Sabtu, 11 Juli 2015

Mencukupkan Diri

Pada akhirnya berpasangan adalah perkara mencukupkan diri.

Kau bisa hidup untuk dirimu sendiri. Percayalah. Kita ini makhluk egosentris. Kita ini diciptakan lebih dulu sebagai individual, barulah setelah melalui berbagai proses belajar, kita mulai menumbuhkan kebutuhan sosial kita sampai matang, lalu menjadi makhluk sosial dan individual secara bersamaan.

Kita tak terlalu perlu berpasangan. Percayalah, kau tak perlu terlibat di dalam ruang penuh pertimbangan, karena harus menghitung segala sesuatunya untuk dua orang. Kau harus menjaga perasaan dua orang, kau dan pasanganmu. Kau harus menghitung kepantasan dengan proporsional, apakah sesuatu itu pantas bagimu dan bagi pasanganmu. Kau harus bertanggungjawab, atas dirimu dan atas pasanganmu.

Kau tak perlu melakukan itu. Kau bisa bebas. Kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu. Cukup memikirkan dirimu sendiri, cukup berbuat apapun untuk dirimu sendiri. Kau akan baik-baik saja. Kau bisa flirting dengan sebanyak-banyaknya lawan jenis dalam sebanyak-banyaknya waktu. Kau bisa bersama dengan siapa saja di waktu kapan saja. Hidupmu akan baik-baik saja.

Kau bisa menatap wajah pasanganmu dalam-dalam, dan bertanya-tanya, “kenapa harus dia?” Kau tahu yang lebih keren pasti banyak di luar sana. Entah arti keren itu yang pintar, yang tampan, yang artsy, apapun –terserah padamu-, ada banyak di luar sana. Tak akan habis. Lalu kau akan menjawab sendiri, “karena semua ini sudah cukup.”

Kau tak akan pernah bisa memenuhi semua yang kau inginkan. Kesempurnaan itu kau karang di dalam kepalamu dan memang tempatnya hanya di dalam kepalamu. Tidak ada di dunia nyata. Tidak ada yang selamanya akan menye-menye, semua akan mengalami kepudaran interaksi. Tidak ada yang akan selama excited pada apapun tentangmu, semua akan mengalami kepudaran ekspresi.

Kau akan bertanya lagi kepada dirimu sendiri, apa yang sesungguhnya kau butuhkan. Kebutuhan-kebutuhan itu saja yang perlu kau penuhi. Saya butuh teman hidup. Maka saya akan mencukupkan diri saya dengan seorang pasangan yang seperti teman saya. Teman, tapi dengan kualitas paling baik di antara teman-teman saya yang lain. Seseorang yang menemani dan mengimbangi saya ketika saya hanya membaca buku atau menulis dalam diam, berteriak-teriak di gunung, pantai, atau konser, menangis-nangis sesenggukan demi hormon bulanan, atau sekadar mendiskusikan film atau manusia yang sekarang sudah jarang tampak seperti manusia seharusnya. Seseorang yang untuk bercerita saja harus selalu berebutan dengan saya -tak mau kalah-, terus mengomentari apa yang saya lakukan, dan pastinya punya dunia dan hidupnya sendiri yang tak perlu terlalu saya acuhkan sampai kelewat batas. Seperti itulah teman. Itulah yang saya butuhkan.

Pada akhirnya kau mencukupkan diri. Kau cukupi kebebasan dalam hidupmu yang tak elak memang sangat menyenangkan. Kau cukupi keinginanmu yang muluk-muluk, lalu fokus kepada kebutuhanmu. Kau cukupi perjalanan-perjalananmu yang selama ini membuatmu berlari kencang sampai kau sesak napas, lalu memilih berjalan kaki pelan-pelan dan damai agar kau tak melewatkan lagi pemandangan di sekelilingmu.

Begitulah konsep berpasangan. Pada akhirnya kau butuh penakar hidup. Agar kau tak terbang terlalu tinggi. Tidak semua burung cocok berada di semua level ketinggian, dan kau perlu sesuatu untuk menahanmu agar tidak kemudian sesak napas kekurangan oksigen di sela-sela awan dan lalu terkapar gagal menyesuaikan diri dengan tekanan udara yang asing.

Perihal Si Keren dan Si Kotor

Saya pernah me-retweet suatu tweet yang jika diartikan kembali kira-kira berbunyi seperti ini:

“Cuma karena punya vagina, kami harus susah-susah was-was berjalan sendirian di malam hari? Thanks society.”

Rasanya saya ingin me-repost tweet ini setiap bulan. Selain karena saking sukanya saya dengan tweet ini, juga karena saya ingin terus membuat reminder bagi semua orang.

Saya sering sekali merasa terganggu dengan kalimat yang berbunyi, “kamu itu cuma dimanfaatin sama dia!” Kalimat ini jika dipakai untuk mengungkapkan konteks selain seks, bisa dipakai oleh perempuan maupun laki-laki. Konteks harta misalnya. Sang tertuduh yang memanfaatkan bisa saja Si Perempuan ataupun Si Laki-laki. Namun konteks ini jika digunakan dalam konteks seks, sebagian besar tertuduh pastilah laki-laki.

Mengapa harus laki-laki yang memanfaatkan perempuan? Memangnya yang merasa enak hanya si laki-laki sehingga hanya mereka yang mendapatkan manfaat? Jika hubungan seks itu memang dilakukan dengan persetujuan kedua pihak, tidak ada paksaan dan sama-sama mau, coba tanyakan ke perempuan-perempuan itu, apakah mereka juga merasa enak atau tidak. Tempeleng saja sekalian jika mereka menjawab tidak.

Lalu mengapa harus laki-laki yang memanfaatkan perempuan? Kenapa tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin justru si perempuan yang sedang memanfaatkan si laki-laki? Jawabannya; konstruk sosial, atau kesadaran kolektif atau apapun orang suka menyebutnya. Konstruk sosial yang sudah terbentuk sejak purba. Bahwa perempuan pasti lebih lemah dari laki-laki. Bahwa di Mesir dulu, laki-lakilah yang menyusun batu sampai jadi Piramida dan perempuan cukup menyiapkan bergalon-galon bir untuk para laki-laki itu. Konstruk nilai yang diamini selama berabad-abad pergantian peradaban manusia. Sampai pada peradaban ini, tidak ada yang akan mempertanyakannya lagi. Pokoknya ya begitu.

Konstruk ini bahkan sebenarnya sudah kurang valid digunakan di masa sekarang. Sudah banyak perempuan yang menjadi kuli, buruh kasar pembangunan. Lagipula tidak ada lagi yang butuh-butuh banget menata batu sampai tinggi untuk punya tempat tinggal. Kami cukup punya uang, lalu beli apartemen. Untuk punya uang kami hanya perlu punya karir sukses. Di titik mana lagi laki-laki dibutuhkan kalau begitu? Tidak punya pasangan selamanya juga hidup mungkin akan baik-baik saja. Kalau butuh kasih sayang, tinggal punya affair di sana-sini tanpa perlu ada attachment berlebihan. Kalau butuh seks, ada di mana-mana.

Saya juga sering sekali merasa terganggu dengan konsep; laki-laki yang pernah ‘mencicipi’ banyak perempuan itu keren, tapi kalau perempuan yang pernah ‘dicicipi’ banyak laki-laki -mengapa harus dalam kata kerja pasif?- itu rendah dan kotor. Kita sama-sama punya organ reproduksi yang hanya saja bentuknya berbeda. Sudah. Selain itu apalagi yang perlu dibedakan? Silakan dibayangkan saja bagaimana laki-laki melakukan hubungan seks dengan banyak perempuan, seperti apa motivasi dan perasaannya di setiap hubungan yang terjadi. Mereka melakukannya mungkin ada yang karena sayang, ada yang karena iseng, ada yang karena khilaf saja. Tidak semuanya berarti dan harus dibaperin. Ya seperti itulah juga kami. Sama saja.

