"kamu. aku bukan suka. aku bukan sayang. aku bukan cinta. bukan hanya itu. aku tergila-gila. kamu sosok kesukaan."
Rabu, 05 Januari 2011
Selasa, 04 Januari 2011
JANGAN BERGANTI
"aku berusaha tidak memperdalam perasaan. aku sadar. otak dan hatiku memilih untuk menolak pemrosesan stimulus semakin-cinta. kamu juga tak yakin. karena aku juga sengaja atau mungkin tidak sengaja tak ingin berharap. tidak berkspektasi paling tidak. aku ingin mempersiapkan diri untuk keadaan terburuk. dan kau tau apa? sekarang kamu justru meredup dan hilang. pada titik itu semua tameng hati dan otakku remuk dan hancur. semua rasa justru semakin tajam dan menikam. menghujam. menyundut. semakin kuat dan aku tak sanggup. tolong mengerti. tolong aku. tolong jangan berganti."
lampu jingga jalan raya

aku terpaku diam menatap hitam penuh cahaya. aku suka jalan raya di malam hari. aku suka duduk melamun di pinggir jalan. aku merasa menonton televisi, menonton insprirasi. seakan aku bukan bagian dari tempat itu. aku hanya penonton. dan itu indah.
aku diam dengan tatapan kosong mencoba mendalami keributan suara mesin yang membabi buta. aku suka lampu jalan yang bersinar jingga. aku suka saat melihat tetes-tetes berkah yang dijatuhkan Tuhan tepat di bawah sinar jingga lampu jalan. aku suka jingga itu saat tercermin dalam genangan-genangan yang menguasai jalan setelah hujan. tapi syukur, malam ini tidak hujan. aku bisa beli makan dengan selamat dan kering. dan menonton jalan raya.
malam ini tidak hujan. kering. sejuk. tepat persis hatiku yang sedang berada pada masa musim semi setelah sekitar dua hari mengalami musim gugur yang cepat berganti menjadi salju yang dingin membekukan segala elemen diri, terutama hati. malam ini semua beku mencair. mengalir. pergi. matahari, bintang, pelangi, bunga, dan segala jenis kebaikan mekar.
"aku bosan. aku malas. bahasa kerennya, aku jenuh."
"alasannya?"
"aku tidak tahu. kamu terlalu baik. tak ada tantangan."
"berapa kali aku bilang, passion mengejar dan dikejar itu berbeda. dikejar itu bahkan tak ada passion-nya."
"ya... mungkin."
"aku yang mengejar. semua akan sulit bagiku dan mudah untukmu. kamu dikejar. kamu akan baik-baik saja. aku tidak."
"aku ingin mengejar."
"dan kamu tak mungkin balik mengejarku. it will always be someone else. jadi bagaimana?"
"bagaimana apanya?"
"dengar, ada saat melepaskan. tapi bukan sekarang, bukan besok, bukan nanti. kuharap. aku akan berjuang. aku melepaskan segala kesempurnaan yang sudah kumiliki untuk memperjuangkan suatu ketidaksempurnaan ajaib. ajaib dan kuat. dan itu kamu."
"kamu berjuang. aku tidak. semuanya jadi tak ada arti apa-apa bagiku."
"aku tau. beda passion mengejar dan dikejar. aku akan menyerah pada waktunya. tenang saja."
suara mesin-mesin di jalanan mulai meredup. mulai sepi. aku semakin suka. tapi tetesan berkah mulai tak sanggup terpenjara awan dan jatuh lagi. tapi aku tidak jatuh. aku hanya harus pulang. ini sudah jam setengah 12 di pojokan jalan samping lampu merah dekat kos. tempat duduk kesukaan.
"aku kangen. mungkin tak kamu dengar."
"aku dengar. aku juga kangen. maafkan aku."
"kamu tak pernah salah bagiku. kamu segala kesalahan yang kupilih menjadi benar. sebenar-benarnya keyakinan dan pilihan."
"aku sayang kamu."
