Jumat, 23 September 2011

(tidak) baik-baik saja.


Memang benar jika kamu sering mendengar kalimat sederhana yang berbunyi "tidak ada yang sempurna di dunia ini". Tapi apa kamu pernah benar-benar memahaminya?

Memang tidak ada yang sempurna. Tidak semua hal yang kamu alami harus menyenangkan. Tidak semua keadaan yang kamu lalui harus baik-baik saja. Tidak semua harapan yang kamu buat harus berjalan sesuai yang kamu inginkan.

Mudah saja. Berapa banyak mantanmu yang sampai sekarang masih punya hubungan yang benar-benar baik denganmu seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara kalian, tidak ada sakit hati apapun? Beruntunglah jika kamu masih sempat menghitung, karena sayangnya aku cuma punya satu. Satu dari sekian banyak kisah yang pernah kuusahakan. Berapa banyak harapan orang tuamu yang masih sanggup kamu ingat dan kamu penuhi? Beruntunglah jika kamu masih sempat memikirkan dan mempertimbangkan, karena aku tak punya banyak. Memang benar aku kebanggan, berhasil memenuhi harapan-harapan besar mereka yang tampak. Tapi sepertinya ada semilyar harapan tak tampak dari mereka yang sudah kukhianati habis-habisan.

Tidak semua hal dalam hidup bisa baik-baik saja. Bahkan sebagian besar pasti tidak baik-baik saja. Kamu mungkin bahkan tak benar-benar paham mana yang baik dan mana yang tidak.

Mudah saja. Kamu mungkin telah tanpa sadar membalas dendam dan menyakiti lebih dari kamu pernah disakiti. Katamu, pembalasan memang selalu lebih kejam dari perbuatan. Kamu kemudian tahu kalau pendapat 'pria itu bajingan' adalah pendapat paling salah karena kamu sudah lebih buruk dari bajingan, kalau kamu mau. Semuanya lalu menjadi tidak baik-baik saja. Atau kamu sudah menjadi alasan dari hilangnya seseorang dari peredarannya yang biasa, karena kamu sempat memberinya sayap kecil untuk membantunya terbang, lalu kamu ambil lagi sayap itu tiba-tiba sampai ia jatuh menghantam bumi. Jelas keadaan tidak baik-baik saja.

Dunia memang rumit, tidak sesederhana membuka mata di pagi yang mendung dan kemudian kebetulan menemukan kopi instan dan lalu menyeduhnya dan akhirnya pagimu menjadi baik-baik saja. Lebih banyak hal yang tidak baik-baik saja. Maka terima saja.

Rabu, 07 September 2011

"...namanya Ikhlas."


Tuhan baik menciptakan konsep luar biasa bernama Ikhlas. Tidak kalah luar biasa dengan penciptaan Bumi yang bulat mengintari Matahari dan diintari Bulan dengan teratur dalam tatanan agung Bimasakti. Tuhan baik melahirkan rumus bernama Ikhlas yang rumit dan kompleks, namun mampu menjadi jalan keluar pemecahan fenomena alam, melebihi rumus ajaib Einstein tentang kecepatan cahaya. Tuhan baik merancang gambaran abstrak bernama Ikhlas yang tidak mampu diindera sama sekali, kecuali diamini.

Tuhan teramat baik jika sampai menyematkan Ikhlas-Nya ke sebuah jiwa yang pantas. Agar jiwa itu mampu bersyukur. Agar jiwa itu mampu lebih mengagungkan Tuhan-nya dan ciptaan-Nya yang lain seperti Waktu. Bahwa Waktu bukan sekedar berjalan, melainkan berlari. Bahwa semuanya akan tertinggal dan berubah. Bahwa semuanya sudah ditata sesuai porsinya dan kita tinggal menerima dan menjaganya tetap berarti.

Tuhan sangat baik mengandungkan pemahaman besar di balik Ikhlas. Bahwa Ikhlas adalah tentang menerima kenyataan dimana segala sesuatu apapun yang terjadi adalah baik pada hakikatnya. Tak ada yang perlu diprotes. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu dicaci-maki dan dibenci. Semua kejadian adalah baik. Semuanya pasti berubah, tapi tak ada yang harus merusak. Semuanya baik pada awalnya, dan pantas untuk tetap menjadi baik selamanya.