Seks menempati bagian paling dasar dan besar dalam Hirarki Kebutuhan Manusia menurut teori psikologi Maslow. Kebutuhan yang juga ditempatkan di situ adalah kebutuhan kita untuk makan. Begitulah manusia punya insting untuk bertahan hidup; makan dan bereproduksi. Sudah seperti itu kita diciptakan, baik yang perempuan maupun yang laki-laki.

Seks itu sesederhana ‘gue sange ya gue ngewe trus gue seneng ya udah gitu aja’. Itu basic instinct. Tanpa perlu rumit-rumit mencampur adonannya dengan sekian gram nilai-nilai sosial yang berlaku soal mana yang pantas dan mana yang tidak. Soal mana yang lebih pantas dan mana yang kurang pantas.  Soal perempuan tidak pantas begini dan laki-laki bebas begitu.

Kebutuhan ini sudah ditanamkan ke diri kita sejak orok. Bukan hanya orok si laki-laki, tapi juga orok si perempuan. Bukan hanya laki-laki yang boleh terangsang di dunia ini, perempuan juga. Bukan hanya laki-laki yang harus mengontrol perilakunya ketika terangsang, ya perempuan juga. Seharusnya begitu. Jika begitu, tidak harus kami yang was-was berjalan malam-malam sendirian. Tidak juga yang punya penis. Seharusnya kita semua aman dan baik-baik saja. Tidak perlu juga seorang pria bule memungut sembarangan cabe-cabean yang bahkan ‘tidak enak dilihat’ di jalan untuk memproduksi Asian Sex Diary, saking ‘rendah’ dan ‘tak punya arti’ kami. Lalu saya juga tidak perlu bertanya-tanya kenapa bukan terong-terongan saja yang dipungut sembarangan di jalan oleh seorang wanita bule, karena kalaupun iya, jarang untuk dieksploitasi.

Dalam suatu malam, saya pernah terjebak –untuk kesekian kalinya- dalam diskusi meja makan yang membahas perihal-perihal rumit –dan melelahkan karena tak akan ada habisnya- bersama teman-teman saya. Mulai dari Tuhan, agama, dosa, pahala, dan hal-hal yang sangat menarik dibahas, hanya saja obrolan rumit seperti ini memang butuh mood. Dari berbagai referensi yang mendasari pendapat masing-masing, salah satu teman saya bilang begini;

“Gue pernah baca di salah satu kitab, dosa itu berakar dari mencuri. Membunuh itu mencuri hak hidup orang lain. Korupsi itu mencuri harta orang lain. Lalu kalau ngewe, siapa nyolong apa dari siapa, kalau sama-sama mau, sama-sama senang?”

Iya. Kita memang sama saja. Si Perempuan tidak berdosa atau mencuri apapun dari siapapun. Si Laki-laki juga tidak. Saya bukan feminis radikal KW super yang mau menuntut persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki sampai pada taraf perempuan harus boleh jadi imam masjid raya dan laki-laki harus boleh mendapat cuti sampai tiga bulan seperti jika perempuan sedang cuti melahirkan. Saya hanya membahas ini dalam konteks seks; merekonstruksi nilai yang menghasilkan pandangan tentang siapa bisa menjadi orang yang keren dan siapa bisa menjadi orang yang kotor.

Seharusnya tidak ada yang kotor. Seharusnya tidak ada juga yang keren. Biasa saja. Seks hanya urusan insting dasar manusia dan otoritas atas tubuh masing-masing.

Rabu, 13 Mei 2015

Recent Favorite: Soko



She's just.. She's just an impulsively assertive cute little baby. No, she's not little and she's not a baby. She's just a super-sweet weirdo.

______________________________

Bukan. Bukan saya baru menemukan dia. Saya pernah mendengar musiknya. Hanya saja, saya baru menaruh perhatian lebih pada perempuan bernama asli Stephanie Sokolinski ini. Dia..

..Aneh.

Dimulai dari playlist teman baik saya (teman yang baik sekali malah), saya kembali berkutat mendengarkan album-album Soko beberapa waktu belakangan ini. Terutama album EP pertamanya, Not Sokute (2007).

Album yang aneh karena dibuat oleh seorang perempuan yang memang aneh. Ini album yang paling sederhana dan jujur bila dibandingkan dengan album-album Soko berikutnya. Dia terlalu jujur dengan dirinya sendiri memang. Dia tidak perlu peduli bagaimana caranya jujur kepada orang lain, tapi dia menguasai cara terbaik untuk jujur kepada dirinya sendiri, jujur terhadap emosi dan pikiran yang berlangsung di dalam dirinya.

Seperti membaca catatan harian pribadi seorang gadis polos, dia hanya mengalirkan semua emosi dan pikirannya apa adanya. Dia bisa jatuh cinta dengan apa adanya, lalu mengungkapkannya juga dengan apa adanya, tanpa banyak mengolah apa yang dialaminya ketika akan disajikan dalam musik. Tanpa banyak intervensi, dia bisa menulis lirik yang sangat sederhana.

And you kiss me more and more
And I kiss you too
And I kiss you too!


- Take My Heart

Dia memang tampak berantakan. Kau bisa melihatnya dari penampilan dan perilakunya. Dia semacam seorang asertif yang pandai mengungkapkan dirinya, namun seringkali impulsif dan tidak dapat mengontrol apa yang dilakukannya. Tapi bagi saya dia hanya terlalu jujur.

Its raining outside, I'm crying inside
Its raining outside, I'm crying inside


Its raining outside, I'm crying out loud
Its raining outside, I'm crying out loud


Come on don´t be mad I told you I need you
Come on don´t be sad I, I´m still in love with you 


- It's Raining Outside

Sederhana. Sederhana dan manis. Dia bisa menjadi gadis yang lemah dan ketakutan karena merasa kalah. Tidak hanya jujur terhadap perasaan yang menyenangkan, dia juga jujur dengan kecemasan yang dirasakannya.

Because you're very cute tonight
And I feel shy and sad and I look at you
And I think I love you
But you don't want me
And that is very clear


- The Dandy Cowboys

Sungguh seperti mempresentasikan isi kepalanya kepada dunia sama persis seperti apa adanya. Ya, seperti membaca catatan harian pribadi seorang gadis polos.

Hanya saja dia bukan gadis yang polos. She's a piece of shit. She's a rebel. Pergi dari rumah di usia 16 tahun, meninggalkan sekolah formal dan masuk ke sekolah acting namun hanya bertahan sekitar satu tahun karena bosan. Lalu masuk lagi ke sekolah formal lain dan meninggalkannya lagi. Tidak suka mengenakan bra, tidak tahu berapa ukuran payudaranya karena tidak pernah membeli bra. Terbuka sebagai biseksual, namun pada interview terakhirnya di salah satu channel Youtube, she stated that she's much more likely to be with the girls. Boys have too much drama and girls are easier, she said. Girls are as easy as 'I like you,' 'I like you too,' 'cool,' 'let's be together."

Lalu dia bisa begitu marah dengan rumit, tapi mampu menguraikan alasan kemarahannya secara mendasar. Dia mampu mengungkapkan hal-hal sederhana yang mendasari sebuah perasaan. Alasan-alasan yang sering luput karena perasaan yang dirasakan sudah terlalu rumit. Dia bisa membenci pacar baru mantannya dan ingin membunuhnya, hanya dengan alasan karena dia menyesali, jika saja wanita itu tidak pernah ada dan mereka masih bersama, mereka sudah bisa punya Tom dan Susan. Lalu dia menyanyikan lagunya nyaris seperti hanya bercerita. Some sort of a cute form of anger.

I would have met your friends
We would have had a drink or two
They would have liked me
'Cause sometimes I'm funny


I would have met your dad
I would have met your mom
She would have said
Please can you make some beautiful babies?

So we would have had a boy called Tom
And a girl called Susan born in Japan


- I'll Kill Her

Bukan hanya soal lirik, musiknya pun sederhana. Lagunya penuh nada-nada sederhana dengan aransemen setiap instrumen yang juga sederhana. Sederhana.. dan jujur.

Di album-album berikutnya Soko masih tetap jujur, hanya saja proses berpikir dan proses mengungkapkan pikirannya ke dalam karya sudah semakin kompleks. Batas imajinasinya antara semakin kabur atau justru semakin tajam, sehingga tidak begitu sederhana lagi. Dia sudah mencapai imajinasi tentang hubungan interaksinya dengan alien, dan pikiran-pikiran kompleks lainnya.

