Dari sorot matamu...
Ada cahaya senja yang tenggelam di barat dan bulan yang samar merona di timur.
Ada dua bola langit yang lebur dalam samudera cakrawala di sudutnya masing-masing.
Ada dua makna yang kabur namun terlukiskan dalam satu bentangan kenyataan yang sama.
Entah mana yang lebih indah.
Dari ujung hidungmu...
Ada hembusan angin malam yang dingin menari-nari di antara titik-titk putih di kejauhan langit.
Ada dingin yang bersenandung di antara nada-nada kilauan bintang dalam sangkar angkasa.
Ada makna yang gelap dan menusuk rasa di antara serbuk kristal kebersamaan yang terang bertaburan.
Entah mana yang lebih kuat.
Dari sudut bibirmu...
Ada lembab udara pagi yang menyeruak di balik selimut fajar yang menghangatkan.
Ada aliran arus kabut yang tumpah ruah di balik pelukan subuh yang mulai benderang.
Ada makna yang kelabu, dingin dan tersamarkan di balik jingga hangat yang sudah menjadi biasa.
Entah mana yang lebih kuasa.
..........
Dari sisi wajahmu...
Ada matahari yang selama ini telah memberi kehidupan, tak kenal seberapa tebal awan yang menghalangi sinarnya.
Ada terang yang selama ini telah menadai detak hari, tak kenal seberapa deras air yang jatuh dan menutupinya.
Ada keyakinan yang telah berakar dalam-dalam di dasar diri, dan tak bisa diapa-apakan kecuali yakini.
Entah ke mana kita akan bermuara.
..........
"Aku hanya butuh terus menatap sisi wajahmu. Menyaksikan drama pergantian hari di sana. Semoga pada akhirnya aku bisa mendapati drama perubahan bentuk kebersamaan kita..."
"...Kita tak perlu berbuat apa-apa."
Jumat, 25 Mei 2012
Minggu, 13 Mei 2012
Aku Ada
Kamu tak harus melihat pelangi untuk tahu hujan baru saja turun. Kamu hanya perlu mencium bau rumput basah dan merasakan genangan air yang tersisa di atas permukaan tanah.
Kamu tak harus menonton senja untuk tahu matahari akan tenggelam. Kamu hanya perlu melihat cahaya langit yang meredup dan berubah hitam dan merasakan angin semilir sore yang suhunya merendah.
Kamu tak perlu memahami musik untuk tahu ada rangkaian nada yang indah mengalun di sekitarmu. Kamu hanya perlu memejamkan mata dan mendengarkan lagu itu penuh-penuh.
Maka aku tak perlu merangkai kata sedemikian rupa agar kamu dapat memahami isi hatiku. Aku hanya perlu diam, menatapmu, dan mungkin menunggu.
..........
Aku ada.
Meski tak pernah mampu menampakkan diri.
Bahasa keberadaan itu sudah cukup untuk menyatukan kita dalam satu semesta yang sama. Semesta yang hanya kita yang mampu memahaminya. Kita tak kuasa berbuat apa-apa. Kecuali menunggu. Menunggu entah kemana angin ini menerbangkan kita. Semoga selalu ada waktu. Semoga kamu takkan berubah.
Senin, 07 Mei 2012
Ini Bukan Cinta
..........
jam 12 lewat 30 menit dini hari. aku beranjak dari depan laptop yang sudah menyala sejak sore. tulisanku bahkan belum selesai. baru tiga halaman script dengan deadline satu script utuh untuk nanti sore. kubiarkan laptop tetap menyala, melapisi boxer dengan celana jeans panjang, memakai jaket dan sepatu, lalu meninggalkan kamar. aku akan menunggumu malam ini, sebelum kamu dan watak cerewet standar wanitamu harus melayangkan beberapa pesan BBM dan telepon penuh omelan karena aku terlambat seperti biasanya.
aku tiba di cafe tempat biasa kamu selalu merengek untuk bertemu jika ada kegalauan yang harus kamu bagi denganku. cafe kecil itu ramai, semakin larut semakin ramai seperti biasa. aku memilih duduk di sudut ruangan, meminta asbak, dan membuka pesan BBM-mu yang kurasa masuk saat aku di perjalanan. aku hanya duduk menanti kamu datang, wanita yang entah siapaku, tanpa memesan apa-apa. semoga nanti pipi dan bibirmu merah seperti biasa.
lebih dari 15 menit aku merokok sampai akhirnya sosokmu muncul. dengan langkah agak terburu-buru kamu menghampiri mejaku, memilih duduk bersisian daripada berhadapan denganku, memeluk lenganku, lalu sesaat menenggelamkan wajahmu di bahuku. tidak lebih dari semenit selanjutnya kamu mengangkat wajahmu, lalu mulai bercerita panjang lebar tentang entah apalah. bukannya tidak peduli atau terdistorsi hal lain, aku justru seakan merasa bosan. seperti aku sudah tahu apa yang bahkan belum kamu ucapkan, dan untuk didengar lagi, bosan tentu akan terasa.
kamu menjeda ceritamu dan memanggil pelayan, memesan sepiring spagheti dan ice chocolate, tersenyum pada pelayan itu, lalu berbalik menatapku. aku masih terus menarik dan menghembuskan asap rokok sampai akhirnya kamu merogoh tas dan ikut membakar sebatang. rokok di tangan kirimu tak membuat tangan kananmu lepas memeluk lenganku, lalu kamu mulai berbicara lagi. aku bahkan tak merespon apa-apa atas ceritamu, hanya beberapa waktu tersenyum, beberapa waktu menatapmu, dan banyak waktu membuang pandangan ke arah lain namun tetap menyimakmu.
interaksi pasif ini akhirnya diinterupsi oleh sajian spagheti dan ice chocolate yang dibawa oleh pelayan. kamu berhenti bicara, mematikan rokok dan mulai melahap makanan yang ada.
