Sabtu, 01 Januari 2011

celebrating... you!


bagaimana caranya memberi selamat? kalimat apa yang harus kusampaikan? kepada siapa aku harus menyelamati?

semua orang. semua orang harus diselamati. karena semua orang merayakan. meskipun aku tidak. apa yang berbeda? ini malam biasa. ini malam seperti layaknya tiap malam aku sulit terlelap. malam biasanya aku mampu terjaga sampai waktu tak pantas lagi disebut malam. malam biasa yang memang harus dianggap sebagai persiapan bagi keesokan hari. hari yang pada akhirnya biasa saja.

maaf. aku skeptis. aku tak tahu apa itu tahun baru. apa itu valentine's day. apa itu hari ibu. apa itu hari ulang tahun temanku. bahkan apa itu hari ulang tahunku. pada hakikatnya semuanya akan sama saja. dan lagi-lagi semua yang orang anggap agung sehingga dirayakan dan dipersiapkan sedemikian megah itu akan berlalu juga.

ah, aku benci waktu. aku benci. dia memang pelari handal. aku lelah harus terus berlari mengikutinya. aku sudah lebih dari ngos-ngosan. dia membuatku menyicipi dan tak sempat menikmati. atau menikmati dan lalu harus memuntahkan. jadi apa bedanya semua? hari ini, besok, kapanpun, apapun labelnya, sama saja.

maaf jika aku terus berkicau meminta 19 buah lentera yang kalau bisa berwana hitam diterbangkan di malam 18 Februari tepat jam 2 malam. aku tidak berusaha merayakan. aku hanya berusaha terlihat tidak begitu skeptis.

tapi aku mau jujur. malam ini aku merayakan. merayakan sesuatu. bukan tahun baru. merayakan rasa yang kurasakan. merayakan kebahagiaan yang kukecap. merayakan kamu, dalam aku. aku tau ini lebih pantas dirayakan dari sekedar esensi sempit dari tahun baru. aku merayakan keindahan. bukan kembang api, tapi kamu. bukan ramai terompet, tapi rasa untukmu dan rasa atasmu. dan aku bangga. aku merayakannya!

aku yakin dengan sepenuh keyakinanku, tidak akan ada yang berubah pada pergantian hari-hari hebat yang orang-orang kumandangkan. pagi selalu indah. indah untuk memulai lelap. sama saja. tapi pagi ini aku merayakan. sekali lagi merayakan perasaanku. merayakan senyum luar biasa yang aku sendiri sunggingkan tepat di detik pertama aku membuka mata.

kebetulan ini tahun baru. walau sesungguhnya aku merayakan hal lain. merayakan perasaan yang terlalu hebat untuk tidak diagungkan. merayakan rasa untuk dan atasmu. BUKAN MERAYAKAN KAMU.




Tertulis : Kamar Gelap, 11.20 AM
31-12-10 sd 1-1-11, Jumat dan Sabtu Inspirasi Ajaib

JANGAN PERNAH PERCAYA FIKSI !!!

menuntut lah!

“Aku ga bisa sama kamu nanti malam.”
“Kan kamu yang maksa aku temenin kamu ampe aku batalin pergi ama anak-anak.”
“Iya. Aku harus pergi juga tapi.”
“Iya, yaudah.”

Aku berbalik pergi. Pulang. Nanti malam aku akan menyicil tugas-tugasku. Dan aku baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja. Sungguh-sungguh.

***

Mataku terpaut dalam pada layar monitor laptop. Sudah lebih dari 3 jam dan aku tidak sadar sama sekali. Bukan, bukan tugas. Aku sedang menggombal. Menulis tulisan-tulisan sampah tidak penting. Paling tidak semua ini meringankan segalanya. Semuanya buyar saat music player-ku memainkan Oh, It’s Love dari Hellogoodbye. Aku memundurkan punggungku, bersandar pada sandaran kursi belajarku dan mulai ikut bernyanyi. Aku bergerak mengambil handphone dan melihat kalimat-kalimat terbaiknya yang pernah terkirim dan kusimpan rapi. Rapi sampai barang itu rusak mungkin.

“kamu bayangan paling nyata yang pernah ada”

Ada puluhan kalimat yang kusimpan, tapi itu favoritku. Aku tersenyum dan kembali bergumul dengan monitor dan keyboard. Memang hanya itu satu hal eksak dan ajeg yang selalu kulakukan saat semua inderaku mensensasikan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Bahkan saat otak dan hatiku mulai ikut membantu mempersepsikan dan menginterpretasikannya.

