Selasa, 25 Januari 2011

day #13 - untuk Bunga

Selamat malam, Dua Puluh Enam.

Kamu manis sekali malam ini. Kamu angka paling manis yg pernah aku punya dalam hidupku. Sudah pasti, itu tanggal dimana aku mulai bernapas. Tapi kamu memang yg termanis sejauh aku pernah bernapas 18 tahun ini.

Dua Puluh Enam, kamu cantik. Yg paling cantik sejauh ini. Kamu angka saat ekspektasi yg tak pernah terlisankan dan bahkan ditolak untuk dibayangkan terpenuhi jauh melebihi asa. Kamu yg terindah saat harapan luput dari diri dan kecewa telah menyusupi saat jam berdetak dalam menitnya terakhir menuju jam 12. Kamu datang saat hanya deretan lentera jingga tergantung tertangkap mata tanpa ada sosok kesayangan yg tampak.

Dua Puluh Enam, kamu istimewa. Paling istimewa kali ini. Kamu angka biasa yg teristimewakan oleh setengah mekar yg kudapat. Kamu berubah wujud menjadi wangi bunga yg habis kuhirup sampai tak bersisa. Kamu merah putih hijau putih yang tebungkus plastik sederhana setengah perak. Kamu kado terbaik. Dan aku cinta itu. Dan aku tak habis menikmatinya. Karena ada kamu disana. Karena ada senyumku tersungging tulus disana.

Selamat ulang tahun. Bagiku. Bagi istimewa yg kudapat. Bagi istimewa yg kau beri.

Selamat malam, Bunga :)


Dedicated sweetly for Tiara Ardiani

Senin, 24 Januari 2011

day #12 - untuk Diajeng Larasati Sekar Arum


Selamat pagi, Gendut!

apa matahari di dunia kecil milikmu bersinar pagi ini? atau langit mendung? atau udara hanya dingin berkabut?

oh ya. aku rasa kamu tak tau dan tak bisa menjawab karena kamu sedang terlelap. baru saja terlelap. aku rasa yang kamu tau sekarang adalah bulanmu sedang menampakkan diri dalam tidurmu. ini waktu bulanmu berseri, bukan? bukan mataharimu yang tampak. bagaimana keadaanya? penuh? setengah? sabit? apa ia ditemani bintang? atau ia tetutup mendung lagi?

bagaimana larutmu tadi malam? apa kopi dan rokokmu cukup baik menemanimu? bagaimana lagu lagu yang selalu merdu kau nyanyikan? bagaimana tulisan surat suratmu? apa kabar pikiranmu? apa kabar hatimu?

kamu pernah bilang kamu ingin menjadi sepertiku. yang menurutmu tak pernah memikirkan dan meributkan hidup. aku disini justru iri denganmu dan pikiran-pikiranmu yang selalu rumit. seperti tak ada hal sekecil apapun yang terlewat kamu pikirkan.

apa kabar rasamu? masih penuh luka? masih berdarah? kamu harus mau berhenti membiarkannya begitu. kamu yang mengendalikan segalanya. kamu bisa. kamu harus tau, luka lukanya telah membuatnya terlalu kuat. dan yang sekuat itu akan pantas untuk yang sangat luar biasa. tunggu saja. tapi jangan menunggu dalam diam. jalani dan nikmati saja yang ada, yang hadir dan harus dijalani. walaupun dengan luka lagi.

kamu kompleks. kamu akan ada dalam jilidan sebuah buku biografi tebal. kamu sepantasnya begitu. karena kamu dan hidupmu yang selalu kamu kutuk adalah inspirasi besar bagi orang orang di sekitarmu. kamu akan diabadikan. karena kamu membuat orang mengenangmu.

cepat bangun! matahari menunggu untuk melihatmu. kami juga.

Selamat pagi, Laras!