Untuk itu, album Not Sokute masih menjadi kesayangan. Keanehan yang manis dan kejujuran yang kasar milik Soko masih sangat kental di album ini. A super-sweet weirdo. A human being who's just acting like a human being.

I hate myself today
I don't know what's happening to me
I hate my face today
I think I look so shitty
I have some spot everywhere
And I'm not even shaved
My hair are greasy
I look disgusting
My eyes are glued
And my lips are shaped
My legs are prickling
And plus I'm stinking today

 
How can I date someone
With a face like that
I know you're gonna dump me again
And i am gonna cry

'Cause you want a perfect girl
And I'm not what you expect
You want a perfect girl
And I look shitty today

 
Maybe I should put some make up
And find some crazy outfits
But I am very tired today
And I don't care if I'm not pretty

I should be like these girls
Skinny and great all the time
And I'm still wearing my slippers
And eat all the candy's at home
I should sleep more
And stop going out every day
I should focus more
And stop complaining today


- Shitty Day

______________________________





Senin, 04 Mei 2015

You Tell People What Your Ego Wants to Hear

Sudah sering saya pikirkan, mempelajari manusia memang sangat menyenangkan. Menghadapinya saja yang tidak.

_________________________


Kita adalah makhluk pembohong. Kita mulai berbohong bahkan ketika usia kita baru berkisar 2 tahun. Ini valid dan berdasar pada penelitian resmi yang tak sengaja saya tonton di suatu stasiun TV yang gemar menayangkan program dokumenter. We survive and we're good at it, that's why we lie. That's natural, that's instinct and that's okay. Jangan terburu-buru merasa buruk.

Jika tidak sedang berbohong, kita pandai memanipulasi percakapan. Kita hampir tidak pernah menyampaikan fakta dengan sempurna ketika berbicara sehari-hari dengan orang lain. Apapun yang keluar dari mulut kita, secara keseluruhan kemasannya, pasti mengandung tendensi untuk melakukan pembenaran atas diri kita sendiri. Mungkin ada fakta di dalamnya, tapi sekali lagi, keseluruhan kemasan percakapan yang kita sampaikan kepada orang lain pasti bertujuan untuk memberitahu bahwa kita benar. Tidak peduli apakah pihak lain salah, yang penting kita benar. Tidak peduli juga siapa lawan bicara kita dan apakah dia berkaitan dengan apa yang kita sampaikan, yang penting dunia di luar diri kita tahu kita benar.

Tak perlu merasa buruk. Semua orang melakukannya dan hampir selalu melakukannya. Secara sadar, maupun lebih sering secara tidak sadar.

Lucu ketika kau berada di antara dua teman yang sedang terlibat konflik. Apapun yang disampaikan oleh pihak satu pasti akan bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh pihak lainnya. Lebih lucu lagi ketika kau sebenarnya tidak peduli dengan konflik yang ada di antara mereka. Tanpa ada judgement sama sekali, kau akhirnya hanya mendengarkan apapun dari manapun. Segala sesuatu terdengar benar. Tak ada yang salah sama sekali. Hanya saja kau menjadi sadar, begitulah manusia, sepeti itulah pola perilakunya. Apa yang terjadi akan semakin lucu ketika kau sering mengalaminya.

Manusia memang lucu. Kau pun lucu karena kau juga pasti melakukan hal yang sama, sadar atau tidak.

Dalam keseharian kita, kita hampir hanya berkomunikasi dengan dua pola. Pertama, you tell people what they want to hear. Ini karena kita mempertahankan kedudukan sosial kita agar tetap 'aman' di tengah-tengah orang lain. Itu sebabnya kita menyenangkan orang lain. Ini terjadi pada waktu-waktu seperti ketika temanmu patah hati lalu datang kepadamu dan meminta saran. Meski kau memberi saran paling menyakitkan untuknya, secara tidak sadar kau sudah menghitung sedemikian rupa bahwa apa yang kau sarankan itu akan menyenangkannya. Atau paling tidak, membuat ia semakin senang berteman denganmu.

Kedua, you tell people what your ego wants to hear. Sederhana; melakukan pembenaran terhadap diri sendiri. Kita membungkus sedemikian rupa kebohongan maupun kebenaran, namun dengan kemasan yang sebisa mungkin akan menyelamatkan diri kita dari kesalahan.

Kita memang adalah makhluk yang aneh. Semakin dipikirkan semakin ajaib. Take the positives and everything is fun anyhow.

Well, wait... what? What's positive and what's negative anyway?

_________________________


I'm funny. You're funny. We're funny.
We're human.
Human is funny.

Jumat, 10 April 2015

Apa yang Ada di Dalam Kepala Mereka?

Berkutat dengan isi kepala sendiri, mencoba menguraikan apa yang terjadi di dalam isi kepala orang lain, memang pada banyak waktu adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan.

Apa yang ada di dalam kepala Aram Saroyan ketika membuat puisi berjudul A Poster-Poem? Puisi satu huruf yang kini lebih banyak, atau lebih nyaman dikenal sebagai jenis visual poetry. Jenis puisi yang ada sejumlah populasi di dunia ini mengguggatnya dan menganggapnya bukanlah puisi. Mengapa harus bentuk huruf 'm' yang ditambah satu kaki lagi? Apa makna di baliknya? Mengapa makna itu direpresentasikan dengan bentuk huruf 'm' yang ditambah satu kaki lagi? Apa yang sedang terjadi di dalam diri Aram ketika terpikirkan membuat karya itu?




Apa juga yang ada di pikiran The White Stripes ketika membuat the shortest concert in history? Alasannya mungkin bisa sesederhana karena di dunia ini ada puisi terpendek, maka tidak masalah ada konser tersingkat. Tapi mungkin juga tidak sesederhana itu. Lalu mengapa? Bagaimana mereka punya ide membuat konser di Newfoundland menjadi seperti itu? Apa makna permainan drum dan gitar yang hanya berisi satu nada itu? Mengapa itu mereka pilih untuk menjadi penanda berakhirnya tur mereka ketika itu?




Lalu apa yang yang ada di dalam kepala John Denver ketika membuat komposisi musik berjudul The Ballad of Richard Nixon? Komposisi sepuluh detik yang hanya berisi keheningan. Benar-benar hanya berisi keheningan. Seperti Aram Saroyan, John Denver pasti punya sejumlah populasi di dunia ini yang menggugatnya dan karyanya. Tapi kembali lagi, apa yang ada di pikirannya ketika menciptakan komposisi yang judulnya mencantumkan nama salah satu Presiden USA itu? Mengapa harus Richard Nixon? Mengapa harus direpresentasikan dengan keheningan? Mengapa harus hening dan mengapa ia anggap keheningan adalah suatu komposisi? Meski demikian karya ini menjadi valid jika Denver menjadikan pemikiran Mozart sebagai referensi.


Wolfgang Amadeus Mozart


Manusia dan segala sesuatu yang terjadi di dalam dirinya memang menarik. Isi kepalanya menarik. Proses berpikirnya menarik. Tapi kau tak akan khatam mempelajari dan mencari tahu tentangnya; apa yang terjadi dan apa yang mampu dihasilkan.



(Reference: What is The Shortest Poem?)

Rabu, 08 April 2015

Surat Tentang Ombak dan Kaki Bukit

Bapak, semalam aku bermimpi tentang ombak. Garisnya persis seperti rambut putih di atas kepalamu. Aku telah pandai membaca dalam laut di atas kepalamu. Tapi aku tak cukup pandai menghitung musim, bahwa sekarang telah penghujan. Bahwa badai kerap terjadi dan ombak-ombak itu kerap meninggi.

Ibu, semalam aku bermimpi tentang setapak-setapak di kaki bukit. Liuknya persis seperti kerut di sudut-sudut matamu. Aku telah cukup pandai menghitung batu di sepanjang jalan pulang. Tapi aku tak cukup pandai menerka kabut, bahwa sekarang malam telah turun. Bahwa setapak-setapak itu tak lagi terlihat.