Kamu. Kamu yang jamak. Kamu-kamu itu tak pernah satu. Selalu bergerombol. Herannya, atau mungkin hebatnya aku tidak apa-apa. Aku tidak merasakan apa-apa. Dan aku berani bersumpah. Aku baik-baik saja. Sama sekali.

***

“Aku ga bisa nganterin kamu ya?”
“Kamu mau kemana?”
“Kemana-mana… Hahahahaha…”
“Ya sudah. Nanti aku minta anter Dara.”
“Hey, aku mau kemana-mana. Aku sengaja melanggar janji.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Menuntutlah sedikit. Kamu terlalu menerima.”
“Dengar, aku tidak jauh-jauh mengenal dekat orang sepertimu untuk kembali mengeluh-mengeluh lagi seperti dulu.”

Sepersekian detik aku tersadar. Sudah hampir setahun aku berkeliaran di level hubungan ini. Level hubungan yang paling membuatku bahagia, paling nyaman, dan paling absurd. Aku tidak tahu. Langkahku tertahan. Aku tak siap maju dan menjadikan lebih baik, terlebih tak mau mundur dan meninggalkan. Hampir setahun dan tak ada yang berubah, kecuali tetap menyenangkan. Yang paling menyenangkan malah.

“Berhentilah jadi wanita hebat. Kasihani hatimu. Apa yang membuatmu mampu seperti itu?”
“Kamu. Kamu alasan atas segalanya. Kamu. Senyummu, tulang pipi dan alismu, kumis dan bibir tipismu, hidungmu, rambutmu, matamu dan tatapanmu yang jarang sekali ada aku di dalamnya. Ahh, aku sungguh suka menatapmu. Kamu. Kamu alasannya. Segala dirimu. Segalanya.”
“Kamu memang gila.”

Dia menutup kalimat terakhirnya dengan senyum tersipu yang memikat. Maaf, semua jenis senyumnya memang memikat. Hatiku berusik pelan…

“Dan aku tak bisa berhenti…”



Sabtu Ceria, 1-1-11
Kamar Gelap, 11.00 AM
Story Soundtrack : Self Inflicted - Katy Perry

Minggu, 26 Desember 2010

f a v o r i t

kamu favorit...

kamu penguat yang menjadi utama
kamu penyebab segala kejatuhan
tapi kamu satu satunya kebenaran
kamu sejelasnya keyakinan

kamu alasan
alasan aku kembali menjadi diriku
diri yang justru disebut berubah
tapi aku tau ini asalnya

kamu pengukir semua senyum
penahan air mata yang yang seharusnya jatuh
kamu meniadakannya
sungguh sungguh melompatinya

kamu foto yang tak lepas kulihat
kamu indah dalam segala sudut
kamu istimewa terabstrak
kamu abstrak teristimewa

KAMU FAVORIT :)

F A V O R I T

love. break. heart.

"i was always thinking of game that i was playing
trying to make the best of my time
yes only love can break your heart
try to be sure right from the start..."
-the S I G I T-
-only love can beak your heart-


ini lagu lama yang udah punya puluhan versi
ini versi terbaik menurut gue
VIVA THE S I G I T !!!
akustikannya membunuh jiwa dan (ga) raga

Sabtu, 25 Desember 2010

Rectoverso - Peluk


"kamu tak pernah bisa bersyukur!"

"kamu yang egois. kamu hampir tidak pernah menggunakan hati. kamu terus mengandalkan otak hebatmu"

"kamu terlalu banyak berekspektasi. aku bahkan telah melebihi segala ekspektasimu. kamu tau itu"

"ekspektasiku tak berkutub positif, sayang. kamu mungkin tak pernah tau kalau ekspektasiku sungguh tidak hebat. dan ya, kamu terlalu hebat. kamu melampaui semuanya"

"apa maumu? terserah. iya, ya sudah terserah! aku mau membangun semua lagi dari awal"

"tak ada ulang-mengulang. semua akan tetap membekas. kamu tetap kamu, aku tetap aku, semua tetap semua"

"sayang, terserah kamu. bahkan walaupun aku sakit"

"sekarang terserah. besok tetap masalah. lagipula aku tak sudi kamu mempertahankan kesakitan"

"ah. terserah. memang terserah. aku tak peduli lagi. kamu keterlaluan"

"ya. keterlaluan. aku tak mampu lagi terus menerus keterlaluan bagimu"

