Selamat siang, Khawatir.
kenapa kamu selalu datang membebani? kenapa kamu berteman akrab dengan masa depan? ayolah, kalian berdua bisa saling mencari teman lain untuk menambah kolega. tak perlu kalian berdua menempel setiap saat dan hanya berdua.
Khawatir, tapi jangan cari aku sebagai teman baikmu yang baru. aku sesak. kemarin aku menyelesaikan ujian akhir semester 5 ku dengan sukses dan kesuksesan itu membawa aku semakin dekat dengan mu. kenapa waktu begitu jahat? aku tau semua akan baik-baik saja. aku hanya tak suka perubahan! sangat tidak suka! angka 5 sudah berakhir. besok 6. besok lagi 7 dan itu seharusnya adalah batas akhir. Khawatir, aku tidak mau berakhir.
aku tau aku sudah mengalami hal ini berkali kali dalam hidupku. dan untuk itu aku lelah. jangan lagi kehilangan, tolong! setiap aku nyaman, aku harus pergi. aku tau itu sudah sewajarnya, Khawatir. tapi semua itu juga membuatku semakin dekat denganmu.
denganmu dan temanmu. si Masa Depan. apa yang harus kulakukan saat aku benar-benar berpelukan dengannya nanti? apa yang harus kulakukan? aku lelah kehilangan teman dan kenyamanan. aku lelah memulai lagi semua adaptasi dari awal. aku takut dengan temanmu! takut! walaupun aku seharusnya sudah dewasa dan lebih mampu. tapi itu dia, aku pun tak suka menjadi dewasa.
kenapa, Khawatir? aku tidak mau menemui teman dekatmu itu. Masa Depan. bilang pada waktu, berhentilah berlari, berjalan, atau merangkak sekalipun. suruh dia diam! karena aku tak mau kemana-mana. aku tak mau bergerak! aku tau aku akan selalu mampu melakukan yang terbaik, seperti selayaknya selama ini telah kulakukan. aku tau aku akan baik saja. tapi aku tidak mau. aku malas menghadapi temanmu itu.
salam hangat untuknya tapi ya? aku akan tetap menemuinya. aku tau akan akan sayang padanya.
Selamat siang, Masa depan :)
Kamis, 13 Januari 2011
called it ART!
aku kangen.

aku kangen. aku lihat senyumnya di setiap sudut kamar. aku cium aroma tubuhnya di setiap hela napas. aku dengar tawanya di setiap kedipan mata. aku lihat wajah semua orang menjadi wajahnya. aku dengar suara setiap orang seperti suaranya. aku mencium wanginya di harum parfum semua orang.
aku berlebihan. aku berlebihan atau terlalu peka? aku terlalu peka atau orang lain tidak peka? yang aku tau dia terbayang seperti Ivan Pavlov atau Federic Skinner atau siapalah penguasa teori perilaku atau teori stimulus-respon. dia bahkan menyalahi teori karena sekarang dia adalah segala stimulus yang kuindera sekaligus segala respon yang kuhasilkan. dia menyalahi teori karena bahkan tidak ada modifikasi perilaku yang bisa diterapkan untuk mengubah perilakuku tentangnya, karena memang semua perilakuku hanya tentang dia. tak ada pengkondisian yang bisa menyelamatkanku dari rindu memeluk hangatnya, karena itu satu-satunya pengkondisian yang aku butuhkan untuk sembuh dari kegilaan.
aku keterlaluan. rasaku keterlaluan. memang benar. dia sudah seperti setiap potong puzzle dalam dunia yang kulihat. dia dimana-mana. rasaku sudah seperti material vulkanik yang beberapa bulan lalu terus menerus dimuntahkan Merapi. sudah seperti lumpur isi perut bumi yang sejak bertahun-tahun lalu menyembur di Sidoarjo dan menciptakan lautan pekatnya sendiri. dia sudah seperti luapan air laut raksasa yang menggulung Oktober lalu di Mentawai. ah... apalah. rinduku memang sudah seperti air yang meluap dan tumpah ruah dari sebuah ember dan keran airnya masih tidak bisa dimatikan.