Bapak, semalam aku bermimpi duduk bersamamu, di teras rumah, menghadap pantai. Kau bercerita padaku perihal masa lalumu, perihal kebun cengkeh yang kaupanen dan singkong rebus yang kaulahap setelahnya. Aku bilang itu dongeng. Kau bersikeras itu nyata. Aku bercerita padamu perihal masa kiniku, perihal langit malam yang merah dan bintang yang telah punah. Kau bilang itu dongeng. Aku bersikeras itu nyata.

Ibu, semalam aku bermimpi berbaring bersamamu, di atap rumah, menghadap bulan purnama. Kau bercerita padaku perihal masa lalumu, perihal rambut yang kau pelihara panjang-panjang dan nenek yang rutin menyisirnya. Aku bilang itu dongeng. Kau bersikeras itu nyata. Aku bercerita padamu perihal masa kiniku, perihal isi kepala manusia-manusia yang rutin meledak dan kabut racun yang menyesakinya. Kau bilang itu dongeng. Aku bersikeras itu nyata.

Bapak, aku bermimpi kau berpesan kepadaku. Katamu, jika langit memang sudah kosong, aku bahkan tak perlu merisaukan petir.

Ibu, aku bermimpi kau berpesan kepadaku. Katamu, jika udara memang sudah tak menghidupi, aku bahkan tak perlu mengkhawatirkan tanah dan apa-apa yang terjadi di atasnya.

Kamis, 02 April 2015

Here Comes The Sun And It's Alright




Here comes the sun.
And it's alright.



"Kenapa naik gunung?"

Biar kau bisa istirahat. Dari apa yang lebih melelahkan dibandingkan bersusah payah berjalan jauh menanjak dan menurun dalam napas yang tersengal-sengal; apa yang adalah keseharianmu yang tampaknya baik-baik saja, dalam langkah yang baik-baik saja dari kau bangun sampai kau tidur lagi, dalam napas yang kaupikir baik-baik saja padahal telah meracunimu sampai sekarat.

Biar kau tahu bahwa kau kecil. Bahwa apa yang besar di hadapan matamu bahkan masih jauh lebih kecil dari apa yang menciptakan kalian. Bahwa kau tak punya kuasa apa-apa di dalam genggaman apa yang menguasai hidup dan matimu. Bahwa kau harus tahu bagaimana caranya merendahkan dagumu jika cara meninggikan dirimu saja kau tahu.

Biar kau belajar. Membaca matahari; ia akan datang juga, meski sepanjang sore mendung, sepanjang malam hujan dan sepanjang pagi berkabut. Ia akan datang juga, menghangatkanmu tepat pada titik dimana kau tak tahu lagi bagaimana menyiasati kedinginan. Dan semua akan baik-baik saja.

Dan begitulah hidup.

Selasa, 20 Januari 2015

Sesuatu Tentang Malaikat, Kematian atau Keduanya

Ada malaikat kecil yang senang melompat-lompati kepala manusia.
Dari satu kepala ke kepala lainnya.
Sampai semua ubun-ubun tersentuh ujung jari-jari kaki telanjangnya yang mungil.

"Kenapa kau melompati kepala-kepala kami?" Tanyaku.
"Karena kepala kalian rindang, tempat tumbuh subur pikiran-pikiran. Rasanya seperti rumput taman yang basah sehabis hujan." Katanya.
"Kenapa kau tak pakai sepatu?" Tanyaku.
"Karena aku ingin merasakan rumput taman itu sedalam-dalamnya. Karena aku ingin mengenal isi kepala-kepala itu sebaik-baiknya." Katanya.

Malaikat itu manis.
Gadis kecil yang manis.
Ada pita hitam di rambutnya yang hitam.
Ada pita hitam di gaunnya yang hitam.
Ia selalu bernyanyi sembari melompati kepala-kepala.
Ia selalu menenteng kantong-kantong hadiah.
Ada pita hitam di kantongnya yang hitam.

"Kenapa kau selalu membawa kantong-kantong hadiah?" Tanyaku.
"Karena aku harus memberikan sesuatu kepada orang yang aku ajak pergi denganku." Katanya.
"Apa isi kantong hadiah itu?" Tanyaku.
"Bahagia. Hanya saja bahagia di dalam kantong ini tak punya definisi bagi orang yang belum ikut denganku." Katanya.

Malaikat itu punya kantong hadiah yang sangat banyak.
Kantong-kantongnya terayun ketika ia melompat-lompat.
Setiap hari ia berangkat dengan banyak kantong.
Lalu pulang tanpa kantong.
Semuanya habis.
Keesokan harinya, ia berangkat lagi dengan banyak kantong.
Lalu pulang lagi tanpa kantong sama sekali.
Semuanya habis.
Begitu terus setiap hari.

Tapi kau tak akan pernah bisa melihat semua kantong yang ia bawa seharian.
Hanya akan ada beberapa kantong yang terlihat.
Bahkan kadang, tak ada kantong yang terlihat.
Hanya kantong untuk orang-orang yang kau kenal saja yang bisa terlihat olehmu.

"Kau bawa berapa kantong hari ini?" Tanyaku.
"Banyak sekali. Aku tak sempat menghitung. Biar itu jadi tugas mereka yang kehilangan." Katanya.
"Apa ada kantong untukku hari ini?" Tanyaku.
"Tak ada kantong yang dapat kau lihat siang ini, tapi ada 3 kantong yang akan kutunjukkan padamu nanti malam." Katanya.




Jakarta 21/1/15 00.06
Satu catatan turut berduka cita, untuk rentetan kabar kehilangan tiga anggota keluarga sahabat-sahabat, dalam rentang waktu dua jam yang sama.

Kamis, 15 Januari 2015

Tentang Waktu; Duduklah yang Manis di Dalam Gerbong

Kadang hidup bisa kauringkas ke dalam satu perjalanan kereta api.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Tak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja dan kau akan sampai juga di stasiun yang kautuju.

Meskipun di luar jendela, segala sesuatu berlalu darimu. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Gunung-gunung. Tiang-tiang listrik. Orang-orang. Waktu.

Kadang keretamu akan melambat. Kau punya waktu yang lebih lama. Dengan orang-orang. Dengan gunung-gunung. Dengan tiang-tiang listrik.

Kadang ia akan kembali melaju cepat. Kau tak punya waktu yang cukup. Semua berlalu lebih cepat dari yang dapat kausadari. Sampai samar. Sampai bentuknya belum sempat kaukenali. Semuanya. Orang-orang. Pohon-pohon. Sawah-sawah. Hujan dan terik matahari.

Tapi kau juga tak akan habis menemui hal baru di depanmu. Meski berlalu lagi. Kau temui lagi. Berlalu lagi. Orang. Orang-orang. Sekelompok orang. Atau banyak sekali orang. Datang satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus. Pergi satu per satu. Atau beramai-ramai sekaligus.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau tak akan kenapa-kenapa. Walaupun pinggangmu pegal. Walaupun kau mengantuk tapi tak bisa tidur. Walaupun bukumu telah habis kaubaca dan perjalanan masih panjang. Meski kau bosan dengan lagu-lagu yang keluar dari headset-mu. Walaupun orang di sebelahmu mengorok terlalu keras. Meski kau ingin buang air tapi kamar kecilnya kotor. Meski banyak kecoak berkeliaran keluar-masuk sambungan-sambungan besi. Walau rokokmu habis dan merokok sudah dilarang dan kau tetap melanggar.

Kau akan baik-baik saja. Meski semua melaju. Meski kau melaju. Meski waktu melaju. Meski semua berubah bentuk. Semua yang kau pahami dengan baik atau yang bahkan tak sempat matamu tangkap.

Kau akan sampai juga di suatu ujung. Keluar dan menghirup udara segar. Melurus-luruskan badan yang pegal. Lega.

Suatu ujung yang tak pernah kau bayangkan seperti apa ia sebagai titik berhenti segala sesuatu yang bergerak dalam hidupmu. Duniamu dan dirimu sendiri. Suatu titik cukup. Dimana segala sesuatu kau cukupkan. Suatu titik dimana waktu tidak lagi relevan. Suatu titik dimana dunia membeku diam.