"apa maumu? kamu tak pernah memikirkan apa yang sudah kuperjuangkan"

"kamu terlalu sempurna. aku lelah dengan kesempurnaanmu. aku ingin berjuang untuk ketidaksempurnaan"

"kamu akan menyesal"

"sudah pasti. dan aku sudah memilih dan meyakini. untuk menyesal. untuk merasa berdosa. untuk semuanya"


_______


"i thought i was date a queen"
"i'm just tired already to be a queen"


_______


i'm tired of perfection, wanna fight for unperfection


_______


"dan tak layak kau didera..." (dewi lestari - peluk - rectoverso)

Senin, 01 November 2010

"...if i hold you in my arms, i won't dance!"


main thing in this post is...
i'm still curious and jealous with this i-wont-dance-couple!

you know what?
TOGETHERNESS SHOULD BE THAT FUN!!!
it matters everything!

it's more than just i love you, i need you,
i always wanna be beside you, or i'm happy being with you

it is simplier
it is about I'M HAVING A LOT OF FUN WHEN I'M WITH YOU
it stand first before things i mention above come up

"world's easier when i'm with you,
coz all i do is laughing, smiling, happy"

"it is not about you adoring me,
it is you making me have a lot of fun"

that comes first and become the excuse for
i love you, i just wanna be with you

the world is cruel
the world is stingy
the world is sucks
the world is boring
but the world is fun, when the world is you

Rabu, 27 Oktober 2010

God bless Step Up 3D






i have a lot of questions to be answered about this film
and everything is about "how could"

how could this film makes me adore it so many much?
how could i adore every character in this movie?
how could i love every single part of this film, even The Samurai?
how could this movie makes that deep definition about family?
how could they recruited great dancers that much?
how could every people and place and activity in this movie look so cool?
how could it makes me wanna move to New York so much?
how could it makes me love it more, the more i watched it?
how could this film makes me so much jealous for want to live like them?
how could life seems so much interesting and colorful in this film?
how could they made a straw part and listen-to-New-York-traffic part in this film so amazing?
how could Luke made a good film like that? and i'm still curious to watch it.
how could their life in this movie seem so alive?

look at those pictures above
(1) how could i adore this soulmate and their soulmate so much?
(2) how could i love that robot boy as much as i love the main character beside?
(3) how could i wanna scream like crazy everytime i see this water battle, mainly see that ROBERT ALEXANDER III?
(4) how could they do that? and for your information, this film is full of cool things like this!
(5) how could this messy house contains of a lot of cool room like this? I HEART THIS SPEAKER ROOM!

now, buy the dvd and go scream like crazy everyday!!!

Sabtu, 07 Agustus 2010

smart cover album





see these cover album designs, and do you know what?
this is what the world called original, creative, and smart
these are unusual, extraordinary, and smart


1# saosin - in search of solid ground (2009)
"look at the watch! how complicated it is. no wonder if time become the most sucks create in the world. it is always too long or too fast. how could that broken watch seems so interesting?"

2# mika - the boy who knew too much (2009)
"look at the boy down there! i need almost 15 minutes to know that this is a picture of a room. what a good perspective. whatever but i started to wish that i could have any room like that"

3# muse - the resistance (2009)
"how could that broken colorful dance ball lamp could also looked like a tunnel leads to earth? but it already looks like a shell of an earth. how could it made?"


THIS IS SMART!
have anybody in this planet ever had an idea like this design's ideas?
NO! it's great.

Minggu, 01 Agustus 2010

18 is not BIG enough


this is me in every evening when my parent's calling
this is my projection for only when i hear that calls ring
nothing but it's too often
nothing but "hey mom, dad, i'm already 18"
come on, i love u and please stop worry too much
cause i'll always be good for you

Kamis, 08 Juli 2010

cerpen : KADO


“Selamat siang.”
“Selamat siang. Ini bisa tolong dibungkuskan mbak? Pakai kertas ini aja.”
“Oh, bisa Bu. Mau pakai hiasan lain?”
“Hmm… Apa ya?”
“Kalau boleh tau ini untuk siapa Bu?”
“Untuk anak perempuan saya.”
“Oh, kalau pita ini bagaimana Bu? Warna ini cocok.”
“Wah, bagus. Atur aja mbak.”