..........
interaksi ini bukannya pasif. hanya saja terlihat pasif. siapa yang tahu seberapa besar perhatian yang sebenarnya aku berikan padamu dan seberapa besar perhatian yang kamu rasakan melalui tatapan-tatapan yang selalu kubuang jauh saat kamu bercerita?
sudah lebih dari lima tahun sejak pertama kali aku bertemu dengamu dan semesta menggiring kita untuk menjalani berbagai kisah bersama. aku bahkan sudah tidak bisa menghitung ini cerita patah hati keberapa yang kamu bagi denganku di tengah malam buta di sudut sebuah cafe kecil yang selalu sama. aku bahkan sudah tidak bisa menghitung punyaku. aku tak mampu lagi menghitung, bukan hanya kisah patah hati keberapa, tapi kisah jatuh cinta atau kisah apapun itu. aku hanya tahu aku bersamamu. selalu. setiap saat.
aku sudah membagi lengan dan bahuku denganmu selama bertahun-tahun. aku sudah membunuh sebagian besar waktuku denganmu. aku sudah jatuh dan hancur berkali-kali bersamamu, dan pada akhirnya hanya denganmu juga aku akan kembali pulang dan mereparasi diri. begitu juga kamu. selalu seperti itu. aku sudah mencintai beberapa wanita dengan kadar cinta paling tinggi beberapa kali dengan akhir cerita kebersamaan akan selalu kembali pada pelukanmu. begitu juga kamu. selalu seperti itu.
entah seperti apa aku seharusnya mendefinisikan dirimu. aku rasa tak ada. sebagai penulis aku tahu tak akan ada rangkaian kata yang benar-benar mampu mengungkap makna. makna hanya akan ada di dalam diri, di dalam hati. dan tak ada perilaku apapun yang bisa mengindikasikan isi hati dengan valid.
aku bukan kekasihmu, meskipun untuk menjadi sahabat pun ikatan ini sudah keterlaluan. tapi aku rasa aku juga tak perlu mendefinisikanmu. aku sudah bosan mencintai, meskipun aku tak pernah benar-benar tahu apa arti cinta. aku tak butuh romantisme atau kasih sayang yang didramatisir sedemikian rupa. aku rasa aku tak butuh apapun kecuali sesuatu yang ada di dalam diriku yang hanya aku yang tahu. yang bahkan tak bisa kugambarkan dengan cara apapun. aku tak butuh kesempurnaan yang membosankan itu. aku hanya butuh kenyamanan dan saling pengertian. aku tak butuh kekasih, aku hanya butuh teman hidup.
karena itu aku butuh kamu. suruh aku ceritakan seluruh kisah perjalanan hidupku, aku akan melihat sebuah gambaran yang tumpang tindih dan tidak teratur. tapi tanyakan apa yang aku lihat di masa depan, maka akan kujawab aku melihat gambaran dirimu.
..........
kamu menelan suapan terakhir spagheti lalu meneguk ice chocolate dengan khidmat. kamu akan membakar sebatang rokok lagi ketika kamu menyempatkan menatap mataku beberapa detik. lalu kamu sadar aku belum memesan apa-apa dan menawarkanku memesan.
"kamu ga pesen? pesen ya? kopi item ga pake gula."
"yaudah boleh."
"kenapa sih suka banget?"
"soalnya..."
"...ga manis malah pait, ga sempurna. tapi nikmat, udah pas dan nyaman."
aku lalu tersenyum, mengusap kepalamu, membakar sebatang rokok lagi, merogoh saku dan membalas bbm pacarku yang katanya tak bisa tidur. sisanya, hanya akan ada pagi yang aku dan kamu jemput bersama, lagi dan lagi.
..........
malam itu ada langit yang hitam kental. purnama yang penuh seakan mau tumpah. lampu-lampu jalan dan cafe yang merona jingga. waktu-waktu menjelang pagi yang sama seperti banyak waktu lainnya yang kita bunuh dengan kebersamaan. ikatan batin yang selamanya tak akan terdefiniskan. dan kamu, yang teryakini akan selalu siap berdiri selamanya, seperti selama ini.
Sedari Mimpi
Aku seorang putri bergaun abu-abu. Aku tidak memakai sepatu. Aku suka rasa rumput basah pagi hari di telapak kakiku. Gaunku panjang, semata kaki. Roknya merekah lebar seperti kelopak hatiku setiap saat aku melihat langit fajar mulai menguning. Rambutku diikat setengah. Setengahnya lagi terurai. Kupu-kupu suka singgah di sana. Aku bukan peri, bukan juga Cupid. Justru aku korban panah Cupid. Sayap Cupid suka tersangkut di rambut keritingku saat terbang mengelilingiku. Itu sebabnya sasaran panahnya suka meleset. tapi tak apa, semuanya indah kecuali senja yang gerimis. Bahkan kisah cinta yang meleset juga indah.
Bulu mataku panjang walaupun tidak terlalu tebal. Aku jadi sering merasa keberatan membuka mata. Paling berat aku rasakan saat aku sedang bermimpi tentangmu. Aku pernah bermimpi mencintaimu. Sudah lama sekali. Kamu pangeran tampan yang bahkan tidak menunggangi kuda putih. Kamu tiba-tiba saja sudah ada di dalam hatiku, entah mengendarai apa. Besoknya aku bangun dan sayap Cupid masih saja sering tersangkut saat terbang mengelilingiku. Kamu tidak ada di depanku saat aku terbangun. Kamu hanya ada di dalam hati dan mimpiku. Duduk di atas keplopak hatiku yang mekar bersama fajar. Sejak saat itu, aku melihat pelangi di mana-mana. Padahal tidak hujan. Bahkan di cermin, ada pelangi yang kutemukan di mata orang di depanku.
Pagi ini langit sedih. Tangisannya deras sekali. Tapi gaunku masih abu-abu dan rambutku masih setengah terurai. Kelopak hatiku tetap mekar setiap pagi, bahkan semakin lebar pagi ini. Mataku berat dibuka, tapi aku senang kamu kini benar ada di hadapanku. Aku melihat ke dalam hatiku dan kamu juga ada di sana. Kamu ada dua. Bahkan tiga kalau saja aku ingat ada kamu atau tidak di mimpiku tadi malam. Kita duduk di teras dengan kaki-kaki telanjang kita mencicipi tetes-tetes hujan. Ada kupu-kupu yang tersangkut di rambutku. Aku jadi seperti memakai hiasan rambut. Cupid tidak datang. Kata kupu-kupu, dia senang akhirnya tidak meleset memanah untukku lagi. Jadi dia pergi memanah untuk orang lain. Rumput-rumput senyum-senyum. Katanya setelah hujan reda, mereka mau cepat-cepat menggelitik telapak kakiku dan memelukku bersama pelangi.