Duduklah yang manis di dalam gerbong. Kau akan baik-baik saja.



Jakarta, 15/1/15 23.39

Minggu, 07 Desember 2014

Sudah, Lalu Apa?

Ada waktu-waktu dimana kau bertanya-tanya pada dirimu sendiri, "apa yang sesungguhnya sudah aku capai dan ingin aku capai dalam hidupku?" "Apakah yang sudah aku capai benar-benar aku inginkan?" "Apa lagi yang harus aku capai setelah ini?" "Apa lagi yang aku inginkan?"

Dulu kau sekolah. Lalu kau ingin lulus dan masuk universitas yang paling baik untukmu. Setelah itu semua tercapai, kau ingin segera lulus kuliah dengan baik dan mendapat pekerjaan yang paling baik untukmu. Lalu setelah semua itu juga tercapai, kau kembali pada pertanyaan awal tulisan ini. Setelah bekerja lalu apa? Apa ini benar pekerjaan terbaik untukku? Apakah aku justru ingin melakukan hal lain?

Dulu kau beranjak remaja. Lalu kau ingin tahu bagaimana rasanya punya pacar. Lalu semuanya tercapai. Bukan satu pacar, tapi banyak orang dekat dengan banyak kisahnya masing-masing. Banyak orang yang hanya dengan modal penanya, datang lalu mencorat-coret cerita mereka masing-masing di dalam bukumu. Lalu mereka pergi. Kalau diberi bonus dari Sang Maha Menentukan, beberapa orang mungkin hanya berubah 'bentuk' di dalam hidupmu, tapi tak kemana-mana. Lalu kau ingin menikah, sembari kembali ke pertanyaan awal tulisan ini. Apakah itu yang benar-benar aku inginkan? Apakah itu benar-benar akan menjadi sesuatu yang membuatku bahagia? Mungkin nantinya setelah menikah, kau akan kembali bertanya tentang apa yang harus kaulakukan dengan keinginan yang telah tercapai itu.

Manusia memang tak akan pernah puas. Sudah demikian desain yang dibuat Si Empunya Dunia atas diri kita.

Dari dulu sampai sekarang, kau mengalami banyak sekali hal. Mimpi-mimpi yang dengan tekun kau susun rapi, lalu kau pertanyakan lagi, lalu kau susun lagi, pertanyakan lagi, dan begitu seterusnya. Kau mengalami proses besar yang terbentuk dari komposisi harapan dan keputusasaan yang seringkali tidak proporsional. Beberapa hal membuatmu begitu bahagia. Beberapa lainnya membuatmu jatuh; tidak seperti mati, melainkah lebih seperti tidur, namun rasanya kau tak ingin bangun seharian, tidak juga membuka tirai jendela sama sekali.

Semakin hari, semakin rajin kau mempertanyakan perihal-perihal. Semakin kau tahu tentang banyak hal, semakin kau tak paham dengan lebih banyak hal lagi. Tentang keinginan-keinginan ketika mereka tercapai; apakah benar ini apa yang aku inginkan? Lalu keinginan-keinginan yang tak juga tergapai; apakah aku sungguh menginginkan hal ini?

Rumput tetangga seringkali lebih hijau. Hanya beberapa orang beruntung yang diberi anugerah untuk pandai merasa cukup dan menganggap rumput di halamannya yang paling hijau. Beberapa lainnya diberi anugerah untuk tidak mengenal warna, tidak ada yang hijau dan yang lebih hijau, tidak ada yang hijau ataupun yang berwarna selain hijau. Beberapa sisanya diberi anugerah kegigihan besar untuk menjadikan rumputnya yang paling hijau.

Di luar mereka adalah orang-orang kebanyakan, yang akan selamanya mempertanyakan banyak hal; seluruh hal baik dan hal buruk.

Pertanyaan-pertanyaan meriuhkan isi kepalamu. Lalu kau pertanyakan lagi keriuhan di dalam kepalamu.

Tak habis-habis.






Jakarta, 7/12/14

Selasa, 11 November 2014

Satu Malam yang Tuhan dan Rumah

Aku akan pulang.
Pada mata bulat sempurnamu,
yang telah juga kumiliki sejak sejarahku dimulai.
Akan kutanggalkan bajuku,
yang berbau asap Kota Kabut Racun.
Agar kecemasanmu ikut tertanggalkan.
Agar kau tahu,
mataku masih sama sempurna bulatnya dengan matamu.

Aku akan pulang.
Pada ombak-ombak di rambutmu,
yang telah juga kumiliki sejak semestaku terbentuk.
Akan kubasuh seluruh tubuhku,
yang berkerak keburukan bagimu.
Agar ketakutanmu turut luruh.
Agar kau tahu,
laut yang tumbuh di atas kepalaku masih seluas milikmu.

Aku akan pulang.
Tidak ke rumahmu,
atau apa yang semakin jauh dari apa yang kuanggap rumahku.
Aku hanya akan pulang,
ke kasar telapak tanganmu yang menyimpan doa,
dan pecah telapak kakimu yang menyimpan surga.

Lalu aku akan pergi lagi.
Mencari rumah milikku sendiri,
yang tak akan pernah kutemukan.

Lalu aku akan hilang lagi.
Dengan baju bau knalpot dan tembakau.
Dengan tubuh berkerak dosa dan gila.
Dengan Tuhan yang kubawa-bawa di dalam kepalaku.
Dengan Tuhan yang tertawa-tawa di dalam dadaku.



Jakarta
21-10-14
00.02

Hari di Selasar Senja

Hari berlari-lari
Saban hari
Mengejar matahari

Hari melompat-lompat
Dari satu atap rumah ke atap rumah lain
Yang ujungnya tajam-tajam
Sampai kaki-kakinya berdarah-darah

Hari duduk-duduk
Di selasar rumah senja
Meringis-ringis karena kakinya sakit
Menangis-nangis karena matahari telah jauh,
menghilang berlari darinya

Hari ketakutan
Rumah senja lebih menakutkan
Dari monster yang sudah ia besarkan di dalam dirinya

Hari ingin pulang
Tapi tak tahu ke bawah atap rumah yang mana
Mungkin yang menoreh luka paling lebar,
di telapak kakinya

Hari diam
Merindukan ibu yang lebih besar dan telah lebih jauh,
dari matahari ketika pintu rumah senja tertutup malam

Hari menghitung-hitung bintang
Dan atap-atap rumah yang akan dilompatinya besok
Lalu bersiap berlari-lari lagi

Selasa, 30 September 2014

Delapan Puluh Tiga Tahun Opa Baik Hati

Pada akhirnya, bekerja bukanlah tentang apa yang kauberikan kepada pekerjaanmu, bukan pula tentang apa yang pekerjaanmu berikan kepadamu, melainkan tentang apa yang kauberikan kepada dirimu sendiri melalui pekerjaanmu.

Pada akhirnya, bekerja bukan tentang dedikasi, bukan pula tentang benefit, tapi tentang idealisme dan nilai yang kauanut sendiri, di dalam dirimu sendiri, dan untuk rasa penuhmu sendiri.

Yogyakarta, 27 September 2014.

Selamat ulang tahun yang ke-83, Opa Jacob. Aku tak habis terkagum-kagum padamu, lalu tak habis bertanya-tanya tentangmu. Terkagum-kagum lagi, lalu bertanya-tanya lagi.

"Apa yang ada di dalam kepala tiga-puluh-sekian-tahun-mu dulu ketika memulai semua ini? Apa alasanmu ketika itu? Apa bayanganmu ke depannya pada saat itu?"

"Apa yang ada di dalam kepala delapan-puluh-sekian-tahun-mu sekarang setelah semuanya sejauh ini?"

Aku bergabung di rumah ini 50 tahun kemudian. Ketika rumah ini sudah besar. Ketika nilai-nilai yang katanya adalah nilai-nilai yang kaupegang kuat-kuat, diagung-agungkan dimana-mana. Karena nilai-nilaimu baik, katanya.

Kau memang orang baik. Sejauh ini kau masih orang baik walaupun manusia memang terbuat dari setumpuk kepentingan. Semoga kepentinganmu memang baik dan akan tetap baik.