Minggu, 23 Januari 2011

day #11 - untuk Rasa Sahabatku

Selamat siang, Jatuh Cinta.

aku menulis untuk temanku yang sedang berteman baik denganmu. dia sedang jatuh cinta. mungkin terlalu jauh untuk disebut jatuh cinta, paling tidak dia benar sedang merasa. memiliki rasa. aku mau surat ini disampaikan untuk tujuan sang rasa. tapi aku rasa tak akan sampai. sampai pun tak berminat ia baca, atau ia baca tapi tak ia pedulikan. yah, begitulah dia.

tidak bisa. aku masih mau surat ini ditujukan untuknya. untuk tujuan sang rasa. rasa yang dirasa kuat oleh temanku. rasa yang tak habis dilawannya agar tak menguat. rasa yang tak habis dihentikannya karena ia rasa tak pantas. rasa ia yang cegah mengalir, ia arahkan ke sebuah palang tampungan dan ia pendam. rasa yang baginya salah dan tak ada alasan untuk dirasakan.

sebenarnya aku tidak mengerti apa yang temanku anut. bagiku, selama itu cinta, itu adalah benar. aku tau cinta takkan lepas dari baik buruknya, tapi buruk pun itu, cinta adalah rasa yang paling pantas dirasakan, dipertahankan, diperjuangkan. tidak dihalang-halangi. sama sekali tidak. tapi ia tidak menganut itu. baginya rasa itu salah. aku masih tak paham.

yang aku pahami, apapun yang ia pilih, membiarkannya mengalir atau menghalanginya, cinta diantara mereka memang besar. sudah dari dulu besar. entah dalam wujud transformasi jenis apa, cinta itu sudah besar. aku tau mereka hanya menganut hukum kekekalan energi. bahwa energi itu adalah rasa dan hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tidak dapat diciptakan atau dihilangkan. ya, entah sahabat atau yang bukan sahabat, cinta itu sudah ada, hanya berubah bentuk.

terserah padamu. aku tak akan memaksakan apa yang aku anut untuk kau anut. yang aku tau aku sayang kalian berdua. aku bertemu dia malam ini, aku sempat menatapnya dalam-dalam dari kejauhan dan aku rasa tak ada yang salah atas rasa yang kau daratkan ke sosok seperti itu.

Selamat siang, Rasa Sahabatku.

Sabtu, 22 Januari 2011

surat cinta day #10 - untuk Selamat Tinggal

Selamat sore, Kehilangan

akankah kamu hadir dalam dirinya saat aku pergi nanti? akankah kamu memenuhi jiwanya saat semuanya berakhir kelak? bukan berakhir, mungkin hanya saja tak bisa diteruskan. akankah kamu merasuki hati dan pikirannya saat kelak semuanya berubah?

akankah kamu terus menemaninya? atau apa yang akan kamu lakukan agar sesuatu lain datang dan menemaninya? akankah kamu terus menempeli tubuhnya saat aku tak ada lagi untuk itu?

ataukah kamu tak akan datang menghampirinya sama sekali? apa kamu akan membiarkannya baik baik saja? sementara aku tau pasti kamu akan membayangiku, menggerogotiku, membelengguku. aku tau pasti kamu akan bersamaku dan tak mau melepaskanku.

sungguh Kehilangan, mengkhawatirkanmu jauh lebih berat daripada mengalamimu.

Selamat sore, Selamat Tinggal.

Jumat, 21 Januari 2011

surat cinta day #9 - untuk Kejujuran

Selamat malam, Mimpi Buruk.

demi semesta alam, kalimat "lebih baik jujur walaupun sakit" adalah kebohongan paling besar yang pernah diciptakan cipta, rasa, dan karsa makhluk bernama manusia. tak ada yang lebih baik. percaya padaku. tak ada sama sekali. mungkin ada sedikit yang memburuk. hancur lebur. sisanya tak ada yang berbeda. dalam kebohongan menderita, dalam kejujuran kesakitan.

Mimpi Buruk, aku tak pernah tau bahwa menyadarimu adalah hal terindah. sungguh indah saat menyadari bahwa aku baru saja mengalami mimpi buruk, karena itu berarti aku terbangun dalam dunia nyata. tapi sekarang aku tau. karena aku baru saja mengalami mimpi buruk, dan aku takkan bisa terbangun. aku akan selamanya berada di tengahmu. kenyataanku adalah kamu. dan rasanya seperti tak ada pilihan lain selain mati agar bisa bangun di tempat yang lebih jauh lagi. paling tidak aku bisa bangun.

Mimpi Buruk, aku benci kejujuran. sungguh, kenapa tak ada hal lain yang bisa mengikutinya selain air mata? air mata! itu menyakitkan. kenapa kedatangannya harus diiringi dengan detakan hebat jantung yang sesungguhnya ingin berhenti bukannya bekerja keras seperti itu, dan harus diakhiri dengan kalau tidak kecanggungan, kebencian, kehilangan, dan yang terdekat ya air mata. air mata lagi.