Bulu mataku panjang walaupun tidak terlalu tebal. Aku jadi sering merasa keberatan membuka mata. Paling berat aku rasakan saat aku sedang bermimpi tentangmu. Aku pernah bermimpi mencintaimu. Sudah lama sekali. Kamu pangeran tampan yang bahkan tidak menunggangi kuda putih. Kamu tiba-tiba saja sudah ada di dalam hatiku, entah mengendarai apa. Besoknya aku bangun dan sayap Cupid masih saja sering tersangkut saat terbang mengelilingiku. Kamu tidak ada di depanku saat aku terbangun. Kamu hanya ada di dalam hati dan mimpiku. Duduk di atas keplopak hatiku yang mekar bersama fajar. Sejak saat itu, aku melihat pelangi di mana-mana. Padahal tidak hujan. Bahkan di cermin, ada pelangi yang kutemukan di mata orang di depanku.
Pagi ini langit sedih. Tangisannya deras sekali. Tapi gaunku masih abu-abu dan rambutku masih setengah terurai. Kelopak hatiku tetap mekar setiap pagi, bahkan semakin lebar pagi ini. Mataku berat dibuka, tapi aku senang kamu kini benar ada di hadapanku. Aku melihat ke dalam hatiku dan kamu juga ada di sana. Kamu ada dua. Bahkan tiga kalau saja aku ingat ada kamu atau tidak di mimpiku tadi malam. Kita duduk di teras dengan kaki-kaki telanjang kita mencicipi tetes-tetes hujan. Ada kupu-kupu yang tersangkut di rambutku. Aku jadi seperti memakai hiasan rambut. Cupid tidak datang. Kata kupu-kupu, dia senang akhirnya tidak meleset memanah untukku lagi. Jadi dia pergi memanah untuk orang lain. Rumput-rumput senyum-senyum. Katanya setelah hujan reda, mereka mau cepat-cepat menggelitik telapak kakiku dan memelukku bersama pelangi.
Rabu, 18 April 2012
di balik dinding

Di balik dingin dan sepi belasan kilometer jalanan dini hari yang kulewati, bersembunyi dirimu. Bersembunyi tubuh kurus tinggi berbalut sweater hitam tebal, celana pendek, dan sendal jepit. Di balik itu, kita bercerita tentang tawa, tentang teman, tentang lelucon-lelucon negatif, dan tentang hal standar yang bahkan tidak unik untuk diceritakan tentang harimu dan hariku. Bercerita tentang galon air minum yang belum sempat dipasang di dispenser. Lalu aku begitu ingin memelukmu.
Di balik jalan lurus panjang yang lembab di pusat kota sehabis hujan sesorean, bersembunyi dirimu. Bersembunyi tatap mata yang bahkan tidak begitu tajam dan dalam, namun terus didamba untuk membalas tatap kagum yang kuberikan. Di balik itu, kita bercerita tentang tugas akhir dan tetek bengeknya yang menjemukan dan tak kunjung terselesaikan. Bercerita tentang keraguan menghubungi dosen pembimbing dan buletin jurnal yang lupa dibeli. Lalu aku begitu ingin melingkarkan lenganku pada lenganmu.
Di balik deretan lampu-lampu jingga jalan raya yang tampak bergerak-gerak seperti kunang-kunang, bersembunyi dirimu. Bersembunyi wangi tubuh yang semakin melekat mesra di dalam isi kepalaku. Di balik itu, kita bercerita tentang sepak bola, tentang liga entah apalah, tentang tim-tim dan pemain-pemain hebat, dan taruhan-taruhan bodoh. Bercerita tentang keseruan permaianan scrabble sepanjang malam dan jam berapa bisa tidur. Lalu aku begitu ingin merebahkan kepalaku ke bahu atau bahkan dadamu.
Di balik botol-botol bir dan berpuluh-puluh puntung rokok yang kita habiskan di pinggir jalan, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sesosok lelaki tak acuh dan tampak terlalu mencintai diri dan hidupnya serta seluruh kenyamanan yang ia miliki. Di balik itu, kita bercerita tentang musik, tentang playlist yang selalu kita ributkan, tentang band-band metal, tentang musisi-musisi hebat, dan mulai bernyanyi bersama. Bercerita tentang wanita-wanita personil girlband korea yang cantik dan seksi. Lalu aku begitu ingin mengisi sela-sela jariku dengan jarimu.
Di balik perjalanan bodoh di atas motor tanpa tujuan jelas dengan beberapa pekerja malam yang terus lalu lalang, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sebuah bibir yang selalu basah dan merah meski tak habis-habisnya dilewati tarikan dan hembusan asap nikotin. Di balik itu, kita bercerita tentang keluarga, masa kecil, kisah semasa sekolah, dan sedikit menyinggung masa depan yang terpaksa cepat dihentikan karena kebingungan yang sama mulai menggerogoti diri kita. Bercerita tentang nasi-ayam-sayur enak dengan harga hanya lima ribu lima ratus rupiah. Lalu aku begitu ingin menciummu.
.....
Di balik matahari yang awalnya menemani dari jauh di dalam hitam pekat langit malam lalu mulai menampakkan diri malu-malu diselimuti tirai jingga dari timur sampai akhirnya berdiri tegak dengan silaunya di atas kepala, bersembunyi dirimu. Bersembunyi sesosok lelaki yang tertidur pulas dan tak peduli tentang aku dan berbatang-batang rokok yang kuhabiskan untuk menunggu. Di balik itu, kita tak pernah bercerita tentang hidup dalam filosofi dan pemahaman yang rumit atau tentang diri yang mencapai bagian dasar gunung es kepribadian kita. Tak pernah bercerita tentang cinta, hati, dan perasaan. Lalu aku begitu ingin menghancurkan dinding tamengmu yang selalu membuatku memiliki tak cukup otoritas untuk mendefinisikan dirimu.
.....
Besok aku akan kembali. Menemuimu. Di balik sisi bagian luar dinding tamengmu. Seperti biasa.
Minggu, 08 April 2012
Sudut

Perempuan itu duduk diam di sudutnya. Sudut miliknya. Kerajaan terbesarnya. Bukan satu pojokan konstan di sebuah cafe biasa yang sering ia datangi. Hanya saja sebuah sudut yang cukup memiliki jarak dengan laki-laki yang selalu diobservasinya dari jauh. Kerajaan itu terletak di bagian manapun dari cafe itu selama ia memiliki cukup jarak untuk terus menatap laki-laki itu. Jarak yang cukup untuk membangun dinding tak terlihat untuk membuat dirinya tak terlihat, tapi bisa melihat semuanya.