Tuhan baik menciptakan Ikhlas agar kamu berdamai dengan bagian-bagian dari sejarah hidupmu. Agar kamu mampu melihat hakikat kebaikan dari segala kejadian itu. Tuhan baik menciptakan Ikhlas agar sejarah yang seharusnya berharga dan indah sampai kapanpun, tidak menjadi sekedar tulisan yang memudar di atas buku tua dengan kertas kecokelatan yang tidak menarik, tidak bernilai, dan akan segera dibakar dengan mudahnya.

Selasa, 30 Agustus 2011

planet 'kamu dan aku'

sayang, kita alien. dua ekor alien dari planet yang masing-masing berbeda. kita dua ekor, karena kita sedikit tidak manusiawi dalam mengasihani perasaan orang lain. planet kita masing-masing benar-benar subur dan sejahtera. planet sempurna yang memberikan kesempurnaan yang kita butuhkan.

sayang, kebutuhan itu lalu dikalahkan oleh keinginan kita. kita terbang jauh, tidak lagi menoleh ke belakang, dan menuju planet baru. planet baru yang hanya berisi kamu dan aku. sayang, ternyata kita bahkan di galaksi lain. galaksi di luar galaksi planet-planet yang kita huni sebelumnya. jauh. benar-benar jauh. sayang, kita bersama, menyatu, dan melekat erat di planet baru itu. pada keadaan itu, kita tidak lagi tahu atau mau tahu dengan planet asal kita masing-masing. planet lama yang lama-kelamaan kering dan gersang ditingglkan oleh kita.

sayang, diri kita telah terlarut dalam atmosfer planet baru itu. jalan pulang menuju planet asal kita kemudian semakin samar. hampir hilang. entahlah. mungkin akan benar-benar hilang. atau pesawat luar angkasa milik kita yang rusak total dan tak bisa mengantarkan kita pulang. kita sendiri yang merusaknya, sayang.

sayang, kita punya bahasa sendiri. bahasa yang hanya hidup di antara kita. kita berkomunikasi dengan isyarat. dengan mata yang saling menyorot tajam dan dalam, dengan bibir tanpa suara, dengan jari yang saling menggenggam. kita sungguh tidak mampu berkomunikasi dengan cara orang pada umumnya. atau dengan cara yang kita pakai di planet asal kita.

sayang, kita dua ekor alien dengan hati yang masing-masing compang-camping. hati yang hanya tampak cantik saat bersanding satu sama lain. kita juga memantrai udara yang menyelimuti planet kita dengan terlalu sakti, sayang. udara itu semakin pekat menyesakkan paru-paru kita sampai kita tak lagi mampu lepas darinya. kita tak bisa lagi menembus lapisan udara itu untuk meloloskan diri keluar dari planet kita.

sayang, kita terperangkap di planet ini. kita mencinta. kemudian tak tahu apa-apa lagi. apapun.

Kamis, 25 Agustus 2011

"ga usah kayak orang culun dah, gitu aja bingung. woley kali. woles dulu aja, dinikmati sek ben edan. ntar juga ada jalannya sendiri kok." -@hendriknova

Tuhan dan Karma



Tuhan, bagaimana Kamu membalaskan karma?

*****

dari kami yang kesakitan, kami terbangkan ke langit doa yang selalu berbunyi "Tuhan tau, dan Tuhan akan membalas semuanya." dari kami yang kesakitan, kami pasrahkan semuanya dan meyakinkan diri bahwa Kamu selalu ada untuk kembali menguatkan kami dan membuat jera sosok penyebab sakit yang kami rasakan. entah dengan cara apa.

yang aku ingin tahu, Tuhan, dengan cara apa Kamu biasa memenuhi doa dan keyakinan kami? sungguhkah Kamu yang membalas semuanya? melalui media apa? sungguhkan pembalasan itu urusanMu dan tak lagi melibatkan kami? atau Kamu suka membalaskan karma-karma itu melalui kami sendiri?

setiap aku kesakitan, aku tak pernah mau tau lagi apakah sosok penyebab kesakitanku kemudian merasakan kesakitan yang pernah dia berikan padaku. apa setiap mereka mendapatkan balasan yang batinku lepaskan ke langit padaMu, aku tak pernah benar-benar tau. yang aku tau, aku sering menjelma menjadi sosok orang yang pernah menyakitiku, dan menyakiti orang lain seperti bagaimana aku disakiti dulu. apakah itu salah satu cara yang Kamu kehendaki? apakah itu salah satu caraMu mengaminkan doa yang kuterbangkan padaMu? apa karma-karma itu harus terbalas melalui diriku sendiri?