Mimpi Buruk, aku benci kejujuran. aku benci tak mampu mengubah apapun dari konteks di dalamnya. aku benci semuanya. aku benci diriku. aku benci usahanya menerimaku. aku benci kuantitasnya mencintaiku yang semakin meningkat. aku benci pelukannya yang semakin erat. karena semua itu membuatku semakin ingin bangun di tempat yang jauh lebih jauh itu. aku menyakiti dalam keburukan dan semua kebaikan sebagai balasan balik menyakitiku. karena aku bersalah! berdosa! dan aku tak pantas untuk itu.

Mimpi Buruk, aku benci kejujuran. tolong beri tau aku caranya untuk bangun. aku tak mampu menanggulangi perasaan bersalahku lagi. perasaan takut kehilangan. perasaan apalah. aku tak mau terus terusan bersamamu, Mimpi Buruk. tapi aku memang tak bisa bangun. aku selamanya takkan meninggalkanmu. iya kan? kalau begitu tolong biarkan aku terlelap dalam kenyataan. selama mungkin. aku tak kuat.

demi kuasa di langit dan bumi, bawa doraemon ke hadapanku sekarang juga dan aku akan merampok mesin waktunya!

Selamat malam, Kejujuran.

day #8 - untuk Secangkir Kopi


Selamat pagi, Bayangmu.


aku heran, kenapa kamu begitu setia hadir menjadi yang pertama setiap kelopak mataku mengambil jarak dan memberikan keleluasaan bagi mataku mengindera? kenapa selalu kamu yang hadir pertama kali mataku mengindera seberkas cahaya menyelinap di sela sela tirai jendela? kenapa selalu kamu yang pertama datang saat dingin pegunungan masih kejam menusuk tulang dan tubuh masih membentuk pertahanan dalam benteng selimut?


Bayangmu. bayang dirimu. bayang tentangmu.


sekarang aku terpaku dalam pikiranku sendiri dengan secangkir kopi sedang bekerja keras menghangatkanku. kamar masih gelap, jendela yang telah tebuka masih tak mampu mengumpulkan cukup cahaya karena matahari pagi pun selalu tetutup kabut gunung. kamar masih hening, detakan jam masih terdengar jelas dan keras. dan kamu lagi yang hadir. memenuhi ruang tidurku. memenuhi ruang hatiku.


Bayangmu. bayang rasamu. bayang kisahmu.


sekarang aku menenggak kopi yang kusajikan sendiri dengan penuh pendalaman. ada kamu lagi. di mataku, di tarikan napasku, di otakku, di hatiku. kamu lagi. senyummu... ahh semuamu. kamu membuatku menenggak dengan semakin mencinta. kopi itu terasa seperti kamu. hangat dekapmu. nikmat rasa dalam hatimu. semangat cintamu yang menjagaku terjaga. sesosok dirimu dalam secangkir kopiku. pokoknya kamu untuk pagiku.


Bayangmu...


kamu seperti pagiku meski aku tak mampu memastikan kamu siang, sore, dan malamku. aku tak tau. tapi kamu sungguh pagiku. menyesakkan setiap inci ruang pagiku. kamu detak jam yang ramai itu. kamu selipan sinar berkabut matahari di sela tirai itu. kamu dingin udara yang segar terhirup pada detik pertama dan berikutnya aku sadar. dan kamu... kamu ratusan unsur dalam tiap tegukan kopiku. kamu ada di dalam sana. kamu pagiku, kamu kopiku.


Selamat pagi, Secangkir Kopi.

Kamis, 20 Januari 2011

day #7 - untuk Hujan dan Lilin


Selamat malam, Harapan!

aku tak pernah tau mengapa semua orang selalu memilikimu. aku juga tak paham kenapa orang selalu merasa harus memilikimu. mereka tak pernah tau bagaimana kebahagiaan yang mampu hadir saat diri tak memilikimu. Harapan, kamu memang lebih baik tak ada. tak diciptakan. aku tau pasti.