Perempuan itu terus bersembunyi. Menyembunyikan arti berbeda dari tatapan yang biasa ia berikan pada laki-laki itu pada keadaan biasa, keadaan dimana mereka sering bercengkrama sebagai seorang teman, sahabat atau keluarga. Menyembunyikan bentuk lain dari hati yang biasa ia tunjukkan dalam keadaan biasa saat ia tidak berada di sudut kerajaannya. Menyembunyikan semuanya, di balik lembaran-lembaran cetakan tulisan berbau sastra yang memang ia cintai, dan pada banyak waktu ia gunakan sebagai tameng pelindung rasanya. Menyembunyikan semuanya, di balik asap yang terus ia hisap dalam-dalam dan hembuskan, yang selalu menjadi semakin pekat seiring larutnya malam dan menjamurnya rasa yang semakin menjadi.
Perempuan itu tak melepas pandangannya. Terus menerus memperhatikan laki-laki itu. Tidak secaranya nyata karena ia lebih sering berpura-pura tertawa, berbicara dengan teman lain, membaca, atau apapun. Mengagumi laki-laki yang dalam keadaan biasa sudah cukup melekat dengan dirinya. Menyisipkan arti lain kebersamaannya dengan laki-laki itu dalam setiap pengamatannya. Mencari-cari alasan lebih dari timbunan alasan yang sebenarnya telah ia miliki untuk mengagumi dan mendekatkan diri dengan laki-laki itu. Ia terus memperhatikan, meskipun dengan ekor mata pada setiap detik ia berpura-pura melakukan aktivitas lain.
Perempuan itu akan selalu diam di sudut kerajaannya. Mengagung-agungkan laki-laki yang terus berlari dari dunianya dengan tertawa terbahak-bahak atau melakukan hal lainnya yang menyenangkan dengan teman-temannya. Mengagung-agungkan laki-laki yang lebih senang ia perhatikan saat sedang diam dan larut sendiri di balik lembaran-lembaran buku penuh gambarnya sambil menghisap rokok tak habis-habis. Mengagung-agungkan langkah laki-laki yang akan selalu memberi beban beberapa kilo lebih berat dalam hatinya yang sudah cukup berat, saat mulai melangkahkan kaki untuk memilih pulang meninggalkannya. Ia terus diam bersama arti lebih laki-laki itu bagi dirinya yang masih saja tak bisa ia ubah keadaannya.
..........
Perempuan itu akan terus diam di sudut kerajaannya. Dengan tatapannya. Di balik asap dan bukunya. Bersama arti lebih kebersamaan yang terus dia jaga. Ia tak cukup berani untuk kembali mengacaukan semuanya yang telah cukup baik dimilikinya, seperti yang biasa ia sering lakukan.
Selasa, 20 Maret 2012
Pada Suatu Masa

Pada suatu masa, kita berada dalam sebuah kereta. Kita digiring takdir menempati gerbong yang sama, hanya saja duduk di tempat yang berbeda. Aku bisa melihatmu dari dari tempatku duduk. Begitu juga sebaliknya kamu.
Pada suatu masa, entah kamu atau aku datang menghampiri yang lain. Saling bercerita tentang buku yang kubaca. Saling bercerita tentang lagu yang kau dengar. Pada beberapa waktu, cerita yang mengalir di antara kita begitu menarik dan menjadi magnet agar posisi duduk kita semakin dekat. Pada saat itu, kita bercerita tentang lebih banyak hal. Tentang film-film yang pernah kita tonton atau bahkan kita bintangi.
Pada suatu masa, buku yang kubaca menarikku kembali terikat di dalam rantai milyaran hurufnya. Begitu juga lagu yang kau dengar menarikmu kembali tenggelam di dalam lautan nadanya. Pemandangan di luar kereta menjadi lebih menarik perhatian. Lalu kita kembali ke tempat duduk kita masing-masing saat pertama kali.
..........
Pada suatu masa, aku masih bisa melihatmu, dan kamu masih bisa melihatku. Ada dorongan hebat di dalam diriku yang menarikku untuk mendekat dan memulai cerita yang sama seperti dulu. Tapi aku menahannya. Aku lebih suka tetap duduk di tempatku dan mencintaimu dari sini. Mencintaimu dari balik dinding jarak yang menjadi garis pembatas dua dunia. Dunia dirimu, dan dunia diriku.
..........
Jembatan Ego
Aku tak perlu kehilanganmu untuk menyadari seberapa berharganya kamu. Aku hanya perlu melihatmu berubah.
Aku tak perlu pernah memilikimu untuk menyadari seberapa berharganya kamu. Aku hanya perlu pernah membunuh waktu bersamamu.
Kamu telah lama berharga bagiku. Hanya saja aku menyimpan semuanya di alam bawah sadarku. Aku sendiri yang membiarkan diriku untuk tidak membawamu ke atas garis kesadaran dan menjelmamu dalam realita.
Kamu telah lama berharga bagiku. Hanya saja aku tak pernah merumuskannya secara lumrah. Aku tak pernah membiarkan rasa itu menyebrangi jembatan egoku agar aku bisa menyadarinya.
......
Selamat menempuh hidup baru, Teman. Sekarang kamu berhasil menyebrangi alam bawah sadar ke alam sadarku. Dan aku menyesal.
Sabtu, 17 Maret 2012
kuning - merah - hijau

Alex
saat ini aku berada di dalam mobil. mobil kesayangan yang memang satu-satunya milikku. mobil yang memang aku tak punya banyak untuk dipilih-pilih setiap kali keluar rumah. duduk tenang di belakang kemudi. fokus melihat ke depan, melihat rangkaian gambar-gambar yang setiap frame-nya semakin mendekat sambil beberapa kali terdistraksi benda-benda yang berlari mundur dengan cepat di luar jendela kiri dan kanan.
aku rasa aku sedang mengemudi pulang ke rumah. walaupun aku tak yakin. aku baru saja melakukan perjalanan keliling dunia, dan jika itu terlalu hiperbola, keliling jawa sudah cukup. keliling jawa lewat jalan darat dengan aku sendiri yang mengemudi. hanya berhenti di beberapa tempat untuk istirahat dan makan. mencari kenyamanan kalau boleh dibilang. walaupun pada akhirnya tak ada kenyamanan yang mampu membuatku bertahan sampai akhirnya aku beranjak pergi lagi.