aku dramatis. dia dan sosoknya yang tak tampak yang membuatku begini. bagian bumi yang kupijak bahkan sudah menjadi teritori daerah 4 musim. hari ini aku terbagun dan melihat keluar jendela lalu merasa semua daun telah berubah cokelat dan berguguran. dialah kuantitas daun gugur itu. kemarin aku bangun dan merasakan dingin menusuk seakan halaman depan sudah putih tertutup salju. dialah setiap butir salju yang jatuh itu. besok lusa aku terbangun dan mencium harum bunga, rumput, dan bahkan tanah yang begitu segar dengan suara burung berbulu biru seakan bernyanyi langsung di atas kepalaku. dialah jumlah bunga yang mekar itu. besok aku bangun dan menedang-nendang selimut jauh-jauh karena gerah dengan sengatan silau matahari yang tajam. dialah kuat dan tajam silau cerah itu.
aku hanya kangen. aku ingin sosoknya. sosoknya yang nyata di depanku. sekarang ini juga. kalau tidak aku semakin menggila. dan itulah keahliannya. membuatku gila dan tergila-gila. entah apa yang dia punya. entah apa yang telah aku susun sendiri dalam otak dan pikiranku sampai membentuk rasa seperti ini untuknya.
"aku ke rumahmu ya?"
"sekarang?"
"ya terserah kamu. kamu dimana?"
"aku lagi ngurus perpanjangan stnk. sejaman lagi ya?"
"iya. kasi tau aja kalo udah di rumah"
Tuhan, TERIMA KASIH. terima kasih telah mengamini segala kebutuhan dan keluhanku. terima kasih atas segala kesempatan.
dalam kurang dari 5 menit lagi aku pasti sudah selesai mengunci pintu kamar, mengeluarkan motor dari garasi, dan pergi. kenyataannya matahari terlalu terik bertahta selama beberapa jam di siang ini dan uap-uap air tak sanggup lagi saling memikul di atas sana. putih mereka berubah menjadi kelabu. kelabu itu melebar dan menutupi biru yang masih tersisa. tak sampai sempat aku mendapatkan 5 menit yang aku butuhkan, transformasi benda laut yang menjadi benda langit itu secara bergerombol dan tanpa jeda segera berubah lagi menjadi benda bumi. membasuh seluruh isi bumi. deras. pekat. tanpa ampun.
kakiku tercegat melangkah melewati 1 garis tipis pembatas kamarku dan halaman. memang tipis. dan setipis itu keterlambatanku. membuat rindu yang ada masih dramatis, masih berlebihan, masih keterlaluan. Tuhan, terima kasih. kelabu-Mu masih indah kok. hanya saja rasaku sekarang menjelma menjadi wujud sore ini. sepekat langit, sederas hujan, setajam kilat, semenggelegar petir, seluas sebaran genangan air.
aku masih kangen.
road on top



kemaren-kemaren gue abis ngebajak lagu ber-album-album dari warnet paling diberkahi di muka bumi karena isi harddisknya itu lengkap bangeeet (God bless that warnet, dateng tinggal copy paste doang).
dan pas pulang gue dengerin lagu lagu yang abis gue bajak, ada tiga album dengan cover album sejenis. semacam latah atau emang lagi itu inspirasinya atau emang lagi ngetrend?
dan pas pulang gue dengerin lagu lagu yang abis gue bajak, ada tiga album dengan cover album sejenis. semacam latah atau emang lagi itu inspirasinya atau emang lagi ngetrend?
life. flow. slow.
gue punya 3 kutipan favorit sepanjang hidup gue.
ini dia, sekedar biar dunia tau...
kalo hidup itu flow... slow...
dari buku
book : the black swan
author : Nicholas Taleb
quote : "life is a sequences of luck"
dari film
movie : fired up
director : Will Gluck
quote : "you know what John Lenon ever said? 'life is what happened when you're busy making the other plan'"
dari lagu
song title : grow a day older
song writer : Dewi Lestari
quote : "if everything has been written down so why worry?"
so? why are you still thinking too much?
ini dia, sekedar biar dunia tau...
kalo hidup itu flow... slow...
dari buku
book : the black swan
author : Nicholas Taleb
quote : "life is a sequences of luck"
dari film
movie : fired up
director : Will Gluck
quote : "you know what John Lenon ever said? 'life is what happened when you're busy making the other plan'"
dari lagu
song title : grow a day older
song writer : Dewi Lestari
quote : "if everything has been written down so why worry?"
so? why are you still thinking too much?
