuatu melalui cara yang tak langsung. Atau setidaknya ia tampak seperti seorang yang sedang gamang dengan perasaan yang entah harus diapakan.

Sementara itu live music yang disajikan malam itu memainkan lagu dari Boyce Avenue yang berjudul Hear Me Now. Sekilas aku mengingat lirik lagu itu dan memahami keseluruhan cerita lagu bahwa sekian rintihan dalam hati pada akhirnya hanya bisa diharapkan untuk didengar, entah bagaimana caranya, karena si perintih sendiri tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Aku melamun lagi. Aku orang yang sangat senang berbicara. Aku terbuka dan senang mengungkapkan apapun pada orang lain. Aku malah harus selalu berbagi, jika tidak aku sendiri yang akan terbebani dalam kadar yang keterlaluan. Lalu aku juga suka langsung menyelesaikan apa-apa yang sedang terjadi tanpa menunda. Aku merasa harus mengejar apa yang aku inginkan. Sampai pada masanya aku paham bahwa tak semua hal harus dibereskan seketika. Bahkan ada banyak hal yang tak bisa dengan mudah dibicarakan. Manusia punya hati yang diciptakan dengan sebuah ruang kosong yang memang disediakan untuk mengendapkan hal-hal yang tidak harus dikeluarkan demi kebaikan diri sendiri. Karena bahkan terlalu naif dibilang untuk kebaikan orang lain. Pada titik itu, aku bahkan paham jika sedih dan menangis sendirian itu lebih baik daripada marah dan melibatkan orang lain.

Semua lamunanku dibuyarkan oleh kedatangan seorang laki-laki. Laki-laki yang daritadi kutunggu-tunggu.

.....


Dia duduk di hadapanku. Menarik napas panjang, tersenyum padaku dan meraih daftar menu. Aku bahkan hanya terdiam dan menunduk tanpa menyambutnya dengan ucapan apapun. Tak juga membalas senyumnya. Bertahun-tahun bersahabat dan selalu bersama pada akhirnya mampu menghasilkan kesunyian yang janggal seperti ini.

Aku mengangkat kepala dan memaksa diriku sendiri membuka percakapan sementara dia masih membolak-balik menu.

"Aku mencintaimu..."

Aku menghentikan ucapanku seakan kalimatku memang terputus sendiri atau sengaja kuputuskan. Dia mengangkat wajahnya dari menu dan menatapku. Aku kembali menunduk. Hanya diam yang mengkontaminasi setiap volume udara yang kita berdua hirup. Aku terus menunduk tanpa berani bergerak sedikitpun. Tidak menggerakkan kakiku, apalagi kepalaku untuk kembali mengangkat wajah dan menatapnya balik. Dia mengalihkan padangannya dariku dan meraih bungkus rokok dari dalam sakunya. Ia membakar rokoknya, menghirup dan menghembuskan asapnya sampai seperkiraanku lima menit. Lima menit diam yang membuatku merasa sekarat di antara harap dan pasrah. Samar-samar di garis alam sadar dan bawah sadarku aku mendengar For All The Dreams That Wings Could Fly milik The Milo dimainkan. Inderaku ternyata masih mampu merekam lagu yang dimainkan itu dan memutar sepotong liriknya berulang-ulang di otak. "the more of you remain in this hollow place, until the more of you reveal..."

Sesungguhnya aku tak butuh perkataan balasan apapun darinya. Aku sudah memahami dirinya sampai pada setiap ritme napas yang ia hirup dan hembuskan, atau setiap tatap mata yang ia sorotkan. Aku bahkan tak harus mengungkapkan apa-apa. Kita sudah saling mengenal sampai hidup pada detak nadi yang sesungguhnya sama. Aku hanya sedang gagal menjalankan salah satu prinsip yang seharusnya sudah kupegang erat setelah pemaknaan akan pengalaman hidup yang panjang, bahwa ada beberapa hal yang lebih baik diendapkan di sudut hati yang telah disediakan.

Pada dasarnya aku paham apa yang sesungguhnya aku butuhkan. Aku butuh rumahku tetap ada, dan dialah rumah yang selama ini selalu menjadi tempatku berlari pulang setelah perjalanan yang melelahkan di luar sana. Aku ingin bantalku tetap ada, dan dialah bantal yang pasrah membiarkanku membasahinya dengan air mata setiap aku selesai melakukan sebuah perjalanan yang menyakitkan. Aku lebih butuh semua itu dibandingkan urusan perasaan bodohku terhadapnya yang sesungguhnya bisa dikendalikan.

Pada banyak waktu aku mengharap sosoknyalah yang menjadi pasangan terbaik untukku yang tidak hanya mengandalkan cinta, melainkan dengan segala hal lain yang dibutuhkan dalam jumlah yang proporsional. Pada banyak waktu aku mengharap sosoknyalah yang mampu men-setting kepalaku untuk jatuh cinta sedalam mungkin padanya dan menyembuhkanku dari luka-lukaku. Pada banyak waktu aku mengharap sosoknyalah yang terus selamanya mengendap di dalam hatiku. Tapi aku sadar apa yang lebih aku butuhkan dan tidak mengharapkan apa-apa dari kejadian malam ini. Aku butuh rumah itu tetap menjadi tempatku berlari pulang, bukannya menjadi hal lain di luar sana yang membuatku melarikan diri. Aku tak butuh jawaban apa-apa lagi.