Tapi, Opa, tidak semua orang punya nilai yang sama dengan apa yang kaupegang. Lagipula nilai yang baik belum tentu bisa dieksekusi dengan cara yang baik. Banyak anakmu yang (merasa) mengerti, tapi lebih banyak lagi yang tidak mengerti. Bisakah pertanyaanku dijawab? Biar jadi pemahaman bagi kami semua yang (merasa) paham ataupun yang tak paham ini. Atau apalah, biar jadi pemahaman untukku sendiri.

Pada akhirnya, bekerja adalah tentangmu dan dirimu sendiri. Sisihkanlah waktu yang banyak untuk bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang ingin kaucari dan dapatkan dari hidupmu. Setelah kautahu jawabannya, bangunlah keyakinan atas jawabanmu itu. Jika keyakinanmu tak sesuai dengan keadaanmu saat ini, menyerahlah. Carilah cara untuk menyesuaikannya tanpa perlu membangun tendensi negatif (ataupun positif) apapun tentang apa yang ada di luar dirimu.

Panjang umur, Opa Jacob. Semoga nilai-nilai yang kaupelihara di dalam dirimu, dipelihara waktu di dalam diri anak-anakmu ini.



Rumah yang Samar dan Persinggahan yang Nyata; Jogja, Jakarta dan Torehan Ingatan Tentangnya

Yogyakarta, 26 September 2014.

Untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki lagi di Jogja, setelah awal 2013 lalu meninggalkan kota ini sebagai domisili. Kota ini punya tangan yang selamanya akan selalu mampu melambai padamu, mengajak kembali, dan jika kau tetap mengacuhkannya, tangannya akan menguat sampai mampu menggenggam dan menarikmu kembali.

Ada yang mistis memang di kota ini.


Banyak hal telah berubah. Kota semakin ramai. Kemacetan mulai akrab terjadi. Orang-orang telah datang dan telah juga pergi. Ada yang terasa asing di dada. Kota ini bukan lagi milikmu dan tidak lagi memilikimu. Kau lalu sadar, kota ini bukan rumahmu, meski terus-menerus memanggilmu pulang. Kota ini lagi dan lagi hanyalah persinggahan yang lain. Kau tak lagi punya teman di sini. Mereka telah pergi. Setiap sudut kota yang dulu selalu menampung orang yang bisa kauajak bicara, sudah tak ada lagi. Satu-dua orang masih ada, tapi sudah tak sama lagi.

Mungkin bukan orang yang berubah, mungkin keadaan yang berubah. Atau mungkin bukan mereka yang telah pergi, tapi justu kau yang telah pergi. Kau yang telah tak ada. Bukan ragamu, tapi kau dalam bentuk yang lebih samar.

Kota ini tetap mempesona. Jingga lampu jalan di sini selalu terasa berbeda dari jingga lampu jalan di manapun. Ada roh yang ikut keluar dari sinar-sinarnya. Orang-orang di kota ini juga seperti mengeluarkan sesuatu dari pori-pori kulitnya, menguap di udara dan menyatu membentuk suatu senyawa yang melapisi atmosfer. Membuatmu sentimentil karena menghirupnya. Lalu semua kenangan mulai sibuk lalu-lalang di dalam dadamu, dan beragam perasaan mulai mengaduk-aduk isi kepalamu. Aneh memang, tapi benar ada waktu-waktu dimana ingatan justru muncul di dalam dada dan perasaan hadir di dalam kepala.

Lalu kau akan jatuh cinta. Sama seperti yang sudah-sudah terjadi setiap kau ada di kota ini.

Seperti saya, ada baiknya kau pergi melamun sendirian. Berjalan di sepanjang Malioboro. Mencari-cari topi pancing batik titipan teman yang tak pernah ada. Merasa heran karena baru kali ini kau mencari sesuatu di Malioboro, di Mirota Batik, lalu tak menemukannya. Pilihlah satu becak setelah itu. Cari bapak tukang becak yang tak terlalu ramah, tapi tak juga terlalu cuek. Bertanyalah dimana bisa kautemukan topi itu. Dia akan memberikan jawaban yang tak memuaskanmu. Lalu naiklah becaknya, minta dia mengantarmu pulang. Lalu lanjutkan lamunanmu.

Di perjalanan, merokoklah secukupnya kau mampu menenangkan dirimu. Kau akan melihat banyak hal di dalam dirimu sendiri; melihat kau yang dulu tinggal di kota ini, dan bagaimana berbedanya ia dengan dirimu yang sekarang. Kau akan melihat bahwa telah panjang jalan yang kaulalui. Kau akan takjub menyadari apa saja yang sudah kaualami. Tapi perjalanan memang seharusnya panjang dan diisi oleh banyak hal yang pada akhirnya membentukmu sampai di titik ini.

Segala hal berubah. Keadaan berubah. Dan kau adalah bagian dari keadaan itu. Kau berubah.

Semua orang akan pergi. Jika bukan mereka, kaulah yang pergi. Kau bagian dari orang-orang.


Lalu kau rindu Jakarta. Karena kota bajingan itu sesungguhnya juga telah membuatmu kecanduan. Karena serutin apapun kau memaki dan mengeluhkannya, kau menyayanginya.

Ini kali kedua saya merasakan adanya keinginan besar untuk segera pulang ke Jakarta. Kali pertama, ketika sedang mudik ke Ambon. Sampai saya selesai menuliskan tulisan ini, saya juga masih tak habis pikir kenapa saya bisa merindukan Jakarta. Tapi paling tidak, saya punya beberapa alasan yang telah dengan susah payah saya gali dari dalam diri saya sendiri.

Jakarta memang keras. Segala hal di dalamnya memang jahat; dari udara sampai orang-orangnya. Kemudian tanpa sadar, sembari terus memaki dan mengeluh, kota itu telah membentukmu menjadi sekeras dia, tanpa perlu meminta permisi. Kau menjadi semakin kuat. Tubuhmu, mentalmu, hatimu, pikiranmu. Kau menjadi semakin santai menghadapi masalah-masalah. Kau menjadi semakin pintar, semakin cerdas, karena kota ini mengajarkan banyak sekali hal padamu. Lagi-lagi, tanpa permisi. Kau belajar dari apa yang kau alami, apa-apa yang lebih banyak tidak enak, lalu dari apa-apa yang orang lain alami, apa-apa yang memang tidak enak.

Kau jadi mengagumi banyak orang di sana. Karena mereka hebat. Karena mereka kuat. Karena mereka telah dibentuk kota yang keras dan jahat itu. Mereka luar biasa.

Kemudian kau akan menjadi pandai bersyukur. Hal-hal kecil mulai kausyukuri. Satu saja titik bintang di langit. Bulan penuh yang kabur. Penjual makanan di pinggir jalan yang tersenyum padamu. Kendaraan yang memberimu jalan untuk menyeberang. Tukang jamu yang mengingat namamu. Waktu bersama teman-temanmu, meski hanya merokok di kantin atau depan gerbang kantor, meski hanya bermain musik sepanjang malam, meski hanya menumpang tidur karena pulang terlalu malam dan harus bekerja kembali pagi-pagi.

Lalu kau akan sangat bersyukur ketika di tengah rimba yang keras dan jahat itu, kau punya orang-orang tertentu yang mampu memaklumimu dengan jujur. Tak perlu selalu ada. Tak perlu selalu berbaik-baik padamu. Hanya saja mereka selalu mampu mengimbangi kekacauan maupun ketenangan isi kepalamu.

Seharusnya kita memang pandai bersyukur.

Jumat, 19 September 2014

Semesta di Dalam Tubuhku

Aku mau satu saja ruang hampa.
Demi terendap perihal-perihal.
Demi teredam perkara-perkara.
Demi terbaca semesta di dalam tubuhku sendiri.

Tapi ruang ini masih saja ramai.
Meski dua jarum jam telah habis bersetubuh,
di pukul dua belas.
Meski waktu telah mati,
ditikam isi kepala yang tak habis bertanya-tanya.
Meski lampu kota telah semua menjelma kunang-kunang.
Meski kunang-kunang telah semua dimatikan,
oleh remang lampu kamar.