"jangan tanya aku. aku lebih dari itu."
jingga di jalan, jingga di atas tetesan hujan, jingga dalam genangan, jingga dalam hati. terima kasih Tuhan untuk jalan raya dan lampu jalan cahaya orange-nya. terima kasih Tuhan untuk bising jalan dan tetesan berkah yang sering menyusahkan. terima kasih Tuhan untuk memperbaiki semuanya. karena Kau tau aku tak sanggup.
9.05 PM - Agronet
abis beli sate deket lampu merah
TERIMA KASIH TUHAN :)
Sabtu, 01 Januari 2011
celebrating... you!

bagaimana caranya memberi selamat? kalimat apa yang harus kusampaikan? kepada siapa aku harus menyelamati?
semua orang. semua orang harus diselamati. karena semua orang merayakan. meskipun aku tidak. apa yang berbeda? ini malam biasa. ini malam seperti layaknya tiap malam aku sulit terlelap. malam biasanya aku mampu terjaga sampai waktu tak pantas lagi disebut malam. malam biasa yang memang harus dianggap sebagai persiapan bagi keesokan hari. hari yang pada akhirnya biasa saja.
maaf. aku skeptis. aku tak tahu apa itu tahun baru. apa itu valentine's day. apa itu hari ibu. apa itu hari ulang tahun temanku. bahkan apa itu hari ulang tahunku. pada hakikatnya semuanya akan sama saja. dan lagi-lagi semua yang orang anggap agung sehingga dirayakan dan dipersiapkan sedemikian megah itu akan berlalu juga.
ah, aku benci waktu. aku benci. dia memang pelari handal. aku lelah harus terus berlari mengikutinya. aku sudah lebih dari ngos-ngosan. dia membuatku menyicipi dan tak sempat menikmati. atau menikmati dan lalu harus memuntahkan. jadi apa bedanya semua? hari ini, besok, kapanpun, apapun labelnya, sama saja.
maaf jika aku terus berkicau meminta 19 buah lentera yang kalau bisa berwana hitam diterbangkan di malam 18 Februari tepat jam 2 malam. aku tidak berusaha merayakan. aku hanya berusaha terlihat tidak begitu skeptis.
tapi aku mau jujur. malam ini aku merayakan. merayakan sesuatu. bukan tahun baru. merayakan rasa yang kurasakan. merayakan kebahagiaan yang kukecap. merayakan kamu, dalam aku. aku tau ini lebih pantas dirayakan dari sekedar esensi sempit dari tahun baru. aku merayakan keindahan. bukan kembang api, tapi kamu. bukan ramai terompet, tapi rasa untukmu dan rasa atasmu. dan aku bangga. aku merayakannya!
aku yakin dengan sepenuh keyakinanku, tidak akan ada yang berubah pada pergantian hari-hari hebat yang orang-orang kumandangkan. pagi selalu indah. indah untuk memulai lelap. sama saja. tapi pagi ini aku merayakan. sekali lagi merayakan perasaanku. merayakan senyum luar biasa yang aku sendiri sunggingkan tepat di detik pertama aku membuka mata.
kebetulan ini tahun baru. walau sesungguhnya aku merayakan hal lain. merayakan perasaan yang terlalu hebat untuk tidak diagungkan. merayakan rasa untuk dan atasmu. BUKAN MERAYAKAN KAMU.
Tertulis : Kamar Gelap, 11.20 AM
31-12-10 sd 1-1-11, Jumat dan Sabtu Inspirasi Ajaib
JANGAN PERNAH PERCAYA FIKSI !!!
menuntut lah!
“Aku ga bisa sama kamu nanti malam.”
“Kan kamu yang maksa aku temenin kamu ampe aku batalin pergi ama anak-anak.”
“Iya. Aku harus pergi juga tapi.”
“Iya, yaudah.”
Aku berbalik pergi. Pulang. Nanti malam aku akan menyicil tugas-tugasku. Dan aku baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja. Sungguh-sungguh.