.....


"Aku juga mencintaimu."

Suaranya tiba-tiba terdengar di telingaku, lantang, jelas, dan tidak menggantung sama sekali. Aku mengangkat wajahku dan menemukan seulas senyum yang tidak perlu kejadian malam ini terjadi pun telah sering menyelamatkanku. Dia lalu memanggil pelayan dan menyampaikan pesanannya. Aku masih terus terpaku saat dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Tak ada patah hati yang tak sembuh. Pada akhirnya semua akan kamu tertawakan. Sekarang, tertawakan saja bersamaku."

Kata-katanya itu menyudahi waktuku untuk terpaku dan akhirnya sebuah senyum kusunggingkan menutup diam yang sedari tadi kubuat semakin dingin dan beku. Di sudut lain ruangan, All This Time milik One Republic dilantunkan.

Kamis, 07 Juni 2012

pada sepotong hati


pada akhirnya aku terjebak.

terjebak pada setumpuk sakit dari masa yang belum begitu lalu.
terjebak pada serangkaian perasaan benci, marah dan kecewa yang setiap menit selalu kutangkis dengan keinginan berdamai yang selalu gagal sepihak dan pada akhirnya memproduksi konflik maha agung.
terjebak pada setapak perjalanan menuju masa yang lebih depan, antara apa yang harus aku lakukan dan apa yang ingin aku lakukan.
terjebak pada sebongkah dorongan untuk terus menjadi apa yang selalu orang banggakan dengan dorongan untuk bersenang-senang sesuka hati karena merasa tak pernah benar-benar melakukannya selama ini.
terjebak pada setumpuk kenyamanan akan kebersamaan yang seperti sewajarnya perpisahan atau perubahan yang mendekat, semakin berat untuk ditinggalkan.
terjebak pada sepotong hati yang meraung-raung mengharapkan cinta yang akan menyelamatkannya namun semu berkabut absurd.

pada akhirnya aku terjebak.

terjebak pada ramuan bersayap, pada jalan raya sepi yang masih riuh, pada kepulan kabut racun, pada dingin pukul tiga, dan pada percakapan bodoh dengan orang yang tak dikenal.

Minggu, 03 Juni 2012

Teman Hidup



Pasangan hidup.

Sepasang memang tidak hanya membutuhkan dua. Ia butuh esensi yang banyak dan penuh di dalam dua itu.

..........


Saya selalu memiliki gambaran tentang 'marrying my bestfriend' di dalam kepala. Gambaran itu mengambang, mengapung atau mungkin terbang kesana-kemari di bagian kepala manapun. Otak saya terus memaksa saya melihat salah satu dari sekian banyak teman baik saya, sahabat yang sudah seperti saudara tepatnya, entah yang mana, berdiri tegap di samping saya di sebuah singgasana, tersenyum sangat bahagia, di saat orang lain satu-persatu menyalami dan men-cipika-cipiki kami memberi selamat. Ada bayangan tentang salah satu dari sekian banyak laki-laki terbaik yang telah menemani saya melewati berbagai hal dalam hidup selama bertahun-tahun, entah yang mana, mengenakan pakaian senada dengan apa yang saya kenakan pada suatu hari yang begitu membawa kebahagiaan. Bersanding bersama di tengah sebuah taman dengan dekorasi dominan putih yang sederhana, meskipun yang itu agak sulit untuk diwujudkan, masalah tradisi atau kebiasaan dan lainnya you know.

Salah jika orang bilang saya selalu bersama dengan laki-laki dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Tidak, saya punya kriteria. Saya selalu suka laki-laki cerdas, mengerti musik, bukan laki-laki baik-baik yang rajin atau alim, dan mereka selalu kurus. Bagi saya kurus itu hug-able. Di atas semua itu, saya ingin bersenang-senang. Menjalani hidup yang selalu seru dan menyenangkan dan tidak puas dengan hal-hal standar dan biasa. Lalu saya setuju dengan perkataan teman saya yang suatu hari bilang kalau dia tidak butuh kekasih, melainkan teman hidup. Saya pikir saya juga begitu. Rasanya mudah saja mendesain cinta untuk orang baru dan asing, menentukan peran sebagai kekasih, mengenal satu sama lain lebih jauh, lalu menuangkan cinta penuh-penuh. Tapi akan sedikit lebih sulit untuk menuangkan cinta sedikit lebih banyak pada sosok yang sudah terikat jiwanya dalam berbagai macam kecocokan dan kenyamanan yang sudah terjalin begitu lama.