..........
Sandra
aku duduk bersandar di jok belakang kemudi. aku merasa berada di sebuah tempat parkir luas yang biasanya sangat ramai dan penuh. namum sat ini, malam ini, lahan parkir itu kosong dan sangat lengang. hanya ada mobilku dan dua mobil lainnya yang aku yakin dititipkan pemiliknya dan tidak akan diambil kembali untuk malam ini. aku terdiam, tanpa menginjak gas, rem, ataupun memainkan persneling. bahkan tidak menyentuh kunci dalam niat mengubah posisinya.
aku merasa seperti sudah bertahun-tahun berada di lahan parkir itu dengan gambaran keadaan persis seperti malam ini. aku hanya diam mendengarkan musik yang mengalun dari alat yang menyatu di dasboard mobilku. memejamkan mata dan menyusun serpihan-serpihan apapun untuk membentuk sebuah dunia baru di dalam kepalaku. mendengarkan hatiku. walaupun yang lebih sering kudengar dari sana adalah sunyi atau riuh. tak pernah di antaranya. tak pernah ada suara bisikan yang cukup bisa dipahami untuk membimbingku.
..........
Sandra
ini malam ketiga aku, Alex, Doni, Tira, dan Yuyun menghabiskan malam bersama. aku rasa kita semua lelah dengan kelelahan kita masing-masing. kita semua bosan menghadapi kebosanan kita. dan di sinilah kita, duduk bersama di sebuah cafe untuk sekedar membunuh waktu, berbagi kehangatan dan melarikan diri. melarikan diri dari dunia kita masing-masing ke satu dunia yang kita ciptakan bersama-sama setiap malam.
ini malam senin, setelah malam sabtu dan malam minggu yang kita habiskan bersama-sama. malam ini kita memilih cafe, bukan bar seperti biasanya. pilihan ini menang setelah Doni panjang lebar memberi khutbah tentang pekerjaan dan tanggung jawab yang harus kita selesaikan besok. ada ketakutan akan waktu yang terlalu banyak terbunuh dan matahari yang menjemput langsung jika kita kembali duduk di bar. malam ini kita memilih pulang lebih awal.
"gue ikut mobil lo ya, Lex?" tanyaku.
"ga sama Yuyun sama Tira?" Alex balik bertanya.
"ga deh. tadi bareng mereka soalnya sorenya kita emang bareng. kalo gini kan enakan ama lo, sejalur. kasian mereka bolak-balik beda arah kalo nganter gue dulu. apa gue ikut mobil Doni? lo berdua satu apartemen tapi bawa mobil sendiri-sendiri."
"si Doni mau di rumah temennya malem ini. ada kerjaan tim yang belom dia beresin. makanya bawa mobil sendiri. yaudah lo ikut gue."
kurang dari 20 menit dan mobil Alex sudah melaju di jalan raya metropolitan yang masih saja ramai di jam 12 malam lewat seperti ini. aku hanya diam sepanjang perjalanan. Alex juga. aku rasa dia kelelahan. sesekali aku menatap wajah tampannya, mencari keteduhan, namun ia tak peduli. atau aku yang tak pernah tau dia peduli.
ya, aku menaruh perhatian pada Alex sejak satu tahun yang lalu, sejak kurang lebih enam bulan setelah aku dipindah tugaskan ke kota rusuh ini dan berada satu kantor dengannya. ya, sekedar menaruh perhatian karena aku sendirilah yang membangun tembok tebal dan tinggi untuk menahan luapan rasa yang bisa saja aku produksi lebih banyak sampai meluap dan menghancurkan tembok itu.
"yeah, all the things that you are, beautifully broken alive in my heart. and know that you are everything..." Goo Goo Dolls - All That You Are
..........
Alex
aku terus terpaku dengan gambar-gambar bergerak dari luar mobilku. memperhatikan jalan dengan isi pikiran yang berkelana kesana-kemari. bahkan saat ini pikiranku sudah sampai di Grand Canyon, tempat yang aku sendiri tidak berani memastikan kapan akan mencapainya, bahkan sampai akhir hidupku. aku melihat lebih banyak lagi gambar di dalam kepalaku dibandingkan dengan gambar yang ada di luar jendela mobilku. gambar-gambar di dalam kepalaku pun bahkan bisa berlari lebih cepat, dan bukan hanya berlari mundur, mereka bahkan mampu berputar-putar.
sekitar 200 meter dari tempatku terlihat sebuah pertigaan dengan lampu kuning yang menyala menggantikan lampu hijau. aku mulai mengangkat kakiku dari pedal gas dan menginjak rem. lampu kuning itu hanya beberapa detik, namun terasa seperti menahun untuk memastikan aku akan menginjak rem sekencang-kencangnya agar mobil ini berhenti, atau menginjak gas semakin dalam agar mobil ini melaju terus menembus sepersekian detik yang tersisa sebelum lampu merah.
..........
Sandra
aku membuka mataku perlahan-lahan. melihat ke sekeliling tempat parkir yang masih sepi. kembali ke dunia nyata dan pergi dari dunia di dalam kepalaku dengan membiarkan sebelah sepatuku tertinggal sekedar untuk memberi alasan jika aku ingin kembali ke dunia dalam kepalaku itu. aku butuh dunia itu selama dan setiap aku berada di dalam mobil, terperangkap di lahan parkir luas yang sepi dan lengang ini. bukan karena tak bisa keluar dari penantian kosong di dalam tempat parkir ini, aku rasa aku lebih kepada tak tahu jalan keluar. atau bahkan bukannya tak tahu, tapi tak mau keluar.
aku berhenti mendengarkan suara dari dalam hatiku yang malam ini sunyi. paling tidak itu lebih baik daripada suara riuh yang selalu hanya mampu mengajakku menelan aspirin. suara sunyi ini paling tidak mampu membuatku bergerak, walaupun aku tak tahu apa yang aku lakukan. aku mulai memutar posisi kunci mobilku, menginjak gas dan memutar-mutar kemudi, mengarahkan mobilku keluar dari lapangan parkir ini. memberanikan diriku untuk akhirnya menghadapi jalan raya yang mengerikan di luar sana.