Tuhan, haruskah aku menjadi demikian posesif dan membuat muak orang lain hingga hilang dariku, seperti apa yang dulu kualami? haruskah aku bermain hati dengan banyak hati dan dengan cepat menjelma menjadi jarum yang memecahkan balon harapan mereka yang warnanya telah terbang menyatu indah dengan biru langit, sebagaimana sosok penyebab kesakitanku sering lakukan? haruskah aku menjadi sosok penyebab sakitku dan menyakiti orang lain? haruskah karma yang kuminta padaMu untuk dibalaskan, terbalaskan melalui diriku sendiri?

dari kami yang tersakiti, kami lepaskan doa ke langit agar Kamu membalaskan semuanya, menjadikan apa yang pantas terjadi dengan kuasaMu yang mampu menjadikan segala sesuatu, menguatkan kami dari kepasrahan, dan mengamini keyakinan kami atas pembalasanMu. dari kami yang tersakiti, kami terbangkan asa untukMu menjadikan apa yang pantas terjadi bagi mereka dan kami sendiri, tanpa melibatkan kami dalam tangan hebatMu yang penuh kuasa.

*****

karena Tuhan, aku tau tersakiti bahkan lebih baik rasanya daripada menyakiti.

Rabu, 10 Agustus 2011

aku melihat semuanya berlari...

aku melihat semuanya berlari...

aku berlari mengejarmu.
menggugurkan seluruh ego untuk menjadikanmu raja.
meluruhkan semua keakuan demi mengubahmu menjadi duniaku.
terus-menerus berlari.
sampai napas tersengal.
sampai langkah tergopoh.
dan kamu tak juga menoleh ke arahku.

kamu berlari mengejarnya.
mengagung-agungkan setiap inci dirinya.
menggilai setiap senyum atau lekuk apapun di wajahnya.
terus-menerus berlari.
sampai kakimu tekilir dan jatuh.
sampai terduduk dan berat untuk bangkit.
dan dia tak juga peduli.

dia berlari mengejarku.
memperhatikanku dalam diam sampai bersuara.
menghayatiku dalam cermin kesempurnaan diantara bayang.
terus-menerus berlari.
sampai kehilangan daya.
sampai menyerah bersama kepingan hati.
dan aku tak juga sadar.

sesaat aku melihat kita melambat...

mengerlingkan mata ke arah satu sama lain.
menolehkan wajah dan tersenyum manis.
mulai memelankan langkah.
lalu berjalan berdampingan.
bergadengan dalam genggaman erat.
namun hanya sesaat.
sepersekian detik.

lalu kita memutar arah...

berbalik dan mulai berlari lagi.
aku justru menuju padanya dan dia tak peduli.
kamu justru menuju padaku dan aku tak menoleh.
dia justru menuju padamu dan kamu tak mau tau.
saat itu kita semua benar-benar merindu.

aku melihat semuanya berlari...

bahkan memori, nada dan puisi, jika kita beruntung.
mereka berkejaran dan berlomba dengan waktu untuk mengisi ruang.
ruang sepersekian detik kita memelankan langkah dan berdampingan.
sebelum kita mulai berlari lagi.

Sabtu, 30 Juli 2011

Senin, 11 Juli 2011

Aku sudah gila.

Aku sudah gila.

Aku bisa duduk sendiri di samping sawah di siang terik. Lari dari ramai tawa teman-temanku. Mencabik-cabik rumput. Menghantam tanah dengan kepalan tangan terus menerus. Mengabaikan orang yg lewat dan menatap aneh, bahkan ngeri terhadapku.