Wajah perempuan itu tertunduk terpaku ke atas meja, berkutat dengan ketas, selotip, lem, pita, dan sebuah dress santai yang begitu anggun berwarna ungu. Matanya masih tetap berbinar sama seperti saat tepat ia tersenyum manis kepada ibu yang ada di hadapannya. Mata itu memang selalu berbinar dan senyum itu pun memang selalu manis.

Tak kalah sempurna dengan senyum dan mata berbinarnya, ada sepasang mata dan senyum yang selalu menjadi sangat berarti baginya. Senyum dan mata itu yang sesungguhnya membentuk manis senyum dan binar matanya. Dan itu adalah mata dan senyum setiap pelanggan yang berdiri di hadapannya setelah ia mengangkat wajahnya dari menit-menit sibuknya dengan sekumpulan benda monoton itu. Mata dan senyum orang yang ada di hadapnnya setelah bermenit-menit memandang takjub keterampilan tangannya membungkus bingkisan yang akan selalu menjadi sangat berarti. Bingkisan yang dibawa masuk tokonya dengan sejuta emosi bahagia dan harapan yang akan mengklimaks setelah terbungkus sempurna.

***

“Selamat sore.”
“Sore. Hmmm…”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Hmm… Gini mbak, saya mau kasi agenda ini ke pacar saya. Ini agenda yang udah kesisi penuh tulisan-tulisan yang paling berarti bagiku dan hubungan kita. Ada foto-foto dan lainnya juga. Nih, bagus kan mbak?”
“Wah, iya bagus.”
“Nah, tapi agendanya mau saya sampul. Ini polosan jelek banget. Diapain ya mbak?”
“Pacarnya suka warna apa mbak?”
“Hijau mbak.”
“Coba kalau kertas hijau yang itu. Itu manis tapi nggak feminin. Nanti ditambahkan payet-payet ini. Cocok aja kok buat cowok.”
“Iya iya mbak. Bagus kayaknya. Dibikin aja mbak.”

Ia mulai berkutat lagi dengan barang-barang monoton itu. Wajah bahagia didepannya memandangnya dengan penuh harapan. Harapan agar benda berarti itu bisa disulap menjadi semakin luar biasa dan akan membuat buku usang itu menjadi semakin berarti bagi pemilik baru yang akan dihadiahi nanti, jauh lebih berarti dari arti yang dimiliki si pemberi.

Semua orang punya satu teori standar tentang kado. Kado itu barang yang mungkin bukan apa-apa yang diberikan si pemberi, yang mungkin akan berarti sangat banyak bagi yang diberi. Tapi itu terlalu klise bagi seorang penikmat detil sepertinya. Ia sering memaknai dengan sempurna hal-hal kecil yang padahal selalu terlewatkan bagi orang lain. Baginya, kado itu bingkisan penuh harapan, yang sejak dibeli isinya, sang pemberi telah memiliki suatu emosi bahagia luar biasa, dan semakin bahagia setelah barang itu terbungkus manis. Kebahagiaan itu berasal dari harapan itu sendiri. Harapan akan respon sempurna dari orang yang ditujukan untuk diberikan bingkisan itu. Hanya ia yang tau, kado-kado itu kadang jauh lebih berarti saat si pemberi mempersiapkannya, jauh lebih berarti dari saat kado itu sampai ditangan yang dituju.

Mata dan senyum mereka menampakkannya. Menampakkan kebahagiaan itu. Menampakkan sejak mendorong pintu masuk toko kadonya, dan kemudian mulai bediri berdiskusi di depannya, serta semakin sempurna saat ia mengangkat wajahnya dari atas meja setelah menyelesaikan pembungkusan. Mata dan senyum itu yang juga berarti baginya. Membuatnya masih mampu tersenyum dan matanya masih mampu berbinar sampai saat ini.

Pekerjaan yang sangat dicintainya ini yang membuatnya akhirnya bisa sedikit bahagia. Pekerjaan yang bisa membuatnya mengamati kebahagiaan orang lain. Meskipun mata dan senyumnya tak akan pernah lagi sesempurna 2 tahun lalu. 2 tahun semenjak harapan dan kebahagiaannya dihancurkan keadaan. Keadaan yang bahkan takkan sanggup dikutuknya, karena sudah kehendak Pemilik Segala Keadaan. Tomi, sang pemilik kebahagiaanya mengalami kecelakaan tragis tepat saat di satu tempat berbeda ia sedang mengepas pakaian pengantin yang akan dipakainya dalam sandingan Tomi. Lebih tragisnya lagi, Tomi berada di mobil bersama ibunya, dan tak ada yang selamat. Sebagai anak tunggal ia akhirnya sebatang kara dan menjadi pemilik toko rintisan keluarganya ini. Pemilik yang selalu ikut bekerja karena kecintaannya.

