Selamat sore, jodoh.
Halo. Apa kabar? Kamu dimana? Sudah di dekatku atau masih jauh? Aku bertanya bukan karena tak sabar menyatu, aku hanya penasaran. Siapa yang tidak? Semua orang penasaran kan? Tapi aku tidak khawatir. Aku tau aku punya waktunya. Sudah ditulis. Takdir. Apa lagi kalau bukan itu. Iya kan? Aku tau kamu pasti setuju. Santai saja dalam perjalananmu menemuiku, perjalananmu menyatu denganku. Kamu boleh kok istirahat sekali sekali. Tak harus berjalan tanpa henti. Kamu boleh singgah. Kemana saja. Kamu boleh melakukan apa saja sambil melaksanakan perjalananmu. Tak apa. Lagipula aku kan juga begitu. Aku menunggu sambil sesekali berjalan jalan dan melakukan berbagai hal.
Halo. Aku mau minta maaf sudah membuatmu menderita selama hidupmu karena mencuri bagian tutbuhmu, sepenggal rusukmu. Maafkan aku membuatmu hidup dalam kecacatan. Cacat kekurangan sepenggal rusuk. Maafkan aku. Tapi bukan aku yang berkehendak. Tuhan yang melakukannya. Jadi kamu jangan marah padaku ya? Maaf karena keberadaanku membuatmu sakit. Sakit karena tak punya sepenggal rusuk. Maaf karena untuk menciptakanku kamu harus kehilangan bagian dirimu. Maaf karena dari kodratnya aku telah menyakitimu. Meskipun orang bilang kaummu lah yang suka membuat sakit kaumku, pada kenyataannya kaumku lah yang secara harafiah menyakiti kaummu.
Halo kamu. Kamu siapa? Aku ingin tau walaupun aku tau aku pasti akan tau. Aku akan menebus kesalahanku. Aku janji. Tuhan tau itu dan Dia akan melakukannya. Tuhan akan membuat aku menebus kesalahanku padamu karena secara kodrat telah menyakitimu. Aku percaya itu. Kamu juga percaya kan? Bagian tubuhmu yang hilang akan disatukan kembali ke asalnya untuk melayanimu, membuatmu mengalami segala kebaikan, bahkan tak ada lagi keburukan. Aku janji. Itulah tebusan atas utangku. Kamu mau kan menunggu waktu itu datang? Kamu harus mau, karena aku mau. Sabar ya. Bersabarlah sambil belajar hal sebanyak banyaknya meskipun pelajaran itu buruk. Karena secacat apapun keadaanku ataupun keadaanmu, kita akan tetap menyatu. Hanya di tubuhmu aku bisa menempelkan diriku. Itu yang akan terjadi.
Aku mencintaimu. Semoga kamu memang sudah dekat agar tak usah berjalan terlalu jauh lagi.
Selamat sore, pemilik tulang rusuk :)
Sabtu, 05 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
day #22 - untuk hembusan rasa dan pikiran

Selamat malam, asap rokok.
kamu memukauku setiap kamu menyembur ke udara. kamu memukauku setiap kamu ikut maracuni udara yang kuhirup masuk paruku. kamu memukauku setiap kamu menyamarkan wajah penghirupmu dan perlahan membuyar sehingga ia jelas dan balik memukauku melebihi aku memukaumu.
kamu membuatku berpikir dan merasa di setiap saat hembusanmu menyatu mengotori senyawa ruang tak terlihat. satu hembusan, satu sisi rasa dan pemikiran yang kualami.
malam ini aku duduk bersamanya dan kembali menyaksikan kamu terurai habis secara bertahap ke samar gelap malam melalui sebatang rokok yang hangat ia hisap.
hembusan pertama, aku mengetahui rasaku semakin kuat, semua unsur kisah menguat dan membaik dan akhirnya semua menjadi semakin manis. hembusan kedua, aku mengetahui bahwa sederhananya aku semakin takut kehilangan dia. hembusan ketiga, aku megetahui bahwa kehilangan memang sudah sepatutnya terjadi, kehilangan adalah hal paling dekat dan paling erat kudekap dalam kisah ini. hembusan keempat, aku mengatahui rasa yang ia kembalikan padaku menguat. hembusan kelima, aku mengetahui aku tak pantas untuk rasa yang membesar dan menguat darinya itu. hembusan keenam, aku mengetahui bahwa aku harus menyerahkan segalanya untuk yang pantas, tapi kembali ke hembusan kedua, aku sakit untuk itu. hembusan ketujuh, aku mengetahui tulisan yang sudah tertulis dari aku belum berwujud bahwa semua akan tetap terjadi, tapi aku kembali ke hembusan ketiga dan semakin menjadikan besar momok terhadap masa depan.