Aku bisa mencacimu. Sampai tak ada lagi kata kotor yg terlewat diabsen. Sampai kau bisa menangis membayangkan ayah ibumu yg bahkan tidak pernah melakukan hal itu padamu.

Aku bisa meneriakimu. Sampai kerongkonganku kering dan sakit sendiri. Aku bisa melempar semua yg ada di hadapanku ke wajahmu. Aku bisa tertawa puas saat kau sakit, luka, dan berdarah.

Aku bisa sangat membencimu. Bahkan lupa kalau aku sangat mencintaimu. Aku bisa menuliskan burukmu sampai tak lagi merasakan baikmu sama sekali. Aku bisa lupa apa alasanku mengejarmu dulu dengan segenap daya.

Aku bisa begitu bodoh. Aku bisa ditertawakan temanmu, sahabatmu, keluargamu. Karena aku lebih dari badut bodoh yg paling jelek dan menggelikan. Aku bisa membuat semuanya menggelengkan kepala menahan tawa atasku.

Aku bisa membuat bagian-bagian tubuhku bengkak, memar, dan membiru satu-persatu. Aku bisa lupa punya tanggung jawab. Aku bisa lupa punya orang tua yg harus dibuat bangga. Aku bisa tak mau tahu ada orang yg masih megharapkan keadaan baikku. Aku bisa lupa kalau aku punya napas yg harus disyukuri.

Aku bisa bergegas mengeluarkan motor dari garasi. Lalu membiarkan jalanan menelanku tanpa ada usaha melawan atau mempertahankan diri. Aku bisa ingin mati. Atau setidaknya meracuni diri perlahan-lahan.

Aku bisa geger otak dan tak punya ingatan. Tak punya kenangan. Kenangan yg padahal terlalu besar untuk dibiarkan menguap ke udara. Aku bisa hanya mampu menenggelamkan diriku sendiri di lautan emosiku. Tanpa oksigen untuk bertahan hidup.

Aku sudah gila.

Rabu, 22 Juni 2011

kita berjalan terlalu jauh. sampai lelah.
kita berdiri terlalu dekat. sampai sesak.
kita menatap terlalu lekat. sampai samar.
seharusnya kita tetap diam tak beranjak dari sudut masing masing.

jauh dan masih saling tergila gila.

Rabu, 25 Mei 2011

ruang tunggu


"kita. setahun. selamat."

aku menekan lagi tombol 'back' dan memilih tidak memasukkan pesan tadi ke draft. tidak penting. apa artinya kuantitas dibandingkan kualitas? apa artinya jumlah waktu kita bersama dibandingkan hebat rasa yang tertampung dalam hatiku? untuk apa aku mengirim pesan singkat untuk mengingatkanmu seberapa lama kita telah bersama kalau hati kita selalu lebih mampu saling memberitahu satu sama lain bahwa mereka terikat kuat.

.....

ini sudah setahun. dan semua masih sama. aku masih duduk di ruang tunggu. ruang tunggu hatimu. menunggu kepastian. kadang keadaan membuatku harus keluar dari ruang itu dan kembali pulang ke rumah. lelah dan beratnya segala sesuatu yang harus kulalui di dalam ruang itu membuat aku melangkah mundur, menuju pintu keluar dan mencari nyenyak di tempat tidurku yang nyaman di rumah agar bisa memulihkan kekuatanku untuk kembali ke ruang tunggu itu. dan memang selalu begitu. aku dan hebat hati serta rasaku selalu mampu terbangun dengan kondisi paling prima untuk kembali berlari menuju ruang tunggu hatimu. aku selalu mampu menggerakkan kakiku secepat mungkin untuk kembali memasuki pintu ruangan itu dan kembali terombang-ambing.

tempat itu memang ruang tunggu. selayaknya pergi ke dokter, aku harus menunggu giliran dan mematuhi urutan. karena sudah ada orang di dalam ruangan dokter yang sedang diperiksa. sama saja seperti ruang hatimu. aku harus mengantri. karena sudah ada orang lain di dalam. tak apa, aku disini mendampingimu meskipun tidak dalam satu ruangan. aku ada untukmu. aku sabar menanti seperti selayaknya pasien yang harus menunggu demi kesehatannya sendiri. aku menanti demi rasaku padamu yang sudah tidak mampu dan sudah terlalu terlambat untuk kumuarakan ke tempat lain. rasa ini sudah meluap, di ruang tunggu ini, bukan di tempat lain, dan memang tak bisa lagi dipindahkan ke tempat lain. aku tidak peduli karena kamu selalu menyapa balik rasaku. aku tau kamu di dalam sana mendambakanku untuk akhirnya masuk dan menjadi satu-satunya, karena aku tau pasti tak ada pasien lain lagi setelahku yang mengantri.