***
Mataku terpaut dalam pada layar monitor laptop. Sudah lebih dari 3 jam dan aku tidak sadar sama sekali. Bukan, bukan tugas. Aku sedang menggombal. Menulis tulisan-tulisan sampah tidak penting. Paling tidak semua ini meringankan segalanya. Semuanya buyar saat music player-ku memainkan Oh, It’s Love dari Hellogoodbye. Aku memundurkan punggungku, bersandar pada sandaran kursi belajarku dan mulai ikut bernyanyi. Aku bergerak mengambil handphone dan melihat kalimat-kalimat terbaiknya yang pernah terkirim dan kusimpan rapi. Rapi sampai barang itu rusak mungkin.
“kamu bayangan paling nyata yang pernah ada”
Ada puluhan kalimat yang kusimpan, tapi itu favoritku. Aku tersenyum dan kembali bergumul dengan monitor dan keyboard. Memang hanya itu satu hal eksak dan ajeg yang selalu kulakukan saat semua inderaku mensensasikan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Bahkan saat otak dan hatiku mulai ikut membantu mempersepsikan dan menginterpretasikannya.
Kamu. Kamu yang jamak. Kamu-kamu itu tak pernah satu. Selalu bergerombol. Herannya, atau mungkin hebatnya aku tidak apa-apa. Aku tidak merasakan apa-apa. Dan aku berani bersumpah. Aku baik-baik saja. Sama sekali.
***
“Aku ga bisa nganterin kamu ya?”
“Kamu mau kemana?”
“Kemana-mana… Hahahahaha…”
“Ya sudah. Nanti aku minta anter Dara.”
“Hey, aku mau kemana-mana. Aku sengaja melanggar janji.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Menuntutlah sedikit. Kamu terlalu menerima.”
“Dengar, aku tidak jauh-jauh mengenal dekat orang sepertimu untuk kembali mengeluh-mengeluh lagi seperti dulu.”
Sepersekian detik aku tersadar. Sudah hampir setahun aku berkeliaran di level hubungan ini. Level hubungan yang paling membuatku bahagia, paling nyaman, dan paling absurd. Aku tidak tahu. Langkahku tertahan. Aku tak siap maju dan menjadikan lebih baik, terlebih tak mau mundur dan meninggalkan. Hampir setahun dan tak ada yang berubah, kecuali tetap menyenangkan. Yang paling menyenangkan malah.
“Berhentilah jadi wanita hebat. Kasihani hatimu. Apa yang membuatmu mampu seperti itu?”
“Kamu. Kamu alasan atas segalanya. Kamu. Senyummu, tulang pipi dan alismu, kumis dan bibir tipismu, hidungmu, rambutmu, matamu dan tatapanmu yang jarang sekali ada aku di dalamnya. Ahh, aku sungguh suka menatapmu. Kamu. Kamu alasannya. Segala dirimu. Segalanya.”
“Kamu memang gila.”
Dia menutup kalimat terakhirnya dengan senyum tersipu yang memikat. Maaf, semua jenis senyumnya memang memikat. Hatiku berusik pelan…
“Dan aku tak bisa berhenti…”
Sabtu Ceria, 1-1-11
Kamar Gelap, 11.00 AM
Story Soundtrack : Self Inflicted - Katy Perry
“Kan kamu yang maksa aku temenin kamu ampe aku batalin pergi ama anak-anak.”
“Iya. Aku harus pergi juga tapi.”
“Iya, yaudah.”
Aku berbalik pergi. Pulang. Nanti malam aku akan menyicil tugas-tugasku. Dan aku baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja. Sungguh-sungguh.
***
Mataku terpaut dalam pada layar monitor laptop. Sudah lebih dari 3 jam dan aku tidak sadar sama sekali. Bukan, bukan tugas. Aku sedang menggombal. Menulis tulisan-tulisan sampah tidak penting. Paling tidak semua ini meringankan segalanya. Semuanya buyar saat music player-ku memainkan Oh, It’s Love dari Hellogoodbye. Aku memundurkan punggungku, bersandar pada sandaran kursi belajarku dan mulai ikut bernyanyi. Aku bergerak mengambil handphone dan melihat kalimat-kalimat terbaiknya yang pernah terkirim dan kusimpan rapi. Rapi sampai barang itu rusak mungkin.