***

“Cit!”
“Hei Ben. Darimana kamu?”
“Dari kantor. Janjian ama klien tapi dia nunda ampe jam makan siang. Udah sarapan? Sarapan yuk.”
“Udah. Udah kenyang.”
“Ah, gag asik. Makan aja lagi yuk, biar tulangmu berkembang dikit.”
“Manja. Sarapan aja minta ditemenin.”
“Hahahaha… Tuh ngerti. Ayo cepetan!”
“Iyaaa… Mit, titip toko bentar ya.”
“Iya mbak. Lama juga nggak apa-apa.”

Cuma aku dan Pemilik Segala Keadaan yang tau kalau waktu-waktu seperti ini yang sangat kucintai. Waktu saat aku bisa menatap senyum dan mata Cita sepuasnya. Mata dan senyum perempuan yang paling kucintai setelah ibuku sendiri. Wanita dengan mata dan senyum yang paling sempurna menyempurnakan hariku. Hariku sejak 3 tahun lalu. Ya, aku, Putra Benindra Setiawan. Sahabat paling tidak tau diri bagi seorang Tomi. Aku tak pernah mengkhianati. Aku tak pernah bersikap lebih sedikitpun kepada Cita. Aku berlaku sama dihadapan mereka berdua, sama saat kita bertiga mulai bersahabat, aku mulai mencintai Cita, Cita dan Tomi mulai saling mencintai, atau apapun itu. Aku tetap sama. Aku bahkan tak pernah berani menulis atau mengakui sesuatu untuk diriku sendiri. Aku menyimpan semuanya sempurna rapi. Rapi dan manis seperti kado-kado yang memenuhi toko Cita.

Satu hal yang aku tau, aku mencintai saat bersamanya. Karena akupun tidak pernah mampu dengan tegas menyatakan bagi diriku sendiri bahwa aku mencintainya. Begitu rapi hal ini kusimpan sampai bahkan perasaan bahagiaku yang berbeda saat bersamanya pun tak mampu di maknai oleh sang penikmat detil itu. Ia tak mampu mengamatinya. Karena aku masih sama. Sama bahkan saat aku tau aku punya kesempatan sejak kematian Tomi. Pokoknya, aku suka melihat mata dan senyumnya sepuasnya. Mata dan senyum yang sepengamatanku sama seperti lebih dari 2 tahun lalu. Mata dan senyum yang tidak tersimpan kepedihan yang mendalam. Mata dan senyum yang menurutku hanya muncul saat ia bersamaku, sejak 2 tahun belakangan ini.

***

“Malam Cit.”
“Beni? Pulang kantor?”
“Iya.”

Aku berkeliling toko itu dan mengamati setiap inci rak-rak yang berisi kotak-kotak kado. Ada berbagai macam warna hitam. Hitam yang mendekati biru, hitam yang agak keunguan, hitam yang terlihat hijau. Aku berkeliling lama. Mengamati lebih lama lagi. Sampai akhirnya kutemukan warna hitam yang benar-benar hitam. Yah, agak bersinar keperakan kalau terkena sinar lampu, tapi paling tidak itu menedekati hitam dan abu-abu. Aku selalu suka hitam. Bagiku hitam itu unik dan elegan. Menarik. Eksotik.

"Aku beli ini ya? Tutup kotaknya dipitain ya?”
“Pakai apa? Kertas apa pita?”
“Hmm… Yang kertas gag ada yang keperakan tapi kan?”
“Iya. Adanya perak atau abu-abu ya pita. Pita ada yang silver.”
“Pakai pita aja. Yang silver yang lebar tuh. Yang itu!”

Sejenak mata Cita tertegun menatap mataku lebih lama. Ia terlihat memperhatikan wajahku saat memilih bungkusan sempurna untuk bingkisanku nanti. Ia mengamati senyumku yang seakan sedang membanyangkan isi kado yang sepertinya akan sangat sempurna dengan bungkusan yang akan dikenakannya. Hatiku berdegup lebih kencang. Ada ketakutan yang kurasakan. Tapi itu juga yang kuharapkan.