Harapan, maaf aku berbelit-belit. tapi aku mau berterima kasih, untuk kali ini saja. benar-benar terima kasih. terima kasih kamu tak memenuhi sesak diriku. terima kasih tak hadir kali ini. dalam kisah ini. ketiadaanmu membuat semua menjadi lebih indah dari standar keindahan yang memang tak pernah diharapkan. sungguh, tak ada kamu memang baik, Harapan.

kamu tau, kamu tak ada saat kebersamaan ditawan oleh deras hujan sampai larut malam. kamu tak ada saat sinar teduh lilin mendekap penuh cinta dalam kegelapan. kamu tak ada saat lapar yang meronta terobati oleh sepasang tangan yang mampu menyajikan sesuatu yang kurasa cinta. kamu tak ada saat cahaya kunang-kunang sungguh menari di sekitarku di tengah gelap gulita dan dingin hujan. kamu tak ada saat sederetan gambar terabadikan dalam singgungan senyum-senyum paling bahagia.

Harapan, saat itu kamu tak ada. dengan begitu, segala biasa terasa luar biasa. kamu membuat sebait rima terbaca seperti sejilid novel romantis. kamu membuat segores kuas terlihat seperti sebuah lukisan besar. kamu membuat sederet nada terdengar seperti satu lagu cinta utuh.

Harapan, terima kasih tidak hadir kali ini. terima kasih karena ketiadaanmu membuat hujan, gelap, lilin, foto, kunang-kunang, dan bahkan telor dadar terasa seperti surga. terima kasih. karena ketiadaanmu, aku cinta hal-hal kecil itu. dan aku mampu bersyukur. terus-terusan bersyukur. dan berbahagia.

Selamat malam, Hujan dan Lilin :)

Rabu, 19 Januari 2011

day 6# - untuk Via dan ruang biru

Selamat malam, Kesederhanaan.

tidak, aku tidak akan menyapa si Kesederhanaan. aku tidak akan bicara dengan sang Kesederhanaan. aku akan langsung bicara denganmu, Via.

aku mau kamu tau, aku rindu ruang birumu. ruang biru dan hampir semua biru. warna bodoh. bodoh karena kamu lah yang menyukainya. aku rindu isinya dan sekitarnya, kecuali pemiliknya. karena kamu harus tau, aku semacam membutuhkanmu. aku butuh kesederhanaanmu untuk menghentikanku menjadi Sang Berlebih. aku butuh kecukupanmu untuk menyumbatku mengeluh. aku butuh positifmu untuk mengalihkan negatifku.

aku butuh ruang birumu. bukan untuk menyaksikan salju vulkanik jatuh dari langit pertama kali seumur hidup, tapi untuk membunuh waktu bersamamu. sebenarnya kamu teladan paling baik untuk segalanya. aku tak tau akan dimana lagi mengenal sosok yang mampu selalu baik baik saja dalam menjalani hidupnya. entah dimana lagi ada sosok yang punya segalanya tapi mampu berlaku biasa saja, sekaligus sosok yang saat tak memiliki mampu berlaku seperti segalanya telah terpenuhi.

aku mau ruang birumu. bukan untuk menumpang koneksi internet, tapi untuk mendengar kalimat-kalimat yang selalu bodoh keluar dari mulutmu. kalimat jenaka, dan kenapa kamu tak menjadi pelawak atau sekedar pembodoh saja? aku tak tahu bagaimana jalan pikirmu. bagaimana jalan rasamu. bagaimana otakmu, bagaimana hatimu. tapi bolehkah aku meminjam dan mengopi sedikit? walaupun aku tau otakmu secadas underoath dengan IQ ratusan berpangkat dua, aku masih tak paham. aku tak paham bagaimana kamu bisa tenang saat berpapasan dengan apapun. atau mungkin hanya tampak tenang? kalau begitu paling tidak beritahu aku bagaimana caranya tampak selalu tenang. dan baik baik saja.

aku merindukan ruangan biru bodohmu. bukan hanya rindu helai rambut berserakan, tapi semua isinya dengan nyanyianmu beserta pilihan lagu yang selalu idiot dengan raut wajah paling polos. dan kamu. sungguh. aku rasa aku akan butuh itu selamanya. apakah aku bisa? sepertinya aku akan butuh bicara denganmu selamanya. apa bisa? aku akan butuh berbagi, bercerita, bertanya, dan bahkan berteori denganmu selamanya, seseringnya. apa mungkin? aku tak tahu akan dengan cara apa lagi aku menemukan orang yang mampu memproses dan menerima informasi apapun. APAPUN! sistem saraf pusatmu memang ksatria. akan seperti apa lagi aku mengenal orang yang mampu mendengar dan memahami apapun bentuk aksara. kepribadianmu memang raja.