“kamu bayangan paling nyata yang pernah ada”
Ada puluhan kalimat yang kusimpan, tapi itu favoritku. Aku tersenyum dan kembali bergumul dengan monitor dan keyboard. Memang hanya itu satu hal eksak dan ajeg yang selalu kulakukan saat semua inderaku mensensasikan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Bahkan saat otak dan hatiku mulai ikut membantu mempersepsikan dan menginterpretasikannya.
Kamu. Kamu yang jamak. Kamu-kamu itu tak pernah satu. Selalu bergerombol. Herannya, atau mungkin hebatnya aku tidak apa-apa. Aku tidak merasakan apa-apa. Dan aku berani bersumpah. Aku baik-baik saja. Sama sekali.
***
“Aku ga bisa nganterin kamu ya?”
“Kamu mau kemana?”
“Kemana-mana… Hahahahaha…”
“Ya sudah. Nanti aku minta anter Dara.”
“Hey, aku mau kemana-mana. Aku sengaja melanggar janji.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Menuntutlah sedikit. Kamu terlalu menerima.”
“Dengar, aku tidak jauh-jauh mengenal dekat orang sepertimu untuk kembali mengeluh-mengeluh lagi seperti dulu.”
Sepersekian detik aku tersadar. Sudah hampir setahun aku berkeliaran di level hubungan ini. Level hubungan yang paling membuatku bahagia, paling nyaman, dan paling absurd. Aku tidak tahu. Langkahku tertahan. Aku tak siap maju dan menjadikan lebih baik, terlebih tak mau mundur dan meninggalkan. Hampir setahun dan tak ada yang berubah, kecuali tetap menyenangkan. Yang paling menyenangkan malah.
“Berhentilah jadi wanita hebat. Kasihani hatimu. Apa yang membuatmu mampu seperti itu?”
“Kamu. Kamu alasan atas segalanya. Kamu. Senyummu, tulang pipi dan alismu, kumis dan bibir tipismu, hidungmu, rambutmu, matamu dan tatapanmu yang jarang sekali ada aku di dalamnya. Ahh, aku sungguh suka menatapmu. Kamu. Kamu alasannya. Segala dirimu. Segalanya.”
“Kamu memang gila.”
Dia menutup kalimat terakhirnya dengan senyum tersipu yang memikat. Maaf, semua jenis senyumnya memang memikat. Hatiku berusik pelan…
“Dan aku tak bisa berhenti…”
Sabtu Ceria, 1-1-11
Kamar Gelap, 11.00 AM
Story Soundtrack : Self Inflicted - Katy Perry
Minggu, 26 Desember 2010
f a v o r i t
kamu favorit...kamu penguat yang menjadi utama
kamu penyebab segala kejatuhan
tapi kamu satu satunya kebenaran
tapi kamu satu satunya kebenaran
kamu sejelasnya keyakinan
kamu alasan
alasan aku kembali menjadi diriku
diri yang justru disebut berubah
tapi aku tau ini asalnya
kamu pengukir semua senyum
penahan air mata yang yang seharusnya jatuh
kamu meniadakannya
sungguh sungguh melompatinya
sungguh sungguh melompatinya
kamu foto yang tak lepas kulihat
kamu indah dalam segala sudut
kamu istimewa terabstrak
kamu abstrak teristimewa
KAMU FAVORIT :)
F A V O R I T
love. break. heart.
"i was always thinking of game that i was playing 

trying to make the best of my time
yes only love can break your heart
try to be sure right from the start..."
-the S I G I T-
-only love can beak your heart-
ini lagu lama yang udah punya puluhan versi
ini versi terbaik menurut gue
VIVA THE S I G I T !!!
akustikannya membunuh jiwa dan (ga) raga
Sabtu, 25 Desember 2010
Rectoverso - Peluk

"kamu tak pernah bisa bersyukur!"