Ya, teman hidup, bukan kekasih. Kalau terlalu sulit untuk kamu mengerti apa maksudnya dan juga terlalu sulit bagi saya untuk menjelaskan maknanya, bayangkan saja seorang teman terbaikmu, sahabatmu, saudara lain darahmu, lalu bayangkan bagaimana keadaan kalian selama ini bersama-sama. Sekedar seperti itu, tapi dengan intimitas dan cinta dalam kadar yang sedikit lebih banyak serta komitmen. Selebihnya sama seperti selama ini yang telah kamu miliki, semuanya, sehingga kamu mampu berlama-lama bersama dia dan selalu mampu pulang ke satu sama lain. Akan ada dunia yang dipenuhi hal-hal seru dan menyenangkan serta nyaman, yang diisi oleh dua orang yang memang telah terbiasa melakukan hal-hal itu.

Di kepala saya ada segumpal bayangan tentang salah satu bagian kecil dari masa depan dimana saya akhirnya akan memutuskan untuk menyumbangkan sepotong dunia saya untuk disatukan dengan sepotong dunia milik seorang laki-laki terbaik. Bayangan tentang laki-laki yang sudah terlalu familiar sedang menggenggam tangan saya mesra-mesra. Bayangan tentang laki-laki yang sudah begitu menjadi satu dengan diri saya sedang memeluk saya erat-erat. Bayangan tentang laki-laki yang sudah menghabiskan begitu banyak tahun bersama saya sedang menatap mata saya dalam-dalam. Bayangan tentang kesederhanaan persahabatan yang didasari kenyamanan yang tidak perlu over-romantic dan over-dramatic, hanya saja dipertahankan selamanya.

..........


Semua orang punya mimpi dan idealisme. Mimpi dan idealisme yang mengapung kesana-kemari di dalam kepala di antara garis batas kesadaran dan ketidaksadaran. Lagipula, saya senang berkhayal, bermimpi, atau sekedar berharap.

Jumat, 25 Mei 2012

Dari Sisi Wajahmu

Dari sorot matamu...
Ada cahaya senja yang tenggelam di barat dan bulan yang samar merona di timur.
Ada dua bola langit yang lebur dalam samudera cakrawala di sudutnya masing-masing.
Ada dua makna yang kabur namun terlukiskan dalam satu bentangan kenyataan yang sama.
Entah mana yang lebih indah.

Dari ujung hidungmu...
Ada hembusan angin malam yang dingin menari-nari di antara titik-titk putih di kejauhan langit.
Ada dingin yang bersenandung di antara nada-nada kilauan bintang dalam sangkar angkasa.
Ada makna yang gelap dan menusuk rasa di antara serbuk kristal kebersamaan yang terang bertaburan.
Entah mana yang lebih kuat.

Dari sudut bibirmu...
Ada lembab udara pagi yang menyeruak di balik selimut fajar yang menghangatkan.
Ada aliran arus kabut yang tumpah ruah di balik pelukan subuh yang mulai benderang.
Ada makna yang kelabu, dingin dan tersamarkan di balik jingga hangat yang sudah menjadi biasa.
Entah mana yang lebih kuasa.

..........

Dari sisi wajahmu...
Ada matahari yang selama ini telah memberi kehidupan, tak kenal seberapa tebal awan yang menghalangi sinarnya.
Ada terang yang selama ini telah menadai detak hari, tak kenal seberapa deras air yang jatuh dan menutupinya.
Ada keyakinan yang telah berakar dalam-dalam di dasar diri, dan tak bisa diapa-apakan kecuali yakini.
Entah ke mana kita akan bermuara.

..........

"Aku hanya butuh terus menatap sisi wajahmu. Menyaksikan drama pergantian hari di sana. Semoga pada akhirnya aku bisa mendapati drama perubahan bentuk kebersamaan kita..."

"...Kita tak perlu berbuat apa-apa."

Minggu, 13 Mei 2012

Aku Ada

Kamu tak harus melihat pelangi untuk tahu hujan baru saja turun. Kamu hanya perlu mencium bau rumput basah dan merasakan genangan air yang tersisa di atas permukaan tanah.

Kamu tak harus menonton senja untuk tahu matahari akan tenggelam. Kamu hanya perlu melihat cahaya langit yang meredup dan berubah hitam dan merasakan angin semilir sore yang suhunya merendah.

Kamu tak perlu memahami musik untuk tahu ada rangkaian nada yang indah mengalun di sekitarmu. Kamu hanya perlu memejamkan mata dan mendengarkan lagu itu penuh-penuh.

Maka aku tak perlu merangkai kata sedemikian rupa agar kamu dapat memahami isi hatiku. Aku hanya perlu diam, menatapmu, dan mungkin menunggu.

..........

Aku ada.
Meski tak pernah mampu menampakkan diri.

Bahasa keberadaan itu sudah cukup untuk menyatukan kita dalam satu semesta yang sama. Semesta yang hanya kita yang mampu memahaminya. Kita tak kuasa berbuat apa-apa. Kecuali menunggu. Menunggu entah kemana angin ini menerbangkan kita. Semoga selalu ada waktu. Semoga kamu takkan berubah.