..........
Alex
aku merasa sangat lelah malam ini. ini hari minggu setelah sejak jumat malam aku hanya bersenang-senang tanpa memikirkan pekerjaan, tapi entah mengapa aku merasa sangat lelah. aku merasa sedang membawa beban berat. ya, bukan di tanganku, bukan di pundakku, bahkan bukan di kepalaku. tapi di hatiku.
aku tak pernah selesai merancang apa yang harus aku lakukan saat bersama Sandra, terutama saat hanya berdua seperti ini. aku pun bahkan tak pernah tamat mengevaluasi apa yang telah kulakukan saat bersamanya, apakah benar atau salah. aku hanya seperti seorang petani yang menarik gerobaknya yang terlalu berat, melewati jembatan, menyeberangi sungai saat hujan deras dan air sungai meluap mencapai jembatan. saat aku bersamanya, aku si petani yang tak tahu harus mempercepat langkah menuju tanah sebelah, atau kembali ke daratan sebelum jembatan. sepertinya aku lebih suka pasrah, walaupun jembatan ini akan segera putus dan aku akan tetap tenggelam pada akhirnya.
"gue di tempat lo aja boleh?" Sandra tiba-tiba membuka suara.
"lo besok ga ngantor?" aku balik bertanya.
"ngantor. tapi siangan kok. kayak ga tau kerjaan bagian gue aja. gue ada tugas keluar kantor besok pagi, urusan sama klien. tapi udah gue beresin skalian tadi."
"ya udah kalo gitu."
"besok gue suruh sopir kantor jemput ke tempat lo, jadi lo ngantor aja ga usah mikir nganter gue pulang."
"oke."
"lo ga apa-apa?" aku kembali bertanya.
"apa-apa kenapa?"
"yah, lo yang tau dan bisa kasi tau gue."
"mau melarikan diri. nyari tempat bengong. di tempat sendiri ga pewe. you know me lah."
"hahahahaha..."
seperti inilah aku terperangkap di dalam kedekatanku dengan Sandra dan lainnya. we're the ones who know each others best. dan aku tak bisa melompat keluar dari deskripsi yang sama dengan label atau level hubungan yang berbeda dengan Sandra.
"hello, i've waited here for you, everlong. tonight, i throw myself into, and out of the red, out of her head she sang..." Foo Fighters - Everlong
..........
Alex
tanpa aku sadari, kakiku telah lama meninggalkan pedal gas dan telah cukup dalam menginjak pedal rem. aku tak benar-benar sadar. alam bawah sadarku benar-benar menguasaiku saat ini. lagipula tak ada gunanya kesadaranku bekerja sesuai keinginan-keinginan yang kusengaja. aku bahkan tak pernah benar-benar tahu apa yang aku inginkan. aku menginjak rem sampai penuh dan akhirnya berhenti di garis paling depan antrian lampu merah. aku lah yang terakhir berlari dalam balapan dan satu-satunya yang mengalah untuk berhenti.
lampu kuning telah berubah menjadi merah sepersekian detik yang lalu. aku memforsir diriku habis-habisan untuk menahan egoku. aku berteriak sekeras mungkin untuk menyuruh monster dalam diriku berhenti meronta. aku sudah memenangkan satu monster sampai akhirnya aku memilih menginjak rem, bukannya menginjak gas. sekarang aku bertarung lagi dengan satu monster lainnya yang ingin melahirkan rasa menyesal karena telah berhenti. aku tahu aku bukan berhenti. aku hanya sedang menunggu. aku paham, setelah lampu merah akan ada lampu hijau tanpa lampu kuning terlebih dahulu. dan jika saat itu tiba, aku akan melaju lebih cepat dari yang lain.
..........
Sandra
aku mengendarai mobilku dengan pelan. aku bersungguh-sungguh tentang keraguanku akan apa yang aku lakukan sekarang. aku tak tahu apakah yang aku lakukan ini benar-benar aku inginkan atau aku butuhkan. aku tidak tahu perbuatanku ini benar atau salah. aku mencoba memejamkan mata beberapa detik, lebih dari sekedar berkedip. dalam beberapa detik itu aku mencoba mencari dan mendengarkan hatiku, berharap ada yang berbicara. kali ini harapanku sia-sia dan yang kudengar hanyalah sunyi.
aku terus melaju dengan kecepatan seminimal mungkin. aku tak yakin dengan keputusanku berhenti mengapung di lautan penantian. aku tak yakin dengan keputusanku meninggalkan parkiran lapang tempat aku menunggu dan mempertimbangkan tentang apa yang sesungguhnya harus kulakukan. aku melihat kiri dan kanan ke luar jendela, mencari jawaban atas semua pertanyaan di kepalaku. aku melihat pertigaan tidak jauh dari tempatku saat ini dan lampu kuning mulai menyala menggantikan lampu hijau. aku semakin memperlambat kecepatan, menginjak rem dan berhenti tepat di garis paling depan. aku menarik napas dalam-dalam dan kembali memejamkan mata. kali aini aku mendengar keriuhan luar biasa dari dalam hatiku.
..........
Sandra
sekitar satu jam telah berlalu mengantarkan diam yang aku dan Alex perankan di dalam mobil ini. satu jam lebih ini terasa seperti satu abad lebih. akhirnya kita sampai di apartemen Alex. aku membuka pintu, keluar dari mobil, lalu berdiri melihat ke langit sekitar. aku memperhatikan sela-sela langit malam tak berbintang di tengah bentangan ujung-ujung gedung tinggi sebelum akhirnya menarik napas panjang dan menutup pintu.
masih dalam diam aku dan Alex berjalan memasuki gedung apartemennya, naik ke dalam lift lalu keluar di lantai 11. masih dalam diam aku dan Alex berjalan memasuki ruang apartemennya. aku tahu ini canggung, tapi paling tidak aku nyaman membuang-buang pikiranku disini daripada di kamarku sendiri. malam ini akan aneh jika aku hanya duduk bersama Alex sepanjang malam tanpa Doni dan lainnya. malam ini juga akan tetap sepi jika Alex memilih tidur dan meninggalkan aku melamun sendiri. tapi paling tidak aku nyaman.
"lo masih laper ga, Ndra?" Alex bertanya padaku.
"ga kok. emang lo laper lagi?" aku balik bertanya.