.....

aku senang malam ini. waktu seperti biasa aku bisa mencicipi kesempatan untuk bersamamu. waktu yang selalu aku nikmati di antara berbagai halangan yang membatasinya. bukan karena makan malam yang enak, tapi memang karena luapan rasaku yang membutuhkan tampungan bisa bertemu hati penampungnya. aku senang malam ini. waktu seperti biasa aku justru mampu menguatkan rasaku atasmu bersamaan dengan aku merasakan ketidakpastian antara kita yang selalu memecahkan perang antara egoku yang bersebrangan. yang satu untuk memilikimu seutuhnya dan yang satu untuk menerimamu bagaimanapun keadaannya.

"sudah setahun ya kita berhubungan."
"ya, aku tau."
"tumben ga ada ucapan selamat kali ini."
"tadinya ada, tapi kubatalkan. untuk apa?"
"........ maafkan aku."
"untuk apa?"
"cuma ini yang bisa kuberikan padamu. seadanya. jauh dari seutuhnya."
"berapa kali aku harus menjelaskan kalau aku tidak peduli. bagiku hati adalah segalanya. dan hatiku memilih menjalani semua ini."
"maaf..."
"hatiku sudah puas dengan semua ini. aku tak peduli apa keadaannya."
"kamu memang berarti. akan ada saat kamu mendapatkan yang utuh dariku."
"ya, terima kasih untuk itu kalau begitu."

.....

"selamat setahun lima bulan."

untuk kesekian kalinya kalimat itu aku sebut dalam hati hari ini. tadi malam aku bertemu pacarmu. saat aku sedang bersamamu. aku tak pergi dan mengalah karena aku tau aku pantas. lagipula batinmu kukuh menguatkanku untuk tinggal. tak banyak kata yang terucap. semuanya canggung. mungkin aku harus berterima kasih atas kecanggungan itu karena jika beku itu mencair sedikit saja, mungkin akan mencipratkan luka dan babak belur kecil-kecilan di teras rumahmu. tapi untuk apa juga berterima kasih pada kecanggungan, toh aku tidak peduli jika memang akhirnya ada sedikit darah dan memar yang muncul. walaupun akhirnya memang hanya beku. tapi entah mengapa malam itu aku pulang dengan perasaan menang tanpa pernah benar-benar bertarung.

.....

aku duduk tenang di sudut kesukaanku dalam ruang tunggu hatimu. menikmati secangkir kopi kental sambil samar melihat pintu masuk ke ruang hatimu terbuka. tapi pasien sebelumku belum juga keluar. aku agak lelah, tapi hari ini aku tak memilih pulang ke rumah dan mencari nyenyak. aku rasa aku masih sanggup sedikit lagi bertahan di ruang ini dalam waktu ini.

aku fokus memandangi kota yang sibuk di luar jendela. saat itu aku sedang meneguk dua teguk terakhir kopi yang tersisa dalam cangkirku dan aku mendengar ada yang menutup pintu keluar ruang tunggu dengan sedikit membanting marah. aku mengarahkan pandanganku ke sudut lain. sudut dimana ada pintu masuk kehatimu. kulihat pintu itu terbuka lebar. ada cahaya menyilaukan dari dalam sana dan sosok luar biasamu yang berdiri tersenyum padaku di sana. saat itu aku tau aku takkan lagi melalui pintu keluar dan pulang karena kelelahan. lagipula aku tau kini aku melangkah berpindah selamanya dari ruang tunggu itu.

.....


inspired at : Panhegar Burjo, May 24 2011, about 8-9 pm
written at : Kamar Gelap, May 25 2011, about 01.30 am