ia mematikan rokoknya sebelum sebatang itu benar benar habis terbakar dan berpamitan pulang. pikiran dan rasaku terhenti sampai disitu. sisi kisah yang tercoret dalam otak dan hatiku berhenti sampai sisi ketujuh. semuanya bertolak belakang sekaligus berhubungan. dan aku hanya mampu melakukan hal yang sama pada setiap saat yang sama tanpa menyelesaikan pikiran dan rasaku, apalagi masalah yang hadir dari itu.
Selamat malam, hembusan rasa dan pikiran.
nb. tadinya mau pake poto aseli zzzzz :P
day #21 - untuk Mama Ari
Selamat malam, Tante.
Aneh menyapamu begitu karena kamu sudah punya sapaan yang semua orang pakai untuk menyapamu. Tapi apapun itu, aku harap aku bisa sempat menyapamu langsung sebelum akhirnya aku tak bisa seperti sekarang ini. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah ratusan kali Ka Ana berkoar koar mengajakku secepatnya liburan ke Malaysia. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah aku, papa dan mama sudah pernah berencana merayakan lebaran bersamamu. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah mama sudah melakukannya. Dan itu salah satu alasan besarku menangis sekarang.
Aku ingin terus menjadi anak kecil yang menghabiskan detik hari bersamamu. Aku benci menjadi besar. Aku mau kamu, aku, dan kita semua dulu. Aku rindu. Aku mau kita membuat kue pistel bersama dan yang kubuat hanya bagian tepungnya tanpa isi karena aku tak suka sayuran untuk isinya. Aku ingin dijahitkan baju olehmu. Aku ingin duduk disajikan wejangan nasehat olehmu dan Om Djama. Aku rindu kamu dan rumah besar yang sudah seperti istana kita. Istana anak anak. Ya, kita semua masih anak anak. Termasuk lima orang anakmu. Aku rindu.
Sekarang aku hanya punya satu alasan untuk berhenti menangis. Alasan itu datang dari seseorang saat ia memastikan aku tidak terlalu sedih, karena akan ada saat dimana sedih sungguhnya datang. Akan ada saatnya rasa sedih benar benar utuh menyerang dan aku mampu menangis selama seminggu tanpa henti. Dan tepat saat itulah aku berhenti menangis, lalu ingin pulang dan memeluk papa mama dan tak mau kulepas lagi.
Innalilahi wa innailaihi rajiun.
Semoga amal ibadahmu diterima dan diberikan tempat paling baik bersama orang orang paling baik disana.
Kiriman doa terbaik untukmu.
Selamat malam, Mama Ari :')
Aneh menyapamu begitu karena kamu sudah punya sapaan yang semua orang pakai untuk menyapamu. Tapi apapun itu, aku harap aku bisa sempat menyapamu langsung sebelum akhirnya aku tak bisa seperti sekarang ini. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah ratusan kali Ka Ana berkoar koar mengajakku secepatnya liburan ke Malaysia. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah aku, papa dan mama sudah pernah berencana merayakan lebaran bersamamu. Aku belum sempat menemuimu bahkan setelah mama sudah melakukannya. Dan itu salah satu alasan besarku menangis sekarang.
Aku ingin terus menjadi anak kecil yang menghabiskan detik hari bersamamu. Aku benci menjadi besar. Aku mau kamu, aku, dan kita semua dulu. Aku rindu. Aku mau kita membuat kue pistel bersama dan yang kubuat hanya bagian tepungnya tanpa isi karena aku tak suka sayuran untuk isinya. Aku ingin dijahitkan baju olehmu. Aku ingin duduk disajikan wejangan nasehat olehmu dan Om Djama. Aku rindu kamu dan rumah besar yang sudah seperti istana kita. Istana anak anak. Ya, kita semua masih anak anak. Termasuk lima orang anakmu. Aku rindu.