"ga sih. yaudah gue mandi dulu ya. sumuk. lo kalo mau makan coba buka kulkas atau telepon delivery aja. kalo mau mandi atau apa juga terserahlah. anggap rumah sendiri."
"iya gampang..."
"emang rumah sendiri ya? lo sama anak-anak kan udah cukup ga tau diri banget kalo pada maen di sini."
"nah itu lo tau."
aku merebahkan diriku setengah terlentang di atas sofa di depan televisi sesaat setelah Alex masuk kamarnya. aku menggonta-ganti channel televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ada di dalamnya dan apa yang akan kupilih untuk kutonton. aku akhirnya menghentikan kegiatan menggonta-ganti channel-ku setelah layar televisi menyajikan scene-scene familiar dari sebuah film drama hollywood yang aku rasa pernah kutonton.
lebih dari satu jam aku menonton televisi. Alex diam di kamarnya membaca sebuah buku yang aku tak tahu apa, dengan pintu kamar dibuka. aku rasa dia hanya memberi tanda kalau dia belum tidur. film yang kutonton hampir selesai dan aku mulai menggonta-ganti channel kembali saat Alex tiba-tiba datang dan menjatuhkan dirinya di atas sofa dengan keras, tepat disampingku.
"lo kenapa sih?"
Alex mulai menatapku. dalam hati aku terus bertanya sampai kapan dia harus sesantai ini dan tidak menyadari bahwa ada sesuatu di antara kita. ya, paling tidak ada sesuatu tentangnya di dalam diriku.
"ga kenapa-kenapa. males aja." aku memjawab pertanyaannya tanpa berhenti menggonta-ganti channel.
"males ama gue? males ama kerjaan? males ama anak-anak? males ama Rino? males apaan?"
"males ama semuanya. males lo gangguin gue lagi nonton gini."
"yeee, rumah rumah gue."
"iya deh iya."
"eh, emang apa kabar Rino? lo masih ga sih ama dia? perasaan anteng bener pacaran."
"namanya juga LDR. paling BBM-an sih, telponan juga udah jarang banget."
"bosen kan lo lima tahun mikirin orang yang sama? mending ganti objek pikiran deh. lagian saling percaya banget sih lo berdua sampe telepon aja udah jarang-jarang. selingkuh tuh, selingkuh."
"iya, gue ganti kok objek pikiran gue. elo." aku tak tahu teori psikologi apapun yang harus menjelaskan aktivitas psikologisku yang sedang terjadi sampai aku mengucapkan hal itu.
"hahahahaha... udah, ganti lagi kalo gitu biar ga jatuh cinta beneran ama gue."
"gue serius dan emang gue udah jatuh cinta beneran... sejak setahun lebih yang lalu."
aku semakin tak mengenal diriku dan Alex malah menatap mataku semakin dalam. entah ingin menyampaikan pertanyaannya langsung ke dalam mataku. entah untuk mencari jawaban pertanyaannya di dalam mataku sekaligus.
"lo denger gue. lo jangan bercandain gue. kalo ga gue jatuh cinta beneran ama lo juga. dan kalo gue jatuh cinta, gue akan jatohin lo ke gue lebih dalam lagi." Alex telah menggenggam tanganku dan tangan lainnya menyentuh pipiku, mengarahkan wajahku agar balik menatapnya dan berhenti mengalihkan pandangan.
"gue ga bercand..."
tak sampai habis aku menyelesaikan kalimtaku, aku merasa masuk ke dalam dunia lain yang... entahlah, aku rasa aku bahagia. aku merasa nyaman. bibir alex telah menyentuh bibirku. dan beberapa detik setelah aku merumuskan perasaanku itu, aku merasa semuanya berhenti. aku tak tahu apa yang tejadi, apa yang aku rasakan, atau apapun. aku merasa lebih dari sekedar bingung.
sampai setelah bibir kami telah menjauh, aku masih tak mampu menjalankan fungsi fisiologis dan psikologisku secara normal. aku teridam. satu-satunya yang aku sadari adalah tangan ALex masih menggenggam tanganku. entah aku telah menjadi iblis pengkhianat besar saat ini bagi Rino yang bahkan tak pernah berbuat salah padaku, atau paling tidak aku tak tahu jika dia berbuat salah.
"gue sayang sama lo. selama ini. entah sejak kapan. oke, gue emang ga seperhitungan lo buat nginget atau ngitung. gue cuma ga mau jadi bajingan yang ngerebut pacar orang atau bajingan yang mau ngerusak persahabannya. tapi kalo ada bajingan yang menghampiri gue duluan, why not?"
"gue..."
"...yang perlu lo pahamin dari ucapan gue barusan adalah kalo gue sayang ama lo. udah, itu aja."
aku langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Alex. beberapa tetes air mata jatuh ke pipiku. aku tak tahu apakah itu air mata menyesal dan takut atau air mata lega dan bahagia. aku hanya tak bisa melepaskan pelukan ini. tembokku roboh. aku hanya berharap masih bisa berenang untuk mempertahankan diri.
"these feelings i can't shake no more, these feelings are running out the door, and i can feel it falling down, and i'm not coming back around..." Avril Lavigne - Remember When
..........
Alex
lampu merah pertigaan bodoh ini memang tidak sampai 100 detik, tapi aku merasa seperti sudah seharian berada di sini. sepanjang waktu di sini aku mempertimbangkan jalan mana yang harus kutempuh. sepanjang waktu aku diam di lampu merah ini aku merasakan perasaan paling kuat bahwa aku memang akan pulang ke rumah. aku tidak akan kemana-mana lagi. tidak untuk waktu dekat-dekat ini.
aku bosan diam di sini. mendung dan kilat-kilat di langit yang dari tadi membayangi telah menjelma menjadi tetesan-tetesan air. aku melanjutkan lamunanku dengan pandangan kosong ke arah jendela di kananku yang dikaburkan oleh tetes-tetes air hujan. aku rasa perasaanku sekarang seperti tetes-tetes air itu. banyak dan tidak jelas. tapi mereka indah. aku memilih jalan lurus setelah pertigaan ini. jalan yang akan membawaku secepatnya ke rumah. tak lebih dari lima detik menuju lampu hijau dan aku akan melaju kencang.
..........