"kamu yang egois. kamu hampir tidak pernah menggunakan hati. kamu terus mengandalkan otak hebatmu"
"kamu terlalu banyak berekspektasi. aku bahkan telah melebihi segala ekspektasimu. kamu tau itu"
"ekspektasiku tak berkutub positif, sayang. kamu mungkin tak pernah tau kalau ekspektasiku sungguh tidak hebat. dan ya, kamu terlalu hebat. kamu melampaui semuanya"
"apa maumu? terserah. iya, ya sudah terserah! aku mau membangun semua lagi dari awal"
"tak ada ulang-mengulang. semua akan tetap membekas. kamu tetap kamu, aku tetap aku, semua tetap semua"
"sayang, terserah kamu. bahkan walaupun aku sakit"
"sekarang terserah. besok tetap masalah. lagipula aku tak sudi kamu mempertahankan kesakitan"
"ah. terserah. memang terserah. aku tak peduli lagi. kamu keterlaluan"
"ya. keterlaluan. aku tak mampu lagi terus menerus keterlaluan bagimu"
"apa maumu? kamu tak pernah memikirkan apa yang sudah kuperjuangkan"
"kamu terlalu sempurna. aku lelah dengan kesempurnaanmu. aku ingin berjuang untuk ketidaksempurnaan"
"kamu akan menyesal"
"sudah pasti. dan aku sudah memilih dan meyakini. untuk menyesal. untuk merasa berdosa. untuk semuanya"
_______
"i thought i was date a queen"
"i'm just tired already to be a queen"
_______
i'm tired of perfection, wanna fight for unperfection
_______
"dan tak layak kau didera..." (dewi lestari - peluk - rectoverso)
Senin, 01 November 2010
"...if i hold you in my arms, i won't dance!"

main thing in this post is...
i'm still curious and jealous with this i-wont-dance-couple!
you know what?
TOGETHERNESS SHOULD BE THAT FUN!!!
it matters everything!
it's more than just i love you, i need you,
i always wanna be beside you, or i'm happy being with you
it is simplier
it is about I'M HAVING A LOT OF FUN WHEN I'M WITH YOU
it stand first before things i mention above come up
"world's easier when i'm with you,
coz all i do is laughing, smiling, happy"
"it is not about you adoring me,
it is you making me have a lot of fun"
that comes first and become the excuse for
i love you, i just wanna be with you
the world is cruel
the world is stingy
the world is sucks
the world is boring
but the world is fun, when the world is you
i'm still curious and jealous with this i-wont-dance-couple!
you know what?
TOGETHERNESS SHOULD BE THAT FUN!!!
it matters everything!
it's more than just i love you, i need you,
i always wanna be beside you, or i'm happy being with you
it is simplier
it is about I'M HAVING A LOT OF FUN WHEN I'M WITH YOU
it stand first before things i mention above come up
"world's easier when i'm with you,
coz all i do is laughing, smiling, happy"
"it is not about you adoring me,
it is you making me have a lot of fun"
that comes first and become the excuse for
i love you, i just wanna be with you
the world is cruel
the world is stingy
the world is sucks
the world is boring
but the world is fun, when the world is you
Rabu, 27 Oktober 2010
God bless Step Up 3D





i have a lot of questions to be answered about this film
and everything is about "how could"
how could this film makes me adore it so many much?
how could i adore every character in this movie?
how could i love every single part of this film, even The Samurai?
how could this movie makes that deep definition about family?
how could they recruited great dancers that much?
how could every people and place and activity in this movie look so cool?
how could it makes me wanna move to New York so much?
how could it makes me love it more, the more i watched it?
how could this film makes me so much jealous for want to live like them?
how could life seems so much interesting and colorful in this film?
how could they made a straw part and listen-to-New-York-traffic part in this film so amazing?
how could Luke made a good film like that? and i'm still curious to watch it.
how could their life in this movie seem so alive?
look at those pictures above
(1) how could i adore this soulmate and their soulmate so much?
(2) how could i love that robot boy as much as i love the main character beside?
(3) how could i wanna scream like crazy everytime i see this water battle, mainly see that ROBERT ALEXANDER III?
(4) how could they do that? and for your information, this film is full of cool things like this!
(5) how could this messy house contains of a lot of cool room like this? I HEART THIS SPEAKER ROOM!
now, buy the dvd and go scream like crazy everyday!!!
Langganan:
Postingan (Atom)