Kamis, 06 Januari 2011
fiksi terbalik
Rabu, 05 Januari 2011
...kamu!
"kamu. aku bukan suka. aku bukan sayang. aku bukan cinta. bukan hanya itu. aku tergila-gila. kamu sosok kesukaan."
Selasa, 04 Januari 2011
JANGAN BERGANTI
"aku berusaha tidak memperdalam perasaan. aku sadar. otak dan hatiku memilih untuk menolak pemrosesan stimulus semakin-cinta. kamu juga tak yakin. karena aku juga sengaja atau mungkin tidak sengaja tak ingin berharap. tidak berkspektasi paling tidak. aku ingin mempersiapkan diri untuk keadaan terburuk. dan kau tau apa? sekarang kamu justru meredup dan hilang. pada titik itu semua tameng hati dan otakku remuk dan hancur. semua rasa justru semakin tajam dan menikam. menghujam. menyundut. semakin kuat dan aku tak sanggup. tolong mengerti. tolong aku. tolong jangan berganti."
lampu jingga jalan raya

aku terpaku diam menatap hitam penuh cahaya. aku suka jalan raya di malam hari. aku suka duduk melamun di pinggir jalan. aku merasa menonton televisi, menonton insprirasi. seakan aku bukan bagian dari tempat itu. aku hanya penonton. dan itu indah.
aku diam dengan tatapan kosong mencoba mendalami keributan suara mesin yang membabi buta. aku suka lampu jalan yang bersinar jingga. aku suka saat melihat tetes-tetes berkah yang dijatuhkan Tuhan tepat di bawah sinar jingga lampu jalan. aku suka jingga itu saat tercermin dalam genangan-genangan yang menguasai jalan setelah hujan. tapi syukur, malam ini tidak hujan. aku bisa beli makan dengan selamat dan kering. dan menonton jalan raya.
malam ini tidak hujan. kering. sejuk. tepat persis hatiku yang sedang berada pada masa musim semi setelah sekitar dua hari mengalami musim gugur yang cepat berganti menjadi salju yang dingin membekukan segala elemen diri, terutama hati. malam ini semua beku mencair. mengalir. pergi. matahari, bintang, pelangi, bunga, dan segala jenis kebaikan mekar.
"aku bosan. aku malas. bahasa kerennya, aku jenuh."
"alasannya?"
"aku tidak tahu. kamu terlalu baik. tak ada tantangan."
"berapa kali aku bilang, passion mengejar dan dikejar itu berbeda. dikejar itu bahkan tak ada passion-nya."
"ya... mungkin."
"aku yang mengejar. semua akan sulit bagiku dan mudah untukmu. kamu dikejar. kamu akan baik-baik saja. aku tidak."
"aku ingin mengejar."
"dan kamu tak mungkin balik mengejarku. it will always be someone else. jadi bagaimana?"
"bagaimana apanya?"
"dengar, ada saat melepaskan. tapi bukan sekarang, bukan besok, bukan nanti. kuharap. aku akan berjuang. aku melepaskan segala kesempurnaan yang sudah kumiliki untuk memperjuangkan suatu ketidaksempurnaan ajaib. ajaib dan kuat. dan itu kamu."
"kamu berjuang. aku tidak. semuanya jadi tak ada arti apa-apa bagiku."
"aku tau. beda passion mengejar dan dikejar. aku akan menyerah pada waktunya. tenang saja."
suara mesin-mesin di jalanan mulai meredup. mulai sepi. aku semakin suka. tapi tetesan berkah mulai tak sanggup terpenjara awan dan jatuh lagi. tapi aku tidak jatuh. aku hanya harus pulang. ini sudah jam setengah 12 di pojokan jalan samping lampu merah dekat kos. tempat duduk kesukaan.