Sandra
aku masih merasa benar-benar bingung. ini lampu merah yang aku bisa bayangkan justru seperti lampu kuning di dalam hatiku dan pikiranku. tapi lampu kuning itu menandakan aku harus harus berhenti. tidak pernah ada lampu kuning sebelum lampu hijau. aku tidak lagi mau memejamkan mata. aku hanya akan melakukan apa yang aku akan lakukan meskipun aku tak tahu apa itu. aku tak mau lagi memanggil sunyi untuk berbicara atau menyuruh riuh diam dan meninggalkan satu suara untuk bicara.
beberapa detik lagi lampu merah ini akan menjadi hijau. tapi aku juga tidak peduli. yang bisa kusadari saat ini hanyalah aku merasa lebih senang, tenang, lega, dan nyaman meskipun dipermainkan tiga warna lampu yang membingungkan. lampu-lampu ini jauh lebih baik daripada diam dan terombang-ambing menunggu di parkiran. lagipula, lampu-lampu ini akan tetap hijau pada akhirnya.
..........
Alex
"nanti aku jemput abis kerja. kamu juga biar siap-siap dulu abis kerja. kan mau fancy dinner. aku ganteng begini kamu harus cantik banget juga."
begitulah rentetan BBM yang aku kirimkan kepada Sandra. sudah tiga bulan lebih aku ber-kekasih-kan dirinya sejak kejadian Sandra menginap di apartemenku. sejak bersamanya juga aku berhenti berhubungan dengan perempuan lain. walaupun dengan Nora yang selama ini kukejar dan terus menggantung diriku, meskipun di samping mengejarnya pun aku terus berhubungan dengan beberapa wanita lain yang terus kugonta-ganti sesuai kemauanku.
aku menghentikan semuanya. memang tidak sengaja, tapi semuanya terjadi begitu saja. aku seperti menemukan rumah di diri Sandra. aku memang menyayanginya sejak lama, tapi aku bahkan tak tahu dia akan menghentikan persinggahan-persinggahanku dan membuatku melabuhkan diri padanya.
"iya baby. aku emang udah cantik begini harus diapain lagi? bingung beneran jadinya."
aku tersenyum menatap layar Blackberry-ku saat membaca balasan dari Sandra. satu-satunya masalah yang sering membuat sunggingan semyumku menyusut adalah bahwa Sandra belum putus dengan Rino. tapi hal itu bahkan tak pernah membuatku merasa menyesal atau memikirkan ini dan itu yang tak penting. aku percaya semuanya akan berpihak kepadaku. tubuh Sandra di sini, untukku. dan jika itu terdengar terlalu bejat, yang aku maksud adalah aku percaya waktu akan mengalahkan jarak.
aku sudah membunuh waktu begitu banyak dengan menghabiskannya bersama Sandra. Rino akan kalah. aku sudah sedekat ini dengan Sandra, itu berarti aku telah jauh memenangkan hatinya dari Rino. Sandra hanya terlalu baik dan hanya menunggu untuk diputuskan. ya, aku paham Sandra tidak seperti Tira yang bisa sangat bersikap self-centred dan egois karena memutuskan mantannya begitu saja karena memang sudah tidak nyaman dan demi cintanya pada pacarnya yang sekarang ini.
aku tahu aku sudah menang.
"ya udah. nanti pake baju tidur aja sama sendal jepit. i love you."
"what would you think of me now, so lucky so strong so proud, i never said thank you for that..." Jimmy Eat World - Hear You Me
..........
Alex
lampu hijau itu akhirnya menyala. seberapa menjengkelkan pun lampu kuning dan lampu merah yang membingungkan dan membosankan itu, paling tidak sekarang sudah lampu hijau. sudah jelas lampu ini memberitahu padaku bahwa aku diperintahkan untuk berjalan maju. bahwa aku boleh menginjak gas tanpa lagi ragu. bahwa aku sudah dibukakan jalan dan diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan. perjalanan ke rumah untuk beristirahat dari perjalanan panjang dan sekian persinggahan-persinggahan yang melelahkan.
..........
Sandra
lampu hijau itu akhirnya menyala. seberapa melelahkan pun kebingungan yang diberikan lampu kuning dan keyakinan yang dipertanyakan lampu merah sepanjang ia mernyala atas keputusanku, paling tidak ini lampu hijau. aku sudah jauh mengambil keputusan. lampu hijau sudah menyala dan menyuruhku melanjutkan perjalanan yang mungkin malah menjadi perjalanan terindah. aku tak pernah tahu. tapi perjalanan ini jauh lebih baik daripada terparkir diam di lahan lapang yang sepi tanpa ada sesuatu pun yang terjadi kecuali sepi menahun.
Selasa, 06 Maret 2012
Mencintai Pagi

Aku mencintai pagi.
Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti mencintai hangatnya jingga maha indah yang meraung-raung dari timur. Seperti mencintai cahaya maha hebat yang pertama menyanyikan lagu kehidupan. Seperti mencintai silauan maha terang yang merangkak naik perlahan dari batas langit. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang akan selalu mempertahankan hangat dan cahayanya demi napasmu agar tetap berhembus dan senyummu agar tetap tergaris di sketsa wajahmu.
Aku mencintai pagi.
Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti mencintai gumpalan udara yang mulai memadat dan membeku. Seperti mencintai benderang yang mulai bertopengkan kabut. Seperti mencintai dingin yang menjilati pori sampai tunduk di bawah lindungan lembaran busa. Seperti mencintai kristal-kristal yang mengecup ujung bibir dedaunan. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang akan selalu memberimu beku agar kau kembali untuk kudekap.
Aku mencintai pagi.
Aku mencintai pagi seperti aku mencintaimu. Seperti berdusta tentang kasih terhadap hitam dan gelap malam gulita yang membelai lembut. Seperti berkhianat dengan gemerlap bintang yang menari memaksa untuk berfoya-foya. Seperti berbohong tentang detak detik jam dinding yang sunyi dan mengikatku pada jarum-jarum penjelajah karpet angka. Aku mencintaimu, seperti hatiku yang kutenggelamkan di laut malam karena mendamba fajarmu untuk menyelamatkanku.
..........
Lebih dari itu, hatiku mampu melihatmu ada di dalam dirinya lebih jelas di pagi hari. Dengan sinar matahari, dengan dingin udara subuh, dengan genggaman erat malam yang kulepas.
Langganan:
Postingan (Atom)