“Iya, Iya. Isinya mana?”
“Tutupnya aja pitain. Ntar isinya aku yang urus.”
“Iyaaaa… Eh, buat siapa ni?”
“Udah, pitain aja! Brisik deh.”
“Tumben pelit amat. Buat siapa sih? Isinya apa nih?”
“Ehh… Melanggar kode etik pekerjaan, memaksa ingin tau urusan pelanggan.”
“Lagian biasanya nggak dipaksa juga kamu yang konsultasi sendiri kado-kadomu ke aku.”
“Ehh… Suka-suka pelanggan ya mbak.”
“Hmm…”

***

Hari yang panjang. Besok valentine dan tokonya ramai minta ampun. Ia bahkan tak pernah paham kenapa valentine selalu dibesar-besarkan kalau setiap hari bisa dibuat menjadi hari valentine. Ia baru tiba jam 11 malam di rumahnya. Sekarang jam 12 tepat. Ia baru selesai mandi dan bersiap tidur ketika pintu rumahnya kembali menyuarakan ketukan. Ia menengok ke luar dan mendapati sosok pak Agus berdiri di depan pintu. Pak Agus adalah pegawai lama di tokonya. Ia telah bekerja sejak Cita masih kecil. Ia bekerja untuk ayah ibu Cita dan sampai saat ini ia bekerja untuk Cita.

“Pak Agus? Ada apa malam-malam Pak? Bapak dari kantor?”
“Nggak kok mbak. Kan mbak udah bolehin saya pulang dari sore tadi.”
“Oh iya pak. Ada apa pak?”
“Ini ada titipan. Udah dititipin ke saya dari malam tadi, tapi saya pikir saya mau antar jam 12 saja. Maaf ganggu mbak.”
“Wah, nggak apa-apa pak. Saya juga baru saja sampai rumah.”
“Ya udah mbak, saya pulang dulu ya?”
“Iya pak. Terima kasih banyak.”

Cita kembali ke kamar. Ia duduk di atas tempat tidurnya dan membuka kotak titipan pak Agus perlahan. Sejenak ia merasa aneh dengan kotak itu. Banyaknya pelanggan hari ini membuat ia hanya mampu sedikit merasa bahwa kotak ini adalah kotak yang dihiasnya. Ia menangkap beberapa tangkai mawar putih yang indah di dalam kotak itu. Kotak hitam pekat bersinar keperakan, pita silver, dan mawar putih. Degradasi luar biasa dalam sepaket bingkisan sehingga kado itu menjadi begitu mempesona. Ia kemudian membuka sebuah kartu hitam bertinta perak dan mulai membaca.

Maaf semua warnanya sesuai warna kesukaanku
Ini memang tentang aku dan keegoisanku
Ini tentang aku yang berusaha selamanya tak melibatkanmu
Tapi akhirnya tak mampu
Semoga kau sendiri mampu memaknai detil yang bahkan tak tampak ini
_Beni _

Ia tertegun. Berbagai ekspresi, senyum, tatapan mata Beni tadi malam berputar didalam otaknya seperti film yang diputar di dvd player yang rusak dan tak bisa dihentikan karena tombol pause dan stop yang rusak. Si penikmat detil akhirnya menemukan detil yang tak sanggup di maknainya selama ini. Emosi bahagia dan harapan setinggi-tingginya dari pelanggannya tadi yang bernama Beni dirasakannya saat ini. Sekarang ia professional sebagai seorang pemakna detil yang selalu terabaikan. Ia bahkan merasakan perasaan si pemberi bingkisan sebagai si penerima bingkisan.

Ia bahkan tersadar. Ada 1 hal yang sering tidak masuk dalam list emosi yang sering diamatinya. Cinta. Baginya bagaimana harapan si pemberi atas kadonya sudah menampakkan emosi kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa. Namun kini ia menyadari betul bagaimana emosi dan perasaan cinta orang dapat dipahaminya lewat kado yang diberikan dan cara orang itu memilih bungkusannya dan memadupadankan dengan isi kadonya di kepalanya. Sekarang ia benar-benar memahami detil yang dimiliki Beni kepadanya. Detil yang sempat beberapa detik tadi ditangkapnya hanya dengan melihat bagaimana cara Beni memilih-milih bungkusan kado. Ia sama sekali tak menyangka karena beberapa detik tadi pun secara tidak sengaja di tolak alam bawah sadarnya untuk diproses. Ia meng-eject detil yang tadi sempat ditangkapnya dari Beni. Dan sekarang ia benar-benar paham.

Handphone Cita berbunyi. Ada pesan masuk.
Beni:
“selamat hari setiap hari…”

***