Sekarang aku hanya punya satu alasan untuk berhenti menangis. Alasan itu datang dari seseorang saat ia memastikan aku tidak terlalu sedih, karena akan ada saat dimana sedih sungguhnya datang. Akan ada saatnya rasa sedih benar benar utuh menyerang dan aku mampu menangis selama seminggu tanpa henti. Dan tepat saat itulah aku berhenti menangis, lalu ingin pulang dan memeluk papa mama dan tak mau kulepas lagi.
Innalilahi wa innailaihi rajiun.
Semoga amal ibadahmu diterima dan diberikan tempat paling baik bersama orang orang paling baik disana.
Kiriman doa terbaik untukmu.
Selamat malam, Mama Ari :')
Selasa, 01 Februari 2011
surat cinta day #20 - untuk yang pantas
Selamat sore, kembaran!
sebelumnya aku ingin berkenalan. karena kamu tak pernah tau siapa aku. hanya aku yang tau kamu dan hampir selalu dibayangi olehmu. walaupun sebenarnya aku juga tak butuh kamu tau siapa aku. dan bahkan kamu sendiri jauh lebih tak butuh lagi.
awalnya aku tak pernah peduli denganmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. karena aku tak berekspektasi. aku tak menciptakan secuil harapan pun dalam kisahku. lama kelamaan segala rasa menguat, keadaan mendukung, dan aku jatuh semakin dalam dan mulai tak mampu mencari jalan keluar menuju permukaan lagi. pada titik itu aku mulai merisaukanmu. aku mulai risih dengan keberadaanmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. karena aku mulai berekspektasi dan harapan tercipta semakin melebar.
namun sekarang aku kembali berpikir. berpikir banyak. aku tak harus lagi takut dengan kehilangan karena itulah konsekuensi sejak awal tentang kisah ini. itulah satu satunya hal yang kupahami pertama kali sejak aku memulai. aku tak perlu merisaukanmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. sampai pada tempat dimana aku kehilangan dan segala sesuatu beralih ke dekapanmu pun, itulah yang paling pantas. karena sepemahamanku, semuanya pantas terjadi kecuali bersamaku. semuanya unsur di dalam ini pantas kecuali aku. semuanya pantas, apalagi kamu.
aku mengikat rasa untuknya. rasa yang kuat. rasa yang kuatur melalui pemikiranku dalam sarang otakku dan kusimpan rapi tak terusik di dalam hati. rasa yang setelah kutata, aku tak mau mengubah tataan itu lagi. sama sekali. aku menjalani kisah manis dengannya. dengan dekapan balik yang begitu hangat ia beri untukku. tak ada yang salah dengan semua itu. yang salah hanya penempatan aku. aku tak seharusnya disitu. tak pantas. lebih baik kamu yang ditempatkan disitu. lebih baik dan pantas.
jadi kenapa aku harus merisaukanmu? kenapa asaku pada kisah ini harus membuatku terganggu dengan bayangmu? kehilangan sudah menjadi konsekuensi sejak awal, aku sudah seharusnya siap. dan pengalihan padamu tidak seharusnya menjadi distraksi berlebihan pada sakitku. seharusnya semuanya baik baik saja. karena yang kurisaukan tentangmu adalah hal yang sesungguhnya sudah paling pantas ada sejak awal. kenapa lagi harus merisaukanmu?
Selamat sore, yang pantas!
sebelumnya aku ingin berkenalan. karena kamu tak pernah tau siapa aku. hanya aku yang tau kamu dan hampir selalu dibayangi olehmu. walaupun sebenarnya aku juga tak butuh kamu tau siapa aku. dan bahkan kamu sendiri jauh lebih tak butuh lagi.
awalnya aku tak pernah peduli denganmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. karena aku tak berekspektasi. aku tak menciptakan secuil harapan pun dalam kisahku. lama kelamaan segala rasa menguat, keadaan mendukung, dan aku jatuh semakin dalam dan mulai tak mampu mencari jalan keluar menuju permukaan lagi. pada titik itu aku mulai merisaukanmu. aku mulai risih dengan keberadaanmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. karena aku mulai berekspektasi dan harapan tercipta semakin melebar.