sesungguhnya aku tak perlu menulis surat. aku bahkan sudah pernah menulis surat cinta penuh gombalan untukmu. toh kamu sudah tau dan kapanpun aku bisa menyampaikan langsung padamu. tapi aku rasa kamu pantas di abadikan dalam satu bentuk berbeda. dan inilah seadanya. bersenang-senang lah dalam liburanmu. karena kami disini juga bersenang-senang tanpamu dan akan segera membuatmu iri. salam untuk Lombok, anggap saja dari Defri yang rindu pulang walau sesungguhmya salam itu dariku untukmu.

Selamat malam, Via.

Selasa, 18 Januari 2011

day #5 - untuk seragam pelangi

Selamat malam, Kanvas Ajaib.

malam ini aku kembali sibuk dengan pikiranku tentang angka, tentang waktu, tentang masa depan. aku benar-benar sedang tidak stabil. sekarang malam semakin larut dan kamu, Kanvas Ajaib, menyusup menjadi sewujud objek yang harus diindera oleh mataku. kamu semakin mendramatisir segalanya.

kamu tergantung manis dalam diam dibalik cermin kecil di kamar gelap yang sudah lebih dari 2 tahun aku tempati. kamu ajaib karena kamu tak selayaknya menjadi kanvas, tapi kamu lah satu benda yang aku percaya mampu menjadi kanvas terbaik dalam hidup semua orang yang pernah mengalami momen yang disebut kelulusan masa SMA. masa yang katanya paling indah, masa dimana kita lah sang raja dan ratu. aku setuju, dan kalau ada yang tidak, mereka lah yang bodoh dan merugi karena tak mampu merasakannya. kamu menampung ratusan coretan paling tidak penting yang sekaligus menjadi coretan mesin waktu. mesin waktu yang sekarang juga membawaku ke masa lalu dan masa depan sekaligus.

kamu psikofarma yang mampu mengembalikan ingatan. kamu hebat, Kanvas Ajaib! aku rasa baru kemarin sore aku sibuk mencari atribut ospek. baru kemarin malam aku melihat boulevard kampusku dipenuhi transaksi antara senior dan junior sepenuh pasar awul-awul saat sekatenan di Jogja. sekarang, aku seperti melihat setelan toga bodoh menggantung di belakang pintu. setelan yang entah apa maknanya dalam beberapa jam ia bertugas menutupi tubuh. karena tak lebih dari beberapa jam itu ia akan dilepas dan sebongkah besar kebingungan dan kehilangan akan menghantam kepalamu dari belakang. hantaman yang bukannya menyebabkan hilang ingatan, tapi justru memutar kembali film berjudul 'Memori Hidup'.

Kanvas AJaib, kamu jahat. kenapa kamu harus diam disitu? kenapa kamu tidak pergi saja ke dekat sumur kosku dan berganti menjadi abu? kenapa aku tak melakukannya toh kamu memang tak mampu melakukannya sendiri? aku rasa baru kemarin aku berpesta pora dengan ratusan kanvas lainnya, dan sekarang semuanya berubah. yang lebih tragis, semua itu akan segera kualami lagi. kenapa kamu sudi dilumuti jamur disitu? kamu mengembalikan rindu luar biasa untuk sahabat, saudara, tawa, tangis, kisah, dan kehidupanku di masa lalu. semuanya memang masih ada. hanya saja... berubah.

warna-warnimu sungguh menyakitiku malam ini. tapi siapa peduli? aku juga seharusnya tidak. semuanya akan baik saja kan? semua hanya bagian bagian dari puzzle raksasa yang bernama hidup dan semua indah. tak ada yang lebih tebal dan lebih tipis dari potongan-potongan itu. iya kan?

yasudah. sampaikan salamku untuk masa lalu. tak ada yang hilang kok. hanya saja akan segera berubah lagi.

Selamat malam, Seragam Pelangi.

Minggu, 16 Januari 2011

Dieng :)



tak tau apa
yang pasti
banyak cinta disini
antara kami semua
ada dingin
dan lagi lagi
ada cinta

salam, Puncak Dieng
kamu dingin terhangat
hangat peluk
:)