"aku kangen. mungkin tak kamu dengar."
"aku dengar. aku juga kangen. maafkan aku."
"kamu tak pernah salah bagiku. kamu segala kesalahan yang kupilih menjadi benar. sebenar-benarnya keyakinan dan pilihan."
"aku sayang kamu."
"jangan tanya aku. aku lebih dari itu."
jingga di jalan, jingga di atas tetesan hujan, jingga dalam genangan, jingga dalam hati. terima kasih Tuhan untuk jalan raya dan lampu jalan cahaya orange-nya. terima kasih Tuhan untuk bising jalan dan tetesan berkah yang sering menyusahkan. terima kasih Tuhan untuk memperbaiki semuanya. karena Kau tau aku tak sanggup.
9.05 PM - Agronet
abis beli sate deket lampu merah
TERIMA KASIH TUHAN :)
Sabtu, 01 Januari 2011
celebrating... you!

bagaimana caranya memberi selamat? kalimat apa yang harus kusampaikan? kepada siapa aku harus menyelamati?
semua orang. semua orang harus diselamati. karena semua orang merayakan. meskipun aku tidak. apa yang berbeda? ini malam biasa. ini malam seperti layaknya tiap malam aku sulit terlelap. malam biasanya aku mampu terjaga sampai waktu tak pantas lagi disebut malam. malam biasa yang memang harus dianggap sebagai persiapan bagi keesokan hari. hari yang pada akhirnya biasa saja.
maaf. aku skeptis. aku tak tahu apa itu tahun baru. apa itu valentine's day. apa itu hari ibu. apa itu hari ulang tahun temanku. bahkan apa itu hari ulang tahunku. pada hakikatnya semuanya akan sama saja. dan lagi-lagi semua yang orang anggap agung sehingga dirayakan dan dipersiapkan sedemikian megah itu akan berlalu juga.
ah, aku benci waktu. aku benci. dia memang pelari handal. aku lelah harus terus berlari mengikutinya. aku sudah lebih dari ngos-ngosan. dia membuatku menyicipi dan tak sempat menikmati. atau menikmati dan lalu harus memuntahkan. jadi apa bedanya semua? hari ini, besok, kapanpun, apapun labelnya, sama saja.
maaf jika aku terus berkicau meminta 19 buah lentera yang kalau bisa berwana hitam diterbangkan di malam 18 Februari tepat jam 2 malam. aku tidak berusaha merayakan. aku hanya berusaha terlihat tidak begitu skeptis.
tapi aku mau jujur. malam ini aku merayakan. merayakan sesuatu. bukan tahun baru. merayakan rasa yang kurasakan. merayakan kebahagiaan yang kukecap. merayakan kamu, dalam aku. aku tau ini lebih pantas dirayakan dari sekedar esensi sempit dari tahun baru. aku merayakan keindahan. bukan kembang api, tapi kamu. bukan ramai terompet, tapi rasa untukmu dan rasa atasmu. dan aku bangga. aku merayakannya!
aku yakin dengan sepenuh keyakinanku, tidak akan ada yang berubah pada pergantian hari-hari hebat yang orang-orang kumandangkan. pagi selalu indah. indah untuk memulai lelap. sama saja. tapi pagi ini aku merayakan. sekali lagi merayakan perasaanku. merayakan senyum luar biasa yang aku sendiri sunggingkan tepat di detik pertama aku membuka mata.
kebetulan ini tahun baru. walau sesungguhnya aku merayakan hal lain. merayakan perasaan yang terlalu hebat untuk tidak diagungkan. merayakan rasa untuk dan atasmu. BUKAN MERAYAKAN KAMU.
Tertulis : Kamar Gelap, 11.20 AM
31-12-10 sd 1-1-11, Jumat dan Sabtu Inspirasi Ajaib
JANGAN PERNAH PERCAYA FIKSI !!!
Langganan:
Postingan (Atom)