namun sekarang aku kembali berpikir. berpikir banyak. aku tak harus lagi takut dengan kehilangan karena itulah konsekuensi sejak awal tentang kisah ini. itulah satu satunya hal yang kupahami pertama kali sejak aku memulai. aku tak perlu merisaukanmu dan atau wanita lainnya. siapapun itu. sampai pada tempat dimana aku kehilangan dan segala sesuatu beralih ke dekapanmu pun, itulah yang paling pantas. karena sepemahamanku, semuanya pantas terjadi kecuali bersamaku. semuanya unsur di dalam ini pantas kecuali aku. semuanya pantas, apalagi kamu.
aku mengikat rasa untuknya. rasa yang kuat. rasa yang kuatur melalui pemikiranku dalam sarang otakku dan kusimpan rapi tak terusik di dalam hati. rasa yang setelah kutata, aku tak mau mengubah tataan itu lagi. sama sekali. aku menjalani kisah manis dengannya. dengan dekapan balik yang begitu hangat ia beri untukku. tak ada yang salah dengan semua itu. yang salah hanya penempatan aku. aku tak seharusnya disitu. tak pantas. lebih baik kamu yang ditempatkan disitu. lebih baik dan pantas.
jadi kenapa aku harus merisaukanmu? kenapa asaku pada kisah ini harus membuatku terganggu dengan bayangmu? kehilangan sudah menjadi konsekuensi sejak awal, aku sudah seharusnya siap. dan pengalihan padamu tidak seharusnya menjadi distraksi berlebihan pada sakitku. seharusnya semuanya baik baik saja. karena yang kurisaukan tentangmu adalah hal yang sesungguhnya sudah paling pantas ada sejak awal. kenapa lagi harus merisaukanmu?
Selamat sore, yang pantas!
surat cinta day #19 - untuk yang benar bertarung

Selamat malam, Fara Aldila Tuanaya!
Aku mencintaimu. Sungguh. Untuk darah sejenis meskipun cukup jauh yang mengalir dalam tubuhmu juga tubuhku. Untuk nama paling belakangmu yang sama dengan milik mamaku. Untuk suatu pulau kecil yang sungguh indah yang sama kita tuju dan kita sebut kampung halaman. Karena untuk itu aku memang melekat padamu, takkan pernah lepas oleh alasan apapun yang dibawa oleh kehidupan. Karena untuk itu aku mencintaimu.
Aku mencintaimu. Sungguh. Untuk batin yang telah kamu ikatkan seerat mungkin dengan batinku. Untuk waktu yang tak habis kau sediakan untukku. Untuk pengertian dan pemahaman besar yang kamu punya untukku meski kata tak pernah sampai dariku tentangku untukmu. Untuk semua iya yang kamu punya untuk mendukungku dan semua tidak yang kamu lantangkan untuk menjagaku. Untuk label yang umumnya orang sebut sahabat meskipun kita lebih suka menyebutnya saudara dan meskipun secara harafiah memang begitu. Untuk kebersamaan fisik dan nonfisik yang terikat kuat dan tak termasuk dalam jenis kebersamaan apapun karena terlalu luar biasa. Karena itu aku mencintaimu.
Aku mencintaimu. Sungguh. Untuk kisah yang kaubiarkan aku tuk menyaksikan dan memahaminya. Kisah yang sewujud dengan yang dulu pernah aku lewati. Untuk rasa rasamu atas kisahmu yang entah karena kaitannya dengan paragraf pertama atau kedua begitu aku pahami. Untuk pelajaran hebat yang mampu kamu ukir dalam ceritamu itu. Pelajaran yang tak pernah mampu aku buat. Untuk pelajaran yang bisa kupelajari darimu. Bahwa sesungguhnya yang benar berjuanglah yang akan menjadi pantas, yang benar bertarunglah yang akan menuai yang manis. Karena itulah aku mencintaimu.
Selamat malam, yang benar bertarung!
Senin, 31 Januari 2011
day #18 - untuk Hendrik Nova Adiyatma

Selamat pagi, kata kata.
Kamu jagonya dalam hal itu. Surat ini seharusnya padat dan penuh kipikan dengan kata untukmu. Tapi aku tak pernah lebih hebat darimu untuk itu. Dan tak akan pernah. Kamu tetap rajanya. Raja kipik. Dan aku bukan ratunya. Takkan pernah menjadi ratunya. Maka sekian yang dapat kurangkai. Terima kasih.
Wabillahitaufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuuh.
Selamat pagi, Hendrik!