Tapi ruang ini tak mau mengedap.
Maka biar saja kecemasan menelan habis jalan-jalan raya.
Sampai tak ada lagi jalan kemana-mana.
Maka biar saja aku berlari,
di atas tubuh kecemasan itu sendiri.
Dari satu kecemasan,
ke kecemasan lainnya.
Dengan isi kepalaku yang tak mau berhenti bertanya-tanya.
Tentang waktu,
tentang lampu,
tentang kunang-kunang,
tentang jalan-jalan raya,
tentang dimana ada ruang hampa.

Tentang semesta di dalam tubuhku sendiri.



Jakarta,
19.9.14
00.50

Senin, 08 September 2014

Tuhan Menggambarkan Malam dengan Sempurna di Tubuhmu

Malam akan tetap turun.
Kota akan tetap menutup diri dengan kabut tebalnya sendiri.
Mengasingkan matahari.
Menyalakan lampu-lampu di dalam dirinya.
Sebanyak mungkin.
Sesilau mungkin.
Lalu memainkan suara-suara kecemasan keras-keras.
Sampai bising.

Tapi ketika jam dua belas telah lewat,
malam dan kota akan turun.
Ke atas kepalamu.

Mengabur kabut.
Sampai bulan bulat telanjang,
menggantung di ujung-ujung rambut tebalmu.

Mematikan lampu-lampu jalan.
Tinggal kunang-kunang terbang,
dari tiap-tiap jendela yang menyala di ketinggian.
Dan hinggap di alismu.

Mendiamkan suara-suara,
di sepanjang jalanan pukul tiga.
Agar lengang punggungmu.
Agar redam isi kepalaku di sana.
Agar pagi tak perlu datang.



Jakarta,
6/9/14
Dini harimu

Jumat, 05 September 2014

Book Review: The Man Who Mistook His Wife for a Hat


Sesungguhnya ini bukan review. Ini ringkasan suka-suka.

Buku 327 halaman ini berisi tentang dongeng-dongeng dari kisah pasien-pasien penulisnya sendiri, Dr. Oliver Sacks. Mengapa dongeng? Karena kasus-kasus kelainan psikologis klinis atau bisa disebut kelainan neurologi di sini sungguh di luar bayangan. Menakjubkan dan mengerikan dalam satu waktu yang sama. Kasus-kasus yang sepanjang karir Dr. Sacks sebagai neurolog, mampu membuatnya sendiri terus-menerus takjub.

Dr. Sacks menyajikan buku ini dengan baik. Ia menuturkan kasus-kasus pasiennya seperti menuturkan fiksi. Meskipun demikian, buku ini masih tergolong buku yang berat. Selain karena memang adalah buku ilmiah non-fiksi, sekali lagi saya sampaikan, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di dalam buku ini sungguh-sungguh bisa membuat kening berkerut sepanjang membacanya. Kamu akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal-hal semacam ini dan semacam itu bisa terjadi di dalam diri manusia. Beyond imagination, mungkin adalah ungkapan yang tepat.

Di buku ini, Dr. Sacks juga cenderung tidak berniat untuk menjelaskan setiap kasus secara lengkap. Tidak sampai pada penyelesaian kasus yang dilakukannya, atau sebab yang jelas dari beberapa kasus yang hanya sempat diketahuinya, tanpa ditangani olehnya. Ia lebih banyak menekankan pada bagaimana menakjubkannya kasus-kasus tersebut. Ia menekankan pada nilai-nilai pemahaman tertentu yang dapat dipetik dari kasus-kasus ajaib itu.

Dan memang, banyak yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Kamu akan tahu bagaimana seluruh dunia memang hanya ada di dalam kepalamu sendiri. Whole world is just on your mind. Segala sesuatu tergantung bagaimana persepsimu sendiri, tergantung isi kepalamu sendiri. Duniamu ada di dalam kepalamu. Kamu juga akan tahu bagaimana otak manusia adalah ciptaan yang terlalu luar biasa. Beyond everything. Kelecetan kecil di otak, dan seluruh duniamu tidak akan sama dengan dunia yang dipahami orang pada umumnya.

Ada beberapa kasus yang paling membuat saya menganga ketika membacanya.

Pertama, kisah seorang pria yang salah mengira istrinya sebagai topi, kasus yang menjadi judul dari buku ini. Ia mengalami kerusakan di suatu bagian otaknya dan itu merusak kemampuan persepsinya. "Punch line" kasus ini ada pada cerita ketika ia selesai diperiksa, dan diminta memakai kembali sepatunya. Ia hanya menatap kakinya dan terdiam. Baginya, sepatunya telah terpasang. Kakinya adalah sepatunya. Hal luar biasa lainnya dari kasus ini adalah, sebagai musisi, hidupnya dibantu oleh musik yang mengalun sendiri di dalam kepalanya dan sering ia gumamkan setiap saat. Musik itu yang mengarahkannya melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengenakan pakaian. Ketika ada distraksi tiba-tiba seperti bunyi pintu dibanting, musik di dalam kepalanya akan berhenti dan ia akan seketika mematung.

Kedua, kisah seseorang yang mengalami sakit dan berefek ke kerusakan di bagian otak yang bertanggungjawab atas kondisi visualnya. Sejak saat itu, ia menjadi buta. Namun bukan hanya itu, ia juga kehilangan persepsi melihatnya. Jadi, ia kehilangan semua memori visualnya dan menjadi seakan tidak pernah tahu seperti apa yang dinamakan orang dengan melihat. Melihat itu apa? Seperti apa? Bagaimana caranya? Apa rasanya? Maka ia menjadi orang buta yang merasa baik-baik saja dengan kebutaannya, atau kata Dr. Sacks, kebutaan atas kebutaan.

Ketiga, persoalan indera keenam. Setiap manusia memiliki indera keenam yang adalah indera untuk merasakan tubuh kita sendiri. Dengan begitu, tanpa harus melihat tangan kita, kita tahu tangan kita ada di situ, ada di tempatnya, dan mau kita apakan. Begitu juga anggota tubuh kita yang lain. Propriosepsi namanya. Sayangnya, salah satu pasien Dr. Sacks mengalami kerusakan propriosepsinya. Ia kemudian merasa bahwa ia tidak punya tubuh. Untuk bergerak, ia harus menggunakan kelima inderanya yang lain, seperti mata. Ia harus melihat tangannya, baru mengetahui di mana tangannya berada, lalu menggerakkannya, sambil terus dilihat. Ketika ia melepaskan pandangannya, tangannya langsung menghilang dan tidak ada lagi bagi dirinya.

Betapa di luar pemikiran, kasus-kasus yang diceritakan Dr. Sacks di bukunya ini. Dr. Sacks mengkategorisasikan bukunya dengan baik. Ia membahas defisit atau pengurangan fungsi dan kasus-kasus yang diakibatkannya, lalu juga membahas mengenai persoalan-persoalan kelebihan fungsi. Dari sini kamu akan belajar bahwa ketika kamu merasa terlalu sehat, mungkin di saat itulah kamu sesungguhnya sakit.

Dr. Sacks juga mengkategorisasikan satu bab khusus yang membahas "orang-orang sederhana", atau orang-orang yang mengalami gangguan perkembangan. Orang-orang dengan tingkat intelegensi yang jauh di bawah rata-rata, dianggap bodoh, tidak mampu belajar apapun, dan tidak akan mampu bertahan hidup. Karena untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana saja sulit bagi mereka. Namun orang-orang ini punya kelebihan tertentu yang bisa membuat orang lain tak habis pikir. Seperti kasus Si Kembar yang mengalami keterbelakangan mental namun adalah ahli matematika. Mereka hanya memroses hal-hal dengan cara yang tidak sama dengan orang umumnya lakukan. Itu saja.