Sabtu, 29 Januari 2011
day #17 - untuk yang bermimpi
Selamat malam, Asa!
kamu tau? kamu selalu terdengar jauh lebih indah saat dilantunkan bersama orang-orang berharga. berharga karena alasan hebat yang tidak sedikit dan tidak sembarangan. kamu indah saat dilisankan bersama, bahkan saat konteksmu adalah masa depan yang menakutkan dan seakan mampu menelan hidup-hidup. kamu terasa begitu agung saat dibayangkan bersama, walaupun yang terbayang telah melampaui setinggi-tingginya probabilitas.
jangan berhenti bermimpi. bersama. aku suka mendengarnya. apalagi saat semua yang melantunkannya ada di dalamnya. di dalam asa yang diciptakan. jangan berhenti. aku suka mendengarnya. meskipun isinya tak mungkin dan berlebihan. jangan berhenti. aku suka. karena kita akan benar-benar berjuang menggapai dan tinggal di dalam asa itu. jangan berhenti bermimpi. jangan berhenti melantunkannya. bersama-sama. aku cinta kalian.
Selamat malam, yang bermimpi!
kamu tau? kamu selalu terdengar jauh lebih indah saat dilantunkan bersama orang-orang berharga. berharga karena alasan hebat yang tidak sedikit dan tidak sembarangan. kamu indah saat dilisankan bersama, bahkan saat konteksmu adalah masa depan yang menakutkan dan seakan mampu menelan hidup-hidup. kamu terasa begitu agung saat dibayangkan bersama, walaupun yang terbayang telah melampaui setinggi-tingginya probabilitas.
jangan berhenti bermimpi. bersama. aku suka mendengarnya. apalagi saat semua yang melantunkannya ada di dalamnya. di dalam asa yang diciptakan. jangan berhenti. aku suka mendengarnya. meskipun isinya tak mungkin dan berlebihan. jangan berhenti. aku suka. karena kita akan benar-benar berjuang menggapai dan tinggal di dalam asa itu. jangan berhenti bermimpi. jangan berhenti melantunkannya. bersama-sama. aku cinta kalian.
Selamat malam, yang bermimpi!
Jumat, 28 Januari 2011
day #16 - untuk para perasa

Selamat pagi, Patah Hati.
Selamat pagi, semua yang mampu merasakannya. kalian hebat karena mampu merasakannya. kalian sepantasnya bersyukur karena bisa merasakannya. kalian tak pantas mengeluh. kalian orang yang memiliki hati hebat karena merasakannya. hati kalian dibuat hebat olehnya. karena hebatnya, kalian pantas untuk yang hebat dan itu butuh waktu. tak ada yang rumit. kesakitan itu menghebatkan kalian, dan karena kalian hebat, kalian pantas untuk yang hebat dan itu tak mudah. bukan ada dimana-mana.
Selamat pagi, Jatuh Cinta.
Selamat pagi semua yang mampu merasakannya. kalian juga yang wajib bersyukur karena mampu merasakannya. kalian harus bersyukur karena mampu bahagia dan tersenyum. kalian yang mampu melihat semua berubah indah. kalian pemilik imajinasi tertinggi karena indera mensensasikan dan mempersepsikan semuanya menjadi yang tak mampu orang lain tau. selamat untuk kalian yang mampu merasa aman dan nyaman. kalian yang mampu merindu. tak ada yang rumit. nikmati saja dan berhenti mengkhawatirkan.
Selamat pagi, Para Perasa.
selamat karena kalian punya hati. kalian menggunakannya. mengoptimalisasikannya. selamat karena kalian hidup dalam drama. itu bukan kecacatan. itu kelebihan luar biasa. drama itu luar biasa. selamat karena kalian tidak bangga dan sombong dengan otak kalian seperti Para Pemikir. mereka tak tau bagaimana nikmatnya dunia drama. Alice pun ingin pindah dari Wonderland ke sini. bangga lah kalian karena kalian punya organ yang lebih luar biasa dari sekedar otak, itulah hati.
untuk rasa, apapun kamu, sakit maupun bahagia, jaga hati yang menampungmu. selamatkan mereka. jangan biarkan mereka mati karena kamu takkan lagi punya tempat tinggal.
sekali lagi, Selamat pagi, Para Perasa!
Langganan:
Postingan (Atom)