Seperti itulah Dr. Sacks memaksa kita untuk mengambil makna tersembunyi dari kisah-kisah yang diceritakannya. Ia membuat kita belajar bahwa orang-orang dengan kekurangan di dalam dirinya, sebenarnya sama saja dengan kita. Hanya saja mereka memliki cara yang berbeda dalam memroses dunia dan isinya. Mereka bahkan mungkin lebih dari kita. Atau mereka justru lebih beruntung daripada kita. Seperti pasien-pasien penderita agnosia yang tidak bisa memahami kata-kata, namun sangat peka memahami bahasa non-verbal. Mereka tak bisa dibohongi. Bahkan ketika menonton pidato presiden di televisi, kita mungkin masih bisa terpesona. Tidak dengan mereka.

Sama halnya ketika Dr. Sacks menuturkan cerita penutup bukunya tentang seorang anak penderita autis namun memiliki kemampuan seni rupa yang luar biasa dalam hal menggambar. Seorang anak dengan dunianya sendiri di luar dunia orang-orang lain. Seorang anak yang diistilahkan olehnya, punya pulau sendiri di luar daratan induk. Suatu kutipan dari bukunya kira-kira seperti ini;

"Ini membawa kita ke pertanyaan terakhir: apa ada 'tempat' di dunia bagi orang yang seperti sebuah pulau, yang tidak bisa dibaurkan, dijadikan bagian dari daratan induk? Bisakah 'daratan induk' mengakomodasi, memberi ruang, bagi yang aneh? Apa ada 'tempat' baginya di dunia yang akan menerapkan otonomi bagi mereka, tapi membiarkan mereka tetap utuh?"

Dan saya hampir meneteskan air mata membaca kutipan tulisan itu. Ya, apakah ada? Bukan hanya kita yang baik-baik saja, yang ingin hidup di dunia ini, sehidup-hidupnya, dengan cara yang kita anggap paling hidup. Merekapun demikian.

Kamu tak harus membaca bukunya. Memang berat. Saya menghabiskan hampir sebulan untuk menyelesaikan buku ini. Baca saja catatan ini dan pahami sesuatu.

Kamis, 04 September 2014

Book Review: The Tiny Book of Tiny Stories Vol. 2

  
Buku yang mahal. Dalam pengertiannya secara harfiah maupun tidak.

Saya menemukan buku ini pertama kali di timeline path saya, ketika teman saya memosting gambar-gambar isi buku ini. Buku yang baik pasti ada di tangan orang yang baik. Pada suatu waktu, dia meminjamkannya kepada saya tanpa saya minta dan tanpa pernah saya cari tahu sama sekali kepadanya.

Saya tanya, dimana dia membelinya. Jawabnya, di Periplus. Oke. Pantas saya tidak pernah melihatnya. Selain karena saya lebih senang membaca karya sastra Indonesia, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari buku di toko buku pojokan Taman Ismail Marzuki, atau di kantor saya sendiri ketika Kompas Gramedia Publishing sedang ada hajatan dan mengobral buku besar-besaran.

Saya tanya lagi, berapa harganya. Oke. Jawabannya membuat saya maklum mengapa saya tidak pernah (mau) tahu tentang keberadaan buku ini. Ini adalah buku kedua, dimana ada buku pertama dan buku ketiga selain buku ini. Jika saya yang memilikinya, saya akan gemas untuk memiliki ketiganya. Maka saya semakin tidak mau tahu.

Buku ini memang mahal. Demikian juga setelah saya mulai membuka cover-nya yang tebal. Menarik. Potongan-potongan pikiran dan perasaan dikumpulkan dari berbagai ilustrator dan penulis, dan kemudian ditebar oleh Joseph Gordon-Levitt di setiap lembar demi lembar buku ini. Potongan-potongan kecil. Pendek-pendek. Tapi akan memanjang di dalam kepalamu.

Saya akan bercerita tentang beberapa halaman yang paling mengesankan saya dari semua halaman yang memang mengesankan di buku ini.

Ini bagian dengan tulisan paling bagus bagi saya. Perputaran kata-kata yang cerdas untuk pemaknaan yang dalam. Kiri dan kanan sama halnya dengan salah dan benar, kadang tak benar-benar kiri atau kanan, dan tak benar-benar salah atau benar. Juga tak harus dan tak pasti terus berpasangan.


Ini bagian dengan ilustrasi paling keren bagi saya. Ilustrasi yang mampu menggambarkan segala-galanya sedalam-dalamnya tentang potongan tulisan di sampingnya. Kecemasan memang tumbuh menjadi bunga liar dari dalam kepalamu sendiri. Demikianlah jatuh cinta dan patah hati seringkali berakhir di kursi salon. Buang sial, katanya.


Ini bagian yang paling manis bagi saya. Semanis melihat dua orang berandal yang sedang jatuh cinta dan seketika bertingkah seperti anak kecil di taman bermain. Semanis melihat dua orang dengan isi kepala yang selamanya kacau balau sedang jatuh cinta, lalu tiba-tiba isi kepalanya redam. Semanis... seperti inilah jatuh cinta. Tak buruk tapi tak selamanya baik. Terima saja paketnya.


Dan ini bagian yang paling berhasil memorak-morandakan isi kepala dan dada saya. Seperti melihat cermin, dan tidak menemukan apa-apa di dalam sana. Tidak ada dirimu. Lalu kau rindu pulang, siapa tahu bisa menemukan potongan-potongan dirimu di sana, di bawah tempat tidur, di belakang lemari, di dekat pot tanaman kesayangan mama. Tapi waktu telah berlari meninggalkanmu sebelum kamu sempat mengenalinya.


Secara keseluruhan, buku ini menarik. Menggemaskan. Sangat menggemaskan malah. Jika harus diuraikan satu demi satu tentang tulisan, ilustrasi dan lainnya, masing-masing bagian itu hanya bisa saya beri apresiasi bagus. Tapi ketika mereka disatukan, hasilnya luar biasa dan 'mahal'. Buku sederhana 123 halaman yang dapat kauselesaikan dalam waktu paling lambat 15 menit, tapi mampu membangun rumahnya di dalam kepalamu dan tinggal selamanya di sana.

Senin, 01 September 2014

Kekasih-kekasih Pinggiran Jalan

Kekasih-kekasih pinggiran jalan
Akan sedia menemanimu berbicara
Di trotoar-trotoar sepi pukul larut
Menghabiskan berteguk-teguk kopi
Lalu bir
Lalu kopi lagi
Sampai merkuri-merkuri padam

Kekasih-kekasih pinggiran jalan
Tak akan membawamu pulang
Beristirahat di bawah selimut mimpi
Yang ketika menjadi nyata adalah peluk
Dan senyum
Dan peluk lagi
Sampai merkuri-merkuri menyala





Jakarta, 19 9 13
Dalam perjalanan panjangmu,
dari yang kaukira rumah menuju apa yang kauharap rumah,
merekalah yang ada di pinggiran-pinggiran jalannya.
Dan selamanya hanya di sana.

Selasa, 26 Agustus 2014

Gagak-gagak di Rambut Putihmu

: Mas Vik

Bulan terduduk dan matahari berlari ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, deru mesin-mesin menelan jalanan bulat-bulat.
Orang-orang memakan asap dan meminum kecemasan untuk sarapan.
Sementara tanah dan udara masih sama-sama kelabu.
Dan tak ada yang beterbangan di langit.
Kecuali gagak-gagak yang hinggap manis di rambut putihmu.

Bulan terlelap dan matahari terjaga ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, kokok ayam-ayam menelan setapak bulat-bulat.
Orang-orang memakan raung ternak dan meminum harapan untuk sarapan.
Sementara tanah dan udara berwarna-warni.
Namun tak ada yang beterbangan di langit.
Kecuali gagak-gagak yang hinggap manis di rambut putihmu.

Bulan mati dan matahari merayakannya ketika suatu pagi yang biasa turun.
Di suatu sudut dunia, nyanyi gagak-gagak menelan hidup bulat-bulat.
Tak ada asap, tak ada raung ternak, tak ada kecemasan, tak ada harapan.
Sementara tanah dan udara telah membaur tanpa punya definisi warna.
Dan gagak-gagak di rambut putihmu mulai beranjak beterbangan.
Lalu hinggap di sudut-sudut mata orang-orang selainmu.



Jakarta,
27/08/14
Gagak-gagak senang bermain dengan orang-orang baik